![Till The End Of Time [ Inuyasha Fanfiction ]](https://asset.asean.biz.id/till-the-end-of-time---inuyasha-fanfiction--.webp)
Cuaca dan sinar matahari siang pada musim semi yang cukup hangat menyinari Rin yang berada di taman paviliun timur istana tanah barat. Badannya membungkuk ke bawah dan jari-jemarinya yang sedang menanam bunga terhenti sejenak saat dia melihat seekor kupu-kupu terbang melewati wajahnya. Tersenyum lebar, dia mengangkat kepala dan menatap teras di belakangnya. "Sesshoumaru-sama, lihat ada kup.."
Suara ceria serta senyum di wajah cantik Rin terhenti saat mata coklatnya menatap kekosong teras pavilium timur istana tanah barat. Tidak ada lagi sosok inuyoukai yang biasanya duduk di sana.
Mengalihkan pandangannya pada jari jemarinya yang menanam bibit bunga, dia tertawa kecil. "Selesai menanam bunga, Rin harus segera menyiramnya."
Nama no naka
Kaze no naka
Yume no naka
Bernyanyi pelan, Rin kembali melanjutkan kegiatannya menanam bunga. Musim semi sudah tiba, salju telah mencair semua, dirinya harus segera menanam bunga supaya taman ini bisa lebih indah dari tahun lalu.
Sesshoumaru-sama doko ni iru
Jakken-sama wo shita naete
Sesshoumaru-sama. Sudah berapa lama berlalu semenjak dia terakhir melihatnya, Rin terus menghitung. Sudah hampir dua bulan berlalu, lebih tepatnya enam puluh tujuh hari. Penguasa tanah barat itu disibukkan perkerjaan yang ada dan mengurung diri di ruang kerjanya. Tidak ada yang dijinkan masuk kecuali Kiri, Kira atau Jaken yang mengantarkan laporan dan dokumen, termasuk dirinya.
Sesshoumaru-sama omodori wo
Angin musim semi yang berhembus menerpa wajah Rin, membuat aktivitasnya menanam bunga kembali terhenti. Bangkit berdiri, dia menengadah kepala melihat langit biru di atas, senyum tipis melintas di wajahnya.
Perlahan, Rin kembali menoleh kepalanya ke belakang, menatap teras yang tetap saja kosong.
Nama no naka
Kaze no naka
Yume no naka
Perlahan, Rin kembali membuka mulut bernyanyi. Suara nyanyiannya memenuhi taman paviliun timur istana tanah barat yang kosong.
Sesshoumaru-sama doko ni iru
Jakken-sama wo shita naete
Rin tahu, dia tidak boleh egois. Siapa dirinya hingga dia berani berharap bahwa dirinya bisa mendapatkan keistimewaan untuk bertemu dengan Sesshoumaru, penguasa tanah barat setiap hari?—dia hanyalah seorang gadis manusia biasa yang dihidupkan inuyoukai tersebut. Di dalam istana tanah barat yang besar ini, dia bukanlah siapa-siapa.
Youkai dan manusia.
Tuan dan bawahan.
Itulah hubungan sesungguhnya dari seorang inuyoukai bernama Sesshoumaru dan gadis manusia bernama Rin.
Perbedaan yang sangat besar, dan Rin tahu, dia harus sadar diri-dirinya harus menempatkan diri pada posisi dan tempatnya. Dia yang bisa tinggal bersama Sesshoumaru dari kecil hingga sebesar ini sudah merupakan keberuntungannya, jadi, dirinya tidak boleh tamak dan egois untuk berharap inuyoukai itu selalu ada di sampingnya.
Tapi, meski Rin berusaha keras menanamkan kenyataan itu pada dirinya, hati terdalamnya tidak pernah berhenti mencari sosok terpenting dalam hidupnya.
Sesshoumaru-sama omodori wo
Hati terdalam gadis manusia itu selalu berbisik pelan, 'Rin merindukan Sesshoumaru-sama...'
....xOxOx....
Sesshoumaru duduk sendirian dalam ruang kerjanya yang sepi dan kosong. Dia tidak bergerak sedikitpun, tidak ada niat dalam hatinya untuk melangkah keluar dari ruang kerjanya meski tidak ada lagi tugas yang harus diselesaikan.
