Till The End Of Time [ Inuyasha Fanfiction ]

Till The End Of Time [ Inuyasha Fanfiction ]
Chapter 128


__ADS_3

"Tidak!! Tidak!! Sesshoumaru-sama!!"


Suara teriakan ketakutan Rin membuat Kagome, Sango dan Inukimi terkejut. Bergerak cepat, mereka bertiga ingin menenangkan wanita manusia tersebut. Namun, angin kuat tiba-tiba berhembus dan menghemaskan mereka ke belakang.


"Rin-chan!!"


"Rin kecil!!"


Kagome, Sango dan Inukimi berteriak memanggil nama Rin yang masih terus saja berteriak ketakutan dan menangis memanggil nama Sesshoumaru. Melihat mata coklat yang terbuka namun tidak fokus, ketakutan juga dengan segera memenuhi hati ketiga wanita tersebut, angin ini-apakah Rin menggunakan kekuatan meido seki dan lepas kendali?


Inukimi menguatkan pijakannya dan melesat maju ke arah Rin. Dia memang tidak tahu apa yang sesungguhnya terjadi, tapi melihat wanita manusia yang menangis dan berteriak ketakutan memanggil nama Sesshoumaru, mantan penguasa tanah barat tahu—telah terjadi sesuatu pada putranya.


Rin adalah pasangan sah Sesshoumaru, wanita yang memiliki tanda dari inuyoukai penguasa tanah barat. Tanda adalah sesuatu yang sakral di dunia youkai, karena itu mereka terhubung. Wanita manusia di depannya seperti ini pasti karena putranya berada dalam bahaya atau mungkin saja—mati.


Menguatkan hatinya, Inukimi membuang jauh-jauh pikirannya itu. Sekarang bukan saatnya berpikir pesimis seperti itu. Yang harus dilakukannya sekarang adalah menenangkan Rin.


Namun, sekali lagi, saat Inukimi ingin mendekati Rin, angin kuat kembali berhembus menghempas mantan penguasa tanah barat kembali ke belakang.


Saat mendarat, Inukimi mengangkat kepalanya menatap Rin, dan sedetik kemudian, baik dirinya, Kagome maupun Sango sadar—angin yang berhembus dan menghempas badan mereka ke belakang bukanlah perbuatan Rin ataupun meido seki.


"A-apa ini..." gumam Sango terkejut tidak memercayai apa yang dirasakannya.


"R-rin-chan..." panggil Kagome pelan dan menelan ludah tidak tahu harus berbuat apa dengan yang ada di depannya sekarang.


Inukimi tidak bergerak atau mengucapkan sepatah katapun, kedua mata emasnya terbelalak menatap Rin yang masih manangis dan berteriak histeris.


Ada aura youki yang sangat kuat terasa, saking kuatnya, baik Kagome, Sango maupun Inukimi tidak dapat mempercayainya. Aura itu terasa dan berpusat pada Rin. Bagaikan kekai, aura youki itu membungkus badan mungil wanita manusia tersebut seakan melindunginya dan tidak membiarkan siapapun mendekat.


"T-tidak mungkin..." gumam Inukimi pelan tidak percaya. Dia yang terus mengamati aura youki yang membungkus Rin kemudian tersadar, apa wujud asli dari aura tersebut.


Biasanya, saat berada dalam perut, saat menginjak usia tiga bulan, aura youki dari youkai maupun hanyou sudah bisa terasa, dan semakin kuat aura tersebut, semakin kuat juga anak dalam perut itu kelak.


Selama ini, anak dalam perut Rin tidak pernah terasa keberadaannya. Tidak peduli apapun yang Kagome, Inukimi dan Jinenji lakukan, anak itu seakan tidak ada—hanya perut besar dan gerakan singkat saat Rin dan Sesshoumaru menyentuhnya saja yang menjadi bukti keberadaan sang anak.


