Till The End Of Time [ Inuyasha Fanfiction ]

Till The End Of Time [ Inuyasha Fanfiction ]
Chapter 87


__ADS_3

Tsubasa menatap ruang kerja Akihiko sang penguasa tanah selatan dari luar. Di depan pintu itu, dua orang youkai prajurit berdiri dengan wajah pucat pasi dan badan gemetar. Telinga selir kesayangan penguasa tanah selatan iti bisa mendengar jelas suara ribut dari dalam, dan juga aura mengerikan yang terpancar.


Melangkah maju, Tsubasa membuka pintu ruang kerja itu pelan dan berjalan memasukinya. Yang pertama kali dilihatnya ada ruang yang hancur berantakan, meja dan rak yang patah, dokumen yang berserakan–tidak ada lagi kerapian dan keharmonisan sebelumnya dari ruang ini yang tersisa.


Mata Tsubasa kemudian terarah pada sosok seorang youkai berambut perak yang duduk di dekat jendela.


Tidak bergerak meskipun sudah menyadari kehadirannya, youkai berambut perak itu menatap keluar pada pohon sakura yang mekar dengan indah di luar. Ditangannya, ada secarik surat yang diremasnya hingga lecek.


"Apa kau datang untuk mentertawakan diriku ini, Tsubasa?" tanya youkai berambut perak itu datar.


"Hamba tidak mentertawakan anda, Akihiko-sama," Jawab Tsubasa dengan datar juga. "Hamba menghawatirkan anda."


"Bukankah yang kau harapkan sudah jadi kenyataan," Akihiko tertawa mendengar jawaban Tsubasa. Membalikkan badan, dia menatap Tsubasa dengan sepasang mata merah darah. "Kau kira aku tidak tahu apa yang kau lakukan selama Rin dan anjing itu di istanaku? Kau kira aku tidak tahu apa yang kau ucapkan pada anjing itu?"


Mata Tsubasa terbelalak mendengar ucapan Tsubasa. Namun, sejenak kemudian dia tertawa. "Hamba hanya bertanya padanya apa yang akan dilakukannya karena anda berniat menjadikan hime dari barat sebagai kisaki tanah selatan, salahkan hamba?"


Mata merah darah Akihiko bersinar penuh kemarahan menatap Tsubasa. Mulutnya terbuka memperlihatkan seringai mengerikan.


"Meski hamba tidak melakukan apa-apa," lanjut Tsubasa lagi. "Hime dari barat juga tidak akan pernah menjadi milik anda, Akihiko-sama. Hime itu mencintai Sesshoumaru dari barat seperti Sesshoumaru juga mencintainya."


Ucapan Tsubasa membuat Akihiko tiba-tiba tertawa keras. "Cinta?? Cinta katamu??—anjing itu tidak pernah mencintainya!! Anjing itu menjadikannya kisaki karena meido seki!!"


Tsubasa tidak mengatakan apa-apa. Diam membisu, dia menatap penguasa tanah selatan yang tertawa bagaikan orang gila.


"Anjing itu tidak akan mencintai seorang manusia!!!"


Seulas senyum sendu menghiasi wajah Tsubasa. Ada rasa sakit dan kesedihan dalam hatinya melihat Akihiko sekarang. Dia tahu, penguasa tanah selatan sedang berbohong pada dirinya sendiri. Youkai serigala itu jelas tahu, bahwa Sesshoumaru juga sangat mencintai gadis manusia itu—Akihiko hanya tidak dapat menerima kenyataan yang ada.


Semalam, sepucuk surat undangan dari barat untuk Akihiko tiba. Surat yang ditunggu-tunggu oleh penguasa tanah selatan yang berkeinginan mengunjugi barat demi seorang gadis manusia. Namun, ternyata surat yang datang berbeda. Surat itu memang surat undangan ke barat, hanya saja surat itu adalah surat undangan pernikahan, pernikahan—Sesshoumaru, sang penguasa tanah barat dan Rin, hime dari barat.


....xOxOx....


