![Till The End Of Time [ Inuyasha Fanfiction ]](https://asset.asean.biz.id/till-the-end-of-time---inuyasha-fanfiction--.webp)
Gunung hare adalah gunung yang tenang dan indah. Terkenal akan bunga sakuranya, saat musim semi tiba, gunung tersebut memiliki pemandangan yang sangat luar biasa. Namun kini, kabut hitam tebal mengelilingi gunung tersebut, dan ribuan youkai mendiaminya—keindahan gunung seperti hanya tinggal cerita.
Di bawah kaki gunung hare, para manusia maju menyerang youkai yang ada. Pertarungan tidak terhentikan. Ribuan manusia yang terdiri dari prajurit, taijiya, miko, biksu dan pendeta menyerang youkai tanpa rasa takut.
Suara senjata yang beradu serta suara ledakan terdengar, diiringi juga suara teriakan mereka yang gugur ataupun tawa youkai yang penuh kegilaan melihat kematian. Darah merah telah menghiasi sekeliling, namun tidak ada seorangpun yang berhenti.
Manusia dan Youkai.
Perang antara manusia dan youkai selalu merupakan perang yang berat sebelah, karena bagaimanapun juga perbedaan kedua ras tersebut sangat jauh. Selemah-lemahnya seorang youkai, dia masih tetap lebih kuat dari pada manusia dewasa. Kecepatan dan kekuatan mereka sama sekali tidak sebanding. Korban mulai berjatuhan, dan kebanyakan berasal dari pihak manusia, terutama para prajurit manusia yang tidak memiliki kekuatan spritual.
Shura bergerak maju, mengangkat pedang di tangannya, dia menyerang youkai yang ada di depan. Tidak ada ketakutan sedikitpun di wajahnya meskipun untuk pertama kalinya dia berdiri di dalam medan perang.
"Itu putra Sesshoumaru!!"
"Pewaris tanah barat!!"
Beberapa youkai yang ada menyadari kehadiran Shura di sana. Berkumpul, sebagian dari mereka mulai menfokuskan diri pada inuyoukai kecil tersebut.
"Kaze no kizu!!"
Suara teriakn Inuyasha terdengar keras dan serangannya meluncur menyerang para youkai tersebut. Bersamaan juga, Kagome melepaskan panah sucinya.
"Shura, kami akan membuka jalan untukmu, pergilah!!" teriak Kohaku sambil mengayunkan kusarigama di tangan dibantu Sango yang melempar hitaikotsu, boomerang raksasanya.
"Inuyasha, Kagome, Shiro, Shippo, Tsubasa-san, kalian bantu Shura!! Serahkan tempat ini pada kami!!" teriak Miroku yang mengayunkan tongkatnya tanpa menoleh menatap Inuyasha dan yang lainnya. Youkai ditempat ini terlalu banyak, mereka tidak akan dapat mencapai puncak gunung jika seperti ini terus.
Shura dan yang lainnya menuruti apa yang dikatakan Miroku. Melalui jalan yang dibuka oleh Miroku, Sango dan Kohaku, mereka berlari maju. Namun, tidak jauh mereka melangkah, dari depan sejumlah besar youkai kembali menghadang.
"Kenapa mereka tidak ada habis-habisnya??" teriak Shippo panik melihat youkai tersebut.
Mengangkat tessaiga, Inuyasha melancarkan kembali serangan pemukas miliknya. "Bakuryuha!!!"
Serangan bakuryuha ada serangan yang sangat kuat, dan berhasil membunuh banyak youkai. Namun, sekali lagi, youkai yang masih tersisa tetap maju menyerang mereka. Kematian rekan mereka sama sekali tidak msmbuat mereka takut, malahan, mereka terlihat semakin bersemangat.
"Pewaris tanah barat!!"
"Kejayaan dan kemakmuran akan didapatkan siapapun yang berhasil membunuhnya!!"
"Dia milikku!! Aku yang akan membunuhnya!!"
Shura bisa melihat jelas bahwa semua youkai itu mengincarnya. Dia sebagai pewaris tanah barat adalah sasaran utama dari semua yang ada, namun, dia tetap tidak gentar—dia akan terus bertarung hingga ini berakhir.
"Jangan jauh-jauh dariku, Shura," ujar Shiro yang dari tadi ada di samping Shura. Kedua matanya menatap lurus youkai yang melaju ke arah mereka mengincar Shura. "Aku akan melindungimu."
Ucapan Shiro seketika membuat semua yang ada di sana termasuk Tsubasa menatap inuhanyou itu, ekspresi mereka tertegun seakan mereka meragukan apa yang mereka dengar barusan.
"Aku tidak perlu perlindunganmu." Balas Shura tidal peduli dengan Shiro. "Justru, kaulah yang membutuhkan perlindungan dariku."
