Till The End Of Time [ Inuyasha Fanfiction ]

Till The End Of Time [ Inuyasha Fanfiction ]
Chapter 127


__ADS_3

Pasukan tanah barat bergerak maju. Dipimpin Sesshoumaru dan Inuyasha, para youkai tanah barat bergerak maju. Suara tawa dan teriakan menyeramkan para youkai membahana memenuhi langit malam musim dingin.


Shui yang melihat pasukan tanah barat bergerak tidak bergerak, begitu juga dengan Akihiko, Takeru dan Asano. Namun, tidak untuk prajurit di belakang mereka. Mengangkat senjata, pasukan gabungan yang berdiam diri berlari melewati penguasa dan pemimpin mereka menyerang.


Jumlah pasukan kedua pihak sejak awal memang tidak seimbang. Tanah barat kalah jauh dari pasukan lawannya. Jumlah pasukan tanah barat hanya seperempatvdari pasukan musuh. Namun, mereka tidak gentar, dan untuk pasukan gabungan—mereka percaya jumlah mereka akan menggungguli musuh.


Inuyasha mengangkat pedang tessaiga di tangan. Mengayunkannya, dia berteriak keras. "Kaze no kizu!!"


Dari ayunan tessaiga, kekuatan penghancur yang luar biasa melesat maju menyerang para youkai di depan mata.


Tidak membuang waktu, Sesshoumaru juga ikut mengayunkan pedang di tangannya. "Bakusaiga!!"


Serangan bakusaiga dari Sesshoumaru bergerak cepat, bergabung dengan serangan kaze no kizu dari Inuyasha, aliran listrik yang sambung menyambung berputar pada serangan mematikan tersebut.


Suara ledakan luar biasa terdengar memenuhi medan perang. Tanah tempat mereka berpijak bergetar. Dampak yang luar biasa dari kedua serangan yang bergabung membuat beberapa youkai pada pasukan gabungan terhenti. Mata mereka terbelalak, sebab ratusan youkai musnah dalam satu kali ayunan.


Tessaiga dan bakusaiga.


Kedua pedang penguasa tanah barat yang begitu terkenal. Melihat kekuatan dari kedua pusaka tanah barat tersebut yang bergabung, ketakutan memenuhi sebagian prajurit dari pasukan gabungan. Tidak ada orang yang akan selamat jika mengenai serangan kedua pedang tersebut.


Lain halnya dengan pasukan gabungan, semangat dan keberanian pasukan tanah barat justru meningkat. Tidak apa jika kalah jumlah, pasukan youkai di depan yang lemah sama sekali tidak ada artinya. Kelinci selamanya adalah kelinci, tidak peduli berapa jumlahnya—mereka tidak akan selamat melawan harimau.


Serangan yang dilancarkan Sesshoumaru dan Inuyasha menjadi pembuka perang. Dalam hitungn detik, kedua pasukan beradu. Suara ledakan kembali terdengar, disertai tawa, teriakan kesakitan dan kematian yang memenuhi malam.


Di atas tanah maupun di atas langit, para youkai bertarung. Darah merah  jatuh menwarnai salju putih, mekar bagaikan mawar merah, begitu juga dengan tubuh yang hancur. Bau anyir darah tercium jelas, kehancuran berada di mana-mana—medan perang yang sesungguhnya dimulai.


Akan tetapi, dalam waktu yang singkat, ketakutan yang luar biasa memenuhi prajurit gabungan. Sejak awal, perang ini adalah perang yang berpihak kepada mereka, namun sekarang, arus perang berubah. Meski kalah jumlahnya, tanah barat terlihat lebih unggul.


Asano yang berdiri di belakang melihat pertempuran di depan kemudian menoleh wajah menatap Akihiko yang tidak berekspresi. "Tanah selatan tidak ikut?" tanyanya pelan dan tersenyum.


Dari semua prajurit gabungan tanah netral, tanah utara dan tanah timur, hanya prajurit tanah selatan yang tidak maju. Mereka semua berdiri diam menatap pertempuran di depan mata dengan wajah tanpa emosi seperti penguasa mereka.


Takeru yang juga ada di samping Shui tertawa. "Apakah kau datang sebagai penonton, Akihiko?"


Akihiko tetap tidak menjawab, kedua matanya tertuju pada Sesshoumaru dan Inuyasha yang tidak terhentikan di depan.


"Kami tidak bisa memberikan Rin padamu, jika kau bersikap seperti ini, Akihiko-san." Sela Shui sambil tersenyum lebar. "Tanah selatan sama sekali tidak melakukan apa-apa."


Tsubasa dan Koga yang mendengar ucapan Shui mengepal tangan mereka kuat. Ada kemarahan dalam hati mereka melihat sikap Asano, Takeru dan juga Shui—apakah meraka sedang memaksa dan mengancam penguasa tanah selatan?


Akihiko menutup mata mendengar ucapan Shui. Sekali lagi, wajah tersenyum seorang wanita manusia terlintas dalam pikirannya. Hari ini akhirnya tiba, dan dia benar-benar tidak bisa mundur lagi.


Membuka mata, Akihiko kemudian berlari maju sambil mencabut kazakiri no kiba. Mata biru langitnya terarah pada Sesshoumaru. Jika dia memang tidak bisa mundur, maka dia akan menyelesaikan ini semua dengan cepat. Seperti apa hari esok?—dia hanya dapat berjalan selangkah demi selangkah nantinya.


Bersamaan dengan Akihiko yang bergerak maju ke depan, semua prajurit youkai tanah selatan juga bergerak maju. Dengan senjata di tangan, mereka mengikuti sang penguasa mereka bergabung dengan pertempuran di depan.


Takeru tertawa terbahak-bahak melihat Akihiko yang berlari maju memimpin pasukan tanah selatan. "Bagus!! Aku suka gayamu, Akihiko!!"


Membuka telapak tangan kanannya, sebuah busur berwarna hitam muncul di depan Takeru. Mengenggamnya erat, dengan wajah penuh suka cita, penguasa tanah utara juga ikut berlari maju.


Asano tidak mengatakan apa-apa, tapi melihat tanah selatan dan Takeru yang telah maju, dia menoleh dan mengangguk pelan kepalanya pada Akiko.


