![Till The End Of Time [ Inuyasha Fanfiction ]](https://asset.asean.biz.id/till-the-end-of-time---inuyasha-fanfiction--.webp)
"Kanpai!!!"
Suara dentingan cangkir sake terdengar keras bersama dengan tawa lepas penuh kegembiraan. Taman paviliun timur istana tanah barat yang biasanya tenang kini hidup penuh hura.
Seperti tahun lalu pada hari ulang tahun sang penguasa, pesta kembali diadakan, dengan jamuan makanan dan sake tiada henti untuk para youkai yang menghadiri acara.
"Untuk penguasa kita yang kuat!"
"Untuk Kisaki kita tercinta!"
"Untuk pewaris tanah barat!"
"Untuk tanah barat selalu jaya!!"
"Kanpai!!"
Suara tawa tidak berkesudahan menjunjung keluarga penguasa tanah barat terdengar. Pesta yang ada telah berlangsung selama tujuh hari, dan akan segera mencapai puncaknya pada malam ini.
Inuyasha duduk dengan tangan terlipat di dada. Tidak peduli dengan keributan di sekeliling, dia diam membisu memikirkan sesuatu. Wajah tampannya datar tapi juga sekaligus serius dan sendu.
"Apa yang kau pikirkan, Inuyasha?" tanya Kagome pelan. Dia yang sedang menyuapi Shiro makan, menoleh wajah menatap inuhanyou itu bingung, begitu juga dengan Kaeda yang ada di sampingnya.
"Aku hanya berpikir," jawab Inuyasha pelan. Dia mengangkat kepala menatap langit malam di atas. "Jika saja saat aku lahir, ayahanda masih hidup—akankah hidupku akan berubah? Akankah ada pesta yang diadakan untukku seperti ini?"
"Kau mengharapkan pesta seperti ini untukmu?" tanya Kagome terkejut. Matanya terbelalak menatap Inuyasha tidak percaya.
"Haih—" Kaeda menghela napas pelan dan menoleh wajahnya ke samping. "Ternyata dia menyukai dan menikmati pesta seperti ini—padahal sikapnya seperti tidak peduli."
"Tidak!" balas Inuyasha kesal dan kembali menurunkan kepala menatap Kagome dan Kaeda. "Aku tidak ingin pesta seperti ini untukku!! Aku hanya berpikir apakah ayahanda akan membuat pesta seperti untukku, putra hanyounya!"
"Tentu saja akan." Sela Kenji yang tiba-tiba muncul di belakang Inuyasha, Kagome, Kaeda dan Shiro mengejutkan mereka berempat.
"Sudah kubilang jangan muncul tiba-tiba seperti ini!!" teriak Inuyasha penuh kemarahan. Mata emasnya menatap tajam Kenji yang tertawa.
Duduk bersila di samping Kagome, Kenji mengangkat Shiro dan meletakkannya di atas kaki. Membiarkan hanyou kecil tersebut memainkan janggut panjangnya, dia tersenyum pada Inuyasha. "Anjing itu pasti akan mengadakan pesta seperti ini untuk merayakan kelahiranmu."
"Meski aku seorang hanyou?" tanya Inuyasha. Kedua mata emasnya menatap lekat Kenji mencari kebenaran.
Kenji mengangguk kepala. "Hanyou atau youkai, kau adalah putra kandungnya—dia tidak akan membedakanmu ataupun Sesshoumaru. Cinta ayahmu pada kalian berdua sama, Inuyasha."
"Aku tidak bertanya untuk itu," balas Inuyasha dan membuang muka ke samping, tapi seulas senyum yang sangat kecil memenuhi wajah tampannya. "Aku tidak peduli itu."
Kagome yang melihat senyum kecil di wajah Inuyasha hanya bisa tertawa dan menggeleng kepala. Suaminya ini memang tidak jujur, apa salahnya jika dia penasaran dengan sosok ayah kandung yang mencintainya namun tidak pernah diingatnya.
