Till The End Of Time [ Inuyasha Fanfiction ]

Till The End Of Time [ Inuyasha Fanfiction ]
Chapter 65


__ADS_3

Sinar matahari pagi musim semi yang hangat memasuki ruang kerja penguasa tanah barat melalui jendela yang terbuka. Dokumen-dokumen serta surat yang semalam berserakan, kini telah kembali tersusun rapi, begitu juga dengan meja kerja yang dihancurkan Inukimi.


Ruang kerja itu sunyi tanpa suara, Sesshoumaru yang duduk di depan meja kerjanya tidak bergerak sedikitpun. Bagaikan patung, inuyoukai itu telah duduk seperti itu semalaman. Wajahnya datar tidak berekspresi, begitu juga dengan sepasang mata emasnya; hampa tanpa emosi.


Apa yang telah terjadi semalam, Sesshoumaru masih mengingatnya jelas. Seharusnya dia senang, sebab apa yang ingin diciptakannya telah menjadi nyata; jurang yang memisahkan dia dengan Rin.


Rin


Meski pagi sudah tiba, Sesshoumaru tidak dapat melupakan sosok gadis manusia yang menangis terisak sendirian dalam taman bunga. Suara isak tangis itu menghantuinya hingga sekarang, membekas jelas dalam pikirannya.


Rin yang selalu tertawa dan tersenyum bahagia, ceria dan optimis, hangat dan bersinar bagaikan matahari–menangis. Dalam setiap butiran air mata yang jatuh, dalam setiap isak tangis yang pecah, Sesshoumatu tahu, dirinyalah penyebab itu semua.


Saat melihat Rin menangis, dia tidak bisa mendekat; rasa bersalah memenuhi hatinya. Berdiri diam, Sesshoumaru hanya bisa melihat gadis itu menangis hingga tertidur dalam taman malam musim semi.


Lalu, saat dia menggendong tubuh mungil yang terlelap dalam tangisnya kembali ke kamarnya, saat melihat pucat dan bekas air mata di wajah cantik itu; Sesshoumaru membenci dirinya sendiri.


Kenapa semua jadi seperti ini? Sesshoumaru tidak mengerti. Dirinya hanya ingin menghindari Rin dari akhir yang menyedihkan. Dia tidak pernah berpikir untuk membuat senyum musim semi abadi itu meredup digantikan air mata.


Sekarang, setelah ini semua terjadi, bagaimana dia akan menghadapi Rin? Harus bersikap seperti apa dia di depan Rin? Mereka berdua tidak bisa kembali lagi seperti dulu.


"S-sesshoumaru-sama." Panggil suara serak seseorang dari luar ruang kerja Sesshoumaru. Suaranya bergetar dan ketakutan terdengar jelas. "A-ada yang ingin hamba laporkan."


"Masuk." Seshoumaru tahu itu suara Jaken. Setelah keributan yang diciptakannya semalam, youkai katak itu seharusnya bersyukur karena masih hidup.


Jaken membuka pintu ruang kerja penguasa tanah barat dan berjalan masuk dengan pelan. Ketakutan terpancar jelas dari gerak-geriknya. Youkai katak itu jelas tahu dia telah melakukan kesalahan semalam, Inukimi yang mengamuk jelas bukan sesuatu yang dikiranya akan terjadi.


Seshoumaru tidak mengatakan apa-apa, kedua matanya menatap Jaken penuh intimidasi. Ada rasa tidak suka saat dia melihat youkai katak ini sekarang. Isi surat dari timur semalam, dia masih mempertimbangkannya, tapi di mulut Jaken, dia seakan telah menerimanya.


Jaken menelan ludah melihat mata emas Sesshoumaru yang menatapnya tajam. Dengan tangan gemetar, dia menyerahkan sebuah surat. "A-ada surat dari selatan, Sesshoumaru-sama."


Mata Sesshoumaru terarah pada surat di tangan Jaken. Semalam surat dari timur, sekarang surat dari selatan–apa yang sebenarnya terjadi? Namun yang paling penting, kenapa selatan mengirimkan surat?


