![Till The End Of Time [ Inuyasha Fanfiction ]](https://asset.asean.biz.id/till-the-end-of-time---inuyasha-fanfiction--.webp)
"Jadi, aku datang dengan membawa sake terbaik dari utara tanpa beristirahat." ujar seorang youkai serigala pelan. Dia menatap Kagome yang berada di depannya penuh senyum.
"Kau telah berusaha keras, Koga." balas Kagome sambil tersenyum juga.
"Tidak! Ini kan juga demi hanami kita berdua!" tawa Koga. Matanya menatap lekat Kagome.
"Aku juga ada di sini serigala kurus!" teriak Inuyasha penuh kemarahan, dia mengerakkan tangan kanannya menyerang Koga. "Jangan menganggu istriku!!"
"Apaan kau anjing kampung!!" bergerak menghindar, Koga berteriak marah. Namun, Inuyasha tidak peduli, dia terus mengejar dan menyerang youkai serigala tersebut.
"Aku jadi teringat masa lalu," tawa Miroku melihat Inuyasha dan Koga dari samping Kagome. "Mereka berdua tidak pernah berubah, ya?"
"Iya, kurasa sampai tua pun mereka akan tetap sama." balas Sango yang juga berada di samping Kagome sambil tersenyum kecil.
Kagome hanya dapat tertawa mendengar pembicaraan Miroku dan Sango. Kedua matanya kemudian menatap panggung yang berada tidak jauh darinya, dia bisa melihat sosok Rin tertawa lebar kepada beberapa youkai yang sedang mengecat panggung itu.
Mereka semua kini berada di taman sakura istana tanah selatan. Sesuai dengan ucapan Rin kemarin yang ingin membantu persiapan hanami, Kagome dan yang lainnya juga memutuskan untuk membantu.
Hanami yang diadakan selatan kali ini cukup membuat Kagome terkejut awalnya, sebab hanami ini ternyata akan di adakan tiga hari tiga malam dengan mengundang para pemimpin klan youkai di bawah selatan. Makanan, sake dan hiburan mutu terbaik dipersiapkan. Akihiko sungguh tidak tangung-tangung dalam mengadakan pesta hanami ini.
Rin yang berada di atas panggung dapat melihat jelas persiapan hanami. Dia tidak dapat menyembunyikan perasaan gembira dalam hatinya, sebab meski sibuk, mata manusianya juga bisa melihat ekspresi gembira para youkai selatan–ya! Siapa yang tidak akan gembira dengan hanami.
Rin datang ke taman ini dengan niat membantu, tetapi kenyataannya, tidak ada yang bisa dia lakukan. Ujung-ujungnya, dia hanya bisa mengamati dan memberikan beberapa pemasukan menghiasi panggung jika diperlukan.
Tsubasa selalu mendampinginya, begitu juga dengan Kira dan Kiri. Ketiga youkai itu tidak meninggalkannya sedetik pun. Bahkan sesungguhnya saat gadis manusia itu tidur, mereka bertiga berada di atas atap kamarnya. Perintah dari penguasa mereka untuk mengawasi musuh adalah mutlak bagi mereka.
"Kau suka dengan semua persiapan hanami, Rin?" suara tidak asing seorang laki-laki tiba-tiba terdengar dan membuat Rin membalikkan badan ke belakang.
Tidak jauh darinya, mata Rin menemukan sosok Akihiko yang berjalan mendekati gadis manusia itu dengan wajah tersenyum.
"Akihiko-sama, selamat pagi!" sapa Rin sambil tertawa ceria.
"Selamat pagi juga, Rin." Balas Akihiko tersenyum. Dia terus melangkah kakinya dan kemudian berhenti tepat di depan gadis manusia itu.
"Akihiko-sama." Tsubasa memberikan salam penuh hormat dengan kepala tertunduk.
Kira dan Kiri tidak mengatakan apa-apa, tetapi mata emas mereka menatap tajam penuh kewaspadaan pada penguasa tanah selatan tersebut.
Akihiko tidak mempedulikan Tsubasa, Kira dan Kiri, bahkan sesungguhnya dalam pandangannya sekarang hanya ada Rin seorang. Senyum indah yang barusan ditunjukkan telah membuat hatinya berdetak bahagia.
"Rin suka dengan semua persiapan hanami ini, Akihiko-sama." tawa Rin lagi menjawab pertanyaan yang tadi ditanyakan Akihiko. "Hanami kali ini akan menjadi hanami tidak terlupakan dalam hidup Rin."
