![Till The End Of Time [ Inuyasha Fanfiction ]](https://asset.asean.biz.id/till-the-end-of-time---inuyasha-fanfiction--.webp)
"Kenapa kau terlihat sedih, Sakura-chan?" tanya Kagome melihat diamnya Sakura. Tidak ada senyum atau tawa diwajahnya seperti biasanya. Duduk di pojok ruangan, inuhanyou kecil itu terlihat murung.
"Sakura tidak apa-apa, ibu." Jawab Sakura pelan. Menurunkan pandangannya ke bawah, dia kembali diam membisu.
Semua yang ada dalam ruangan bisa menebak apa penyebab inuhanyou kecil tersebut seperti ini sekarang. Saat selesai rapat, Shura meninggalkan ruangan sendirian, dan dia tidak mengijinkan siapapun mengikutinya termasuk Sakura yang selalu berada di sisinya selama ini. Semua yang ada bisa melihat dan merasakan dengan jelas ada yang berubah dari inuyoukai kecil tersebut—dia tiba-tiba menjadi sangat dingin dan jauh seperti ayah kandungnya; Sesshoumaru dulu.
"Sakura, kemarilah," panggil Inuyasha yang ada di samping Kagome melihat kesedihan putri kecilnya. Perasaannya sangat kacau sekarang, dia tidak ingin Sakura dekat dengan Shura, tapi melihat Sakura sedih seperti ini, dia juga tidak rela. "Biarkan ayah memelukmu."
Sakura menatap sejenak Inuyasha dan kemudian bangkit berlari memeluk ayahnya. Menenggelamkan wajah kecilnya dia dada bidang sang ayah, dia tetap diam membisu tidak mengatakan apa-apa.
Inuyasha membalas pelukan Sakura sambil menghela napas menatap Kagome yang terlihat sangat kebingungan, sedangkan Shiro yang ada di samping mereka hanya dapat mengangkat tangan kanannya membelai kepala sang adik lembut.
Miroku yang melihat interaksi keluarga Inuyasha tidak mengatakan apa-apa. Kedua matanya kemudian terarah pada Jaken yang dari tadi menangis dalam ruangan. "Apa kau sudah cukup menangisnya, Jaken?"
"Kalian tidak mengerti!!! Bagaimana bisa aku bisa berhenti menangis sekarang ini??!!" balas Jaken keras sambil menangis. "Bagaimana bisa Shura-sama mengatakan dia tidak memerlukan lukisan Rin lagi??"
Semua yang ada dalam ruangan diam membisu, dan pandangan mereka tertuju pada sisa lukisan Rin yang telah hancur di tangan Jaken.
"Kurasa, lebih baik kita memberikan waktu pada Shura dulu." Ujar Miroku pelan. Dalam waktu singkat ini telah terjadi banyak hal, dan semua itu sama sekali bukanlah sesuatu yang baik bagi Shura. Inuyoukai kecil tersebut bisa dengan kepala dingin menghadapi semua itu sudah merupakan sesuatu yang sangat mereka syukuri.
"Aku setuju." Setuju Kohaku pelan. Taijiya muda itu hanya dapat memikirkan sosok Shura yang begitu tegar menghadapi semua yang terjadi—dia sungguh merupakan anak dari Sesshoumaru, sang inudaiyoukai penguasa tanah barat.
Inuyasha sekeluarga, Sango dan anak-anak mereka, Shippo, Yuki serta Koharu tidak mengatakan apa-apa. Tapi, mereka semua juga setuju dengan ucapan Miroku. Inuyoukai kecil itu memerlukan waktu untuk menenangkan dirinya.
Namun, tidak untuk Sora yang juga diam membisu menatap sisa lukisan Rin. Pandangan mata emas Shura saat mengatakan tidak memerlukan lukisan ini lagi terlintas dalam pikirannya. Dia adalah pencari informasi, dan dalam sepuluh tahun ini, dirinya telah belajar membaca ekspresi dan sorot mata semua yang ditemuinya. Karena itu dia bisa melihat jelas pada sepasang mata emas tersebut—kesedihan serta kebingungan yang berubah menjadi keputusasaan dan melahirkan keputusan yang diucapkan.