"Apa katamu???" teriak Shiro kesal mendengar balasan yang di dapatkannya. Kedua mata emasnya terarah pada Shura penuh kemarahan.
"Aku tidak menyangka hubungan kalian ternyata sedekat ini." sela Shippo pelan sambil menatap Shura dan Shiro. Sejujurnya, dia tidak begitu terbiasa melihat kebersamaan mereka, sebab mereka berdua memiliki kemiripan yang luar biasa dengan ayah mereka. Hubungan Sesshoumaru dan Inuyasha memang telah membaik, tetapi dia tetap tidak bisa membayangkan keakraban persaudaraan erat antara mereka.
"Tidak!!" penuh kepanikan, Shiro berteriak cepat. Dia sama sekali tidak mau dikira akrab dengan Shura, sebab bagaimanapun juga, dia tahu jelas bahwa inuyoukai kecil ini suatu hari nanti pasti akan bermaksud mencuri Sakura, adik kesayangannya dari keluarga mereka—dia tidak mungkin akan akrab dengannya. "Aku melakukannya karena dulu aku berjanji pada Rin-chan akan melindunginya."
Baik Inuyasha, Kagome dan Shippo masih menatap Shiro. Mereka mengangguk kepala bersamaan tanda percaya akan ucapan inuhanyou itu, akan tetapi, ekspresi wajah mereka menunjukkan sebaliknya.
"Benar!! Percayalah padaku!!!" teriak Shiro frustasi melihat ketidak percayaan orang tuanya dan Shippo.
"Simpan saja pembicaraan itu untuk nanti," ujar Tsubasa yang dari tadi diam tiba-tiba. Suaranya tenang tanpa kepanikan sedikitpun. "Musuh sudah hampir mencapai kita."
Selesai mengucapkam itu, tanpa menunggu balasan, youkai burung itu telah melaju ke depan dengan dua pedang cakram di tangannya, begitu juga dengan Shura yang telah mencabut pedangnya.
Inuyasha yang melihat Shura dan Tsubasa maju, juga tidak membuang waktu, dia ikut maju dengan tessaiga di tangannya. "Ayo, Shiro, kau harus melindungi Si kecil itu!!"
"Ahh!!! Sialan!!" teriak Shiro kesal. Dia merasa kesalahpahaman yang ada akan membutuhkan waktu yang sangat-sangat lama untuk terselesaikan.
Kagome hanya tersenyum melihat Shiro. Menarik busurnya, dia berkonsentrasi penuh untuk membidik musuh di depan, begitu juga dengan Shippo yang mulai melempar bola apinya.
Serangan demi serangan mulai kembali mereka lancarkan. Namun, seperti kata Shippo sebelumnya, musuh yang ada tidak ada habis-habisnya. Gunung hare ini sekarang telah menjadi sarang dari ribuan youkai. Shura tahu, keadaan tidak berpihak pada mereka. Jika keadaan seperti ini terus, lama kelamaan, stamina mereka semua akan habis.
Menatap sekeliling, Shura melihat youkai yang semakin lama semakin banyak berkumpul menuju mereka dari segala arah. Lalu, tiba-tiba dari belakangnya dia tiba-tiba merasakan aura youki keberadaan seseorang yang tidak asing baginya.
Tidak percaya, Shura menoleh kepalanya ke belakang, begitu juga dengan Inuyasha dan Shiro. Hanya Tsubasa seorang yang tersenyum kecil melihat siapa yang datang tersebut.
Jauh di belakang mereka, sepasukan besar youkai melaju ke arah mereka. Mengangkat bendera biru mereka tinggi, lambang youkai tanah selatan terpampang jelas, dan di garis terdepan pashkan tersebut, seorang daiyoukai berambut perak pendek dan mata biru langit memimpin.
"Akihiko-sama?"
....xOxOx....
Sakura tidak tahu apa yang terjadi, berdiri dengan mengenggam erat meido seki di tangannya, dia menatap Asano yang terus melancarkan serangannya untuk menghancurkan kekai element yang ada. Ketakutan dirasakannya saat dia melihat ekspresi wajah youkai rubah tersebut yang penuh niat membunuh.
Mamoru, Aya, Maya, Yuki, Koharu dan Jaken tidak bergerak melihat itu, mereka masih berusaha mencerna apa yang terjadi. Tapi, yang paling penting, bagaimana Meido seki ada ditangan Sakura?
Kekai element yang melindungi mereka semua sangat kokoh, tidak peduli bagaimana Asano menyerang, dia tidak berhasil. Kekai element yang diciptakan oleh meido seki adalah kekai terkuat, bahkan Sesshoumaru, sang penguasa tanah barat juga tidak dapat menghancurkannya.
