Till The End Of Time [ Inuyasha Fanfiction ]

Till The End Of Time [ Inuyasha Fanfiction ]
Epilog


__ADS_3

Bulan purnama besar yang terang menghiasi langit malam. Gedung-gedung menjuang tinggi seakan mencapai langit. Suara kebisingan menghiasi malam, suara bicara, tawa, teriakan, langkah kaki dan juga kendaraan; membuat kota Tokyo seakan tidak mengenal namanya malam.


Sebuah bola api terbang di langit malam Tokyo tanpa disadari siapapun. Terbang tinggi ke atas langit, menembus awan, menembus sebuah kekai kasat mata yang tidak bisa dilihat mata manusia.


Bola api itu terus terbang hingga akhirnya mencapai satu bangunan istana besar yang melayang di atas langit.


Memasuki istana tersebut, bola api itu kemudian berubah menjelma menjadi sosok yang seperti seorang laki-laki. Cahaya bulan purnama menyinari sosok itu—rambut perak panjang yang diikat dengan sebuah pita merah, telinga yang runcing, kulit putih, sepasang mata berwarna emas, sepasang garis di pipi dan bulan sabit di dahi. Sekali lihat, siapapun akan sadar dia bukanlah manusia, melainkan seorang youkai, walau yang bersangkutan lebih memilih disebut hanyou.


Berbadan tinggi tegap, dia mengenakan kimono putih dengan lambang kebesaran keluarganya di belakang punggung. Langkah kakinya pelan menyusuri lorong istana yang gelap dan sunyi, sedangkan wajahnya yang tampan datar tanpa ekpresi.


Memasuki sebuah taman besar, pandangan matanya yang tajam menangkap berpuluh-puluh batang pohon sakura yang tertanam rapi dan mekar dengan indah dalam malam musim semi.


Indra penciumannya kemudian menangkap bau yang dicarinya. Terus melangkah ke arah sumber bau, mata emas itu menemukan sosok yang dicarinya.


Dalam sinar bulan, dalam taman besar istana atas langit yang sepi, seekor anjing raksasa duduk berbaring dengan mata tertutup.


Anjing itu sangat besar, ukurannya jika berdiri akan mencapai gedung-gedung yang menjuang tinggi di dunia manusia. Bulunya berwarna putih keperakan ditimpah cahaya lemburan, dua pasang garis biru di pipi dan bulan sabit besar di dahinya—anjing itu adalah seorang inudaiyoukai.


Berjalan mendekati anjing itu dengan pelan tanpa suara,  dengan pelan, anjing raksasa itu kemudian membuka mata—sepasang mata berwarna merah darah dengan klorea berwarna biru. Sepasang mata yang identik dengan dirinya dalam wujud aslinya.


"Shura." Panggil anjing itu pelan, suaranya bergema memenuhi taman dan istana yang kosong.


"Ayahanda." Balas youkai itu.


"Shura." Panggil anjing raksasa itu lagi.


Shura, sang youkai tidak menjawab lagi, mata emasnya menatap lurus anjing raksasa yang merupakan ayah kandungnya sendiri; Sesshoumaru, sang Inudaiyoukai dari barat. Pandangan matanya penuh rasa hormat, sebab sosok di depannya selamanya adalah kebanggaan dan panutan hidupnya.


Sesshoumaru tidak memanggil lagi nama putra satu-satunya, mata emasnya menatap sosok dewasa sang anak yang benar-benar mirip dengan dirinya dalam diam.


Seorang putra akan melampaui sang ayah. Seperti dirinya yang melampaui Inu No Taisho, ayahnya, Shura putranya juga telah melampaui dirinya.


Kebangaan memenuhi hati Sesshoumaru. Putra satu-satunya yang sangat dibanggakan, putra yang mempersatukan seluruh youkai di jepang dalam tangannya; Raja youkai yang dihormati.


Dia melihat dengan matanya sendiri pertumbuhan anaknya, dari bayi kecil sampai menjadi pria, dari seorang youkai menjadi Raja para youkai. Melihatnya besar, menikah dengan hanyou kecil yang dicintainya, memiliki anak, berkeluarga dan—bahagia.


Jaman sudah berubah, dunia sudah berubah. Dunia manusia dan youkai telah bersatu. Tidak ada lagi youkai yang berkeliaran seperti masa mudanya dulu, kini youkai hidup dengan tenang bersama manusia dalam kerajaan anaknya yang tidak diketahui manusia.


Dulu sekali, banyak yang mengatakan padanya, darah manusia dalam nadi anaknya akan melemahkan putranya. Dia tidak akan pernah menjadi penguasa tanah barat menggantikannya. Mereka benar, anaknya terbukti tidak menjadi penguasa tanah barat, anaknya menjadi raja dari segala raja youkai; satu-satunya penguasa mutlak dari semua youkai.


Darah wanita itu tidak pernah melemahkan putranya, yang ada, darah itu menguatkannya, darah dari makhluk hidup yang dulu dipandang rendahnya—darah manusia.

__ADS_1


Wanita itu...


Menerawang ke dalam hidupnya yang panjang, Sesshoumaru berpikir, sudah berapa tahun berlalu, seratus? Lima ratus atau seribu?—tidak sudah lebih dari seribu. Sudah berapa lama berlalu dari saat dia kehilangan wanita itu? Dia sudah tidak tahu lagi, dia sudah lupa menghitungnya.


Wanita itu adalah satu-satunya wanita yang dicintainya. Seperti apa rupanya? Tahun demi tahun berlalu, dalam hidupnya yang panjang, dalam ingatannya, rupa wanita itu semakin menghilang dikikis waktu. Tapi, dalam ribuan tahun ini juga, dia masih mengingat jelas kehangatan dan kebahagiaan yang diberikan—cintanya yang tulus.