Karena itu, Inukimi berasumsi, anak itu dilindungi oleh sebuah kekai. Kekai yang mungkin tidak sengaja diciptakan Rin dengan kekuatan meido seki demi melindungi anak dalam perutnya.


Lalu, hari ini, kekai itu—hancur. Aura yang youki yang tidak mengijinkan siapapun mendekati Rin, mengelilingi bagaikan kekai pada wanita manusia itu—itu adalah aura youki dari anaknya; Shura.


Rin berada dalam keadaan ini mungkin karena telah terjadi sesuatu pada Sesshoumaru, dan Shura yang berada dalam rahim Rin juga menyadarinya. Oleh sebab itu, insting Shura berkerja; melindungi ibunya sendiri.


Hanya saja, Inukimi tidak mempercayai aura youki Shura ini, jika tidak melihatnya secara langsung? Dulu, saat usia kehamilan Sesshoumaru menginjak tiga bulan, dia telah bisa merasakan aura youki anaknya yang luar biasa, karena itulah dirinya dan Inu No Taisho tahu, betapa putra mereka akan menjadi kuat—pewaris paling sempurna dari tanah barat yang besar.


Namun, untuk aura Shura yabg dirasakannya sekarang, anak dari persatuan seorang youkai dan manusia, seorang anak inuhanyou—bagaimana aura youkinya bisa seperti ini? Auranya bahkan berkali lipat lebih kuat dari aura Sesshoumaru saat berada dalam rahim—seberapa kuat anak itu kelaknya? Anak apa yang ada dalam rahim Rin sesungguhnya?


Tapi, Inukimi segera sadar dan menguasai dirinya sendiri. Dirinya tidak boleh larut dalam pemikirannya sendiri, sebab prioritas utama sekarang adalah menenangkan Rin.


"Miko aneh," panggil Inukimi menatap Kagome. "Gunakan kekuatan penyucianmu untuk menyucikan aura youki di sekitar Rin."


"Eh??" seru Kagome kebingungan. Tapi, dengan segera juga dia mentaati perintah Inukimi. Apa yang terjadi pada Rin, dia tidak tahu, tapi dia yakin mantan penguasa tanah barat tahu.


Meminta Kagome menyucikan aura youki Shura mungkin beresiko, tapi, Inukimi tahu, kekuatan miko itu tidak akan dapat memusnahkan aura tersebut. Kekuatan penyucian itu mungkin hanya cukup menahannya sebentar—dan dia berharap itu sudah cukup memberikan waktu padanya untuk menenangkan Rin.


Menggerakan tangannya, Kagome kemudian menggunakan kekuatan penyuciannya pada aura youki yang mengelilingi Rin. Cahaya hangat berwarna merah muda melesat keluar dengan cepat dari tangan miko masa depan itu ke arah kisaki tanah barat yang masih terjebak dalam ketakutannya.


Inukimi segera bersiap sedia. Saat kekuatan penyucian Kagome berkerja, dia harus meloncat menangkap atau memeluk dan menyadarkan Rin.


Namun, sesuatu yang diluar dugaan terjadi. Saat kekuatan penyucian Kagome menyentuh aura youki yang mengelilingi Rin, kekuatan penyucian miko masa depan tersebut menghilang tertelan tidak berbekas.


"A-apa ini??" Kagome menatap horor tidak mempercayai apa yang terjadi.


Sango menutup mulutnya dengan tangan. Betapa kuatnya kekuatan penyucian Kagome, dia merupakan salah satu orang yang paling tahu. Karena itu, aura youki di depan yang sanggup melenyapkannya seperti itu—bagaimana bisa?


Belum sadar dari perasaan terkejut mereka, sedetik kemudian, menyadari kekuatan asing yang menyerang, aura youki Shura bergerak liar. Aura itu menjadi padat, berwarna biru dan melesat cepat bagaikan senjata—menyerang Kagome, Sango dan Inukimi bersamaan.