Shura kuat, Sora bisa melihat itu jelas. Berbeda dengan dirinya saat kecil, inuyoukai itu tidak larut dalam ketakutan saat kehilangan segalanya. Dia dengan cepat bangkit dan berusaha menyelesaikan semua itu dengan caranya sendiri. Tidak peduli terluka atau harus kehilangan sesuatu yang berharga—dia menghadapinya.
Saat Shura mengatakan tidak memerlukan lukisan yang terbakar, Sora tahu, maksud sesungguhnya ucapannya bukanlah lukisan, melainkan—sang ibu. Inuyoukai kecil itu ingin membuang sosok ibu yang begitu dicintainya untuk maju ke depan, dan youkai tikus putih itu tahu, mungkin karena dia berpikir bahwa ibunya akan menjadi penghalangnya.
Bayangan Shura yang tidak bergerak sambil memeluk lukisan yang terbakar saat Shui menyerangnya dengan meniru rupa sang ibu di istana tanah barat terlintas dalam pikiran Sora, karena itu dia tahu—pentingnya sosok sang ibu bagi inuyoukai kecil itu.
Inuyoukai dari barat. Youkai kuat penguasa tanah barat, seperti apa Shura dibesarkan, Sora tidak tahu. Tapi, melihat dan mendengar dari Inuyasha dan yang lainnya, dia tahu, inuyoukai kecil itu pasti dibesarkan selayaknya youkai pada umumnya—perasaan tidak diperlukan.
Youkai adalah makhluk paling superior di dunia. Tidak ada gunanya berperasaan. Perasaan hanya akan membuatmu lemah. Perasaan hanya akan membuatmu musnah. Youkai adalah makhluk yang bisa hidup sendirian.
Shura pasti dibesarkan dengan ajaran seperti itu—karena dia adalah pewaris tanah barat, sang penguasa tanah barat di masa depan.
Sosok seorang wanita manusia yang memeluk seekor anjing kecil dalam dekapannya terlintas dalam pikiran Sora. Dengan senyumnya yang seindah musim semi serta tawanya yang seperti dentingan lonceng—youkai tikus putih tersebut tertegun.
Tidak. Bagaimana bisa dia membiarkannya? Bagaimana dirinya bisa mengijinkan Shura melakukan itu saat adegan tidak terlupakan terlintas dalam pikirannya?
Bangkit berdiri, tdak peduli pandangan semua yang terarah padanya, Sora segera membuka pintu ruangan dan berjalan keluar. "Semuanya, aku ada urusan. Aku permisi dulu."
Apakah yang akan dilakukannya benar? Apakah keputusannya sekarang tepat?-Sora tidak tahu. Tapi, untuk Shura yang merupakan putra kisaki tanah barat yang dulu bersedia mengulurkan tangan untuk tanah netral sepuluh tahun yang lalu—dia ingin inuyoukai kecil itu tahu sosok ibunya yang sebenarnya.
....xOxOx....
Berdiri sendirian dalam taman, ekspresi wajah Shura datar tanpa emosi. Angin yang berhembus dan juga hawa dingin malam sama sekali tidak menganggunya meski dia hanya mengenakan yukata tipis. Menurunkan pandangan matanya, dia melihat luka-luka di tubuhnya yang mulai sembuh. Tidak lama lagi dia akan pulih sepenuhnya.
"Apakah anda tidak bisa tidur, Shura-sama?" suara pelan seorang wanita tiba-tiba memecahkan keheningan malam.
Shura tidak terkejut dengan suara tiba-tiba tersebut, sebab dia sudah menyadari keberadaannya beberapa saat yang lalu. Mengangkat kepala, inuyoukai kecil tersebut menatap pemilik suara yang tidak lain adalah Tsubasa.
"Inuhanyou kecil itu tidak bersama anda?" tanya Tsubasa sambil tersenyum.
Shura tidak menjawab pertanyaan Tsubasa. Dia tahu siapa inuhanyou yang dimaksud youkai burung tersebut. Sepertinya keberadaan Sakura yang selalu tersenyum di sampingnya telah menjadi pemandangan biasa bagi orang sekeliling.