"Kau—" gumam Kenji kemudian dan tersenyum menyeringai. "Kau tidak sedang iri dengan keponakanmu yang terlahir sebagai youkai sejati, kan?"
Pertanyaan Kenji membuat Kagome tertegun, sejenak kemudian, dia kembali menoleh wajah menatap Inuyasha. Kekacauan dan kebahagiaan yang ada membuat dirinya lupa akan perasaan Inuyasha yang melihat Shura yang terlahir sebagai Inuyoukai sejati. Sama-sama memiliki ayah inuyoukai dan ibu manusia, tapi mereka lahir dengan jatidiri yang berbeda.
Dulu Inuyasha membenci kenyataan dia terlahir sebagai hanyou, karena itu dia sampai mengincar shinko no tama untuk menjadi youkai sejati. Jadi, Kagome benar tidak dapat membayangkan perasaan inuhanyou itu sekarang.
"Kau bilang apa?" tanya Inuyasha balik terkejut. Dia kembali menoleh wajah menatap Kenji tidak percaya. "Iri?—aku? Dengan si kecil itu?? Kau bercanda??"
"Kau tidak iri?" balas Kenji pelan, dia menatap lekat mata Inuyasha yang tertuju padanya. "Dia seharusnya lahir sama sepertimu, tapi pada akhirnya—Shura terlahir berbeda."
"Aku tidak iri," kembali membuang muka, Inuyasha mengangkat kepala menatap langit musim semi di atas. "Hanyou tidak kalah dari youkai—kami sama."
Menurunkan kepala, Inuyasha kembali menatap Kenji. "Untuk si kecil itu, aku senang dia terlahir sebagai youkai, sebab dengan begitu, dia dan juga Rin tidak perlu mengalami apa yang aku dan ibuku alami dulu."
Apa yang dikatakan Inuyasha adalah kejujuran tanpa kebohongan. Dia bersyukur Shura terlahir sebagai inuyoukai. Dirinya tidak ingin masa lalu sepertinya terulangi lagi, ibu manusia dan anak hanyou yang kehilangan sosok suami dan ayah, hidup dalam hinaan orang—cerita itu cukup berakhir pada dirinya.
"Dan untukku," lanjut Inuyasha lagi. Menggerakkan tangan, dia memindahkan Shiro yang ada di pangkuan Kenji ke pangkuannya. Tertawa, dia menepuk kepala putranya pelan. "Setidaknya aku bahagia sekarang—ada Kagome, Shiro dan yang lainnya di sampingku; aku sudah bahagia."
Ucapan Inuyasha membuat Kagome tersenyum. Melihat tawa suaminya, dia juga bisa merasakan apa itu; kebahagiaan. Masa lalu yang ada memang tidak bahagia, tapi masa depan mereka penuh dengan kebahagiaan tanpa batas.
Kaeda tidak mengatakan apa-apa, tapi dia juga ikut tersenyum. Meski sesungguhnya Inuyasha lebih tua darinya, melihat sikap dan ucapan inuhanyou itu, dia merasakan kelegaan dan kebanggaan—seperti orang tua yang melihat anaknya telah dewasa.
"Anjing itu dan Izayoi akan bahagia dan bangga melihatmu sekarang." ujar Kenji kemudian. Melihat perubahaan Inuyasha, dia merasa gembira, anak yang kehilangan sosok ayah saat dilahirkan di dunia ini telah dewasa dan menjadi sosok yang mengagumkan tanpa disadari.
"Ayah, di mana Shura?" tanya Shiro yang kini ada dipangkuan Inuyasha tiba-tiba.
Pertanyaan Shiro membuat Inuyasha, Kagome dan Kenji menatap inuhanyou kecil tersebut. Dia dan Kaeda baru sampai tidak lama di istana tanah barat, dan sampai sekarang Shiro masih belum bertemu dengan sepupunya yang baru lahir tidak lama.
