![Till The End Of Time [ Inuyasha Fanfiction ]](https://asset.asean.biz.id/till-the-end-of-time---inuyasha-fanfiction--.webp)
Cahaya kilat memenuhi langit gelap berawan hitam tebal. Suara menggelegar petir yang memekakkan telinga terdengar memenuhi langit siang akhir musim semi yang biasanya cerah.
Dalam kedai teh yang terletak tidak jauh dari kota Tenko, beberapa orang, baik pria maupun wanita duduk sambil mengamati cuaca yang tidak bersahabat. Kedai teh ini memang selalu ramai karena letaknya yang strategis, yakni; di jalan utama menuju kota. Tapi, hari ini, kedai teh ini menjadi lebih ramai lagi karena para pengunjung kota yang ingin berteduh dari hujan yang akan segera turun.
"Kenapa cuaca bisa jadi seperti ini, ya? Padahal tadi masih cerah." ujar seorang pria paruh baya sambil menyeduh teh di tangannya.
"Aku merasa hujan ini tidak normal. Mungkin ini perbuatan youkai yang ada dalam gunung hare di samping kota tenko." Balas seorang pria lagi. Dia duduk dengan melipat tangan dalam lengan kimononya berusaha mengusir kedinginan. "Kurasa para penduduk kota harus menyewa taijiya ataupun pendeta untuk membasmi youkai tersebut."
"Aku setuju," ujar seorang wanita tua yang ada dalam kedai teh tiba-tiba. Dia duduk tidak jauh dari kedua pria itu bersama seorang gadis kecil berusia sekitar sembilan tahun. "Hujan seperti ini sangat menganggu aktivitas penduduk kota."
Gadis kecil yang duduk di samping wanita tua itu tidak mengatakan apa-apa. Diam membisu, dia menatap neneknya yang kesal karena perjalanan mereka pulang ke kota tenko terhambat cuaca.
Meneguk teh dan mengunyah kue dango yang ada di hadapannya, gadis kecil itu menatap sekeliling yang ramai. Dia bisa melihat pemilik kedai yang sibuk melayani tamu, serta para tamu yang kini bergabung membahas cuaca dan youkai di gunung hare.
Bosan dan tidak tertarik dengan pembicaraan yang ada, gadis kecil itu kemudian menoleh pandangannya ke luar. Dia bisa melihat hujan rintik sudah mulai turun. Namun, sedetik kemudian sesuatu menarik perhatiannya.
Dari luar, mata hitam gadis kecil itu menangkap sosok seseorang yang berjalan ke kedai teh. Sosok itu seorang wanita, sebuah kimono besar berwarna putih menutupi kepalanya yang tertunduk ke bawah dan juga badannya dari air hujan.
Dari setiap langkah anggun namun pelan yang diambil wanita itu, mata gadis kecil tersebut bisa melihat jelas kimono yang dipakai wanita itu, dan kimono itu adalah kimono terindah yang pernah dilihatnya. Berwarna merah jambu dengan bunga peoni indah berwarna putih tersulam indah. Bunga peoni itu begitu indah bagaikan nyata, tidak tahu apa teknik yang digunakan—dan sekali lihat, dia tahu, wanita tersebut pasti merupakan seorang bangsawan yang sangat terhormat.
Mengikuti terus sosok wanita itu, gadis kecil itu melihatnya memasuki kedai. Perlahan, wanita itu kemudian menurunkan kimono putih yang menutup tubuhnya dan mengangkat kepala.
Seketika, mata gadis kecil terbelalak. Wanita itu adalah wanita tercantik yang pernah dilihatnya. Usianya mungkin sekitar lima belas atau enam belas tahun. Dengan rambut hitam panjang segelap malam tanpa bintang dan kulit seputih salju. Wajahnya yang mungil dilengkapi hidung mancung, serta sepasang mata coklat besar yang sangat jernih. Kedua pipinya merona merah bagaikan kelopak mawar, begitu juga dengan bibir mungilnya—sungguh cantik bagaikan bidadari dalam lukisan.
Kedai teh yang tadi penuh dengan suara langsung hening begitu wanita itu menginjak kaki masuk. Pandangan semua yang ada tertuju pada wanita itu.
