Till The End Of Time [ Inuyasha Fanfiction ]

Till The End Of Time [ Inuyasha Fanfiction ]
Chapter 60


__ADS_3

Bola mata emas Inuyasha bergerak ke kanan-kiri. Melipat kedua tangan di dada, dia duduk di atas tanah salju tepat di depan rumahnya sendiri. Ekspresi wajahnya merupakan perpaduan antara kesal dan juga waspada.


"Kau sedang apa, Inuyasha?" tanya Miroku tiba-tiba. Dia ikut duduk di samping inuhanyou itu sambil tersenyum.


Inuyasha tidak menjawab pertanyaan Miroku, dia tetap diam membisu menatap sekeliling dengan ekpresi wajah yang tetap sama.


"Anak-anak ada di rumahku," ujar Miroku kemudian sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Yang dimaksudnya anak-anak tidak lain Shiro, Aya, Maya dan Mamoru. "Sango, Kohaku dan Shippo menjaga mereka, jadi kau tidak perlu khawatir."


Inuyasha menoleh wajahnya menatap Miroku dan mengangguk kepala pelan. Dia ingat jelas wajah pucat pasi dan ketakutan anak-anak saat mereka bertemu dalam medan perang yang telah usai. Terseret dalam perang dan melihat sendiri kebrutalan para youkai, jelas akan membuat mereka ketakutan dan trauma. Mereka memang membutuhkan sosok keluarga untuk menenangkan mereka sekarang.


Mengarahkan pandangannya lagi ke depan. Inuyasha mengepal tangannya penuh kemarahan. Perang ini hampir saja merebut nyawa anak-anak mereka. Dari cerita Kohaku dan Shippo, dia tahu, Takeru dari utara lah dalangnya—mereka harus membuat perhitungan dengan penguasa tanah utara itu nanti.


"Kau masih di sini, Inuyasha?" tanya suara seseorang tiba-tiba.


Mata Inuyasha menatap sumber suara dan dia menemukan Kenji yang berjalan ke arahnya. Senyum lebar menghiasi wajah youkai monyet itu.


Inuyasha tetap tidak menjawab, dia hanya diam membisu membiarkan youkai monyet itu duduk di sampingnya seperti Miroku.


"Rin-rin masih belum sadar?" tanya Kenji lagi, tidak peduli bahwa pertanyaannya barusan tidak dipedulikan inuhanyou tersebut.


Inuyasha tetap tidak menjawab, tapi pertanyaannya itu membuat beribu-ribu mata dari segala penjuru arah mengarah padanya. Berdecak kesal, Inuhanyou itu membuka mulutnya. "Belum, dan bisakah kalian semua meninggalkan desa ini sekarang??!"


Tidak ada yang mempedulikan ucapan Inuyasha, dan itu membuat Miroku menghela napas. Mata biksu itu menatap desa manusia tempat mereka tinggal yang tidak dapat dikatakan sebagai desa manusia lagi—desa ini sekarang lebih tepat dikatakan sebagai sarang youkai.


Setelah Rin membangkitkan semua youkai dan tidak menyadarkan diri, perang barat dan selatan memang berhenti. Tapi, melihat kondisi gadis manusia itu yang melemah dan tidak normal, tanpa pikir panjang Kagome berinsiatif membawanya ke desa mereka.


Keputusan Kagome memang tidak salah, tapi, siapa yang menyangka dengan membawa Rin ke desa mereka, Sesshoumaru dan Akihiko akan mengikuti, begitu juga dengan semua youkai barat dan selatan yang ada dalam medan perang itu.


Para penduduk desa terkejut setengah mati, saat pasukan besar youkai itu tiba di desa. Untung saja, mereka semua bersedia berkerja sama dan setuju untuk tetap tinggal dalam rumah mereka sampai para youkai itu pergi. Namun, yang paling melegakan mungkin adalah para youkai yang bersedia untuk tidak menganggu para penduduk.


Kenji menepuk kuat punggung Inuyasha dan tertawa. "Tenangkan dirimu, Inuyasha. Mereka akan meninggalkan desa ini jika Rin-Rin sudah sadar."


Inuyasha menatap tajam Kenji, namun, youkai monyet itu tertawa semakin keras.


Masih jelas dalam ingatan Kenji, bagaimana Rin menggunakan meido seki dan membangkitkan ratusan youkai yang sudah mati itu. Intuisinya terbukti benar, dengan cara yang tidak pernah di sangkanya, gadis manusia itu benar-benar berhasil menghentikan perang yang berkecamuk.


Lalu, mata hijau youkai monyet itu menatap sekeliling. Para youkai ini bukan berada di sini karena mengikuti penguasa mereka. Di mata para youkai dari barat, dia bisa melihat jelas kekhawatiran mereka untuk gadis manusia yang masih tidak menyadarkan diri. Sedangkan untuk youkai selatan, dia bisa melihat jelas kebingungan dan juga perasaan hutang budi karena gadis manusia itu telah membangkit mereka dan rekan mereka.


Rin, gadis manusia itu benar-benar sangat aneh. Keberadaannya bagaikan sebuah anomali. Dia adalah seorang gadis manusia biasa tanpa kekuatan spritual, tapi dia bisa membuat semua youkai bersikap seperti ini.


Miroku juga ikut tertawa dan menggeleng kepala. Siapa yang menyangka bahwa semua youkai barat dan selatan berkumpul di sini disebabkan oleh seorang gadis manusia?—sampai mati pun Miroku tidak akan percaya jika dia tidak melihatnya sendiri. Mengangkat wajahnya, menatap langit pagi musim dingin, Miroku hanya berharap gadis manusia itu segera sadar.


....xOxOx....


"Rin-chan sudah tidak apa-apa," ujar Kagome pelan dan menghela napas. Matanya menatap sosok Rin yang terbaring di atas futon dalam salah satu kamar di rumahnya. "Suhu badannya sudah turun, napasnya juga sudah normal."


"Baguslah kalau begitu, miko aneh," ujar Inukimi. Sepasang mata emasnya memancarkan kekhawatiran menatap Rin. Tangan berkuku panjangnya kemudian bergerak membelai kepala putri angkatnya itu. "Cepatlah sadar, Rin-kecil. Jangan membuat ibunda khawatir terus."


"Kau jaga Rin-chan, Kagome. Aku akan membuat obat penurun panas." Kaeda yang ada disamping Kagome berdiri. Tidak menunggu jawaban miko masa depan itu, dia berjalan keluar dari kamar di mana Rin berada.


Mata tua Kaeda melihat sejenak semua yang ada dalam kamar tersebut, dan, seketika bulu kuduknya segera berdiri. Meski dia seorang miko yang berpengalaman, dia tidak dapat menghilangkan rasa takut yang ada. Selain Inukimi, sang mantan penguasa tanah barat, Sesshoumaru, Akihiko, Tsubasa, Kiri dan Kira juga duduk diam di dalam.


