Till The End Of Time [ Inuyasha Fanfiction ]

Till The End Of Time [ Inuyasha Fanfiction ]
Chapter 137


__ADS_3

Takeru membaca surat di tangannya. Wajahnya tetap tanpa ekspresi walau isi surat tidak sesuai dengan harapannya. Meremas surat tersebut dan menutup mata, penguasa tanah utara tersebut kemudian melemparnya.


Surat tersebut adalah surat dari tanah netral, dan isi surat itu adalah; tanah netral menolak tawaran tanah utara untuk bergabung. Tanah netral lebih memilih untuk berdiri sendiri dengan tanah barat sebagai dukungan.


Tanah netral yang menolak tawarannya, dia sudah bisa menduganya. Hubungannya dengan Shui akan membuat para youkai netral waspada terhadapnya. Namun, dia tetap mencoba karena kekuatan di tanah utara sekarang memang dalam keadaan berbahaya. Perang lima wilayah membuat tanah utara kehilangan kekuatannya, karena itu dia membutuhkan kekuatan netral yang walau tidak seberapa tapi bisa membantunya menutupi kekosongan hingga dia mendapatkan kekuatan baru.


Takeru hanya tidak menyangka setelah apa yang terjadi, tanah barat masih bersedia menyokong tanah netral yang ingin berdiri sendiri.


Tanah barat.


Takeru tidak tahu apa yang dipikirkan Sesshoumaru sang penguasa tanah barat sekarang. Inuyoukai itu jelas bukan tipe youkai yang akan melupakan apa yang telah dilakukan tanah netral begitu saja. Inuyoukai itu adalah tipe youkai yang cukup pendendam apalagi jika yang menjadi incaran adalah pasamgam sah dan juga darah daging mereka sendiri.


Wajah seorang wanita manusia yang sedang tersenyum terbayang dalam pikiran Takeru. Wanita cantik yang dia lihat pada perang barat-selatan tahun lalu, wanita manusia yang menghidupkan para youkai tanah barat dan selatan yang mati—kisaki tanah barat.


Apakah ini adalah keinginan dari kisaki tanah barat? Terkenal karena kecantikan dan juga kebaikannya, apakah tanah barat yang bersedia menyokong tanah netral adalah keinginan dari wanita manusia itu?


Betapa penting wanita manusia itu bagi Sesshoumaru, Takeru bisa melihatnya. Demi kisaki manusia dan putra mereka, inuyoukai itu berdiri di garis terdepan medan perang dan menghunuskan pedang pada dunia youkai. Di dunia ini wanita manusia dan putra mereka adalah satu-satunya yang bisa membuat inuyoukai berharga diri tinggi itu melakukan kegilaan ini—kelemahan sesungguhnya dari sang penguasa tanah barat yang tidak terkalahkan tersebut.


Namun, Takeru juga bisa melihat, bagaimana Sesshoumaru melindungi mereka yang merupakan kelemahannya. Meski jantungnya telah tertembus panah dan pedang, inuyoukai itu tetap dapat berdiri tegak melawan musuh. Ya, k


isaki tanah barat dan putra mereka memang merupakan kelemahan satu-satunya Sesshoumaru, tapi juga sekaligus—kekuatan tak terbatasnya.


Jalan hidup Sesshoumaru mirip dengan ayah kandungnya Inu No Taisho, mereka bersedia melindungi dan melawan siapapun yang berani mengincar nyawa dari pasangan sah dan anak mereka, bedanya—Sesshoumaru hidup.


Sesshoumaru bisa terus hidup dan melewati semua hal mustahil yang ada. Inuyoukai itu hanya terus tumbuh menjadi kuat dan kuat hingga sangat menakutkan.


Lalu putra mereka—seorang inuyoukai sejati dengan darah termurni yang terlahir dari rahim seorang wanita manusia. Akan seperti apa anak itu kelak? Anomali di dunia ini—berbahaya atau tidak? Kuat atau lemah?


Jika anak itu kuat, akan seperti apa masa depan nanti? Lima wilayah masih terbagi dengan jelas, tapi ke depannya, jika tanah barat semakin kuat lagi, akankah ada tempat untuk tanah netral, timur dan juga—utara?