"Hei! Gadis kecil!!" teriak Jaken. Dia yang sudah bisa mengontrol dirinya kembali berdiri dan menunjuk Asano dengan tongkat nintojonya. "Jangan hanya bertahan!! Serang rubah itu!!"
Kakai element bukanlah kekai sembarangan. Jaken telah melihat dengan kepala matanya sendiri dulu, kekai itu tidak hanya digunakan untuk bertahan, namun, dia juga dapat menyerang.
Kebingungan dengan mata yang menahan air mata, Sakura kemudian menatap Jaken. "S-sakura tidak tahu cara melakukan itu..."
Ucapan Sakura membuat Jaken dan yang lainnya tertegun. Sepertinya, inuhanyou kecil itu telah menggunakan kekuatan meido seki tanpa disadarinya.
Jaken tidak mengatakan apa-apa lagi, dia hanya menghela napas. Dirinya tidak menyalahkan Sakura yang tidak bisa menggunakan meido seki, terbukti sebenarnya sampai sekarang hanya ada satu orang saja yang dia tahu bisa menggunakan sessungguhnya pusaka itu dengan sepenuhnya, yakni—Rin. Tapi, sekarang, bagaimana dengan mereka semua? Jika hanya bisa bertahan tanpa menyerang, bagaimana mereka bisa meloloskan diri dari Asano?
Asano yang mendengar pembicaraan antara Sakura dan Jaken tertawa. Langit berpihak padanya, inuhanyou kecil itu tidak dapat menggunakan kekuatan Meido Seki sepenuhnya, karena itu, diirinya hanya perlu menghancurkan kekai ini dan membunuh mereka yang ada di depan—rencana mereka tidak akan gagal.
"Menyerahlah!!" teriak Asano dan semakin menguatkan serangannya untuk menghancurkan kekai. "Aku berjanji akan membiarkan kalian mati dengan cepat tanpa kesakitan!!"
Ucapan Asano membuat Sakura dan yang lainnya kembali menatap youkai rubah tersebut. Mamoru hanya dapat menggaruk kepalanya yang tidak gatal karena tidak mengerti. Menyerah tapi tetap mati?—siapa yang mau melakukan itu?
"Tanah barat sudah hancur!" lanjut Asano lagi sambil tertawa. Tangannya tidak henti-hentinya melancarkan serangan. "Kalian semua akan musnah! Mati tidak tesisa!!!"
"Kau terlalu banyak bicara."
Suara datar dan berat seseorang terdengar, dan tiba-tiba, dari samping kanan Asano, dengan kecepatan serta kekuatan luar biasa, orang itu muncul menekan kepala sang penguasa tanah timur hingga jatuh ke bawah tanah.
__ADS_1
Waktu bagaikan terhenti bagi Sakura dan yang lainnya melihat apa yang terjadi. Dari dalam kekai elemen yang melindungi mereka, mereka berdiri mematung tidak percaya.
"Ahhh!! Sialan!!" Asano berteriak marah. Tapi, tangan yang menahan kepalanya sangat kuat hingga dia tidak dapat berbuat banyak, "Siapa ka—" menoleh kepalanya sebisa mungkin, dia bertanya ingin mengetahui siapa penyerangnya. Namun, pertanyaannya terhenti begitu dia melihat sosok tersebut.
Mengenakan sehelai kimono putih polos tidak seperti biasanya, youkai itu berdiri. Berambut perak panjangnya terurai tidak terikat, dua garis unggu di pipi, tanda bulan sabit di dahi dan sepasang mata emas tanpa emosi—sang penguasa tanah barat; Sesshoumaru.
"B-bagaimana bisa?" terbata-bata, Asano menatap tidak percaya dengan Sesshoumaru yang ada di depannya. Bagaimana bisa inuyoukai ini berada disini?—bukankah Shui dengan jelas telah membunuhnya?
"Sesshoumaru-sama!!! Akhirnya anda sadar!!" sambil menangis, Jaken berteriak penuh kegembiraan. Air mata mengalir turun dari wajah saat melihat tuannya tersebut.
Berbeda dengan Jaken, Sakura, Mamoru dan yang lain yang masih belum pulih dari perasaan terkejut melihat Sesshoumaru, mereka hanya bisa berdiri bagaikan patung.
Perlahan, meido seki di tangan Sakura berhenti bersinar. Bagaikab tahu keadaan telah aman, kekai element yang mengelilingi dirinya dan yang lain seketika juga menghilang.
Asano yang terkejut melihat Sesshoumaru seketika menjadi panik. Tapi, kepanikannya tidak terlihat di wajah, dia memasang ekspresi wajah tenang dan santai seakan tidak terjadi apa-apa.
Sesshoumaru bisa melihat kepanikan yang disembunyikan Asano dengan baik. Perlahan, dia melepaskan kepala youkai rubah yang ditahannya ke atas tanah tersebut. Wajahnya tenang tanpa ekspresi seperti biasa.