"Kau akan segera bertemu adik sepupumu, Shiro," tawa Kenji keras. "Kuharap kau dan Shura tidak akan tumbuh besar seperti ayah kalian dulu—bertarung setiap kali bertemu hanya demi sibilah pedang."
Kagome tertawa mendengar ucapan Kenji. Sejujurnya, Kagome menghawatirkan masa depan kedua anak tersebut. Shiro terlalu mirip Inuyasha dan Shura juga terlihat terlalu mirip Sesshoumaru, jika kelak mereka berebut sesuatu yang sama, masa lalu seperti ayah mereka pasti akan terulangi lagi.
"Dan ayah menang, Shiro!" lanjut Inuyasha penuh kebanggaan, dia tersenyum lebar dengan mata berbinar. "Pamanmu itu dulu tidak pernah berhasil merebut pedang Tessaiga dari ayah. Karena itu, kelak—apapun yang kau dan sikecil itu perebutkan, kau tidak boleh kalah!!"
Shiro tidak mengerti maksud ucapan Inuyasha sepenuhnya, tapi melihat senyum dan semangat ayah kandungnya, dia segera mengangguk dan tertawa.
"Jangan mengajari Shiro yang tidak-tidak, Inuyasha!!" gumam Kagome dan menarik pipi Inuyasha kuat.
"Sakit!!—apaan kau Kagome??" protes Inuyasha kesal.
__ADS_1
Shiro yang melihat interaksi kedua orang tuanya tertawa. Mengangkat tangan kanan, dia ikut menarik pipi Inuyasha dan membuat Kenji dan Kaeda ikut tertawa.
"Kalian sini ramai sekali?" suara Miroku tiba-tiba terdengar menyela tawa yang ada.
Menoleh ke belakang, mereka melihat Miroku, Sango, Kohaku berjalan mendekat. Aya dan Maya mengikut di belakang, sedangkan Mamoru berada dalam pelukan ayahnya dengan wajah sembab.
"Mamoru masih belum bisa menerima kenyataan?" tanya Kenji melihat Mamoru yang kini memendamkan wajahnya pada dada Miroku.
"Ya—namanya laki-laki," tawa Miroku lepas. Tidak ada perasaan resah melihat sikap putranya. "Cintanya pupus sebelum bersemi, wajar dia jadi seperti ini."
"Kau kira dia jadi seperti ini gara-gara siapa?" potong Sango kesal dan menghela napas. Namun,dia tidak bisa melakukan apa-apa.
"Cih," cibir Inuyasha. Kedua matanya menatap lurus Miroku. "Kau itu sudah gila kalau ingin menjadi besan dengan Sesshoumaru."
Miroku tertawa gugup, sampai sekarang dia tidak mengerti kenapa candaannya berakhir seperti ini. Untung Shura lahir sebagai laki-laki, kalau benar perempuan, dia tidak tahu apa yang akan terjadi kelak. Kata Inuyasha benar, siapa yang berani berbesan dengan Sesshoumaru?—salah sedikit mereka sekeluarga akan menghilang dari dunia ini.
"Mamoru ingin istri yang cantik seperti Rin-chan." Gumam Mamoru tiba-tiba.
"Shura itu laki-laki, Mamoru." Ujar Aya sambil tersenyum.
"Benar, laki-laki tidak mungkin menjadi istrimu." Tambah Maya sambil tertawa.
"Kakak jahat!!" teriak Mamoru dengan tangis yang kembali pecah.
"Aya, Maya, hentikan," Kohaku dengan segera menghentikan kedua keponakannya yang mulai terlihat ingin menggoda adiknya. "Jangan mengganggu Mamoru lagi."
"Demi istri cantik???—Mamoru terlalu mirip dengamu, Miroku," suara Shippo tiba-tiba terdengar menyela pembicaraan.
Menoleh ke sumber suara, semua yang ada melihat Shippo berdiri dengan dua anak youkai klan tikus putih di sampingnya; Yuki dan Sora.