Menghela napas, Kaeda kemudian berjalan keluar. Daiyoukai dan youkai dengan aura youki semengerikan ini, semua berkumpul dalam ruangan yang tidak begitu luas, jelas akan menjadi mimpi buruk bagi siapapun yang melihat.


Suasana kamar menjadi sepi kembali. Tidak ada seorangpun yang mengatakan apa-apa sampai akhirnya, suara Kagome memecahkan keheningan.


"Hmn," gumam Kagome kemudian sedikit canggung. "Jika kalian bersedia, bisa kah kalian membiarkan Rin-chan beristirahat dengan tenang."


"Kami tidak akan membuat keributan sedikitpun, miko." balas Kira datar. Mata emasnya menatap lurus Rin, tidak mempedulikan Kagome.


"Ugh," Kagome menjadi semakin canggung. Mereka memang tidak bersuara dan membuat keributan, tapi aura dan keheningan mereka jelas membuat suasana menjadi sangat tegang. "Kamar ini kecil, dan dengan jumlah orang sebanyak ini, aku khawatir udara akan berkurang banyak. Itu tidak bagus untuk Rin-chan."


Kagome tersenyum kecil menjelaskan kondisi kamar, dia sendiri tidak yakin, apakah para youkai ini mau mendengar penjelasannya ini, sebab tidak sedetikpun mereka meninggalkan Rin sejak mereka memasuki kamar ini.


"Katamu itu benar juga, miko aneh," Inukimi bangkit berdiri. Menatap Kira dan Kiri, inuyoukai itu membuka mulutnya. "Kalian juga keluarlah dari kamar ini. Biarkan putriku beristirahat dengan baik."


Kira dan Kiri mematuhi perintah Inukimi. Tetapi terlihat jelas walau mereka bedua sejujurnya tidak ingin meninggalkan kamar ini.


Tsubasa menatap Akihiko sepeninggalan Inukimi, Kiri dan Kira. Youkai burung itu menunggu keputusan penguasa tanah selatan tersebut.


Akihiko menatap wajah Sesshoumaru yang tidak berekspresi sedikitpun. Selama anjing ini tidak meninggalkan ruangan ini, dia juga tidak bersedia meninggalkannya.


Mata emas Sesshoumaru menatap Rin. Wajahnya sudah tidak sepucat semalam, dan juga napasnya telah kembali normal. Tapi, dia tidak bersedia menjauh dari gadis ini.


"Kakak, serahkan Rin padaku. Masih banyak yang harus kau lakukan, kan?" ujar Kagome lagi pelan. Dia tersenyum kecil melihat sikap Sesshoumaru. Meski tidak diucapkan dan berwajah datar tanpa ekspresi, miko masa depan itu tahu, betapa inuyoukai itu menghawatirkan Rin.


Masih jelas dalam ingatan Kagome, reaksi Sesshoumaru setelah Rin tidak menyadarkan diri dengan kondisi menghawatirkan sesaat setelah menggunakan meido seki. Inuyoukai itu menunjukkan ekpresi yang tidak pernah disangka akan diperlihatkannya. Arti Rin bagi Sesshoumaru mungkin memang tidak sesederhana yang dikira Inuyasha dan yang lainnya.


Menatap Kagome sejenak tanpa mengucapkan apa-apa, Sesshoumaru kemudian menatap Rin lagi. Menutup mata, dia harus mengakui, apa yang dikatakan miko itu benar, masih ada banyak yang harus dia selesaikan sebagai seorang penguasa.


Bangkit berdiri, tidak mempedulikan Akihiko, Sesshoumaru melangkah keluar dari kamar.


Akihiko juga melangkah keluar begitu Sesshoumaru meninggalkan ruangan bersama Tsubasa. Penguasa tanah selatan itu juga tidak mengatakan apa-apa, namun Kagome tetap bisa melihat ekpresi khawatir di wajah yang tertuju kepada Rin.


Tertawa kecil Kagome memukul kepalanya pelan. "Ah," gumamnya pelan. "Tidak mungkin Akihiko dari selatan itu akan menjadi saingan Kakak, kan?"


....xOxOx....


Inuyasha dan Miroku menatap penuh kewaspadaan pemandangan di depan. Di samping mereka, Kenji mengelus-ngelus jangutnya yang panjang dengan ekspresi wajah datar. Mereka masih duduk di depan rumah Inuyasha. Tetapi suasana tidak lagi setenang barusan, bahkan suasana sekarang menjadi sangat tegang.


Jauh di sisi kanan tempat Inuyasha, Miroku dan Kenji berada, Sesshoumaru duduk di bawah sebatang pohon yang tak berdaun. Kira dan Kira berdiri di sampingnya, serta pasukan besar youkai barat di belakang.


Sedangkan di sisi kiri mereka, Akihiko duduk dengan Tsubasa di sampingnya. Sama halnya seperti Sesshoumaru, pasukan besar youkai selatan juga beradabdi belakang youkai serigala itu.


Tidak ada yang mengucapkan sepatah katapun, mereka hanya diam saling menatap.


"Kuharap mereka tidak akan bertarung lagi." Miroku kemudian tertawa canggung. Tangannya kembali terangkat menggaruk kepala yang tidak gatal. Dia tidak yakin akan ada yang selamat jika kedua pasukan ini bertarung lagi. Sepertinya keberadaan mereka di desa memang sebuah kesalahan.


Inuyasha hanya berdecak tidak suka. Namun, Kenji yang ada disampingnya, tiba-tiba menepuk pahanya sendiri dan berdiri. Youkai monyet itu berjalan ke depan, atau lebih tepatnya ke tengah-tengah kedua pasukan youkai tersebut.


Tidak ada yang mengatakan apa-apa, pandangan semua youkai yang ada mengikuti Kenji yang tersenyum. Suara youkai monyet itu kemudian memecahkan keheningan. "Ya!! Ayo kalian selesaikan masalah yang ada! Aku, Kenji, sang monyet tua ini akan jadi penengah."


Keheningan tetap menjadi balasan dari apa yang diucapkan Kenji. Namun, youkai monyet itu tidak peduli, dia tertawa keras. "Karena tidak ada yang mengucapkan keberatan. Aku yang akan memutuskan."


Baik Sesshoumaru maupun Akihiko menatap Kenji tanpa ekspresi. Kenji adalah youkai dari masa orang tua mereka. Dan meksi tua, dia adalah salah satu youkai yang dihormati semua youkai.


Tertawa semakin keras, Kenji melanjutkan ucapannya."Perang barat-selatan ini, aku memutuskan hasilnya; seri!!"


Ucapan Kenji membuat para youkai kedua pihak berdecak marah. Seketika suasana yang tegang menjadi semakin tegang.


