![Till The End Of Time [ Inuyasha Fanfiction ]](https://asset.asean.biz.id/till-the-end-of-time---inuyasha-fanfiction--.webp)
Malam di mana bulan telah muncul menggantikan matahari, Kohaku berdiri dan berjalan ke sana-sini tanpa tahu harus berbuat apa di depan paviliun timur Istana tanah barat. Di tangannya, dia menganggam erat sebuah gelang emas. Dia ingin menghadiahkan gelang tersebut pada Rin sebagai hadiah ulang tahun, namun, dia sendiri juga tidak tahu bagaimana menghadiahkannya.
Rin.
Menghela napas, Kohaku mengacak-acak rambut hitamnya. Telinganya bisa mendengar jelas suara tawa dari arah taman, dan dia tahu, semua penghuni istana tanah barat ini berserta para tamu masih berpesta, termasuk Rin. Berdiri sendirian di tempatnya berada sekarang, dia merasa sungguh tidak berguna. Kenapa dia jadi begitu pengecut? Dirinya tidak mempunyai keberanian menghadiahkan langsung gelang itu pada Rin. Lalu, dalam hatinya terdalam, dia juga sadar, hadiahnya bukanlah sebuah hadiah mewah yang bisa mengalahkan berbagai hadiah yang telah diterima gadis itu. Tapi, setidaknya ini adalah satu-satunya hadiah termewah yang mampu diberikannya, dan dia sangat berharap gadis manusia itu akan menyukainya.
"Kohaku?"
Suara lembut dentingan lonceng yang memanggilnya membuat Kohaku tersadar dari pikirannya. Menatap sumber suara, wajah taijiya muda itu langsung berubah menjadi merah padam, sebab Rin, gadis yang disukainya sedang berdiri menatapnya penuh senyum.
"Ada apa? Kenapa Kohaku tidak bergabung dengan yang lainnya di pesta? Kenpa Kohaku berada di sini sendirian?" tanya Rin bertubi-tubi mendekati Kohaku.
Pertanyaan Rin membuat wajah Kohaku yang sudah memerah semakin memerah. Tergagap, dia segera menyembunyikan gelang ditangannya dan meminta diri. "T-tidak apa, apa. Ya! A-aku akan bergabung dengan yang lainnya!"
Tidak menunggu balasan Rin, Kohaku dengan cepat meninggalkan gadis itu yang kebingungan. Berbagai sumpah serapah diucapkan taijiya muda itu pada dirinya. Dia pengecut dan bodoh, dia mengakuinya sekarang.
Rin yang kebingungan dengan sikap Kohaku hanya dia menatap pemuda itu hinga benar-benar menghilang dari pandangannya. Mengeleng kepala, Rin pun memutuskan untuk masuk ke paviliun timur menuju kamarnya. Wajah Kohaku yang memerah, mungkin karena pemuda itu juga sudah mabuk seperti lainnya.
Melewati koridor gelap dengan cahaya bulan di atas langit malam menuju kamarnya. Rin hanya bisa tertawa geli. Sepertinya, para penghuni memang telah lupa dan larut dalam pesta memabukkan mereka, hingga lampu lampion koridor pun lupa mereka nyalakan. Namun, dia tidak akan menegur mereka, sebab dia tahu, mereka juga perlu istirahat, dan yang terpenting, melihat wajah tersenyum dan tertawa mereka, dia akan membiarkannya. Khusus hari ini saja, sebab hari ini merupakan hari yang istimewa, dan bahkan, Sesshoumaru selaku pemilik istana ini mungkin juga tidak akan keberatan.
Memasuki kamarnya, Rin menyalakan sendiri lampu lampion untuk menerangi kamarnya. Membuka kimono mewahnya, dia menggantinya dengan yukata putih sutra yang merupakan baju tidurnya. Memutuska untuk tidur saja walau malam masih belum begitu larut, telinga Rin kemudian menangkap ketukan di pintu kamarnya.
"Siapa?" tanya Rin bingung.
"Bolehkah hamba masuk, Rin-sama." Suara lembut seorang wanita terdengar.
Rin kebingungan mendengar suara lembut tersebut, sebab dia tidak tahu siapa pemilik suara itu. Namun, tanpa berpikir panjang, dia mengijnkannya masuk. "Iya, silakan."
__ADS_1
Menantap pintu shoji yang terbuka, senyum melintas di wajah Rin. Mata coklat besar Rin dapat melihat siapa yang masuk, seorang youkai wanita berrambut dan mata merah, Tsubasa, Selir dari Penguasa Tanah Selatan.
"Tsubasa-sama, silakan masuk," sambut Rin sambil tertawa, "Ada yang bisa Rin bantu?"
