Till The End Of Time [ Inuyasha Fanfiction ]

Till The End Of Time [ Inuyasha Fanfiction ]
Chapter 125


__ADS_3

Langit malam musim dingin tanpa bulan membuat kegelapan menyelimuti sekeliling. Tidak ada seorangpun penduduk desa yang berani menyalakan api untuk menerangi pandangan. Berada dalam rumah masing-masing, mereka bersembunyi ketakutan. Menyelimuti diri dengan selimut ataupun saling memeluk dalam keluarga, mereka berjuang untuk melewati dinginnya malam.


Di luar, di atas langit desa mereka yang tidak begitu besar, para penduduk desa bisa mendengar jelas suara aneh serta tawa keras yang membuat bulu kunduk mereka berdiri—youkai.


Penduduk desa tahu, mereka tidak mungkin bisa menang melawan youkai, apalagi youki itu tidak hanya satu. Berpuluh-puluh youkai kini terbang ke arah yang sama di atas desa mereka—ke arah barat.


Tidak akan ada seorangpun yang akan selamat jika para youkai itu menyerang desa mereka sekarang. Bantuan juga akan mustahil, sebab mereka sudah mendengar jelas kekelahan para pasukan bangsawan dan aliansi taijiya, miko, pendeta dan biksu melawan youkai dari barat musim gugur lalu. Satu-satunya yang bisa mereka lakukan hanyalah bersembunyi dan berdoa mereka akan selamat.


Tidak jauh dari desa yang sunyi senyap seakan tanpa kehidupan, seorang taijiya muda berdiri menatap para youkai tanah barat yang terbang ke arah istana tanah barat dalam diam. Wajahnya tanpa ekspresi, tapi ada kegetiran dalam mata hitamnya.


Perang.


Perang akan kembali menyelimuti tanah barat, dan penyebabnya tetap sama, yakni; kisaki tanah barat serta anak dalam perutnya. Namun, bedanya, perang kali ini adalah perang antar youkai.


"Kohaku." Suara yang memanggil namanya membuat taijiya muda itu menoleh kepala pada sumber suara. Mata hitamnya bisa melihat seorang wanita cantik serta seorang biksu berjalan ke arahnya.


"Kakak, Kakak ipar." Panggil Kohaku melihat kedua orang tersebut yang tidak lain adalah Miroku dan Sango.


"Kau juga menuju istana tanah barat?" tanya Sango pelan begitu tiba di depan Kohaku. Kedua matanya nenatap adik kandungnya memeriksa apakah dia terluka atau tidak.


Kohaku segera mengangguk kepala mendengar pertanyaan Sango. "Apakah anak-anak sudah di desa?" tanya kembali.


"Anak-anak sudah bersama Kaeda-san," jawab Miroku menyela pembicaraan Kohaku dan Sango. "Mereka berada di tempat aman."


"Baguslah kalau begitu." Senyum Kohaku mendengar jawaban Miroku. Meski ke depannya dia tidak tahu apa yang terjadi, setidaknya dia tahu semua keponakannya akan baik-baik saja.


"Bagaimana dengan kota Ame? Serta, apa maksud surat yang kau terima?" tanya Miroku lagi menatap Kohaku.


Kohaku meninggalkan istana tanah barat dan menuju kota Ame tidak lama ini. Sebab, dia menerima surat dari para bangsawan manusia yang meminta kehadirannya.


Pergerakan seluruh youkai di tanah jepang membuat para bangsawan ketakutan dan juga para penduduk kota Ame katakutan, sebab mereka mengira penguasa tanah barat sedang mengumpulkan pasukan untuk menyerang kota.


Memohon pada Kohaku untuk menyampaikannya pada Sesshoumaru, para bangsawan manusia meminta maaf dan berjanji tidak akan pernah lagi berpikir menyerang tanah barat.


"Mereka meminta maaf dan berjanji tidak akan menyerang tanah barat lagi," jawab Kohaku dengan seulas senyum yang dipaksakan. "Mereka semua ketakutan."


Jawaban dan senyum Kohaku membuat Miroku dan Sango terdiam. Ketakutan. Siapa yang tidak takut jika berhasil melewati neraka dunia ini? Genangan darah merah, tumpukan manusia yang sudah tidak bernyawa dan hancur berantakan, serta—sosok anjing raksasa yang mengamuk penuh kegilaan.


Miroku menghela napas. "Setidaknya kita harus gembira dengan keadaan kota Ame dan pasukan para manusia sekarang. Kita tidak memerlukan mereka ikut campur di perang ke depannya."