Meloncat menghindar, Kagome, Sango dan Inukimi tidak dapat berbuat apa saat jarak mereka dengan Rin semakin menjauh. Bagaikan menggila, aura youki Shura yang kuat mulai mencabik-cabik dan menghancurkan sekelilingnya, kecuali tempat di mana Rin berada dalam radius satu meter.


"Inukimi-san," panggil Sango melihat kengerian di depan. "Apa ini?"


"Kekuatan youki siapa itu, Inukimi-sama?" tanya Kagome takut. Dia tidak pernah melihat sesuatu yang seperti ini sebelumnya. "Apakah ini perbuatan meido seki?"


"Tidak," jawab Inukimi. Kedua mata emasnya menatap lurus Rin dan aura youki Shura yang terus mengamuk. Berpikir keras, dia berusaha keras mencari cara menyelesaikan apa yang terjadi. "Itu aura youki Shura."


"Apa??"


Mata Kagome dan Sango terbelalak tidak percaya mendengar jawaban Inikimi. Shura? Shura yang masih berada dalam rahim Rin??


"Bagaimana bisa?" tanya Kagome lagi. Ketakutan memenuhi hatinya, dia tidak pernah mendengar cerita anak hanyou yang masih berada dalam rahim ibunya bisa melakukan hal seperti ini.

__ADS_1


"Aku juga tidak tahu. Tapi, ini memang kekuatan dan youki Shura." jawab Inukimi. Dia tidak memiliki penjelasan untuk pertanyaan Kagome, sebab ini adalah pertama kalinya dia melihat ketidakmungkinan seperti ini. Siapa yang dapat percaya bahwa anak yang bahkan belum lahir saja sudah memiliki kekuatan seperti ini?


Kebingungan dan ketakutan memenuhi hati Kagome, Sango dan Inukimi yang tidak memiliki solusi untuk mengendalikan keadaan. Lalu, dalam kekacauan yang ada, suara tangisan Rin yang berteriak memanggil nama Sesshoumaru tiba-tiba terhenti.


Menatap Rin, harapan muncul dalam hati Kagome, Sango dan Inukimi begitu melihat mata coklat yang sejak tadi tidak fokus mulai kembali fokus. Mulut kecil kisaki tanah barat kemudian berguman pelan memanggil nama putra dalam kandungannya. "Shura.. Shura.. Shura.."


Hanya saja, harapan dalam hati Kagome, Sango dan Inukimi tidak bertahan lama, karena Rin kembali berteriak keras. Bedanya, kali ini adalah teriakan kesakitan.


"Ahhhh!!! Aaahhhhhhh!!!!!"


Ketakutan luar biasa kembali memenuhi hati Kagome, Sango dan Inukimi. Perut besar Rin bergerak dengan cepat, naik turun dengan tidak wajar, seakan anak dalam perut ingin merobek keluar dari rahim sang ibu.


"Aaahhhhh!!! Ahhhhh!!"


Lalu, dalam suara teriakan kesakitan Rin dan juga aura youki Shura yang terus mengamuk, indera penciuman Inukimi yang tajam mencium bau darah—darah kelahiran.


Inukimi tidak bisa lagi menyembunyikan ketakutan dalam hatinya. Ekspresi wajahnya yang biasa tenang atau penuh kemalasan dan canda, kini telah berubah menjadi pucat pasi. Berteriak keras, dia kembali berusaha berlari menerjang aura youki Shura.


"Rin tenanglah!! Shura akan segera lahir!! Putramu akan lahir!!!"


....xOxOx....


Rinku tercinta


Rinku tersayang


Tenanglah


Suara yang terus memanggil nama dan berusaha menenangkannya terus tergiang dalam kepala Rin, walau wanita manusia itu tidak menyadarinya. Rasa sakit yang luar biasa dirasakan jantungnya, seakan ada sesuatu yang menembusnya. Namun, dia tahu, rasa sakit ini bukanlah rasa sakitnya, melainkan—Sesshoumaru.