Mendekati Shura, Tsubasa berdiri di samping inuyoukai kecil tersebut. Dia tidak bertanya lagi, dan dia juga tidak mengharapkan jawaban dari pertanyaannya barusan.
Keheningan malam kembali memenuhi mereka. Mereka berdua diam membisu menatap taman malam yang gelap hingga akhirnya Shura membuka mulutnya. "Apa anda menyesal mencintai, Tsubasa-sama?"
Menoleh menatap Shura, Tsubasa kembali tersenyum. "Kenapa anda bertanya seperti itu, Shura-sama?"
"Karena aku akhirnya tahu, itu benar-cinta adalah kelemahan." Balas Shura datar tanpa menoleh pandangannya dari taman gelap di depan.
__ADS_1
"Cinta adalah kelemahan—kurasa itu benar," ujar Tsubasa pelan dengan senyum yang masih ada di wajahnya. "Lalu anda—apakah anda menyesal telah mencintai?"
Shura tidak menjawab pertanyaan Tsubasa. Diam membisu dia menutup matanya. Menyesalkah? Untuk semua yang telah terjadi, untuk keadaan jadi seperti ini—apakah dia menyesal?
Aku mencintaimu Shura...
Bisikan penuh cinta, kalimat sederhana yang tidak dapat dia hapus dari pikirannya. Sesuatu yang selalu terlintas tanpa dapat dihentikan.
Shura, lupakan...
Ucapan terakhir ayah kandungnya, mimpi buruk yang selalu menghantuinya bahkan saat dia sadar.
Menyesalkah?—Shura tidak tahu. Pentingkah cinta dalam hidup youkai? Perasaan yang begitu menyesatkan—mungkin iya; dia menyesal. Sudah berapa kali dia bepikir; andai.Andaikan saja dia tidak berusaha mempertahankan sosok ibu kandungnya yang telah tiada dalam lukisan, andaikan dia tidak ragu dengan sosok Shui yang meniru ibunya—andaikan saja dia tidak pernah mengenal dan mengetahui kebenaran yang ada, maka apa yang telah terjadi tidak akan terjadi.
"Dia mencintai anda." Ujar Tsubasa tiba-tiba. Dia tidak tahu apa yang ada dalam pikiran Shura sekarang, tapi dia tahu inuyoukai kecil itu sekarang tersesat—kehilangan pegangan dalam hidupnya.
Shura menoleh kepalanya menatap Tsubasa begitu mendengar apa yang diucapkan, tapi sekali lagi, dia tidak membalasnya.
"Rin-sama selalu mencintai anda, Shura-sama." Tsubasa ingat Rin. Wanita manusia yang lembut dan lemah, seorang ibu yang dengan berani menghadapi dunia manusia dan youkai untuk anak dalam kandungannya—cinta yang luar biasa untuk putranya.
Shura tetap diam membisu. Cintakah? Apakah ibunya masih mencintainya sampai akhir hayatnya?—mencintai pembunuhnya sendiri. Lalu sekarang, apakah beliau masih akan mencintainya?—dia adalah penyebab ayahandanya mati. Untuk dirinya yang seperti itu—pantaskah dia dicintai?
"Shura-sama." Suara panggilan seseorang tiba-tiba terdengar.
Menoleh pada sumber suara, Shura dan Tsubasa melihat Sora berdiri sendirian tidak jauh dari mereka. Membungkuk punggung sejenak memberi salam, sikapnya penuh hormat karena youkai tikua putih itu tahu perbedaan status antara mereka. "Selamat malam."
Baik Shura maupun Tsubasa tidak memberikan reaksi apapun. Berdiri diam di tempat mereka sama sekali tidak membalas salam yang diberikan Sora barusan.
"Maaf karena hamba tidak sopan," ujar Sora. Dia sama sekali tidak tersinggung melihat sikap Shura maupun Tsubasa. "Tapi, bersediakah anda mengikuti hamba sebentar?"