Membuka mata, Takeru kemudian bangkit berdiri. Melangkah keluar dari ruang kerjanya, wajahnya tetap saja tenang. Menyusuri lorong gelap di istana tanah utara, penguasa tanah utara kemudian memasuki salah satu ruangan yang ada.


Ruangan itu gelap dan besar. Udara yang ada sangat berat, begitu juga dengan bau anyir darah yang ada. Namun yang paling penting, ada aura youki kuat dan mengila terasa.


Seulas senyum melintas di wajah Takeru. Tidak ada rasa takut dirasakanya, yang ada malah sebaliknya—gembira. Matanya kemudian terarah pada tengah ruangan, atau lebih tepatnya sumber youki gila yang ada—sebuah jantung yang melayang di atas lantai.


Melangkah maju terus, senyum di wajahnya semakin melebar. "Pada akhirnya, kau kalah dengan menyedihkan."


Jantung yang di depannya adalah jantung dari Shui yang telah mati di tangan Sesshoumaru. Jantung yang meskipun tidak berdetak lagi, namun masih mengandung youki dari pemimpin tanah netral.


Tiba di depan jantung tersebut, tangan kanan Takeru kemudian mengengam jantung itu erat. Dengan senyum yang masih ada di wajah, dia membuka mulut dan memakannya.


"Ya—setidaknya kau lebih berguna bagiku seperti ini."


....xOxOx....


"Inuyoukai sejati berdarah paling murni dari ayah seorang inuyoukai dan ibu seorang manusia," gumam Bakuseno pelan. Mata tuanya terarah menatap langit pagi musim dingin. "Hmnn, ribuan tahun aku hidup, ini pertama kalinya aku mendengar cerita seperti ini."


Menoleh matanya ke bawah, pandangan youkai pohon tersebut kemudian jatuh pada Myoga, youkai kutu yang duduk dengan wajah penuh kesedihan. "Kau tidak gembira dengan kelahiran cucu Toga-sama, Myoga?"


Menatap Bakuseno, ekspresi sedih di wajah Myoga berubah menjadi semakin sedih. "Aku gembira, tapi..."


Suara Myoga mengecil hingga tidak terdengar, tapi Bakuseno tahu apa yang ingin dikatakan youkai kutu tersebut. Apalagi selain fushi no kusuri?


"Perang sudah selesai, pewaris sudah lahir, Sesshoumaru pasti akan menfokuskan diri lagi mencari fushi no kusuri untuk Rin-chan," ujar Myoga. Air mata tiba-tiba mengalir turun dari mata besar youkai kutu tersebut. "Sesshoumaru akan memanggilku menghadapnya tidak lama lagi!! Apa yang harus aku lakukan!!!??"


Mengangkat kepala ke atas langit biru musim dingin, Bakuseno tidak mempedulikan tangis Myoga sedikitpun seperti biasanya. Menghela napas, dia bergumam pelan dan menutup mata. "Myoga, apakah kau masih ingat dengan Izayoi-sama?"


Pertanyaan Bakuseno membuat Myoga berhenti menangis. Penuh kebingungan, dia menatap youkai pohon tersebut. "Apa maksudmu, Bakuseno? Tentu saja aku ingat! Bagaimana mungkin aku melupakab Izayoi-sama, ibunda dari Inuyasha-sama!!?"


Membuka mata, Bakuseno mengangguk kepala. "Kau ingat bagaimana Toga-sama bertemu dengan Izayoi-sama?"


"Tentu saja!! Aku ada di samping Toga-sama hari itu!!" balas Myoga keras. Sampai hari ini, dia masih ingat pertemuan pertama Inu No Taisho dan Izayoi yang memulai kisah cinta yang begitu terkenal di tanah barat. "Hari itu, Toga-sama datang mencari Inukimi-sama karena Sesshoumaru-sama yang menghilang dan mengembara tidak mempedulikan tangung jawab sebagai pewaris tanah barat. Namun, saat membuka pintu kamar Inukimi-sama, yang dia lihat adalah Izayoi-sama yang sedang duduk memainkan Koto."


Myoga tidak pernah melupakan hari pertama kali Inu No Taisho melihat Izayoi. Wanita manusia yang dengan anggun duduk memainkan koto dengan baik bagaikan sebuah lukisan yang sangat indah. Pandangan tertegun tuannya saat itu—itu adalah awal dari segalanya.