Wanita itu menatap sekeliling, dia tidak terlihat gugup sedikitpun akan pandangan yang terarah padanya. Menatap sekeliling, dia kemudian mendekati gadis kecil yang terpesona menatapnya dan neneknya.
"Boleh Rin duduk di sini?" tanya wanita itu pelan pada sang nenek yang masih tertegun mengamati wajah wanita cantik tersebut.
Suara wanita itu bergitu indah bagaikan dentingan lonceng yang menyenangkan.
"S-silakan." Balas sang nenek terbata-bata. Seluruh kursi dalam kedai teh ini telah penuh, hanya kursi di samping nenek dan cucunya yang kosong sekarang.
Seulas senyum kemudian menghiasi wajah cantik wanita tersebut, membuat semua yang ada dalam kedai kembali terpukau melihatnya.
"Terima kasih." Duduk dengan anggun dan pelan, mata coklat jernih wanita itu kemudian menatap gadis kecil yang masih terpesona menatapnya.
Senyum kembali menghiasi wajah cantik wanita tersebut, membuat wajah gadis kecil itu bersemu merah karena malu. Menunduk ke bawah, perlahan, sang gadis kecil secara sembunyi mencuri lihat wanita disampingnya.
Semakin dilihat, semakin cantik wanita itu. Di setiap senyum yang ada, gadis kecil itu bisa melihat ibu pemilik kedai yang melayani wanita itu memesan minuman dan makanan ringan tersipu malu serta terpesona.
Mungkin karena pandangannya yang begitu lekat, wanita cantik itu kemudian menoleh kepala menatap gadis kecil itu dan menatapnya lugu. "Kau menatap wajah Rin terus, apakah ada yang aneh di wajah Rin?"
Wajah gadis kecil itu semakin memerah, dia segera menggeleng kepala tanpa bersuara.
"M-maafkan pandangan cucuku yang tidak sopan, putri." Ujar nenek sang gadis kecil cepat. Dia tahu, wanita cantik yang duduk di depannya adalah seseorang yang tidak boleh disinggung mereka. Wanita secantik ini, serta kimono seindah yang dipakainya—dia yakin, wanita ini pastilah seorang putri.
Wanita cantik itu menggeleng kepala dan tersenyum kembali. "Tidak apa-apa, nenek. Rin hanya takut ada yang salah dengan wajah Rin."
"A-anda cantik sekali, putri." sela gadis kecil itu kemudian. Dia memberanikan diri dan mengangkat wajah merahnya menatap kembali wanita cantik di samping.
Wanita cantik itu tertegun mendengar ucapan sang gadis. Namun, sekilas kemudian dia tertawa dengan suaranya yang bagaikan dentingan lonceng. "Terima kasih, dan Rin bukanlah seorang putri."
Gadis kecil itu kembali terpesona dengan tawa wanita cantik tersebut. Mulutnya terbuka lebar, begitu juga dengan matanya yang melebar dan tidak berkedip sekalipun. Sungguh, wanita di depannya sangatlah cantik.
Nenek sang gadis menahan napas melihat sikap cucunya. Dia ingin menghentikan sikap kurang sopan tersebut. Namun, melihat senyum dn tawa ramah di wajah wanita cantik di samping, dia mengurungkan niatnya.
"Anda ingin ke mana, nona? Apakah anda sendirian saja?" tanya suara seorang pria separuh baya yang duduk di belakang wanita cantik itu tiba-tiba. "Akan sangat berbahaya jika gadis secantik anda melakukan perjalanan sendirian."
Wanita cantik itu menoleh kepala ke belakang menatap pria yang bertanya padanya. Senyum masih mengembang di wajah cantiknya. "Rin tidak sendirian, Rin bersama suami Rin."
"Suami?" tanya pria itu lagi.
"Iya," mengangguk kepala, wanita cantik itu tertawa kecil. "Suami Rin ada urusan, jadi beliau meminta Rin menunggu di sini karena hujan yang sudah turun."
"Begitu, ya? Baguslah kalau anda tidak sendirian." Balas pria itu lagi. Mengarah pandangan ke luar, dia melihat hujan telah turun dengan sangat deras membasahi tanah.
"Wanita secantik anda harus hati-hati saat berpergian," sambung seorang pria lagi tiba-tiba. "Salah sedikit, bisa-bisa saja anda ditangkap oleh youkai."