Asano segera melompat menjauh dari Sesshoumaru begitu dia bebas. Mendarat di atas tanah, dia menatap penguasa tanah barat tersebut sambil tersenyum. "Kau terlihat sehat, Sesshoumaru."
Sesshoumaru tidak membalas ucapan Asano. Mata emasnya yang tanpa emosi sedikitpun hanya terus menatap penguasa tanah timur yang kini tersenyum.
"Aku tidak menyangka kau akan sadar secepat ini," terus berbicara, Asano mengulur waktu dan berusaha membaca emosi dari inudaiyoukai tersebut. "Apakah ini adalah rencanamu?"
Keberadaan Sesshoumaru di depannya, serta meido seki di tangan Sakura,\ mau tidak mau membuat Asano berpikir, apakah dia telah jatuh ke perangkap musuh? Mungkin Sesshoumaru telah bangkit dari awal, dan mereka membiarkan dirinya menyerang desa tanah netral adalah jebakan.
"Kau sungguh hebat, Sesshoumaru," tertawa Asano bertepuk tangan. Dia tidak bisa membaca atau menebak sedikitpun pikiran musuhnya sekarang, karena itu dia berusaha untuk mengulur waktu dan mencari cara untuk meloloskan diri. "Kurasa, ini pantas dirayakan."
Sesshoumaru yang dari tadi diam membisu kemudian membuka mulut. "Kau sudah selesai berbicara?"
Pertanyaan Sesshoumaru membuat Asano tertegun. Tapi sejenak kemudian, dia segera tersadar. Melihat inudaiyoukai di depannya, dia bisa merasa, Sesshoumaru tidak akan melepaskannya. Tertawa dan mengangkat kepala ke atas, asap merah dengan cepat mengelilingi badan penguasa tanah timur. Dia harus menggerahkan segenap kekuatannya jika ingin meloloskan diri—pertarungan tidak akan terhindari.
Saat asap merah yang ada menghilang, sosok Asano telah digantikan dengan wujud seekor rubah putih berekor sembilan. Badannya sangat besar, dan dia mendengus menatap Sesshoumaru dengan mata merah seperti darah.
Sakura dan yang lainnya tidak dapat bergerak melihat wujud asli Asano. Tekanan dan nafsu membunuh yang dipancarkannya membuat mereka merasa takut, sebab bagaimanapun juga, youkai rubah itu adalah salah satu youkai penguasa.
Namun, tidak untuk Sesshoumaru, ekspresi wajahnya tidak berubah sedikitpun saat melihat Asano, begitu juga dengan mata emasnya yang tanpa emosi. Lalu, sedetik kemudian, dia melesat cepat ke arah youkai rubah di depannya.
Asano yang melihat Sesshoumaru mendekat segera menggerakkan kesembilan ekornya untuk menyerang. Akan tetapi, kecepatan Sesshoumaru yang luar biasa tidak dapat diikutinya, serangannya gagal dan inudaiyoukai itu dengan mudah telah mencapai dirinya.
Berdiri tepat di depan Asano, Sesshoumaru mengerakkan tangan kanannya yang seperti cakar mencengkram leher youkai rubah itu dan mengangkatnya.
Sakura dan yang lainnya menatap apa yang terjadi dalam diam. Melihat Sesshoumaru yang dengan mudah mengangkat badan besar Asano, mereka merasa pemandangan di depannya adalah pemandangan yang sulit diterima akal sehat, mengingat badan Sesshoumaru yang kecil dan Asano yang besar. Tapi, ini juga cukup membuktikan perbedaan kekuatan kedua youkai penguasa.
Asano yang dicekram dan diangkat oleh Sesshoumaru sangat terkejut. Kepanikan dengan segera memenuhi dirinya, dan tiba-tiba saja, dia merasakan kesakitan luar biasa di lehernya. Menatap inudaiyoukai itu lagi, dia melihat sinar hijau ditangan kanannya tersebut—racun.
"Sesshoumaru!!!!" berteriak penuh kemarahan, Asano sekali lagi menggerakkan kesembilan ekornya untuk menyerang. Racun inuyoukai adalah racun yang sangat kuat dan berbahaya karena dapat meleburkan apapun—beraninya Sesshoumaru menggunakan racun itu kepadanya!
Namun, sekali lagi, belum sempat Asano menyentuh Sesshoumaru, inudaiyoukai itu telah mengangkat tangan kirinya yang bebas menyentuh kepala youkai rubah itu, dan—menariknya hingga terputus.
Darah merah jatuh bagaikan air mancur dari leher Asano yang terputus. Percikan darah merah juga mengenai Sesshoumaru yang kemudian melepaskan badan dan kepala besar di tangannya ke bawah.
