![Till The End Of Time [ Inuyasha Fanfiction ]](https://asset.asean.biz.id/till-the-end-of-time---inuyasha-fanfiction--.webp)
Kagome melangkah kakinya memasuki istana tanah barat. Dengan Shiro yang tertidur dalam gendongan serta Inuyasha, keluarga Miroku dan Sango di sampingnya, mereka mengikuti seorang youkai rubah yang menunjukkan mereka jalan.
"Kenapa kita harus menginjakkan kaki lagi ke istana ini, lagi??" tanya Inuyasha kesal. Kedua tangannya terlipat di dada, sedang ekpresi tidak suka terlihat jelas di wajah tampannya.
"Aku juga tidak tahu, Inuyasha." jawab Kagome sambil menghela napas.
"Apa benar-benar terjadi sesuatu pada Rin-chan?" gumam Sango pelan. Seperti Kagome, dia juga sedang menggendong Mamoru yang tertidur pulas.
"Kurasa tidak," sela Miroku yang tangan kiri kanannya mengenggam tangan Aya dan Maya yang terlihat mengucek-ngusek mata karena masih mengantuk. "Jika terjadi sesuatu pada Rin-chan, youkai yang datang menjemput kita tidak akan setenang itu."
Semalam, saat keluarga Inuyasha dan keluarga Miroku sudah tidur, tiba-tiba saja serombongan youkai dari istana tanah barat muncul di depan rumah dengan sebuah kereta kuda youkai besar. Membangunkan mereka semua, rombongan youkai itu meminta mereka menuju istana tanah barat saat itu juga–atau lebih tepatnya memaksa.
Inuyasha yang tidurnya terganggu jelas tidak setuju, dia bahkan sudah bersiap mencabut pedang tessaiga untuk mengusir rombongan youkai barat itu. Tapi, Kagome menghentikannya dan bertanya apakah terjadi sesuatu pada Rin hingga menginginkan kehadiran mereka di istana tanah barat tiba-tiba.
Rombongan itu tidak menjawab pertanyaan Kagome itu, mereka hanya tersenyum dan berkata kehadiran mereka semua akan sangat diharapkan Rin. Karena itulah, setelah berunding beberapa saat, akhirnya keluarga Inuyasha dan keluarga Miroku memutuskan menuju istana tanah barat.
"Cih," cibir Inuyasha yang masih saja tidak dapat menahan kekesalan dalam hatinya. Kedua tangannya kemudian bergerak menggendong Shiro dari Kagome yang terlihat sedikit kewalahan karena beratnya badan sang anak. "Jika tidak terjadi apa-apa pada Rin, maka kita akan langsung pulang ke rumah."
"Tidak tahu mengapa, aku merasa istana ini seperti rumah kedua kita sekarang," tawa Miroku sambil menggeleng kepala. "Akhir-akhir ini, aku merasa lebih banyak menghabiskan waktu di sini."
Ucapan Miroku disetujui Kagome dan Sango. Kata biksu itu memang tidak salah, dari ulang tahun Sesshoumaru, perang barat dan selatan, pernikahan Sesshoumaru dan Rin–beberapa bulan ini mereka memang sering berada di istana ini.
"Tapi," lanjut Miroku lagi, matanya terarah pada Inuyasha. Ucapannya barusan membuat dia sadar akan sesuatu. "Bagimu, istana ini memang rumah keduamu, kan, Inuyasha?–bukankah istana ini adalah istana ayahmu dulu?"
"Ini bukan rumahku," balas Inuyasha dengan wajah tidak peduli. "Aku tidak dibesarkan di sini–dan ini istana Sesshoumaru. Sudah hukum alam, istana si berengsek itu tidak akan pernah menjadi rumahku!!"
Jawaban Inuyasha membuat yang lainnya menggeleng kepala. Sepertinya hubungan Inuyasha dan Sesshoumaru memang tidak akan pernah berubah, padahal mereka semua berpikir akan ada perubahan pada kedua saudara seayah itu semenjak pernikahan Sesshoumaru dan Rin. Bukankah inuhanyou ini bersedia ikut dalam rombongan keluarga mempelai pria saat itu?