"Benar," setuju ibu pemilik kedai yang mengantarkan pesanan wanita cantik tersebut. Kedua mata hitamnya menatap pelanggannya tersebut. "Anda adalah wanita tercantik yang pernah kulihat. Youkai pasti akan berpikir buruk dan menginginkan anda menjadi istri mereka jika melihat anda."
Ucapan ibu pemilik kedai membuat kedua mata coklat besar wanita cantik tersebut berkedip beberapa kali. Namun, sejenak kemudian dia tertawa. "Rin akan hati-hati."
"Berbicara tentang youkai dan istri, apakah kalian semua sudah mendengar," pria separuh baya yang ada di belakang wanita cantik itu kembali berbicara, "Tentang daiyoukai penguasa tanah barat."
"Aku tahu, tentang pernikahannya dengan hime dari barat, kan?" sela temannya cepat dan meneguk teh di tangan.
__ADS_1
"Iya," balas pria separuh baya itu dan mendengus tidak suka. "Hime dari barat itu manusia. Aku tidak mengerti kenapa ada gadis manusia yang bersedia menikah dengan youkai semengerikan itu."
"Apalagi kalau bukan untuk kemewahan," tawa temannya keras. "Menjadi istri daiyoukai tanah barat, hidupnya pasti akan terjamin."
"Cih," cibir ibu pemilik kedai akan jawaban yang didengarnya. "Kalau begitu, hime itu adalah wanita yang rendah sekali. Sebagai manusia bersedia menjadi istri youkai demi kemewahan—dia wanita yang hina."
Kedua pria tersebut tertawa mendengar ucapan pemilik kedai, sedangkan para pengunjung lainnya mengangguk kepala setuju.
"Aku dengar hime dari barat adalah seorang gadis manusia yang sangat cantik. Tapi, secantik apapun dia, bagiku dia tetap sangat menjijikan," sambung seorang wanita yang ada dalam kedai. Dia tidak dapat berdiam diri mengikuti pembicaraan yang ada. "Bagaimana bisa sebagai manusia dia mau menjadi seorang istri youkai?"
Nenek tua yang duduk di depan wanita cantik itu kemudian ikut mengeluarkan suara. Ekspresi jijik terlihat jelas di wajahnya. "Ada banyak yang mengatakan bahwa, hime itu mencintai daiyoukai penguasa tanah barat. Tapi aku lebih percaya, hime itu mencintai kemewahan yang diberikan."
"Tentu saja," setuju salah satu wanita yang ada dalam kedai lagi. "Mana mungkin ada manusia yang mencintai youkai?"
"Apakah mencintai youkai itu salah?" suara yang bagaikan dentingan lonceng tiba-tiba terdengar membuat semua yang ada dalam kedai terkejut dan menatap sumber suara.
Wanita cantik yang duduk anggun tersebut menatap semua yang ada dengan ekspresi wajahnya yang polos. Kedua mata coklat jernih bersinar penuh kebingungan. "Salahkan jika seorang manusia mencintai seorang youkai?"
Pertanyaan wanita cantik itu dengan seketika membuat semua yang ada dalam kedai teh tertawa terbahak-bahak.
"Tentu saja salah," jawab nenek yang duduk disamping wanita cantik itu kemudian. "Manusia dan youkai adalah makhluk yang berbeda. Bagaimana boleh manusia mencintai youkai?—youkai adalah makhluk jahat yang seharusnya dimusnahkan."
"Benar sekali," sambung ibu pemilik kedai sambil menahan tawa. "Mencintai youkai adalah dosa terbesar seorang manusia. Bagaimana bisa seorang manusia mencintai musuh bangsanya sendiri?—ingat! Youkai itu hidup dengan membunuh manusia."
Wanita cantik itu tidak mengatakan apa-apa mendengar jawaban yang di dapatkannya. Dia diam membisu menatap mereka semua dengan raut wajah penuh kebingungan yang tidak berubah.
Para pengunjung dalam kedai satu persatu kemudian mulai mengemukakan pendapat mereka, namun, semuanya sama, yakni; dosa dan kesalahan jika seorang manusia mencintai seorang youkai.