Perlahan, Sesshoumaru menoleh kepalanya menatap keluar jendela ruang kerjanya. Matahari musim semi yang hangat telah digantikan rembulan di atas langit. Indra penciumannya yang tajam bisa mencium jelas bau musim semi yang dibawa angin—bau yang hampir mirip dengan bau gadis manusia itu; Rin.
Menutup mata, Sesshoumaru mengarahkan kembali wajahnya pada ruangannya yang kosong. Dari musim dingin hingga musim semi tiba, sudah berapa lama dia menghindari gadis manusia itu?—dia tidak berani memikirkannya.
Jarak yang dibuatnya, apakah dia berhasil? Sesshoumaru merasa bagaikan orang bodoh jika memikirkan itu. Tiap pagi hingga malam dia akan menghindari Rin dan mengunci diri dalam ruang kerjanya. Namun, saat malam larut, saat gadis itu sudah tertidur, dia akan memasuki kamarnya. Duduk disamping melihat dalam diam, tanpa berani menyentuhnya.
Semakin Sesshoumaru berusaha membunuh perasaan yang ada, semakin kuat perasaan itu memenuhi hatinya. Semakin dia berusaha melupakan wajah itu, semakin dia menggila untuk melihatnya. Namun, saat dia sudah melihatnya lagi pada malam hari, semakin takut dirinya.
Perasaan cinta, terutama cinta youkai pada manusia adalah sesuatu yang bodoh; sebuah kelemahan. Cinta itu akan membunuh dan menghancurkan kedua pihak, Inu no Taisho dai Izayoi adalah bukti nyata yang dilihat dengan kepala mata sendiri oleh Sesshoumaru.
Inu no taisho, ayahandanya, satu-satunya sosok yang sangat dihormati Sesshoumaru. Takdir dengan lucunya menpermainkan mereka ayah-anak dan menposisikan mereka di tempat yang sama; mencintai seorang manusia.
Apakah ayahandanya tahu, akhir yang akan dihadapinya saat dia memutuskan mencintai Izayoi? Seperti apa hidup manusia yang dicintai dan ditinggalkannya?—jika ayahandnya tahu, Sesshoumaru yakin, beliau pasti akan melepaskan manusia yang dicintainya.
Akhir yang menyakitkan dari kisah seorang youkai yang mencintai seorang manusia. Sesshoumaru tidak ingin mengikuti jejak penuh kesalahan itu, dan yang paling penting, dia tidak menginginkan Rin menjadi seperti Izayoi.
Namun, perasaan yang tumbuh besar dan kuat dari hari ke hari tidak dapat dikontrolnya. Dirinya yang merupakan penguasa tanah barat itu tidak dapat melakukan apa-apa. Sesshoumaru dari barat, inuyoukai penguasa tanah barat yang ditakuti semua makhluk ternyata takluk di hadapan seorang gadis manusia biasa bernama—Rin.
"S-sesshoumaru-sama," panggil suara serak dan tua seseorang dari luar ruang kerja penguasa tanah barat. "Ada surat dari Asano, penguasa tanah timur."
"Masuk." Sesshoumaru tahu yang di luar itu Jaken yang biasanya mengantarkan dokumen ke dalam ruangan.
__ADS_1
Jaken, youkai katak itu membuka pintu ruang kerja dan melangkah masuk dengan kaki pendeknya. Matanya menatap penguasa tanah barat dengan hati-hati.
Jujur saja, Jaken yang telah menemani Sesshoumaru bertahun-tahun bisa menyadari ada yang aneh pada inuyoukai di depannya, walau dia tidak tahu apa itu. Mengurung diri di dalam ruang kerjanya dari musim dingin hingga musim semi, apa yang sesungguhnya direncanakan tuannya ini? Apakah rencana penaklukkan seluruh wilayah di jepang? Apakah Sesshoumaru-sama berkeinginan menjadi satu-satunya penguasa youkai di jepang? Menjadi Raja youkai di jepang?
"Jaken." panggil Sesshoumaru pelan. Suaranya datar dan dingin, menyelipkan rasa penekanan saat melihat Jaken yang berdiri mematung di depannya tanpa gerak. Tersesat dalam anggannya yang aneh.
Jaken segera tersadar. Menyadari suasana hati Sesshoumaru yang tidak bagus, dengan tangan yang gemetar, dia segera menyerahkan surat dari timur di tangannya pada inuyoukai itu.