Melangkah terus, mereka semua akhirnya tiba di depan kamar Sesshoumaru dan Rin yang berada dalam paviliun istana tanah barat. Youkai rubah yang menuntun mereka dengan sopan mengumumkan kehadiran mereka. "Rin-sama, Inuyasha-sama dan rombongannya telah tiba."
"Masuk." Suara tawa Rin yang bagaikan dentingan lonceng terdengar menjawab. Suaranya yang riang tidak dapat menyembunyikan kebahagiaannya.
Tidak mengatakan apa-apa lagi, youkai rubah tersebut langsung membuka pintu shoji kamar yang tertutup dan mempersilakan Inuyasha serta yang lainnya masuk.
Saat pintu kamar terbuka, yang dilihat Inuyasha dan yang lainnya adalah sebuah kamar yang sangat indah. Lukisan dan tulisan kaligrafi indah serta bunga musim panas menghiasi kamar. Di dominasi warna merah, warna kebesaran barat–kamar tersebut sangat elegan dan menunjukkan jelas kepribadian pemilik kamar.
Lalu, dalam kamar, dilimpahi cahaya matahari yang masuk melalui jendela di belakangnya, seorang wanita manusia duduk dengan anggun. Wanita yang sangat cantik dengan senyum yang seindah musim semi–kisaki tanah barat; Rin.
"Kagome-sama, Sango-sama, Inuyasha-sama, Miroku-sama dan semuanya," tawa Rin bahagia memanggil mereka. Dia segera bangkit berdiri dan berjalan cepat mendekati mereka. "Selamat datang!!"
Inuyasha dan yang lainnya tertegun melihat senyum dan tawa Rin. Wanita manusia ini sejak dulu memang memiliki senyum tawa yang sangat menawan. Tapi sekarang, indah senyum tawanya dapat membuat semua orang yang melihat menahan napas karena terpesona–apa yang terjadi?
"Terima kasih sudah bersedia datang ke istana tanah barat untuk Rin," senyum tawa Rin yang semakin melebar. Binar kebahagiaan di wajahnya benar membuat dia terlihat sangat menyilaukan bagai matahari diluar yang bersinar cemerlang. Mengangkat kedua tangannya, dia memeluk erat Kagome. "Rin senang sekali!!"
"Rin-sama," panggil Kiri yang berada di belakang Rin pelan. Inuyoukai pengawal pribadi kisaki tanah barat itu memperlihat ekspresi khawatir yang tidak biasa pada wajahnya. "Hati-hati."
Ucapan Kiri segera membuat Rin melepaskan pelukannya. Menatap pengawal pribadinya, dia mengangguk kepala pelan.
Inuyasha dan yang lainnya cukup bingung dengan sikap Rin maupun Kiri, tapi belum sempat mereka mengatakan sesuatu, suara keras Inukimi tiba-tiba terdengar dari belakang.
"Putriku!! Rin kecilku!!"
Menoleh kepada sumber suara, Rin dan yang lainnya bisa melihat Inukimi yang berlari ke arah kamar. Di belakangnya, Jaken berlari mengejarnya sambil membawa semangkuk cairan berwarna hitam di kedua tangan. Senyum dan tawa yang sangat lebar menghiasi wajah cantik inuyoukai mantan penguasa tanah barat tersebut.
"Ibunda!" balas Rin riang melihat Inukimi.
Tiba di depan Rin, tidak mempedulikan keberadaan Inuyasha dan yang lainnya, Inukimi mengelus lembut rambut hitam menantunya. "Apakah hari ini kau merasakan sesuatu yang aneh? Jangan sampai kecapekan–ibunda membuatkan ramuan khusus untuk menjaga kesehatanmu."
Rin mengangguk kepala mendengar ucapan Inukimi. "Terima kasih ibunda."