Shura masih menatap tanpa ekspresi Sora, dia tidak tahu tujuan youkai tikus putih tersebut dan bermaksud menolaknya. Namun, dia mengingat jelas bahwa youkai di depannyalah orang yang membawakannya kembali lukisan ibu kandungnya. Walau dia memang sudah tidak memerlukan lukisan itu lagi, dia tetap merasa berhutang budi, "Baiklah," jawab Shura kemudian.
Senyum di wajah Sora menjadi lebih lebar mendengar jawaban Shura. Penuh hormat dan sopan, dia mengarahkan inuyoukai kecil tersebut. "Mari, Shura-sama."
Tidak ada yang mengatakan apapun lagi. Tsubasa juga mengikuti walau dia tidak diundang, dan baik Shura maupun Sora sama sekali tidak menghentikannya. Bersama, mereka menuju sebuah ruangan.
Shura tidak mengerti kenapa Sora menuntunnya ke dalam ruangan ini, tapi, seperti biasa, dia tidak menyuarakan apa yang ada dalam pikirannya. Dia lebih memilih menunggu youkai tersebut menjelaskannya sendiri. Namun, tidak untuk Tsubasa, melihat cermin dalam ruangan, youkai burung itu bisa menebak apa yang mungkin ingin dilakukan Sora.
"Hamba adalah youkai tikus putih, Shura-sama," ujar Sora sambil tersenyum kecil Kedua matanya menatap lurus cermin di depan."Sepuluh tahun yang lalu, klan kami musnah dan hanya menyisahkan hamba dan kakak hamba."
Berjalan maju, Sora mendekati cermin tersebut. "Kami berdua kehilangan segalanya dalam semalam. Orang tua, keluarga—rumah."
Shura tidak mengerti maksud ucapan Sora. Cerita yang didengar sekarang sama sekali tidak ada kaitan dengan dirinya. Jadi kenapa youkai ini menceritakan masa lalunya kepada dirinya?
"Kenangan dalam ingatan," menbalikkan badan, Sora menatap Shura. Senyum kecil masih mengembang di wajahnya. "Itulah satu-satunya yang hamba miliki saat semua telah menghilang—kenangan terindah kebersamaan hamba dengan mereka yang sangat penting bagi hamba."
Shura tertegun mendengar ucapan Sora. Kenangan—kenangan terindah bersama mereka yang sangat penting baginya.
Cinta Shura, walau apapun yang terjadi kami akan selalu mencintaimu...
Shura menutup mata dan mengepal kuat tangannya. Kenangan terindah dalam hidupnya—kenangan bersama kedua orang tuanya. Kenangan samar yang dilihatnya dalam mimpi.
Rin membencimu
Shura, lupakanlah...
Wajah penuh kebencian Shui yang meniru wajah Rin serta ucapan terakhir Sesshoumaru kembali terlintas. Kenangan yang dilihat dalam mimpi—bagaimana kalau itu palsu? Kenyataan yang ada mungkin tidak seperti indahnya mimpi, karena itulah ayahnya menyuruhnya melupakan.
"Anda tahu, Shura-sama," ujar Sora lagi. Dia menatap lembut inuyoukai kecil di depannya. "Klan tikus putih adalah klan yang sangat lemah. Kami tidak pintar bertarung. Tapi, hamba selalu bersyukur terlahir sebagai youkai tikus putih."
Shura membuka mata dan kembali menatap Sora. Sekali lagi, dia tidak mengerti arah pembicaraan youkai tikus putih di depannya.
"Karena kami adalah perekam hidup," lanjut Sora dan tertawa kecil. "Perekam hidup yang dapat memperlihat apa yang telah kami lihat."
Tsubasa tidak mengatakan apa-apa sedari tadi, tapi mendengar ucapan Sora sekarang, dia yakin sekarang alasan youkai tikus putih itu menuntun Shura kemari.
__ADS_1
Sora tersenyum dan menatap kembali cermin yang ada dalam ruangan. Dia bersyukur cermin ini dimiliki Koharu—cermin yang dihadiahkan kakek kandungnya yang telah tiada pada sahabatnya. Kenapa?—karena kenangan dalam ingatan yang dapat dilihatnya lagi.