"Tidak ada korban di barat maupun selatan. Bahkan, tidak ada seorangpun yang terluka, jadi perang ini tidak ada pemenangnya." Lanjut Kenji lagi. Mata hijaunya kemudian terarah pada Sesshoumaru lalu Akihiko. "Bagaimana menurut kalian keputusanku, Sesshoumaru, Akihiko?"


Kedua daiyoukai penguasa diam membisu, tapi pasukan dibelakang mereka jelas berkata lain. Mereka semua menyeringai tidak puas memperlihatkan taring mereka.


"Kalian tidak akan menyia-nyiakan pengorbanan gadis manusia yang menyelamatkan hidup kalian, kan??" teriak Kenji tiba-tiba membuat semua youkai yang ada terdiam. Menunjuk rumah Inuyasha, Kenji menaikkan suaranya. "Gadis itu sekarang terbaring tidak sadarkan diri karena kalian. Seorang gadis manusia biasa yang mengenal dan tidak mengenal kalian!! Apakah kalian masih mau berperang dan membunuh??!"


Keheningan kembali memenuhi sekeliling. Kenji tidak peduli, dia bertanya sekali lagi pada Sesshoumaru dan Akihiko. "Apakah kalian setuju, wahai kedua penguasa?"


Sesshoumaru dan Akihiko tetap tidak menjawab. Wajah lemah Rin terbayang dalam pikiran mereka. Bagaimana bisa mereka berdua menyia-nyiakan pengorbanan gadis itu begitu saja? Mereka ingat jelas, wajah kesedihan dan tangis air mata gadis itu saat Kira mati di depan, sanggupkah mereka melukiskan kembali ekspresi itu di wajahnya?—mereka tidak bisa.


Tetap tidak ada jawaban dari Sesshoumaru maupun Akihiko, Kenji mengambil insiatifnya sendiri. Kedua daiyoukai itu masih larut dalam pikirannya, dan meski mereka setuju dengan keputusan yang dibuatnya, harga diri mereka yang tinggi tidak akan membuat mereka menjawab.


"Kalian tidak menjawab artinya kalian setuju," senyum Kenji lagi sambil mengelus-ngelus jangutnya. Berdiri tegak, dia kemudian mengangkat kepala menatap langit dan tertawa. "Aku Kenji, Si monyet tua sekali lagi mengumumkan, tidak ada perubahan wilayah dalam perang ini!! Perang barat-selatan ini; seri!!"


Beberapa youkai masih terlihat kurang puas dengan hasil perang yang dibuat Kenji. Tapi karena Sesshoumaru dan Akihiko yang tidak mengatakan apa-apa, mereka semua akhirnya diam dan menerima keputusan itu.


"Perang sebesar dan sebrutal dengan youkai sebanyak itu hasilnya; seri?—benar-benar tidak kusangaka.." ujar Miroku pelan sambil menatap Inuyasha.


Inuyasha kembali berdecak pelan dan membuang muka seakan tidak peduli. Tapi, jauh dalam hati, dia bersyukur, setidaknya perang ini benar-benar bisa diselesaikan tanpa korban.


"Ya, karena sekarang keputusannya sudah ada," senyum Kenji lebar. Dia kemudian mengeluarkan sebuah botol kecil dari balik kimononya, "Sekarang, kita akan membahas masalah lain."


Membuka botol di tangan, Kenji menuangkannya ke bawah. Seketika juga, sosok Yukimura yang terluka dan terikat seulas tali muncul di atas tanah salju. Kedua matanya masih tertutup rapat tidak menyadarkan diri.


Semua youkai yang ada terkejut bercampur bingung. Mereka jelas mengenal Yukimura dari Timur, salah satu youkai kepercayaan Asano, penguasa tanah timur.


"Kalian semua pasti bingung kenapa Yukimura ada di tanganku, kan?" jelas Kenji. Matanya kemudian terangkat menatap langit di depannya dan tersenyum sinis. "Aku pribadi sesungguhnya juga ingin tahu dengan jelas."


Dari langit musim dingin di atas, dari kejauhan, semua yang ada bisa melihat dua pasukan besar youkai yang tiba-tiba terbang mendekat. Semakin dekat, semua bisa melihat jelas, beratus-ratus youkai berbagai ras memenuhi langit, dan di tangan beberapa youkai memegang bendera yang berlambang penguasa utara dan timur.


Mendarat, kedua pasukan itu berhadapan dengan pasukan barat dan selatan.

__ADS_1


"Apa-apaan ini??" ujar Miroku terkejut, dia segera berdiri dan menatap kedua pasukan baru itu tidak percaya. "Kenapa youkai utara dan timur berada di sini??"


Inuyasha juga cukup terkejut begitu melihat kedua pasukan besar itu. Berdiri, tangannya segera menyentuh ganggang pedang tessaiga. Tapi saat dia mendengar Miroku mengucapkan utara, kemarahan memenuhi hatinya.


Dari pasukan timur, seorang youkai pria melangkah maju, begitu juga dengan Akiko yang ada di sampingnya. Pria itu sudah cukup berusia, rambut putih panjangnya terikat rapi. Keriput memenuhi wajah dan tangannya. Mata hitamnya menatap Kenji dengan sebuah senyum bersahabat di bibir. "Kau mengundangku kemari dengan tiba-tiba, Kenji."


Kenji membalas senyuman itu dengan sama hangatnya. "Aku tersanjung kau menerima undanganku ini walau kau sibuk, Asano sang penguasa tanah timur."


Asano tetap tersenyum, wajahnya kemudian menatap Sesshoumaru dan Akihiko yang tidak bergerak sedikitpun. Di antara empat penguasa youkai di jepang, dirinya adalah yang paling tua, tetapi melihat kedua daiyoukai itu, dia harus mengakui bahwa dia lebih lemah. Aura inuyoukai dan youkai serigala itu jelas sangat mendominasi meski berada di tengah ribuan youkai yang berkumpul.


"Aku ingin kau menjelaskan pada kami semua, Asano," ujar Kenji lagi. Senyum bersahabat di wajahnya menghilang, digantikan dengan ekspresi dingin. "Apa maksud keberadaan Yukimura di istana tanah selatan yang ingin membunuh Rin, hime dari Barat."


Ucapan Kenji bagaikan sebuah bom, seketika juga youkai barat dan selatan diliputi kemarahan, tidak terkecuali Sesshoumaru dan Akihiko. Kedua daiyoukai itu menatap tajam Asano dengan mata yang telah berubah warna menjadi merah darah.


Wajah Akiko berubah menjadi pucat pasi. Namun, Asano tetap tersenyum bersahabat, "Aku tidak mengerti maksudmu, Kenji."


