Till The End Of Time [ Inuyasha Fanfiction ]

Till The End Of Time [ Inuyasha Fanfiction ]
Chapter 177


__ADS_3

"Jangan bergerak, Shura."


Suara yang tidak pernah asing baginya terdengar, dan Shura bisa mendengar Shui yang kemudian berteriak keras kesakitan. Dia bisa merasakan tangan youkai naga yang mencengkramnya terlepas, tubuhnya jatuh ke bawah. Tapi sebuah tangan yang kuat dan kekar meraihnya—mengedongnya erat.


Perlahan, Shura membuka matanya, dan dia melihat sepasang mata emas yang identik dengannya menatap dirinya. Rambut putih perak yang sama dengan fitur wajah yang sangat mirip dengannya—sosok yang dia tahu tidak mungkin bisa berada di hadapannya.


Apakah dia bermimpi? Ilusikah?—atau, apakah ini adalah karena kekuatannya yang tidak dapat dikendalikan? Apakah ini seperti dirinya yang bertemu ibu kandungnya di taman sejuta warna? Tapi, perasaan yang ada sekarang


begitu berbeda dengan pertemuannya dengan sang ibu saat itu.


Perlahan, dengan mata terbelalak tidak percaya dan tangan yang terus bergetar, Shura mengangkat kedua tangannya. Tidak peduli darah merah mengalir di lengannya, dia menyentuh wajah pria yang mendekapnya di dada. Rasa hangat yang ada membuatnya sadar, yang di depannya nyata. "A-ayahanda..."


Sesshoumaru tidak membalas panggilan Shura, dia menatap putranya yang menatapnya tidak percaya.


Hangat.


Tangan kecil yang menyentuh wajahnya begitu hangat, tapi selama sepuluh tahun ini, dia tidak pernah menyentuhnya. Putra mereka, permata dunia milik Rin yang ditinggalkan untuknya—Sesshoumaru tahu sekarang, betapa bodoh dirinya.


Kehilangan Rin adalah pukulan terbesar dalam hidup Sesshoumaru. Wanita manusia itu pergi dengan membawa segalanya, dari cahaya hingga waktunya yang bergerak—sebuah luka yang tidak akan pernah menutup selamanya.


Lemah.


Ya, Sesshoumaru mengakuinya—dia lemah. Lemah karena dia tidak pernah sanggup menghadapi kenyataan akan kematian Rin, dan oleh sebab itulah dia berpikir bahwa Shura akan sama sepertinya.


Sesshoumaru tidak mau Shura hancur sepertinya, karena itu dia merahasiakan segalanya dan juga menjauh darinya. Ironis, bukan? Sesshoumaru baru menyadarinya sekarang, dia berjanji dan bersumpah akan melindungi, Shura. Tapi, kenyataannnya, dialah yang meninggalkan dan menghancurkannya.


Apa yang sesungguhnya terjadi berbeda dengan apa yang dikiranya—putranya tidak seperti dirinya; Shura kuat. Shura tidak hancur walaupun mengetahui kenyataan, dia berdiri tegap menghadapi semuanya dengan tubuh kecilnya, dan meski jatuh, dia akan bangkit dengan cepat.


Yang terpenting bagi anda sekarang adalah Shura, Sesshoumaru-sama.


Permata dunianya yang lain, harta tidak tergantikan baginya—peninggalan terakhir Rin yang merupakan bukti cinta mereka. Sesshoumaru bersyukur dia memiliki kesempatan kedua. Kali ini, dia tidak akan meninggalkannya lagi, dia akan mengenggam tangan kecil itu dan menjaganya selalu—putranya tercinta.


"Beristirahatlah," ujar Sesshoumaru pelan dengan wajahnya yang tanpa ekspresi. Tapi, mata emasnya yang menatap Shura penuh dengan kebanggaan dan kasih sayang. "Kau sudah bertarung dengan baik—kau sungguh luar biasa, putraku."


Shura tetegun mendengar ucapan Ssshoumaru, terlebih lagi dengan sepasang mata emas yang menatapnya sekarang. Perasaan tidak terjelaskan memenuhi dirinya, sesak hingga bagaikan ingin menangis, namun juga sekaligus—hangat.


Mata emas yang menatapnya penuh kebanggaan dan kasih sayang, Shura pernah melihatnya dalam mimpi masa lalunya. Kehangatan tangan kokoh yang mendekapnya, segala kedamaian dan keamanan yang diberikan, Shura masih mengingatnya—cinta ayahnya.


Cinta, Shura. Walau apapun yang terjadi, kami akan selalu mencintaimu...


Ucapan hangat tergiang dalam kepala, Shura segera memeluk leher Sesshoumaru dan membenamkan wajahnya pada leher sang ayah. Dia mengangaguk kepala pelan dalam tangis pelannya yang pecah.


Dia dicintai. Tahukah semuanya, betapa berharga dia bagi kedua orang tua kandungnya? Betapa penting keberadaan dirinya bagi mereka berdua?—betapa dia dicintai oleh ayahanda dan ibundanya?


Sesshoumaru mengangkat tangannya yang satu lagi membalas pelukan Shura. Dia menutup mata sejenak dan merasakan kehangatan badan putranya.


Belum waktunya anda kemari, Sesshoumaru-sama.


Ucapan Rin di taman bunga sejuta warna itu benar—belum saatnya dia kesana. Dia masih memiliki banyak waktu yang panjang di sini. Dia akan hidup sampai waktunya yang sebenarnya tiba, dan dia harus melihat putra mereka tumbuh besar dan menwarisi segalanya. Ya—melihat kebahagiaan yang masih ada di masa depan.


Membuka mata, mata emas Sesshoumaru menatap tajam Shui yang berteriak kesakitan. Untuk kebahagiaan di masa depan—Shui harus benar-benar mati di tangannya hari ini.


Masih memeluk Shura, Sesshoumaru kemudian meloncat ke atas. Dia bisa melihat para manusia yang semuanya berhenti bergerak sejak dia memutuskan kedua tangan Shui, dan dia tahu, youkai naga itulah yang menggerakkan mereka. Mengangkat bakusaiga, dia mengunakan youkinya menyerang para manusia yang ada disekitar Inuyasha.