Asano sejak awal tahu, kekuatannya dan Akiko tidak akan dapat mengungguli Sesshoumaru. Mereka akan mati jika berhadapan dengan inuyoukai tersebut, hanya Akihiko dan Shui yang mungkin dapat bertahan melawannya di medan perang ini.


Perang ini perang yang menguntungkan mereka, tapi, itu semua tidak akan ada artinya jika mereka mati. Karena itu, baik Asano maupun Akiko tahu, mereka berdua baru boleh maju jika Akihiko atau Shui maju.


Senyum lebar memenuhi wajah Akiko melihat tanda Asano. Menoleh menatap pertempuran di depan, matanya berbinar gembira dan berlari maju.


Asano tertawa melihat Akiko yang berlari maju penuh suka cita. Menoleh menatap Shui yang masih tidak bergerak, dia tersenyum. "Aku duluan, Shui."


Shui mengangguk kepala pelan dengan sulas senyum. Mata putihnya kemudian mengikuti Asano yang berlari dan bergabung dengan pertempuran yang ada.


"Anda tidak maju, Shui-sama?" suara Tsubasa yang pelan dan tenang terdengar.


"Belum," tawa Shui dan menoleh pandangannya pada Tsubasa yang berdiri tidak jauh darinya. Hanya youkai burung ini seorang saja yang tidak bergerak sedikitpun meski semua youkai tanah selatan telah maju. "Anda sendiri tidak maju, Tsubasa-san?"


Tsubasa menatap Shui dalam diam. Namun, sejenak kemudian, dia menoleh wajahnya pada Akihiko yang akan segera berhadapan dengan Sesshoumaru. "Aku tidak ingin menjadi orang bodoh."


Tsubasa tidak akan ikut dalam perang ini. Sebab, dia tidak mau menjadi bodoh lebih dari dirinya sekarang. Membantu pria yang dicintainya untuk mendapatkan wanita lain—Akihiko tidak memiliki hak untuk menyuruhnya bertarung di medan perang ini.


....xOxOx....


Miroku dan Kohaku menatap pertempuran youkai di depan dari atas benteng istana tanah barat. Meski pasukan tanah barat terlihat lebih unggul, wajah mereka tetap saja tegang. Mata mereka tidak bisa menyembunyikan perasaan tidak nyaman yang ada dalam hati.


Perang.


Bagi Miroku maupun Kohaku, perang di depan bukanlah perang pertama yang mereka lihat. Perang di depan bukanlah perang seperti di mana Sesshoumaru berdiri dan membantai semua prajurit manusia—perang di depan adalah perang besar antara youkai dan youkai. Hanya saja, hasilnya sama; mengerikan.


Mata Miroku dan Kohaku bisa melihat, di mana ada youkai beruang dari pasukan gabungan yang mengaum keras dan memutar bola besi di tangannya untuk menghancurkan kepala musuh, dan mereka juga bisa melihat seorang youkai dari tanah barat yang meloncat ke atas kepala youkai beruang tersebut, lalu—memenggal kepalanya.


Di atas langit, mereka juga bisa melihat, seekor youkai burung besar dari tanah barat mengepakkan sayapnya, lalu menukik ke bawah. Menggunakan kaki cakar besarnya, dia mengangkat beberapa tubuh lawannya—mengenggamnya erat hingga terputus dan hancur.


Api berkorbar di mana-mana, membuat malam gelap menjadi terang—api yang disemburkan seekor youkai naga untuk membakar musuh yang datang menyerangnya.


Suara teriakan tidak terhentikan, begitu juga dengan suara tawa. Teriakan sebelum kematian menjemput dan tawa saat berhasil membunuh lawan—tidak ada seorangpun yang berhenti.


Hukum rimba di mana yang kuat hidup dan yang lemah mati terpampang jelas di depan mata. Youkai yang kuat menggila. Tidak peduli meski mereka terluka, mereka akan tetap maju mengangkat senjata untuk membunuh lawan. Semakin banyak mereka membunuh, semakin gembira mereka, tidak ada sedikit rasa simpati maupun kasihan dari mereka kepada musuh yang mati di tangan.


Bagi youkai yang lebih lemah, mereka hanya dapat bertahan. Melarikan diri sudah tidak memungkinkan lagi, sebab, tidak ada lagi jalan keluar dalam kekacauan yang ada—kematianlah satu-satu jalan yang ada.


Dentingan senjata dan senjata yang beradu. Pedang angin yang menebas kepala, tombak dan jarum es yang melubangi badan, racun yang mematikan, api yang membumi hanguskan, petir yang menyambar, tanah yang hancur tidak terkendalikan—salju putih yang menjadi merah; merah darah.


Seperti musim gugur lalu, genangan darah kembali tercipta di depan istana tanah barat, begitu juga dengan tubuh-tubuh hancur tidak bernyawa, hanya saja, kali ini bukanlah manusia, melainkan; youkai.


Kengerian di depan adalah kengerian yang sama, kematian yang sama—neraka yang sama.


"Maju!! Musnahkan saja semua musuh yang berani datang!!"


Suara teriakan penuh semangat dari samping Miroku dan Kohaku membuat mereka berdua menatap sumber suara, yang tidak lain adalah; Jaken.


Berdiri sambil mengangkat tongkat di tangannya tinggi-tinggi, youkai katak itu tertawa bahagia. "Mereka kira mereka siapa?? Beraninya menyerang istana tanah barat!! Mati!! Matilah kalian semua!!"


Miroku dan Kohaku tidak tahu harus mengatakan apa melihat Jeken. Diam membisu, mereka berdua tidak merasa aneh sedikitpun melihat youkai katak tersebut tidak berada di medan perang—Jaken akan menjadi korban pertama dari tanah barat jika berada di sana.


"Ah!!! Sesshoumaru-sama!! Hati-hati!!!"


Teriakan ketakutan Jaken dengan segera membuat Miroku dan Kohaku menolehkan mata kembali ke medan perang. Mata mereka terbelalak saat melihat Akihiko yang melesat cepat ke arah Sesshoumaru dan Inuyasha.


....xOxOx....


