![Till The End Of Time [ Inuyasha Fanfiction ]](https://asset.asean.biz.id/till-the-end-of-time---inuyasha-fanfiction--.webp)
....xOxOx....
Gelap.
Dingin.
Sunyi.
Sesshoumaru bisa melihat ada cahaya yang menyilaukan di depannya. Namun, dia tidak bergerak sedikitpun dari kegelapan tempat dirinya berada. Menoleh ke belakang, dia bisa melihat kegelapan yang lebih gelap lagi dari tempatnya berada.
Cahaya yang hangat dan kegelapan yang dingin. Kemana dia akan melangkah? Sesshoumaru tahu. Untuk dirinya yang seperti ini, kemana lagi dia akan pergi jika bukan kegelapan yang dingin?
Membalikkan badannya, Sesshoumaru kemudian mulai melangkah. Tidak peduli betapa gelap kegelapan di depan, tidak peduli betapa sunyi dan dinginnya tempat itu, dia tidak merasa apa-apa. Dirinya sejak lahir berada dalam kegelapan, dan oleh karena itu, dia juga akan berakhir dalam kegelapan.
Cahaya dan kegelapan.
Mungkin bagi semua makhluk hidup, cahaya pasti adalah tempat yang menyenangkan dan kegelapan adalah tempat yang menakutkan. Tapi, tidak untuknya. Sesshoumaru tahu, cahaya lebih menakutkan baginya.
Dalam hidupnya yang panjang, dia lahir dalam kegelapan dan mati dalam kegelapan. Semasa hidupnya, dia juga hidup dalam kegelapan. Hanya saja, semasa hidupnya juga, dia pernah hidup dalam cahaya. Dalam cahaya yang ada, dia merasa hangat, merasa tenang, merasa damai dan merasa—bahagia. Tapi, semua itu hanya—sesaat.
Cahaya dalam keberadaannya. Saat dia mendapatkannya lalu tanpa dapat dipertahankan menghilang dalam dunianya, Sesshoumaru sadar—lebih baik dia hidup dalam kegelapan. Kegelapan tidak akan melukainya, tapi tidak dengan cahaya. Kesakitan, penderitaan dan keputusasaan yang dirasakan saat dia mengenal dan kehilangan cahaya—tidak tertahankan.
Cahaya di depannya mungkin memanglah cahaya, hanya saja, Sesshoumaru tahu, cahaya itu bukanlah cahaya miliknya. Sebab, cahaya dalam keberadaannya yang hilang sudah tidak akan ditemukannya lagi, tidak peduli bagaimana dia menunggu ataupun mencari. Bagaikan embun pagi yang menyejukkan, dia hadir sesaat dan kemudian menguap tanpa bekas.
Cahaya dan kegelapan—Sesshoumaru tahu di mana dia seharusnya berada. Di mana tempat dia bisa mematikan semua rasa yang ada. Tidak akan ada lagi kehangatan, ketenangan, kedamaian dan kebahagiaan. Namun sekaligus tidak akan ada lagi kesakitan, penderitaan dan keputusasaan. Kegelapan tempat di mana dia akan kebas akan semua perasaan—itulah yang dia inginkan.
Melangkah dan terus melangkah dengan pelan menuju kegelapan yang dingin tidak peduli dengan cahaya hangat di belakang, Sesshoumaru menutup mata emasnya. Lalu, perlahan, indra pendengarannya menangkap suara.
Berhenti. Sesshoumaru membuka mata emasnya. Ekspresi terkejut dan tidak percaya memenuhi wajahnya. Membalikkan badan, dia kemudian bergerak maju. Dia melangkah cepat—berlari. Indra pendengarannya masih mendengar suara yang ada, dan dari cahaya di depanlah suara itu berasal.