Berjalan mendekati Inuyasha dan yang lain Shippo tersenyum lebar. "Ada yang ingin ku kenalkan pada kalian," ujarnya penuh semangat. "Teman baruku, Yuki dan Sora."
Yuki dan Sora mengangguk kepala pelan takut-takut saat dikenalkan Shippo kepada Inuyasha dan yang lainnya. Dari cerita Shippo selama perjalanan mereka, kedua youkai tikus putih sudah tahu siapa yang ada di depan mereka sekarang.
Inuyasha dan yang lainnya segera mengenali kedua youkai kecil tersebut. Kedua youkai kecil di depan mereka adalah youkai yang berperan penting dalam menghentikan perang empat wilayah yang terjadi tidak lama ini.
"Yuki-chan, Sora-chan, senang bertemu kalian." Sapa Kagome dengan senyum ramah di wajahnya. Pandangan matanya semakin melembut saat dia menatap mata kanan Yuki yang diperban. Pengorbanan yang dilakukan youkai kecil itu sungguh besar.
Yuki dan Sora membalas sapaan Kagome dengan senyum malu-malu. Namun, Shippo yang ada di samping mereka berdua segera menggenggam tangan kedua youkai tikus putih tersebut. Tertawa semakin lebar, dia menarik mereka ke arah Kagome dan yang lainnya. "Ayo, aku akan memperkenalkan kalian pada keluarga besarku."
Tawa Shippo membuat Yuki dan Sora tertegun sejenak, namun kemudian mereka tersenyum lebar. Sesungguhnya, mereka sudah sangat penasaran dengan Inuyasha dan yang lainnya, sebab selama pertualangan mereka, youkai rubah di depan mereka selalu mencerita dan membanggakan keluarga yang begitu dicintainya—keluarga kuat dan hangat yang tidak memiliki jalinan darah sedikitpun.
Suara yang ada semakin keras. Dalam pesta yang terus berlanjut, bersamaan dengan bergabungnya keluarga Miroku dan Sango, Kohaku, Shippo, Yuki dan Sora—canda tawa tidak terhentikan lagi. Suasana hangat penuh kebahagiaan menyelimuti hati semua yang ada.
Tidak ada beban maupun kebingungan lagi, begitu juga dengan ketakutan dan kesedihan. Mereka semua telah melewatinya, masa-masa sulit nan gelap dengan ikatan keluarga sebagai pedoman. Karena itulah sekarang—mereka harus merayakan kemenangan yang; merayakan keutuhan keluarga mereka yang begitu luar biasa.
....xOxOx....
Mengenakan kimono mewah berwarna putih dengan lambang kebesaran barat, Rin duduk dengan tenang. Di sampingnya Rei dan Rika menata dan menyanggul rambut panjang sehitam langit malam tanpa bintang sang kisaki tanah barat dengan aksesoris emas permata. Lalu, wajah pucatnya ditutupi make up tipis natural yang membuat wajah pucat cantiknya semakin cantik dan juga sehat.
"Apakah ada bagian yang tidak anda sukai dan ingin anda ubah, Rin-sama?" tanya Rei pelan begitu selesai mendandani Rin. Senyum menghiasi wajah dayang tersebut melihat cantiknya wanita manusia yang selama ini dilayaninya.
"Tidak," senyum Rin. Menatap Rei dan Rika, dia tertawa kecil. "Dandanan Rei-nee dan Rika-nee selalu memuaskan."
Senyum di wajah Rei dan Rika semakin lebar mendengar pujian Rin. Sampai sekarang, meski wanita manusia ini telah menjadi wanita paling terhormat di dunia youkai, sikapnya kepada mereka tetap saja tidak berubah—selalu hangat dan ramah
Menatap pantulan wajahnya si cermin, Rin tersenyum puas dengan penampilannya. Malam ini adalah malam puncak pengenalan Shura kepada para youkai tanah barat sesuai tradisi, malam dimana pewaris tanah barat akan secara resmi diperkenalkan kepada mereka yang kelak akan melayani dan menjadikannya tuan. Sebagai seorang ibu, meski kesehatannya tidak bagus, dia ingin menghadiri dan melihat langkah pertama putranya menyosong masa depan yang gemilang.