Sesshoumaru bisa merasakan aura Akihiko yang mendekat, begitu juga dengan Inuyasha. Menoleh mata emasnya kepada keberadaan penguasa tanah selatan, Sesshoumaru melihat youkai serigala itu meloncat dan mengarahkan pedang kepadanya.


Mengangkat bakusaiga di tangan, Sesshoumaru menahan serangan Akihiko. Tanah salju tempatnya berdiri langsung hancur karena tekanan dari kedua pedang yang beradu.


Mata biru langit Akihiko menatap Sesshoumaru, wajahnya datar tanpa emosi. Menguatkan gengaman pada kazakiri no kiba, penguasa tanah selatan berusaha menekan inuyoukai di depannya ke bawah. "Menyerahlah, Sesshoumaru."


Sesshoumaru menatap sinis Akihiko mendengar ucapan youkai serigala tersebut. Menyerah?—sungguh, penguasa tanah selatan adalah pria yang naif. Tidak ada kata menyerah dalam hidup Sesshoumaru.


Inuyasha yang melihat Akihiko berusaha menekan Sesshoumaru berlari mendekati kedua penguasa tersebut. Mengangkat pedang tessaiga, dia mengarahkannya pada youkai serigala tersebut. Namun, tendangan kaki seseorang pada pedang tessaiga tiba-tiba menghentikannya.


Terkejut, Inuyasha meloncat menjauh. Saat mendarat dan melihat siapa pelakunya, kemarahan memenuhi hatinya. "Minggir kau serigala kurus!!!"


Koga berdiri di depan Inuyasha. Kedua matanya menatap lurus inuhanyou tersebut dengan ekspresi wajah tidak terjelaskan, sebab dia sesungguhnya sama sekali tidak mau terseret dalam perang ini. Tapi, sebagai bawahan, dirinya tidak bisa mengabaikan perintah dan membiarkan Akihiko, penguasa tanah selatan begitu saja.


Melihat Koga yang tidak bergerak, Inuyasha kembali berlari ke arah Sesshoumaru dan Akihiko. Namun, sekali lagi, youkai serigala itu menahannya. Kekesalan luar biasa memenuhi hati Inuyasha. "Apa maumu, serigala kurus!!!??"


Koga tetap tidak menjawab. Dirinya benar-benar tidak tahu harus menjawab apa, dia merasa apa yang dilakukannya sekarang serba salah. Menghentikan Inuyasha ataupun membantu Akihiko—tidak ada yang benar.


Dalam kemarahan Inuyasha dan juga kebingungan Koga, tepat di atas Sesshoumaru dan Akihiko, sebuah gerbang dimensi tiba-tiba terbuka. Dari dalam gerbang dimensi hitam tersebut, berpuluh-puluh anak panah youki jatuh turun mengincar mereka.


Inuyasha dan Koga yang berada tidak jauh dari Sesshoumaru dan Akihiko segera menyadari serangan mendadak tersebut. Tidak dapat menyembunyikan perasaan terkejut dalam hati, mata mereka terbelalak.


"Sesshoumaru!!"


"Akihiko-sama!!!"


Sesshoumaru dan juga Akihiko menyadari anak panah youki yang meluncur turun dari atas mereka. Menggerakkan kaki mereka, secara bersamaan kedua penguasa tersebut meloncat ke belakang menghindar.


Anak panah tersebut dengan cepat menancap di atas tanah, dan menghancurkannya. Luka berat akan diterima Sesshoumaru maupun Akihiko jika mereka terlambat menghindar sedetik saja.


Mendarat di atas tanah, mata Sesshoumaru dan Akihiko kemudian terarah pada sumber aura sang penyerang. Gerbang dimensi dan panah youki, itu adalah serangan andalan dari Tekeru, sang penguasa tanah utara.


"Ah—" senyum Takeru. Kedua mata hijaunya berbinar gembira menatap Akihiko. "Aku tahu kau pasti bisa menghindar, Akihiko."


Akihiko tidak memberikan reaksi sedikitpun pada Takeru.


"Kau!!!!" teriak Koga penuh kemarahan. Kedua matanya menatap tajam Takeru.


"Sesshoumaru!!" panggil Inuyasha keras. Inuhanyou itu berlari ke arah Takeru sambil mengayunkan tessaiga. "Serahkan, ular itu padaku!!!"


Inuyasha ingat jelas wajah Takeru, sang penguasa tanah utara. Inuhanyou itu sebenarnya sampai sekarang masih belum melupakan apa yang terjadi tahun lalu pada perang barat-selatan, yakni; Takeru yang berusaha membunuh Shiro, Aya, Maya, Mamoru dan juga—Rin.


Sesshoumaru tidak membalas Inuyasha. Namun, inuhanyou jelas tahu, kakak seayahnya tersebut mengerti maksudnya, sebab inuyoukai tersebut kini telah berlari dengan bakusaiga di tangan ke arah Akihiko. Dia tidak menatap Takeru sedikitpun, tanda bahwa dia menyerahkan penguasa tanah utara itu pada Inuyasha.

__ADS_1


Takeru segera menarik busur dan membidik Inuyasha saat melihat inuhanyou itu berlari memdekat. Namun, dengan sigap juga, Inuyasha menggerakkan pedangn untuk menangkis panah youki yang meluncur ke arahnya.


"Berengsek!! Lawan aku dengan benar!!!" teriak Inuyasha penuh kemarahan. Mempercepat larinya, dia melompat ke atas sambil mengayunkn pedannya pada Takeru yang segera menghindar.


Di lain pihak, Akihiko juga bergerak maju. Mengangkat kazakiri no kiba, dia beradu pedang sekali lagi dengan Sesshoumaru. Tidak peduli dengan sekeliling, kedua penguasa tersebut kembali bertarung dengan kekuatan mereka yang menghancurkan.


Koga berdiri sendirian melihat semua yang terjadi. Dia tidak tahu harus berbuat apa, dia tidak ingin melawan Sesshoumaru maupun Inuyasha, tapi dia juga tidak bisa mengabaikan perintah Akihiko, lalu untuk Tekeru—dia tidak tahu apa dia boleh menyerang youkai ular tersebut, sebab mereka boleh dikatakan adalah sekutu sekarang.