"Benarkah? Baguslah kalau begitu. Tahun depan dan tahun-tahun seterusnya, aku akan selalu mengadakan hanami seperti ini untukmu." Tertawa gembira, mata biru langit Akihiko menatap lembut Rin.
Rin kembali tertawa. "Bukan untuk Rin seorang saja, Akihiko-sama. Anda harus mengadakannya lagi untuk seluruh youkai di selatan."
Akihiko hanya tersenyum mendengar ucapan Rin. Pandangan lembutnya hanya semakin lembut, dia serius saat mengatakan akan mengadakan hanami seperti ini di tahun-tahun seterusnya untuk gadis manusia di depannya, sebab dia ingin selalu melihat senyum dan tawa ini.
Tidak dapat dihentikannya, Akihiko sadar, makin lama dirinya semakin tertarik pada Rin. Matanya tanpa sadar akan selalu mengikuti gadis manusia ini. Bagaikan matahari yang menyilaukan–dia benar-benar ingin memilikinya seutuhnya.
Tsubasa yang ada di samping Rin hanya dapat mengepal erat jari-jemari tanpa mengubah ekspresi di wajahnya. Ekspresi wajah Akihiko membuat dia merasa sangat sakit sekaligus marah. Dia tidak mengerti, kenapa daiyoukai berhati dingin ini bisa bersikap seperti ini pada seorang gadis manusia? Dan kenapa bukan dirinya?–dia sudah ratusan tahun menemaninya.
"Oh iya," ujar Akihiko tiba-tiba, senyum di wajahnya menghilang digantikan ekspresi khawatir. "Bagaimana dengan luka di lenganmu?"
Rin segera menggeleng kepala dan tertawa. "Tidak apa-apa, tangan Rin sudah sembuh berkat obat dari Kagome-sama."
"Syukurlah kalau begitu," menghela napas, Akihiko hanya dapat menatap Rin tanpa dapat menyembunyikan ekspresi bersalah di wajah tampannya. "Aku tidak bermaksud melukaimu. Maafkan aku, Rin.."
Apa yang diucapkan Akihiko benar-benar membuat Tsubasa terkejut, dia segera menundukkan kepala ke bawah untuk menyembunyikan ekspresi wajahnya.
Maaf? Akihiko, sang penguasa tanah selatan meminta maaf?–youkai serigala itu adalah daiyoukai kejam yang selalu bersikap seenaknya. Tidak ada yang penting baginya, membunuh atau menghancurkan manusia mau youkai, anak kecil maupun orang tua adalah hal biasa baginya. Namun sekarang dia meminta maaf pada seorang gadis manusia karena luka memar?
Tsubasa hanya dapat mati-matian menyembunyikan perasaannya. Namun, dia tidak bisa menepis perasaan yang makin lama makin membesar–iri. Pertanyaan yang sama kembali memenuhi hatinya, kenapa harus gadis manusia itu? Kenapa bukan dia? Kenapa!?
Rin yang tidak menyadari apa yang ada dalam pikiran Tsubasa segera menyela permintaan maaf Akihiko. "Tidak apa-apa, Akihiko-sama. Tidak perlu meminta maaf. Rin baik-baik saja."
Akihiko mengangguk kepala dan tersenyum. "Baiklah, Rin. Aku akan menembus kesalahanku. Katakan apapun yang kau inginkan, aku akan mengabulkannya."
Mata Rin terbelalak mendengar ucapan Akihiko. Maju selangkah dia menatap lekat wajah penguasa tanah selatan iru. "Benarkah?? Kata anda barusan tidak bohong, kan, Akihiko-sama?"
Akihiko mengangguk kepala, senyum di wajahnya semakin lebar melihat wajah Rin yang menatapnya lekat.
"Kalau begitu tetap sama, Rin menginginkan Akihiko-sama tidak berperang dengan barat." ujar Rin kemudian dengan wajah serius.
Akihiko tidak dapat menyembunyikan tawanya lagi. Mengangkat kepala ke atas, dia tertawa terbahak-bahak. Dari semua yang ada di dunia, gadis ini hanya mengharapkan kedamaian–Rin benar-benar tidak pernah berubah.