"Iya," Bakuseno mengangguk kepala lagi dan tersenyum. "Kau ternyata masih ingat."


"Tentu saja!! Ingatanku masih sangat bagus!!" tawa Myoga gembira, walau sedetik kemudian berubah menjadi sebuah kerutan kecil penuh kepasrahan. "Aku juga ingat apa yang terjadi setelah itu, yakni; Inukimi-sama yang mengamuk.."


Bakuseno tertawa mendengar ucapan Myoga. "Inukimi-sama memang berbeda dari segala inuyoukai yang pernah kulihat sepanjang hidupku ini."


"Inukimi-sama tidak membiarkan Toga-sama mendekati Izayoi-sama sama sekali saat itu, karena bagi beliau saat itu, Izayoi-sama adalah miliknya," lanjut Myoga pelan sambil melipat tangan di dada. "Izayoi-sama adalah manusia yang dia hidupkan kembali dengan meido seki—wanita yang dia selamatkan dari tangan para bandit."


Siapa Izayoi? Dia adalah putri bangsawan besar yang sangat terkenal akan kecantikan, kelembutan dan keahlian memainkan koto yang luar biasa. Namun, meski begitu, dia mati bunuh diri demi mempertahakan kehormatannya dari tangan para bandit yang menculik dan ingin memperkosanya.


Inukimi yang kebetulan berada di tempat kejadian melihat semua yang terjadi dan tertarik pada Izayoi saat itu. Wanita manusia yang penuh kehormatan dan keberanian—karena itulah dia menghidupkannya kembali dan membawanya ke istana tanah barat.


Izayoi juga tidak mempermasalahkan itu. Sebagai ungkapan terima kasih karena telah diselamatkan, dia bersedia memainkan koto dan menemani Inukimi untuk beberapa saat.


"Seperti halnya Kisaki tanah barat, Izayoi-sama juga merupakan jiwa yang diselamatkan dari kematian," ujar Bakuseno pelan. Seulas senyum kecil memenuhi wajah tuanya yang penuh keriput. "Mereka cukup mirip."


Myoga mengangguk kepala menyetujuhi. Rin dan Izayoi memang cukup mirip untuk kenyataan tersebut.


"Myoga," panggil Bakuseno lagi. Mengangkat kepala ke atas langit, dia bertanya pelan. "Menurutmu, kenapa fushi no kusuri tidak sempurna?"


Pertanyaan Bakuseno membuat Myoga kembali menatap youkai pohon tersebut. "Apa maksudmu?"


"Bukankah kau mengatakan dari jurnal yang ditemukan Sesshoumaru, fushi no kusuri tidak sempurna?" tanya Bakuseno balik.


Myoga terdiam.


"Toga-sama bukanlah tipe youkai yang membiarkan apa yang dilakukannya tidak sempurna, terlebih lagi demi Izayoi-sama," lanjut Bakuseno lagi. Suaranya tetap pelan dan tenang. "Karena itu, menurutmu, kenapa Toga-sama tidak menyempurnakan fushi no kusuri?"


"I-itu..." Myoga tidak dapat mengatakan apa-apa untuk menjawab pertanyaan Bakuseno, sebab, apa yang dikatakannya benar. Inu no taisho bukan tipe youkai yang akan meninggalkan apa yang dilakukannya setengah jalan, terlebih lagi dia juga tidak pernah memberitahu siapapun mengenai fushi no kusuri tersebut.


Menghela napas, Bakuseno kembali menatap langit di atas. "Antara Toga-sama dan Izayoi-sama, apa yang mereka inginkan, mungkin pada akhirnya, Toga-sama tahu—itu adalah sesuatu yang tidak mungkin."


"Apa maksudmu, Bakuseno?" tanya Myoga kebingungan. Dia benar tidak mengerti arah dari pembicaraan ini.

__ADS_1


"Fushi No Kusuri—bagi Inu no taisho mungkin bukanlah berkah, begitu juga untuk Sesshoumaru.."


....xOxOx....