Akiko, hime dari timur mengoyak surat undangan kepada Asano, penguasa tanah timur penuh kemarahan. Kedua mata merah darahnya bersinar penuh nafsu membunuh, seulas seringai mengerikan memenuhi wajah cantiknya.


"Jadi dia lebih memilih seorang manusia!! Bagus!! Bagus sekali Sesshoumaru dari barat!!" ujar Akiko sambil tertawa. Matanya kemudian menatap Asano yang ada di depannya. "Apa yang akan anda lakukan sekarang, Ayahnda?"


Asano diam membisu. Namun, dalam kepalanya dia juga berpikir keras, sebab dia tidak menyangka bahwa Sesshoumaru akan menolak tawarannya menggabung Timur dan barat dengan menjadikan Akiko sebagai kisaki barat.


"Hime dari barat, seperti apa dia?" tanya Asano tiba-tiba.


Akiko terdiam mendengar pertanyaan Asano. Seperti apa hime dari barat?—dia adalah seorang gadis manusia. Gadis manusia yang kebetulan memiliki wajah cantik dan disukai Inukimi, lemah dan tidak berguna. Tapi, gadis manusia itu jugalah yang dipilih Sesshoumaru menjadi kisakinya.


Asano yang melihat Akiko terdiam tidak bertanya apa-apa lagi. Dalam hatinya, dia sangat penasaran dengan gadis manusia yang menjadi hime dari barat dan tidak lama lagi menjadi kisaki dari tanah barat.


Berita kecantikannya sudah sangat terkenal. Namun, dia yang menghidupkan para youkai dalam perang barat selatan membuatnya menjadi pujaan barat dan selatan. Lalu, dari info yang didapatkannya tidak lama ini, gadis manusia itu adalah satu-satunya orang yang bisa menggunakan kekuatan sesungguhnya meido seki.


Meido seki.


Pusaka youkai barat yang tidak diketahui. Dari informasi yang didapatkan juga, Asano mendengar, bahwa pusaka itu memiliki kekuatan yang sangat luar biasa. Bahkan, Sesshoumaru, Inukimi, Akihiko dan Inuyasha kewalahan menanganinya.


Kekuatan seperti itu, Asano yakin, itulah alasan Sesshoumaru mau menjadikan seorang gadis manusia kisaki tanah barat. Anjing yang hanya tahu mengejar kekuatan tidak mungkin membiarkan meido seki jatuh pada tangan orang lain.


"Akiko," panggil Asano kemudian dengan seulas senyum di wajah. "Yang kelak akan duduk sebagai kisaki barat adalah kamu."


Seperti apa dunia youkai, Asano tahu. Sesshoumaru berani mengangkat seorang gadis manusia menjadi kisaki barat, tapi berapa lama gelar itu bisa bertahan? Berapa lama gadis manusia itu dapat duduk di posisi tinggi itu?


Manusia.


Ras lemah dengan darah yang kotor. Selamanya, hime dari barat tidak akan dapat memberikan Sesshoumaru apa yang akan menjadi kewajibannya sebagai seorang penguasa.


Saat gadis manusia itu sudah tidak berguna, Sesshoumaru pasti akan membuangnya. Sebab, inuyoukai itu pasti sadar, barat yang besar dan kuat tidak akan mungkin menerima seorang pewaris yang merupakan seorang–hanyou.


Yang akan tertawa, duduk sebagai kisaki dan melahirkan pewaris barat yang sah kelak adalah putrinya, Akiko.


....xOxOx....


Takeru tertawa terbahak-bahak membaca surat undangan pernikahan di tangannya. Menurukan surat itu, mata hijaunya kemudian terarah pada sosok seorang youkai laki-laki di depannya.


Youkai itu seorang laki-laki muda dengan rambut berwarna biru panjang dengan sepasang mata berwarna putih. Wajah tampannya yang lebih tepat dikatakan cantik tidak menunjukkan ekpresi sedikitpun.


"Anjing itu akan mengangkat seorang manusia menjadi kisaki barat," senyum Takeru lebar. "Kau pasti sudah tahu, kan?"


Youkai berambut biru itu tidak mengatakan apa-apa. Tapi, sejenak kemudian dia membuka mulutnya setelah sekian lama. "Aku sudah menduga hari ini akan tiba saat aku melihat Rin pertama kali."