Mengangkat tangan kanannya, Akihiko kemudian membelai kepala Rin pelan. Kedua mata biru langitnya membalas tatapan gadis manusia itu dengan sangat lembut. "Baiklah, Akihiko ini menyanggupi keinginanmu, Rin."
Rin kembali tersenyum gembira mendengar ucapan Akihiko, dan tidak perlu waktu lama senyum itu segera berubah menjadi sebuah tawa kecil bagaikan dentingan lonceng.
Dengan mata tertutup, pipi yang merona kemerahan dan kebahagiaan yang terpancar–sekali lagi, Rin berhasil membuat Akihiko tertegun dan merebut seluruh pandangannya.
Namun, Kira yang ada di belakang Rin tiba-tiba maju dan menepis tangan Akihiko. Dia menatap tajam tidak suka pada penguasa tanah selatan itu. "Jaga sikap anda, Akihiko dari selatan."
Kiri tidak mengatakan apa-apa, tapi dia menarik Rin dan menyembunyikan gadis itu di belakang punggungnya. Kedua mata emasnya juga ikut menatap tajam Akihiko.
Akihiko tidak menunjukkan reaksi apapun dengan sikap Kira dan Kiri. Namun sejenak kemudian di kembali tertawa. Menatap Rin dia tersenyum. "Sampai nanti, Rin."
"Eh? Iya, sampai nanti Akihiko-sama."
Rin sendiri sebenarnya sangat kebingungan dengan sikap Kira, Kira dan juga Akihiko. Dia merasa ada sesuatu yang aneh, tapi dia tidak tahu di mana letak keanehan itu
__ADS_1
Tetap dengan senyum di wajah, Akihiko kemudian membalikkan badan. Berjalan selangkah senyum di wajahnya menghilang. "Tsubasa, ada yang ingin kubicarakan padamu."
....xOxOx....
Kagome, Miroku dan Sango menatap apa yang terjadi tidak jauh dari mereka dalam diam. Mereka telah mengamati dari tadi interaksi antara Rin dan Akihiko. Lalu, saat sosok penguasa tanah selatan itu meninggalkan taman bersama Tsubasa, miko masa depan itu menatap taijiya sahabatnya. "Saingan kakak ternyata luar biasa, ya?"
"Iya, kau benar, Kagome." Sango mengangguk kepala setuju. Dari pembicaraan mereka barusan, ekspresi dan gerak-gerik Akihiko, dia mengakui bahwa penguasa tanah selatan itu adalah calon suami yang cukup ideal.
Bersedia mengadakan pesta hanami seperti ini setiap tahun, meminta maaf di depan bawahan tanpa memperhatikan statusnya, lalu bersedia mengabulkan apapun keinginan gadis yang disukainya–tidak banyak youkai yang bisa melakukannya secara terang-terangan seperti itu.
"Sebagai laki-laki, aku cukup setuju dengan sikap kastria Akihiko-san." Sela Miroku sambil tersenyum. "Dia sepertiku, pria yang bisa membahagiakan istrinya."
"Jangan banyak bicara." sambung Sango sambil mencubit pipi Miroku dengan kuat. "Jangan samakan mata keranjangmu dengannya."
"Dalam hatiku hanya ada kamu, Sango," bela Miroku sambil tertawa menahan rasa sakit di pipi. "Tidak ada yang lain, kau harus tahu itu."
"Kalian sedang membahas apa?" sela Inuyasha tiba-tiba dari belakang Kagome, Miroku dan Sango.
Menoleh kepala ke belakang Kagome, Miroku dan Sango menemukan Inuyasha dan Koga yang tidak tahu sejak kapam telah berdiri menatap mereka dengan ekspresi wajah kebingungan.
"Kami membahas kualitas Akihiko-san sebagai pasangan hidup, Inuyasha, Koga." Jawab Miroku sambil tersenyum. Tangan kanannya mengelus-elus pipinya yang memerah karena cubitan Sango.
"Tentu saja," tawa Koga gembira. Kebanggaan memenuhi ekspresi wajahnya. "Kami serigala lebih hebat dari pada anjing! Meskipun dia Sesshoumaru, dia tetap akan kalah pada Akihiko-sama!!"
"Apa katamu, serigala kurus!!" hardik Inuyasha penuh kemarahan. "Kami anjing yang lebih hebat dari kalian serigala!!"
"Lihat saja, nanti!!" balas Koga tidak mau kalah, matanya menatap berapi-api mata emas Inuyasha. "Pada akhirnya, hime dari barat akan memilih Akihiko-sama daripada Sesshoumaru!!"