Ucapan Miroku hanya membuat Kohaku dan Sango tertegun. Ikut menghela napas, mereka kedua bersaudara taijiya itu hanya dapat menyetujui perkataan bisku tersebut dalam diam.


"Perang di kedepannya," lanjut Miroku lagi. Kedua matanya kemudian terarah pada para youkai yang terbang di atas langit malam. "Walau mustahil, aku tetap berharap akan selesai seperti dua perang sebelumnya yang penuh—keajaiban."


Baik Kohaku maupun Sango kembali tertegun mendengar ucapan Miroku.


Keajaiban.


Kata itu terucap, tapi, dalam perang ke depannya, mereka semua tahu jelas, tidak akan ada lagi keajaiban, sebab wanita manusia yang menciptakan dua keajaiban sebelumnya tidak akan lagi menciptakan keajaibannya.


....xOxOx....


"Persiapan semua pasukan sudah sempurna, Akihiko-sama," lapor Koga pada Akihiko yang berada di depannya. "Pasukan akan bergerak jika anda memerintahkan."


Akihiko tidak mengatakan sepatah katapun mendengar laporan Koga. Duduk di kursi singgasananya, dia diam membisu dengan wajah tanpa ekspresi memikirkan sesuatu.


Di belakangnya, Tsubasa berdiri diam. Dia tidak tahu apa yang dipikirkan youkai serigala penguasa tanah selatam sekarang. Bukankah dia sendiri yang memerintahkan Koga mempersiapkan pasukan untuk perang ke depannya?


Koga yang tidak menerima balasan dari Akihiko kemudian memberanikan diri. Dia tahu apa tujuan dari pasukan yang dikumpulkan, dan dia—ragu.


"Akihiko-sama," panggil Koga kemudian setelah memberanikan dirinya. "Apakah anda benar akan menyerang tanah barat lagi?"


Keputusan Akihiko yang ingin menyerang tanah barat bersama dengan tanah netral, utara dan timur sesungguhnya sangat mengejutkan para youkai tanah selatan. Mereka semua tidak mengerti penguasa mereka yang setuju dengan alasan para youkai netral yang begitu pengecut, dan juga—para youkai tanah selatan masih mengingat hutang budi mereka kepada kisaki tanah barat pada perang tahun lalu.


Semua youkai tanah selatan juga tahu, apa yang diinginkan Akihiko saat memenangkan perang ke depannya. Tapi, mereka berpikir; apakah ini benar?—Koga adalah salah satunya.


Akihiko tetap tidak menjawab pertanyaan Koga. Menutup mata, dia memerintahkan youkai serigala di depannya keluar. "Kembali ke posisimu."


Koga ingin mengucapkan sesuatu lagi, namun, sejenak kemudian, dia mengurungkan niatnya. Obsebsi Akihiko pada kisaki tanah barat, dia jelas tahu, apapun yang dikatakannya sekarang pasti akan sia-sia.


Menghela napas, Koga kemudian berjalan keluar meninggalkan ruangan. Tapi, sebelum menghilang di balik pintu, dia menoleh kepalanya ke belakang menatap Akihiko. "Akihiko-sama," panggilnya pelan. "Bukan sebagai bawahan tapi sebagai saudara sepupumu, aku berharap tidak akan ada penyesalan dalam dirimu setelah ini."

__ADS_1


Tidak menunggu balasan Akihiko lagi, Koga kembali melangkah maju menjauh. Dia tidak tahu apa yang dipikirkan Akihiko, tapi, dia tahu, Akihiko tidak akan pernah bahagia jika beginilah caranya dia memiliki Rin.


Tsubasa yang di belakang Akihiko tetap diam membisu. Menatap Akihiko, dia ingin tertawa. Ucapan Koga tidak akan dimengerti penguasa tanah selatan, sebab dia kini tahu, youkai serigala itu benar akan menghalalkan segala cara untuk mendapatkan wanita manusia yang diinginkannya.


Akihiko membuka kedua kelopak matanya. Dia mendengar jelas apa yang dikatakan Koga, tapi dia tidak membalasnya.


Penyesalan.


Apa dia akan menyesal setelah ini?—Akihiko tidak tahu. Tapi, dia tidak akan mengubah keputusannya. Di masa depan yang tidak diketahui seperti apa, dirinya hanya berharap Rin tetap akan hidup. Berharap saat dia membuka mata, wanita manusia itu masih ada di dunia ini dan bernapas. Tapi, akankah senyum dan tawa itu akan tetap ada? Akankah kehangatan dan kepolosan yang begitu disukainya akan menghilang? Apakah Rin akan tetap menjadi Rin?