Sesshoumaru membuka surat yang diberikan Jaken dan membacanya dalam diam tanpa reaksi. Namun, sejenak kemudian, dia meletakkan surat itu dan menutup mata seakan memikirkan sesuatu.
Jaken yang penasaran dengan isi surat itu, mencuri-curi lihat dengan hati. Dan sedetik kemudian, matanya terbelalak dan jantungnya berdetak kencang karena tidak percaya.
Sesshoumaru,
Untuk Timur dan Barat, Timur mengajukan perdamaian dengan itikad baik. Timur bersedia mengikat Akiko, satu-satunya pewaris timur kepada anda dalam ikatan pernikahan.
Asano.
....xOxOx....
"Kau tidak apa-apa, Rin kecil?" tanya seorang inuyoukai cantik pada Rin yang duduk di depannya. Dengan rambut perak dan mata emas, tanda bulan sabit di dahi serta sepasang garis di pipi, semua orang yang melihat akan sadar bahwa inuyoukai itu adalah mantan penguasa tanah barat, Inukimi dari barat.
"Eh, memangnya ada apa Ibunda bertanya seperti itu?" tanya Rin kembali penuh kebingungan menatap Inukimi.
Inukimi tidak menjawab pertanyaan Rin. Mata emasnya menatap lekat gadis manusia di depannya. Apakah gadis manusia ini tidak tahu bahwa mantan penguasa tanah barat ini mengetahui jelas ketidak wajar hubungan Sesshoumaru dengannya sekarang?
"Ibunda, ada apa?" tanya Rin lagi penuh kebingungan. Dia benar-benar tidak mengerti arah pembicaraan dari Inukimi yang tiba-tiba saja masuk ke dalam kamarnya beberapa menit yang lalu.
Inukimi tetap tidak menjawab pertanyaan Rin. Mata emasnya menatap semakin dekat gadis manusia tersebut. Sesshoumaru yang mengurung diri di ruang kerjanya sejak dua bulan lalu, tidak mengijinkannya masuk, dia bisa memaklumi, tapi tidak mengijinkan Rin masuk—itu tidak biasa.
"Rin kecil, kapan kau terakhir bertatapan muka dengan putra kandungku yang berengsek itu?" tanya Inukimi kemudian.
Pertanyaan Inukimi membuat mata Rin terbelalak karena terkejut. Mengigit bibir bawahnya, dia menundukkan kepala ke bawah, tidak tahu bagaimana seharusnya menjawab pertanyaan itu.
Reaksi Rin dengan sendirinya telah menjawab pertanyaan Inukimi. Kemarahan memenuhi hatinya, apa yang telah dilakukan putra berengseknya itu? Apa yang dalam pikiran bodohnya itu?
Bankit berdiri, wajah Inukimi tidak bisa menyembunyikan kemarahan dalam hati. "Rin kecil, beri—"
"Rin!! Rin!! Gawat!! Gawat!!"
Suara teriakan dari luar kamar Rin tiba-tiba terdengar memotong ucapan Inukimi. Seketika pintu kamar terbuka, dan Jaken berlari masuk dengan wajah penuh kepanikkan.
"Rin! Gawat seka—" teriakan Jaken langsung berhenti saat matanya menangkap sosok Inukimi yang menatapnya penuh kemarahan. Wajah paniknya berubah menjadi ketakutan, dan badannya gemetaran hebat.
Pertanyaan Rin membuat Jaken semakin pucat. Menatap takut-takut Inukimi yang diam membisu, dia membuka mulut menjawab pelan pertanyaan itu, "Timur ingin menikahkan Akiko, putri penguasa tanah timur kepada Sesshoumaru-sama, dan Sesshoumaru-sama sampai sekarang tidak menolaknya."
"Apa katamu youkai kecil!!!!" teriakan Inukimi seketika memenuhi kamar.
....xOxOx....
Sesshoumaru menatap surat di meja kerjanya dalam diam. Wajahnya tenang tanpa ekspresi, tapi jauh dalam hatinya, dia sedang mempertimbangkan isi surat tersebut.
Timur ingin menjalin perdamaian dengan barat dengan pernikahannya dan Akiko sebagai landasan, Sesshoumaru sama sekali tidak merasa aneh. Asano adalah penguasa yang paling lemah dari segala wilayah youkai di jepang. Tidak hanya itu, posisinya sebagai penguasa di timur juga tidak stabil. Dan jika putrinya bisa menjadi Ratu dari barat, otomatis dia dapat mengamankan kekuasaannya dengan bantuan dari barat. Perdamian yang diajukan sebenarnya adalah siasat licik untuk keuntungannya sendiri.