"Jangan seenaknya!! Rin sejak dulu itu milik Sesshoumaru!! Kenapa kalian serigala suka sekali merebut sesuatu milik kami!!?"
Kagome, Miroku dan Sango yang melihat pertengkaran Inuyasha dan Koga cukup terkejut untuk pertama kalinya. Kedua mata mereka terbelalak, walau sedetik kemudian tawa dan senyum menghiasi wajah mereka
"Kami–ternyata Inuyasha sudah mengakui kakak sebagai keluarga." ujar Kagome tertawa geli.
"Dia juga ternyata ada di pihak Sesshoumaru. Pantas saja dia selalu berwajah ketus selama di istana tanah selatan ini." tambah Miroku tidak mau kalah.
"Si berengsek itu bukan keluargaku!!" hardik Inuyasha tiba-tiba dan mengabaikan Koga. "Dan juga, aku tidak berada di pihaknya!!"
"Iya-iya," balas Kagome cuek, tapi senyum geli di wajahnya tidak tertahankan. "Kau tidak memihak kakak seayahmu itu, Inuyasha."
....xOxOx....
"Kira-sama, Kiri-sama, apakah anda berdua tahu di mana Sesshoumaru-sama berada sekarang?" tanya Rin tiba-tiba sambil menatap kedua inuyoukai di depannya.
Rin, Kira dan Kiri telah kembali ke kamarnya dari taman sakura. Langit pagi juga telah berganti menjadi langit sore. Namun, sampai sekarang, Sesshoumaru sama sekali tidak muncul di depan gadis manusia itu.
"Sesshoumaru-sama berada di dalam hutan di luar istana tanah selatan, Rin-sama." jawab Kira datar.
Tidak! Rin segera menepis perasaan dalam hatinya itu jauh-jauh. Dia tidak mau hidup dan melewati hari seperti itu lagi. Tidak apa-apa jika Sesshoumaru tidak mau memperlihatkan diri di depannya, sebab dia sendiri yang akan menemuinya–bukankah dia sudah memiliki keberanian dalam hatinya?
Membuka mata, Rin tersenyum menatap Kira dan Kiri. "Kira-sama, Kiri-sama, bisakah anda mengantarkan Rin menemui Sesshoumaru-sama?"
....xOxOx....
Tsubasa berdiri diam menatap langit sore dalam diam. Namun, dia tidak dapat menyembunyikan sedikitpun ekpresi sedih di wajahnya.
'Aku ingin kau memilih perhiasan dan kimono untuk Rin. Lalu, aku ingin kau membersihkan paviliun selatan istana. Paviliun itu akan menyambut tuannya setelah sekian lama.'
Perintah Akihiko tergiang dalam kepala Tsubasa. Sedetik kemudian, kesedihan di wajahnya berubah menjadi kamarahan.
Paviliun selatan istana tanah adalah tempat tinggal yang paling terhormat bagi wanita di tanah selatan. Tuan dari paviliun itu tidak lain adalah Kisaki tanah selatan; pasangan sah penguasa tanah selatan. Menyambut tuannya setelah sekian lama?–Akihiko benar-benar serius ingin memberikan posisi itu pada gadis manusia itu!
Kemarahan yang memenuhi hati Tsubasa semakin bertambah, bercampur dengan keirian dan juga kesedihan.
Sejak menjadi selir Akihiko, Tsubasa sudah merasa puas. Meski ada banyak wanita disekeliling penguasa tanah selatan itu, dia adalah selir kesayangan. Bisa berada di samping dan bersamanya, walau tidak bisa memiliki hatinya yang sedingin es, dia sudah merasa cukup.
Namun sekarang, tiba-tiba saja, seorang gadis manusia muncul dalam kehidupan mereka. Lalu, dengan mudahnya juga, gadis manusia itu merebut hati penguasa tanah selatan itu. Seulas senyum, sebuah tawa–gadis manusia itu mencairkan hati dingin itu.
Kenapa jadi seperti ini? Tsubasa tidak mengerti. Dia terus bertanya kenapa dan kenapa tanpa henti. Kenapa Akihiko tidak tersenyum lembut seperti itu padanya? Kenapa pandangan lembut mata biru langit itu bukan tertuju padanya? Kenapa?