Inuyasha yang masih tidak percaya dengan kehadiran Sesshoumaru sama sekali tidak dapat bergerak. Kedua matanya menatap lekat sosok kakak seayahnya yang kemudian mendarat di depannya. "K-kakak? Sesshoumaru?"


Sesshoumaru menyarungkan bakusaiga di tangannya. Dia tidak membalas panggilan Inuyasha, inudaiyoukai tersebut hanya diam menatap saudara seayahnya dengan wajah tanpa ekspresi seperti biasa.


Inuyasha yang tidak percaya dengan keneradaan Sesshoumaru segera mengangkat tangannya dan menarik pipi kanan inudaiyoukai tersebut. Rasa hangat kulit yang besentuhan membuatnya sadar yang ada di depannya bukan ilusi.


"Apakah kau juga ingin mati, Inuyasha?" tanya Sesshoumaru pelan. Dia tidak menepis tangan Inuyasha karena dia masih memeluk erat Shura, namun mata emasnya menatap tajam inuhanyou tersebut.


Shura mengangkat wajahnya yang berada di celah leher Sesshoumaru begitu mendengar pertanyaan yang ditujukan pada Inuyasha. Menoleh menatap inuhanyou tersebut, tatapan mata emasnya menajam persis dengan sang ayah.


Inuyasha yang ditatap tajam oleh ayah anak tersebut secara otomatis langsung melepaskan tangannya dari pipi Sesshoumaru. Namun, bukannya takut, sejenak kemudian dia tertawa keras penuh kebahagiaan. Tangannya kembali terangkat menepuk-nepuk pundak sang penguasa tanah barat. "Tidak salah lagi!! Sesshoumaru!! Tatapan mata ini memang cuma dimiliki Sesshoumaru!!"


Inuyasha tidak tahu bagaimana Sesshoumaru bisa berdiri di depannya sekarang, tapi baginya itu semua tidak penting. Baginya, kakaknya sudah kembali—itulah yang paling penting.


Sesshoumaru menatap tawa Inuyasha, dan dia tidak mengatakan apa-apa lagi. Dia bisa melihat kegembiraan di wajah adik seayahnya tersebut, dan sadar—dia tidak sendirian.


Sesshoumaru selalu berpikir dirinya sendirian setelah Rin tidak ada, dan dia juga berpikir bahwa Shuralah satu-satunya yang dia miliki sejak saat itu—sesuatu yang dia miliki tapi tidak dapat dia sentuh. Tapi, ternyata dia; salah.


"Sesshoumaru-sama!!! Jangan tinggalkan hamba!!!" suara teriakan Jaken terdengar. Dari kejauhan, youkai katak itu berlari mendekati Sesshoumaru penuh kepanikan.


"Sesshoumaru." Panggil Inukimi. Meloncat dan mendarat di samping Sesshoumaru, seulas senyum memenuhi wajah cantiknya dan mata emasnya menatap putranya penuh dengan perasaan syukur.


"Bagaimana kau bisa hidup, Sesshoumaru??" suara Kenji terdengar keras dari belakang Inukimi. Terlihat, sarushogun tersebut berlari mendekat dengan pandangan tidak percaya pada Sesshoumaru, tapi senyum lebar memenuhi wajahnya.


"Kakak!! Syukurlah kau sudah tidak apa-apa!!" Suara penuh tawa Kagome terdengar, miko masa depan itu berlari mendekati Sesshoumaru dan yang lainnya. Shiro mengikuti dari belakang, dia tidak mengatakan apa-apa, tapi matanya yang menatap pamannya tersebut terlihat gembira.


"Sesshoumaru-sama."


"Sesshoumaru-sama."


Kiri dan Kira belutut memberikan hotmat kepada Sesshoumaru. Mereka tidak mengatakan apapun lagi, wajah mereka datar tanpa ekspresi, tapi mata emas mereka bersinar penuh kelegaaan.


"Sesshoumaru-sama!!"


"Sesshoumaru-sama!!"


Suara panggilan penuh syukur, dengan senyum dan tawa di wajah mereka melihat sang penguasa mereka, para pemimpin klan youkai tanah barat mendekat dan berlutut memberi hormat.


Dia tidak sendirian—Sesshoumaru sadar sekarang; dia benar-benar tidak sendirian lagi. Di sampingnya selalu ada mereka yang ada untuknya, hanya saja, dia tidak pernah menyadarinya.


"Ayahanda..." Suara panggilan kecil Shura terdengar. Menatap wajah Sesshoumaru, inuyoukai kecil itu mengangkat tangannya menyentuh pipi sang ayah.


Sesshoumaru menoleh wajahnya menatap Shura, dan dia melihatnya—cahaya. Ahh, ternyata saat Rin meninggalkannya, dia tidak membawa pergi semua cahaya di dunianya. Wanita itu meninggalkan banyak cahaya dalam hidupnya. Inuyasha, Kagome, Inukimi, Jaken, Kenji, Kiri, Kira, para youkai tanah barat lainnya dan yang paling penting, cahaya paling gemerlap di dunia mereka—Shura.


Rin mencintai anda, Sesshoumaru-sama...


Tidak akan ada kegelapan lagi meski Rin tidak ada lagi di sampingnya. Kali ini, sampai waktunya tiba, di dunia ini, di dunia di mana dia tidak pernah sendirian, Sesshoumaru tahu, dia bisa melangkah dengan punggung tegap penuh kepercaya dirian—tidak ada lagi; kesunyian.


"Tunggulah disini, Shura." Mengangkat tangan kanannya, Ssshoumaru menepuk kepala Shura sekali lagi dengan pelan.


Shura mengangguk kepala mendengar perintah Sesshoumaru, dan dia tidak mengatakan apa-apa lagi, bahkan saat sang ayah menyerahkannya pada Inuyasha.


"Jaga dia untukku." ujar Sesshoumaru menatap Inuyasha saat menyerahkan Shura di tangannya.


"Tenang saja," Balas Inuyasha sambil tersenyum. Kedua tangannya dengan sigap segera menerima Shura. Mengendongnya erat, dia kemudian tertawa. "Kali ini, bunuh si berengsek itu dengan benar, kakak."