"Rin?" seru Takeru terkejut. "Kau mengenal gadis itu?"


Youkai berambut biru itu mengangguk kepala. "Gadis manusia yang sangat unik dengan kecantikan yang sangat langka. "


"Oh, ya?" ujar Takeru. Rasa penasaran memenuhi hatinya, youkai berambut biru ini sampai memuji kecantikannya? Secantik apa rupa hime dari barat yang begitu terkenal itu? Dirinya tidak pernah melihat jelas gadis manusia itu pada perang barat selatan.


"Gadis manusia yang sangat mudah untuk disukai. Kudengar, Akihiko juga sangat menyukainya." Lanjut youkai itu lagi. Mata putihnya menerawang jauh mengingat gadis manusia yang sehangat matahari itu.


"Juga?" sela Takeru sambil tertawa. "Juga disini berarti serigala itu, atau kau sendiri?"

__ADS_1


Pertanyaan Takeru membuat youkai berambut biru itu tersenyum. "Kami berdua."


Takeru tertawa semakin keras mendengar jawaban youkai itu. "Kalau begitu, kenapa kau berada di istanaku ini sekarang? Bukankah seharusnya kau memikirkan rencana merebutnya dari anjing itu sekarang?"


Youkai berambut biru itu tertawa kecil mendengar pertanyaan Takeru. Bangkit berdiri, dia berjalan pelan ke arah jendela kamar yang terbuka dan menatap pohon sakura di depan. "Dalam mata Rin hanya ada Sesshoumaru. Baginya, Sesshoumaru adalah segalanya tidak peduli apa yang kulakukan."


"Jadi kau menyerah?"


Tertawa, youkai berambut biru itu kemudian membalikkan badan menghadap Takeru. Seulas senyum menyeringai memenuhi wajah tampannya sedangkan sepasang mata putihnya bersinar penuh kegilaan. "Sesuatu yang tidak bisa kumiliki, juga tidak akan dimiliki orang lain. Dan jika dimiliki orang lain—aku akan menghancurkannya."


....xOxOx....


Angin berhembus pelan memasuki kamar tidur sang penguasa tanah barat melalui jendela yang terbuka, membawa masuk bau harum musim semi yang menyenangkan.


Hari ini adalah hari yang cerah di penghujung musim semi, di mana matahari bersinar dengan hangat. Kelopak-kelopak bunga sakura gugur ke bawah dengan pelan dibawa angin bagaikan sedang menari merayakan suka cita dalam istana tanah barat.


Seorang inuyoukai berdiri dalam diam dengan wajah datar tanpa ekspresi. Berambut perak pendek dengan sepasang mata berwarna emas. Dua garis unggu di pipi dan bulan sabit di dahi. Dia mengenakan kimono hitam dengan lambang kebesaran barat dan hakama bermotif garis.


Telinganya yang memiliki indra pendengaran yang sangat tajam bisa mendengar jelas suara keributan dari dalam istana yang sedang mempersiapkan upacara besar hari ini, dia juga bisa merasakan jelas aura para youkai yang mulai berdatangan ke istana ini.


Hari ini adalah hari yang ditunggunya. Tidak pernah terbayang dalam hidupnya, bahwa dia akan menunggu hari ini tiba. Hari terpenting dalam hidupnya–hari pernikahannya sendiri.


Jika delapan tahun yang lalu, seseorang mengatakan bahwa dirinya akan menikah, dia mungkin akan tertawa dan mengatakan orang itu gila.


Delapan tahun yang lalu, dia hanya mengejar kekuatan. Dia hanya ingin kuat dan membesarkan barat yang menjadi tangung jawabnya. Jika pun dia akan membutuhkan seorang pewaris untuk barat, dia akan mencari pasangan yang akan melahirkan seorang pewaris untuknya–seperti Taisho dan Inukimi.


Dalam delapan tahun ini, berapa banyak dirinya telah berubah? Sejak dia terluka dan bertemu dengannya–seorang gadis manusia yang akhirnya dia cintai.