Kenangan dalam ingatan. Walau semua yang dimiliki telah menghilang, kenangan tersebut tidak akan pernah hilang selama dirinya masih hidup. Bukan berupa benda ataupun sesuatu yang kasat mata, kenangan dalam ingatan—itulah bukti kebahagiaan kebersamaan mereka yang sesugguhnya.
Menjauhkan badannya beberapa langkah dari cermin, dengan senyum di wajah, Sora menutup matanya. Berkonsentrasi sebentar, dia kemudian membuka kedua bola matanya yang kini bersinar terang. Meniup angin dari mulutnya serpihan-serpihan kecil yang bersinar bagaikan kunang-kunang terbang menuju cermin-shinjitsu no kagami.
Shinjitsu no kagami adalah jurus yang berbeda dengan shinjitsu no akai me yang diperlihatkan Yuki dalam perang lima wilayah dulu. Tidak seperti kakaknya yang harus mengorbankan matanya untuk memperlihatkan apa yang dilihatnya untuk menciptakan cermin, shinjitsu no kagami adalah jurus yang memantulkan bayangan apa yang ada dilihatnya tanpa bayaran dalam cermin khusus yang telah ada—jurus yang dibanggakan klan youkai tikus putih.
Cermin yang ada bersinar terang, lalu perlahan-lahan, sinar yang ada meredup. Bagaikan kabut yang telah menghilang, dalam cermin, baik Shura, Tsubasa dan Sora bisa melihat bayangan hitam yang bergerak pelan.
'Guk-guk-guk.'
Suara gongongan pelan anjing terdengar memenuhi ruangan yang sunyi, dan kemudian disusul dengan tawa lembut wanita yang bagaikan dentingan lonceng.
Shura tidak bisa bergerak. Kedua matanya terbelalak, jantungnya berdetak cepat tidak terkendalikan, seluruh indra pendengaran serta penglihatannya segera tertuju pada cermin di depan. Suara tawa lembut bagaikan dentingan lonceng, tawa yang selalu didengarnya dalam mimpi—tawa paling indah yang pernah ada dalam dunianya.
Bayangan hitam dalam cermin menjadi jelas, dan Shura merasa dunia bagaikan berhenti berputar saat itu. Seorang wanita manusia duduk di atas futon. Berambut sehitam langit malam dan kulit putih bagaikan salju, hidung mancung dan bibir mungil, serta mata coklat besar yang berbinar indah penuh kehangatan—wanita tercantik yang ada dalam hidupnya.
Bayangan wanita dalam cermin bergerak. Dengan lembut, dia mengangkat badan kecil seekor anjing putih ke dalam dekapannya. Tangan kanannya bergerak pelan, membelai punggung anjing putih dengan lembut penuh kasih sayang, dan di mata coklat besarnya—cinta tanpa batas terpancar jelas.
Shura bergerak maju tanpa disadarinya, tidak tahu dari mana dan bagaimana, dia mendapatkan kekuatan untuk melakukan itu. Kedua matanya terus menatap wajah tersenyum sang wanita seakan itulah satu-satunya yang bisa dilihatnya. Mengankat tangan kanan yang bergetar, dia menyentuh wajah yang ada dicermin.
Bergerak seperti dalam mimpinya, tertawa dan tersenyum seperti dalam ingatan—betapa ini semua seperti keajaiban karena dapat dilihatnya lagi.
'Rin selamanya adalah ibumu, Shura. Tidak perlu takut dan jangan pernah ragu, Rin selamanya akan mencintaimu...'
Shura tertegun mendengar ucapan sang wanita dalam cermin, dan dunianya yang berhenti berputar kini kembali berputar. Ucapan yang dengan ajaibnya menjawab semua pertanyaan dalam hati Shura, membebaskan dirinya dari semua belenggu yang ada.
Rin membencimu
Shura, lupakanlah...