Sesshoumaru tidak mengatakan apa-apa, tapi dia mengangguk kepala pelan. Menatap Shura yang balas menatapnya sejenak, dia kemudian membalikkan badan. "Ayahndamu ini akan segera kembali."


Shura tidak mengatakan apapun lagi, diam membisu, dia melihat punggung Sesshoumaru yang menjauh. Seulas senyum kecil memenuhi wajahnya, punggung yang tegap dan kuat, punggung yang mampu menghadapi semuanya—punggung ayah kandungnya.


Melangkah pelan dalam pandangan semua yang ada, Sesshoumaru menatap Shui yang kini menatapnya penuh nafsu membunuh dari atas. Terbang di atas langit, youkai naga tersebut sedang berkonsentrasi menumbuhkan kembali kedua tangannya yang putus.


"Sesshoumaru," panggil Shui dengan matanya yang telah memerah seperti darah. Tapi, seulas seringai penuh hinaan memenuhi wajahnya. "Tidak kusangka kau melakukan trik murahan seperti itu."


Sesshoumaru tidak membalas ucapan Shui. Seperti biasa, dia diam membisu menatap youkai naga tersebut dengan wajah tanpa ekspresi.


"Apakah kau belajar dari Naraku," Shui yakin sekali dia telah menghancurkan jantung Sesshoumaru, karena itu, tidak mungkin inuyoukai itu masih hidup, kecuali yang dia hancurkan bukanlah jantung asli. "—menyembunyikan jantung aslimu??"


Sesshoumaru tetap tidak menjawab, dia hanya diam mendengar pertanyaan Shui yang telah berhasil menumbuhkan kedua tangannya. Bayangan seorang wanita yang sedang bernyanyi dengan begitu indah dan lembut terbayang dalam kepalanya.


'Kau adalah jantungku.'


Lirik lagu yang dinyanyikannya saat menatapnya. Senyum lembut di wajah dan cinta tanpa batas dalam sepasang mata coklat jernihnya—Sesshoumaru tersenyum kecil.


Cinta.


Cinta adalah sebuah perasaan yang tidak berguna. Cinta adalah sesuatu yang akan membuatmu lemah dan musnah. Cinta adalah kelemahan—benarkah?


Tidak. Hari ini akhirnya Sesshoumaru tahu, itu tidak benar. Cinta bukanlah kelemahan, saat Rin ada disampingnya dulu, dia bisa melihat betapa kuat jadinya dia, begitu juga dengan saat Rin telah tiada. Shui benar, dia telah menyembunyikan jantungnya. Saat Rin tiada, dia telah membawa pergi jantungnya. Membawanya pergi dan menybunyikannya di tempat dimana tidak ada seorangpun bisa menjangkaunya—Rinlah jantungnya yang sebenarnya.


Cinta bukanlah kelemahan, melainkan, cinta sesungguhnya adalah kekuatan. Rin mengatakan belum waktunya, maka waktunya tidak akan berakhir. Rin menyuruhnya hidup, maka dia akan hidup. Dia tidak akan terkalahkan selamanya, karena jantungnya yang ada di dunia sana selalu berdetak untuknya yang ada di dunia ini.


Mencabut bakusaiga, Sesshoumaru mengarahkannya pada Shui. "Mari akhiri semuanya dengan benar kali ini."


Selesai mengucapkan kalimat tersebut, Sesshoumaru meloncat ke atas langit menyerang Shui.


Shui yang sudah mempredeksi serangan Sesshoumaru segera mengangkat tangannya. Dia tidak memiliki senjata, karena itu dia menggunkan youki menyelimuti kedua tangannya menahan bakusaiga.


"Kau pengecut yang menyembunyikan jantungmu, Sesshoumaru," menatap Sesshoumaru, wajah Shui penuh dengan kejijikan. "Kakak akan sangat sedih melihatmu seperti ini."


Sesshoumaru sama sekali tidak mempedulikan ucapan Shui, dia juga tidak berniat menjelaskannya. Menggerakkan bakusaiga, dia terus menyerang youkai naga tersebut.


"Kau... kau... Kau yang seperti ini sama sekali tidak pantas menjadi anaknya!! Kenapa??!!! Kenapa??" ekspresi jijik di wajah Shui kembali berubah menjadi kemarahan. "Akulah yang seharusnya menjadi anaknya!!!"


Sesshoumaru bisa melihat dari awal bahwa Shui tidak stabil. Sejak mereka bertarung lagi di istana tanah barat, youkai naga tersebut tidak seperti sepuluh tahun yang lalu. Cara bertarungnya dan juga ucapannya yang kadang tidak konsisten—kegilaan telah mengambil alih.


"Tanah barat adalah milikku!! Akulah yang akan mewarisinya!!!" terus berteriak, Shui terus menyerang Sesshoumaru tidak peduli tangannya terluka.

__ADS_1


'Kau adalah naga, tapi ibu berharap kau adalah ular, karena dengan begitu semua akan lebih baik untukku.'


Seorang youkai naga kecil menatap wajah ibunya yang penuh kebencian kepadanya. Berdiri diam di tempat, dia hanya berusaha mencerna maksud ucapan tersebut.


"Kakekmu akan menjadikanmu kandidat penguasa tanah utara karena kau punya potensi yang besar. Tapi, aku tahu itu hanya omong kosong, ular tidak akan mewariskan apa yang menjadi miliknya kepada naga—baginya kau bukan cucunya. Kau sungguh tidak berguna."


Seorang youkai naga kecil menundukkan kepalanya ke bawah, dia tidak berani mengangkat kepalanya menatap wajah sang ibu yang penuh kemarahan.


'Aku seharusnya tidak melahirkanmu!! Kukira dengan darah naga kau akan kuat!! Tapi kau sama sekali tidak berguna!! Kau lebih baik mati saja!!"


Dengan badan penuh luka, seorang youkai naga kecil duduk diam dengan badan gemetar. Ketakutan memenuhi hatinya melihat kemarahan sang ibu.


Dia lemah.


Dia tidak berguna.


Dia lebih baik mati saja.