Jika saja surat ini diterimanya sebelum perang barat selatan, maka Sesshoumaru yakin, dia pasti akan segera mengoyaknya tanpa mempertimbangkan apapun—dia akan menolak itikad yang dikatakan baik oleh timur tersebut sedetik dia mengetahuinya.
Tapi, keadaan berbeda sekarang, Sesshoumaru mempertimbangkan keberadaan Akiko dalam benaknya. Mungkin dengan memiliki seorang pasangan dia akan dapat melupakan cintanya pada Rin, mungkin dengan pilihannya ini, dia akan dapat menghindari takdirnya.
"Sesshoumaru!!" suara teriakan keras yang disertai bantingan pintu ruang kerja Sesshoumaru membuat inuyoukai penguasa tanah barat itu menatap ke arah sumber keributan.
Mata emas Sesshoumaru menatap jelas sosok Inukimi yang berlari masuk dengan mata merah darah penuh kemarahan.
Tidak mengatakan apa-apa, Inukimi yang tiba di depan Sesshoumaru langsung melempar meja yang ada di depan anaknya itu ke belakang.
Gulungan dokumen dan juga surat yang ada berhamburan kemana-mana. Meja kayu itu jatuh ke belakang, retak dan hancur saat menyentuh tatami di bawahnya.
Sesshoumaru tetap tenang menatap Inukimi, tidak bergerak ataupun memberikan reaksi pada kemarahan inuyoukai yang melahirkannya.
"Kenapa kau tidak mengoyak surat dari timur itu?! Aku tidak melahirkanmu untuk memiliki seekor rubah sebagai Ratu dari barat!!" teriak Inukimi dengan nada tinggi penuh kemarahan.
Sesshoumaru tetap tidak bergeming. Inukimi yang secepat ini mengetahui isi surat tersebut, tidak diragukan lagi pasti karena Jaken yang tidak bisa menjaga mulutnya.
"Jangan diam membisu, putra berengsek!!" Inukimi semakin marah, bibirnya terangkat keatas menyeringai memperlihatkan taringnya yang tajam.
"Ini bukan urusanmu, Ibunda." Ujar Sesshoumaru datar. Kedua mata emasnya balas menatap mata Inukimi tanpa ekspresi.
Inukimi tidak mengatakan apa-apa lagi, tetapi tangan kanannya mulai terangkat untuk menyerang Sesshoumaru.
"Anda akan menikah, Sesshoumaru-sama?" suara pelan bagaikan dentingan lonceng tiba-tiba memecahkan ketegangan dalam ruang kerja penguasa tanah barat.
__ADS_1
Secara bersamaan, Sesshoumaru dan Inukimi mengarakan pandangan pada sumber suara. Mata mereka menangkap sosok Rin yang berdiri di depan pintu yang terbuka tanpa berani melangkah masuk.
"Sesshoumaru-sama, akan menikah, kah?" ulang Rin lagi. Tidak ada tawa atau senyum di wajahnya, kedua mata coklat besarnya menatap lurus Sesshoumaru menunggu jawaban.
Mata itu, sudah berapa lama Sesshoumaru tidak melihat. Dan suara lembut bagai dentingan lonceng yang memanggil namanya, betapa dia ingin selalu mendengarnya.
Tapi, itu semua salah, Sesshoumaru tahu dia tidak dapat membiarkan kesalahan ini terus berlanjut. Mengepal erat jari tangannya, Sesshoumaru menatap mata coklat jernih Rin dan menjawab singkat. "Iya."
Jawaban singkat dengan suara datar membuat mata Rin terbelalak karena terkejut. Seketika juga dia menunduk wajah ke bawah, menghindari tatapan sepasang mata emas itu.
Sesshoumaru tidak bergerak melihat reaksi Rin. Tangan yang terkepal kuat semakin kuat, hingga kuku jari yang panjang menusuk telapak tangannya hingga berdarah.
"Rin-kecil.." panggil Inukimi, dia menatap penuh kekhawatiran Rin. Melangkah mendekatinya, tiba-tiba gadis manusia itu mengangkat kepala.