Menatap Shura lagi, Sesshoumaru berusaha mencari apa yang diwariskan wanita itu pada putra mereka. Dia tahu, bukanlah mata itu, bukan hidung itu, bukan wajah itu, tapi....


"Tersenyumlah, Shura."


Perintah sang ayah yang tiba-tiba dan diluar dugaan mau tidak mau membuat Shura tertegun. Namun, sejenak kemudian dia tersenyum seperti yang diinginkan sosok yang paling dihormatinya.


Mata emas Sesshoumaru tertegun melihat senyum sang anak.


Ya.


Senyum itu. Senyum di wajah anaknya sekarang adalah senyum wanita itu. Senyum musim semi yang selalu dicintainya—senyum Rin yang terukir abadi dalam hatinya


Menutup mata emasnya dengan pelan, Seshoumaru tersenyum. "Shura, dia mencintaimu.."


Shura kembali tertegun mendengar ucapan ayahnya.


"Rin mencintaimu, selalu mencintaimu..."


Shura tersenyum. Betapa Rin; betapa ibu kandungnya mencintai dirinya, Raja youkai itu tahu. Tanpa diberitahu siapapun dia tahu, sebab keberadaannya telah membuktikan cinta sang ibu; keberadaan anomalinya sebagai seorang youkai sejati dengan darah separuh manusia.


Lalu, dalam keheningan yang ada juga, dalam kegelapan malam, Shura bisa mendengar jelas suara detakan jantung sang ayah yang kian melemah.


"Kami selalu mencintaimu..."


Suara sang ayah terhenti begitu juga dengan detakan jantungnya. Shura tahu, dia telah kehilangan ayah yang dihormati dan dibanggakannya untuk selamanya. Sesshoumaru, sang penguasa tanah barat pada jaman sengoku telah menutup usianya dengan tenang.


Tapi, Shura tidak menangis, dia tersenyum, karena dia tahu, ayahnya akan menemui ibunya di taman bunga sejuta warna. "Shura juga selalu mencintai kalian, Ayahanda, Ibunda..."


Dia berdiri ditempat yang tidak asing baginya. Langit biru dengan sejuta warna menghiasi pandangan. Dia telah kembali pada padang bunga yang terbentang luas sepanjang mata memandang.


Dengan badannua yang tinggi tegap, dia berdiri di padang bunga dengan sosoknya yang masih muda. Sosok yang sama pada masa dia memiliki segalanya.


Nama no naka


Mori no naka

__ADS_1


Telinganya menangkap jelas suara nyanyian merdu seorang wanita dari kejauhan.


Kaze no naka


Yume no naka


Melangkah kaki dengan pelan, dia menuju sumber suara. Suara yang tidak asing baginya, suara yang merupakan bagian dari kepingan memori paling berharga dalam keberadaannya


Sesshoumaru-sama doko ni iru


Jakken-sama wo shita naete


Di sana wanita itu berada. Sekali lagi, dia melihatnya duduk dalam taman bunga. Bagaikan bunga itu sendiri, dia duduk merangkai kalung serta mahkota bunga dengan tangan mungilnya sambil bernyanyi.


Rambut sehitam langit tanpa bintang, kulit seputih salju, pipi dan bibir sewarna mawar, mata lugu sejernih danau, lalu senyum itu—senyum musim semi abadi yang terukir abadi dalam hatinya.


Wajah itu, dia bisa mengingatnya lagi. Wajah yang tidak pernah berubah, wajah dari satu-satunya wanita yang dicintainya dalam kehidupannya yang panjang.


Watashi wa hitori de machimashou


Sesshoumaru-sama omodori wo


Wanita itu berhenti bernyanyi saat menyadari kehadirannya. Mengangkat wajah, senyum lebar itu semakin melebar karena kebahagiaan. Lalu,  saat mata mereka bertemu, wanita itu segera berdiri dan berlari ke arahnya—melompat memeluknya penuh tawa kebahagiaan.


Dia membalas memeluk dan menanamkan wajah pada celah leher sang wanita, mencium bau musim semi abadi yang telah begitu lama dia rindukan. Kehangatan memenuhi setiap relung hatinya.


"Okaeri, Sesshoumaru-sama." Ujar wanita itu pelan.


Dia tersenyum dan mempererat pelukannya. "Tadaima, Rin."


Dia bahagia–sebab akhirnya dia pulang. Pulang ke tempat seharusnya dia berada, dan kali ini, dia tahu, dia tidak akan pernah berpisah lagi dengan wanita ini. Dia akhirnya bisa menepati janjinya pada wanita itu; selamanya dan selalu, bersama hingga akhir waktu.


..."Berapa lama kau sanggup mencintaiku?"...


..."Selamanya. Tidak peduli napasku telah berhenti, tidak peduli ragaku telah tiada, selama jiwaku masih ada—tidak. Bahkan jikapun jiwaku telah tiada, cintaiku pada anda tidak akan pernah berubah. Aku akan selalu mencintai anda, hingga akhir waktu."...


...Berapa lama anda sanggup mencintai Rin, Sesshoumaru-sama?"...


..."Selamanya. Tidak peduli napasmu telah berhenti, tidak peduli ragamu telah tiada, selama jiwamu masih ada—tidak. Bahkan jikapun jiwamu telah tiada, cintaiku padamu tidak akan pernah berubah. Sesshoumaru ini akan selalu mencintaimu, Rin, hingga akhir waktu..."...


...Fin....

__ADS_1


__ADS_2