Till The End Of Time [ Inuyasha Fanfiction ]

Till The End Of Time [ Inuyasha Fanfiction ]
Chapter 124


__ADS_3

Shui berdiri menatap para youkai yang ada di depannya. Takeru dari tanah utara dan Asano serta Akiko dari tanah timur telah tiba di kediamannya, sesuai dengan surat undangan pertemuan yang ditulisnya.


Di sisi kiri taman kediamannya yang luas, Takeru duduk di atas salju putih dengan penuh kemalasan. Dibelakang penguasa tanah utara, para bawahan kepercayaannya juga duduk penuh kemalasan.


Lalu di sisi kanan, Asano dan Akiko duduk tenang. Di belakang mereka berdua juga, para bawahan kepercayaan mereka dari tanah timur duduk tenang.


Waktu yang dituliskannya dalam surat sudah hampir tiba. Menoleh ke belakang, mata Shui menatap para youkai tanah netral yang menatapnya dengan seulas senyum ragu-ragu.


"Shui-sama," panggil Hima pelan. Dia yang berada paling dekat dengan Shui menyuarakan apa yang ada dalam benaknya berserta rekannya. "Waktu pertemuan sudah hampir tiba. Tapi—tanah selatan masih belum hadir..."


Ada kekhawatiran dalam hati Hima dan para youkai tanah netral. Apa yang akan Shui umumkan hari ini serta langkah yang akan diambil—mereka jelas tahu. Karena itu, mereka sungguh berharap tanah selatan yang juga terkenal kuat akan berada di pihak mereka.


"Tenang," senyum Shui menenangkan para bawahannya. "Akihiko-san sudah dalam—"


Ucapan Shui tidak terselesaikan karena tiba-tiba para youkai yang ada bisa merasakan aura youkai kuat mendekat ke arah mereka.


Menoleh ke atas sumber aura, mata semua yang di bawah bisa melihat Akihiko, sang penguasa tanah selatan terbang turun bersama dengan selirnya, Tsubasa serta beberapa bawahan kepercayaannya.


Akihiko dan rombongannya mendarat di atas atap kediaman Shui. Dia tidak mengatakan apa-apa, duduk di atas atap yang bertumpuk salju putih, wajahnya tanpa ekspresi.


Tsubasa seperti biasa, berdiri di samping Akihiko dengan wajahnya yang tenang, begitu juga dengan para bawahan sang penguasa tanah selatan yang berada di belakang mereka.


Seulas senyum memenuhi wajah cantik Shui begitu melihat kedatangan Akihiko. Matanya berbinar gembira, sebab kini, panggung pentas telah sempurna, dan dia sudah bisa memulai pertunjukan hari ini.


Para youkai netral tidak dapat menyembunyikan suka cita mereka melihat kehadiran tanah selatan. Sekutu yang paling mereka harapkan kini telah tiba, senyum dan tawa segera memenuhi wajah mereka semua.


Mengangguk pelan pada para youkai tanah netral yang dengan segera membalas anggukkannya, Shui kemudian melangkah maju. Youkai bermata putih itu berjalan pelan menuju tengah taman, di mana mata dari semua youkai yang ada terarah padanya.


"Terima kasih, anda sekalian telah bersedia datang ke kediamanku yang sederhana ini," suara Shui yang tenang terdengar memenuhi taman. Seulas senyum masih memenuhi wajahnya. "Aku tidak akan basa-basi membuang waktu, aku akan langsung ke inti pertemuan ini."


Diam sejenak, Shui menghela napas. "Aku telah mengunjungi penguasa tanah barat dan juga kisakinya menyampaikan keinginan dunia youkai akan apa yang terjadi. Tapi—mereka; menolak. Tanah barat tidak bersedia menurunkan kisaki manusianya dan menarik keinginan menwariskan tanah barat pada anak hanyou yang masih berada dalam kandungan."


Kecuali rombongan tanah selatan, suara ribut terdengar dari rombongan tanah utara dan tanah timut. Tapi, tidak ada seorangpun yang berani bertanya pada Shui lebih jelas.


