![Till The End Of Time [ Inuyasha Fanfiction ]](https://asset.asean.biz.id/till-the-end-of-time---inuyasha-fanfiction--.webp)
Darah merah mengenang di mana-mana, tubuh manusia yang terpotong dan hancur berserakan saat mata melihat. Berapa yang mati, tidak ada yang tahu lagi, dan bagi mereka yang hidup, mereka hanya dapat meringkuk dalam kurungan besar yang memenjarakan mereka penuh keputusasaan.
"Tolong!!"
"Selamatkan kami!! Ampuni kami!!"
"Kumohon, bebaskan kami!!"
Suara tangisan dan teriakan manusia memenuhi telinga, namun, Shui sama sekali tidak mempedulikannya. Duduk di bawah pohon sakura, matanya menatap malas tensaiga yang tertancap di sampingnya.
"Hmnn, apa yang akan kau katakan, kakak?" ujar Shui pelan sambil tertawa. Matanya kemudian terangkat menatap langit sore akhir musim gugur di atas. "Apa kau melihat di alam sana? Aku akan segera menciptakan tanah barat yang sesungguhnya."
Tidak ada balasan sama sekali, dan tawa Shui semakin kuat. "Tanah barat yang kuat tanpa kelemahan, dan akulah yang akan menjadi sang penguasa seperti dirimu!!!"
Berhenti tertawa dan kemudian tersenyum, Shui menatap ke depan. "Karena itu, aku akan mengirimkan anakmu yang satu lagi serta cucu-cucumu menyusul dirimu dan Sesshoumaru sebentar lagi."
Shui bisa merasakan walau masih tidak dapat melihatnya, aura mereka yang mendekat kerahnya. Perlahan, dia kemudian bisa melihat sosok Shura, Inuyasha, Kagome dan Shiro yang muncul di kejauhan. Senyum di wajahnya semakin lebar, dirinya sudah lama menunggu mereka di atas pentas yang telah dipersiapkan untuk menutup kekuasaan inuyoukai di tanah barat.
Shura yang terus berlari bisa melihat Shui yang tersenyum di depannya, dan juga, dia bisa melihat jelas sebilah pedang yang tertancap di atas tanah—tensaiga. Melihat sekeliling, dia bisa melihat jelas kekacaun yang ada. Kemarahan memenuhi dirinya, puncak gunung ini sama sekali tidak seperti cerita yang dia dengar lagi. Tempat di mana keindahan dan ketenangan selalu ada—tempat peristirahatan terakhir ibu kandungnya.
Inuyasha, Kagome dan Shiro yang pernah melihat puncak gunung hare ini dulu juga memberikan reaksi yang mirip dengan Shura, bagaimana bisa Shui melakukan hal seperti ini disini?
Para manusia yang melihat kumunculan Shura, Inuyasha, Kagome dan Shiro dari kejauhan tidak dapat menyembunyikan suka cita dalam hati. Ada miko besama dengan youkai dan hanyou, mungkinkah itu adalah miko dan inugaminya?—mungkinkah itu adalah penolong mereka?
"Tolong!! Miko-sama, selamatkan kami!!"
"Selamatkan kami!!!"
"Tolong bebaskan kami!!"
Suara teriakan meminta tolong memenuhi puncak gunung, dan Kagome tidak tahu harus berbuat apa melihat itu. Dia memang mendengar Shui menangkap manusia, tapi dia tidak menyangka para manusia itu ada di puncak gunung dan diperlakukan seperti ini. Lainnya dengan Shura, Inuyasha dan Shiro, mereka bertiga mengabaikan permintan tolong para manusia. Mereka tahu, prioritas utama mereka adalah tensaiga dan juga—Shui.
"Selamat datang, aku sudah lama menunggu kalian." Shui menyambut hangat Shura dan yang lainnya penuh senyum. Berdiri, senyumnya semakin lebar. "Ah, di mana putrimu yang cantik itu, Inuyasha?—Kenapa aku tidak melihatnya?"
Wajah Inuyasha dan Shiro mengeras, tatapan tajam penuh amarah terarah pada Shui mendengarnya menyebut Sakura. Kagome tidak memberikan reaksi seperti suami dan anaknya, tapi ketidaksukaan telihat jelas di wajah.