"Ramuan? Menjaga kesehatan?" ujar Kagome dengan wajah terkejut yang juga tidak dapat menyembunyikan kekhawatiran. "Apakah terjadi sesuatu padamu, Rin-chan?"
Pertanyaan Kagome membuat Rin kembali menatap miko masa depan itu. Dia juga bisa melihat Inuyasha, Sango dan Miroku juga menatapnya khawatir menunggu jawaban.
Tersenyum lembut, dengan matanya yang bersinar penuh kebahagiaan, Rin kemudian menurunkan pandangannya pada perut ratanya. Perlahan, dia menggerakan kedua tangan memeluk kehidupan baru yang dia tahu berada di sana. "Rin sedang mengandung anak Sesshoumaru-sama.."
Jawaban Rin membuat Kagome, Inuyasha dan yang lainnya terdiam. Namun sejenak kemudian, ekspresi tertegun mereka segera berubah menjadi terkejut.
"Apa!!????"
"Eh!!?"
"Mengandung!!!??"
Lalu, dalam kegaduhan yang ada, suara Mamoru yang tidak tahu sejak kapan telah bangun, tiba-tiba terdengar. "Mengandung? Apakah ini artinya, istri masa depan Mamoru akan lahir tidak lama lagi?"
....xOxOx....
__ADS_1
"Apakah anda ingin hamba mengurus rumor yang beredar di dunia manusia saat ini, Sesshoumaru-sama?" tanya Kira yang berlutut dalam ruang kerja sang penguasa tanah barat. Kedua mata emasnya terarah pada Sesshoumaru yang duduk membaca gulungan dokumen di depannya.
Sesshoumaru tidak mengatakan apa-apa untuk pertanyaan Kira. Akhir-akhir ini, di dunia beredar luas sebuah rumor; rumor mengenai kisaki tanah barat yang sangat tidak berdasar.
Rumor yang beredar mengatakan bahwa kisaki tanah barat adalah seorang wanita manusia serakah yang mencintai kemewahan. Manusia yang rela menjual dirinya menjadi mainan youkai untuk hidup berkucukupan. Rumor juga mengatakan kisaki tanah barat ingin menguasai dunia manusia dan menjadi ratu para manusia dengan bantuan youkai. Keseluruhan, semua rumor yang beredar adalah rumor yang tidak menyenangkan.
Siapa kisaki tanah barat?–dia adalah wanita manusia yang paling jauh dari kata serakah. Wanita yang meski kini sudah menjadi seorang kisaki, tapi tidak pernah meminta apapun; wanita yang hanya ingin berada di samping daiyoukai penguasa tanah barat, suaminya.
Tapi, rumor yang beredar bukanlah sesuatu yang mengejutkan Sesshoumaru, walau dia tidak menyangka rumor itu bisa seburuk ini. Pernikahan Rin, manusia yang menjadi kisaki youkai, dari awal sudah ditakdirkan tidak disukai manusia. Manusia selalu membenci apapun yang berhubungan dengan youkai. Dimata mereka, youkai adalah makhluk yang kejam dan haus darah, karena itu istri manusia seorang youkai juga pasti tidak kalah buruknya.
Rumor yang beredar, apakah Sesshoumaru ingin menghentikannya?–ratusan tahun hidup, dia tahu, dia tidak dapat melakukan apapun untuk rumor seperti itu. Kepada manusia yang pengecut dan suka berpikir merekalah yang paling benar di dunia, jika dia melakukan sesuatu untuk membuktikan rumor yang beredar tidak benar–mereka tidak akan percaya. Jika dia memaksa menghentikan rumor ini, maka rumor akan semakin parah.
Satu-satunya yang dapat dilakukan adalah tidak mempedulikannya. Hidupnya yang panjang telah mengajarkan, dia tidak akan dapat menghentikan mulut semua manusia yang ada. Rumor adalah rumor, dan di dunia youkai, sebuah rumor manusia tidak ada artinya.