Akihiko tidak tahu. Keputusan telah diambilnya dan tidak dapat ditarik kembali. Dia ingin melindungi Rin, tapi setelah ini semua berlalu, akankah Rin mengijinkan dia untuk melindunginya?—masa depan yang ada, Akihiko tidak bisa melihatnya.


Sekali lagi, Akihiko hanya bisa berpikir, alangkah bagusnya jika Rin memilihnya sejak awal, alangkah bagusnya jika dialah yang ada dalam sepasang mata coklat jernih tersebut. Sebab, dengan begitu, tidak akan ada hari ini. Tidak akan ada ketidakpastian di masa depan serta—perasaan menyesakkan yang memenuhi seluruh relung hatinya sekarang.


"Tsubasa." panggil Akihiko pelan. Dia tidak menoleh kepalanya pada selir di belakangnya.


Tsubasa bergerak maju dan menurunkan pandangan matanya menatap Akihiko yang masih duduk di kursi singgasananya.


Perlahan, kedua mata Akihiko terarah pada Tsubasa. Seulas senyum kecil memenuhi wajah tampannya. Namun, senyum itu bukanlah senyum penuh kebahagiaan, melainkan senyum penuh ketidakberdayaan. "Sesakit inikah?"


Tsubasa tertegun dengan pertanyaan dan senyum di wajah Akihiko. Terlebih lagi, saat dia melihat mata biru langit cemerlang di depannya meredup penuh kesedihan dan—kesakitan.


"Sesakit inikah perasaan bertepuk sebelah tangan? Seperti inikah perasaan ingin memiliki tapi selamanya tidak akan mendapatkan?"


Pertanyaan dan senyum di wajah Akihiko membuat Tsubasa sangat terguncang, dan dia tidak menemukan kekuatan untuk membalasnya. Berdiri dengan mata terbelalak tidak percaya, dia hanya dapat menatap penguasa tanah selatan dalam keheningan.


Melihat ekspresi wajah Tsubasa sekarang, Akihiko tahu, youkai burung itu tidak akan menjawab pertanyaannya.


Berdiri, tidak mempedulikan Tsubasa yang tidak bergerak sedikitpun, Akihiko kemudian berjalan meninggalkan ruangan. Hari ini, dia baru menyadari sesuatu, bukankah mereka berdua mirip? Perasaannya sekarang, mungkin selirnya inilah yang paling mengerti.


Sepeninggalan Akihiko, ruangan yang hening menjadi semakin hening. Tsubasa yang masih terguncang dengan pertanyaan Akihiko perlahan kemudian pulih. Diam membisu, dia kemudian tertawa—tawanya yang sangat bahagia.


Dia sangat gembira dan bahagia, apa yang dia inginkan akhirnya tercapai. Sakitnya cinta bertepuk sebelah tangan, sakitnya perasaan ingin memiliki namun selamanya tidak akan mendapatkan—Akihiko akhirnya merasakan itu semua.


Lalu, perlahan, air mata mengalir menuruni pipi Tsubasa. Menutup mata, tawanya bahagianya kemudian terhenti. Menggerakkan tangan kanannya, dia meremas bagian kimono yang berada tepat di atas hatinya erat—seakan berharap dia dapat mengenggam erat hatinya yang luar biasa sakit.


Kegembiraan dan kebahagiaan dlam hatinya seketika menjadi kesedihan dan kesakitan. Kenapa? Kenapa dia sesedih ini? Sesakit ini? Kenapa dia merasa luar biasa sakit melihat ekspresi wajah Akihiko itu? Senyum kecil dan pandangan mata itu—bukankah itulah yang dia harapkan? Kenapa Tsubasa tidak ingin melihatnya?


Perasaan yang sangat menyiksa. Dia ingin Akihiko mengerti perasaan ini, tapi, saat youkai serigala itu mengerti, kenapa perasaan sakit ini semakin mendalam dan luar biasa?—salahkah dirinya?


Dia berpikir dia akan bahagia jika Akihiko menderita. Tapi, ternyata salah, yang ada dirinya hanya semakin menderita. Mencintai Akihiko, Tsubasa tahu sekarang—itu adalah adalah kutukan dalam hidupnya.


....xOxOx....


Sesshoumaru tidak bergerak, duduk tenang, dia mendengar laporan dari Kira tentang para youkai tanah barat yang kini telah tiba maupun yang masih berada dalam perjalanan menuju istana tanah barat.


Perang yang akan pecah tidak lama lagi di dunia youkai telah tersebar ke seluruh dataran jepang, dan tanpa perintahnya sebagai sang penguasa, para youkai di bawah kekuasaan tanah barat dengan sendirinya datang ke istana tanah barat untuk menunggu kedatangan lawan.