Bagaimana Rin bisa merasakan dan mengetahuinya, dia tidak tahu. Rasa sakit yang nyata ini membuat dirinya ketakutan luar biasa-apa yang terjadi pada Sesshoumaru?


Rin.


Suara dan bayangan inuyoukai sang penguasa tanah barat melintas dalam pikiran Rin. Suaranya yang datar dengan wajah yang tanpa ekspresi, namun, mata emasnya bersinar lembut. Bagaimana jika dia kehilangannya untuk selamanya??—Rin tidak bisa menerimanya.


"Tidak!!! Tidak!! Sesshoumaru-sama!!! Sesshoumaru-sama!!"


Rin hanya dapat terus berteriak mengeluarkan segala ketakutannya. Dia tidak bisa melihat apapun lagi, dunia menjadi gelap. Meski matanya terbuka, yang dia lihat hanyalah kegelapan—kegelapan tidak berujung.


Sesshoumaru adalah segalanya bagi Rin. Jika dia kehilangan inuyoukai itu, maka—dirinya tidak akan dapat hidup lagi. Jangan menyuruhnya hidup dalam dunia tanpa Sesshoumaru. Jangan memintanya bertahan jika inuyoukai itu tidak berada di sampingnya lagi—Rin tidak bisa melakukannya.


"Tidak!! Tidak!!"


Rinku sayang.


Anakku.


Ingatlah, Shura.


Nama Shura yang tergiang oleh suara aneh dalam pikiran, seketika membuat Rin berhenti berteriak.


Shura.


Shura.


Shura—Shura, putra mereka yang berharga. Harta tidak ternilai dalam keberadaan Rin—kebahagiaannya yang menjelma menjadi kenyataan.


Sesshoumaru ini akan pulang kepadamu dan Shura. karena itu—tunggulah.


Ucapan Sesshoumaru sebelum menuju medan perang kembali tergiang dalam pikiran, membuat Rin tersadar dari ketakutannya. Sesshoumaru tidak pernah berbohong selama ini, inuyoukai itu selalu menepati apapun yang dikatakannya, karena itu—Sesshoumaru pasti akan kembali kepadanya dan Shura.


Teriakan Rin terhenti, perlahan kegelapan di depan matanya menghilang, dia bisa melihat cahaya lagi.


"Shura.." gumam Rin pelan.


Ya. Benar, Rin—Shura.


Putra kalian yang berharga—anak kalian tercinta.


Suara aneh itu kembali terdengar dalam pikiran Rin. Pelan, namun terdengar jelas berusaha menenangkannya.


"Shura.."


Mengumamkan terus nama Shura. Rin berusaha mencari kembali kesadarannya. Dalam jurang keputus asaannya sekarang, nama itulah satu-satunya benang kewarasan yang tersisa. Untuk anak mereka, untuk Shura yang berharga—dia tidak boleh seperti ini.


"Shura..."

__ADS_1


Namun, saat kesadaran Rin telah kembali. Rasa sakit luar biasa kembali di rasakan. Hanya saja, kali ini bukan di jantungnya, melainkan perutnya.


"Ahhhh!!! Aaahhhhhhh!!!!!"


Bersamaan demgan rasa sakit luar biasa tidak tertahankan yang menyerangnya, mata Rin bisa melihat jelas Shura yang dalam perutnya bergerak kuat. Naik-turun dengan cepat, anak dalam perutnya bergerak seakan ingin keluar dari rahimnya.


"Ahhhh!!! Aaahhhhhhh!!!!!"


Sakit, sakit dan—sakit. Hanya itu satu-satunya yang bisa Rin rasakan sekarang. Pandangannya mulai menjadi gelap, dia tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi lagi.


Kakinya tiba-tiba terasa sangat hangat, seakan ada cairan yang mengalir keluar dari dalam dirinya. Tapi, dia tidak mempedulikannya, sebab kesakitan dalam perutnya tidak tertahankan.