Lalu sekarang, Akihiko memintanya memilih kimono, perhiasan dan permata untuk gadis itu? Meminta dia membersihkan paviliun dan menyambut Kisaki yang menjadi mimpinya?
Tsubasa hanya bisa tertawa menahan sakit dalam hatinya. Betapa kejamnya Akihiko, tidak pernah kah dia berpikir seberapa hancur hatinya saat ini? Wanita mana yang rela menyiap dan menyediahkan segala sesuatu yang paling diinginkannya kepada wanita yang telah merebut hati laki-laki yang dicintainya.
Tsubasa membencinya! Dia membenci cinta dalam hatinya sekarang! Membenci gadis manusia itu–membenci Akihiko yang dicintainya.
....xOxOx....
Sesshomaru membuka matanya. Dia menatap tidak percaya arah bau musim semi dalam musim semi yang ditangkap indra penciumannya. Tidak bergerak, dia hanya dapat duduk menunggu dan berharap dirinya tidak sedang bermimpi.
Perlahan, dari balik pohon-pohon besar yang ada, mata emas Sesshoumaru menangkap sosok gadis manusia yang setiap saat memenuhi pikirannya–Rin.
Rin bisa melihat Sesshoumaru yang menyadari kehadirannya. Ekpresi penguasa tanah barat itu tetap datar tanpa ekspresi, dan itu membuat dirinya sedikit takut. Bagaimana kalau inuyoukai itu marah dan mengusirnya lagi? Hanya ada mereka berdua sekarang, sebab dia meminta Kira dan Kiri menunggunya di kejauhan.
Menguatkan hatinya, Rin tetap memberanikan diri melangkah maju. Bagaimanapun juga, dia ingin memperbaiki hubungannya dengan Sesshoumaru yang tidak tahu sejak kapan semakin memburuk. Mungkin tidak akan kembali seperti dulu lagi, tapi setidaknya dia masih ingin tertawa dan tersenyum untuknya.
Semakin mendekat, Rin hanya semakin gugup. Mengigit bibir bawahnya, dia terus mengamati inuyoukai di depannya.
Langit senja kemerahan menyinari Sesshoumaru, membuat rambut perak panjangnya menyala kemerahan. Mata emas, hidung yang mancung, bibir tipis, rahang yang runcing dan kokoh, walau tanpa ekspresi–Rin menyadari pertama kali, ternyata Sesshoumaru sangatlah tampan.
Terus melangkah, jantung Rin berdetak kencang, dia bisa merasakan pipinya bersemu merah. Mengumpulkan segenap keberanian yang ada, dia membuka mulutnya. "Sesshouma–akh!!"
__ADS_1
Mungkin karena terlalu gugup dan tidak memperhatikan jalan, Rin tiba-tiba kehilangam keseimbangan badannya dan terjatuh ke bawah. Dia langsung menutup kedua matanya erat dan menyiapkan diri menerima rasa sakit.
Namun, tiba-tiba saja, Rin merasakan sepasang tangan menyusuri pinggangnya. Bau tidak asing serta kehangatan menyelimutinya, dan saat dia sadar, dia telah menemukan dirinya dalam pelukan Sesshoumaru.
Terbelalak tidak percaya, badan Rin tidak bergerak sama sekali karena terkejut. Perlahan, Sesshoumaru kemudian melepaskan pelukannya. Namun, dia tidak bergerak menjauh. Jarak antara mereka berdua tetap sangat dekat.
Sesshoumaru menatap wajah terkejut Rin lekat. Sesaat dia melihat gadis manusia itu jatuh, badannya bergerak dengan sendirinya. Saat sadar, dia sudah memeluknya.
"S-sesshoumaru-sama.." suara Rin meluncur keluar dari mulutnya terbata-bata. Ekspresi terkejut di wajahnya masih tidak berubah. Kedua mata coklat jernihnya masih menatap tidak percaya inuyoukai di depannya.
Suara Rin yang memanggil pelan namanya membuat Sesshoumaru terpana. Kedekatan mereka ini–sudah berapa lama mereka tidak seperti ini?
Perlahan, tangan kanan Sesshoumaru bergerak naik. Mata emasnya menatap lembut Rin. Dengan lembut dan hati-hati bagaikan menyentuh harta paling berharga, jari jemarinya menyusuri pipi gadis manusia itu. "Rin.."
Sentuhan hangat di pipinya, pandangan mata yang lembut, suara yang memanggil namanya. Membuat kebahagiaan memenuhi hati Rin. Berapa lama sudah dia tidak merasakan itu semua?