Tidak ada seorangpun youkai di bawah kekuasaan tanah barat yang keberatan atau memprotes keputusan Sesshoumaru. Mereka semua datang dengan niat melindungi kehormatan tanah barat dan juga—kisaki mereka.


Mau tidak mau, Sesshoumaru hanya dapat berpikir sekali lagi, betapa salahnya ucapan Shui yang mengatakan Rin tidak pantas menjadi kisaki tanah barat. Sebab, di mana lagi akan ditemukan seorang wanita manusia yang dapat membuat seluruh youkai tanah barat yang kuat dan berkebangaan diri tinggi bersedia mengorbankan nyawa untuknya?


Sumpah darah, sumpah setia yang diberikan oleh para youkai tanah barat pada Rin—di mata semua yang ada dalam tanah barat; Rinlah satu-satunya kisaki mereka.


Sesshoumaru berdiri begitu Kira selesai menyampaikan laporan. Setelah memberikan beberapa arahan kepada pengawal pribadinya tersebut, sang penguasa tanah barat kemudian berjalan keluar meninggalkan ruang kerjanya.


Seperti biasa, langkah kaki Sesshoumaru menuju satu arah, yakni; kamar di mana Rin berada. Di sepanjang jalannya, mata emasnya bisa melihat jelas para penghuni istana yang sedang bersiap untuk menghadapi perang—tidak ada ketakutan di mata mereka, yang ada hanyalah; tekad kuat untuk menang.


Nama no naka


Kaze no naka


Yume no naka


Seulas senyum kecil memenuhi wajah tampan tanpa ekspresi Sesshoumaru. Telinganya bisa menangkap jelas suara nyanyian yang mengalun.


Sesshoumaru-sama doko ni iru


Jakken-sama wo shita naete


Watashi wa hitori de machimashou

__ADS_1


Shura wa hitori de machimashou


Lagu aneh ini, selamanya akan tersimpan dalam ingatan Sesshoumaru, lagu favorit yang dinyanyikan oleh satu-satunya wanita yang dicintainya.


Wareware wa hitori de machimashou


Sesshoumaru-sama omodori wo


Tiba di depan kamar tidur mereka, Kiri yang berada di depan pintu segera memberikan hormat dan membuka pintu kamar. Tidak mengatakan apa-apa, Sesshoumaru melangkah masuk. Sepasang mata emasnya dengan segera menemukan seulas senyum musim semi abadi dalam hatinya.


"Sesshounaru-sama," panggil Rin pelan sambil tersenyum. Duduk di atas futon sambil mengelus perut besarnya, dia menatap lembut Sesshoumaru. "Tadaima."


Sesshoumaru mendekati Rin. Diam membisu, dia duduk di belakang wanita manusia itu dan membiarkan punggung mungil itu bersandar di dadanya. Kedua tangannya dengan segera bergerak melingkar perut besar sang wanita dan mengelusnya pelan.


Senyum Rin bertambah lebar dengan sikap Sesshoumaru. Menutup mata, dia menyamankan dirinya dalam pelukan yang ada. Begitu juga dengan inuyoukai tersebut, dia menutup mata dan membiarkan bau musim semi yang disukainya menyelimuti.


Tidak ada yang mengatakan sepatah katapun, dalam keheningan, baik Sesshoumaru dan Rin menikmati kebersamaan mereka. Musim dingin, tahun-tahun yang lalu saat Rin mulai tinggal bersama dengan Sesshoumaru di istana tanah barat, mereka melewatinya seperti ini—bersama dalam keheningan.


Membuka mata, pandangan Rin kemudian jatuh keluar jendela. Senyum di wajah berubah menjadi tawa kecil saat dia melihat salju yang telah turun dari langit. "Sesshoumaru-sama, salju."


Tawa Rin membuat Sesshoumaru juga membuka kedua matanya. Tapi, dia tidak melihat salju di depan, melainkan melihat tawa bahagia di wajah kisakinya. Tidak ada yang lebih menarik dari pada senyum dan tawa Rin bagi inuyoukai tersebut.


Mengangkat kepala menatap wajah Sesshoumaru, Rin tersenyum. "Melihat salju, Rin baru benar-benar merasakan sudah musim dingin."


Sesshoumaru mengangguk kepala pelan. Dia tetap diam membisu dengan wajah datarnya yang tanpa ekspresi.


Menurunkan pandangannya, mata Rin kemudian terarah pada perut besarnya. Mengelusnya penuh kasih sayang, dia kembali tertawa. "Sesuai perhitungan, Shura akan lahir pada akhir musim dingin, dan sesaat setelah dia lahir, musim semi akan tiba."