Perasaan tidak berdaya dan frustasi memenuhi Koga. Mengangkat kepala ke atas dan menutup mata, dia berteriak keras. "Sialan!! Sialan!! Berengsek!! Berengsek!!"


Membuka mata, Koga kemudian berlari ke arah lain meninggalkan Sesshoumaru, Akihiko, Inuyasha dan Takeru. Youkai serigala itu berlari ke kerumunan youkai lainnya yang sedang bertarung. Dari bertarung melawan Sesshoumaru, Inuyasha ataupun Akihiko sekarang, lebih baik baginya bertarung dengan youkai tanah barat yang tidak dikenalnya.


Di belakang Sesshoumaru, Inuyasha, Akihiko dan Takeru yang sedang bertarung, Asano dan Akiko berlari mendekat. Mereka berdua langsung menargetkan Sesshoumaru sebagai lawan begitu melihat inuyoukai itu melawan sang penguasa tanah selatan.


Asano tidak percaya diri melawan Sesshoumaru meskipun dibantu Akiko, tapi jika ada Akihiko, cerita akan berbeda. Terlebih lagu, dia tahu, jika Sesshoumaru selaku pemimpin tertinggi pasukan tanah barat mati, perang akan dimenangkan pihak mereka.


Mengangkat tangan kanannya, sebuah tombak berwarna emas muncul di tangan Asano. Matanya berbinar gembira membayangkan tombaknya akan dapat menusuk inuyoukai penguasa tanah barat yang selalu sombong dan menganggap rendah dirinya.


Begitu juga dengan Akiko, menarik kain selendang berwarna emas di pinggang, kain itu memanjang luar di tangannya. Bergerak cepat dan mematikan, kain selendang tersebut melesat mengincar Sesshoumaru.


Namun, baru beberapa meter selendang Akiko bergerak, sebuah tombak berwarna putih melesat cepat menghentikan. Dengan kekuatan yang luar biasa, tombak itu menancap kain selendang itu ke atas tanah salju.


Suara tawa keras terdengar. Menatap tombak yang menghentikan serangannya, mata Akiko melihat seorang inuyoukai wanita berambut pendek meloncat turun dari atas langit—Kiri.


"Aku lawanmu, rubah." ujar Kiri pelan. Senyum menyeringai memenuhi wajah cantiknya, mata emasnya berkilau bahagia seakan menemukan mainannya yang hilang.


Asano yang berada di belakang cukup terkejut dengan kemunculan Kiri yang tiba-tiba, dan belum sadar dari rasa terkejutnya, aura seorang youkai melesat dengan kecepatan luar biasa ke sampingnya—menyerang.


Asano segera menggerakkan tombaknya untuk menahan serangan lawan yang berupa dua pedang pendek. Perasaan terkejut segera berubah menjadi kemarahan melihat sosok seorang inuyoukai tersenyum menyeringai ke arahnya.


"Kenapa anda marah, Asano-san?" tanya inuyoukai itu yang tidak lain adalah Kira. Mata emasnya berbinar penuh kegilaan menatap musuh di depan. "Bukankah anda paling menyukai serangan seperti ini? Tiba-tiba, terselubung dan—pengecut."


....xOxOx....


Nama no naka


Kaze no naka


Yume no naka


Jauh dari medan pertempuran, di dalam paviliun utara istana tanah barat, Kagome, Sango dan Inukimi duduk dalam diam, dengan Rin yang duduk di atas futon sambil bernyanyi pelan.


Berada dalam kekai yang melindungi kamar, mereka tidak mendengarkan sedikitpun suara keributan di luar. Di dalam kamar, malam ini tidak ada bedanya dengan malam lainnya yang tenang dan damai.


Menghela napas, mata Kagome dan Sango kemudian terarah pada Rin yang menatap keluar pada langit malam melalui jendela. Kedua tangannya tidak henti-hentinya mengelus perut besarnya, sedangkan mulutnya terus menyanyikan lagu masa kecilnya menunggu Sesshoumaru.


Perlahan, mata Kagome dan Sango kemudian jatuh pada pedang kecil dengan gagang berwarna emas di samping futon Rin. Ada kegetiran di mata mereka melihat pedang tersebut. Pedang itu adalah pedang hadiah dari Kiri dan Kira pada ulang tahun kisaki tanah barat tahun lalu—pedang yang terbuat dari taring si kembar tanah barat yang terkenal. Kenapa pedang itu ada di sana, mereka berdua tidak mengerti. Rin mengeluarkan pedang itu dan meletakkannya di samping, apakah itu untuk melindungi diri jika hasil perang ini tidak sesuai dengan harapan mereka?—atau sebaliknya, mengakhiri hidupnya jika Sesshoumaru tiada.


Sesshoumaru-sama doko ni iru


Jakken-sama wo shita naete


Rin tidak mempedulikan pandangan mata Kagome dan Sango yang terarah pada pedang kecil di sampingnya. Dia mengerti, keberadaan pedang kecil itu pasti telah membuat kedua wanita manusia itu khawatir. Namun, sesungguhnya dia meletakkan pedang itu di sampingnya tanpa maksud buruk.


Perang yang berlansumg di luar istana adalah perang yang terjadi karenanya, dan dalam perang tersebut, akan ada banyak yang akan gugur. Rin tidak bisa melakukan apapun, dia tidak bisa mengikuti perang tersebut dan hanya bisa menunggu sambil bernyanyi dalam kamar.


Rin tidak menyukai ketidak berdayaannya, karena itu dia melakukan sebisa mungkin ingin melakukan apa yang bisa dilakukannya walau terkesan bodoh. Meletakkan pedang kecil di sampingnya, dia berpikir bahwa dirinya juga berada dalam medan perang—bersama seluruh tanah barat, menggunakan pedang kecil tersebut untuk melindungi kehormatan tanah barat; melindungi Shura.


Watashi wa hitori de machimashou


Shura wa hitori de machimashou


Inukimi duduk diam menatap Rin. Ada rasa bangga dan puas dalam hati melihat ketenangan menantu sekaligus putri angkatnya. Semakin lama, wanita manusia itu semakin sempurna menyandang gelarnya sebagai kisaki tanah barat. Ketenangan, keberanian dan kehormatan—Rin memiliki itu semua. 