Rin adalah manusia, tapi dunianya adalah dunia youkai. Rumor yang beredar tidak akan berefek apapun baginya, sebab dia bukan kisaki manusia, melainkan kisaki youkai. Posisinya tidak goyang hanya karena rumor manusia.
"Tidak perlu," jawab Sesshoumaru kemudian. Dia menurunkan gulungan dokumen yang dibacanya dan mengangkat mata menatap Kira. "Tapi, Sesshoumaru ini tidak menginginkan kisakinya mendengar rumor ini."
Bersamanya, menjadi istrinya; mencintainya–Sesshoumaru tahu, ini adalah resiko akan pilihan Rin. Kisakinya bukanlah wanita yang bodoh, tanpa diberitahu, mungkin dia sendiri juga sudah tahu, dan juga, dia tidak mempedulikannya.
"Hamba mengerti." Balas Kira. Inuyoukai pengawal itu tahu, keputusan Sesshoumaru adalah keputusan yang tepat. Tapi, dalam hatinya, dia bersumpah, jika saja ada orang yang berani berkata seperti itu di depannya, baik manusia maupun youkai, dia akan merobek mulut orang itu.
Sesshoumaru tidak mengatakan apa-apa lagi. Perlahan, dia kembali membaca gulungan dokumen yang ada di tangan. Namun, sedetik kemudian indra penciumannya yang tajam menangkap jelas bau Inuyasha dan rombongannya yang telah tiba di istana tanah barat.
Kedatangan mereka ke istananya ini tidak lain adalah ide Inukimi. Saat mengetahui kehamilan Rin, sang mantan penguasa tanah barat itu sangat gembira dan memikirkan semua hal yang bisa dilakukannya untuk menantu serta cucunya.
Dari membuat ramuan, menemami hingga mengundang Inuyasha dan rombongannya tinggal di istana tanah barat. Inukimi berpikir, bagi Rin yang merupakan seorang manusia, dia pasti akan lebih tenang melewati masa kehamilan hingga kelahirannya jika memiliki manusia lain yang dipercayainya disamping.
Sesshoumaru tidak keberatan atau mengatakan apapun untuk ide itu. Terlebih lagi, saat dia melihat Rin juga sangat menyukai ide kedatangan Inuyasha dan yang lainnya.
Asal Rin bahagia dan anak dalam kandungannya sehat–untuk istana tanah barat yang besar dan berkecukupan baik makanan maupun minuman, menambah beberapa orang sama sekali bukanlah sebuah masalah.
Menutup gulungan dokumen yang dibacanya, Sesshoumaru kemudian meletakkan di atas meja. Berdiri dia kemudian memlangkah kakinya keluar. Tugasnya sebagai penguasa tanah barat hari ini sudah selesai, dia ingin menemani istri dan anak dalam kandungannya sekarang.
....xOxOx....
"Baiklah, Rin-chan," senyum Kagome lebar. Mata hitamnya berseri-seri menatap Rin di depannya. "Kami akan tinggal di sini sampai kau melahirkan keponakanku."
"Benarkah?" tanya Rin dengan mata terbelalak. Namun, sedetik kemudian segera berubah menjadi senyun tawa kebahagiaan. "Terima kasih! Terima kasih semuanya!!"
Dalam kamar penguasa tanah barat sekarang ini, hanya ada Rin, Inuyasha, Kagome, Sango, Miroku dan Inukimi. Shiro, Mamoru, Aya dan Maya yang masih kelelahan karena perjalanan sedang beristirahat di kamar lain dengan Jaken yang ditugaskan mengawasi.
"Kehamilan inuhanyou itu tujuh bulan. Jadi, kau akan melahirkan sekitar akhir musim dingin tahun ini," ujar Kagome lagi dengan senyum yang tidak kunjung menghilang. "Aku tidak sabar menunggu kelahiran keponakanku ini."