"T-tapi, Sesshoumaru-sama," tambah Jaken pelan penuh ketakutan. "Surat ini bukan ditujukan pada anda. Surat ini ditujukan pada Rin."


....xOxOx....


Dalam taman paviliun timur istana tanah barat, Inukimi menatap Rin yang ada di depannya penuh kekhawatiran. Akan tetapi, gadis di depannya malah tersenyum lebar sambil mengamati beberapa tunas bunga yang sudah mulai tumbuh keluar dari dalam tanah.


"Rin kecil, kemarilah." Panggil Inukimi kemudian. Tangannya terulur ke arah gadis itu. "Ayo kita istirahat dulu."


Rin menoleh wajahnya pada Inukimi dan menganguk kepala. Berjalan mendekat, dia menerima uluran tangan mantan penguasa tanah barat itu. Senyum tidak pernah menghilang sedetikpun dari wajah cantiknya.


Inukimi tidak mengatakan apa-apa lagi, dia membimbing gadis manusia itu ke dalam teras yang berada tidak jauh dari mereka. Duduk berdampingan, dia kemudian membelai lembut rambut Rin. Mata emasnya menatap penuh kasih sayang putri angkatnya tersebut. "Jangan memaksa untuk tersenyum jika kau tidak ingin Rin kecil."


Senyum Rin menghilang begitu mendengar ucapan Inukimi, kedua mata coklatnya terbelalak. Namun, sedetik kemudian, dia kembali tersenyum. "Apa maksuk anda Ibunda, Rin tidak mengerti."


Inukimi menghela napas melihat reaksi Rin. Gadis bodoh, apakah dia berpikir bisa menipu semua yang ada? Kedua mata coklat jernihnya sekarang masih sangat merah dan sembab, terlebih lagi, senyum yang ada sekarang jelas merupakan sebuah senyum terpaksa. Kesedihan terpancar jelas dari wajah pucatnya.


Mengangkat kedua tangan, Inukimi memeluk dan menyandakan wajah  Rin pada dadanya. Tangan kanannya bergerak membelai lembut rambut panjang gadis itu. "Tidak apa-apa, kau boleh bersedih dan menangis Rin kecil."


Ucapan dan belaian lembut Inukimi membuat senyum di wajah Rin kembali menghilang. Menutup mata, dia membalas pelukan inuyoukai itu dengan erat. "R-rin tidak apa-apa, Ibunda. S-sungguh, Rin tidak apa-apa.."


Tidak apa-apa. Rin terus menanamkan itu dalam hatinya. Dia berusaha keras untuk tetap bersikap seperti biasanya, dia tidak ingin bersedih dan menangis lagi. Kenyataan tidak akan pernah berubah, dan yang paling penting, dia tidak ingin orang lain mengkhawatirkannya.

__ADS_1


Inukimi tidak mengatakan apa-apa lagi, dia diam membisu dan terus membelai Rin yang ada dalam pelukannya. Gadis manusia yang bodoh, tidak bisa jujur dan terus memaksa diri, lalu juga, putra kandungnya yang tidak berguna. Semalam saat dia melihat Sesshoumaru mengejar Rin, dia berpikir keadaan akan membaik, tapi kenyataannya malah semakin buruk. Apa yang ada dalam pikiran putra berengseknya itu?


"Rin ke–" Inukimi membuka mulutnya, namun ucapannya terpotong oleh suara Jaken yang tiba-tiba terdengar dari arah taman.


"Rin! Ri–" Jaken berlari mendekati teras pavilium timur istana tanah barat. Namun, suaranya terhenti saat dia melihat Inukimi yang menatapnya tajam.


Rin segera bangkit dari posisinya dan kembali memaksa seulas senyum di wajahnya. "Ada apa, Jaken-sama?"


"Apa yang ingin kau sampaikan sekarang, youkai kecil?" tanya Inukimi juga. Mata emasnya menatap tidak suka Jaken, terhitung semalam, sudah dua kali youkai katak ini memotong ucapannya.