Lalu, dalam kesakitan yang ada, telinganya bisa mendengar suara Inukimi yang berteriak keras. "Rin tenanglah!! Shura akan segera lahir!!! Putramu akan lahir!!!"


Mengumpulkan segenap tenaga dan kesadaran yang ada, Rin menoleh kepalanya menatap Inukimi, Kagome dan Sango yang berlari ke arahnya. Mata coklatnya untuk pertama kali menyadari apa yang terjadi. Aura youki mengerikan yang mengamuk dan menghancurkan sekeliling.


Tidak peduli apapun yang dilakukan Inukimi, Kagome dan juga Sango, ketiga wanita itu tidak dapat mendekati Rin sedikitpun. Aura youki Shura yang mengamuk melindungi Ibunya tidak mengijinkan mereka mendekat.


"Rin!!"


"Rin-chan!!"


Suara teriakan kepanikan Kagome, Sango serta Inukimi yang sambung menyambung memanggil namanya—Rin tahu, dalam kekacauan ini, Shura akan lahir.


Cairan hangat yang mengalir keluar dari tubuhnya adalah darah—darah kelahiran. Tanda dari anak dalam perutnya akan keluar.


Mengigit bibir bawahnya kuat dan tidak mempedulikan air mata yang terus mengalir turun, Rin berusaha keras menahan kesakitan yang terus melandanya. Menggerakkan tangannya yang bergetar hebat, dia memeluk perutnya yang terus bergerak naik-turun dengan hebat. "S-shura.. Tenang.. Tenanglah, nak..."


Namun, Shura yang ada dalam perut Rin tidak memperlihatkan tanda akan tenang sedikitpun, malahan dia bergerak semakin hebat.


"A-apakah kau menghawatirkan a-ayahandamu, Shura?" tanya Rin lagi dengan suaranya yang bergetar. Air mata tidak berhenti mengalir turun di wajahnya yang pucat pasi tanpa darah. "K-kau ingin keluar m-menyelamatkannya?"


Rin tahu, sama sepertinya, Shura pasti menyadari telah terjadi sesuatu pada Sesshoumaru, karena itulah dia menjadi seperti ini. Putranya ingin keluar dari rahimnya untuk menyelamatkan ayahnya.


"T-tenanglah, Ayahandamu t-tidak apa-apa.." Rin terus berusaha keras menenangkan Shura dalam kesakitan yang bagaikan meremukkan seluruh badannya. Pandangannya menjadi kabur, kesadarannya juga mulai menghilang. Tapi, dia terus bertahan. Kisaki tanah barat tahu, dia tidak boleh kehilangan kesadaran sekarang, sebab jika dia kehilangan kesadaran, Shura bisa saja tidak terselamatkan.


Dalam kebingungan, ketakutan dan kepanikannya, Rin menatap sekeliling. Pandangan matanya kemudian jatuh pada pedang kecil pemberian Kiri dan Kira pada hari ulang tahunnya.


Sesuatu melintas dalam pikirannya. Menggerakkan tangan dan badannya yang bergetar hebat tanpa ragu, Rin mengambil pedang tersebut. Tidak membuang waktu sedikitpun lagi, membuka kimono putih yang dikenakannya, wanita manusia itu mengarahkan ujung pedang tersebut pada perutnya.


"Rin!!"


"Rin!! Apa yang kau lakukan??"


Teriakan Kagome, Sango dan Inukimi kembali terdengar melihat apa yang dilakukan Rin. Ketakutan mereka hanya semakin besar melihat ujung pedang yang terarah tepat di atas perut besar wanita manusia tersebut.


Rin tidak mempedulikan teriakan mereka. Berusaha menghentikan gemetaran ditangannya, dia menarik napas berkali-kali sambil menahan rasa sakit tidak terjelaskan. Menfokuskan pandangan dan pikirannya, dia berusaha menenangkan dirinya sendiri.