Cahaya yang ada semakin kuat dan kuat,lalu, yang dilihat Sesshoumaru saat di berhasil mencapai cahaya tersebut adalah sebuah; padang bunga. Langit biru yang indah, sinar matahari yang hangat, bau harum musim semi di udara dan sejuta warna bunga sejauh mata memandang. Tapi, dia tidak peduli dengan semua itu, yang dipedulikannya hanyalah suara yang mengalir di udara—sebuah lagu.
nama no naka
mori no naka
Seperti telah gila, Sesshoumaru terus berlari sekuat yang dia bisa menuju sumber suara. Suara yang dia tahu tidak mungkin lagi akan didengarnya, suara yang telah lenyap selamanya sepuluh tahun yang lalu. Tapi, bagaimana bisa kini dia mendengarnya lagi? Benarkah ini? atau hanya dirinya yang benar-benar telah gila karena kerinduan?
kaze no naka
yume no naka
Suara yang ada semakin jelas dan jelas, Sesshoumaru terus berlari hingga akhirnya dia berhenti. Di depannya sekarang, inuyoukai itu bisa melihat, seorang wanita manusia yang duduk di padang bunga merangkai mahkota bunga.
Sesshoumaru-sama doko ni iru
Jakken-sama wo shita naete
Rambut sehitam langit tanpa bintang, kulit seputih salju, hidung yang mancung, bibir munggil serta pipi sewarna mawar merah, mata coklat besar yang jernih dan bersinar penuh keluguuan—sang musim semi abadinya yang hilang.
Watashi wa hitori de machimashou
Sesshoumaru-sama omodori wo
Menyadari kehadiran Sesshoumaru, wanita manusia itu kemudian berhenti bernyanyi. Meletakkan mahkota bunga yang dirangkainya ke bawah dan mengangkat wajah kepada inuyoukai yang tidak bergerak sedikitpun menatapnya, dia tersenyum—senyum seindah dan sehangat musim semi yang dicintai sang inuyoukai.
Sesshoumaru tidak tahu apapun lagi, dia kembali bergerak secepat yang dirinya bisa, memeluk dan mencium bibir mungil yang tersenyum padanya. Tidak apa-apa jika ini mimpi, tidak apa-apa walau ini hanyalah khayalannya saja, tidak apa-apa jika dia telah gila. Dia bisa merasakan kehangatan badan ini lagi, bisa mencium harum musim semi yang disukai—bisa melihat lagi wanita yang dia cintai; Rin-nya.
Rin terkejut dengan pelukan dan ciuman Sesshoumaru yang tiba-tiba, tapi perlahan, dia menutup mata dan membalas ciuman itu. Melingkarkan kedua tangan di leher inuyoukai tersebut, dia membiarkan dirinya berada dalam pelukan erat yang ada.
__ADS_1
Sesshoumaru terus mencium Rin, dia menumpahkan segenap perasaannya. Ketakutan, keputusasaan, penderitaan, kekosongan, kehampaan serta juga—kerinduannya, dan Rin—dia menerimanya. Tanpa takut dan juga tanpa ragu, dia menerima seganap perasaan inuyoukai itu dalam pelukan dan ciumannya.
Berapa saat berlalu, Sesshoumaru tidak tahu, perlahan, dia kemudian melepaskan bibir mereka yang tertaut. Tapi, dia tidak melepaskan pelukannya seakan takut wanita di depannya akan menghilang. Lalu, yang dilihatnya kemudian adalah senyum indah iu lagi.
Rin melepaskan kedua lengannya yang berada di leher Sesshoumaru. Mengangkat tangan kanannya, dia mengelus lembut pipi kiri inuyoukai itu lembut. "Sesshoumaru-sama..."
Suara yang dirindukannya, senyum yang dicintainya, Sesshoumaru mengangkat tangan kirinya mengenggam tangan Rin yang ada dipipinya. Membimbing tangan mungil itu ke bibirnya, dia menutup mata dan menciumnya lembut. "Rin..."