Sakura dan yang lainnya untuk kesekian kalinya juga tidak bisa dan juga tidak berani bergerak. Pemandangan di depan mereka sekarang adalah pemandangan yang sangat menakutkan, hanya Jaken seorang saja yang meski juga kelihatan terkejut pada awalnya, dapat dengan segera mengendalikan diri.
"Sesshoumaru-sama!!" berteriak gembira memanggil nama Sesshoumaru, Jeken segera berlari mendekati tuannya sambil tertawa.
Segampang ini kah? Siapa yang pernah mengira bahwa Asano, sang youkai rubah penguasa tanah timur akan mati seperti ini?—Mamoru tidak akan percaya jika tidak melihatnya sendiri.
"Kakak!! Semuanya!!" suara teriakan Sora kemudian terdengar. Dari kejauhan, mereka bisa melihat youkai
tikus putih tersebut berlari mendekati mereka dengan pedang yang tersarung digenggaman kedua tangannya.
Sora berhenti bergerak saat tiba tidak jauh di depan Sesshoumaru. Dia bisa melihat tubuh tidak bernyawa Asano yang bersimbah darah, dan dia tidak perlu siapapun menjelaskan padanya siapa yang melakukan itu. Berlutut penuh hormat, dia menyerahkan pedang di tangannya pada Sesshoumaru. "Sesshoumaru-sama, pedang anda."
Pedang yang ada ditangan Sora adalah bakusaiga. Dirinya yang bermaksud menyelamatkan jenazah Sesshoumaru pada saat desa di serang awalnya cukup terkejut karena dia mendapati kamar dimana sang daiyoukai itu berada telah kosong saat dia tiba. Awalnya dia berpikir telah terjadi sesuatu pada jenazah tersebut, namun, saat dia merasakan youki menakutkan dalam hutan samping desa, tanpa pikir panjang dia mengambil bakusaiga yang ada dalam ruangan lain menuju sumber youki.
Sepanjang perjalanan menuju hutan, Sora bisa melihat banyak youkai yang menyerang desa telah menemui kematian dengan cara yang brutal, dan dari youkai tanah netral yang ada juga, dia tahu, yang melakukan itu adalah; Sesshoumaru, sang penguasa tanah barat yang telah membuka matanya.
Bagaimana Sesshoumaru bisa hidup kembali?—Sora tidak tahu. Semua youkai tanah netral yang melihatnya juga tidak tahu, tapi bagi mereka, kebangkitan sang penguasa adalah berkah. Sebab, desa berserta penghuninya akan aman dan baik-baik saja.
Sesshoumaru menatap Sora dan tanpa mengatakan apapun mengambil bakusaiga. Perlahan, dia kemudian menoleh menatap Jaken. "Di mana Shura?"
"Eh? Shura-sama?" tertegun dengan pertanyaan Sesshoumaru, Jaken kemudian segera menjawab. "Shura-sama menuju gunung hare. Dia ingin mengambil tensaiga untuk menyelamatkan anda, Sesshoumaru-sama."
Sesshoumaru tidak mengatakan apa-apa mendengar jawaban yang dia dapatkan. Mengangkat kepala ke atas menatap kekejauhan, dia berpikir untuk menyusul putranya sekarang juga. Namun, tiba-tiba, dia teringat sesuatu. Menurunkan kepalanya, inudaiyoukai itu menoleh kepada Sakura.
Sakura yang dari tadi tidak bergerak sedikitpun sangat terkejut. Perasaan terkejut itu berubah menjadi takut saat dia melihat sosok Sesshoumaru berjalan pelan mendekatinya.
Mengenggam erat meido seki di tangan, Sakura membalas tatapan Sesshoumaru menahan perasaan takut dalam hati. Walau wajah youkai yang mendekatinya memang sangat mirip dengan wajah Shura, aura mereka benar-benar sangat berbeda.
Sesshoumaru berdiri tepat di depan Sakura, kedua mata emasnya kemudian jatuh pada batu permata yang ada dalam tangan inuhanyou kecil tersebut. Dia tahu itu adalah meido seki, dan dia bisa melihat jelas retakan di seluruh permukaan permata tersebut.
Keajaiban itu ada, Sesshoumaru-sama. Anda tahukan? Rin seharusnya tidak bisa bertemu anda lagi seperti ini. Tapi, di detik terakhir, dengan mengorbankan sebagian besar kekuatannya, meido seki-sama membimbing jiwa Rin kemari.
Ucapan Rin melintas dalam pikiran Sesshomaru, dan dia tahu, itulah penyebab meido seki retak seperti ini.
Meido seki.
Sesshoumaru selalu membenci meido seki. Sejak batu pusaka itu berada dalam tangan Rin, semuanya berubah—dan juga, batu itu jugalah yang memintanya melepaskan Rin dengan memperlihatkan pemandangan paling menyakitkan dalam hidupnya.