"Rin."
Suara Sesshoumaru yang datar dan tanpa emosi terdengar bersamaab dengan suara pintu shoji yang terbuka.
Menoleh ke belakang, Rin melihat Sesshoumaru berjalan masuk dengan Shura dalam pelukannya. "Sesshoumaru-sama, Shura." panggilnya lembut.
Sesshoumaru tidak membalas panggilan Rin, kedua mata emasnya terpusat pada sosok kisakinya yang kini begitu memesonakan, begitu juga dengan Shura. Kedua mata pewaris tanah barat terpusat pada sosok ibu kandungnya tanpa kedip.
"Bagaimana dengan penampilan Rin, Sesshoumaru-sama?" tanya Rin pelan. Seulas senyum musim semi memenuhi wajahnya.
Sesshoumaru berjalan mendekat. Membungkukan badan, dia mencium lembut puncak kepala Rin. "Kau selalu yang tercantik."
Jawaban Sesshoumaru membuat Rin tersipu malu, namun, dia tertawa dengan suaranya yang bagaikan dentingan lonceng.
Shura yang tidak mau kalah dari Sesshoumaru bergerak meronta dalam pelukan. Melihat tawa sang ibu karena ayahnya, dia juga ingin menyentuh dan membuatnya tertawa. "Au..Au.."
Tawa Rin semakin keras, mengangkat kedua tangan, dia segera memeluk Shura dan mencium keningnya penuh kasih sayang. "Putraku dari barat, ada apa?"
"Guk-guk-guk!" menyalak tiga kali dan mengoyangkan ekornya, Shura menjulurkan lidah dan menjilat hidung Rin.
"Geli Shura," tawa Rin lagi. Dia segera menjauhkan wajahnya dari jangkauan Shura. "Sifatmu ini mirip siapa?"
Sesshoumaru tersenyum melihat interaksi ibu anak di depannya. Menggerakkan tangan kanan, dia menepuk pelan kepala Shura, "Shura juga mengatakan kau cantik, Rin," ujar penguasa tanah barat pelan. Matanya menatap lembut kisakinya. "Di dunia ini, dalam mata kami berdua, selamanya—kaulah yang paling cantik."
Pujian yang diucapkan Sesshoumaru sekali lagi membuat Rin tersipu malu. Namun, senyum di wajahnya hanya semakin melebar melukiskan kebahagiaan yang ada dalam hatinya.
__ADS_1
Rei dan Rika yang berada di samping pasangan keluarga penguasa tanah barat dan sang pewaris tidak mengatakan apa-apa, kepala mereka masih tertunduk ke bawah, tapi, mata mereka terus berusaha mencuri lihat apa yang ada di depan mata. Seulas senyum memenuhi wajah mereka, betapa berarti kisaki tanah barat bagi sang penguasa dan pewaris tanah barat, mereka bisa merasakannya jelas.
"Kau sudah siap?" tanya Sesshoumaru yang mana segera dibalas Rin dengan anggukan pelan dan seulas senyum.
Sambil memeluk Shura yang kini berada dalam dekapannya, Rin berusaha berdiri. Namun, badannya segera terhuyung karena kakinya yang tidak bertenaga.
"Rin-sama!" teriak Rei dan Rika bersamaan melihat tuan mereka yang kehilangan keseimbangan.
Sesshoumaru yang terkejut segera menangkap badan Rin. Mata emasnya menatap khawatir wanita manusia yang kini berada dalam dekapannya, begitu juga dengan Shura.
"M-maaf, Sesshoumaru-sama." ujar Rin sedikit terbata-bata. Perasaan bersalah memenuhi hatinya melihat dirinya merepotkan inuyoukai di depannya tersebut.