Senyum Rin berubah menjadi tawa bagaikan dentingan indah lonceng yang memenuhi udara, dan Sesshoumaru membalasnya dengan membukan mata emasnya serta seulas senyum di wajah.
Ada banyak yang ingin Sesshoumaru sampaikan, ada banyak yang ingin dia tanya, tapi, dia tidak melakukan itu. Menatap dan memeluk Rin, baginya sekarang, inilah yang terpenting.
Tawa Rin kemudian berhenti, namun senyum tidak kunjung menghilang dari wajahnya. Menatap mata emas yang menatapnya, dia tahu apa yang ada dalam pikiran inuyoukai tersebut. Selamanya dan tidak akan pernah berubah, dia selalu dapat membaca apa yang ada dalam pikirannya—karena itulah, "Shura."
Sesshoumaru tertegun mendengar nama yang diucapkan Rin.
"Yang terpenting bagi anda sekarang adalah Shura, Sesshoumaru-sama."
Shura.
Sang putra dari barat, anak mereka tercinta. Sesshoumaru menatap Rin, dan seketika perasaan malu dan bersalah memenuhi dirinya. Tahukah Rin bagaimana cara dia membesarkan putra mereka yang berharga? Bagaimana putra mereka tumbuh tanpa mengenal sosok ibu kandungnya?
Rin tertawa melihat mata emas Sesshoumaru. Mengangkat tangan kiri mengelus pipi kanan inuyoukai tersebut, dia kembali tersenyum. "Rin mengerti, Sesshoumaru-sama. Terima kasih anda telah berusaha melakukan apa yang menurut anda terbaik untuk putra kita."
Tidak pernah membenci, marah atau menyalahkan—wanita yang ada di depannya tidak berubah sedikitpun. Tapi, itu hanya membuat perasaan malu dan bersalah dalam hati Sesshoumaru semakin besar. Dia telah berjanji akan menjaga Shura dengan baik, tapi sepertinya dia telah; gagal.
"Karena itulah, Sesshoumaru-sama," ujar Rin pelan, mata coklat besarnya menatap lembut Sesshoumaru di depannya, sedangkan tangan kirinya terus mengelus pipi inuyoukai itu penuh kasih sayang. "Anda harus kembali."
Sesshoumaru tertegun. Melepaskan pelukannya, kedua mata emasnya menatap Rin lekat. Kembali? Kembali ke dunia tanpa wanita dalam pelukannya lagi?
"Shura membutuhkan anda..."
"Belum waktu anda kemari, Sesshoumaru-sama..."
Ucapan demi ucapan Rin terdengar pelan, dan Sesshoumaru hanya dapat menatapnya dengan perasaan yang bercampur aduk. Tidak bisakah mereka bersama? seperti dulu dalam senyum tawa. Tidak bisakah senyum wanita inilah yang dilihatnya setiap kali dia menutup dan membuka mata dalam penggantian hari?—tidak bisakah keluarga kecil mereka kembali lagi utuh seperti semula?
Rin bisa melihat setiap emosi dalam mata emas itu, karena itu, perlahan, dia kemudian bangkit dan mencium mata Sesshoumaru dengan lembut.
Pertemuan dan perpisahan.
Dalam ruang waktu yang berbeda, mereka bisa bertemu sekarang adalah sebuah keajaiban. Bisa melihat dan memeluk satu sama lain seperti ini adalah berkah, karena itu—jangan bersedih, jangan biarkan air mata mengalir.
"Rin sudah tidak apa-apa, Sesshoumaru-sama," ujar Rin pelan saat dia menjauhkan bibirnya dari mata Sesshoumaru. Dengan senyum khasnya yang menawan dia menatap lembut inuyoukai itu, begitu juga dengan kedua tangan yang ada dipipi. "Rin tidak menderita lagi, Rin tidak kesakitan lagi, Rin tidak menangis lagi. Karena itu—tidak apa-apa lagi."