Dia yang membenci manusia pada akhirnya mencintai seorang manusia. Dari semua makhluk hidup yang ada, dari semua youkai kuat yang ada, pada akhirnya, dia menjatuhkan pilihannya pada seorang gadis manusia yang lemah dan rapuh seperti kaca.


Kisaki barat–kisaki yang akan duduk setara dengannya, sang penguasa tanah barat adalah seorang gadis manusia.


Gadis manusia yang dihidupkannya, gadis manusia yang mengikutinya, gadis manusia yang dibesarkannya–satu-satunya yang akan dia cintai dalam hidupnya.


Masa depan mereka berdua tidak akan pasti, kebersamaan selamanya tidak akan mungkin, namun, dia tidak ingin menyesal. Untuk gadis yang dicintainya, dia ingin memberikan segalanya–dia ingin menjaga, melindungi dan membahagiakannya selama waktu mengijinkan.


"Sesshoumaru." Suara panggilan pelan seseorang yang memanggil namanya dari belakang menyadarkan inuyoukai itu dari lamunan.


Membalikkan badan, mata emas Sesshoumaru menemukan Inukimi, ibu kandungnya tersenyum di depan pintu kamar yang terbuka.


"Ibunda." Balas Sesshoumaru pelan. Dia tidak bergerak dan wajahnya tetap datar tanpa ekspresi.


Berjalan masuk, mata emas Inukimi menatap sekeliling. Senyumnya di wajah cantiknya semakin lebar, saat dia melihat perhiasan, lukisan indah, shamisen, kimono dan bunga menghiasi beberapa sudut kamar. Kamar tidur putranya, sang penguasa tanah barat yang biasanya suram dan kosong akhirnya memiliki sentuhan seorang wanita.


Sesshoumaru tidak menjawab pertanyaan Inukimi, dia hanya menatap inuyoukai itu dalam diam.


"Apakah kau memikirkan Rin kecil?" tawa Inukimi pelan.


Sesshoumaru tetap tidak menjawab.


Senyum kemudian memenuhi wajah Inukimi. Pada hari sepenting ini, putranya tetap saja tidak berubah. Tenang dan datar tanpa ekspresi. Mengangkat kedua tangan, dia kemudian melangkah selangkah ke depan dan memeluk Sesshoumaru erat.


"Ibunda." Panggil Sesshoumaru pelan. Dia tidak bergerak, namun ada kebingungan dengan pelukan tiba-tiba ibu kandungnya. Tidak pernah inuyoukai yang melahirkannya bersikap seperti ini sebelumnya.


"Biarkan aku memelukmu sebentar." balas Inukimi pelan dan meletakkan wajahnya pada bahu Sesshoumaru.


Putranya.


Putra kandung satu-satunya, putra kebanggaannya. Memeluknya yang sudah dewasa, Inukimi hanya dapat berpikir kembali, betapa kecil anak anjing mungil yang dia lahirkan ratusan tahun yang lalu. Betapa anak itu telah tumbuh besar melebihi dirinya–betapa waktu telah berlalu tanpa disadarinya.


Untuk putranya yang tercinta. Inukimi hanya bisa berdoa walau dia sebagai youkai tidak mempercayai dewa atau Tuhan. Sebagai seorang ibu, dia hanya berharap satu; semoga anaknya bahagia untuk selamanya.


Sesshoumaru tetap tidak bergerak, dia membiarkan Inukimi memeluknya walau kebingungan masih memenuhi hatinya.


Senyum Inukimi semakin lebar, dan akhirnya, senyum itu menjadi sebuah tawa. Melepaskan pelukannya, dia menatap Sesshoumaru lagi, tangan kanannya bergerak menyusuri rambut perak pendek penguasa tanah barat itu. "Dia akan sangat bangga denganmu, Sesshoumaru."


Sesshoumaru kembali tertegun mendengar ucapan Inukimi.


"Kau sudah melebihinya. Kekuatan, kekuasaan, kebesaran, kebijaksanaan dan–keberanian. Namamu selamanya akan lebih besar dari nama ayahmu, putra Taisho."