"Tidak apa-apa," ujar Shui lagi sambil tertawa. "Itu tidak penting. Aku bisa mencarinya nanti."
Shura tidak mengatakan apa-apa, ekspresi wajahnya juga datar tanpa emosi. Dia tahu, dia harus mengendalikan amarahnya, pertarugannya dulu dengan Shui telah mengajarkan untuk tidak tenggelam dalam segala emosi dalam hati—dia harus berkepala dingin.
"Baiklah," ujar Shui lagi sambil tersenyum. Dia mengangkat tangannya dan menjentikkan tangannya. "Tidak perlu berbasa-basi, kita akhiri ini secepatnya."
Dari belakang Shui, sepuluh orang youkai tiba-tiba muncul, lima laki-laki dan lima wanita. Wajah mereka datar tanpa emosi, dan baik Inuyasha maupun Kagome tahu siapa mereka, mereka adalah pengawal Shui yang pernah mereka lihat dulu.
"Aku titip salam untuk Kakak dan Sesshoumaru di alam sana." Lanjut Shui lagi, dan seketika juga kelima pengawalnya melesat cepat ke depan menyerang Shura dan yang lainnya.
Shura, Shiro dan Inuyasha segera melesat ikut menyerang, sedangkan untuk Kagome, miko masa depan itu meloncat ke belakang dan menarik busurnya. Inuyasha mengayunkan tessaiga, begitu juga dengan Shiro yang ikut mengayunkan pedangnya. Namun, untuk Shura yang tidak memiliki senjata, dia menggunakan cakarnya.
Pertarungan yang ada terjadi, akan tetapi, sejak awal, pertarungan ini adalah pertarungan yang berat sebelah. Jumlah yang tidak seimbang mau tidak mau membuat Shura dan yang lainnya berusaha keras menyerang.
Seperti tahu bahwa Inuyasha adalah yang paling kuat, enam dari pengawal Shui menfokuskan diri melawannya. Namun, saat terdapat kesempatan, mereka akan membelok mengincar Kagome yang lemah akan pertarungan jarak dekat. Hal ini mau tidak mau membuat Inuyasha tidak dapat berbuat banyak, sebab dia tidak dapat bergerak bebas.
Di lain pihak, baik Shura maupun Shiro masing-masing melawan dua orang pengawal Shui. Mereka berdua cukup dapat mengimbangi musuh, tapi, mereka juga tahu, salah sedikit, mereka akan kehilangan nyawa.
Shui menatap sambil tersenyum pertarungan di depannya. Perlahan, dia mengeluarkan dua botol kaca dari balik kimononya. Tertawa, dia menatap botol kaca tersebut. "Kurasa kalian juga ingin melihat saat-saat terakhir mereka, bukan?"
Kedua botol kaca yang ada di tangan Shui sekarang tidak lain adalah botol kaca yang menyegel Inukimi, Kenji, Kiri, Kira dan para pemimpin klan youkai tanah barat. Meletakkannya di atas tanah, youkai naga tersebut kembali tertawa. "Kalian tidak perlu berterima kasih padaku untuk perunjukkan yang luar biasa ini."
Baik Inukimi, Kenji, Kiri maupun Kira tidak memberikan reaksi pada Shui. Mereka menoleh menatap Shura serta yang lainnya yang sedang bertarung, dan tetap sama, wajah mereka memperlihatkan perubahan ekspresi sedikitpun. Namun, tidak untuk para pemimpin klan youkai, mereka semua terlihat sangat marah pada youkai naga tersebut, dan saat melihat Shura, ekspresi penuh kekhawtiran terlihat jelas.
Shura yang tanpa senjata berusaha keras melawan. Namun, semua itu tidak mudah. Musuh yang dihadapinya sekarang sangat kuat, terlebih lagi mereka tidak memiliki rada takut sedikitpun. Mereka akan terus menyerang meski terluka, seakan mereka adalah boneka yang tidak memiliki jiwa.
"Sialan!!" teriak Shiro kuat. Dia yang menangkis serangan musuh tidak tahu kapan pertarungan ini akan terselesaikan. Terlebih lagi, dia tidak bisa begitu fokus karena menghawatirkan Shura. Inuyoukai kecil itu terluka saat melawan Akiko barusan, dan juga, dia tidak memiliki senjata.