"Sesshoumaru, sang penguasa tanah barat mengatakan padaku; datanglah, barat akan menyambut kalian semua," lanjut Shui dengan suaranya yang tetap tenang. "Dia tidak bersedia memenuhi keinginan dunia youkai, dan dia siap menghunuskan pedang pada siapapun yang berani datang—tanah barat telah mendeklarasikan perang terhadap dunia youkai."


Suara ribut kembali terdengar memenuhi taman. Ucapan Shui ini sudah diketahui para penguasa, tapi tidak untuk semua bawahan mereka yang berada dalam taman. Rasa terkejut dan tidak percaya memenuhi wajah mereka.


"Kisaki manusia tanah barat tidak bersedia turun; dia mengatakan dia adalah manusia yang memiliki batas usia sangat pendek, dan juga tidak ada seorangpun yang pernah memprotes saat dia belum menjadi kisaki tapi telah menjalankan semua tugas kisaki tanah barat—dia tidak pernah mencampuri urusan dunia youkai."


Apa yang dikatakan Shui membuat semua youkai yang ribut terdiam. Sebenarnya, apa yang dikatakan kisaki tanah barat itu memang benar, semua yang ada sudah mengetahuinya—siapa yang tidak tahu sejarah dari kisaki tanah barat yang begitu terkenal.


"Kita tidak tahu ke depannya," Koharu, youkai tupai dari tanah netral tiba-tiba mengeluarkan suaranya memecahkan keheningan yang ada. Dia bisa melihat beberapa youkai mulai bingung serta ragu, dan dia tidak menginjinkan itu terjadi. "Sifat manusia yang serakah dan tamak, kita semua tahu. Wanita mnusia itu baru menjadi kisaki tidak lama-apa yang akan dilakukannya ke depan kita tidak tahu; kita tidak dapat mempercayai omongan manusia!!"


Apa yang dikatakan Koharu mendapatkan persetujuan banyak youkai. Keributan kembali terjadi, dan mayoritas memilih tidak mempercayai ucapan kisaki tanah barat.


"Lalu, untuk anak dalam kandungannya," Shui kembali bersuara. Wajahnya tetap tenang dengan seulas senyum di wajah tidak mempedulikan keributan yang ada. "Kisaki tanah barat mengatakan anaknya tidak akan menjadi perusak keseimbangan dunia, karena—dia akan melahirkan seorang; anak youkai sejati."


Apa yang diucapkan Shui membuat semua yang ada tertegun. Keheningan memenuhi taman, mereka semua kembali terkejut dengan apa yang kini dikatakan pemiminpin tanah netral.


"Hahaha."


Suara tawa tiba-tiba terdengar memecahkan keheningan. Menatap sumber suara, pandangan mereka jatuh pada sosok Akiko yang tertawa.


"Manusia melahirkan youkai sejati," ujar Akiko pelan berusaha menahan suara tawa yang terus meluncur keluar dari mulutnya. "Kisaki tanah barat sungguh merupakan manusia yang tidak tahu malu—segitukah dia ingin mempertahankan tahtanya?"


Suara tawa dan apa yang diucapkan Akiko dengan seketika membuat semua yang ada di sana ikut tertawa.


"Melahirkan youkai sejati?? Manusia melahirkan youkai sejati???!!"


"Kisaki tanah barat sungguh manusia dengan pemikiran unik di dunia."


"Kurasa dia wanita yang sangat pintar berbicara, karena itu Sesshoumaru bisa ditipunya!"


Shui tetap tersenyum mendengar apa yang terucapkan. Dia tidak bergerak sedikitpun.


"Baiklah—" ujar Akiko yang tidak dapat menyembunyikan tawa dan senyumnya. Berdiri, dia menatap semua yang ada penuh kepercaya dirian. "Jika kisaki tanah barat benar-benar bisa melahirkan seorang anak youkai sejati, maka, kita semua akan menerima anak itu sebagai pewaris tanah barat yang sah. Bagaimana menurut anda sekalian??"