Berlari secepat yang dia bisa, seorang youkai naga kecil melihat seorang youkai tidak dikenal mengejarnya dengan pedang di tangan. Dirinya tidak perlu bertanya, dia tahu bahwa youkai tersebut adalah pembunuh yang ingin membunuhnya. Siapa yang mengirimnya?—pamannya? kakeknya?—atau; ibu kandungnya?


Terjatuh, youkai naga kecil itu berusaha bangkit, tapi saat dia sadar, pengejarnya telah berada di depannya dengan senyum di wajah.


Menutup mata, youkai naga kecil itu tahu; inilah akhirnya. Mungkin ini memang lebih baik. Jika dia mati, dia tidak perlu bertahan lagi. Di tanah utara yang gersang dan dingin ini, dirinya yang lemah tidak perlu sendirian dan dikhianati lagi—dia bisa bebas.


"Aahhhhh!!"


Suara teriakan keras pengejarnya terdengar. Kebingungan memenuhi youkai naga kecil tersebut, dan saat membuka mata, dia mendengar suara yang bertanya padanya. "Kau tidak apa-apa, nak?"


Di depannya, sosok seorang inudaiyoukai yang menebas kepala pengejarnya tersenyum menyeringai kepadanya. Ditimpah cahaya matahari senja, mata emasnya berbinar penuh kepercaya dirian—sosok yang sangat mengagumkan.


Menyarungkan pedang di tangan ke pinggangnya. Inudaiyoukai itu berjongkok ke bawah. Menatap lambang keluarga di kimono youkai naga kecil itu, sebuah kerutan kecil muncul di wajah tampannya. "Kau bukan ular, tapi kenapa kau mengenakan lambang utara—Ah, kau anak itu, ya?"


Youkai naga kecil itu tidak berani menjawab pertanyaan yang diarahkan padanya. Bagaimana sosok inudaiyoukai ini tahu dirinya?—dia yang begitu kuat pasti akan menatap hina dirinya yang lemah.


Senyum memenuhi wajah inudaiyoukai itu. Menggeleng kepala, dia kemudian tertawa keras. "Utara memang menarik. Selalu penuh penghianatan sejak dulu."


Youkai naga kecil itu tidak mengatakan apa-apa, mata putihnya masih terarah pada sosok penyelamatnya. Penghianatan?—apakah dia tahu siapa yang ingin membunuhnya?


Berdiri, inudaiyouki itu mengulurkan tangan pada youkai naga kecil itu. "Sampai kapan kau mau duduk di situ?"


Pertama kali dalam hidupnya, ada orang yang mengulurkan tangan padanya. Kebingungan memenuhi hatinya, tapi dengan segera, youkai naga kecil itu mengenggam tangan yang tersebut. Kehangatan dirasakannya saat tangan mereka bersentuhan—ini adalah pertama kali dia merasakannya.


"Oh, gengaman yang kuat," tawa Inudaiyoukai itu lagi. "Aku mengerti kenapa kau bisa menjadi salah satu calon pewaris tanah utara meski kau bukan ular—kau akan tumbuh kuat kelak."


Kuat?—apakah inudaiyoukai di depannya tidak salah? Dirinya yang bahkan tidak diinginkan ibu kandungnya karena tidak berguna ini—kuat?


Youkai naga kecil itu tetap tidak mengatakan apa-apa, tapi kedua mata putihnya tidak bisa lepas dari inudaiyoukai di depannya. Youkai pertama yang menatapnya tanpa hinaan, kehangatan pertama yang diberikan, dalam mata putihnya, di bawah limpahan cahaya matahari senja, Inu daiyoukai itu lebih terang dari pada matahari itu sendiri.


Semua berubah sejak saat itu. Youkai naga kecil itu tahu, dia telah terselamatkan. Bersama dengan inudaiyoukai itu, dunia yang dilihatnya begitu berbeda, penuh cahaya, penuh tawa dan—pertarungan.


Kuat.


Dia kuat—dalam bimbingan inudaiyoukai itu, dia bisa melihat, ternyata dirinya memang kuat seperti yang dikatakannya.


Kehangatan pertama.


Pengakuan pertama—dia ingin bersama inudaiyoukai itu selamanya.


Di tanah barat dimana inudaiyoukai itu berkuasa, dia akan bahagia. Dia ingin menjadi bagian dari tanah barat, mewarisi tanah yang begitu dibanggangkan mataharinya. Youkai naga itu ingin menjadi orang terdekat sosok itu—dia ingin menjadi; putranya.


Jika dia adalah putra inudaiyoukai itu akan betapa sempurna hidupnya. Dia tidak perlu kakek yang ingin menggunakannya sebagai catur dalam menguatkan anak dan cucu lainnya, dia juga tidak membutuhkan ibu yang tidak mengakuinya, terlebih—dia tidak butuh tanah utara yang selalu menjadi tempat dimana dia tidak diterima.


"Aku tidak mau menjadi adikmu!! Aku ingin menjadi anakmu!!" teriak youkai naga itu keras.


Mengangkat kepala ke atas menatap langit, seorang inudaiyoukai tertawa keras. "Baiklah-baiklah, bocah gila. Aku akan mempertimbangkan permintaanmu ini jika aku benar-benar tidak memiliki putra."


Harapannya.


Keinginannya.


Mimpinya.


Tanah barat—itulah rumahnya, dan inudaiyoukai itu adalah—ayahnya.


Dia akan berada di situ selamanya. Memiliki rumah, di samping inudaiyoukai itu, sebagai; anak. Selangkah demi selangkah, semua dilakukannya.Meninggalkan tanah utara, menciptakan tanah netral dan yang lainnya, menjadi kuat, diakui semua yang ada. Tapi, inudaiyoukai itu kemudian memiliki anak—Sesshoumaru.


Lalu—inudaiyoukai itu; mati.


'Kurasa daripada menjadi anakku, kau lebih cocok menjadi adikku. Kelak, mungkin akan ada kisah seorang kakak membunuh adiknya yang gila—terdengar sangat menjanjikan, bukan?'


Pembohong.


Dirinya sudah menjadi adik, dan dirinya juga sudah gila. Tapi, dimana dia?—inudaiyoukai itu sudah mati. Tidak akan ada cerita menjanjikan tentang seorang kakak yang membunuh adiknya. Pada akhirnya, dia bukanlah seorang putra dan dia juga bukan seorang—adik.