Di sisi lain, Inuyasha dan Kagome juga berusaha keras melawan musuh di depan mata. Melepaskan anak panahnya, miko masa depan tersebut berteriak keras. "Inuyasha!! Menunduk!!"
Inuyasha segera menunduk dan anak panah berisi kekuatan suci Kagome melesat cepat membidik musuh di depan. Bertahun-tahun bersama, mereka berdua telah memiliki pemahaman yang luar biasa akan gaya bertarung masing-masing, hanya saja, mereka masih tidak dapat mengalahkan musuh yang ada.
Shui yang menonton pertarungan di depan mulai merasa bosan. Dia tidak tahu kapan pertarungan di depannya akan terselesaikan. Meski Shura dan yang lainnya cukup terdesak, mereka masih bisa bertahan dengan baik.
"Apakah kalian juga mulai bosan?" tanya Shui pelan sambil menatap dua botol kaca di sampingnya.
Tidak ada balasan yang didengar Shui, karena botol yang menyegel Inukimi dan yang lainnya tidak memungkinkan suara dari dalam terdengar keluar. Namun, dia bisa melihat semua yang ada menatapnya tajam.
"Pertunjukkan yang kusiapkan menjadi sangat membosankan," ujar Shui pelan. Wajahnya terlihat murung, namun, sejenak kemudian, dia kembali tersenyum. "Karena itu, aku akan segera membuatnya menjadi menegangkan."
Selesai mengucapkam kata-kata tersebut, Shui kembali mengangkat kepala menatap pertarungan di depannya atau lebih tepat, menatap Shura. Dengan senyum yang semakin lebar, dia menjentik tangannya.
Suara jentikan terdengar, dan seketika, delapan pengawal yang sedang melawan Inuyasha, Kagome dan Shiro membalikkan badan mereka. Dengan gerakan mereka yang cepat, mereka semua menuju ke arah Shura dari segala sisi sambil mengangkat senjata di tangan.
Inuyasha, Kagome dan Shiro sangat terkejut dengan perubahan situasi yang terjadi. Kepanikan memenuhi hati mereka.
"Kecil!!"
"Shura!!"
Kagome dengan segera menarik panahnya. Melepaskannya, dia sungguh berharap dia bisa menghentikan para pengawal Shui yang menuju ke arah Shura. Baik Inuyasha maupun Shiro berlari menyusul musuh di depannya secepat mungkin. Terlintas dalam benak Inuyasha untuk melempar tessaiga ke arah Shura sekali lagi, namun, seakan tahu rencananya, salah satu pengawal Shui yang tadinya menuju arah inuyoukai kecil itu tiba-tiba membalikkan badan menyerangnya.
"Sial!!" Inuyasha berteriak keras penuh kemarahan sambil menahan serangan yang terarah padanya. Namun, kedua matanya masih menatap Shura penuh kepanikan.
"Hjinkesso!!" Shiro berusaha menyerang musuh dengan serangan jarak jauhnya. Serangan itu berhasil mengenai musuh di depan, akan tetapi, seperti mati rasa, mereka masih melaju ke arah Shura.
Shura yang diserang dari segala sisi oleh kesembilan pengawal Shui tahu, keajaiban tidak akan datang untuk kedua kalinya lagi seperti saat dia melawan Akiko, kali ini, dia harus bertahan dengan kekuatannya sendiri. Pandangan mata emasnya kemudian jatuh pada Shui yang tersenyum, lalu kemudian pada tensaiga.
Pedang.
Jika saja dia memiliki pedang, apakah dia akan dapat lolos dari serangan ini?—tidak. Shura tahu, bahkan jika dia memiliki pedang sekarang, dia tidak akan dapat lolos. Tidak seperti Akiko yang terkejut dan berjumlah satu orang, lawannya sekarang tidak memiliki emosi dan juga sangat banyak—dirinya tidak akan dapat berbuat apa-apa. Apakah dia akan menyerah?—tidak juga. Shura tidak mau menyerah. Tensaiga ada di depan mata, dia harus mencabut pedang itu dan menyelamatkan ayahnya. Oleh sebab itulah, dia tidak akan mati di sini.