Berbeda dengan usia kehamilan manusia, usia kehamilan inuhanyou lebih singkat, yakni; tujuh bulan, dan untuk Kagome yang mengalaminya sendiri, dia jelas tahu betapa beratnya kehamilan itu. Karena itulah, dia memutuskan untuk menemani Rin selama kehamilannya ini tanpa berpikir panjang–dia dan keluarganya berhutang budi pada wanita manusia ini dulu saat melahirkan Shiro.
"Melihatmu sekarang Rin kecil," ujar Inukimi yang ada di samping Rin tiba-tiba. "Aku jadi teringat dengan saat aku mengandung Sesshoumaru ratusan tahun yang lalu."
Ucapan Inukimi dengan segera membuat semua yang ada menolehkan kepala padanya, termasuk Inuyasha. Tidak tahu kenapa, mereka tidak bisa membayangkan masa Inukimi mengandung Sesshoumaru–atau lebih tepatnya, tidak bisa membayangkan sosok penguasa tanah barat itu memiliki masa lalu di mana dia berada dalam kandungan.
"Seperti apa saat itu, ibunda?" tanya Rin penasaran. Mengetahui masa lalu suaminya, Rin benar tidak dapat menghentikan rasa ingin tahunya.
Inuyasha dan yang lainnya tidak mengatakan apa-apa, tapi sama dengan Rin, mereka juga sangat penasaran.
"Dia sangat diam." Jawab Inukimi kemudian, menerawang memikirkan masa lalu yang telah berlalu lama.
"Diam?" tanya Kagome bingung.
Inukimi mengangguk kepala. "Usia kehamilan inuyoukai lebih dari singkat inuhanyou. Kami hanya butuh waktu lima bulan untuk melahirkan, dan selama lima bulan aku mengandung Sesshoumaru, dia tidak pernah bergerak sedikitpun–aku bahkan berpikir dia sudah mati dalam rahimku."
Kagome dan Sango terdiam mendengar penjelasan Inukimi. Saat mereka hamil, anak dalam perut mereka selalu saja bergerak dengan aktif.
"Taisho dan semua yang ada juga berpikir dia sudah mati dalam kandungan. Jika saja aura youkinya yang kuat tidak dapat dirasakan saat usia kehamilan tiga bulan, dia pasti sudah diangkat dari dalam rahimku." lanjut Inukimi lagi.
Masa kehamilannya dulu adalah salah satu saat yang sangat menghebohkan tanah barat. Pewaris yang ditunggu-tunggu telah ada, tapi tidak jelas hidup atau mati. Si berengsek Taisho bahkan menemani dan menempelkan telinga pada perutnya tiap hari, berusaha memastikan keberadaan pewarisnya itu.
Sebuah kerutan kecil muncul di dahi Inukimi. "Dipikir-pikir lagi, sikap tenangnya sudah ada sejak masih dalam rahimku. Kurasa saat itu dia berpikir, bergerak adalah sesuatu yang tidak berguna."
Semua yang ada diam membisu mendengar penjelasan Inukimi. Tapi mereka sependapat dengan ucapannya barusan, bahwa Sesshoumaru yang dirahim Inukimi saat itu tidak bersedia bergerak karena menurutnya tidak berguna.
"Lalu setelah lima bulan di rahimku," lanjut Inukimi lagi. Seulas senyum mengembang di wajahnya. "Dia lahir, putraku–anak anjing paling tampan yang pernah kulihat."
"Anak anjing??" sela Kagome, Sango, Miroku, dan juga Inuyasha bersamaan.
Inukimi menoleh wajah menatap mereka. Sedetik kemudian dia tertawa. "Iya, anak anjing. Kami inuyoukai lahir dalam wujud asli kami. Memangnya kalian pikir kami lahir dalam wujud manusia?"
Inuyasha dan yang lainnya kembali terdiam mendengar jawaban Inukimi. Kelahiran inuyoukai itu seperti apa, sebenarnya mereka sama sekali tidak mengerti.