Tanah barat yang dilihatnya bukan tanah barat yang diharapkannya lagi. Tanah barat di mana Sesshoumaru memimpin tidak akan jadi rumahnya—tanah barat tanpa inudaiyoukai itu bukan tanah barat yang sesungguhnya. Jadi, tanah barat lebih baik hancur dan mati.


Hancur.


Mati.


Seperti mataharinya yang menghilang.


—semuanya juga harus menghilang.


"Hancur dan mati!!! Hancur!! Mati!!" berteriak keras. Sosok Shui mulai berubah lagi, dari punggungnya ribuan tantakel kembali muncul dan meraih Takeru dan manusia yang ada. Bedanya kali ini, dia bukan mengendalikan, melainkan mengisap daging dan juga aura kehidupan mereka.


Badan Takeru dan para manusia megering dengan kecepatan luar biasa hingga hanya menyisahkan tulang dibalut kulit, sedangkan untuk Shui, badannya mulai membesar tidak wajar. Perlahan badan tersebut memanjang dan berubah menjadi sosok asli youkainya. Namun, meski begitu mereka yang pernah melihat sosok asli youkai naga tersebut bisa melihat perbedaan yang ada. Sosok di depan mereka adalah naga,tapi juga sekaligus bukan naga. Tidak ada lagi sisik putih dan surai biru, yang ada hanyalah daging merah kasar dan pembuluh darah hitam yang mengalirkan darah.


Membuka mulut dan mendengus penuh kemarahan. Shui bergerak menyerang Sesshoumaru. Badannya yang besar melesat dengan kecepatan tinggi dengan mulut terbuka berusaha mengigit sang penguasa tanah barat.


Sesshoumaru meloncat menghindar, dia bisa melihat mata penuh kegilaan Shui yang terarah padanya. Menghunuskan bakusaiga, dia juga mulai menyerang.


Badan Shui yang besar tidak dapat menghindari serangan Sesshoumaru, tapi, youkai naga itu sendiri terlihat tidak peduli. Dia kembali menyerang tanpa rasa sakit maupun takut.


Sesshoumaru yang terbang di udara terus menghindar dan menyerang Shui dalam waktu yang bersamaan. Dia bisa melihat bahwa youkai naga itu benar-benar telah kehilangan kewarasan sepenuhnya.


Di bawah, Shura dan yang lainnya tidak bergerak menyaksikan pertarungan yang ada. Seperti sepuluh tahun yang lalu, Sesshoumaru dan Shui kembali bertarung. Namun, semua yang ada juga tahu, ini adalah pertarungan terakhir mereka.


Membuka mulut, Shui mengumpulkan youki dan menyerang Sesshoumaru. Serangan kuat tersebut melesat cepat ke arah inudaiyoukai tersebut, dan meski berhasil dihindari, kerusakan yang ada sangat luar biasa. Tanah dan pohon yang hancur dalam skala besar membuat gunung hare bergetar.


Tidak berhenti dan tidak peduli apapun, Shui terus menembakkan youki dari mulutnya membabi buta.


Sesshoumaru menurunkan pandangannya ke bawah melihat serangan-serangan Shui, dan dia merasa dirinya tidak perlu menghawatirkan Shura saat melihat Inukimi, Kenji, Kiri dan Kira telah membuat sebuah kekai melindungi mereka, bahkan, Akihiko dan Tsubasa tidak tahu kapan juga telah berada di sana.


Putranya akan aman—mereka akan melindunginya.


Lalu, mata Sesshoumaru jatuh pada tensaiga. Tensaiga yang dibuangnya dan menjadi bukti tempat peristirahatan terakhit Rin. Mau tidak mau, dia teringat dengan kenangan indah yang dirinya habiskan bersama wanita manusia tersebut di gunung ini.


Menatap sekeliling, Sesshoumaru bisa melihat bahwa gunung ini telah hancur, kerusakan, darah dan juga kematian. Tempat yang dicintai wanita itu kini tidak dikenali lagi, oleh karena itu—dia tidak bisa membiarkannya.


Menatap Shui lagi, Sesshoumaru menatap wujud menyedihkan yang telah gila itu. Jika dia tidak menghentikannya sekarang, dia tidak tahu apalagi yang akan dilakukan youkai naga tersebut.


Menghindar dan terbang ke atas langit, Sesshoumaru melesat kuat ke atas. Matanya menatap langit sore musim gugur yang tertutup awan gelap, dan dia terbang tinggi setingginya.


Shui yang melihat Sesshoumaru segera mengejar. Dengan mulut terbuka dan teriakan memekakan telinga, dia ikut terbang tinggi sambil mengumpulkan youkinya sekuat yang dia biasa.


Sesshoumaru tahu Shui mengejarnya, dan dia juga bisa merasa youkai naga itu kembali mengumpulkan youkinya. Serangan youki kali ini akan berbeda dengan serangan sebelumnya, dan dia akan menjadikannya ini serangan terakhir.


Berhenti terbang ke atas, Sesshoumaru kemudian membalikkan badannya menatap Shui. Tidak ada perubahan sedikitpun pada ekspresi wajahnya melihat serangan yang akan terarah padanya. Perlahan, Sesshoumaru mengangkat bakusaiga dan ikut mengumpulkan youkinya.


Kuat.


Lebih kuat.


Lebih banyak.


—dia mengumpulkan youki sekuat yang dia bisa sebagai seorang inudaiyoukai.


Shui kembali berteriak keras dan dari mulutnya dia menembakkan lagi serangannya yang seakan menutupi langit gunung hare.


Sesshoumaru tidak gentar, mata emasnya menatap serangan yang ada dan mengayunkan bakusaiga. "Soryuha."


Soryuha adalah serangan Sesshoumaru yang mematikan. Namun, serangan tersebut selama ini hanya diperlihatkannya saat menggunakan Tokijin, pedangnya yang telah patah, dan hari ini, sekali lagi setelah sekian lama, dia kembali menggunakannya.


Serangan youki Sesshoumaru melesat cepat ke arah serangan Shui. Perlahan, youkinya kemudian berubah menjadi seekor naga besar. Bedanya dengan serangannya dulu adalah, naga youki inudaiyoukai tersebut adalah naga petir—element penghancur terkuat yang ada.