Kenji tertawa dingin, "Tidak apa-apa, kita bisa menanyainya langsung," berjongkok ke bawah, youkai monyet itu menggunakan tangan kanannya mrnampar pipi Yukimura yang tidak menyadarkan diri. "Bangun, anak muda. Kau harus menjelaskan kepada kami semua apa yang sesungguhnya terjadi!"


Yukimura membuka matanya begitu Kenji menamparnya beberapa kali. Mengedip beberapa kali matanya mencari fokus pandangan, bulu kuduknya tiba-tiba berdiri saat dia merasakan aura kemarahan youkai yang mengerikan. Menatap sekeliling, wajahnya berubah menjadi pucat pasi karena menemukan beribu pasang mata penuh kemarahan tertuju padanya.


"Siapa yang memberikan perintah padamu untuk membunuh hime dari Barat, Yukimura?" tanya Kenji kemudian, kedua mata hijaunya menatap lekat mata Yukimura yang tidak menyembunyikan ketakutannya penuh intimidasi.


"A-Akiko," terbata-bata, Yukimura menjawab pertanyaan Kenji. Badannya bergetar hebat, ketakutan dalam hatinya semakin menguat. Tanpa disadari, suaranya meninggi sehingga semua yang ada bisa mendengar jelas. "Akiko-sama yang memberikanku perintah untuk membunuh dan merebut meido seki dari gadis manusia itu!!"


"Bohong!! Aku tidak pernah memberikan perintah seperti itu!!" teriak Akiko panik bercampur marah. Dalam hatinya dia mengutuk Yukimura yang tidak berguna, tidak hanya gagal melaksanakan tugasnya, dia juga ingin menyeretnya ke dalam masalah.


Semua terjadi sangat cepat, seketika juga, Kira dan Kiri yang ada disamping Sesshoumaru tiba-tiba melesat cepat ke arah Akiko. Kedua tangan mereka terangkat mengincar kepala putri dari timur tersebut dengan mata semerah darah..


Asano yang ada disamping Akiko segera menangkap tangan Kira dan Kiri dengan kedua tangan sebelum mengenai putrinya. Dia masih tersenyum bersahabat. Kedua mata hitamnya menatap kedua inuyoukai itu memberikan tekanan. "Kita bisa membahas ini dengan tenang, anak muda. Tidak perlu bertindak gegabah seperti ini."


"Kira, Kiri." Panggil Sesshoumaru pelan. Namun, semua bisa merasakan tekanan berat pada suaranya. Mata merahnya menatap sosok Akiko yang ketakutan. Semua yang ada sadar, inuyoukai itu sedang menahan kemarahannya.


Asano bisa merasakan jelas kemarahan Sesshoumaru. Rencana putrinya telah berantakan, bukannya mendapatkan meido seki, timur malah berada dalam posisi yang tidak menguntungkan.


Kira dan Kiri menurunkan tangan mereka, tapi pandangan penuh kemarahan dan keinginan membunuh Akiko tetap terpancar keluar. Perlahan, mereka berdua kembali mundur dan berdiri kembali di samping Sesshoumaru.


"Aku juga sangat tertarik, Asano," suara Akihiko yang dari tadi diam tiba-tiba terdengar. Mata merah darahnya menatap penguasa tanah timur. "Bagaimana Yukimura ada di istanaku dan ingin membunuh tamuku?"


Kata tamu yang diucapkan Akihiko membuat semua yang ada menatap penguasa tanah selatan itu. Semua yang ada sadar, maksud tamu yang dikatakannya adalah hime dari barat. Tetapi semua juga tahu, gadis manusia itu ada disana karena diculik, bukan diundang. Apa yang terjadi?


Tsubasa yang ada disamping Akihiko mengepal kuat tangannya, tapi wajahnya tidak memperlihatkan reaksi sedikitpun.


"Kenapa kau berbohong Akiko-sama??" teriak Yukimura tiba-tiba. Ketakutan di wajahnya kini berubah menjadi kemarahan. Segitu mudahkah youkai rubah itu membuangnya. Menatap tuannya, Asano, penguasa tanah timur, dia meminta pertolongan. "Asano-sama!! Anda juga tahu, ini adalah ren-"


Seulas rantai youki berwarna kuning tiba-tiba melesat cepat. Rantai itu melilit leher Yukimura dan seketika juga memutuskan leher tengu tersebut.


Darah Yukimura berceceran membasahi tanah salju. Menatap sumber rantai, semua orang melihat Asano berdiri dengan mata merah darah penuh kemarahan. "Yukimura adalah penghianat yang berani menghina putriku dan bermaksud untuk memburukkan hubungan Timur dengan Barat dan Selatan."


"Aku, Asano penguasa tanah timur akan membinasakan klannya hingga tidak tersisa," lanjut Asano lagi, mata merah darahnya kembali menjadi hitam. Senyum bersahabat kembali melintas di wajah tuanya. "Apakah ini cukup menjadi tanda itikad baik timur, Sesshoumaru, Akihiko?"


Sesshoumaru dan Akihiko tidak mengatakan apa-apa. Mata merah darah mereka kembali ke warna semula. Tidak ada yang bisa menebak apa yang ada dalam pikiran kedua daiyoukai tersebut.


Plok-plok-plok


Suara tepuk tangan tiba-tiba terdengar. Menatap sumber suara tersebut, semua bisa melihat Inukimi yang duduk di atas pohon dimana Sesshoumaru duduk. Tidak ada seorangpun yang tahu, sejak kapan mantan penguasa tanah barat itu muncul di sana.


Tertawa, Inukimi kemudian meloncat turun ke arah Kenji. Mendekati kepala Yukimura yang telah terputus dari badannya, dia tertawa terbahak-bahak. "Kau tidak berubah, rubah keparat. Kau tetap saja licik."


Yukimura adalah pemimpin dari klan tengu yang menjadi kekuatan terbesar timur. Membinasakan klan itu, sama artinya melemahkan timur. Asano benar-benar telah mengorbankan sesuatu yang besar untuk meloloskan diri kali ini.


"Kau tetap saja muda dan cantik, Inukimi," puji Asano melihat mantan penguasa tanah barat itu. "Ini adalah hukuman yang harus diterima oleh penghianat, bukankah kau setuju? Kita semua tidak perlu berperang dan jatuh pada perangkapnya."


Mata emas Inukimi berbinar menatap Asano. Bagaimana liciknya Asano, dia tahu, dan semua yang ada di tempat ini mungkin juga tahu. Ucapannya adalah omong kosong. Lalu, pandangan mata mantan penguasa tanah barat itu kemudian jatuh pada Akiko. Senyum menyeringai menghiasi wajahnya, menggerakkan tangan, dia bermaksud maju. Tetapi tangan Kenji menangkap tangan inuyoukai itu, menghentikannya.