Mengangkat kedua tangan menangkap tangan Sesshoumaru yang menyentuh wajahnya, tanpa sadar, air matanya mengalir turun di pipi Rin. Namun, seulas senyum paling indah merekah di wajahnya. "Sesshoumaru-sama.."
Senyum Rin, air mata yang mengalir turun, suara dentingan lonceng yang memanggil namanya–Sesshoumaru hanya dapat menatap lekat sosok itu. Perlahan tangan kirinya kembali terangkat, dengan pelan, jari jemari inuyoukai itu menghapus air mata yang ada. "Jangan menangis, Rin.."
Rin segera mengangguk kepala. Senyum semakin lebar, tapi air matanya tetap mengalir turun tidak terhentikan meski dia mencobanya.
Mengangkat wajahnya menatap Sesshoumaru lagi, dengan senyum yang masih di wajah, Rin menyuarakan isi hatinya. "Sesshoumaru-sama, bolehkah Rin selalu berada di sekitar anda?"
Pertanyaan Rin yang tiba-tiba membuat Sesshoumaru tertegun.
"Meski anda menikah, meski anda memiliki anak–bolehkah Rin selalu di sekitar anda? Bolehkan Rin selalu melihat Sesshoumaru-sama?"
Pertanyaan demi pertanyaan Rin membuat hati Sesshoumaru merasa sakit. Apa yang telah dilakukannya? Kenapa dia bisa membuat gadis ini mempertanyakan pertanyaan seperti ini sekarang?
Mengertakan rahangnya kuat, Sesshoumaru melepaskan kedua jari-jemarinya yang ada di pipi Rin. Sekali lagi, dia melingkarkan tangannya di pinggang ramping itu–memeluk Rin dengan seeratnya. "Jangan mempertanyakan sesuatu yang bodoh."
Jawaban Sesshoumaru membuat air mata Rin mengalir turun semakin deras, namun senyum lebar di wajahnya semakin lebar. Dia menangis, tapi dia bahagia. Dalam pelukan ini, dia akhirnya merasakan kelegaan, merasa–cukup.
Cintanya.
Mungkin mereka memang tidak bisa bersama seperti halnya Kagome dan Inuyasha, tetapi tidak apa-apa. Cinta tidak selalu memiliki. Jadi, bisa selalu di samping Sesshoumaru sudahlah cukup–ini adalah kebahagiaannya.
Tangisan kebahagiaan Rin membuat Sesshoumaru semakin mengeratkan pelukannya, seakan dia ingin meleburkan gadis manusia dalam pelukannnya menjadi bagian dari dirinya.
Namun bersamaan dengan isak tangis itu juga, perasaan bersalah dalam hati Sesshoumaru juga semakin membesar. Karena itu, untuk segala kesalahan yang telah dilakukannya–dia akan menebusnya.
"Rin, maaf.." bisik Sesshoumaru pelan. Untuk pertama kali dalam hidupnya yang panjang, Sesshoumaru, daiyoukai penguasa tanah barat yang ditakuti semua manusia maupun youkai–meminta maaf.
Maaf karena telah melukai seorang gadis manusia, maaf karena telah membuatnya menangis–maaf karena telah mengabaikannya.
Mata Rin terbelalak mendengar permintaan maaf Sesshoumaru. Air mata dan senyum di wajahnya segera menghilang, dia berusaha melepaskan diri dari pelukan yang ada untuk melihat wajah inuyoukai itu.
Namun, pelukan Sesshoumaru sangat erat. Rin tidak menemukan kekuatan untuk melepaskan dirinya.
"Maafkan Sesshoumaru ini karena telah membuatmu sedih, maaf karena telah membuatmu menangis.."
Permintaan maaf Sesshoumaru membuat Rin sangat terkejut. Kenapa inuyoukai itu meminta maaf?–Sesshoumaru adalah tuannya tidak seharusnya beliau meminta maaf akan segala sesuatu yang dilakukan terhadapnya.
Tapi bersamaan dengan setiap kata maaf yang diucapkan Sesshoumaru, kebahagiaan juga memenuhi hati Rin. Sebab, permintaan maaf itu membuktikan padanya, dia juga memiliki arti dalam hati inuyoukai itu.
Perlahan, kedua tangan Rin kembali memeluk Sesshoumaru dengan seeratnya. Air mata dan tangis yang sempat terhenti kembali pecah.