Tapi, Sesshoumaru juga tahu, dia berhutang budi pada Meido seki. Batu yang selalu ada bersama Rin, melindungi dan berada dipihak wanita itu tidak peduli apapun yang terjadi, dan yang paling penting—pengorbanannya untuk menyelamatkan jiwa Rin.
"Terima kasih." Ujar Sesshoumaru pelan.
Terima kasih telah berada di samping Rin dan menemaninya hingga dia tidak pernah benar-benar sendirian. Terima kasih telah menyelamatkan jiwanya yang seharusnya telah lenyap—terima kasih karena telah memberikan mereka kesempatan untuk bersama pada akhir sebenarnya dari kisah mereka.
"Terima kasih untuk segala yang kau berikan pada kami."
Meido seki bersinar lembut mendengar ucapan Sesshoumaru, dan Sakura bisa merasakan detakan kecil dari batu permata di tangannya.
Perlahan, sekali lagi, Sesshoumaru kembali mengangkat kepalanya menatap langit. Meloncat ke atas, asap hijau muncul mengelilingi badannya, dan saat asap itu menghilang, seekor anjing putih raksasa terlihat menggantikan—wujud asli dari Inudaiyoukai penguasa tanah barat.
"Sesshoumaru-sama, tunggu hamba ini!!" berteriak keras, Jeken ikut melompat dan menarik ujung ekor Sesshoumaru tanpa rasa takut.
Sakura dan yang lainnya masih tidak bergerak, mereka semua menatap Sesshoumaru hingga akhirnya dia menghilang dari pandangan. Kecepatan tubuh raksasa itu sangat luar biasa, seperti cahaya, dia menghilang hanya dalam beberapa menit.
Terdiam saling menatap, Mamoru kemudian membuka mulut. "Jadi? Apa yang harus kita lakukan sekarang?"
__ADS_1
....xOxOx....
"Akihiko-sama?"
Shura menatap tidak percaya dengan kehadiran Akihiko yang kini semakin mendekat ke arahnya. Bagaimana youkai serigala itu ada disini?
Para bawahan Akihiko dengan segera menyerang para youkai musuh yang juga terlihat sangat terkejut dengan kehadiran mereka. Pertempuranpun tidak terhindari lagi, suara senjata beradu, ledakan terdengar, dan dengan kehadiran sang penguasa tanah selatan serta pasukannya, keadaan Shura, Inuyasha, Kagome, Shippo dan Tsubasa yang terpojok kini mulai membaik.
"Hei! Kagome!! Anjing kampung!! Kenapa kalian kewalahan menghadapi serangga-serangga kecil ini?!" suara tawa Koga terdengar. Berlari melewati Inuyasha dan Kagome, dia meloncat dan menendang musuh di depannya.
"Koga?" panggil Kagome terkejut.
"Siapa yang kewalahan??!" balas Inuyasha kesal dan ikut berlari menyusul Koga menyerang.
Kagome tidak dapat melakukan apa-apa, melihat sikap Inuyasha dan Koga yang sekarang sambil berdebat sambil bertarung. Menghela napas, dia menatap Shippo yang juga menatapnya. "Kurasa kita berdua juga tidak boleh kalah dari mereka."
Shippo mengangguk kepala setuju. Menatap pertarungam youkai di depannya, dia kembali melemparkan bola apinya bersamaan dengan Kagome yang melepaskan panah sucinya.
Di sisi lain, Shura menatap Akihiko penuh tanda tanya. "Akihiko-sama, kenapa anda ada di sini?"
Keberadaan Akihiko di depannya tidak dapat dimengerti oleh Shura. Youkai serigala ini tidak mungkin datang membantunya yang ingin menghidupkan kembali ayah kandungnya, kan?—sebab hubungan kedua penguasa tersebut sejak dulu tidak penah baik.
Akihiko tidak menjawab pertanyaan Shura, menatap wajah inuyoukai kecil tesebut, matanya kemudian terarah pada pita merah yang mengikat rambut perak panjang tersebut—pita yang dulu Rin berikan padanya dan dia buang.
Anda seorang pelupa, Akihiko-sama.
Akihiko tahu, dirinya bukanlah seorang pelupa, tapi dia sengaja ingin melupakan. Karena dengan begitu, dia berpikir semuanya akan lebih baik.
Rin berharap—kelak, jika keadaan menjadi kacau. Jika api perang akan berkobar lagi, anda akan mengingat janji kita hari itu saat melihat pita ini.
Mengangkat tangan kanannya, Akihiko kemudian menyentuh pita merah tersebut. Dia tidak peduli sedikitpun pada Shura yang merasa sangat terganggu dengan apa yang dilakukannya.