"Rin-rin tidak menginginkan perang, Inukimi," ujar Kenji pelan. Matanya menatap lurus Inukimi yang jelas terlihat kesal. "Timur sudah cukup membayar kesalahan mereka."


Menoleh wajah pada Sesshoumaru lalu Akihiko, Kenji yang sedari tadi menjadi penengah mengeluarkan suaranya. "Apa kalian puas dengan itikad baik dari timur, Sesshoumaru, Akihiko?"


Kedua daiyoukai itu tetap tidak menjawab, dan itu membuat Kenji tersenyum. Dia menyukai diamnya mereka berdua, sebab itu artinya, dia bisa membuat keputusan terbaik untuk menghindari perang. "Karena kalian diam, sekali lagi, aku akan mengangap kalian setuju."


Keributan kembali terjadi begitu Kenji mengumumkan keputusannya. Tapi, tidak ada seorang youkaipun yang berani maju menolak. Selama penguasa mereka tidak mengatakan apa-apa, mereka tidak bisa melakukan apa-apa.


Menghempaskan tangan Kenji yang menahan tangannya, Inukimi kemudian menatap youkai monyet itu dengan senyum sinis. "Kau benar-benar berbakat menjadi penengah, monyet keparat. Kini aku tau kenapa si berengsek Taisho menyukaimu."


"Apakah krisis di jepang ini selesai dengan begini, saja?" ujar Miroku yang dari tadi diam membisu. Tertawa canggung, dia menatap Kenji penuh hormat. "Aku harus berguru pada Kenji-san ilmu-ilmunya itu nanti."


Inuyasha tidak mengatakan apa-apa, dia tetap diam membisu. Tangannya yang menyentuh gangang pedang tessaiga di pinggang tidak diturunkan, sedangkan mata emasnya masih menatap pasukan youkai pendatang lekat-lekat seakan mencari sesuatu.


Kenji yang tertawa kemudian menurunkan pandangannya pada pasukan youkai Utara. Mata hijaunya kemudian jatuh pada sosok Takeru yang ada di barisan terdepan. Masalah timur sudah selesai, sekarang tinggal masalah di utara.


Takeru tersenyum melihat Kenji yang menatapnya. Tidak mengatakan apa-apa, dia mengangkat tangannya, dan dari belakangnya, seorang youkai tiba-tiba melempar sesuatu atau lebih tepatnya kepala seorang youkai ke atas.


Kepala itu jatuh dan mengelinding ke arah Kenji. Tanpa melihatnya pun, youkai monyet itu tahu siapa pemilik kepala itu, tidak lain, yakni; Sen.


"Aku, Takeru, penguasa tanah utara menyerahkan kepala penghianat utara kepada kalian. Kurasa ini cukup sebagai jawaban untuk barat, bukan?" ujar Takeru dengan senyum yang semakin lebar.


"Jadi si berengsek ini adalah kau ya??!!" teriak Inuyasha tiba-tiba. Dalam sekali kedipan mata, inuhayou itu telah melesat ke depan dengan tessaiga dalam wujud aslinya, mengincar kepala Takeru.


Dua youkai di samping Takeru dengan cepat mengeluarkan pedang mereka menangkis pedang Inuyasha. Ujung pedang tessaigai terhenti tepat di atas kepala Takeru.


Mengumpulkan kekuatan mereka, kedua youkai di samping Takeru mendorong Inuyasha ke belakang.


Inuyasha meloncat dan mendarat di samping Kenji. "Beraninya kau mengincar nyawa anakku, berengsek!!"


Miroku menepuk wajahnya sendiri dengan tangan kanannya dan menghela napas putus asa, dia seharusnya sadar akan sikap aneh Inuyasha semenjak pasukan utara tiba. Untuk utara yang mengincar nyawa anak-anak mereka, Miroku sebenarnya juga cukup marah. Tapi, menyerang langsung dalam keadaan seperti ini jelas bukanlah keputusan yang benar.


Inuyasha mengayunkan pedang di tangannya lagi, bersiap menyerang. Tetapi, seketika, tangan Kenji menghentikannya. "Jangan membuat keadaan makin memburuk, Inuyasha."


"Jadi kau menyuruhku membiarkan mereka yang mengincar nyawa anakku, berengsek???!" tanya Inuyasha penuh kemarahan pada Kenji.


Kenji mengeleng kepala melihat sikap Inuyasha. Kenapa putra bungsu sahabatnya ini memiliki emosi yang selalu meledak-ledak? Dari siapa dia menwarisinya?—dia ingat jelas Inu no Taisho dan Izayoi tidak seperti ini.


Takeru tertawa melihat sikap Inuyasha. "Aku tidak pernah memerintah penghianat itu membunuh anakmu, hanyou."


"Kau kira aku akan percaya pada omonganmu!!??" balas Inuyasha sambil berusaha melepaskan diri dari Kenji.


Takeru tertawa terbahak-bahak. Dia tidak mempedulikan Inuyasha, dia menolehkan wajahnya menatap Sesshoumaru. "Apakah kau akan menuntut jawaban dan itikad baik demi hanyou dan manusia, Sesshoumaru?"


Sesshoumaru menatap Takeru. Tapi, seperti biasa, dia tidak mengatakan apa-apa, dan itu membuat Takeru tersenyum. Dia tahu, nyawa anak Inuyasha dan teman-temannya tidak akan pernah menjadi sesuatu di mata inuyoukai itu.


Kiri yang ada disamping Sesshoumaru menatap sekilas kepala Sen. Youkai itu sempat melarikan diri sesaat setelah Rin menggunakan meido seki. Dirinya yang menghawatirkan Kira dan Rin saat itu, jelas telah melupakan lawan yang telah dikalahkan. Sejenak kemudian, senyum kecil kemudian menghiasi wajah cantik inuyoukai itu. Dia merasa lucu, sebab nasib Sen tetap sama, meski tidak mati di tangan barat, youkai itu mati di utara, bahkan di tangan tuannya sendiri.


"Sesshoumaru-sama, ada yang ingin kusampaikan?" suara pelan seseorang tiba-tiba terdengar.


Dari samping, Kohaku tiba-tib muncul bersama dengan Shippo. Mereka berjalan mendekat melewati para youkai yang ada. Wajah taijiya muda itu datar tanpa ekspresi, sedangkan untuk Shippo, ketakutan terlihat jelas.


Tiba di depan Sesshoumaru, Kohaku berlutut memberikan hormat, begitu juga dengan Shippo yang badannya terus saja gemetar.


"Saat perang barat dan selatan berlangsung di puncak gunung houshi. Hamba dan Shippo menemukan sepasukan besar youkai utara yang bersembunyi dalam sebuah kekkai di bawah kaki gunung houshi."


Apa yang dikatakan Kohaku dengan segera membuat suasana menjadi ribut.