Shura dan semua yang ada di bawah bisa melihat kedua serangan kuat yang ada. Cahaya membutakan mata serta suara ledakan memekakkan telinga terdengar saat kedua serangan tersebut bertemu. Gunung hare bergetar kuat, angin bertiup kencang—gunung tersebut terasa seakan runtuh pada detik tersebut.


Lalu—suara teriakan keras terdengar.


Saat kedua serangan youki bertemu, kemenangan akan berada dipihak mereka yang memiliki youki lebih kuat. Sepuluh tahun yang lalu, Sesshoumaru menang, dan kali ini—inudaiyoukai itu menang sekali lagi.

__ADS_1


Saat cahaya membutakan mata telah menghilang, diatas gunung hare yang kini telah diterangi sinar matahari senja karena awan hitam yang menghilang, mereka yang ada di bawah bisa melihat Shui yang berteriak kesakitan. Seluruh badannya penuh luka bakar dan darah. Namun, tidak hanya itu, efek dari serangan Sesshoumaru masih ada.


Bakusaiga, pusaka tanah barat yang berasal dari Sesshoumaru.  Pedang youkai yang memiliki keunikan dimana serangannya tidak akan berhenti walau telah mengenai sasarannya, yakni; Dekomposisi. Kemampuan untuk menguraikan materi organik dan meracuni ataupun menginfeksi musuhnya dengan kehancuran masif, serta membatalkan kekuatan regenerasi musuh, sehingga musuh tidak bisa regenerasi kembali.


Shui yang merasakan kesakitan disekejur tubuhnya kembali menoleh pandangan matanya menatap Sesshoumaru, dan di detik itu juga dia melihat sosok yang membuatnya tertegun. Dengan matahari senja di belakangnya, seoramg inudaiyoukai bergerak cepat mendekatinya. Berambut putih perak dan mata emas—sebilah pedang terhunus tinggi.


Sesshoumaru.


Shui tahu yang ada di depannya adalah Sesshoumaru. Tapi, di bawah matahari sore tersebut, dia melihat—Inu no taisho. Seperti pertemuan pertama mereka di mana inudaiyoukai itu mengulurkan tangan untuknya.


'Kurasa daripada menjadi anakku, kau lebih cocok menjadi adikku. Kelak, mungkin akan ada kisah seorang kakak membunuh adiknya yang gila—terdengar sangat menjanjikan, bukan?'


Shui tertawa saat dia teringat ucapan tersebut. Ya, dia akan menjadi adik, dia yang gila bersedia mati asal dia bisa bertemu dengan mataharinya sekali lagi. Hari ini—akhirnya mereka bertemu lagi.


"Kakak... "


Ucapan terakhir Shui terucap pelan dimana tidak ada seorangpun mendengarnya. Kesakitan yang ada kemudian menghilang, dia bisa meraskan kepalanya terputus dari badannya, tapi senyum memenuhi wajahnya. Dia akan berlari lagi, di samping inudaiyoukai itu sekali lagi seperti masa kecilnya—masa paling bahagia dalam hidupnya.


Shura dan yang lainnya melihat badan besar Shui jatuh ke bawah, dimana kemampuan dekomposisi bakusaiga menguraikannya tanpa menyisahkan apapun. Keheningan memenuhi puncak gunung hare. Namun sedetik kemudian, suara keras Jaken memenuhi udara.


"Menang!! Sesshoumaru-sama telah menang!!"


Teriakan Jaken bagaikan pembukaan, dimana suara sorak penuh kegembiraan segera menyusul kuat.


"Untuk tanah barat yang selalu jaya!!"


"Kemenangan mutlak untuk penguasa kita!! "


"Tanah barat yang jaya!!"


Tawa dan senyum dalam sorakan yang tidak terhenti, para youkai tanah barat merayakan kemenangan penguasa mereka tanpa henti. Inukimi tersenyum penuh kepuasan, begitu juga dengan Kenji, Kiri dan Kira. Inuyasha juga ikut tertawa. Dia menurunkan Shura dalam gendongannya ke bawah dan memeluk Kagome dan Shiro yang ada disampingnya. Akihiko tidak memberikn reaksi apapun, dia hanya menyarungkan pedangnya dengan wajahnya yang penuh kebosanan, sedangkan untuk Tsubasa, dia hanya tersenyum kecil.


"Hah?? Pertarungannya sudah berakhir?" Suara Miroku terdengar tiba-tiba.


Menoleh pada sumber suara, Inuyasha dan yang lainnya bisa melihat Miroku, Sango, Shippo, Kohaku dan para manusia lainnya yang masih hidup berdiri tidak jauh dari mereka, begitu juga dengan Koga dan para youkai tanah selatan.


Senyum memenuhi wajah Miroku, Sango, Shippo dan Kohaku, sedangkan untuk para manusia lainnya, mereka menatap penuh waspada para youkai di depan. Hanya Koga dan para youkai tanah selatan yang terlihat kecewa karena melewatkan pertarungan yang ada.


"Kalian terlambat Miroku!!" Balas Inuyasha tertawa menatap Miroku.


Miroku tidak membalas ucapan Inuyasha, dia hanya mengangguk kepala dan terus tersenyum. Dia tidak peduli dirinya terlambat, sebab yang penting adalah mereka selamat. Pertarungan melawan pasukan youkai yang berjumlah ribuan bukanlah sesuatu yang ingin dialaminya lagi.


Kemunculan Sesshoumaru yang tiba-tiba dan pertarungannya dengan Shui yang bisa menggetarkan seluruh gunung hare, walau tidak dapat mereka lihat langsung, tetap saja bisa mereka rasakan. Karena itulah, para youkai yang mereka lawan kemudian melarikan diri dari gunung ini,sebab mereka sepertinya menyadari keadaan yang telah berbalik.


Berjalan mendekati Inuyasha dan yang lainnya, Miroku menatap Sesshoumaru yang terbang turun dari langit. Taktiknya benar bukan? Menghidupkan Sesshoumaru akan memenangkan perperangan ini. Namanya sebagai penguasa tanah barat dan youkai terkuat bukanlah hiasan belaka, dan bagaimana inudaiyoukai itu bisa hidup dan berdiri di sana?—itu urusan belakang yang penting krisis telah lewat.