Sesshoumaru mengangguk kepala sekali lagi mendengar ucapan Rin. Ikut mengelus perut wanita manusia tersebut, dia kemudian merasakan gerakan Shura yang pelan.


Rin tertawa merasakan gerakan anak dalam perutnya. Shura sering bergerak jika dirinya dan Sesshoumaru mengelusnya seperti ini. Terkadang dia berpikir, mungkin putra dalam perutnya bergerak karena bisa merasakan kasih sayang kedua orang tuanya.


Penghujung musim dingin Shura akan lahir, dan setelah itu, musim semi di mana bunga mekar akan tiba. Musim di mana dunia akan diliputi jutaan warna—musim yang paling disukainya.


"Langit berwarna biru, rumput dan pohon berwarna hijau, bunga berwarna-warni. Matahari yang hangat, hembusan angin yang lembut. Rin akan menunjukkan itu semua padamu, Shura. Karena itu, lahirlah dengan selamat."


Seulas senyum kecil memenuhi wajah tampan Sesshoumaru melihat dan mendengar apa yang dikatakan Rin pelan. Dia sangat menyukai Rin yang seperti ini, begitu lembut dan penuh kasih sayang.


Seorang ibu.


Rin akan menjadi seorang ibu yang sangat sempurna. Shura, anaknya adalah anak yang sangat beruntung karena bisa mendapatkan seorang ibu seperti ini.


Senyum di wajah Sesshoumaru hanya semakin kentara saat dia sadar dengan apa yang dipikirkannya. Tidak pernah dia menduga, ada hari di mana dirinya merasakan seperti ini. Seperti halnya Shura yang beruntung memiliki ibu seperti Rin, dia juga merupakan orang yang paling beruntung karena Rin bersedia menjadi istrinya.


"Ne, Sesshoumaru-sama," panggil Rin kemudian. Suaranya pelan dan lembut. "Bagaimana dengan semua persiapan perang?"


Sesshoumaru mengeratkan pelukannya mendengar pertanyaan Rin. "Semuanya lancar."


Perang yang akan datang, Sesshoumaru tidak merahasiakannya sedikitpun dari Rin, dan Rin sendiri juga menghadapinya dengan tenang.


"Rin," panggil Sesshoumaru kemudian. Kedua matanya menatap lurus mata coklat jernih yang segera menoleh menatapnya. "Ke depannya, apapun yang terjadi, jangan pernah lagi menggunakan kekuatan meido seki."


Rin tertegun dengan ucapan Sesshoumaru. Namun, sejenak kemudian dia kembali tersenyum.


"Kau bukan Tuhan, Rin," lanjut Sesshoumaru lagi dengan pelan. "Kau tidak dapat menghidupkan siapapun yang mati untuk selamanya."


Bukan Tuhan.


Meski memiliki kekuatan untuk menghidupkan mereka yang mati, Rin bukanlah Tuhan. Sesshoumaru adalah orang yang paling mengerti itu, sebab seperti itu juga lah dirinya.


Setiap kali Sesshoumaru melihat Rin yang lemah, dia tahu wanita manusia yang telah dihidupkan kembali dua kali itu, tidak akan lagi memiliki kesempatan ketiga. Tidak peduli apa yang dia lakukan, dia tidak akan dapat mengubah takdir—dirinya bukanlah Tuhan.


Rin hanya dapat kembali tertegun mendengar ucapan Sesshoumaru. Mengangkat tangan kanan menyentuh pipi inuyoukai itu, dia mengangguk kepala. "Rin mengerti."


Ucapan Sesshoumaru, Rin mengerti. Hidup dan mati—bisa menghidupkan yang mati, tidak berarti dapat menghentikan kematian untuk selamanya. Cepat atau lambat, baik manusia maupun youkai, kematian akan mengejar lagi—melebihi siapapun, dirinyalah yang paling mengerti kenyataan tersebut; tidak ada kehidupan yang abadi.


Menangkap tangan kanan Rin, Sesshoumaru menciumnya pelan. "Perang ke depan, serahkan semuanya pada Sesshoumaru ini."


Sekali lagi, Rin mengangguk kepala pelan. Seulas senyum menghiasi wajahnya. "Rin percaya pada Sesshoumaru-sama."


Perang yang tidak bisa dihindari, perang yang dia cetuskan sendiri, serta perang dengan akhir yang tidak diketahui siapapun, Rin berpikir, apa yang dapat dilakukannya?—jawabannya hanya satu; dia hanya bisa percaya pada Sesshoumaru.

__ADS_1


"Menangkan perang ini untuk Rin, Sesshoumaru-sama."


....xOxOx....


__ADS_2