Apa hal baik yang dilakukan Sesshoumaru sehingga bisa memiliki Rin?—menghidupkan Rin pada kematian pertamanya saat kecil? Apapun juga, Inukimi hanya dapat berpikir bahwa putra kandungnya benar-benar sangat beruntung bisa mendapatkan cinta tulus dari wanita manusia ini.


Rin adalah satu-satunya wanita yang bisa membuat Sesshoumaru bertekuk lutut, satu-satunya wanita yang dicintai inuyoukai penguasa tanah barat yang besar. Sebagai ibu, Inukimi sadar, betapa penting keberadaan wanita manusia ini bagi putranya.


Perang telah berkecamuk di depan, tapi Inukimi tetap berada di dalam istana. Sebenarnya, mantan penguasa tanah barat ingin ikut berpartisipasi dengan perang tersebut. Namun, Sesshoumaru secara langsung memintanya menemani dan menjaga Rin.


Sesshoumaru yang tidak pernah meminta bantuannya selama ratusan tahun hidupnya, meminta dia untuk menjaga istri dan anaknya. Bagaimana Inukimi bisa menolaknya?


Pada perang yang berlansung, Sesshoumaru maju dengan keyakinan penuh dia akan menang dan pulang kepada Rin dan Shura. Tapi, sesungguhnya, Inukimi tahu, ada keraguan dalam hati putra kandungnya tersebut. Bagaimana kalau barat kalah? Bagaimana kalau Sesshoumaru mati?—karena itulah dia ada di sini.


Inukimi adalah pelindung untuk Rin dan Shura jika terjadi sesuatu pada Sesshoumaru. Pelindung agar hidup Rin dan Shura akan baik-baik saja meskipun tanpa—Sesshoumaru.


Inu No Taisho dan Izayoi.


Inukimi hanya berpikir bahwa hidup Sesshoumaru dan Rin walau berbeda, tapi tetap saja luar biasa mirip dengan mereka berdua. Cinta yang begitu dalam dan tulus, cinta yang begitu indah—Inukimi sungguh berharap dia akan menjadi pelindung yang tidak diperlukan, karena Sesshoumaru akan selalu ada untuk Rin dan Shura.


Sesshoumaru-sama omodori wo


Inukimi menutup matanya, seperti lagu yang dinyanyikan Rin tanpa henti. Dia juga berharap Sesshoumaru cepat pulang dan berkumpul dengan keluarganya.


....xOxOx....


Inuyasha mulai merasa kesal. Dari semua musuh yang dilawannya, dia paling tidak menyukai musuh yang lebih memilih pertarungan jarak jauh. Takeru yang dilawannya dari tadi, jelas mengetahui keuntungan dan kelebihan yang dimilikinya, karena itu, dia tetap berusaha menjaga jarak dengan inuhanyou itu dan terus menyerang menggunakan anak panah youki.


"Berengsek!! Hadapi aku dengan benar!!" teriak Inuyasha kesal sambil menahan panah youki yang terarah padanya dengan tessaiga.


Takeru tertawa mendengar ucapan Inuyasha. "Ini memang gaya seranganku, Inuyasha. Kau tidak mungkin meminta seorang pemanah bertarung jarak dekat dengan seorang alih pedang, kan?"


Pengecut. Itu satu-satunya kata yang terlintas dalam pikiran Inuyasha mendengar ucapan Takeru. Meski dia adalah seorang penguasa, dia tidak lebih dari orang licik tanpa sifat kastria.


Masih terus menahan ataupun memukur mundur anak panah yang terarah padanya, kesabaran Inuyasha yang memang sedikit dari awal akhirnya habis. Mengeratkan gengamannya pada tessaiga, dia kemudian meloncat ke atas.


Takeru yang melihat perubahan dari gerakan Inuyasha yang meloncat ke atas langit, juga segera membidik inuhanyou tersebut dengan lim anak panah youkinya.


Inuyasha sendiri juga sudah mempredeksi serangan Takeru dan dia sudah menunggunya. Berteriak keras, inuhanyou itu kemudian mengayunkan pedangnya. "Bakuryuha!!!"


Mata Takeru terbelalak nelihat serangan bakuryuha Inuyasha yang melesat cepat ke arahnya. Panah youki yang dilepaskannya telah lenyap tidak tersisa saat mengenai serangan mematikan di depan.


Meloncat ke samping, Takeru berusaha menghindar. Tapi, saat dia berhasil menghindar, Inuyasha telah berada di depannya. Kecepatan gerakkan inuhanyou itu mengejutkannya, sebab kecepatannya memang setara dengan kecepatan seorang inuyoukai sejati.


Tersenyum menyeringai, Inuyasha kembali mengayunkan pedang tessaiga, mengincar kepala Takeru. "Jangan mencoba menganggu keluargaku, berengsek!!"


Takeru segera mengangkat busurnya menahan serangan Inuyasha. Menguatkan injakkan kaki ke bawah, penguasa tanah utara berusaha menahan tekanan dan kekuatan luar biasa yang terarah padanya.


Ada sedikit kepanikan dalam hati Takeru. Inuyasha, putra Inu No Taisho dari wanita manusia, inuhanyou saudara seayah Sesshoumaru—dia adalah hanyou yang terkenal sangat kuat. Namun, sang penguasa tanah utara tidak pernah mengira dia sekuat ini.


Di sisi lain, Asano yang melawan Kiri juga tidak bisa berbuat banyak. Melawan pengawal pribadi sang penguasa tanah barat, dia memang tidak terdesak seperti halnya Takeru. Bahkan, sesungguhnya, dia masih dapat dikatakan lebih unggul, hanya saja, dia juga tidak bisa lengah. Sebab, jika dia lengah sedikit saja—nyawanya tidak akan tertahankan.


Berbeda dengan Inuyasha, Kira yang memang memiliki kecepatan yang luar biasa, terus berusaha memperpendek jarak dan menyerang Asano. Dengan kedua pedang pendeknya, dia terus menyerang, tidak peduli badannya terluka karena tombak penguasa tanah timur.