Sesshoumaru menolehkan pandangannya pada Takeru. Dan seketika juga senyum di wajah penguasa tanah utara itu menghilang.


Takeru mengutuk dalam hatinya. Matanya terarah pada Kohaku yang membelakanginya. Bagaimana bisa manusia itu menyadari pasukannya yang bersembunyi di bawah kaki gunung houshi?


Manusia.


Kemarahan luar biasa memenuhi hatinya. Semuanya gara-gara manusia. Jika saja, gadis manusia itu tidak muncul dan menggunkan meido seki, keadaan tidak akan seperti ini. Perang barat selatan tidak akan berakhir dengan hasil yang mengejutkan, dan dia Takeru dari utara akan menjadi penguasa seluruh jepang. Lalu sekarang, seorang manusia lagi muncul dan mengungkap keberadaan pasukannya?


Akihiko yang diam membisu tiba-tiba tertawa terbahak-bahak, memecahkan ketegangan yang ada. Mata birunya menatap Takeru. "Apa yang kau lakuakan dengan pasukanmu, Takeru?—bermaksud mencari kesempatan dalam kesempitan?"


Pertanyaan Akihiko membuat Takeru kembali tersenyum. Menahan kemarahan dalam hati, di tertawa. "Aku mengamati perang barat-selatan. Tidak salahkan jika aku menjadi seorang penonton?"


"Penonton dengan jumlah pasukan sebanyak itu?" balas Akihiko sambil tersenyum. "Kau seorang penguasa yang baik, Takeru. Memberikan pasukan besarmu tontonan yang menarik tanpa bermaksud ikut di dalamnya."


Takeru tidak menjawab, dia masih memasang ekspresi senyuman di wajah.


Akihiko kemudian berdiri. Diikuti Tsubasa, penguasa tanah selatan itu membalikkan badan, dia melangkah menuju pasukannya yang segera membuka jalan untuk tuan mereka.


Takeru dari utara yang bodoh, apakah dia berpikir baik dirinya Akihiko dari selatan maupun Sesshoumaru tidak menyadari apa yang diincarnya? Dan yang terpenting, apakah youkai ular itu pikir mereka tidak tahu dari siapa panah youki yang terarah mengincar Rin?

__ADS_1


Berhenti sejenak, Akihiko menolehkan pandangannya pada Takeru sebentar. Senyum sinis penuh hinaan memenuhi wajah tampannya. "Yang menyerang Rin adalah kamu, kan? Aku sesungguhnya ingin memotong lehermu sekarang, tapi perang lain akan kembali berlangsung dan Rin tidak menginginkannya. Kau harus berterima kasih padanya."


Tertawa dingin Akihiko melangkah maju lagi. "Tidak perlu bersembunyi dan menggunakan cara busuk, Takeru. Selatan bersedia meladeni utara kapan saja."


Takeru tidak membalas ucapan Akihiko lagi. Mata hijaunya menatap sosok penguasa tanah selatan tersebut. Youkai serigala itu tahu serangan yang mengincar hime dari barat adalah serangannya? Menatap Sesshoumaru, ada kepanikan dalam hatinya.


Sesshoumaru juga tiba-tiba berdiri, ekspresi wajahnya tetap datar seakan tidak terjadi apa-apa. Tapi, mata sepasang merah darahnya menintimidasi siapapun yang melihat. Melangkah pelan, dia melewati Kohaku dan Shippo yang masih berlutut memasuki rumah Inuyasha. Inuyoukai penguasa tanah barat itu tidak menatap Takeru sedikitpun.


Sesshoumaru menahan kemarahan luar biasa dalam hatinya. Dia tidak mau berhadapan dengan Takeru sekarang, seban dia ragu bisa mengontrol dirinya. Sesungguhnya, dia ingin menyerang dan menghancurkan utara sekarang, atas apa yang dilakukan Takeru. Tapi, kata Akihiko barusan tergiang, dan itu benar, yakni; Rin tidak menginginkan perang yang pasti akan terjadi jika Takeru mati di tangannya.


Inukimi tiba-tiba tertawa terbahak-bahak. Mata emasnya menatap penuh hinaan pada Takeru. "Mau Timur atau Utara, kalian benar-benar mirip dan lemah," senyumnya. "Jika kelak ingin bermain ular kecil, carilah aku, dengan senang hati aku meladenimu."


Membalikkan badan, Inukimi kemudian meloncat ke atas langit dan menjauh, namun suara tawa bergema memenuhi langit.


Inuyasha yang melihat Sesshoumaru dan Akihiko, bahkan Inukimi tidak mempedulikan Takeru, tiba-tiba kehilangan semangat dan juga kemarahan dalam hatinya. Menatap sejenak penguasa tanah utara itu, dia tiba-tiba merasa jika youkai di depannya adalah youkai rendah dan lemah yang tidak pantas untuk menjadi lawannya.


Berdecak kesal, Inuyasha kemudian memukul tangan Kenji yang menahannya. "Tidak perlu menahanku lagi, aku tidak berniat lagi melawan youkai lemah itu."


Melangkah menjauh, inuhanyou itu berjalan ke arah rumah Miroku. "Miroku, Kohaku, Shippo, sebaiknya kita menemani dan bermain dengan Shiro serta yang lainnya saja."


Miroku tertawa mendengar ucapan Inuyasha. Ada kegembiraan dalam hatinya melihat sikap inuhanyou itu sekarang, setidaknya mereka bisa menghindari pertempuran di desa manusia ini. Melangkah kakinya, dia mengejar temannya tersebut. "Baiklah, tunggu aku!"


Kohaku dan Shippo juga segera berdiri dan menyusul Inuyasha dan Miroku. Terutama Shippo, youkai rubah itu berlari dengan sangat cepat dan gembira mendekati inuhanyou tersebut.


Sepeninggalan semuanya, Kenji tersenyum menatap Takeru. "Kurasa aku sudah bisa mengatakan bahwa pertemuan ini sudah selesai. Kalian boleh pulang ke wilayah kalian jika tidak ada keperluan lagi, Asano, Takeru."


Asano tidak mengatakan apa-apa, seperti biasa, dia masih mempertahankan senyum bersahabatnya. Sedangkan untuk Takeru, dia mengepal tangannya hingga berdarah. Kemarahan luar biasa memenuhi hatinya, pertama kali dia, Takeru sang penguasa tanah utara merasakan penghinaan sebesar ini di depan seluruh youkai di jepang.


Di jepang, barat dan selatan adalah yang terkuat, utara berada di bawah dan timur sebagai yang terlemah. Takeru tidak berani mengambil resiko dan berperang dengan barat dan selatan bersamaan. Utara akan hancur jika dia melakukan itu. Karena itu, untuk keadaan sekarang, dia hanya bisa diam dan menerima penghinaan ini.