Melebihi ayahnya.


Sejak dulu, Sesshoumaru tahu, dia terobsebsi menjadi kuat dan melampaui Inu no taisho, ayah kandungnya. Akan tetapi, tidak tahu kapan, obsebsinya menghilang. Kekuatan yang selalu dikejar dan merupakan hal terpenting dalam hidupnya, tidak tahu sejak kapan tidak penting lagi. Dia tidak peduli lagi apakah dia akan melampaui ayahnya atau tidak, sebab, dirinya sudah sadar hidup yang hanya mengejar kekuatan bukanlah hidup.


Sesshoumaru tidak ingin hidupnya penuh dengan kehampaan, kedinginan, kesendirian, darah dan teriakan tangisan lagi. Dia ingin hidup yang penuh warna dan kehangatan, penuh lagu dan tarian, penuh senyum dan tawa–dia ingin hidup yang bahagia bersama gadis manusia yang dicintainya.


"Sesshoumaru-sama," suara seorang youkai prajurit istana tanah barat yang berlutut penuh hormat di depan pintu yang terbuka tiba-tiba terdengar. "Sudah waktunya."


Inukimi tertawa mendengar ucapan prajurit itu. Menatap Sesshoumaru sejenak, dia kemudian menurunkan tangannya yang menyentuh rambut putranya. Berjalan pelan, dia kemudian mengambil haori hitam berlambang barat yang tergantung di sudut kamar.


Dengan senyum yang masih mengembang, dengan pelan, Inukimi kembali mendekati Sesshoumaru. Tidak mengatakan apa-apa, dia membantu memakaikan haori itu pada putra kandungnya.


"Putraku," panggil Inukimi pelan dengan sepasang mata emas yang bersinar penuh kelembutan. Kedua tangannya perlahan kembali terangkat menyentuh kedua pipi Sesshoumaru.  "Kau harus bahagia..."

__ADS_1


Sesshoumaru tertegun dengan ucapan Inukimi yang tiba-tiba, dan juga ini adalah pertama kalinya dia melihat mantan penguasa tanah barat menatapnya selembut ini. Tapi, tidak tahu kenapa, ada kehangatan memenuni hatinya.


"Sesshoumaru ini akan bahagia, Ibunda."


....xOxOx....


"Aku tidak mengerti, kenapa aku harus berada di sini??!" tanya Inuyasha dengan wajah penuh kekesalan. Dia berdiri di depan koridor menuju kamar tidur penguasa tanah barat dengan Kagome yang mengendong Shiro di samping. "Kita seharusnya menemani Rin, bukan menemai si berengsek ini!!!"


"Kau itu adik seayah dan keluarga satu-satunya Kakak setelah Inukimi-san, Inuyasha," balas Kagome tidak peduli. "Jadi, kau sepantasnya berada di sini, bukan di rombongan Rin."


"Kami seayah, tapi kami bukan keluarga!!" protes Inuyasha kesal. Tapi Kagome tetap tidak mempedulikan.


Kagome, Inuyasha dan Shiro sedang berdiri menunggu Sesshoumaru di dalam koridor, dan itu semua dikarenakan inuhanyou itu tidak memiliki niat sedikitpun untuk menginjakkan kaki ke kamar saudara seayahnya.


Pemberkatan pernikahan Sesshoumaru dan Rin akan diadakan di bangunan utama istana tanah barat. Sesshoumaru yang berada di paviliun timur istana barat dan Rin yang kini ditempatkan di paviliun barat istana akan bertemu di taman gedung utama dan berjalan masuk bersamaan untuk memulai permberkatan.


Kedua mempelai akan ditemani keluarga, karena itulah Kagome, Inuyasha dan Shiro berdiri di sini menunggu Sesshoumaru. Untuk Rin yang merupakan seorang gadis yatim piatu, Kaeda, Miroku, Sango dan yang lainnya akan menemani–sebab bagi mereka gadis itu memanglah keluarga.