Kedua mata emas Kira berbinar penuh kegilaan menatap Asano. Dia tahu, kemungkinan dirinya mengalahkan penguasa tanah timur tidaklah tinggi, tapi, dia juga tidak akan kalah begitu saja. Asano dan Akiko yang berencana menyerang Sesshoumaru yang melawan Akihiko—dia dan Kiri tidak mungkin membiarkan mereka begitu saja.


Menggerakkan tombaknya yang bergerak bagaikan benda cair, Asano kemudian menyerang Kira. Dia tidak boleh membuang waktu lebih banyak lagi menghadapi inuyoukai ini.


Kira yang menyadari perubahan pada tombak Asano segera meloncat ke belakang menghindar. Menggerakkan kedua pedang di tangan, dia menahan serangan yang terarah dengan cepat kepadanya.


Mendarat di atas tanah, serangan Asano memang tidak mengenai tubuh Kira secara langsung, namun, luka yang diterima tetap ada. Darah merah mengalir keluar dari mulut inuyoukai tersebut.


Asano tersenyum melihat Kira yang masih berdiri dan tersenyum dengan mata emas penuh kegilaan menatapnya. Tetap tidak ada ketakutan dan kegetiran dalam sepasang mata tersebut. "Barat memang selalu penuh dengan bakat luar biasa."


Youkai tanah barat memang selalu kuat, apalagi jika youkai tersebut adalah inuyoukai. Karena itulah, tanah barat sangat berbahaya. Jika Asano tidak bisa mendapatkan keuntungan dari tanah barat, maka lebih baik tanah barat yang bisa setiap saat menghancurkannya musnah.


Kira tertawa, mengengam erat kedua pedang pendeknya, dia kembali melesat maju ke arah Asano dengan kecepatan yang terus meningkat.


Beda dengan pertarungan Inuyasha dan Takeru, di mana Inuyasha bisa mendesak Takeru, ataupun pertarungan Kira dan Asano, di mana Asano tidak bisa lengah walaupun lebih unggul. Pertarungan Kiri dan Akiko adalah pertarungan yang terlihat berat sebelah—pertarungan dimana kekalahan berada dipihak Akiko.


Akiko bukanlah lawan Kiri. Baik dari segi kecepatan maupun kekuatan, hime dari timur tidak berkutik di hadapan pengawal pribadi kisaki tanah barat.


Selendang emas senjata Akiko telah tercabik-cabik oleh tombak Kira. Luka juga telah memenuhi wajah dan badan youkai rubah tersebut. Kedua mata birunya menatap horor inuyoukai di depannya.


Bersama dengan Kira saudara kembarnya, Kiri adalah inuyoukai yang sangat terkenal di tanah barat. Namun, Akiko tidak pernah menyangka akan sekuat ini.


"Ini sajakah kekuatanmu, rubah?" tanya Kiri pelan. Mata emasnya menatap rendah Akiko yang tidak berdaya di depan. Seulas senyum menyeringai kemudian memenuhi wajah cantiknya. "Meski kau adalah hime dari tanah timur, calon penguasa tanah timur, kau ini—lemah sekali."


Kemarahan memenuhi hati Akiko mendengar hinaan Kiri. Mata biru langitnya berubah menjadi merah darah, dan asap berwarna merah memenuhi badannya. Sedetik kemudian, sosok hime dari tanah barat telah berubah menjadi seekor rubah besar berekor sembilan.


Kiri tidak memperlihatkan sedikitpun perubahan ekspresi melihat wujud asli Akiko yang besar. Malahan senyum di wajahnya melebar. "Rubah berekor sembilan, ya?"


Akiko tidak membuang waktunya. Menggerakkan kesembilan ekor besarnya bagaikan senjata, dia menyerang Kiri.


Kiri segera menggerakkan tombak di tangan menahan kesembilan ekor Akiko. Terdorong ke belakang, dia menguatkan pijakannya.


Dua dari sembilan ekor Akiko kembali bergerak. Naik ke atas, kedua ekor tersebut kembali menyerang Kiri. Namun, Kiri yang menyadarinya segera meloncat ke belakang.


Dua ekor Akiko menancap di atas tanah, melubangi dan menghancurkannya. Tidak ingin memberikan kesempatan sedikitpun pada Kiri, hime dari tanah barat kembali menggerakkan seluruh ekornya menyerang dengan cepat.


Kiri yang mendarat di atas tanah segera menggerakkan tombaknya. Memutarnya dengan kecapatan yang luar biasa, dia menciptakan angin yang berkerja bagaikan kekai untuk melindungi dirinya.


Kemarahan Akiko semakin memuncak, membuka mulutnya, dia mengumpulkan youkinya berniat melancarkan serangan kuat kepada lawan.

__ADS_1


Hanya saja, belum sempat Akiko melakukan itu, sosok Kiri yang ada di depan menghilang. Saat dia menyadari keberadaan inuyoukai itu lagi, lawannya telah berada di samping dengan tombaknya yang terangkat tinggi.


"Rubah berekor sembilan, aku sudah pernah melihatnya," ujar Kiri tersenyum lebar. "Karena itu aku penasaran, bagaimana dengan wujud dari rubah berekor delapan."


Kesakitan luar biasa adalah apa yang dirasakan Akiko saat dia selesai mendengar ucapan Kiri, sebab dengan kekuatannya yang luar biasa, inuyoukai itu telah menggunakan tombaknya untuk memotong putus salah satu ekornya.


"Ahhhhhhhh!!!!"


Teriakan keras dan ekspresi kesakitan memenuhi wajah rubah Akiko, membuat Asano yang sedang melawan Kira terkejut. Mendorong lawannya ke belakang, dengan segera dia berlari menyerang Kiri untuk menyelamatkan putrinya.


Kiri dengan senyum puasnya segera meloncat menjauh dari Asano dan Akiko. Mendarat di samping saudara kembarnya, mata emasnya menatap ketidak berdayaan rubah berekor sembilan yang kini berekor delapan penuh tawa.


"Kurang ajar!! Kurang ajar!! Beraninya kalian!!!" teriak Asano penuh kemarahan. Matanya berubah menjadi merah darah melihat putrinya yang terluka parah.


Baik Kiri maupun Kira segera memasang kuda-kuda siap menyerang melihat ekspresi kemarahan Asano.