Anata no nayami o sutete


[ Singkirkanlah kekhawatiranmu sayangku ]


Ashita wa atarashī hi ga kuru


[ Karena besok akan datang hari baru ]


Dakishimete, osoreru koto wa nanimonai


[ Berpeganglah padaku, tidak ada yang perlu ditakuti ]


Anata no yume wa tōkunaikara


[ Karena mimpimu tidaklah jauh ]


Suara nyanyi yang mengalun lembut, dinyanyikan dengan pelan penuh kasih sayang. Sesshoumaru hanya bisa tersenyum tipis menatap Rin yang duduk di pangkuannya sambil mengendong putra.


Menatap Shura, mata emas Sesshoumaru yang lembut hanya semakin melembut. Dalam lirik lagu yang disandung Rin, dalam setiap gerakan buaian yang pelan, putra mereka yang berharga tertidur dengan begitu damai dan tenang.


Atama o yoko ni shite yasumu to


[ Saat kau membaringkan kepalamu dan beristirahat ]


Anata no yume ga watashi no ai o hikitsugu yō ni


[ Semoga mimpimu mengambil alih cintaku ]


Yoku kiite, Nishi no musuko


[ Denganlah baik-baik, putraku dari barat ]


Sekai wa zankokudesuga


[ Walaupun dunia kejam ]


Mada kagayaku hikari ga arimasu


[ Masih ada cahaya yang bersinar ]


Watashitachi no jinsei no mottomo kurai hi ni


[ Dalam hari-hari tergelap kehidupan kita ]


Subete no kibō ga ushinawa reta yō ni mieru toki


[ Saat semua harapan kelihatannya telah hilang ]


Soshite, anata wa anata no michi o mitsukeru koto ga dekimasen


Sora o mitsumeru toki no koto o kangaete


[ Pikirkan aku saat kau melihat ke langit ]


Perlahan, Sesshoumaru menutup mata dan menyandarkan kepalanya bahu kanan Rin. Kedua tangannya yang berada di pinggang ramping wanita manusia itu bergerak memeluknya semakin erat, namun hati-hati.


Kehangatan dan kepuasan dirasakan Sesshoumaru. Bau Rin dan Shura bercampur dengan baunya. Duduk seperti ini, dengan istri dan anak dalam dekapannya, dia merasa—dunia berada dalam gengamannya. Dirinya tidak butuh apa-apa lagi, di dunia ini, dia hanya membutuhkan mereka berdua.


Ko kōzan, anata no mirai wa akarui


[ Anakku, masa depanmu cerah ]


Anata no chichi no chi ga anata no jōmyaku ni


[ Karena darah ayahmu dalam nadimu ]


Kurayaminonakade, watashi wa anata ga tatakau koto o inoru


[ Di saat-saat gelap, aku berdoa kau akan bertarung ]


Sekai ga sugu ni anata no namae o shiru yō ni narukara


[ Karena dunia akan segera tahu namamu ]


Lagu yang telah selesai, Rin tersenyum dan memiringkan kepala ke kanan, menyandarkannya pada kepala Sesshoumaru yang ada di bahu. Kehangatan yang ada membuatnya ikut menutup mata dan diam membisu, menikmati keheningan bersama mereka yang begitu berharga baginya.


Apa yang telah dilewati dan akan dihadapi di kedepannya—Rin tahu, itu akan sepadan. Bisa melihat, bisa menyentuh, merasakan kehangatan yang ada—bersama mereka; keputusannya benar.


Hidup yang tenang dan damai, hidup yang menyenangkan dan bahagia—Rin berharap masa depan mereka akan selalu cerah dan penuh senyum tawa.


"Sesshoumaru-sama," panggil Rin pelan dengan senyum yang masih tidak berubah. "Terima kasih sudah mengabulkan permintaan Rin."


"Hn." Sesshoumaru mendengus pelan tanpa membuka matanya. Dia juga tidak mengubah posisinya, kepalanya masih bersandar pada bahu wanita dalam pelukan. Inuyoukai itu tahu apa makud dari kata terima kasih yang diucapkan Rin, yakni; mengenai tanah netral.


Tanah netral menerima tawaran yang diberikan tanah barat dengan suka cita. Mereka bersedia berkerja sama dengan tanah barat tanpa keberatan sedikitpun, dan Sesshoumaru sebenarnya sama sekali tidak mempedulikannya.