Tsubasa tersenyum melihat sambutan Rin. Melangkah kaki masuk dengan pelan, mata merahnya menatap gadis manusia itu. "Ada yang ingin hamba berikan pada anda, Rin-sama."
"Eh?" seru Rin terkejut.
Dengan senyum yang masih ada di wajah, Tsubasa kemudian mengeluarkan sebuah botol kecil dari balik lengan kimononya dan menyerahkannya pada Rin. "Dari Selatan untuk anda, Selamat ulang tahun Rin-sama."
Rin tersenyum lebar dan menatap youkai di depannya. "Terima kasih sudah memberikan Rin hadiah, walau sebenarnya tidak perlu. Rin sudah senang dan merasa terhormat karena Tsubasa-sama sendiri telah bersedia mengucapkan selamat ulang tahun secara langsung pada Rin."
Tsubasa menggeleng kepala. "Tidak, Rin-sama, kehormatan itu adalah milik hamba," menyerahkan lagi hadiah di tangannya, dia tersenyum sekali lagi. "Karena itu, terimalah hadiah ini."
Tidak bisa menolak hadiah yang diberikan lagi, Rin kemudian menerimanya. "Terima kasih, Tsubasa-sama." Menatap sejenak hadiah ditangannya, Rin kemudian menatap Tsubasa lagi. "Tsubasa-sama, boleh Rin bertanya, apa ini?"
Rin mengangguk kepala dengan senyum yang semakin lebar. Tidak membuang waktu, dia langsung membuka tutup botol kecil tersebut dan menghirupnya. Bau berbagai bunga langsung dicium hidung Rin, bau segar yang membuatnya bagai merasakan musim semi telah tiba. Namun, sejenak kemudian, tiba-tiba saja, pikirannya menjadi kosong. Seluruh badannya kehilangan tenaga, matanya menjadi berat, dan dia pun jatuh ke dalam pelukan kegelapan.
Tsubasa yang melihat Rin kehilangan tenaga segera menangkap badan gadis manusia itu. Tersenyum menyeringai dia menatap wajah gadis manusia yang tidak sadarkan diri tersebut. Merasa sudah aman, dia kemudian memanggil nama dayang kepercayaannya. "Himiko."
Pintu shoji kamar Rin terbuka, dan Himiko, dayang Tsubasa berjalan masuk dengan sehelai kain besar berwarna hitam di tangannya. "Ya, Tsubasa-sama."
"Keretanya sudah siap?" tanya Tsubasa tanpa menolehkan wajahnya sedikit pun dari Rin yang kini dia baringkan di atas lantai tatami.
"Tentu saja sudah siap, Tsubasa-sama." Balas Himiko sambil tersenyum mendekati Tsubasa.
Tsubasa kemudian mengeluarkan sebuah botol kecil lagi dari balik lengan kimononya. Membuka tutup botol tersebut, Tsubasa mencabut sehelai rambut Rin dan memasukkannya ke dalam. Asap putih tiba-tiba muncul dari dalam botol tersebut dan menyebar memenuhi kamar tempat mereka berada. Mengambil kain hitam di tangan Himiko, Selir Penguasa Tanah Selatan itu kemudian membukanya dan menutupi seluruh tubuh Rin.
__ADS_1
Rencana ini telah disusun oleh Tsubasa dengan baik. Saat dia melihat betapa barat memperhatikan gadis manusia itu, Selir Penguasa Tanah Selatan itu sadar, gadis itu bisa menjadi salah satu senjata bagi selatan yang berniat menaklukkan barat. Lalu, saat melihat pesta yang diadakan serta dihadiri semua penghuni istana serta membuat penjagaan istana menjadi sangat lemah, dia tahu, dirinya tidak boleh membuang kesempatan yang ada dan harus segera bertindak.
Tidak akan seorang pun dari mereka yang menyadari Himiko telah memasukkan ramuan yang akan membuat seluruh istana mabuk hingga besok pagi. Lalu, kenyataan, Sesshoumaru yang masih berada dalam ruang kerjanya di sisi Barat istana dan belum kembali ke kamarnya yang berada tepat di sebelah kamar Rin, membuat peluang keberhasilannya menjadi semakin tinggi. Rencananya akan hancur berantakan jika Sesshoumaru menyadari apa yang dilakukannya, sebab Tsubasa tahu, dia berserta semua prajurit dan dayang yang ikut bersamanya dari selatan tidak akan mungkin lagi bisa meninggalkan Istana Tanah Barat hidup-hidup.