Tapi, dalam suasana penuh kemenangan yang ada, suara tangisan keras seseorang terdengar. "Ibu!!!"


Menatap sumber tangisan, Shura dan yang lainnya bisa melihat seorang pria prajurit menangis memeluk mayat seorang wanita tua. Mungkin dia mengenalinya melalui pakaian yang dikenakan, sebab mayat berupa tulang dibalut kulit tersebut sekarang sudah tidak terkenali lagi.


"Tidak!!! Istriku!!"


"Kakak!!"


"Anakku!!"


Suara tanggisan semakin banyak dan kuat. Mereka yang selamat dengan segera mencari dan menemukan anggota keluarga mereka yang tertangkap telah tiada dengan keadaaan sangat menyedihkan.


Suasana kemenangan yang dirayakan youkai tanah barat terhenti saat melihat kesedihan dan tangis kehilangan para manusia. Tidak tahu karena iba atau tidak peduli, mereka semua diam membisu menatap apa yang terjadi.


Shura hanya terus melihat, dan dia mengenali prajurit yang menangis histeris memeluk mayat seorang wanita tua itu—prajurit yang membawakan makanan kepada mereka di tempat persembunyian para manusia.


'Tapi, ibu anda, kisaki-sama—beliau menghidupkan kami semua. Beliau menyuruh kami pulang kepada keluarga kami—menyuruh kami berbahagia.'


Shura teringat ucapan prajurit tersebut. Ucapan di mana prajurit itu tertawa dan mengatakan bahwa ibundanya yang telah tiada menginginkan mereka bahagia dan pulang kepada keluarganya. Hanya saja untuk kali ini, meski prajurit itu hidup, dia sudah tidak bisa pulang karena keluarganya telah tiada.


Perang kali ini, para youkai mungkin tidak mengalami masalah besar, tapi tidak bagi para manusia. Ribuan meninggal dan menyisahkan mereka yang hidup kesedihan dan penderitaan—kebahagiaan yang menghilang.


Apakah ibundanya akan sedih dan menaruh iba jika melihat ini?—Shura tahu; ibunya pasti sedih. Beliau menginginkan semua bahagia, tidak peduli itu, youkai, hanyou maupun—manusia.


'Shura...'


Angin lembut bertiup, membawa suara penuh bisikan ditelinganya. Menoleh menatap arah datangnya angin yang bertiup, mata emas Shura tertuju pada sebilang pedang yang tertancap di atas tanah—tensaiga.


Tidak ada orang dan tidak ada suara, tapi melihat pedang itu, Shura tahu apa yang harus dilakukan. Gunung ini adalah tempat peristirahatan terakhir ibundanya tercinta, dia tidak boleh membiarkannya ternoda, dan juga—dia ingin menjaga keinginanan beliau.


Melangkah pelan, Shura mendekati tensaiga. Tidak ada seorangpun yang menyadari keberadaan inuyoukai kecil yang kini telah mencapai tempat di mana tensaiga berada karena perhatian mereka tertuju pada para manusia, kecuali—Sesshoumaru.


Dalam diam, Sesshoumaru melihat Shura mendekati tensaiga. Dengan tangan kecilnya yang penuh luka, dia melihat putranya mencabut pedang yang tetancap tersebut tanpa masalah. Lalu, dalam diam juga, dia melihat putranya berjalan mendekatinya.


Shura berhenti tepat di depan Sesshoumaru, dengan perlahan, dia menyerahkan pedang tensaiga pada ayahnya. Menatap wajah tanpa ekspresi tersebut, matanya kemudian berbinar, dia tahu, beliau pasti tahu apa maksud dia menyerahkan pedang ini sekarang. Perlahan, kedua ujung bibirnya terangkat dan membentuk senyum lebar—senyum musim semi abadi yang sama seperti senyum ibunya.


Dalam hidup Sesshoumaru, tensaiga pernah lepas dari tangannya dua kali, dan dia tidak berkeinginan sedikitpun mengambilnya kembali. Tapi, tiap kali itu terjadi, akan ada sepasang tangan kecil yang akan mengembalikan pedang tersebut padanya. Karena itu, saat pemilik tangan kecil itu menghilang dari dunia dan dia membuang tensaiga ketiga kalinya, dia percaya, pedang itu tidak akan kembali lagi padanya. Namun, hari ini, kejadian itu terjadi lagi. Pedang yang terlepas kembali padanya, diserahkan oleh sepasang tangan kecil dengan senyum musim semi yang dicintainya—putra mereka tercinta.


Ah, bagaimana dia bisa melupakan? dia selalu mencari bayangan senyum wanita manusia yang dicintainya, dalam kamar mereka, dalam lukisan yang ada—dalam kenangan yang tersisa. Tapi, kenyataannya senyum itu tidak pernah meninggalkannya. Senyum itu selalu ada disampingnya, hidup dalam peninggalan terakhir wanita yang dicintainya—dalam; Shura.


Dunia yang tidak akan ada perang lagi. Tidak ada kesedihan, tidak ada penderitaan, dunia di mana semua yang ada bisa tertawa dan bahagia—dunia yang damai.


Ucapan wanita manusia itu, dunia yang diharapkannya untuk putra mereka—dunia yang mereka berdua tahu mustahil akan ada. Tapi, jika dia sanggup menwujudkan dunia itu walau hanya dalam waktu sedetik saja, Sesshoumaru bersedia melakukannya. Tidak boleh ada kesedihan di gunung ini—di tempat peristirahatan terakhir Rin.


'Rin mencintai anda, sesshoumaru-sama...'


Cinta yang diterimanya dari Rin adalah cinta yang tidak akan ditemukannya lagi di dunia ini. Wanita itu mencintainya dengan seluruh jiwa dan raganya, dalam kebahagiaan maupun penderitaan, dalam kehidupan maupun kematian. Karena itu untuk cinta yang seperti itu—dia akan mengayunkan tensaiga.


Tensaiga di tangan Shura bersinar seakan tahu apa yang diinginkan pemiliknya, dan Sesshoumaru tanpa keraguan mengenggamnya.


Tensaiga—pedang kehidupan.