"Setuju!!"


"Iya, aku setuju!!"


"Benar! Jika anak itu inuyoukai sejati, dialah penguasa tanah barat selanjutnya!!


Suara tawa menyetujui ucapan Akiko memenuhi taman. Tapi, di setiap ucapan mereka, hinaan terdengar jelas.


Shui mengangkat tangan kanannya dengan pelan. Meminta para youkai yang membuat kegaduhan tenang. "Baiklah jika itu keinginan kalian," ujarnya dengan senyum penuh pengertian di wajah. "Tapi, bagaimana jika anak itu—hanyou?"


"Bagaimana lagi," balas Akiko dengan seulas senyum menyeringai di wajah. "—mati. Hanyou lemah yang akan menjadi perusak keseimbangan dunia tidak boleh hidup di dunia ini."


Tidak banyak yang bersuara dengan jawaban Akiko. Tapi, wajah mereka semua setuju, bahkan ada beberapa youkai tanah netral, timur dan utara yang mengangguk kepala.


"Aku mengerti," ujar Shui lagi merebut perhatian semua yang ada. "Berarti, anda sekalian di sini telah membuat keputusan akan apa yang harus kita lakukaan akan deklarasi perang tanah barat, kan?"


Menoleh pandangan pada Takeru yang dari tadi duduk diam membisu penuh kemalasan, Shui tersenyum. "Apa jawaban tanah utara?"


Takeru tersenyum menyeringai membalas tatapan Shui. Dia yang dari tadi menonton pertunjukkan sandiwara di depannya kemudian tertawa. "Utara menerima deklarasi perang barat."


Mengangguk kepala, Shui kemudian menatap Asano yang dari tadi juga diam membisu. "Bagaimana dengan tanah timur?"

__ADS_1


Asano mengangguk kepala dengan pelan. "Keseimbangan dunia youkai harus tetap terjaga—tanah timur menerima deklarasi perang tanah barat."


Shui sekali lagi mengangguk kepala. Perlahan, dengan senyum yang semakin lebar, dia menolehkan wajahnya ada Akihiko yag duduk di atas atap kediamannya. "Bagaimana dengan—tanah selatan?"


Pandangan semua yang ada tertuju pada Akihiko dan rombongannya yang berada di atas atap. Sejak awal pertemuan, hanya rombongan tanah selatan sajalah yang diam membisu dengan tenang tanpa mengeluarkan suara sedikitpun.


Akihiko menatap Shui dengan wajahnya yang tanpa ekspresi. Dia yang sedari tadi melihat dan mendengar apa yang terjadi, sungguh merasa jijik. Sandiwara yang hebat dari semua pihak, keputusan mereka sejak awal sudah ada, kenapa masih harus bertanya?


"Aku," Akihiko membuka mulutnya. Wajah tersenyum dari seorang wanita manusia memenuhi benaknya. "—menginginkan kisaki tanah barat."


Jawaban Akihiko yang di luar dugaan membuat semua youkai dalam taman tertegun. Dengan mata terbelalak, mereka menatap tidak percaya sang penguasa tanah selatan.


"Aku akan menerima deklarasi tanah barat. Tapi sebagai gantinya, aku menginginkan kisaki tanah barat setelah ini semua berakhir."


Keheningan kembali memenuhi taman, tidak ada yang berani mengatakan sepatah katapun. Sudah bukan rahasia bahwa Akihiko sang penguasa tanah selatan sangat menginginkan kisaki tanah barat. Terlebih lagi, semua orang juga tahu semua youkai tanah selatan memiliki hutang budi pada wanita manusia tersebut—wanita yang menghidupkan semua yang mati pada perang barat-selatan tahun lalu.


"Ini.." gumam Shui pelan. Sebuah kerutan kecil memenuhi wajah cantiknya.


"Aku tidak peduli dengan tanah barat, aku tidak peduli dengan Sesshoumaru, dan juga—" lanjut Akihiko pelan. Menutup kedua mata, wajah wanita manusia yang tersenyum dalam benaknya berubah menjadi tangisan kesedihan. "Anak dalam perutnya."