Inuyoukai adalah youkai dengan indera penciuman tajam, apalagi inuyoukai selevel Sesshoumaru. Di mana Rin berada, dia mungkin selalu menyadarinya. Karena itu, dengan memanfaatkan kelebihan Penguasa Tanah Barat tersebut, dia akan mengelabuinya. Mencampurkan rambut Rin dengan ramuan dalam botolnya barusan, dia telah menciptakan bau Rin yang khas akan permanen di ruangan ini sampai besok pagi, lalu dengan kain hitam yang kini menutupi Rin, dia telah membuat bau gadis manusia itu lenyap dari indra penciuman siapapun. Sesshoumaru tidak akan menyadarinya sedikit pun sampai besok pagi, bahwa gadis manusia yang begitu berharga baginya sebenarnya telah menghilang dari istananya—telah diculiknya.
Tidak mengatakan apa-apa, Himiko kemudian mengangkat badan Rin yang telah ditutupi kain dengan pelan ke atas bahunya. Membalikkan badannya, dia kemudian mengikuti Tsubasa yang kini telah berjalan keluar dari kamar gadis manusia yang dikenal sebagai hime-sama dari barat.
Memasuki taman belakang paviliun timur menghindari para penghuni istana yang sedang berpesta, Tsubasa dan Himiko berjalan menuju kereta di mana para dayang dan prajurit dari selatan telah menunggu. Namun, tiba-tiba saja sebuah pedang sabit terbang menyerang Tsubasa dan Himiko.
Meloncat menghindari sabit tersebut, kedua mata youkai itu menatap arah datangnya serangan. Di bawah sinar bulan tidak jauh dari tempat mereka berdiri, mereka melihat seorang pemuda manusia berdiri siaga menatap mereka dengan rantai pedang sabit yang telah ditariknya kembali. Meski tidak tahu siapa namanya, Tsubasa dan Himiko segera menaydari bahwa pemuda itu adalah taijiya salah satu tamu undangan teman Inuyasha, saudara separuh darah Sesshoumaru.
"Lepaskan Rin." perintah Kohaku pelan menatap tajam kedua youkai di depannya. Dirinya tidak menyangka akan mengalami hal seperti ini sekarang. Saat dirinya memutuskan untuk kembali dan memberanikan diri memberikan hadiah ulang tahun pada Rin, dia melihat Tsubasa dan Himiko berjalan keluar dari pintu paviliun timur menuju taman belakang. Melihat sesuatu yang ada di atas bahu Himiko. Taijiya muda itu langsung tahu, gundukan besar yang tertutup kain itu adalah pasti merupakan Rin, sebab hanya gadis itu seorang sajalah yang kini berada dalam paviliun timur.
Tsubasa dan Himiko tidak mengatakan apapun. Mereka hanya menatap lekat Kohaku, hingga akhirnya, Tsubasa tertawa kecil. Tangannya yang bercakar panjang dan tajam bergerak menenyentuh Rin yang berada di atas bahu Himiko. "Melepaskan Rin-sama dan membiarkanmu membawanya pergi? Membiarkanmu menghancurkan rencanaku?"
Sedetik juga, tiba-tiba saja, Himiko telah berada di depan Kohaku dengan Rin yang masih ada di bahunya. Tangan cakarnya dengan cepat terangkat untuk menyerang taijiya muda tersebut. Kohaku meloncat ke belakang menghindar, dengan Rin yang ada di bahu Himiko, dia tidak berani sembarangan menyerang, sebab, apa yang terjadi jika ternyata youkai itu menjadikan Rin sebagai tameng untuk melindungi diri. Namun, tidak disangkanya dari belakangnya, Tsubasa tiba-tiba muncul. Menggunakan tangannya, dia langsung memukul belakang leher taijiya muda itu dengan kuat.
Pukulan kuat Tsubasa membuat Kohaku langsung jatuh ke atas tanah. Pandangannya dengan segera menjadi gelap dan dirinya kehilangan kekuatan. Yang dipukul Tsubasa adalah salah satu titik kelemahan manusia, titik dimana manusia akan segera kehilangan kesadaran jika terpukul.
"Padahal aku ingin membunuhmu, tapi, bau darah dan juga kematian pasti akan dengan segera menarik perhatiaan Sesshoumaru yang memiliki indra penciuman sangat tajam." Senyum Tsubasa melihat Kohaku yang tidak berdaya.
Mati-matian Kohaku berusaha menjaga kesadarannya, sebab dia tidak berani membayangkan apa yang akan terjadi jika dia tidak berhasil menolong Rin. Namun, tidak peduli betapa keras dia mencoba, kegelapan dengan cepat mulai mengambil alih dirinya, dan di antara kesadaran yang semakin menipis, dia bisa mendengar jelas apa yang diucapkan Tsubasa.
"Sampaikan pada Sesshoumaru, Sang Penguasa Tanah Barat. Kami, Selatan menyatakan perang terhadap Barat."
....xOxOx....
__ADS_1