Jangan pernah melupakan janji anda pada Rin lagi, Akihiko-sama. Rin tidak mengharapkan perperangan—Rin mengharapkan kita semua bisa melewati tiap hari penuh kedamaian, tawa dan senyum—kebahagiaan.
Kebahagiaan. Tidak hanya sekadar mengucapkan, wanita manusia itu selalu mengharapkan kebahagiaan bagi semua yang ditemuinya tulus dari dalam hati, termasuk—kebahagiaannya, Akihiko, sang penguasa tanah selatan.
Apakah anda mau membantu menjaga dan melindungi Shura kelak, Akihiko-sama?
Dulu sekali, Akihiko pernah berjanji akan melindungi putra yang paling berharga bagi wanita itu, tapi saat wanita itu menghilang, dia melupakan janji tersebut dan membuang pita pemberiannya. Kenapa?—karena dia selalu bepikir bahwa, anak itulah penyebab utama kematian wanita itu.
Saat Sesshoumaru mengirim Shura padanya, awalnya dia tidak mengerti dan tidak begitu peduli. Tapi, melihat wajah inuyoukai kecil itu tidak tahu apa-apa dan mengangap Akiko lah ibu kandungnya, dia tertawa. Ya! Anak itu pantas tidak tahu. Anak itu tidak pantas mengetahui siapa ibu kandungnya, karena—itulah hukumannya yang telah mencelakai wanita itu.
Mengapa dia membiarkan Shura tinggal di istana tanah selatan?—Akihiko sesungguhnya juga tidak tahu. Dia sejujurnya tidak menyukai anak itu, tapi, dia juga tidak bisa mengusirnya. Mungkin karena dia bisa melihat sedikit bayangan wanita itu, atau mungkin karena dia ingin anak itu selamanya hidup tanpa mengetahui kenyataan cinta luar biasa yang didapatkannya bahkan sebelum terlahir di dunia ini—cinta wanita itu yang tidak pantas didapatkannya.
Tapi, seiring waktu berlalu, melihat Shura yang tumbuh di depannya dengan baik, meihat dia menatap matanya lurus tanpa takut, melihatmya berbicara terus, melihatnya tidak pernah menyerah—Akihiko melihat sosok wanita itu semakin jelas dan jelas. Ah, inuyoukai kecil itu ternyata memanglah anak wanita itu.
Lalu, apakah dia masih tidak menyukai Shura?—ya, dia tidak menyukainya. Tapi, dia juga tidak bisa tidak menginginkannya. Dia berpikir, bagaimana jika inuyoukai itu menjadi anaknya?—bagaimana jika peninggalan paling berharga wanita manusia itu adalah putranya, bukanlah putra anjing itu? Mungkinkah dengan begitu dia akan puas, karena dia akan menang dari Sesshoumaru.
Tapi, sekali lagi, ternyata dia salah. Saat melihat Shura menatap obi milik wanita itu, dia sadar—ternyata inuyoukai kecil itu tahu akan wanita itu, tahu akan cinta yang dimiliki. Karena itulah dia mengambil obi itu, dan tidak mengijinkan Shura pulang ke tanah barat—dia ingin Shura tidak tahu apa-apa selamanya dan menjadi putranya.
Cintanya, amarahnya, kebenciannya, keserahkahan, dan juga—kebodohannya. Semuanya bergabung yang akhirnya menjadi; obsesi.
Tidak ada yang mengetahui itu, dan Akihiko juga tidak ingin siapapun melihatnya—sosoknya yang menjijikan. Namun, ternyata, dia salah, ada yang mengetahuinya, yakni—Tsubasa.
Tsubasa bisa melihat jelas semuanya, dan karena itu jugalah, youkai burung itu mengatakan padanya—sudah saatnya semua ini berakhir. Dirinya mengiginkan Rin, tapi dia tidak bisa mendapatkannya. Karena itu dia menginginkan Shura. Keinginannya untuk memiliki Shura senagai anak adalah wujud dari obsesinya akan ibu kandungnya.
Shura tidak diinginkan Sesshoumaru dan Shura juga tidak memiliki ibu—dia sendirian tanpa keluarga. Jika dia mengulurkan tangan, walau tidak mau, tapi suatu hari nanti, inuyoukai kecil itu pasti akan meraihya—itulah yang dipikirkan Akihiko.
Namun, sekali lagi, dia salah. Shura tidak sendirian. Ada banyak yang ada disampingnya—keluarganya. Mereka yang berani berdiri di depannya untuk membela inuyoukai kecil tersebut.
Ah, ternyata sampai akhir, yang sendirian adalah—dirinya sendiri.
Mengangkat kepalanya, Akihiko kemudian menatap Tsubasa yang tersenyum kepadanya. Menatap youkai burung itu, dia berpikir sendiri, bagaimana dia bisa berakhir sendiri?