Setelah semua menjadi seperti ini, Akihiko tahu, anak dalam perut Rin tidak dapat di pertahankan lagi. Akhir dari anak itu; dia tidak akan pernah hidup untuk menghirup udara dunia ini—dia ditakdirkan mati sebelum dilahirkan.


Rin yang membuat keputusan bodoh, oleh karena itu, Akihiko mau tidak mau juga harus membuat keputusannya. Dirinya tahu, dia tidak akan dapat melindungi wanita manusia yang dicintainya sebagaimana yang dia inginkan. Tapi, sampai akhir, dia tetaplah ingin melindunginya.


Meski wanita manusia itu tidak akan pernah lagi tersenyum sebagaimana mestinya, meski hidup wanita manusia itu tidak akan bedanya dengan mati—Akihiko tetap akan melindunginya. Hidup lebih baik daripada mati; dia tidak akan membiarkan Rin terluka lagi setelah ini semua berakhir.


Membuka matanya, Akihiko menatap lurus Shui. "Itu jawaban tanah selatan."


"Akihiko-san, jawaban anda ini..." ujar Shui pelan. Kebingungan memenuhi wajahnya seakan dia tidak tahu harus bagaimana membalasnya. Namun. Jauh dalam hati, dia tertawa, karena youkai serigala tersebut telah menyetujui apa yang ditawarkannya—Rin.


Menoleh pandangannya pada Takeru dan Asano, Shui menatap mereka seakan mencari bantuan.


Takeru yang melihat pandangan mata Shui tidak dapat menyembunyikan tawanya. Dia tidak mengira dirinya ternyata memiliki peran lebih dalam sandiwara ini. "Aku tidak mempermasalahkan itu," ujarnya keras. "Tapi, meski memiliki wanita manusia itu. Tanah selatan tidak boleh mengangkatnya menjadi kisaki," tersenyum menyeringai, dia menatap Akihiko. "—dia hanya boleh menjadi pemuasmu di tempat tidur, Akihiko."


Mata Akihiko menajam menatap Takeru mendengar apa yang diucapkan. Kemarahan memenuhi hatinya mendengar Rin direndahkan seperti itu.


"Aku sepemikiran dengan Takeru-san," sela Asano, dia tidak mempedulikan pandangan tidak setuju Akiko yang ada di sampingnya. Dia tahu, putri satu-satunya sangat mengharapkan kematian kisaki tanah barat. Tapi, mereka tidak mungkin maju tanpa tanah selatan. "Tanah selatan boleh memiliki kisaki tanah barat, tapi, dia tidak boleh menjadi kisaki lagi. Jika tidak—pertemuan kita ini sia-sia."


Baik Takeru maupun Asano telah menyetujui apa yang diinginkan Akihiko, karena itu, tidak ada seorangpun yang berani menolak keinginan sang penguasa tanah selatan—termasuk tanah netral.


Mengangguk kepala. Shui kemudian kembali menoleh wajahnya menatap Akihiko. Senyum lebar memenuhi wajahnya, sedangkan kedua mata putihnya berbinar gembira. "Baiklah Akihiko-san," ujarnya pelan. "Kau boleh memiliki kisaki tanah barat."


Akihiko tetap duduk diam tidak mengucapkan sepatah katapun. Wajahnya tanpa ekspresi, tapi dalam hati dia tahu—tidak ada jalan kembali lagi.


Tsubasa yang berdiri di samping Akihiko juga tidak mengatakan apa-apa. Sejak awal hingga sekarang, dia tidak memperlihatkan perubahan ekspresi sedikitpun. Perlahan, dia kemudian menutup mata dan tersenyum kecil. Hasil yang seperti ini, dia sudah menduganya. Tapi—hatinya tetap saja terasa luar biasa sakit.


....xOxOx....


Pertengahan musim dingin, satu bulan ke depan, mereka semua akan datang ke istana tanah barat. Tidak ada sedikitpun kekhawatiran dan kegentaran dirasakan Sesshoumaru.