"Rin berharap, itu bisa menjadi awal pembukaan kedamaian yang akan bertahan lama."


Sesshoumaru hanya dapat tersenyum kecil mendengar ucapan Rin. Permintaan kisakinya, rantai tidak terlihat yang dipasangnya untuk mengendalikan keberadaan tanah netral, mungkin tujuan utamanya adalah untuk menjaga kedamaian lima wilayah. Pada akhirnya—wanita dalam pelukannya tetaplah seorang wanita paling pemaaf di dunia.


"Auu.." Suara rintihan kecil Shura tiba-tiba terdengar, membuat mata Sesshoumaru dan Rin segera terbuka menatap putra mereka yang telah terbangun dari tidur damainya.


"Auu..Au..." Merintih pelan, kedua mata Shura menatap kedua orang tuanya, sedangkan kaki depannya terus bergerak seakan ingin meminta perhatian.


Rin tertawa kecil melihat sikap Shura. Sedangkan untuk Sesshoumaru, inuyoukai itu hanya diam membisu dengan wajah datar, namun, sepasang mata emasnya bersinar lembut.

__ADS_1


"Kau sudah bangun, putraku dari barat?" tanya Rin pelan. Tangan kanannya bergerak menangkap salah satu kaki depan Shura dengan lembut.


Sesshoumaru tetap diam membisu, tapi dia menggerakkan tangan kanannya juga untuk membelai kepala Shura dengan pelan.


"Au..Au..Huff.." Kedua mata Shura berbinar gembira mendapatkan perhatian dari kedua orang tuanya, dan itu membuat Rin kembali tertawa.


Tawa Rin adalah apa yang paling disukai Shura. Mendengar tawa bahagia sang ibu, kedua matanya menatap lekat wajah cantik di depan hingga kemudian tanpa sengaja teralih pada tangan lentik yang mengenggam kaki depannya.


Kedua matanya bisa melihat jelas perbedaan antara kakinya dan tangan sang ibu. Perlahan, mata Shura terarah ke atas, pada telapak tangan besar dan hangat yang mengelus lembut kepalanya. Lalu, untuk pertama kalinya, pewaris tanah barat sadar dengan perbedaan dirinya dengan kedua orang tuanya.


Mendengus tidak suka, dia kembali menatap wajah Rin dan kemudian wajah Sesshoumaru. Menggerak-gerakkan kepala, kemarahan memenuhi hati inuyoukai kecil tersebut. Dia yang masih kecil tidak mengerti apa-apa, namun dia hanya tahu, dia tidak ingin berbeda dengan kedua orang tuanya.


Menatap tangan Sesshoumaru dan kemudian kembali pada tangan Rin, Shura merasa gusar—dia ingin seperti ibunya, seperti ayahnya; seperti mereka.


"Gr..Gr..Guk-guk!" Mengonggong tidak suka, kemarahan dan kegusaran terlihat jelas di wajah Shura yang berada dalam pelukan Rin.


Baik Sesshoumaru dan Rin menyadari perubahan emosi Shura. Namun, mereka berdua sama sekali tidak menyadari apa yang membuat putra mereka menjadi seperti ini.


Rin segera melepaskan tangan kanannya yang mengenggam kaki depan Shura. Kekhawatiran muncul di wajah cantiknya yang pucat. "Shura, ada ap—"


Ucapan Rin tidak terselesaikan, karena tiba-tiba saja, asap merah muncul dan mengelilingi Shura yang ada dalam pelukannya. Matanya terbelalak tidak percaya, begitu juga dengan Sesshoumaru yang kini telah berhenti mengelus kepala Shura.


Asap merah tebal yang ada semakin tebal dan menyelubungi seluruh badan Shura, dan sedetik kemudian, saat asap tersebut menghilang, sosok asli inuyoukai kecil tersebut telah berubah menjadi sosok bayi manusia seorang youkai.


Berambut perak indah dengan kulit putih bersih. Alis yang rapi dengan hidung mancung, telinga runcing dan sepasang garis ungun di pipi, tanda bulan sabit di dahi serta—sepasang mata berwarna emas cermelang.


Air mata Rin mengalir turun tanpa disadarinya. Kehangatan dan kebahagiaan memuncah memenuhi hati, membuatnya sesak hingga sulit bernapas.