Mengangkat kedua tangannya untuk di jadikan tamen, Shura menatap tanpa takut musuh yang semakin mendekat ke arahnya. Senjata mereka semua terangkat tinggi, dan terayun ke arahnya.
Empat meter.
Tiga meter.
Dua meter.
__ADS_1
Satu meter.
Dalam mata emas Shura yang menatap musuh tanpa takut, dia bisa melihat cahaya putih yang tiba-tiba menelan dirinya. Angin hangat berhembus menerpa wajahnya, membawakan harumnya musim semi di udara.
Berdiri sendirian, Shura menemukan dirinya berada dalam sebuah padang bunga dengan sejuta warna sejauh mata memandang. Kebingungan luar biasa memenuhi hatinya, dia jelas berada di puncak gunung hare dan melawan pengawal Shui barusan, bagaimama dia bisa berada di sini sekarang?
"Shura..."
Suara pelan memanggil namanya. Suara indah bagaikan dentingan lonceng yang dengan segera membuat Shura tertegun tidak dapat bergerak, sebab, dia mengenal pemilik suara ini dalam kenangan masa lalunya yang tidak ingin dilupakan.
"Shura..."
Suara itu terdengar lagi memanggil namanya dengan lembut. Berusaha menahan segala emosinya, Shura segera menoleh ke belakang menatap pemilik suara.
Seorang wanita dengan kimono putih berdiri menatapnya. Berambut sehitam langit tanpa bintang, kulit seputih salju, hidung yang mancung, bibir munggil serta pipi sewarna mawar merah, mata coklat besar yang jernih dan bersinar penuh kasih sayang—wanita yang dia tahu tidak mungkin dapat dilihatnya lagi; ibu kandungnya, Rin.
Shura tidak dapat bergerak, menatap lekat dengan mata yang terbelalak tidak percaya pada sosok ibu kandung di depannya, badannya bergetar dan pikirannya penuh kekacauan. Bagaimana bisa? Apa yang terjadi? Kenapa? Ilusikah? Trik Shui lagikah?—atau apa dia sudah mati?
Seakan mengetahui apa yang ada dalam pikirannya, Rin tertawa dan membuka kedua tangannya lebar. Tersenyum lembut penuh kasih sayang, dia menatap dan memanggil nama putranya lagi. "Kemarilah, Shura.."
Suara lembut dan senyum penuh kasih sayang yang terarah padanya membuat pikiran Shura yang penuh kekacauan berhenti. Perlahan, dia bergerak.
Satu langkah.
Dua langkah.
dan—berlari.
Shura berlari secepat yang dia bisa dengan mata emas yang terus menatap lekat wajah sang ibu di depannya. Ilusi atau trik—dia tidak peduli. Ibunya ada di depan mata, beliau memanggil dirinya.
Meloncat dan memeluk sang ibu, Shura bisa mencium bau musim semi yang menyenangkan, dia juga bisa merasakan kehangatan luar biasa yang ada. Air mata tidak tertahankan mengalir turun menuruni pipinya. Yang di depannya nyata dan dapat disentuhnya. Tidak seperti mimpi ataupun rekaman yang ditunjukkan Sora dimana dia cuma bisa melihat. Sekarang ini, dia bisa memeluk erat sosok yang paling dia rindukan dalam hidupnya.
"I-Ibunda, Ibunda, ibunda, Ibunda.."
Rin tertawa melihat sikap Shura, dengan lembut penuh kasih sayang, dia membalas pelukan putranya. "Shura, putraku dari barat. Petarung kecilku..."
Suara yang memanggil namanya penuh kasih sayang, Shura menutup mata dan semakin mengeratkan pelukannya. "Ibunda, ibunda, ibunda.."
Ibunda.
Di dunianya, bagi Shura, kata paling indah adalah ibunda. Ibunda adalah wanita yang melahirkan dan selalu mencintainya tidak peduli apapun yang terjadi. Hanya saja, dalam hidupnya, dia tidak pernah memiliki kesempatan memangil wanita paling berharga itu, 'Ibunda', sebab, wanita itu telah tiada saat dia masih tidak tahu apa-apa.
Karena itulah, jika saja dia memiliki kesempatan, Shura tahu, dia pasti akan memanggil wanita itu ibunda tanpa henti. Kenapa?—karena ada begitu banyak pertanyaan dan pernyataan yang ingin dia ungkapkan, tapi tidak bisa.