"Kapan mereka akan datang?" tanya Inuyasha yang ada di depan Sesshoumaru. Kedua matanya menatap surat yang ada di tangan kakaknya.


Meletakkan surat yang di tangannya ke atas meja, Sesshoumaru menjawab pelan. "Satu bulan lagi."


"Ohh, masih lama," Inuyasha mengangguk kepala sambil melipat kedua tangan di dada. "Kukira mereka akan datang minggu depan."


Sesshoumaru bangkit berdiri, dengan ekspresi wajahnya yang tidak berubah. "Kapan mereka akan datang, Sesshoumaru ini tidak peduli."


"Sesshoumaru," panggil Inuyasha kemudian, kedua matanya menatap lurus dan serius kepada kakak seayahnya tersebut. "Pada perang ke depannya, aku ingin kau memperingati Rin."


Sesshoumaru membalas tatapan Inuyasha, tapi dia tetap diam membisu dengan wajah tanpa ekspresi.


"Maksudku," jelas Inuyasha sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal sama sekali. "Peringati dia untuk tidak menggunakan meido seki apapun yang terjadi. Dalam dua perang, kedua-duanya dia memakai kekuatan sialan itu, kali ini jika tidak diperingati, dia pasti akan sama lagi."


"Rin tidak akan menggunakan kekuatan itu lagi." Balas Sesshoumaru datar, tidak mempedulikan Inuyasha, dia berjalan keluar dari ruang kerjanya. "Selamanya tidak akan pernah lagi."


"Bagus kalau begitu." Menganguk kepala, Inuyasha tidak mengatakan apa-apa lagi. Melangkah maju, dia berjalan mengikuti Sesshoumaru dari belakang.


Kedua bersaudara inu itu berjalan menuju paviliun utara istana tanah barat. Kamar tidur Sesshoumaru dan Rin di paviliun timur yang hancur berantakan karena pertarungan Sesshoumaru dan Akihiko beberapa hari yang lalu masih dalam perbaikan, karena itu, untuk sementara Rin tinggal di paviliun utara istana.


Baik Sesshoumaru maupun Inuyasha tidak mengatakan sepatah katapun dalam perjalanan mereka, hingga suara Kagome tiba-tiba terdengar. "Inuyasha! Kakak!"


Menoleh wajahnya pada sumber suara, seperti biasa, Inuyasha melihat Kagome berlari mendekati mereka dengan mapan berisi ramuan obat untuk Rin.


"Kalian berdua menuju kamar Rin, kan?" tanya Kagome dengan senyum lebar di wajahnya. "Aku ikut."


"Jangan lari, bodoh!" teriak Inuyasha berlari mendekati Kagome. "Ramuan obat di tanganmu akan tumpah!!"


Kagome mencibir tidak suka mendengar ucapan Inuyasha. Tapi, dia tidak mengatakan apa-apa. Diam membisu dengan pandang penuh kekesalan, dia membiarkan inuhanyou itu mengambil alih mapan berisi ramuan obat di tangannya.


Sesshoumaru tidak mempedulikan Inuyasha dan Kagome, tanpa menolehkan pandangannya sedikitpun, dia kembali melangkah. Menulikan telinganya, dia bisa merasakan inuhanyou dan miko masa depan di belakang mengikuti dirinya dengan suara keras dan teriakan; berdebat akan sesuatu yang tidak ada gunanya.


Tiba di depan kamar Rin, Kiri dan Kira yang menjaga pintu membungkuk memberi hormat dan membuka pintu shoji yang tertutup.


Memasuki kamar dengan pelan dan hati-hati, mata emas Sesshoumaru menemukan Rin yang tertidur dengan sangat tenang dan damai di atas futon.


Inuyasha dan Kagome yang berada di belakang Sesshoumaru tidak berdebat lagi begitu pintu kamar terbuka. Kedua makhluk paling ribut bagi penguasa tanah barat kini telah kembali diam membisu.