Menurunkan pandangannya, wanita cantik itu kemudian mengangkat cangkir tehnya. Menutup mata, dengan pelan, dia meminum teh itu dalam diam.
Tiba-tiba saja, wanita cantik itu merasa seseorang menarik lengan kimononya. Membuka mata, dia melihat gadis kecil di sampingnya menatap dirinya dengan mata penuh kepolosan.
"Youkai makhluk yang jahat, kakak," ujar gadis kecil itu pelan seakan yang dikatakannya adalah rahasia yang tidak boleh diucapkan. "Mereka kejam. Mereka suka membunuh manusia dan menghancurkan kota maupun desa."
Wanita cantik itu tidak mengatakan apa-apa, dia kembali tersenyum. Namun, sedetik kemudian suara teriakan ketakutan tiba-tiba terdengar memenuhi kedai teh tersebut.
"Youkai!!"
"Ada youkai!! Lari!"
Dalam suara kepanikan yang ada, wanita cantik itu menoleh pandangannya keluar, menatap sumber keributan.
Tidak tahu sejak kapan, hujan lebat yang turun telah berhenti. Langit yang gelap, kini juga telah kembali cerah dengan langit biru dan matahari yang bersinar hangat. Lalu, pandangan mata wanita cantik itu jatuh pada sosok seorang youkai yang berjalan ke arah kedai teh tempatnya berada.
Sinar matahari yang jatuh menimpa rambut perak sepunggung youkai itu bersinar indah. Mengenakan kimono putih berlambang tanah barat dan shashinuki hakama serta baju jirah, dua pedang terselip di pinggangnya.
Wajah datar tanpa ekspresinya sangat rupawan. Dengan sepasang mata berwarna emas serta dua pasang garis berwarna biru gelap di kedua pipi dan tanda bulan sabit di dahi. Namun, sekali lihat saja, siapapun akan segera sadar, dia adalah youkai yang berbahaya dan harus dihindari.
Ketakutan dan kepanikan orang dalam kedai teh semakin tidak terkendali. Wajah mereka pucat pasi, bahkan ada yang menangis karena tidak menemukan tempat untuk bersembunyi atau melarikan diri.
"Kakak, ayo sembunyi!" teriak gadis kecil yang bersama neneknya ketakutan. Tangan kecilnya menarik tangan sang nenek dan wanita cantik yang tadi duduk disampingnya.
Namun, wanita cantik itu dengan segera menghentikan gadis kecil itu dan menggeleng kepala. Dia tidak bergerak sedikitpun dari tempat duduknya. Perlahan, dia mengeluarkan uang dan meletakkannya di atas meja.
Tidak mempedulikan kepanikan yang ada. Wanita cantik itu kemudian bangkit dan melangkah maju. Namun, baru selangkah dia ambil, wanita itu kembali menoleh kepala ke belakang.
Kedua mata coklat besarnya yang jernih menatap gadis kecil yang berdiri bersama neneknya penuh kebingungan. Seulas senyum yang sangat indah terlukis di wajah cantiknya. "Kau salah," ujarnya pelan. "Tidak semua youkai itu jahat dan kejam."
Semua yang ada dalam kedai teh bisa mendengar jelas ucapan wanita itu. Tapi, tidak ada seorangpun yang mengatakan sepatah katapun, mereka masih mematung di tempat mereka berdiri.
Membalikkan pandangannya lagi, tanpa rasa takut, wanita cantik itu kembali melangkah dengan pelan tapi pasti. Menatap youkai di depan, mata coklatnya berbinar indah penuh kehangatan, lalu—seulas senyum seindah musim semi menghiasi wajah.
Youkai itu mengulurkan tangannya melihat sang wanita, dan tanpa takut, wanita itu menerima uluran tangan itu dan tertawa pelan. "Okaeri, Sesshoumaru-sama."
Youkai itu tertegun mendengar ucapan wanita itu, namun sedetik kemudian senyum kecil terukir di wajah tampannya. Mata emasnya yang dingin melembut. "Tadaima, Rin."
Wanita cantik itu kembali tertawa dengan tawa bagaikan lonceng yang berdenting indah. Lalu, tanpa menatap ke belakang lagi, dengan tangan yang tertaut, youkai dan wanita itu berjalan menjauh dari kedai teh.