Putranya—Shuranya yang berharga.


Seperti dugaannya, putranya memang merupakan bayi tertampan di dunia, dan juga, betapa miripnya dia dengan Sesshoumaru. Rupanya sekarang ini, hanya sekali melihat, semua orang akan tahu siapa ayah kandungnya. Tidak akan ada yang meragukan darah di nadinya meski dia ber-ibu seorang manusia.


Tahukah kamu, betapa bahagia saat kau melihat anak yang kau lahirkan dari rahimmu begitu mirip dengan pria yang kau cintai dengan seluruh jiwa ragamu?—Rin tahu itu melebihi siapapun sekarang.


Lalu—Shura tersenyum dan tertawa.


Tersenyum dan tertawa dengan begitu hangat, begitu bahagia kepada kedua orang tua yang begitu dicintainya dan membuat kedua orang tuanya kembali tertegun.


"Senyum tawamu, Rin.."


Mata emas Sesshoumaru terbelalak menatap Shura tidak percaya. Wajah dan rupa manusia putra mereka adalah kopian dari dirinya, dia sudah menduga itu. Tapi, dia tidak pernah menyangka, ternyata putra mereka mewarisi apa yang paling dia cintai dari Rin, yakni; senyum dan tawa musim semi abadi dalam hatinya.


Sesshoumaru akan selalu mengingat, sosok kecil seorang gadis kecil yang tertawa dengan wajah penuh luka dan gigi yang hilang satu itu—senyum dan tawa yang memulai segalanya.


Rin mendengar ucapan Sesshoumaru dan tertawa. Tersenyum, dia mengeleng kepala pelan dan menghapus air mata yang ada. Kedua mata coklat besarnya kembali jatuh pada sosok Shura yang tersenyum padanya. "Tidak, senyum tawa Shura lebih indah dari senyum tawa Rin—senyum tawa Shura adalah senyum-tawa terindah di dunia ini.."


Memajukan wajahnya, Rin kemudian menutup mata dan mencium lembut kening Shura penuh kasih sayang. "Shura..."


Shura menutup mata dan terus tersenyum. Senyum yang sangat bahagia memenuhi wajah kecilnya yang tampan. Sentuhan bibir yang hangat, bau tidak terjelaskan yang begitu memabukan, suara pelan bagaikan dentingan lonceng yang memanggil namanya penuh kasih sayang—cinta ibunya yang dapat dia rasakan.


"Shura..."


Membuka matanya lagi, Shura menatap wajah Rin yang tersenyum di depannya. Dengan senyum yang semakin melebar, dia menggerakkan kedua tangan kecilnya untuk menyentuh wanita paling berharga dalam dunia kecilnya.


Senyum berubah menjadi tawa di wajah Shura. Bagi pewaris tanah barat yang tidak tahu apa-apa, saat kedua tangannya yang kini sama seperti tangan kedua orang tuanya menyentuh wajah sang ibu, dia telah menyentuh seluruh dunia ini.


Rin ikut tertawa dan kembali mencium kening Shura. Sentuhan tangan kecil di wajahnya, kehangatan yang tersalurkan, dia ingin menjaga pemilik tangan ini untuk selamanya—menjanjikan segala dan segenap cinta yang dimilikinya.


Sesshoumaru tersenyum kecil melihat Rin dan Shura. Dua senyum dan tawa yang identik. Putra mereka yang membanggakan, biasanya inuyoukai membutuhkan waktu sekitar satu bulan untuk mendapatkan wujud manusianya. Namun, untuk pewaris tanah barat, dia telah berhasil melakukannya saat berusia seminggu lebih. Apakah karena darah manusia yang mengalir dalam nadinya?—atau karena faktor lain?


Ah—Sesshoumaru tidak mempedulikan itu semua. Apapun jawaban dari pertanyaannya, darah apa yang mengalir, faktor apapun yang ada—dia tidak mempedulikannya sedikitpun.


Menggerakkan tangan kanannya, Sesshoumaru kembali mengelus pelan kepala putranya. Putranya yang masih kecil, putra yang masih membutuhkan perlindungannya dan akan selalu dia jaga selamanya—putra yang paling berharga baginya.