Mendekati dan duduk di samping Rin, mata emas Sesshoumaru menatap lembut wajah pucat dan perut besar Rin—dua keberadaan tidak ternilai dalam hidupnya.

__ADS_1


Kagome juga ikut duduk di samping Rin setelah mengambil ramuan obat dari tangan Inuyasha. Dengan senyum di wajah, dia melihat ekspresi wajah Sesshoumaru. Sesshoumaru itu sangat tampan, dan melihat tatapan lembut di mata emasnya, miko masa depan merasa, ketampanannya bertambah berkali lipat.


Rin benar-benar adalah wanita yang sangat beruntung di dunia—karena dia dicintai Sesshoumaru dengan begitu luar biasa. Deminya dan anak mereka, inuyoukai itu berani menghadapi dunia tanpa takut sedikitpun—cinta seperti itu adalah cinta yang diimpikan semua wanita di dunia.


Kagome berpikir, apakah semua inuyoukai itu seperti ini? Bukankah untuk ibu mertuanya, Izayoi dan Inuyasha, dulu ayah mertuanya Inu No Taisho juga melakukan hal yang sama?—cinta yang begitu dalam hingga nyawapun tidak dipedulikan. Miko masa depan itu mau tidak mau berpikir, jika dia dan Shirolah yang berada di posisi Rin dan Shura, apakah Inuyasha juga akan melakukan hal yang sama?


Tidak mempedulikan tatapan mata Kagome, Sesshoumaru mengangkat tangan kanannya mengelus lembut pipi Rin. "Rin, bangun. Saatnya minum obatmu."


Perlahan, mata Rin yang tertutup terbuka. Mata coklat jernihnya yang tidak fokus menjadi fokus, dan saat dia melihat wajah Sesshoumaru, seulas senyum seindah musim semi memenuhi wajahnya. "Sesshoumaru-sama.."


Senyum Rin yang indah dan suara pelan bagaikan dentingan lonceng yang memanggil namanya membuat Sesshoumaru menutup mata. Membungkukkan badan, dia mencium lembut kening kisakinya yang baru terbangun.


Wajah Kagome memerah melihat interaksi Sesshoumaru dan Rin. Membuang muka, dia menggerutu dalam hati, inuyoukai itu sepertinya benar-benar telah lupa akan dia yang berada di samping. Jika sudah ada Rin, sepertinya tidak akan ada orang lain lagi dalam mata emas cemerlang tersebut.


Inuyasha yang ada di belakang juga membuang mukanya melihat apa yang terjadi. Meski aneh, dirinya sudah terbiasa dengan sikap Sesshoumaru itu.


Saat Sesshoumaru menjauhkan wajahnya, dia segera bergerak membantu Rin duduk. Masih tidak mempedulikan Kagome, dia langsung mengambil mangkuk berisi ramuan obat untuk kisakinya.


Rin yang menyadari keberadaan Kagome dan juga Inuyasha tersenyum kepada mereka berdua. Tidak berkata apa-apa, dengan patuh dia meminum ramuan obatnya.


Seperti biasa, selesai Rin menghabiskan ramuan obatnya, Sesshoumaru mengerakkan tangannya lagi untuk mengelap sisa obat di ujung bibir Rin dengan pelan.


Tersenyum, Rin menatap Sesshoumaru lembut. Wajahnya yang lemah dan pucat sama sekali tidak mengurangi kecantikannya. "Terima kasih, Sesshoumaru-sama."


"Kakak," panggil Kagome yang dari tadi tidak dipedulikan Sesshoumaru. Dia tersenyum lebar menatap inuyoukai itu, tapi siapapun yang melihat senyum itu akan segera tahu bahwa itu adalah seulas senyum paksaan. "Bisa kau biarkan aku memeriksa nadi Rin-chan?"


"Ah," seru Rin sambil tertawa dan menyodorkan tangan kanannya pada Kagome. "Silakan, Kagome-sama."


Senyum lebar penuh paksaan di wajah Kagome berubah menjadi tawa. Menoleh wajahnya menatap Rin, Kagome langsung menyentuh tangan wanita manusia itu memeriksa nadinya.