"Y-youkai itu... Sesshoumaru, sang penguasa tanah barat.." gumam pria paruh baya yang tadi duduk di belakang wanita cantik itu terbata-bata. Wajahnya pucat pasi dan penuh ketakutan.
"J-jadi wanita itu..." balas pemilik kedai, badannya bergetar hebat. Apa yang barusan telah diucapkan dihadapan wanita itu?
Keheningan kembali memenuhi kedai teh, namun, tidak ada yang berani bergerak. Ketakutan luar biasa memenuhi hati mereka semua, sebab mereka sadar, mereka telah melakukan kesalahan yang sangat fatal dan mengerikan.
Hanya gadis kecil yang berada di samping neneknya saja yang berdiri tegap tanpa takut. Kedua mata hitamnya menatap lurus pada dua sosok yang berjalan menjauh.
Di bawah cahaya matahari, dengan tangan yang tertaut, youkai dan manusia berjalan berdampingan. Tapi, meski begitu berbeda, mereka terlihat begitu indah bagaikan lukisan.
__ADS_1
Tidak semua youkai jahat dan kejam.
Kata wanita itu terlintas dalam pikiran sang gadis kecil. Melihat youkai di depan itu, melihat senyum kecil serta caranya menatap wanita itu barusan, melalui setiap gerak-geriknya, dia tahu, kata wanita itu benar; tidak semua youkai jahat dan kejam.
Youkai di depannya terlihat jelas sangat menyayangi wanita cantik itu.
....xOxOx....
Rin menatap sekeliling dan tersenyum. Perlahan, wanita manusia itu kemudian menoleh wajah pada suaminya yang berjalan di samping dengan tangan mereka yang tertaut tidak terlepaskan. "Apakah urusan anda sudah selesai, Sesshoumaru-sama?"
Sesshoumaru mengangguk kepala pelan menjawab pertanyaan Rin.
"Baguslah." Tawa Rin dan kembali menoleh wajahnya ke depan dan tidak mengatakan apa-apa lagi.
Hari ini tepat seminggu usia pernikahan mereka, dan hari ini juga merupakan hari di mana mereka pergi untuk honey moon.
Honey moon.
Sebenarnya baik Rin maupun Sesshoumaru sama sekali tidak mengerti kata asing itu. Kata itu diucapkan Kagome sehari setelah mereka menikah, dan miko masa depan itu dengan semangat mengebu-ngebu memaksa inuyoukai penguasa tanah barat melakukan itu bersama Rin.
Honey moon atau bulan madu. Kagome menjelaskan bahwa itu adalah perjalanan ke suatu tempat yang dilakukan sepasang pengantin baru untuk menikmati pernikahan mereka.
Sesshoumaru meski sebenarnya bingung, sama sekali tidak keberatan melakukan itu jika Rin menginginkan. Sedangkan untuk Rin, memikirkan bahwa dia bisa melakukan perjalanan berdua dengan Sesshoumaru, dia langsung setuju. Sebab, dia memang sangat menikmati waktu di alam bebas bersama inuyoukai itu seperti saat dia kecil.
Inukimi juga sangat mendukung ide yang diberikan Kagome. Mantan penguasa tanah barat itu bahkan dengan suka rela bersedia menggantikan tugas putranya sebagai penguasa tanah barat selama seminggu.
Karena itu, disinilah sepasang suami-istri penguasa tanah barat berada sekarang, di gunung hare yang masih berada dalam kekuasaan Sesshoumaru. Penguasa tanah barat memilih gunung ini karena gunung ini cukup terkenal dengan keindahan bunga favorit Rin, yakni bunga sakura serta danaunya.
Tapi, siapa yang menyangka saat mereka hampir mencapai gunung hare, Sesshoumaru menemukan beberapa youkai berulah di gunung tersebut. Untuk meresahkan para penduduk kota tenko yang berada di samping gunung, mereka sengaja membuat cuaca tidak bersahabat.
Menjauhkan istrinya, dan menyuruhnya menunggu di kedai teh manusia, Sesshoumaru dengan kedua tangannya sendiri kemudian pergi mengurus para youkai tersebut.