Menggerakkan tombaknya, Asano melesat maju dengan kecepatan luar biasa. Kiri dan Kira juga tidak membuang waktu, mengangkat senjata di tangan, mereka juga bergerak maju menyerang. Satu mungkin kesulitan, tapi jika dua—kedua saudara kembar inuyoukai dari tanah barat yakin bisa mengalahkan Asano.


Tidak jauh dari keributan dan pertarungan antara Kiri, Kira dan Asano, Sesshoumaru dan Akihiko masih bertarung. Wajah kedua penguasa tersebut datar tanpa ekspresi, namun, serangan dan kehancuran yang dihasilkan membuat tidak ada seorangpun yang berani mendekat.


Sesshoumaru dan Akihiko sering bertarung. Di mulai dari tahun lalu saat perang barat-selatan hingga sekarang, terhitung sudah lebih dari tiga kali mereka bertarung seperti ini. Karena itu, baik penguasa tanah barat dan selatan tahu kelebihan dan kekurangan lawan.


Jika Akihiko menyerang, Sesshoumaru akan menangkis dan menyerang balik, begitu juga dengan sebaliknya. Tidak ada celah sedikitpun dalam pertarungan mereka yang mematikan.


Suara bakusaiga dan kazakiri no kiba yang terus beradu menghasilkan suara yang mengerikan dan kehancuran. Namun, dari pertarungan tersebut tetap tidak memperlihatkan sedikitpun kemungkinan siapa yang akan menang, begitu juga dengan kedua pasukan yang beradu.


Bergabungnya pasukan tanah selatan dalam medan perperangan secara otomatis sebenarnya membuat pasukan tanah barat mulai kesulitan. Serangan demi serangan kedua pasukan yang beradu mulai berimbang—tanah barat tidak lagi berada diposisi yang menguntungkan. Bahkan beberapa youkai tanah barat telah tewas di tangan musuh.


"Menyerahlah, Sesshoumaru," ujar Akihiko datar. Beradu pedang, mata biru langitnya menatap lurus inuyoukai di depannya. "Meskipun kau tidak bisa bersama Rin lagi dan kehilangan anak kalian, tetaplah hidup—demi Rin."


"Sesshoumaru ini tidak akan menyerah." balas Sesshoumaru. Ucapan Akihiko yang lucu; menyerah dan hidup tanpa Rin serta Shura?—bagi Sesshoumaru, itu bukanlah hidup lagi. Dia akan lebih gembira mati daripada menghadapi dunia tanpa mereka berdua.


"Kau tidak akan menang, Sesshoumaru." Mendorong Sesshoumaru ke belakang, Akihiko meloncat ke atas. Dia tidak ingin memperpanjang pertarungan seperti ini lebih lama lagi. Menggerakkan pedang dan mengumpulkan seluruh youki yang ada, dia melancarkan jurus pemungkasnya. "Sen fu ryu!!"


Sen fu ryu atau seribu naga angin adalah serangan terkuat Akihiko, dan saat serangan itu dilancarkan, seribu naga angin besar yang terbentuk dari youki sang penguasa tanah selatan bergerak liar dan mengaum keras memecahkan langit malam.


Tekanan dan juga aura youki yang terpancar dari serangan Akihiko membuat semua yang sedang bertarung berhenti. Menatap tidak percaya serangan mematikan tersebut, ketakutan seketika memenuhi semua prajurit tanah barat saat melihat serangan tersebut terarah pada Sesshoumaru.


"Sesshoumaru!!"


"Sesshoumaru-sama!!"


Suara yang berteriak memanggil namanya terdengar. Suara itu diteriakkan dengan kencang, tapi Sesshoumaru tidak menyadarinya, sebab pandangan matanya kini terpusat pada serangan Akihiko yang tiba-tiba.


Semua berjalan lambat dalam mata emas Sesshounaru. Dia tahu, sudah terlambat baginya untuk menghindar seribu naga angin yang terbang dengan liar dan ganas ke arahnya. Serangan ini adalah serangan yang sangat kuat dan juga mencangkup  luas area serangan. Meski dia meloncat ke belakang, semua akan sia-sia—serangan akan tetap mengenainya.


Apakah dia akan mati dalam serangan ini?—atau, apakah dia akan terluka parah dan kalah dalam perang ini? Pertanyaan-pertanyaan tersebut melintas dalam pikiran Sesshoumaru.


Sesshoumaru-sama.


Wajah Rin yang tersenyum bahagia dan mengelus penuh kasih sayang Shura yang masih ada dalam rahimnya melintas dalam pikiran Sesshoumaru.


Tidak!


Sesshoumaru menyakinkam dirinya sendiri—dia tidak akan mati; tidak akan kalah. Dirinya sudah berjanji pada Rin, dia akan pulang dan memenangkan perang ini.


Apakah kau memiliki orang yang ingin kau lindungi?


Pertanyaan terakhir Inu No Taisho kembali terlintas dalam kepala Sesshoumaru.


Ada! Dia memiliki orang yang ingin dia lindungi sekarang. Melebihi segalanya—Sesshoumaru ingin melindungi Rin dan Shura, istri dan putranya; keluarganya.


Kekuatan.


Sebelum mengenal Rin, Sesshoumaru hanya menginginkan kekuatan, karena dia ingin melebihi ayah kandungnya yang begitu dia hormati. Lalu, setelah mengenal Rin, dia juga tetap menginginkan kekuatan, karena dengan begitu, dia bisa melindungi wanita manusia itu, dan sekarang—setelah memiliki Rin dan Shura, dia ingin menjadi semakin kuat dan kuat—kuat hingga tidak terkalahkan, sebab dengan begitulah keluarga mereka baru bisa bersama dan bahagia.


Karena itu, Sesshoumaru-sama—anda harus pulang untuk Rin. Tidak apa walau anda terluka, tapi pulanglah kepada Rin dan Shura.


Sesshoumaru sudah berjanji dan dia akan menepatinya. Dia akan pulang, walau terluka, dia akan tetap hidup dan pulang kepada Rin dan Shura—tidak akan ada seorangpun di dunia ini yang dapat menghentikannya!!