"Hmnn," gumam Kagome pelan. Dia melepaskan tangan Rin dan tersenyum lembut. "Keadaanmu cukup baik, Rin-chan. Tapi, kau tetap tidak boleh meninggalkam tempat tidur."


Rin tersenyum dan mengangguk kepala pelan penuh kepatuhan. "Baik. Rin mengerti. Terima kasih, Kagome-sama."


Menggerakkan kedua tangannya, Rin dengan penuh kelembutan kemudian mengelus perut besarnya sambil menutup mata.


Cahaya matahari siang musim dingin yang masuk melalui jendela jatuh menyinari Rin. Rambut sehiram langit tanpa bintang, kulit sepurih salju dan dengan senyum lembut di wajah cantiknya yang begitu memesona. Lalu, elusan tangannya yang penuh lembut penuh kasih sayang ada anak dalam kandungan—wanita yang merupakan calon ibu itu terlihat begitu indah.


Kagome tahu apa yang sedang dilakukan Rin sekarang—wanita manusia itu sedang; berdoa.


Sejak kedatangan Shui, Rin memiliki kebiasaan baru, yakni; berdoa. Berdoa kepada kami-sama untuk anaknya, Shura. Doa anaknya terlahir sebagai youkai sejati, bukanlah seorang hanyou. Sebuah doa yang—mustahil.


Persatuan youkai dan manusia adalah hanyou, itu adalah hukum alam—sebuah kenyataan yang tidak akan pernah berubah untuk selamanya. Karena itu, semua orang tahu, doa Rin adalah doa yang sia-sia. Namun, untuk seorang calon ibu yang berdoa dengan begitu tulus tidak peduli apapun untuk anaknya, siapa yang berani mengatakan itu semua?—mereka hanya bisa pasrah membiarkan wanita manusia itu terus berdoa.


Selesai berdoa, mata Rin yang tertutup terbuka kembali. Menatap Sesshoumaru, dia tersenyum semakin lebar. "Tugas anda sudah selesai semua, Sesshoumaru-sama?"


Sesshoumaru mengangguk kepala menjawab pertanyaan Rin. Seperti biasa, kedua matanya menatap lembut wanita itu dengan wajah tanpa ekspresi.


"Rin-chan," panggil Kagome ceria. Dia merasa harus membuka topik pembicaraan baru, kalau tidak keheningan pasti akan memenuhi ruangan. Sampai hari ini, miko masa depan tidak mengerti bagaimana Sesshoumaru dan Rin bisa duduk diam membisu berjam-jam, tapi memiliki hubungan yang dapat membuat iri siapapun yang melihatnya. "Kenapa menurutmu, Shura akan mirip kakak?"


Pertanyaan Kagome adalah pertanyaan yang dia lontarkan saat diteringat ucapan Rin yang mengatakan bahwa Shura akan terlahir mirip Sesshoumaru pada saat kedatangan Shui.


Rin tersenyum. "Bukankah anak laki-laki akan mirip ayah mereka. Shiro mirip sekali dengan Inuyasha-sama, begitu juga dengan Mamoru yang mirip dengan Miroku-sama—ah, iya. Apa mereka sudah sampai di desa manusia?"


"Miroku dan Sango sudah dalam perjalanan kembali ke istana tanah barat," jawab Kagome sambil tersenyum. "Mereka sudah tiba di rumah nenek Kaeda. Kau tenang saja."


Rin menghela napas dan mengangguk kepala mendengar jawaban yang diberikan Kagome padanya.


Shiro, Aya, Maya dan Mamoru tidak berada dalam istana tanah barat lagi sekarang. Keadaan yang tidak menentu dengan perang besar di depan mata membuat Inuyasha, Kagome, Miroku dan Sango memutuskan mengungsi anak-anak ke desa manusia dalam pengawasan Kaeda.