Sebuah senyum lebar memenuhi wajah cantik Rin. Kedua matanya kembali menatap Sesshoumaru. "Begitu, ya, Sesshoumaru-sama. Rin terkejut sekali karena ini semua tiba-tiba. Tapi, Rin senang sekali karena Sesshoumaru-sama akan menikah. Selamat Sesshoumaru-sama."
Sesshoumaru tidak mengatakan apa-apa saat mendengar ucapan Rin yang terus menerus. Dia tidak dapat bergerak, seluruh badannya seakan membeku mendengar ucapan selamat yang tidak tahu kenapa membuat hatinya terasa sangat sakit.
Tertawa pelan, Rin kemudian menatap sekeliling ruang kerja Sesshoumaru. "Ruang kerja Sesshoumaru-sama berantakan sekarang, Rin akan memanggil orang untuk merapikannya."
"Rin kecil..." panggil Inukimi yang berdiam di tempat melihat reaksi Rin. Dia tahu ada yang salah pada gadis manusia itu sekarang. Dia tersenyum, tapi senyum itu begitu berbeda dengan senyumnya yang biasa.
"Ibunda harusnya berbahagia, Sesshoumaru-sama akan menikah. Jangan menggunakan emosi saat membahas kabar gembira ini," sela Rin dengan senyum yang masih ada di wajahnya. Senyum itu semakin lebar, namun juga semakin tidak benar. "R-Rin tidak akan menganggu lagi. Rin akan kembali ke kamarnya."
Tidak menunggu balasan apapun lagi, Rin segera membalikkan badannya dan berlari menjauh. Menggunakan segenap kekuatan yang ada, dia mengerahkan kakinya untuk berlari.
"Rin kecil!!" panggil Inukimi panik. Namun, Sesshoumaru yang ada di belakangnya telah ikut berlari mengejar gadis itu, meninggalkan Mantan penguasa tanah barat itu sendirian.
....xOxOx....
Rin terus berlari dalam malam musim semi dengan bulan yang tidak penuh sebagai penerang. Dia bahkan tidak melihat ke mana arah dirinya berlari. Tanpa tujuan, kakinya terus berlari secepat yang bisa dilakukannya seakan ingin melarikan diri dari sesuatu.
Berlari dan berlari hingga tiba-tiba saja kedua kakinya kehilangan kekuatan dan keseimbangan. Badan Rin jatuh tersungkur ke bawah, dan saat dia mengangkat kepalanya, dia baru menyadari bahwa di telah berada dalam taman bunga paviliun timur.
Duduk di atas tanah, Rin mengatur napasnya yang tidak beraturan. Dia tertawa kecil dengan suaranya yang gemetar. "Hahaha, R-Rin kan ingin kembali ke kamar, kenapa Rin bisa berada di sini? Ah, padahal Rin kan harus memanggil orang untuk merapikan kamar Sesshoumaru-sama. Apa yang telah Rin lakukan."
Terus tertawa, Rin memukul pelan kepalanya sendiri dengan tangan kanan kecilnya. "Pasti karena berita Sesshoumaru-sama akan menikah mengejutkan Rin. Jadi Sesshoumaru-sama mengurung diri di ruang kerjanya karena merencanakan pernikahannya, ya? Pantas saja beliau tidak mempedulikan Rin akhir-akhir ini. Seharusnya Sesshoumaru-sama memberitahu Rin, Rin kan bisa membantu.."
Senyum lebar menghiasi wajah cantik Rin. Dia terus berbicara sendiri, tidak sadar bahwa suaranya semakin lama semakin bergetar. "S-Sesshoumaru-sama akan menikah, berkeluarga dan memiliki anak ke depannya. Barat akan segera memiliki seorang Ratu. R-Rin bahagia sekali.."
Kembali tertawa, Rin menyakinkan dirinya sendiri terus menerus. "R-rin bahagia sekali, Rin bahagia sekali.."
Seketika pandangan Rin menjadi buram, dia merasakan pipinya tiba-tiba terasa basah. Kebingungan, dia mengangkat tangan menyentuh wajahnya dan menemukan air mata yang mengalir turun.
"Eh? Kenapa Rin menangis?" gumam Rin pelan penuh kebingungan. Dia segera menghapus air matanya dan tersenyum. Namun, air matanya tidak berhenti. Air mata itu terus mengalir turun. "Padahal Rin bahagia sekali, kenapa Rin menangis? Kenapa? Bahagia, Rin bahagia..."