Ibunda—Anda ada di mana?
Ibunda—apakah anda baik-baik saja?
Ibunda—apakah anda bahagia?
Ibunda—aku memikirkanmu.
Ibunda—aku menginginkanmu.
Ibunda—aku merindukanmu.
Hari ini di sini, keajaiban terjadi. Dia bisa memanggilnya, kata terindah di dunia tersebut. Semua tidak penting lagi, dimana ini? atau, bagaimana ini bisa terjadi?—yang paling penting adalah dia bisa memeluk dan memanggil ibundanya tercinta.
Rin yang memeluk Shura mengangkat tangan membelai kepala putranya lembut. Lalu, perlahan, dia kemudian menjauhkan badannya hanya untuk melihat wajah tampan yang penuh air mata di depannya. Menggerakkan tangannya yang tadi membelai kepala, dia mebungkukkan badan hingga mata mereka sejajar dan menghapus air mata yang ada dengan senyum lembut di wajah.
Shura segera melepaskan tangan yang memeluk Rin dan menghapus air matanya. Wajahnya memerah karena malu telah memperlihatkan sosok yang begitu kacau pada sang ibu. "Shura tidak menangis."
Rin tertawa sekali lagi melihat sikap Shura. Kedua tangannya dengan pelan kemudian menahan tangan sang anak yang terus mengosok wajah menghapus air mata. "Tidak apa-apa jika kau menangis, Shura. Ibunda tidak akan mentertawakanmu."
Shura tertegun mendengar ucapan Rin. Menatapnya, dia tidak tahu harus mengatakan apa. Dalam hidupnya, dia selalu diajarkan untuk kuat, namun oleh ibundanya, beliau mengatakan tidak apa-apa jika dia menangis. Ini adalah pertama kali dalam hidupnya juga dia diperlakukan seperti ini—seperti seorang anak kecil.
"Terima kasih," ujar Rin lagi dengan pelan. Dia menatap Shura dengan begitu lembut dalam senyumnya yang begitu indah. "Terima kasih telah tumbuh dengan baik, Shura."
Tumbuh dengan baik.
Untuk pertama kali juga dalam hidupnya, Shura menyadari bahwa dia masih berumur sepuluh tahun—dia hanyalah seorang anak kecil.
"Rin sangat-sangat mencintaimu.."
Dirinya adalah anak kecil. Dalam mata indah ibu kandunganya yang menatapnya, dia adalah seorang anak kecil, karena itu, Shura tidak mempedulikan apapun lagi. Air mata kembali mengalir menuruni pipinya. Mengangkat kedua tangan, dia kembali memeluk sang ibu dan menutup mata.
"Ibunda, ibunda, ibunda, ibunda."
Aku merindukanmu, aku selalu memikirkanmu, aku sangat menyanyangimu—aku juga sangat-sangat mencintaimu.
Rin tertawa dan kembali memeluk Shura. Menepuk pelan punggung kecil yang ada, dia yang mengetahui semua perasaan yang ditumpahkan sang anak mengangguk kepala. "Ya, Shura. Putraku dari barat, petarung kecilku, permataku yang paling berharga.."
Pelukan yang hangat, suara yang lembut, panggilan penuh cinta dan kasih sayang, Shura kemudian tertawa bahagia dalam tangisnya yang tidak berhenti. Tempat paling nyaman dan paling menyenangkan—dia ada dalam pelukan sang ibu.
Berapa lama Shura menangis, dia tidak tahu. Tapi setelah dia mulai tenang dan bisa mengendalikan semua perasaannya, dia menjauhkan badannya untuk kembali menatap wajah Rin. Kedua tangannya tidak lepas dari badan sang ibu, seakan dia takut sosok di depannya akan menghilang jika dia melakukan itu.
Rin tertawa dan sekali lagi menggerakkan tangan menghapus sisa air mata di wajah Shura.
Wajah Shura kembali memerah melihat tawa Rin. Tapi, perlahan, dia ikut tertawa. Rupanya yang memalukan ini, tidak apa-apa jika ibundanya melihatnya—beliau boleh melihat dirinya yang sebenarnya. Ketakutan dan kebahagiaan, tawa, senyuman dan air mata—kelemahannya.