Rin tidak bertanya banyak dengan apa yang dilakukan Sesshoumaru kepada para youkai itu, tapi, semenjak dia menginjakkan kaki ke gunung hare, dia tidak menemukan sesuatu yang aneh ataupun keberadaan youkai. Yang ada malahan adalah keindahan gunung yang penuh bunga sakura.
Terus berjalan, Rin kemudian kembali menoleh ke samping menatap Sesshoumaru, seulas senyum kembali menghiasi wajahnya.
Sadar dengan pandangan mata Rin, Sesshoumaru kemudian ikut menoleh pandangannya pada kisaki tanah barat tersebut. "Ada apa, Rin?"
Rin tersenyum semakin lebar dan kemudian berubah menjadi sebuah tawa kecil. "Rin teringat masa lalu, Sesshoumaru-sama," jawabnya pelan. "Dulu, Rin selalu berjalan di belakang anda. Tapi, kini, Rin bisa berjalan di samping anda dengan tangan tertaut seperti ini—Rin sangat bahagia."
Jawaban dan senyum tawa Rin membuat Seshsoumaru semakin mengeratkan tangan mungil dalam genggamannya. Menoleh wajah kembali ke depan, inuyoukai itu membalas ucapan wanita manusia tersebut. "Mulai sekarang, itulah tempatmu, Rin."
Rin mengangguk kepala dengan senyum yang tidak kunjung menghilang. Mata coklatnya menatap lembut penuh cinta dan pujaan pada inuyoukai tersebut.
Mencintai youkai adalah dosa terbesar seorang manusia.
Kalimat yang didengarnya barusan dalam kedai teh tiba-tiba terlintas dalam pikiran Rin.
Hari ini, untuk pertama kalinya, Rin mengetahui bagaimana pandangan para manusia yang sebangsa dengannya terhadap dirinya. Ternyata, dalam mata para manusia, dia tidak lain, merupakan seorang pendosa karena mencintai seorang youkai.
Tapi..
Cintanya pada Sesshoumaru, tidak ada yang tahu. Cinta ini sudah ada sejak dirinya kecil, dan tumbuh semakin besar seiring dengan pertumbuhan dirinya. Tumbuh dan tumbuh, hingga dia sendiri tidak tahu lagi dimana awal dan dimana akhir—betapa dia mencintai inuyoukai ini.
Manusia boleh menghinanya, manusia boleh mencacinya, dan dunia manusia juga boleh menghakiminya, tapi, dia tetap tidak akan merubah cintanya.
Cintanya yang meluap-luap dan tidak terbendung. Jika cintanya adalah kesalahan, dia bersedia menutup mata dan hidup dengan kesalahan ini selamanya—mencintai Sesshoumaru, Rin bersedia menjadi seorang pendosa.
"Sesshoumaru-sama." Panggil Rin lagi. Berhenti berjalan, dia membuat inuyoukai itu ikut berhenti dan menoleh wajah menatapnya.
Menghentikan langkah kakinya, mata coklat Rin berbinar menatap Sesshoumaru. Seulas senyum merekah indah di wajah cantiknya. "Rin mencintai Sesshoumaru-sama."
Sesshoumaru tertegun lagi mendengar penyataan cinta istrinya tersebut.
Mencintai.
Tidak ada seharipun wanita manusia di depannya ini lalui tanpa mengatakan kata itu. Namun, tidak pernah bosan juga, dia Sesshoumaru, inuyoukai penguasa tanah barat mendengarnya.
Ucapan wanita itu selalu tulus dan jujur. Cinta untuknya, terpancar dari sepasang mata coklat jernih itu. Ratusan tahun hidupnya, Sesshoumaru tahu, dia takluk pada cinta itu.
Mengangkat tangan satunya lagi yang bebas, Sesshoumaru menyusuri pipi Rin yang menatapnya. Dalam mata wanita manusia itu, dia tenggelam—tenggelam dalam cintanya yang tiada dasar.
"Sesshoumaru ini tahu." Menutup mata, Sesshoumaru meniadakan jarak di antara mereka.
Dalam gunung hare di akhir musim semi, dengan angin yang berhembus lembut. Tersembunyi dari pandangan semua orang, dan dikelilingi bunga sakura yang gugur, inuyoukai itu menangkap bibir wanita di depannya dalam sebuah ciuman lembut.
....xOxOx....
__ADS_1