Badan Jaken bergemetaran karena takut. Tidak tahu kenapa, sejak semalam, ibu-anak inuyoukai penguasa tanah barat terus saja menatapnya seperti ini. Tapi, ketakutan itu langsung menghilang saat dia melihat wajah sembab Rin yang pucat. "Rin! Ada apa denganmu?! Kau sakit?? Kenapa matamu sembab seperti itu?"


Rin segera menundukkan kepala ke bawah. Ketakutan memenuhi hatinya, sejelas itukah bekas tangisannya semalam?


"Rin.." panggil Jaken lagi. Dia tidak pernah melihat mata Rin sesembab itu selama ini. Berapa tahun hidup bersama, gadis itu selalu ceria dan penuh senyum, rasa khawatir segera memenuhi hatinya.


"Aku tidak akan mengulangi perntanyaanku lagi," ujar Inukimi tiba-tiba menghentikan Jaken yang ingin mendekati Rin. Matanya menatap semakin tajam Jaken. Rin tidak ingin dikhawatirkan siapapun, dan untuk masalah sensitif ini, inuyoukai ini juga tidak ingin youkai katak ini ikut campur. "Apa yang ingin kau sampaikan?"


Pertanyaan Inukimi kedua kali yang penuh penekanan membuat Jaken kembali ketakutan. Menatap mata emas di depannya, dia menjawab terbata-bata. "S-sesshoumaru-sama memanggil Rin..."


....xOxOx....


Berdiri menatap keluar jendela, indra pendengaran Sesshoumaru bisa menangkap jelas suara pintu rung kerjanya yang terbuka.


"Ada apa kau memanggil putriku, Sesshoumaru?" suara Inukimi lah yang terdengar pertama kali bersamaan dengan pintu yang terbuka.


Sesshoumaru tidak membalas pertanyaan Inukimi. Dia tahu, ibu kandungnya itu datang bersama dengan Rin, dan bagaimana mereka bisa bersama, penguasa tanah barat itu tidak memiliki niat untuk memikirkannya lebih jauh. Malahan, sesungguhnya dia bahkan lebih senang, Inukimi ada dalam ruangan ini, sebab dia tidak tahu harus bersikap apa jika hanya berdua dengan Rin sekarang.


Membalikkan badannya, kedua mata Sesshoumaru kemudian jatuh pada sosok yang berdiri di belakang Inukimi. Rin berjalan masuk dengan kepala yang tertunduk ke bawah.


Rin segera mengangkat kepala menatap Sesshoumaru, tidak dapat menyembunyikan rasa terkejutnya.


Rin.


Namanya sendiri yang sederhana. Sudah berapa lama Rin tidak mendengar suara itu memanggil namanya.


Seshoumaru sendiri tertegun saat melihat Rin mengangkat wajah menatapnya. Wajah di depannya sekarang begitu pucat dengan mata merah dan sembab. Tidak ada lagi senyum dan tawa yang biasa diberikan gadis itu saat dia memanggil namanya.


Mata mereka bertemu, dan sedetik kemudian, Rin segera menundukkan kepalanya ke bawah lagi. Dia ingat bagaimana kacaunya wajahnya sekarang, matanya yang sembab tidak dapat disembunyikan


Tidak ada yang mengeluarkan suara lagi. Baik Sesshoumaru maupun Rin diam membisu, membuat suasana menjadi sangat canggung.


Inukimi yang ada di tengah mereka berdua tidak tahan lagi dengan kecanggungan yang ada. Menatap Sesshoumaru, dia membuka mulut memecahkan keheningan yang ada. "Ada apa kau mencari Rin kecil, Putraku yang berengsek?"


Tersadar, Sesshoumaru menatap Inukimi. Namun, dia tidak menjawab pertanyaan tersebut. Melangkah pelan, dia mendekati Rin.


Rin yang merasakan Sesshoumaru berjalan mendekatinya menjadi sangat panik. Namun, dia tidak berani bergerak. Mengigit bibir bawahnya kuat, sedangkan kedua jari jemari tangannya terkepal erat.


Sesshoumaru berhenti tepat di depan Rin. Dia dapat melihat reaksi gadis manusia itu, dan perasaan yang sangat menyesakkan memenuhi hatinya–perasaan bersalah.