"Ibunda," panggil Shura kemudian. Dia menatap Rin bingung. "Ini dimana? Apakah aku sudah mati?"
Shura tidak tahu dimana dia berada sekarang, tapi jika dia bisa melihat, memeluk dan berbicara dengan ibundanya seperti ini, kemungkinan hanyalah ini adalah alam baka—dia sudah mati di tangan para pengawal Shui.
Rin tidak menjawab pertanyaan Shura, dia hanya menatap putranya tersebut dalam diam.
"Maaf, aku tidak dapat menyelamatkan ayahanda..," perasaan bersalah memenuhi hati Shura. Jika dia sudah mati, maka dia tidak akan dapat menyelamatkan ayahandanya lagi. "Shura sangat lemah.."
Rin tetap tidak membalas ucapan Shura. Perlahan dia mengangkat tangan kanannya dan menyentil dahi putranya pelan.
Shura yang terkejut segera terdiam. Secara reflek, dia mengangkat kedua tangan menutup dahinya. Kedua mata emasnya terbelalak menatap sang ibu.
"Kau masih hidup, Shura," ujar Rin sambil tersenyum. "Kau sekarang hanya berada dalam perbatasan antara dunia kehidupan dan kematian—dalam dunia yang tercipta untukku karena sedang menunggu."
"Eh?" terkejut dan sekaligus bingung dengan jawaban yang ada, Shura kembali bertanya. "Bagaimana aku bisa berada di sini?"
__ADS_1
Rin tertawa mendengar pertanyaan Shura. Mengangkat tangan kanan membelai lembut pipi kiri putranya, dia tersenyum. "Kau bisa berada di sini adalah karena—kekuatanmu, Shura."
Kebingungan semakin memenuhi pikiran Shura. Dia sama sekali tidak mengerti maksud dari ucapan ibu kandungnya.
"Saat aku mengandungmu," lanjut Rin menjelaskan. Dia tahu, Shura dan semua yang ada, termasuk Sesshoumaru tidak pernah menyadari kekuatan yang tertidur dalam tubuh kecil ini. Putranya memiliki kekuatan yang tidak pernah terbayang oleh siapapun. "Aku bersatu dengan meido seki-sama, pusaka tanah barat."
"Meido seki-sama?" Shura semakin bingung dengan penjelasan Rin. Dia benar-benar tidak mengerti sedikitpun maksud ucapan sang ibu.
"Ya—meido seki-sama," Rin mengangguk kepala dan melanjutkan penjelasannya. "Karena itulah, saat kau lahir, tidak tahu bagaimana bisa, kau juga mewarisi sebagian besar kekuatan beliau."
"Kekuatan?"
Menatap Shura, dia tersenyum lembut. "Kau memiliki kekuatan sangat besar yang masih tertidur, Shura."
Kekuatan.
Shura hanya berpikir, jika ucapan ibundanya benar, jika dia memiliki kekuatan yang tertidur dalam dirinya, apakah dia akan dapat mengalahkan semua pengawal Shui yang menyerangnya?—apakah dia bisa selamat dari serangan yang terarah padanya? Kekuatannya—pedang, kah?
Tessaiga milik Ino no taisho dan bakusaiga milik Sesshoumaru. Shura melihat dengan jelas pedang milik kakek dan ayahndanya—kekuatan mereka yang luar biasa.
"Apakah aku juga memiliki pedang dalam diriku sendiri?"
Rin terdiam sejanak mendengar pertanyaan Shura. Menatap lekat putranya, dia kemudian tertawa dan menggeleng kepala. "Tidak. Kau tidak memiliki pedang dalam dirimu seperti ayahndamu."
"Ohh.." Menundukkan kepala ke bawah, ada perasaan kecewa dirasakan Shura. Dia tidak memiliki pedang sendiri, karena itu, dia berpikir alangkah bagusnya kalau kekuatan dalam dirinya adalah sebatang pedang seperti ayah kandungnya.
Mengerti perasaan Shura, Rin berhenti tertawa dan mengangkat tangan kanan menepuk pelan kepala putranya. "Kau tidak membutuhkan pedang, Shura. Karena kau sendiri bisa menciptakan pedang."