Pedang dimana sekali ayunan mampu menghidupkan ratusan makhluk hidup. Pedang yang diberikan Inu no taisho dengan harapan dia bisa belajar akan kasih di dunia ini—dan harapan inudaiyoukai itu terwujud. Sesshoumaru belajar apa itu kasih melalui kehidupan pertama yang diselamatkannya; Rin.


Cahaya tensaiga semakin kuat. Semua manusia, youkao dan hanyou yang ada menyadarinya. Namun, saat mereka menoleh menatap sumber cahaya, cahaya itu kemudian membutakan penglihatan semua yang ada, dan pada saat itu jugalah Sesshoumaru mengayunkannya—seimei no hikari.


Angin kencang berhembus, cahaya yang ada bagaikan menelan dan membungkus semua yang ada, namun, kehangatan dirasakan mereka. Lalu sedetik kemudian, itu semua menghilang bagaikan embun pagi yang menguap.


"Putraku..."


Suara panggilan kecil terdengar, dan prajurit manusia yang kehilangan ibunya sangat terkejut. Menurunkan pandangannya, dia melihat tubuh ibunya yang telah kembali seperti semula dengan mata yang terbuka—hidup.


"Kenapa kau menangis?" terangkat, tangan penuh keriput wanita tua itu menghapus air mata sang prajurit.


Sang prajurit tidak dapat menyembunyikan perasaan terkejutnya. Dia teringat cahaya barusan, mengangkat kepala dia melihat ke arah sang penguasa tanah barat dan putranya, seketika dia tertegun.


Berbahagialah...


Suara yang pernah didengarnya tergiang dalam kepala. Ingatan seorang wanita lemah yang tersenyum lembut. Dia yang meminta mereka pulang ke pelukan keluarga mereka—meminta mereka untuk bahagia.


Cahaya barusan dia tahu, itu adalah cahaya yang sama dengan hari itu sepuluh tahun yang lalu—cahaya yang menghidupkan mereka yang mati dan meminta mereka pulang. Hari ini, cahaya itu kembali hadir lagi untuk memulangkan mereka yang telah mati ke pelukan keluarga mereka tercinta.


Air mata kembali mengalir, prjurit itu berteriak keras menatap kedua inuyoukai di depan mata. "Terima kasih!! Terima kasih, Inuyoukai-sama!!! Terima kasih kisaki-sama!! Kami akan bahagia!! Kami pasti akan bahagia!!!!"


Permintaan kisaki tanah barat yang telah tiada adalah kebahagiaan. Dia akan melakukannya—mereka semua akan hidup bahagia sebagaimana yang beliau inginkan.


Senja ini, di puncak gunung hare keajaiaban terjadi, ribuan manusia yang mati hidup kembali. Tangisan kesedihan yang ada berubah menjadi tangisan kebahagiaan. Para manusia yang menyadari apa yang terjadi menoleh menatap Sesshoumaru dan Shura. Berlutut menyembah, mereka berterima kasih pada inudaiyoukai tersebut—terima kasih untuk kesempatan kedua yang diberikan.


Inuyasha dan yang lainnya berdiri mematung melihat apa yang terjadi. Mereka benar-benar tidak tahu harus memberikan reaksi apa untuk pemandangan yang mereka lihat. Tapi, sejenak kemudian mereka semua tertawa. Ya! Ini memang yang terbaik. Walau mereka tidak mengerti kenapa Sesshoumaru menghidupkan para manusia, tapi penutupan perang yang penuh dengan air mata kebahagiaan adalah penutup terbaik.


"Baiklah!!" ujar Inuyasha sambil tertawa dan menoleh menatap Inukimi. "Apakah kita akan berpesta?"


Inukimi tertawa terbahak-bahak mendengar pertanyaan tersebut. "Iya!! Kita akan berpesta tiga bulan penuh!!!!"


Tawa yang ada semakin keras, para youkai tanah barat bersorak gembira mendengar ucapan Inukimi, begitu juga dengan Jaken, Kagome, Shiro, Miroku, Sango, Shippo dan Kohaku.


Akihiko tidak mengatakan apa-apa, seakan merasa bosan dengan apa yang dia lihat, dia berjalan mendekati Koga dan pasukan tanah selatan yang berdiri tidak bergerak dari tadi. Wajahnya tanpa ekspresi. "Akhir yang sudah dapat ditebak—membosankan."


Tsubasa yang melihat Akihiko menjauh tertawa. Meski berkata seperti itu, dia tahu, youkai serigala tersebut sebenarnya menyukai akhir perang ini—dalam tawa kebahagiaan semua yang ada.


Shura melihat tawa semua yang ada, perlahan dia menoleh menatap Sesshoumaru yang juga sedang menatapnya.


"Dunia di mana semua yang ada bisa tertawa dan bahagia—dunia yang damai," ujar Sesshoumaru pelan dan menatap para manusia yang tertawa penuh suka cita. "Dunia seperti inilah yang diharapkan Rin untukmu, Shura."


Shura tertegun sejenak mendengar ucapan Sesshoumaru, tapi sejenak kemudian dia tersenyum dan mengangguk kepala. "Shura akan menwujudkan dunia itu—dunia yang diharapkan ibunda."


Sesshoumaru kembali menoleh menatap Shura begitu mendengar penyataan anaknya tersebut. Seketika ucapan Rin dulu kembali tergiang dalam kepalanya.


'Dunia damai tanpa perang bagi Shura, bik anda maupun Rin, kita tidak akan dapat memberikannya. Tapi, mungkin kelak, suatu saat nanti, setelah melalui berbagai perperangan, putra kitalah yang akan menciptakan dunia seperti itu. Dunia mustahil yang menjadi kenyataan.'


Sesshoumaru tertawa. Mengangguk kepala, penguasa tanah barat tersebut kemudian tersenyum. "Ayahanda akan menunggu dan melihatmu menciptakan dunia itu."


Ucapan Rin dan ucapan Shura, harapan Rin dan harapan Shura. Dunia mustahil yang akan menjadi kenyataan—sepuluh tahun yang lalu dan juga sekarang, Sesshoumaru percaya, putra mereka pasti akan menwujudkannya.


....xOxOx....

__ADS_1


__ADS_2