Dalam kebersamaan mereka, kebahagiaan yang ada begitu banyak hingga mereka tidak mngetahui kapan masa mereka paling bahagia?—tapi, dalam kebersamaan mereka, mereka tahu, kapan masa paling menyakitkan. Perpisahan?—bukan. Yang paling menyakitkan dalam kebersamaan mereka adalah saat Sesshoumaru melihat Rin menderita, kesakitan dan menangis sendirian.
Sesshoumaru memiliki segalanya tapi dia tidak bisa menghentikan penderitaan, kesakitan dan air mata Rin, dan untuk Rin sendiri, dia tidak bisa berbuat apa-apa dan membiarkan Sesshoumaru hancur serta menderita dari hari ke hari bersama dengannya—itulah masa paling menyakitkan dalam kebersamaan mereka yang indah.
"Keajaiban itu ada, Sesshoumaru-sama," ujar Rin lembut dan tertawa. "Anda tahu kan? Rin seharusnya tidak bisa bertemu anda lagi seperti ini. Tapi, di detik terakhir, dengan mengorbankan sebagian besar kekuatannya, meido seki-sama membimbing inti jiwa Rin yang hancur kemari—Rin tidak bisa kemana-mana lagi."
Sesshoumaru diam membisu mendengar ucapan Rin. Meido seki, dia tahu, bagi batu itu, wanita di depannya adalah sosok yang sangat dicintainya.
"Tapi, Di sini, bunga bermekaran tanpa pernah layu dan matahari tidak pernah terbenam—Rin aman di sini," lanjut Rin lagi. Tersenyum lembut untuk kesekian kalinya, dia lembali menggerakkan tangan kanannya mengelus pipi kiri Sesshoumaru. "Karena itu, Rin akan menunggu anda di sini."
Mata Sesshoumaru menatap lurus Rin. Menangkap kedua tangan yang ada dipipinya, dia diam membisu.
"Rin akan selalu menunggu anda di sini hingga waktu anda yang sebenarnya tiba," tertawa sekali lagi, Rin menutup matanya. "Jadi saat itu tiba, anda harus bercerita pada Rin akan cerita-cerita yang tidak bisa Rin lihat dan nikmati. Tentang semuanya, tentang tanah barat, tentang Ibunda, tentangJaken-sama, tentang penghuni istana tanah barat. Tentang keluarga Inuyasha-sama dan Miroku-sama juga, dan yang terpenting," perlahan, mata Rin kembali terbuka dan bersinar indah tidak terlukiskan."—tentang Shura..."
Shura.
__ADS_1
Permata paling berharga di dunia, harta tidak tergantikan dalam keberadaan mereka— sang putra dari barat, anak yang dikandung dan dilahirkan karena; cinta,
Menutup mata, Sesshoumaru kemudian mengangguk kepala pelan. "Sesshoumaru ini mengerti."
Tertawa lagi untuk kesekian kalinya, Rin melepaskan kedua tangannya yang memegang pipi Sesshoumaru. Penuh keceriaan dan kebahagiaan, dia memeluk inuyoukai itu. "Terima kasih, Sesshoumaru-sama!"
Sesshoumaru segera mengangkat tangan membalas pelukan itu erat. Mencium bau wanita manusia itu kuat, dia seakan berusaha mengukir kehangatan yang dirasakannya dalam dirinya sendiri.
Pertemuan dan perpisahan.
Mereka bertemu dan berpisah, bertemu lagi dan sekali lagi akan berpusah. Namun, Sesshoumaru bersumpah pada dirinya sendiri, ini akan menjadi yang terakhir kalinya. Ketika mereka bertemu lagi saat waktunya tiba, mereka tidak akan pernah akan terpisah lagi—selamanya bersama.
Melepaskan pelukannya, Rin kemudian kembali menatap Sesshoumaru. Senyum seindah musim semi memenuhi wajahnya. "Rin mencintai anda, Sesshoumaru-sama. Selalu dan selamanya..."