Wajah penuh kebencian Shui yang menyerupai Rin serta ucapan terakhir Sesshoumaru kembali terlintas. Kata-kata bagaikan mimpi buruk yang selalu mengikuti dan menghantuinya. Tapi, kali ini, kata-kata itu tidak lagi memgacaukan dirinya. Karena—
Tidak perlu takut dan jangan pernah ragu.
Apakah Rin membencinya? Shura sadar sekarang, dia telah membiarkan dirinya tersesat. Dia larut dengan cerita yang ada, dia ditipu oleh Shui, dan dia meragukan ucapan semua yang ada. Kenyataannya, jawaban sudah ada dalam dirinya sejak awal—dalam kenangan terindah kebersamaan mereka; ibunya selalu mencintainya.
Karena itu—lupakan.
Untuk wanita manusia yang begitu mencintainya. Untuk wanita manusia yang selalu memeluk, mencium dan membisikkan kata cinta padanya—teruntuk wanita manusia yang melahirkan dirinya; Shura tidak dapat melupakannya.
Cinta adalah sebuah perasaan yang tidak berguna. Cinta adalah sesuatu yang akan membuatmu lemah dan musnah. Cinta adalah kelemahan.
Cinta adalah kelemahan. Tapi untuk wanita manusia yang melahirkannya, untuk ibu kandungnya—Shura bersedia menerimanya. Tidak apa jika itu akan menjadi kelemahan untuknya, karena dia akhirnya mengerti—dia selalu dicintai dan mencintai ibunya. Dalam kenangan terindah mereka, dalam kebahagiaan mereka; ibu adalah sosok terpenting baginya.
Perlahan, seulas senyum kecil memenuhi wajah Shura, mata emasnya yang berbinar indah penuh kehidupan. "Shura juga selamanya akan mencintai anda, ibunda..."
Sora tersenyum melihat Shura. Dia tidak mengatakan apa-apa, matanya kemudian terarah kembali pada cermin. Wanita manusia dalam cermin, kisaki tanah barat dimana seluruh tanah netral berhutang budi—selamanya tidak akan berubah walau beliau telah tiada; cintanya yang sempurna sebagai seorang ibu untuk putranya.
Tsubasa juga tersenyum melihat Shura. Perlahan, matanya kemudian tertuju pada wajah tersenyum wanita manusia dalam cermin. Ada perasaan mengelitik dalam hatinya, dan dia hanya dapat memikirkan ucapan yang didengarnya dulu.
Lepaskanlan cinta anda. Hiduplah dengan bebas.
Ratusan tahun dia hidup, wanita manusia itulah satu-satunya yang mengatakan itu padanya. Bebas dan bahagia—seperti saat dia masih merupakan seekor burung kecil yang terbang di langit biru penuh kebahagiaan. Melepaskan rantai bernama cinta yang membelenggu dirinya.
Sepuluh tahun telah berlalu, dan kini dia telah melepaskan cinta itu—belenggu yang merantai kebebasannya. Hanya saja, dia tidak menyangka melepaskan cintanya yang bertepuk sebelah tangan selama ratusan tahun, ternyata tidaklah sesakit yang dia kira. Mungkin karena dia sudah lelah atau mungkin karena dia telah menerima kenyataan.
Apa anda menyesal mencintai, Tsubasa-sama?
Pertanyaan Shura barusan terlintas dalam pikiran, dan Tsubasa tahu jawabannya; tidak. Cintanya pada Akihiko yang tidak berbalas, dia tidak menyesalinya, karena jika dia menyesalinya tidak akan ada dirinya yang sekarang—tidak akan ada Tsubasa sang youkai burung dari utara di dunia ini.
Hiduplah dengan bahagia...
Bahagia. Ke depannya, apakah dia akan bahagia?—Tsubasa tidak tahu, tapi dia hanya tahu, dia kini telah mendapatkan kedamaian; kedamaian pertama setelah sekian lama, dan dia sangat-menyukainya.
__ADS_1
"Terima kasih," terujar pelan dan senyum di wajah Tsubasa hanya semakin melebar. Sepuluh tahun berlalu dia akhirnya dapat mengucapkannya. "Terima kasih karena mengharapkan aku bahagia, Rin-sama..."
....xOxOx....