"Menciptakan pedang?" Shura merasa dari awal hingga sekarang, tidak ada satu katapun yang dia mengerti dari ucapan Rin.
"Kau akan mengerti dengan sendirinya nanti," Rin tersenyum. Menatap putranya penuh kasih sayang, dia kemudian berujar pelan. "Dan jangan khawatir, disini ibunda juga akan mengajarimu sebuah sesuatu, yakni—kekuatan ikatan."
"Kekuatan ikatan?"
Rin mengangguk kepala dengan senyum yang semakin melebar. Mendekatkan mulutnya ke telinga Shura, dia berbisik pelan.
Mata Shura terbelalak mendengar apa yang dibisikkan Rin. Menatap wajah cantik sang Ibu yang kemudian menjauh dari telinganya, dia terlihat tidak percaya. "Ibunda, itu sepertinya sesuatu mustahil."
Rin menggeleng kepala dan tertawa. "Cobalah, dan kau akan tahu itu bukan sesuatu yang mustahil, Shura."
Shura tidak menemukan kata untuk menyanggah ucapan Rin. Tapi, dalam hati, dia tetap merasa apa yang dikatakan ibunya barusan adalah sesuatu yang mustahil.
Rin kemudian berhenti tertawa. Menatap lekat penuh kasih sayang putranya, perlahan, dia kemudian menegakkan badan dan mengangkat kepalanya menatap langit biru di atas. "Waktumu disini hampir habis. Kau harus segera kembali ke duniamu, Shura."
Ucapan Rin kali ini membuat Shura tertegun. Diam membisu, kedua mata emasnya terbelalak menatap sang ibu. Kembali—kembali ke dunianya? Bukankah artinya dia tidak akan dapat melihat, memeluk dan berbicara lagi dengan beliau?
"I-ibunda," panggil Shura terbata-bata. Dia tidak mau berpisah dengan ibunya lagi—dia tidak mau kehilangan lagi. "Bisakah anda ikut denganku? Kita pulang bersama."
Rin tertawa kecil dan menggeleng kepala. Kesekian kalinya, tangannya kembali membelai lembut kepala Shura. "Hidup dan mati—dunia kita sudah berbeda, Shura."
"Kalau begitu, apakah aku bisa kemari lagi? Apakah aku bisa mengunjungimu lagi seperti ini lagi?"
"Kurasa tidak, Shura," jawab Rin pelan. Tangannya terus bergerak membelai kepala Shura seakan berusaha menenangkan kepanikan dalam hati sang anak. "Keberadaan ibunda sesungguhnya telah melanggar hukum kehidupan. Tempat ini adalah tempat yang tercipta untukku—tempat yang sessungguhnya mustahil bisa kau masuki."
Kehidupan dan kematian—dua dunia yang berbeda, terlebih lagi untuk Rin yang telah mengalami kematian tiga kali. Keberadaannya sekarang saja sebenarnya sudah merupakan sesuatu yang mustahil, dan juga, tempat mereka berada sesungguhnya adalah dunia yang diciptakan untuk dirinya yang sedang menunggu Sesshoumaru. Karena itulah pertemuannya dengan Shura adalah—keajaiban.
"I-ibunda," panggil Shura lagi. Suaranya bergetar dan air mata mulai menumpuk di mata. Ketakutan memenuhi wajahnya—dia takut kehilangan lagi. "A-aku.. Aku.."
Rin bisa melihat ketakutan di wajah Shura. Tersenyum, dia kemudian kembali membungkukkan badan dan mencium kening putranya. "Meski kau tidak bisa melihatku, aku selalu ada untukmu, petarung kecilku.."
Air mata tidak terhenti kembali mengalir turun menuruni pipi Shura. Di hadapan ketakutan kehilangan ibunya lagi, dia sama sekali tidak dapat mengendalikan dirinya.
"Jangan serakah, jangan berharap lebih dari apa yang telah kita dapatkan, karena kenyataan tetaplah kenyataan. Hidup dan mati, tidak ada yang dapat melawannya. Takdir sudah menakdirkan, karena itu, syukuri apa yang terjadi—pertemuan kita ini..."