Mengertakan giginya kuat, Sesshoumaru kembali mengangkat bakusaiga di tangan. Tidak peduli dengan apapun yang ada dihadapannya, dia berlari dan meloncat ke atas—ke arah serangan yang datang.


"Bakusaiga!!!!"


Aliran listrik sambung menyambung muncul dari pedang bakusaiga di tangan Sesshoumaru, sangat menyilaukan sehingga mata semua yang ada di bawah tertutup.


Suara ledakan yang luar biasa keras kembali memecahkan langit, sangat kuat hingga beberapa youkai menutup telinga mereka. Angin kuat bertiup kencang, tanah salju penuh darah di bawah bergetar hebat dan hancur karena tekanan dari kedua serangan yang beradu.


Membuka mata, pandangan semua yang ada terarah ke atas langit. Asap hitam yang luar biasa tebal mengepul, semua orang menahan napas, tidak tahu apa yang terjadi.


Akihiko menatap tidak percaya gumpalan asap hitam di depan. Sesshoumaru yang meloncat ke arahnya melawan serangan sen fu ryu tidak dipredeksinya. Apakah inuyoukai itu sudah tidak ingin hidup? Namun, belum sadar dari perasaan terkejutnya. Dari gumpalan asap tebal di depan, sosok Sesshoumaru melesat keluar ke arahnya dengan kecepatan luar biasa.


Seluruh badan Sesshoumaru penuh luka, baju jirahnya hancur. Bekas sayatan di wajah dan badannya penuh dengan darah. Tapi, wajahnya tetap tanpa ekspresi dengan kedua mata emas yang bersinar cemerlang—dia tidak terlihat mengalami luka yang membahayakan nyawanya.


Akihiko yang tertegun, tidak bergerak. Dia menatap tidak percaya Sesshoumaru yang masih hidup dan dapat bergerak meski telah menerima serangan terkuatnya.


Mengangkat bakusaiga, dengan cepat Sesshoumaru kemudian menebas dada Akihiko yang tidak dapat menghindar lagi. Baju jirah yang dikenakan Akihiko hancur, dan penguasa tanah selatan tersebut jatuh ke bawah dengan kuat, menghant dan meretakkan tanah.


"Akihiko-sama!!"


"Akihiko-sama!!"


Suara teriakan Koga dan youkai tanah selatan terdengar. Membuka mata, Akihiko berusaha bangkit. Namun, saat tersadar, Sesshoumaru telah berada di depan dengan ujung mata pedang bakusaiga yang mengincar lehernya.


Mata emas Sesshoumaru yang tanpa emosi terarah pada Akihiko, tidak ada belas kasihan sedikitpun. Mengerakkan tangannya, Sesshoumaru menurunkan mata pedang bakusaiga menusuk leher Akihiko.


Akihiko tidak bergerak, rasa sakit terasa di lehernya. Menutup mata, penguasa tanah selatan bersedia menerima kekalahan dan kematiannya.


"Akihiko-sama!!"


"Akihiko-sama!!"


"Tidak!! Akihiko-sama!!"


Suara teriakan Koga dan para youkai tanah selatan kembali terdengar, begitu juga dengan suara Tsubasa dikejauhan yang penuh ketakutan.


Tapi, di setiap teriakan yang memanggil namanya, Akihiko juga bisa mendengar suara Inuyasha, Kiri, Kira dan youkai tanah barat yang memanggil nama penguasa tanah barat.


"Sesshoumaru!! Awas!!"


"Sesshoumaru-sama!!"


"Sesshoumaru-sama!!"


Akihiko kembali membuka mata, dan semua yang terjadi dengan cepat terasa begitu lambat dalam mata biru langitnya. Tidak tahu kapan, salju putih telah kembali turun dari langit dengan pelan tanpa suara. Dari belakang Sesshoumaru, sebatang anak panah berwarna putih melesat cepat—menusuk dan menembus jantung inuyoukai penguasa tanah barat.


"Kakak!!!!"


"Sesshoumaru-sama!!!"


Menatap jauh ke belakang Sesshoumaru, mata biru langit Akihiko bisa melihat Shui yang terbang di atas langit dengan busur berwarna putih di tangan. Senyum lebar dan mata yang berbinar penuh kebahagiaan memenuhi wajah pemimpin tanah netral tersebut.


....xOxOx....


Nama no naka


Kaze no naka


Yume no na—


"Ah, salju sudah turun." suara nyanyian Rin terhenti. Mata coklatnya yang dari tadi menatap keluar melalui jendela bisa melihat butiran-butiran salju yang mulai turun dengan pelan.


Kagome, Sango dan Inukimi ikut menoleh keluar jendela mendengar ucapan Rin. Senyum kecil merekah di wajah mereka bertiga.


"Iya, salju kembali turun." ujar Kagome pelan. Senyum masih merekah di wajahnya "Semoga besok sudah berhenti dan tidak menumpuk terlalu tinggi."


Rin mengangguk kepala dan menurunkan kepalanya menatap perut besarnya. Mengelusnya penuh kasih sayang, Rin kembali tersenyum dan bernyanyi.


Sesshoumaru-sama doko ni iru


Jakken-sama wo shita naete


Terus bernyanyi, Rin menutup mata. Dia telah memutuskan akan bernyanyi semalaman ini. Karena itu, semoga saat pagi tiba, inuyoukai yang begitu dicintainya akan membuka pintu dan pulang ke dalam pelukannya.


Watashi wa hitori de machimashou


Shura wa hitori de machimashou


Wareware wa hitori de machimash—


Suara nyanyi Rin kembali terhenti. Bait terakhir dari lagu yang tidak kunjung keluar dari mulut mungil tersebut membuat Kagome, Sango dan Inukimi kebingungan. Menoleh kembali pada wanita manusia yang duduk di atas futon, rasa terkejut segera memenuhi hati mereka.


Di atas futon, mata coklat Rin terbelalak besar. Wajahnya yang pucat menjadi luar biasa pucat, dengan badan bergetar hebat. Kedua tangan kecilnya perlahan bergerak menyentuh dada di mana jantungnya berdetak, air mata penuh ketakutan mengalir turun dari matanya.

__ADS_1


"Tidak!! Tidak!! Sesshoumaru-sama!!!!"


....xOxOx....


__ADS_2