Prosesi pernikahan ini memang diadakan sesuai tradisi manusia, tapi, kenyataannya, tidak semua tradisi dapat diadakan, mengingat Sesshoumaru merupakan seorang youkai. Salah satunya, tidak mungkin ada miko maupun pendeta yang berani melakukan ritual penyucian pada kedua mempelai sebelum prosesi pernikahan, kan?


Rin sendiri sama sekali tidak mempedulikan tradisi manusia yang ada, bahkan sesungguhnya gadis manusia itu lebih menginginkan pernikahan ini diadakan sesuai tradisi youkai dimana proses pernikahan adalah dimulai dengan dia diberi tanda oleh Sesshoumaru dan ditutup dengan pesta makan dan minum–mudah dan sederhana.


"Kalian telah menunggu lama, miko aneh, putra taisho." Suara tawa Inukimi tiba-tiba terdengar memecahkan keheningan.


Menoleh ke belakang menatap sumber suara, mata Inuyasha dan Kagome menemukan rombongan youkai penguasa tanah barat di depan mereka.


Rombongan itu tidak besar, terdiri dari dua puluh orang inuyoukai pengawal yang mengenakan baju jirah dengan lambang barat terbagi menjadi dua barisan di kiri dan kanan. Inuyoukai pada barisan terdepan membawa bendera berlambang barat, sedangkan sisanya membawa tombak di tangan. Sekali lihat, semua akan tahu, bahwa para inuyoukai prajurit ini adalah prajurit terbaik.


Ditengah dua barisan inuyoukai tersebut, Sesshoumaru berjalan  dengan Inukimi di samping. Mengenakan kimono dan haori hitam berlambang kebesaran barat, wajah tampan Sesshoumaru tidak memperlihatkan sedikitpun ekspresi.


"Kakak!!" panggil Kagome gembira. Dengan Shiro yang ada dalam pelukan, dia menarik Inuyasha mendekati rombongan tersebut.


Mata hitam Kagome menatap sosok Sesshoumaru. Ini adalah pertama kalinya dia melihat inuyoukai yang biasanya selalu mengenakan kimono berwarna putih mengenakan kimono formal berwarna gelap. Lalu, dengan rambut perak panjang yang kini dipotong pendek, sosok penguasa tanah barat benar-benar terlihat sangat berbeda. Namun, harus diakui, dia sangat; tampan.


Pembawaannya yang tenang dan penuh kebanggan. Harga diri tinggi dan wajah tampan yang datar tanpa ekspresi–siapapun yang melihat akan segera tahu, Sesshoumaru adalah youkai bangsawan dengan derajat sangat tinggi. Sungguh tanda tanya besar kenapa Inuyasha yang merupakan adik seayahnya begitu berbeda bagaikan langit dan bumi.


"Selamat Kakak!!" tawa Kagome kemudian. Menatap Shiro yang kini menatap Sesshoumaru, dia menggerakkan tangan anaknya. "Ayo Shiro, ucapkan selamat pada Paman Sesshoumaru."


Shiro menatap Sesshoumaru takut-takut, sebab sampai sekarang, dia masih belum terbiasa dengan aura youkai mengerikan yang dirasakannya dari inuyoukai itu. Tapi,  memaksa senyum kecil, dia berujar pelan. "C-celamat, paman."


Sesshoumaru tidak membalas ucapan selamat dari Kagome dan Shiro. Mata emasnya hanya menatap lurus keluarga Inuyasha dalam diam.


"Cih," berdecak tidak suka dan melipat kedua tangan di dada, Inuyasha kemudian berjalan mendekati Sesshoumaru. "Aku melakukan ini untuk Rin, ingat itu!!?"


Sesshoumaru tidak mempedulikan sikap Inuyasha, seperti biasa, dia hanya diam menatap inuhanyou itu.


"Aku menganggap Rin sebagai adik," lanjut inuyasha lagi. Mata emasnya menatap lekat mata emas Sesshoumaru yang identik dengannya. "Dia terlihat sangat bahagia saat bersamamu, karena itulah aku mengijinkannya menikah denganmu. Jangan pernah kau menyakitinya–kau harus membahagiakannya."


Kagome menatap Inuyasha dan menggeleng kepala. Dia benar-benar tidak tahu lagi suaminya ini sesungguhnya adalah adik seayah Sesshoumaru atau kakak laki-laki Rin.