Shura menutup mata dan menahan tangisnya yang pecah. Kata ibunya sangat menyakitkan, karena kata itu benar, kenyataan adalah kenyataan. Hanya saja, salahkah jika dia serahkah? Salahkah jika dia berharap lebih?—salahkan jika dia menginginkan ibunya selalu berada di sampingnya?
"Berjanjilah Shura," ujar Rin lagi melihat Shura yang menangis. Mengangkat jari kelingking tangan kanannya, dia tersenyum. "Berjanjilah bahwa kau akan hidup dengan baik."
Membuka mata, Shura menatap senyum Rin dengan hati yang hancur.
"Berjanjilah pada ibunda bahwa kau akan selalu bahagia—berjanjilah untuk satu-satunya harapan ibunda dalam hidupmu."
Harapan beliau—kebahagian dalam hidupnya. Shura tidak bisa berkata apa-apa lagi, cinta sang ibu untuknya, dia bisa merasakan. Hatinya terasa sangat sesak, semua hanya untuk dirinya—untuk kebahagiaan sang anak.
Perlahan, Shura kemudian mengangkat jari kelingking tangan kanannya mengait jari Rin. Mengangguk kepala, dia berusaha menahan tangisnya. "Shura berjanji, ibunda."
Senyum Rin semakin melebar, saat kaitan di jari mereka terlepas, dia kembali memeluk putranya erat. "Kau adalah permataku, Shura. Keajaiban nyata dalam keberadaanku, bukti cinta dalam hidupku..."
Shura mengangguk kepalanya dan membalas pelukan Rin. Membenamkan wajahnya di dada sang ibu, dia mengukir kehangatan yang dia rasakan dalam hatinya. Dia tahu sekarang bagaimana dia dicintai, dia juga tahu betapa berharganya dirinya dalam keberadaan wanita yang melahirkannya—dia tahu seperti apa ibundanya yang sebenarnya. "Shura selalu mencintai anda, Ibunda..."
Tertawa, Rin kemudian melepaskan pelukannya. "Ya, Ibunda tahu."
Pelukan yang terlepas, Shura merasa badannya seperti tertarik ke belakang. Tidak dapat menahan maupun mengotrol dirinya, dia jatuh ke belakanh dengan mata yang terus menatap wajah tersenyum ibunya.
"Ibunda akan selalu mencintaimu, Shura—selalu dan selamanya..."
Wajah sang ibu menghilang, Shura merasa badannya bagaikan jatuh ke dalam air. Lalu, sejenak kemudian cahaya putih memenuhi pandangannya.
"Kecil!!!"
"Shura!!!"
Suara teriakan Inuyasha dan Shiro menyadarkan Shura. Berdiri di tempatnya dengan posisi kedua tangan sebagai tameng, dia kembali menemukan dirinya berada di atas puncak gunung hare dengan para pengawal Shui yang melesat ke arahnya. Dia sudah kembali dan tidak ada sedetikpun waktu berlalu, seakan pertemuannya dengan ibundanya tidak pernah terjadi. Khayalannya sematakah? Namun, rasa hangat yang membekas dalam benaknya membuat dia tahu—itu bukan khayalan. Dia benar-benar telah bertemu dengan Rin, ibu kandungnya yang sangat mencintai dirinya.
Menatap tanpa takut musuh yang berada tepat di depannya dengan senjata terangkat tinggi, Shura teringat ucapan Rin.
'Kau memiliki kekuatan sangat besar yang masih tertidur, Shura.'
Kekuatan.
Shura mempercayai apa yang dikatakan Ibundanya kepadanya. Dia percaya, ada kekuatan yang tertidur dalam dirinya. Karena itu, saat ini, dia akan menggunakan kekuatan itu—dia akan membangkitkan kekuatannya.
Menutup mata, Shura menurunkan kedua tangannya. Dia membiarkan insting menuntun dirinya, membiarkan intuisi yang dirasakan mengambil alih, dan seketika dia merasakan—kekuatan yang terbangun. Membuka mata, Shura berteriak keras. "Ahhhhhhh!!!!"
Bersamaan dengan teriakan Shura, elemen angin, air, api, tanah, kayu, logam serta petir tiba-tiba muncul. Mengelilingi inuyoukai kecil tersebut, elemen-elemen tersebut bergabung dan membentuk sebuah dinding untuk melindunginya dari serangan yang ada.
__ADS_1
....xOxOx....