Menyerahkan sebuah surat yang ada di tangannya sejak tadi, Sesshoumaru berujar pelan. "Surat untukmu dari selatan."


Ucapan Sesshoumaru membuat Rin mengangkat kepalanya. Namun, dia hanya menatap surat di tangan itu, tanpa berani menatap wajah penguasa tanah barat di depannya.

__ADS_1


"Surat dari selatan? Untuk Rin kecil? Apa maksudnya ini?" tanya Inukimi berturut-turut sambil berjalan mendekati Sesshoumaru dan Rin. Menatap surat yang kini ada di tangan Rin, dalam hati mantan penguasa tanah barat berpikir, apa yang direncanakan selatan?


"Buka dan bacalah surat itu, Rin kecil." ujar Inukimi kemudian. Dia harus tahu apa isi surat tersebut, jika selatan ingin memanfaatkan Rin untuk kepentingan mereka, maka dia tidak akan tinggal diam.


Sesshoumaru diam membisu, tapi sesungguhnya dia juga sepemikiran dengan Inukimi. Hubungan barat dan selatan sejak berakhirnya perang barat selatan tidaklah buruk namun juga tidak dapat dikatakan baik. Karena itu, selatan yang mengirimkan surat tiba-tiba seperti ini adalah tanda tanya besar.


Rin mengangguk kepala dan segera membuka surat itu. Dengan perlahan dia membaca isi yang tertulis di dalamnya. "Rin, musim semi sudah tiba. Bunga sakura di selatan sudah mekar. Hanami sudah bisa diadakan. Ingat janjimu, aku mengundangmu mengunjungi selatan. Akihiko."


Rin terdiam begitu selesai membaca surat itu. Isi surat tersebut dengan segera mengingatkan dia pada janjinya pada Akihiko, sang penguasa tanah selatan saat meminta selatan untuk tidak berperang dengan barat lagi.


Inukimi yang mendengar isi surat itu juga segera tersadar. Janji yang tertulis dalam surat itu tidak salah lagi adalah janji yang dibuat Rin dengan Akihiko saat perang barat selatan berakhir; mengunjungi selatan untuk hanami.


"Rin," ujar Rin pelan kemudian. Mengunjungi selatan lagi adalah janjinya, dan dia tidak berniat melanggar janji tersebut, sebab kedamaian barat dan selatan adalah taruhannya. Mengangkat kepala, dia menatap Sesshoumaru. "Rin boleh mengunjungi selatan kan, Sesshoumaru-sama?"


Pertanyaan Rin yang tiba-tiba membuat Sesshoumaru tertegun. Sejak menginjak kaki dalam ruangan ini, gadis itu selalu menghindari tatapan matanya, dan sekarang, gadis ini menatapnya lagi hanya karena ingin mengunjungi selatan? Hanya untuk menepati janjinya kepada Akihiko?


Perasaan bersalah yang memenuhi Sesshoumaru dengan segera berubah menjadi kemarahan. Akihiko, youkai serigala penguasa tanah selatan, dia ingat jelas bagaimana tatapannya saat menatap Rin. Setiap gerak gerik dan sikapnya kepada gadis manusia di depannya jelas sangat berbeda–Sesshoumaru tahu Akihiko tertarik pada Rin.


"Jika kau ingin mengunjungi selatan, Ibunda ini akan menemanimu, Rin kecil." senyum Inukimi menatap Rin. Undangan hanami yang diberikan Akihiko sepertinya tidak memiliki maksud jahat terhadap gadis manusia ini. Mantan penguasa tanah barat tersebut ingat jelas dengan senyum di wajah penguasa tanah selatan saat menatap putri manusianya.


"Benarkah, Ibunda?" tanya Rin kembali. Menatap Inukimi, seulas senyum melintas di wajahnya. "Teri–"


"Tidak," suara Sesshoumaru tiba-tiba terdengar memotong ucapan Rin. "Kau tidak akan pergi."


Terkejut, mata Rin kembali menoleh wajah menatap Sesshoumaru, dan seketika, badannya tidak bisa bergerak.