Jawabannya adalah—karena dirinya sendiri. Saat Tsubasa berdiri melawannya dan meninggalkan tanah selatan, Akihiko sadar, dia sesungguhnya memiliki seseorang yang selalu di sampingnya, sayangnya dia baru mengetahuinya saat orang itu menghilang.
Jangan membutakan mata anda dan melewatkan hal terindah yang telah anda miliki.
Ucapan wanita manusia itu menjadi kenyataan, dia terlambat menyadarinya dan kehilangan.
Cintakah itu?—tidak. Akihiko tahu, sejak awal hingga akhir, dia tidak mencintai Tsubasa seperti yang Tsubasa inginkan. Tapi, ratusan tahun bersama, youkai burung itu merupakan orang yang berharga baginya.
Apakah dia menginginkan Tsubasa kembali sekarang?—tidak. Karena dia tahu, dia tidak pantas. Dia tidak bisa memberikan cinta yang diinginkan Tsubasa, karena itu dia harus melepaskannya—karena itulah yang terbaik bagi mereka berdua.
Rin.
Akihiko tahu, seperti Tsubasa yang melepaskan dirinya, dia juga harus melepaskan Rin. Cintanya pada wanita manusia itu tidak salah, hanya saja, mereka tidak ditakdirkan bersama.
Akihiko-sama, terima kasih telah hadir dalam dunia Rin. Apapun yang terjadi kelak di kedepannya, Rin sungguh berharap anda tetap menjadi anda—Rin berharap anda selalu sehat dan bahagia..
Untuk wanita yang dicintainya terakhir kali, Akihiko akan melepaskan cintanya; obsesinya. Dia mengerti sekarang, tidak ada yang akan dia dapatkan dari memaksa, dirinya tidak akan pernah mendapatkan kedamaian, karena itu dengan melepaskan, kedepannya, dia berharap dia akan dapat kembali menjadi dirinya sendiri dan mungkin kelak akan—bahagia.
Masih menatap Tsubasa, Akihiko kemudian tersenyum. "Terakhir kali, temani aku dalam perang ini, Tsubasa."
Senyum Tsubasa semakin melebar melihat senyum Akihiko. Senyum itu adalah senyum yang dulu dilihatnya saat masih berupa seekor burung kecil, senyum penuh kebebasan tanpa kekangan dari youkai serigala kecil yang penuh kehidupan—Akihiko yang sebenarnya.
Tidak ada belenggu lagi, tidak ada kekangan lagi. Akihiko dan Tsubasa tahu, inilah akhir dari kisah mereka—kebebasan yang sebenarnya.
Melepaskan tangan yang menyentuh pita merah Shura, Akihiko kemudian menepuk kepala inuyoukai itu pelan. "Pergilah.."
Akihiko berjanji akan melindungi Shura dulu, dan dia akan menepatinya. Demi Rin, kah?—iya. Namun, juga demi Shura. Tanpa obsesinya, youkai serigala itu tahu, dia akan menyukai inuyoukai kecil ini.
Tidak membuang waktu dan menunggu balasan Shura, Akihiko kemudian melesat dan berlari ke depan dengan pedang di tangannya. Tsubasa juga ikut berlari, dengan tawa di wajah, dia mengangkat kedua pedang cakram di tangan.
Menyerang, Akihiko mengayunkan pedangnya, di belakang Tsubasa melompat dan melempar pedang cakramnya. Saling melengkapi dengan timing dan keharmonisan yang luar biasa, mereka maju bagaikan satu.
Cinta kah?—mungkin iya juga. Baik Akihiko maupun Tsubasa tahu, mereka tidak akan bersama seperti sepasang kekasih, tapi, ratusan tahun bersama, ikatan antara mereka juga bukanlah kebohongan—sebagai teman, sebagai sahabat, mungkin inilah cinta yang paling pantas ada di antara mereka.
Tsubasa tertawa dan Akihiko juga tertawa—Ya, dalam kebebasan tanpa belenggu dan obsesi—mereka adalah; sahabat.
Shura yang ditinggalkan sendiri sama sekali tidak mengerti apa yang terjadi, membalikkan badannnya, dia melihat musuh yang mulai terpojok dan jalan yang terbuka.
"Tunggu apa lagi? Ayo!!" Suara Shiro terdengar menyadarkan Shura, dan walau masih bingung, inuyoukai kecil itu segera menuruti ucapan inuhanyou tersebut. Dia akan mengesampingkan apa yang terjadi barusan, karena dia harus fokus pada tujuannya sekarang.
Tidak membuang waktu lagi, Shura melangkah kakinya dan berlari menyusuri jalan yang dibuka Akihiko dan Tsubasa menuju puncak gunung hare—tensaiga.
....xOxOx....
__ADS_1