Mata hijau Takeru memerah seperti darah. Dia bersumpah atas kebesaran nama penguasa tanah utara, dia akan membalas semua penghinaan ini ke depannya.


....xOxOx....


Kagome menguap pelan. Malam sudah tiba, hanya lampu minyak yang kini menjadi penerang ruangan. Mengangkat kedua tangan ke atas, miko masa depan itu berusaha merenggangkan otot-otot badannya yang kaku.


Mata Kagome kemudian jatuh pada sosok Sesshoumaru yang duduk di samping Rin. Inuyoukai itu sudah di sana sejak siang tadi. Dia tidak mengerakkan badan dan pandangannya sedikitpun dari sosok gadis manusia yang terbaring di atas futon.


Kagome tersenyum kecil, sesungguhnya dia ingin mengusir Seshoumaru keluar, sebab dia takut akan ada beberapa youkai lagi yang akan masuk ke dalam kamar yang kecil ini. Namun, karena hingga malam tiba, tidak ada seorangpun yang datang lagi, dia membiarkannya. Lagian, miko masa depan ini merasa, sosok yang paling ingin dilihat Rin saat sadar mungkin adalah inuyoukai ini.


"Kenapa Rin masih belum sadar?" pertanyaan Sesshoumaru tiba-tiba memecahkan keheningan, membuat Kagome cukup terkejut, sebab ini adalah pertama kalinya inuyoukai ini bersuara sejak memasuki kamar ini sejak siang tadi.


Kagome tertawa pelan, "Kurasa Rin-chan akan sadar tidak lama lagi. Tapi, dia akan tetap harus beristirahat, sebab dia masih cukup lemah."


Sesshoumaru tidak memberikan reaksi sedikitpun mendengar jawaban Kagome. Dia kembali diam membisu.


Menatap semakin lama kedua sosok di depannya, Kagome tidak bisa menghentikan niat menggoda Sesshoumaru dalam hatinya meski yang di depannya adalah inuyoukai penguasa tanah barat yang ditakuti semua orang. Senyum lebar menghiasi wajah cantiknya,"Rin-chan itu cantik sekali, kan, kakak?"


Sesshoumaru tidak menjawab. Seperti biasa, inuyoukai itu diam membisu.


"Semakin dewasa, dia semakin cantik dan cantik. Aku yakin ada banyak sekali manusia maupun youkai yang akan mengejar cintanya." lanjut Kagome lagi sambil tertawa kecil. "Apa yang akan kau lakukan kedepannya, Kakak?"


Sesshoumaru sesungguhnya ingin mengabaikan Kagome, tetapi pertanyaan miko itu mau tidak mau membuatnya bertanya pada diri sendiri; apa yang akan dilakukannya ke depan?—dia tidak tahu.


"Rin-chan seorang manusia, kakak. Dia akan dewasa dengan cepat. Dia ingin selalu bersamamu, bukankah kau seharusnya memberikan dia sebuah jawaban?" Kagome meneruskan ucapannya, dia tidak mempedulikan sedikitpun Sesshoumaru yang kini menatapnya. "Jangan membuat Rin-chan menunggu terlalu lama?"


Kagome tidak mengatakan apa-apa lagi, tapi senyum tetap mengembang di wajahnya. Dia menatap balik Sesshoumaru dalam diam tanpa rasa takut.


"Kenapa kau yang seorang manusia mau bersama hanyou?" tanya Sesshoumaru tiba-tiba.


Pertanyaan Sesshoumaru mengejutkan Kagome. Sebab, dia tidak menyangkab inuyoukai itu akan memberikan reaksi seperti ini. Mengedip mata berkali-kali dia memastikan apakah yang barusan didengarnya memang berasal dari mulut penguasa tanah barat itu.


Sesshoumaru kembali diam membisu, namun pandangan matanya membuat Kagome yakin pertanyaan yang didengarnya barusan memang berasal dari Sesshoumaru.


Tersenyum kecil, Kagome cuma bisa memberikan satu jawaban. "Karena aku ingin bersama dengannya."


Jawaban adalah jawaban yang ambigu, Kagome tahu itu, dan Sesshoumaru tidak mengerti. "Bersama Inuyasha, aku bahagia, Kakak. Karena itu aku ingin bersamanya—karena aku mencintainya."


Apa yang dikorbankan Kagome untuk bisa bersama Inuyasha, mungkin tidak banyak yang tahu. Dia meninggalkan dunia di mana keluarganya berada-dunia di mana dia dilahirkan dan dibesarkan. Kenapa?—itu karena dia mencintai Inuyasha. Mungkin ada banyak orang yang mengatakan dia bodoh. Tapi, saat dia melihat Inuyasha yang memeluk Shiro sesaat putra mereka lahir, dia tahu, pengorbannya sepadan. Dia tetap akan memilih dunia ini lagi jika dia disuruh untuk memilih.


"Kau akan menua dan mati lebih dulu, apakah kau pernah memikirkannya?" tanya Sesshoumaru lagi datar.


Kagome tidak bisa menahan senyumnya. Mungkin ini adalah pembicaraan terlama yang dilakukannya dengan Sesshoumaru. Tidak pernah dia sangka inuyoukai yang terkenal berkebangaan tinggi dan membenci manusia akan bertanya seperti ini padanya. Menatap Rin sejenak, Kagome tahu, gadis manusia inilah yang merubah inuyoukai ini.


"Aku akan menua dan mati meninggalkan Inuyasha serta anak kami, itu adalah kenyataan." senyum Kagome sendu.


Manusia dan youkai, manusia dan hanyou. Sebenarnya cerita mereka mirip, manusia akan menua dan mati terlebih dahulu. Walau Kagome mengorbankan segala yang telah dimilikinya, dia tahu, dia tidak akan bisa menua bersama Inuyasha. Tapi, dia bukan orang yang pesimis, dia orang yang optimis, dia akan melewati dan menikmati hari-hari kebersamaan mereka hingga maut memisahkan.


"Tapi, daripada memikirkan masa depan yang bagiku masih lama, bukankah aku seharusnya mensyukuri dan menikmati masa sekarang?" lanjut Kagome lagi sambil tertawa.


Sesshoumaru tidak mengatakan apa-apa lagi, dia kembali menolehkan pandangannya pada Rin. Kagome hanya bisa tersenyum, dia tahu apa maksud pertanyaan Seaahoumaru, tapi, dia tidak tahu, apakah inuyoukai itu mengerti jawabannya.


Menghela napas dengan senyum yang masih ada di wajahnya. Kagome kemudian berdiri, "Baiklah, kakak. Aku akan melihat Inuyasha dan putra kami. Panggil saja aku jika kau butuh."


Kagome tidak menunggu jawaban Sesshoumaru, sebab dia tahu, inuyoukai itu tidak akan menjawab. Dengan pelan tanpa suara, diapun meninggalkan kamar itu menuju kamar lainnya di mana Inuyasha dan Shiro berada.