Sesshoumaru tidak mengatakan apa-apa. Dia tahu, meski seminggu telah berlalu, kondisi kesehatan Rin masih belum pulih sepenuhnya. Badannya masih sangat lemah, jika saja wanita itu tidak terus memohon padanya untuk menghadiri pesta pengenalan putra mereka, dia pasti tidak akan mengijinkannya menghadiri pesta dan beristirhat.
"Au..Au.." Shura yang berada dalam dekapan Rin juga terlihat khawatir dengan kondisi ibunya. Menatap lekat wajah wanita manusia itu, dia terus mengeluarkan suara tangis kecil.
Tersenyum lembut, Rin mencium kening Shura pelan. "Ibu tidak apa-apa, tenanglah putraku dari barat."
"Rin," panggil Sesshoumaru kemudian. Mata emasnya masih menatap khawatir sosok kisakinya. "Beristirahatlah. Kau tidak perlu menghadiri pesta ini."
Rin segera menatap Sesshoumaru dan menggeleng kepala. Wajahnya penuh dengan permohonan. "R-rin tidak apa-apa, Sesshoumaru-sama. Rin kuat dan bisa menghadiri pesta."
"Rin." Panggil Sesshoumaru lagi. Suaranya memberat tanda dia tidak ingin Rin melawan ucapannya.
Tapi, Rin tidak mau. Menatap lurus Sesshoumaru, air mata menumpuk di mata coklat jernihnya. Dia tidak ingin kehilangan kesempatan melihat kisah permulaan dari putranya tercinta. "R-rin, Rin ingin melihat langkah pertama Shura—Rin ingin melihat Shura.."
Shura yang merasakan emosi Rin menjadi gusar. Menatap ibunya dan kemudian ayahnya, dia mengong-gong penuh kemarahan. Matanya menatap tidak suka Sesshoumaru yang menurutnya membuat ibunya sedih. "Guk-guk-grr...."
Sesshoumaru menatap Shura penuh kebingungan. Perlahan, mata emasnya kembali menatap Rin yang menahan air mata, seketika dia menjadi tidak berdaya. Satu ingin menangis, satu marah—apakah yang dikatakannya barusan salah?
Menghela napas pendek, Sesshoumaru kemudian menutup mata dan berusaha mengendalikan perasaan tidak berdaya dalam hatinya. "Sesshoumaru ini mengerti."
Membuka mata lagi, tanpa mengucapkan apa-apa, Sesshoumaru segera membopong Rin yang mendekap Shura dengan kedua tangannya.
"Kya!" Rin berteriak kecil karena terkejut dengan apa yang tiba-tiba dilakukan Sesshoumaru. Kedua matanya terbelalak menatap inuyoukai itu tidak percaya.
Tidak peduli dengan reaksi Rin, Sesshoumaru segera melangkah. Perlahan, matanya kembali terarah pada putranya yang masih menatapnya marah. "Hentikan tatapan matamu itu Shura." perintahnya datar namun penuh penekanan.
Namun, Shura yang masih berada dalam dekapan Rin tidak berhenti. Tatapan mata merah darahnya semakin tajam.
Sesshoumaru tersenyum kecil melihat reaksi Shura. Tidak ada kemarahan dalam hatinya melihat sikap kurang ajar putranya, yang ada malah; kebanggaan. Melihat Shura yang berani melawannya untuk melindungi ibunya, dia tahu, putranya akan tumbuh menjadi alpha dari sang alpha—inuyoukai yang membanggakan.
"Shura," panggil Rin pelan dan tangan kanannya membelai kepala putranya penuh kasih sayang. "Jangan bersikap seperti ini, jangan melawan ayahandamu."
Shura segera menatap Rin. Dia tidak mengerti ucapannya, tapi melihat ekspresi lembut dan air mata yang menghilang dari wajah sang ibu, dia menjadi diam dan membenamkan wajahnya pada dada sang ibu.
Rin tertawa dengan sikap Shura yang bisa berubah setiap saat. Mau tidak mau, dia hanya dapat kembali bertanya sekali lagi. "Kau ini sebenarnya mirip siapa putraku dari barat?"