Sesshoumaru juga melepaskan pelukannya dan menatap Rin. Dia tidak membalas pengakuannya, dia hanya terus menatap dan mengukir wajah yang dia tahu tidak akan dilihatnya lagi untuk waktu yang lama dalam hatinya.
Cinta.
Cinta Rin yang tidak pernah berubah sejak awal hingga akhir adalah cinta tulus yang diberikan padanya. Karena itu Sesshoumaru akan melindunginya, bukti cinta Rin yang nyata dan hidup—putra mereka;Shura.
Berdiri, Rin kemudian perlahan mengangkat tangan kanannya menunjuk ke depan. Tidak ada apa-apa di arah yang ditunjuknya, sejauh mata memandang hanya ada padang bunga sejuta warna.
Perlahan juga, Sesshoumaru berdiri. Menatap sejenak wajah Rin yang tetap saja tersenyum, inuyoukai itu ikut tersenyum. "Tunggulah Sesshoumaru ini.."
Rin tertawa dengan suaranya yang bagaikan dentingan lonceng akan ucapan Sesshoumaru, dan tanpa menunggu jawaban lagi, Sesshoumaru berlari secepat yang dia bisa ke arah yang ditunjuk wanita manusia tersebut.
Angin berhembus kuat menerpan wajah dan badan Sesshoumaru, membawakan harumnya musim semi padang bunga yang ada. Langit biru abadi di atas dan juga hangat matahari yang menyenangkan, di belakang, dia bisa mendengar suara nyanyian pelan lagu aneh yang selalu dinyanyikan seorang wanita manusia untuk menunggunya.
Nama no naka
mori no naka
Terus berlari, Sesshoumaru bisa melihat padang bunga sejuta warna yang ada menghilang digantikan warna putih sepanjang mata memandang, tapi dia masih bisa mendengar suara nyanyian yang ada diudara bagaikan menemaninya.
Kaze no naka
yume no naka
Tidak menghentikan langkah kakinya sedikitpun menuju ke depan, tanpa menpedulikan sekelilingnya yang telah berubah, Sesshoumaru melihat ada setitik hitam di depan.
Sesshoumaru-sama doko ni iru
Jakken-sama wo shita naete
Semakin mendekati titik hitam tersebut, Sesshoumaru bisa melihat, titik hitam itu membesar dan menjadi kegelapan tanpa ujung yang pekat di udara bagaikan sebuah retakan yang tidak nyata. Namun, dia tetap tidak berhenti, meloncat dan melemparkan dirinya ke dalam, dia masih bisa mendengar suara nyanyian yang ada
Watashi wa hitori de machimashou
Sesshoumaru-sama omodori wo
Sesshoumaru tidak akan kehilangan arah lagi, sepuluh tahun berlalu, waktunya yang berhenti kini akhirnya dapat kembali bergerak. Permata dunianya yang hilang kini telah—aman. Wajah cantik itu tidak menangis lagi, dia tidak kesakitan dan menderita lagi. Di padang bunga sejuta warna dalam musim semi abadi, dia akan selalu tertawa serta tersenyum, dan juga, dia akan selalu bernyanyi untuk—menunggu dirinya.
Kegelapan menelan Sesshoumaru. Di dalam kegelapan juga, dia merasakan sesuatu di dadanya. Ada ratusan benang jaringan yang bergerak menuju tempat jantungnya bergerak. Jaringan itu sambung menyambung dengan kecepatan luar biasa, mengumpal dan membentuk sebuah organ—jantung baru yang berdetak.
Kegelapan menghilang digantikan cahaya yang sekali lagi menelan dirinya. Kehangatan dirasakannya, dan Sesshoumaru menerima itu semua tanpa ragu. Menutup mata emasnya dengan perlahan diapun—
Membuka matanya di dunia nyata yang hidup di desa netral.
....xOxOx....
__ADS_1