__ADS_1
"Ibunda," panggil Rin yang sedari tadi diam tiba-tiba. Kedua matanya berbinar penuh rasa ingin tahu. "Seperti apa Sesshoumaru-sama saat bayi?"
"Hmnn," gumam Inukimi lagi, membayangkan masa kecil putranya sekarang. "Dia pendiam. Dia tidak pernah menangis ataupun mengeluarkan suara sedikitpun–si berengsek Taisho mengira dia bisu. Dia juga tidak aktif, lebih memilih tidur dari pada membuka mata. Tapi, dia akan menggeram penuh kemarahan dan memamerkan taring jika ada yang menyentuhnya."
"Hmnn, meski bayi, Sesshoumaru tetaplah Sesshoumaru." Gumam Miroku pelan sambil mengangguk kepalanya.
"Ahhh," desah Rin pelan. Senyum makin melebar di wajahnya. "Rin jadi ingin melihat Sesshoumaru-sama saat bayi."
Inukimi tertawa mendengar ucapan Rin. Masa kecil Sesshoumaru, walau tidak ada manis dan lucunya sama sekali, masa itu tetaplah akan menjadi masa yang tidak terlupakan baginya.
"Cih," cibir Inuyasha sambil membuang mukanya. "Aku tidak tertarik mendengar masa lalu si berengsek itu!"
Namun, sedetik kemudian, Inuyasha, menoleh wajah ke arah pintu kamar yang tertutup, begitu juga dengan yang lain. Mereka bisa merasakan jelas aura keberadaan Sesshoumaru yang mendekat.
Pintu shoji yang tertutup terbuka, mata semua orang yang ada dalam kamar bisa melihat jelas sosok Sesshoumaru yang tidak berekspeesi berjalan masuk.
"Sesshoumaru-sama." Panggil Rin gembira. Senyum lebar dan matanya yang berbinar bahagia terarah pada Sesshoumaru.
"Kakak, selamat." ujar Kagome menyelamati Sesshoumaru dengan seulas senyum di wajah.
"Selamat Sesshoumaru." sambung Miroku dan Sango bersamaan. Mereka juga tersenyum tulus menyelamati inuyoukai tersebut.
"Ha!!!" teriak Inuyasha sambil tertawa tiba-tiba. Berdiri, di wajah tampannya kini terukir seulas senyum menyeringai. "Selamat kau akan segera menjadi ayah dari seorang hanyou sepertiku yang selalu kau ben–ahhhh!!"
"Osuwari."
Tawa Inuyasha segera berubah menjadi teriakan ketika Kagome yang ada di sampingnya tersenyum dan berguman kata osuwari. Terkapar di atas tatami, inuhanyou itu tidak dapat bergerak.
"Kagome!!!" teriak Inuyasha penuh kekesalan kemudian. Mengangkat kepala, dia menatap Kagome tajam. Namun seperti biasa, istrinya itu tidak peduli.
Sesshoumaru yang berjalan masuk sama sekali tidak mempedulikan Inuyasha dan yang lainnya. Sesungguhnya, saat dia memasuki kamar ini, yang ada dalam pandangannya hanyalah Rin yang sedang tersenyum kepadanya.
Mendekati Rin, dia kemudian menggerakan kedua tangannya dan mengendong wanita manusia itu. Kedua mata emasnya menatap lembut kisakinya. "Kau sudah makan, Rin?"
Meletakkan kedua tangannya di pundak penguasa tanah barat, Rin tersenyum sangat manis kepada inuyoukai itu. "Rin sudah makan Sesshoumaru-sama."
Sesshoumaru mengangguk kepala mendengar jawaban Rin. Seulas senyum yang sangat tipis menghiasi wajahnya "Bagus."
Sikap dan interaksi Sesshoumaru terhadap Rin membuat Inuyasha dan yang lainnya tertegun. Mereka sudah tahu, kisaki tanah barat itu sangat penting bagi sang penguasa tanah barat. Tapi, melihat kemesraan mereka seperti ini, tidak tahu kenapa, mereka merasa seperti penganggu sekarang.