"Shura mirip dengamu." Jawab Sesshoumaru singkat. Dia melangkah keluar dari kamar dengan pelan menuju tempat pesta.
"Tidak, Rin tidak seperti ini," balas Rin cepat dan mengangkat wajah menatap Sesshoumaru. Saat kecil, dia adalah seorang anak yang penurut. Memikirkan lebih lanjut, sebuah kerutan kemudian muncul di wajah cantiknya. "Menurut Rin, sikap Shura ini sebenarnya mirip dengan anda, Sesshoumaru-sama. Bukankah anda juga seperti ini jika ada yang tidak anda sukai?"
"Adakah?" tanya Sesshoumaru lagi. Suaranya pelan dan datar, tapi juga penuh dengan kelembutan.
"Ada," tawa Rin lepas dan mengangguk kepala. "Walau tidak murni seperti Shura, tapi anda selalu menatap tajam mereka yang tidak anda sukai bukan?—jadi sesungguhnya sikap Shura ini mirip anda."
"Begitu kah?" tanya Sesshoumaru lagi.
"Au! Au! Au!" suara gongongan Shura kembali terdengar. Tidak tahu sejak kapan, sang pewaris tanah barat telah kembali menatap kedua orang tuanya tidak suka karena merasa diabaikan.
Tawa detingan Rin hanya semakin keras. Mencium kening Shura, dia tersenyum. "Iya, Rin dan Sesshoumaru-sama tidak mengabaikanmu Shura."
Shura menutup mata dan mengoyangkan ekornya merasakan sentuhan hangat sang ibu.
"Ingatlah putraku dari barat," lanjut Rin lagi dengan penuh kasih sayang. Tangannya mengelus lembut pipi Shura. "Kami selalu mencintaimu. Kaulah harta yang paling berharga dalam hidup kami—keajaiban hidup kami yang abadi."
Setiap ucapan Rin terucap penuh kasih sayang, penuh dengan cinta tulus yang tidak berujung—betapa Sesshoumaru mencintai sosok ibu dari putranya yang seperti ini. Sangat lembut, sangat indah, sangat menawan—sekali lagi, sang penguasa tanah barat berpikir betapa beruntung dirinya, sebab wanita manusia ini memilih dirinya dari semua yang ada di dunia ini.
"Tumbuhlah seperti ayahmu. Kuat, bijaksana, dapat diandalkan dan— tawa Rin lagi. Perlahan matanya terarah pada Sesshoumaru dan tersipu malu. "Tampan."
Ucapan terakhir Rin seketika membuat Sesshoumaru tertawa lepas. Dia tidak bisa lagi menyembunyikan kegeliaan namun sekaligus kegembiraan dan kebahagiaan dalam hatinya.
Rin masih tersipu malu, namun sejenak kemudian dia ikut tertawa dengan suaranya yang bagaikan dentingan lonceng.
Suara tawa Sesshoumaru dan Rin membuat Shura mengongong penuh kebahagiaan. Ekornya bergoyang, dan matanya berbinar indah menatap wajah tawa kedua orang tuanya.
Rei dan Rika yang mengikuti Sang penguasa tanah barat berserta Kisaki dan sang pewaris mau tidak mau tersenyum. Tawa Sesshoumaru yang begitu bahagia—mereka tidak menyangka inuyoukai itu bisa tertawa seperti ini.
Dulu, saat Sesshoumaru tertawa, itu artinya hujan darah akan turun. Namun sekarang, di tawa yang terdengar, mereka tahu—keindahanlah yang akan mereka lihat.
Tawa yang lepas dan penuh kebahagiaan dari sang penguasa, bersama dengan kisaki mereka yang tercinta, serta sang pewaris yang masih kecil—bagaikan lukisan, betapa harmonis dan indahnya keluarga kecil di depan mereka; keluarga paling sempurna yang pernah ada.
....xOxOx....
__ADS_1