"Sesshoumaru ini pasti akan membahagiakan Rin." Ujar Sesshoumaru kemudian. Ekspresi wajahnya tidak berubah, namun, kedua mata emasnya yang menatap Inuyasha bersinar penuh keseriusan.


Ucapan Sesshoumaru membuat Inuyasha tertegun, sebab, dia tidak menyangka inuyoukai itu akan membalas katanya. Sejenak kemudian, dia segera membuang muka.


"B-baguslah kalau begitu. Aku tidak akan mengucapkan selamat padamu, jadi jangan mengharapkan kata itu dariku," suara Inuyasha semakin lama semakin mengecil. "K-kata, 'Selamat'."


Kagome dan Inukimi yang melihat sikap dan mendengar ucapan Inuyasha, mau tidak mau tertawa terbahak-bahak.


"Kau bilang tidak akan mengucapkannya, tapi kau jelas mengucapkannya, putra Taisho," senyum Inukimi menahan tawa. "Kau benar-benar manis seperti ibu kandungmu, Izayoi."


"Aku tidak mengucapkan selamat pada si berengsek ini!!" teriak Inuyasha keras. Namun, ekspresi wajahnya menghianati ucapannya barusan, Kagome dan Inukimi jelas bisa melihat wajah inuhanyou itu memerah.


Kagome tertawa semakin keras. Dia segera menarik Inuyasha dan berjalan ke belakang Sesshoumaru yang diam membisu mematap Inuyasha. "Iya, iya, kau tidak mengucapkan selamat pada Kakak."


Hubungan Sesshoumaru dan Inuyasha itu tidak pernah baik, Kagome sudah tahu itu sejak pertama kali melihat mereka berdua bertemu. Namun, tidak tahu sejak kapan juga, hubungan di antara mereka berubah. Perlahan nmun pasti, ada rasa saling pengertian yang tercipta.


Tidak tahu kapan dimulai, Sesshoumaru mulai bisa mentoleransi kehadiran Inuyasha, begitu juga sebaliknya dengan Inuyasha pada Sesshoumaru. Sedikit berbeda dan sangat aneh, meski tidak pernah terucap dan terlihat–mungkin jauh dalam hati, mereka berdua sesungguhnya telah mengakui hubungan darah yang ada; keluarga.


Meski mulutnya terus mengucapkan protes, bukankah Inuyasha tetap saja berada dalam rombongan Sesshoumaru?–jika memang tidak mau, Kagome tahu, dia tidak akan dapat memaksa suaminya yang keras kepala itu. Inuyasha memang tidak dapat jujur dengan perasaannya sendiri.


Dengan senyum yang masih ada di wajah, Inukimi kemudian kembali tertawa. "Rombongan kita sudah lengkap, ayo kita menuju taman utama istana."


Ucapan Inukimi dengan segera membuat rombongan yang terhenti kembali bergerak. Tidak ada seorangpun yang mengatakan apa-apa lagi.


Melangkah pelan, mata Sesshoumaru bisa melihat jelas, koridor-koridor panjang kemudian berubah menjadi taman bunga sakura yang bermekar indah. Langit-langit kayu koridor berubah menjadi langit biru cerah dengan matahari yang bersinar hangat. 


Memasuki taman, rombongan mereka kemudian berhenti di titik temu kedua mempelai. Perlahan, Sesshoumaru dan yang lainnya kemudian membalikkan badan dan menatap ke arah paviliun barat istana tanah barat.


Angin bertiup pelan, membawa bau musim semi yang menyenangkan serta kelopak bunga sakura yang gugur.


Sesshoumaru menunggu dalam diam. Tetap tidak ada ekspresi di wajah tampannya. Namun kedua mata emasnya bersinar cemerlang di timpah cahaya matahari. Kebahagiaan di depan mata, dia bisa melihatnya dengan jelas sekarang. Dirinya hanya perlu bersabar dan menunggu beberapa saat, menunggu–pengantin wanitanya.


....xOxOx....

__ADS_1


__ADS_2