Bisa!! Dia pasti bisa!! Beberapa tahun yang lalu, dia membantu Inukimi dalam persalinan Shiro, karena itu, Rin tahu di mana diri harus menyayat perutnya, dia tahu langkah demi langkah untuk melahirkan putranya ke dunia ini.


Untuk Shura, untuk anaknya—untuk putra mereka yang berharga. Dia bisa melakukan ini semua tidak peduli bagaimana sakitnya—Rin tahu dia bisa melakukannya.


Ya! Kau bisa Rinku tercinta.


Suara aneh itu kembali terdengar, dan pandangan mata Rin menjadi fokus, getaran di tangannya berhenti. Tanpa ragu, wanita manusia itu menurunkan mata pedang di tangan untuk merobek perutnya sendiri.


Rin mengigit bibir bawahnya keras hingga berdarah menahan rasa sakit yang ada, air mata tidak berhenti mengalir menuruni wajahnya, begitu juga dengan keringat yang telah membasahi sekujur tubuhnya. Namun, gerakkan tangannya tidak berhenti sedikitpun. Meski darah mengalir tanpa henti, dia tetap fokus dengan apa yang dilakukannya.


Baik Kagome, Sango dan Inukimi tidak percaya melihat apa yang dilakukan Rin. Mereka terdiam, tidak tahu harus berkata apa dengan keberanian dan juga kenekatan dari wanita manusia tersebut.


Selangkah demi selangkah, Rin melakukan apa yang dilakukan Inukimi dulu. Sambil menjaga kesadaran dan mengabaikan rasa sakit, dia hanya berpikir untuk melahirkan Shura.


Ibu.


Dia adalah ibu sekarang, dan seorang ibu harus kuat. Rin tidak peduli rasa sakitnya, tidak peduli juga betapa menderita dan menyakitkan prosesnya. Meski nyawanya sendiri adalah taruhannya—untuk anaknya dia rela menjalaninya.


Menggerakkan tangan kanannya ke dalam perutnya yang terbuka, Rin untuk pertama kalinya kemudian merasakan—kehangatan dari tubuh anak dalam perutnya.


Bagaimana perasaan seorang ibu saat pertama kali menyentuh anaknya? Rin saat masih tinggal di desa manusia sering membantu persalinan penduduk desa, begitu juga dalam persalinan Sango dan juga Kagome. Sampai hari ini, dia ingat ekspresi yang ditunjukkan seorang mereka saat menyetuh anaknya yang lahir; senyum dan air mata kebahagiaan mereka.


Bagaimana perasaan itu, Rin akhirnya mengerti hari ini. Meski proses persalinannya berbeda dengan semua yang ada, kebahagiaan itu sama—kebahagiaan saat kau berhasil menyentuh anakmu untuk pertama kalinya adalah kebahagiaan yang tidak akan pernah terjelaskan.


Kata bahagia saja mungkin tidak akan pernah cukup untuk menjelaskannya. Tidak akan pernah ada kata yang tepat untuk menjelaskan perasaan saat kau berhasil menyentuh sebuah keajaiban yang menjadi kenyataan.


Tangis Rin yang mati-matian ditahannya kembali pecah. Air mata tidak terhentikan mengalir turun. Rasa sakit yang tidak ada artinya lagi, ada kekuatan baru yang muncul dalam dirinya. Tersenyum, Rin kemudian tertawa. "Rin mencintaimu, Shura. Sangat mencintaimu, sungguh-sungguh teramat sangat mencintaimu," gumamnya pelan. "Karena itu, lahir dan hiduplah—bahagialah.."


Menutup mata, Rin kemudian menarik keluar Shura dari dalam perutnya. Tidak peduli darah yang ada, tidak peduli kesakitan atau apapun lagi, kisaki tanah barat mendekap erat sang pewaris tanah barat yang telah lahir di dunia ini.

__ADS_1


"Ibunda akan selalu mencintaimu, Shura."


....xOxOx....


__ADS_2