Keheningan memenuhi ruangan ketika Kagome keluar. Sesshoumaru tetap tidak bergerak.


Masa depan yang lama?—Sesshoumaru memikirkan jawaban Kagome. Menua dan mati bagi manusia adalah waktu yang lama, tapi, bagi hanyou maupun youkai yang berusia panjang, itu bagaikan satu kedipan mata.


Mengangkat tangan kanannya, jari-jari Sesshoumaru perlahan menyusuri wajah Rin yang terbaring tenang. Kehangatan dirasakannya saat kulit mereka bersentuhan. Dari pipi gadis itu, tangannya kemudian naik menyentuh mata yang tertutup rapat, turun ke hidung lalu ke mulut.


Rin ingin bersama Sesshoumaru-sama selamanya.


Sesshoumaru bertanya, Rin selalu mengatakan keinginannya adalah selalu bersama selamanya. Tapi, untuk pertama kali, dia berpikir apakah gadis ini tahu apa artinya selamanya bersama? Suatu saat, jika gadis ini benar-benar telah menua dan mati, meninggalkannya sendiri, akan seperti apa dunianya?


Perang barat dan selatan telah mengajarkan padanya. Apa artinya kehilangan gadis manusia ini. Saat dia melihat panah youki Takeru tertuju pada Rin tanpa bisa dihentikannya, dia mendapatkan jawaban, yakni;—dia bisa gila.


Youkai adalah makhluk paling superior di dunia. Tidak ada gunanya berperasaan. Perasaan hanya membuatmu lemah. Perasaan hanya akan membuatmu musnah. Youkai adalah makhluk yang dapat hidup sendiri.


Kalimat demi kalimat yang selalu di dengarnya semasa kecil melintas dalam benak Sesshoumaru. Dan dia menyadari, kalimat itu benar. Saat dia melihat Rin dalam bahaya, dia tidak mempedulikan lagi Akihiko yang dilawannya, yang ingin dilakukannya hanyalah menyelamat gadis itu dan menjauhkan dia dari bahaya—Rin telah menjadi kelemahannya tanpa dia sadari.


Perlahan, tangan Sesshoumaru bergerak lagi, dia menyentuh rambut hitam Rin. Menutup mata, perlahan dia mengangkatnya ke atas dan menciumnya.


Sesshoumaru mencintai Rin, dan Rin juga mencintainya, inuyoukai itu sadar, tapi, berani kah dia? Beranikah dia yang merupakan seorang youkai menerima dan membalas cinta itu? Apa yang akan terjadi pada mereka kelak jika dia membalas cinta tersebut?


"Sesshoumaru-sama..."


Suara pelan bagaikan dentingan lonceng memanggil namanya. sesshoumaru segera membuka mata, dan yang dilihatnya adalah senyum musim semi abadi Rin yang tertuju padanya.


Sesshoumaru tidak bergerak, mata emasnya menatap lurus sepasang mata coklat jernih yang ada di depannya.


"Sesshoumaru-sama," panggil Rin lagi dengan pelan. Perlahan, tangan munggilnya bergerak menyusuri pipi Sesshoumaru. Kehangatan yang dirasakan membuat senyum di wajahnya semakin lebar. "Rin merindukan Sesshoumaru-sama.."


Tangan yang memegang rambut Rin terlepas, perlahan, tangan Sesshoumaru itu kembali bergerak, menyentuh tangan munggil yang ada di pipinya. Mata emas itu kembali tertutup. Perasaan lega memenuhi hatinya saat melihat mata itu terbuka lagi-akhirnya gadis ini sadar.


Melihat reaksi Sesshoumaru, Rin tidak menarik tangannya, malahan dia membiarkan inuyoukai itu. Hati kecil sangat gembira, dia sangat merindukan kebersamaan mereka semasa dia berada di selatan.


"Anda tidak terluka kan, Sesshoumaru-sama?" tanya Rin kemudian, matanya menatap sekujur badan inuyoukai itu penuh kekhawatiran. Dia teringat apa yang dilihatnya dalam medan perang barat selatan.


Sesshoumaru membuka mata dan menatap wajah Rin yang tidak bisa menyembunyikan kekhawatirannya. Dia tidak tahu mengapa gadis itu menghawatirkannya, bukankah dia seharusnya menghawatirkan dirinya sendiri yang sebagai manusia bisa menggunakan salah satu pusaka youkai ,meido seki?


"Jangan pernah melakukan itu lagi." ujar Sesshoumaru tiba-tiba, dia menekan semakin kuat jari tangan Rin yang ada dipipinya. "Jangan pernah membahayakan hidupmu untuk siapapun lagi, termasuk Sesshoumaru ini."


Mata Rin terbelalak mendengar apa yamg dikatakan Sesshoumaru.


"Kau tidak akan dapat dihidupkan kembali lagi. Kematian ketiga akan menjadi kematianmu yang sesungguhnya, karena itu, jangan melakukan itu, meskipun untuk Sesshoumaru ini."


Kata-kata yang diucapkan Seshoumaru ini, mungkin merupakan salah satu kata terpanjang yang pernah diucapkan inuyoukai ini pada Rin. Perasaan hangat seketika memenuhi hati gadis manusia itu. Dia bisa merasakan, inuyoukai ini menghawatirkannya. Tapi, bagaimana bisa dia menuruti kata-kata itu?


Menggeleng kepala, Rin tertawa kecil, matanya menatap Sesshoumaru penuh kehangatan. "Hidup Rin adalah pemberian Sesshoumaru-sama, karena itu, untuk anda, Rin bersedia untuk mati."


"Rin." Sesshoumaru ingin menyanggah jawaban gadis itu. Tapi melihat tawa bahagia di wajah itu, dia tidak bisa melakukannya.


Perlahan, Rin mengedipkan matanya beberapa kali, rasa kantuk yang luar biasa tiba-tiba memguasainya. "Maaf, Sesshoumaru-sama, tiba-tiba Rin merasa sangat ngantuk..."


Mata Rin kembali tertutup, dia kembali jatuh tertidur. Sesshoumaru tidak membangunkannya, dia tahu gadis itu masih sangat lemah dan memerlukan istirahat.


Menurunkan tangan munggil yang ada di pipinya, Sesshoumaru kemudian mendekatkan wajahnya pada wajah Rin yang tertidur tenang. Perlahan, bibirnya mencium pelan kening sang gadis.


"Sesshoumaru tidak menginginkan kau mati untuknya," dalam kegelapan malam, pertama kalinya, Sesshoumaru menyuarakan isi hatinya yang terdalam. "Sesshoumaru ini menginginkan kau hidup untuknya, Rin..."

__ADS_1


....xOxOx....


__ADS_2