"Baiklah," tawa Inukimi tiba-tiba. Berdiri, dia kemudian membalikan badan dan berjalan keluar dari kamar. "Ada yang harus kukerjakan, jaga Rin kecil dan cucuku baik-baik, Sesshoumaru."
Kagome dan yang lainnya juga segera mengikuti Inukimi. Mereka tidak ingin menganggu kebersamaan pasangan pengantin baru itu.
"Kami tidak akan menganggumu lagi, Rin-chan. Istirahatlah lebih banyak," senyum Kagome dan berdiri. "Kami harus memeriksa anak-anak. Shiro pasti sudah bangun."
Miroku dan Sango juga ikut berdiri. Mereka berdua mengangguk kepala dan tersenyum menyetujuhi ucapan Kagome. Hanya Inuyasha seorang saja yang bangkit berdiri dengan wajah kesal, tapi kali ini, dia tidak mengatakan apa-apa.
"Baiklah, Rin akan beristirahat sesuai perintah anda, Kagome-sama." Balas Rin yang ada dalam gendongan Sesshoumaru sambil tertawa.
Kagome dan yang lainnya kecuali Inuyasha tetap tersenyum, tapi tidak mengatakan apa-apa lagi. Bersamaan, mereka semua kemudian melangkah keluar dari kamar.
Saat pintu kamar shoji telah tertutup, Rin kembali menoleh wajahnya menatap Sesshoumaru. Seulas senyumnya yang lebar semakin lebar, begitu juga dengan binar kebahagiaan di wajah.
Diam membisu, Sesshoumaru kemudian berjalan mendekati jendela kamar yang terbuka. Duduk ke bawah dan menempatkan Rin di kakinya, dia kemudian kembali menatap wanita manusia itu. "Apa kau panas?"
Rin tertawa dan menggeleng kepala. Dia tahu, tujuan Sesshoumaru duduk di dekat jendela adalah supaya angin dari luar yang berhembus masuk dapat dirasakannya–untuk mengusir hawa panas yang dirasakannya. Sang penguasa tanah barat ini, walau selalu dingin dan tanpa ekspresi, sesungguhnya adalah seorang suami yang sangat perhatian.
Menutup mata, Rin kemudian menyandarkan punggungnya pada dada Sesshoumaru. Senyum di wajah semakin lebar saat dia merasakan sepasang tangan inuyoukai itu bergerak memeluk pingangnya, atau lebih tepatnya, memeluk perutnya.
Kebahagiaan.
Hanya kata itu yang dapat menggambarkan perasaan Rin sekarang. Kebahagiaan yang tiada batasnya. Lebih indah dari mimpi, kenyataan yang tidak pernah dia sangka ada.
Perlahan, tangan Rin bergerak menyentuh tangan Sesshoumaru yang ada di atas perutnya. Hangatnya perasaan yang mengisi seluruh relung hatinya, membuat dia seakan ingin menangis. Keajaibannya–keajaiban mereka yang tiada nilainya.
"Cinta. Rin mencintaimu. Sesshoumaru-sama juga mencintaimu. Tumbuhlah dengan baik. Tumbuhlah dengan sehat. Rin dan Sesshoumaru-sama akan selalu melindungimu..."
Ucapan yang lembut, diucapkan dengan penuh kasih sayang dan cinta.
Penuh dengan harapan dan doa. Menjanjikan perlindungan dan keamanan. Penyataan cinta yang tulus untuk selamanya.
Cinta.
Sesshoumaru mengeratkan pelukannya. Kata Rin itu tidak terasa salah di telinganya. Lalu, untuk pertama kali dia sadar. Dirinya selalu berpikir, di dunia ini, dia hanya akan mencintai Rin seorang saja. Tapi, tidak disangka, ternyata di dunia ini, akan ada lagi satu keberadaan yang dicintainya–anak mereka.
....xOxOx....
__ADS_1