Rin teringat tangisan Shiro dan Mamoru yang tidak bersedia meninggalkan istana tanah barat saat Miroku dan Sango akan mengantar mereka. Kedua bocah kecil tersebut, memeluk tangannya erat tidak mau lepas hingga akhirnya Sesshoumaru muncul.


Ekspresi ketakutan kedua bocah tersebut saat mata emas Sesshoumaru menatap tajam mereka, sungguh tidak akan terlupakan oleh Rin. Sepertinya, anak kecil memang selalu takut pada penguasa tanah barat tersebut. Aya dan Maya juga terlihat jelas takut padanya—hanya dirinya saat kecillah yang tidak pernah takut pada inuyoukai tersebut meski ditatap tajam.


"Lebih baik anakmu itu mirip denganmu, Rin," sela Inuyasha yang dari tadi diam membisu. Ucapannya dengan segera mengembalikan topik pembicaraan mereka sebelumnya. "Jangan menciptakan Sesshoumaru kedua di dunia ini."


"Osuwari," ujar Kagome dan membuat Inuyasha terkapar di atas lantai. "Jangan sembarangan Inuyasha. Apa salahnya jika Shura mirip Kakak?"


"Kagome!!!" teriak Inuyasha kesal berusaha melawan tekanan yang terus menekannya ke bawah.


"Aku berharap cucuku mirip dengan Rin-kecil," suara Inukimi tiba-tiba terdengar. Bersamaan dengan itu, pintu kamar terbuka, dan mantan penguasa tanah barat berjalan masuk sambil tertawa. "Jika mirip Sesshoumaru, dia tidak akan ada manis-manisnya."


"Ibunda." panggil Rin sambil tersenyum pada Inukimi yang berjalan mendekatinya.


Duduk ke bawah, Inukimi mengelus lembut perut besar Rin. Seulas senyum menyeringai memenuhi wajahnya. "Dia boleh kuat seperti ayahnya, tapi dia tidak boleh mewarisi sikap buruk dingin, tidak peduli dan kesombongannya itu."


Sesshoumaru tetap tidak bereaksi sedikitpun dengan perkataan Inukimi seakan dia memang tidak mendengarnya.


"Akhirnya ada yang mengerti maksudku!!" sela Inuyasha sambil tertawa bahagia penuh kemenangan. "Anda benar sekali, Inukimi-san!!"


Kagome mau tidak mau akhirnya ikut tertawa, dia mengerti maksud ucapan Inukimi. Shura jika mirip Sesshoumaru pasti akan sulit ditangani kelak. Tapi, membayangkan rupa Shura kelak, anak dengan wajah dan sifat mirip Sesshoumaru, lalu dilengkapi sepasamg telinga anjing seperti Inuyasha dan Shiro—anak itu pasti akan sangat menggemaskan.


Rin yang melihat tawa Inuyasha, Kagome dan Inukimi menoleh menatap Sesshoumaru. Seulas senyum memenuhi wajah cantiknya melihat inuyoukai itu yang masih terlihat tidak peduli sedikitpun dengan pembicaraan yang ada.


Pembicaraan mereka sekarang benar-benar menyudutkan Sesshoumaru. Shura yang mirip dengan Sesshoumaru seluruhnya bagi Rin sebenarnya tidak masalah, malahan itu lebih baik. Karena seperti yang pernah dipikirkannya, Sesshoumaru itu indah—keindahan yang hanya dapat dilihatnya seorang saja. Ya—Shura akan mirip dengan Sesshoumaru kelak. Putra mereka yang tercinta dan paling berharga dalam keberadaan mereka.


Perlahan, senyum di wajah Rin berubah menjadi tawa lepas. Perasaan bahagia dan hangat memenuhi seluruh relung hatinya. Menggerakkan tangan kanannya, dia mengenggam tangan Sesshoumaru dan menutup mata.


Hari yang damai, pembicaraan yang menarik, suara tawa yang bergema memenuhi ruangan, serta keluarga yang berharga di samping, bagi Rin—ini adalah salah satu kebahagiaan yang selalu diharapkannya abadi.

__ADS_1


....xOxOx....


__ADS_2