"S-seshoumaru-sama.." panggil Rin terbata-bata. Sepasang mata emas penguasa tanah barat yang menatapnya kini telah berubah menjadi merah darah, menyampaikan kemarahan tidak terucap. Seumur hidupnya, tidak pernah dia melihat inuyoukai ini menatapnya seperti ini.


"Sesshoumaru!!" teriak Inukimi begitu melihat sikap Sesshoumaru yang tiba-tiba diliputi kemarahan. Ada apa dengan putranya ini sekarang?–dia benar tidak mengerti.


"Kau tidak akan pergi." ulang Sesshoumaru lagi tidak mempedulikan Inukimi. Kemarahan luar biasa memenuhi hatinya. Rin tersenyum. Setelah menangis semalaman, dia kembali tersenyum karena berpikir bisa mengunjungi selatan; karena ingin menepati janjinya pada Akihiko.


Mata merah darah yang menatapnya membuat Rin bagaikan tidak bisa bernapas. Namun, bukan karena takut, melainkak karena rasa sakit yang luar biasa memenuhi hatinya. Dia tidak mengerti kenapa Sesshoumaru marah, tidak tahu di mana letak kesalahannya. Lalu, yang paling penting, dia tidak mau inuyoukai itu menatapnya seperti ini.


"R-rin mengerti, R-rin tidak akan pergi." Membalas ucapan Sesshoumaru, Rin mengangguk kepala dengan suaranya yang semakin bergetar, wajah pucat berubah menjadi semakin pucat.


"Bagus," ujar Sesshoumaru pelan. Kedua mata merah darahnya masih menatap lekat Rin yang ada di depan. Tangan kanannya kemudian terangkat mengambil surat Akihiko yang ada dalam genggaman Rin. "Sekarang, kembali ke kamarmu."


Rin kembali mengangguk kepala. Tidak mempedulikan apapun lagi, dia membalikkan badan dan berlari meninggalkan ruang kerja penguasa tanah barat tersebut menuju kamarnya.


Sepeninggalan Rin, Inukimi langsung bergerak mencengkram kerah kimono Sesshoumaru. Mata emasnya berubah menjadi merah darah, bibirnya terangkat memperlihatkan taring yang tajam. "Apa yang telah kau lakukan pada Rin, anak berengsek!!"


Tersadar dengan apa yang baru saja dilakukannya, mata merah darah Sesshoumaru kembali menjadi emas. Wajahnya tidak dapat lagi menyembunyikan perasaan terkejutnya. Apa yang telah dilakukannya?


Ekpresi terkejut Sesshoumaru membuat kemarahan dalam hati Inukimi menghilang, digantikan kesal. Putranya yang bodoh semakin bodoh saja dari hari ke hari.


Menghempas badan Sesshoumaru dengan kasar ke bawah, Inukimi menatap tajam putranya tersebut dengan mata yang telah kembali berwarna emas. "Aku akan membawa Rin kecil ke desa manusia di mana putra Taisho dan istrinya berada."


Ucapan Inukimi membuat Sesshoumaru menyeringai marah menatap ibu kandungnya, mata emasnya dengan segera kembali berwarna merah darah. Membawa Rin? Ke desa manusia? Beraninya Inukimi berpikir seperti itu?!


"Aku tidak akan menempatkan Rin kecil di istana tanah barat selama kau tidak bisa mengontrol emosimu. Kau hanya akan terus melukainya." Lanjut Inukimi lagi, dan seketika membuat seringai penuh kemarahan di wajah Sesshoumaru menghilang.


Tidak bergerak, Sesshoumaru hanya bisa terduduk menatap Inukimi dengan ekspresi yang jauh dari biasanya. Tidak ada lagi ketenangan dari wajah itu, yang ada kini hanyalah kebingungan dan ketidak berdayaan.

__ADS_1


Berjalan keluar, Inukimi tidak menoleh wajah ke belakang menatap Sesshoumaru lagi. Namun, sesaat sebelum dia menutup pintu ruang kerja putranya, dia berujar pelan. "Jangan membuat pilihan yang akan membuatmu menyesal seumur hidup, Sesshoumaru.."


....xOxOx....


__ADS_2