Air mata yang terus mengalir dan kata bahagia yang terus diucapkannya, Rin merasakan rasa sakit tidak tertahankan dalam hatinya.
Kenapa dia menangis? Kenapa dia merasakan sakit ini? Rin tidak mengerti. Sesshoumaru akan menikah dengan youkai cepat lambat pasti akan terjadi, dia seharusnya menyadari itu sejak dulu. Daiyoukai yang begitu kuat pasti akan mencari pasangan yang juga merupakan seorang youkai kuat, untuk menghasilkan keturunan yang kuat.
Lebih tinggi dari langit, lebih dalam dari laut, lebih besar dari pada dunia, lebih dari hidup Rin sendiri. Lebih dari segala-galanya, sebesar itulah cinta Rin untuk Sesshoumaru-sama
Pernyataan cintanya semasa kecil melintas dalam benak Rin. Dan seketika gadis itu tertawa dalam tangisnya. Cintanya yang besar; cintanya yang bodoh.
Cukup Rin seorang saja yang mencintai Sesshoumaru-sama. Sesshoumaru-sama tidak perlu mencintai Rin. Sebab, Rin tidak mau Sesshoumaru-sama menjadi lemah. Rin ingin Sesshoumaru selamanya kuat, tanpa kelemahan.
Bukankah dirinya sudah mengatakan sejak kecil, bahwa Sesshoumaru tidak perlu mencintainya? Pertama kali dalam hidupnya, Rin menyadari, waktu yang terus mengalir, musim demi musim yang dilalui bersama, tahun demi tahun yang berlalu, dari seorang anak kecil menjadi seorang gadis; dia telah berubah. Bukanlah lagi seorang anak kecil yang puas dan bahagia dengan hanya bisa di sampingnya, tidak tahu sejak kapan, dia telah menjadi sangat egois. Dia ingin inuyoukai itu juga melihatnya, ingin inuyoukai itu mengharapkannya—ingin Sesshoumaru mencintainya.
Rin ingin selalu bersama Sesshoumaru-sama.
Keinginannya yang bodoh. Rin tahu sekarang, mereka tidak bisa selalu bersama. Tidak ada lagi kata selamanya bersama mulai kini, angan-angan semu yang diharapkannya tidak akan menjadi nyata. Karena Sesshoumaru tidak pernah mencintainya seperti dirinya mencintai inuyoukai itu.
Dia harus sadar, bukan anak-anak lagi. Rin harus mulai menata hatinya, dia harus bersyukur dengan perhatian yang diberikan Sesshoumaru padanya sejak mereka bertemu sampai sekarang. Dia tidak boleh tamak mengharapkan sesuatu yang tidak mungkin, dia tidak boleh mengharapkan cinta inuyoukai yang dicintainya.
Tapi—sakit.
Membungkuk badan bagaikan sebuah bola, Rin menepuk-nepuk dadanya dengan kuat, sedangkan air mata mengalir semakin deras turun. Napasnya menjadi terengah-engah, badannya bergetar hebat.
Sakit.
Sakit sekali hingga dia bahkan tidak bisa bernapas. Rin merasakan hatinya bagaikan tercabik-cabik menjadi ribuan kepingan. Kenapa bisa sesakit ini? Menata kembali hatinya yang hancur? Bagaimana dia melakukannya?
Menangis dan terus menangis,
Rin hanya bisa membiarkan dirinya menangis dan menumpahkan segenap perasaan sakit yang ada dalam hatinya.
Tidak jauh di belakangnya, Rin tidak pernah menyadari sosok inuyoukai yang telah mengikutinya sejak awal dia menginjakkan kaki dalam taman paviliun timur istana tanah barat.
Inuyoukai itu tidak bergerak sedikitpun, Sesshoumaru hanya berdiri diam melihat gadis manusia itu menangis. Setiap tangisan yang ditangkap telinganya bagaikan sayatan pedang pada hatinya. Mata emasnya tidak dapat lagi menyembunyikan rasa sakit yang ada.
__ADS_1
Dia tidak bisa menghapus air mata itu, dia tidak bisa memeluk tubuh yang bergetar hebat dalam tangisnya yang pecah. Sesshoumaru tahu, hubungan mereka tidak akan pernah lagi bisa kembali seperti dulu mulai detik ini.
....xOxOx....