Sesshoumaru tidak mengucapkan apapun lagi, memeluk Rin, dia membiarkannya menangis. Dalam hati, dia berjanji pada dirinya sendiri–dia tidak akan membiarkannya menangis lagi. Kali ini, dia akan menjaganya dengam sebaik-baiknya.
Tangis Rin makin lama makin pelan, dan saat air matanya benar-benar telah berhenti, dia tetap tidak melepaskan pelukannya.
Sesshoumaru lah yang kemudian melepaskan pelukan mereka terlebih dahulu, walau sejujurnya, dia tidak ingin. Menatap wajah Rin yang kini tersenyum padanya, dia kembali mengangkat tangan kanan menghapus bekas air mata yang ada.
Secara reflek, kedua tangan Rin segera menangkap jari jemari Sesshoumaru lagi. Kedua mata coklat jernihnya berbinar menatap inuyoukai di depan.
"Rin.." panggil Sesshoumaru lagi. Namun, dia segera terdiam saat kedua mata emasnya menatap memar membiru di kedua lengan putih Rin. Lengan kimononya yang jatuh ke bawah membuat luka itu terlihat jelas.
Perasaan bersalah kembali memenuhi hati Sesshoumaru, dia jelas tahu bahwa luka itu adalah luka yang disebabkannya–bekas cengkeraman tangannya dan Akihiko.
Rin yang menyadari arah pandangan Sesshoumaru, segera tersenyum. "Tidak apa-apa, Sesshoumaru-sama. Luka memar ini sama sekali tidak sakit. Kagome-sama sudah memberi–"
Ucapan Rin tidak pernah terselesaikan, karena tiba-tiba saja, dia merasakan sesuatu yang lembut dan hangat menyentuh lengannya.
Di depan Rin, Sesshoumaru membungkukkan badannya–mencium lengan gadis itu dengan lembut. Bersamaan dengan ciumannya juga, lidahnya dengan pelan menjilat luka yang ada.
Menutup mata emasnya, Sesshoumaru terus mencium dan menjilat luka itu, sebab, air liur inuyoukai adalah obat yang sangat manjur dalam menyembuhkan luka. Namun, setiap kali indra pengecapnya menyentuh kulit lembut itu, dia makin merasa–manis.
Rasa manis yang sangat asing juga sekaligus sangat memabukkan. Bagaikan menghipnotisnya, Sesshoumaru tidak ingin menghentikan apa yang sedang dilakukannya.
Lalu, saat dia membuka kedua mata emasnya lagi, Sesshoumaru tertegun. Hanya berjarak beberapa centimeter, mata coklat Rin yang sejernih mata air menatapnya terbelalak.
Wajah Rin memerah sempurna, bahkan telinganya juga ikut memerah. Mulut mungilnya terbuka seakan ingin mengatakan sesuatu, namun tidak ada suara yang keluar–Sesshoumaru tidak pernah melihat ekspresi seperti ini pada Rin selama ini.
Tersadar, Sesshoumaru segera menjauhkan bibirnya dari lengan Rin. Begitu juga dengan tangan kanannya yang menyentuh pipi gadis itu. Diam membisu menatap gadis manusia itu, dia tidak tahu harus mengatakan apa dalam situasi seperti ini.
Rin yang masih dengan wajah merah padam kemudian melangkah mundur satu langkah. Ekspresi wajahnya benar-benar tidak dapat dijelaskan lagi, bingung, terkejut dan sebagian besar malu membaur menjadi satu memenuhi wajahnya.
"I-ibunda dan yang lainnya pasti mencari Rin sekarang. R-rin pergi dulu, Sesshoumaru-sama." Tidak berani menatap mata Sesshoumaru, Rin segera membalikan badan dan berlari menjauh. Dia tidak memberikan kesempatan ada inuyoukai itu untuk mengatakan sesuatu.
Sesshoumaru tetap diam membisu tanpa bisa melakukan apapun, dia hanya dapat menatap punggung Rin yang kemudian menghilang di balik pohon di depannya. Seumur hidup dia tidak pernah bersikap atau melakukan hal seperti barusan. Menutup mata, dia mengangkat tangan kanan menyusuri rambut perak panjangnya. "Apa yang telah kau lakukan, Sesshoumaru.." gumannya pada diri sendiri.
__ADS_1
....xOxOx....