Shura menggerakkan pelan kepalanya untuk menatap Sesshoumaru yang mengelus kepalanya. Namun, Rin dengan pelan kemudian mendekap inuyoukai kecil tersebut di dadanya.


Menoleh menatap Sesshoumaru, Rin tersenyum dengan begitu bahagianya—secantik musim semi yang selalu hangat dan menyenangkan.


Sesshoumaru ikut tersenyum. Apa yang ingin dikatakan Rin padanya, tersampaikan lewat senyumnya. Cinta—cintanya kepada putra mereka dan juga; dirinya.


Menggerakkan pelan kedua tangannya, Sesshoumaru memeluk Rin serta Shura yang ada dalam dekapnya dengan erat dan juga lembut.


Dua keberadaan dalam dekapannya, selamanya adalah hidupnya, nyawanya, miliknya yang paling berharga—sesuatu yang tidak tergantikan dalam keberadaan seorang inuyoukai bernama; Sesshoumaru.


Pelukan hangat Sesshoumaru serta Shura yang tersenyum dalam dekapannya, Rin tidak akan pernah dapat mengungkapkan kebahagiaan dalam hatinya, sebagai wanita dan sebagai ibu—kau hanya akan mengerti perasaan ini saat berada dalam posisinya.


Pentingnya Shura bagi Rin, Rin tahu, dan pentingnya Shura bagi Sesshoumaru, Rin juga tahu. Shura, anak mereka adalah anak yang dilahirkan untuk dicintai.


"Cinta, Shura," ujar Rin pelan dengan segenap cinta dalam hatinya. "Walau apapun yang terjadi, kami akan selalu mencintaimu..."


Mengangkat kepala kembali menatap Sesshoumaru, Rin tersenyum dengan senyum khasnya yang menawan. "Ikatan abadi. Selamanya, ikatan kita bertiga tidak akan pernah terputuskan..."


Senyum di wajah Sesshoumaru semakin lebar. Mengangguk pelan, dia dan Rin kembali menatap Shura yang membalas tatapan mereka dengan senyum tawa.


"Putra dari barat," ujar Sesshoumaru pelan. Mengangkat tangan kanannya untuk menyentuh wajah Shura, mata emasnya bersinar lembut. "Ayahandamu ini akan selalu melindungimu.."


Shura tertawa, tidak tahu dia mengerti atau tidak akan apa yang diucapan Sesshoumaru. Mengangkat tangan kecilnya, dia menangkap jari telunjuk sang ayah. "Ah.. ah..."


Senyum Rin kembali menjadi tawa melihat sikap Shura. Mengangkat tangan kanannya untuk menyentuh jari Sesshoumaru di gengam tangan Shura, mata coklat jernihnya berbinar bahagia. "Apa yang ingin kau sampaikan pada Ayahandamu, Shura?"


"Ba..Ah.." tertawa semakin bahagia, tangan Shura kembali terbuka dan menangkap jari telunjuk Rin bersama jari Sesshoumaru. "Bababa.."


Tertegun dengan sikap Shura, Sesshoumaru dan Rin saling menatap. Namun, sedetik kemudian, mereka berdua ikut tertawa bersama Shura—tawa mereka bertiga yang lepas dan bahagia.


Dua jari dan tangan kecil yang saling tertaut, tergengam tidak terlepaskan. Benang merah tidak terlihat yang terikat erat tidak terputuskan. Dari jari kelingking satu ke jari keringking lainnya, melewati dan melingkar berkali-kali pergelangan tangan kecil tidak tergantikan.


Sesshoumaru tidak pernah menyangka ada hari seperti ini dalam hidupnya saat dia hanya menginginkan kekuatan, dan Rin juga tidak pernah menyangka akan hari seperti ini saat dia kehilangan segalanya.


Pertemuan mereka adalah saat mereka berada dalam titik terendah hidup mereka. Seorang youkai yang kalah dan terluka serta seorang gadis kecil yatim piatu bisu yang di jauhi semua orang.

__ADS_1


Karena itu, hidup mereka sekarang adalah mimpi terindah yang menjadi kenyataan. Mimpi yang terus dirajut dengan rapi penuh warna cerah bertema kebahagiaan—mimpi yang terajut dengan benang bermakna; ikatan abadi.


....xOxOx....


__ADS_2