Till The End Of Time [ Inuyasha Fanfiction ]

Till The End Of Time [ Inuyasha Fanfiction ]
Chapter 88


__ADS_3

Dari jendela yang terbuka, suara tawa terdengar jelas. Dalam salah satu kamar di paviliun barat istana tanah barat, Sango dan Kaeda tersenyum menatap seorang gadis manusia yang duduk anggun dengan mengenakan furisode putih.


Rambut hitam panjang gadis itu disanggul dan tertata rapi. Wajahnya yang cantik di make up tipis bersemu merah dengan sepasang mata coklat jernih berbinar penuh kebahagiaan dan seulas senyum indah di wajah.


"Kau adalah pengantin tercantik yang pernah kulihat, Rin-chan." puji Sango pelan. Seorang wanita paling cantik pada hari pernikahannya, dan itu benar–Rin luar biasa cantik hari ini.


"Aku setuju," sambung Kaeda sambil mengangguk kepala. "Kau adalah pengantin tercantik yang pernah dilihat mata tuaku ini."


Semu merah di wajah Rin semakin memerah mendengar pujian Sango dan Kaeda. Tertunduk ke bawah, dia mati-matian menahan rasa malu yang memenuhi hatinya.


"Rin-sama," panggil Rei dan Rika, youkai rubah yang bertugas melayani Rin sejak kecil sambil tersenyum. "Sudah hampir waktunya."


Di tangan Rei dan Rika, mereka memegang sehelai uchikake berwarna putih. Melihat Rin berdiri, tidak membuang waktu, kedua youkai rubah itu segera memakaikannya pada gadis manusia tersebut.


Sango dan Kaeda mau tidak mau menahan napas melihat shiromuku yang dikenakan Rin. Mereka sudah mendengar bahwa baju itu dibuat oleh Onigumo sang pemintal benang yang terkenal akan karyanya, dan itu benar–baju pengantin Rin adalah baju pengantin terindah yang pernah dilihat mereka.


Berwarna putih yang sangat murni dan polos, berpuluh-puluh burung jenjang putih yang dipercaya mengundang keberuntungan tersulam indah. Mereka tidak tahu dari benang dan dengan teknik apa burung jenjang itu disulam, tapi burung-burung itu bagaikan hidup.


Di jepang, mungkin shiromuku yang dikenakan Rin adalah yang terindah. Sesshoumaru benar-benar menyiapkan segala yang terbaik untuk gadis manusia yang akan menjadi istrinya hari ini.


Kaeda menatap Rin penuh senyum dan bergerak mendekati gadis itu. Kedua tangannya kemudian mengangkat wata boushi yang diberikan Rei padanya. Perlahan, dia menutupi wajah gadis yang tersenyum penuh kehangatan padanya.


Kaeda tidak memiliki keturunan, dan walau singkat, hari-hari yang dilaluinya bersama Rin saat gadis itu dititipkan padanya semasa kecil–miko tua itu selalu menganggap gadis cantik itu adalah cucu perempuannya.


"Kau harus bahagia, Rin." Ujar Kaeda pelan. Air mata menumpuk di mata tuanya.


Ada perasaan haru tidak terbendung dirasakan Kaeda. Gadis kecil yang dulu dikhawatirkannya, kini sudah dewasa. Gadis itu akan menikah dengan pria yang selalu dicintainya,  walau, ya–meski pria itu adalah seorang daiyoukai.


Rin mengangguk kepala mendengar ucapan serta melihat ekspresi wajah Kaeda. Kedua tangan mungilnya perlahan terangkat dan mengenggam tangan miko tua itu. Seulas senyum kembali mengembang di wajahnya. "Rin akan selalu bahagia, Nenek Kaeda."


"Bagus kalau begitu." Tawa Kaeda kemudian dan menutup mata. Di hari yang bahagia ini, dirinya tidak ingin meneteskan air mata. Kebahagiaan Rin, Kaeda sebenarnya sangat yakin, suami gadis yang sudah bagaikan cucunya sanggup membahagiakan gadis ini, meski dia adalah seorang daiyoukai.


"Rin-chan," panggil Sango kemudian sambil tersenyum. Dia menyerahkan sebuah kipas putih kepada Rin. "Aku mendoakan yang terbaik untukmu, dan aku yakin Sesshoumaru-san sanggup membahagiakanmu untuk selamanya."


Lamaran dan kimono sesuai tradisi manusia, lalu sekarang, pesta pernikahan yang juga sesuai tradisi manusia serta shiromuku terindah, Sesshoumaru yang membenci manusia bersedia melakukan itu semua untuk Rin. Apa arti gadis manusia itu dalam hati inuyoukai itu?–semua terlihat jelas.


Rin tertawa kecil mendengar ucapan Sango. Menerima kipas itu, dia sekali lagi mengangguk kepala. "Iya, terima kasih Sango-sama."


Rin tidak mengatakan apa-apa lagi, berdiri diam sambil mengenggam erat kipas di tangan, dia membiarkan Rei dan Rika merapikan pakaiannya. Senyum tidak berhenti memenuhi wajah cantiknya, dan perlahan dia menutup sepasang mata coklatnya. Sampai detik ini juga, sebenarnya, dia masih tidak yakin, ini nyata atau hanyalah mimpinya semata.


Mencintai Sesshoumaru bagi Rin sama halnya seperti bernapas, sesuatu yang melekat dalam dirinya sejak di mana dia membuka mata setelah mati di taring serigala. Tapi, dicintai Sesshoumaru, Rin tidak pernah membayangkan akan menjadi kenyataan.


Dia memang pernah mengharapkan inuyoukai itu juga mencintainya, tapi, dia kemudian juga sadar Sesshoumaru adalah daiyoukai yang memiliki segalanya, sedangkan dirinya hanyalah seorang gadis manusia tanpa apapun. Sisi apa dari dirinya yang akan dicintai inuyoukai itu darinya?


Karena itu, dia memutuskan untuk selalu berada di samping inuyoukai itu, tanpa dicintai juga tidak apa-apa. Dia sudah cukup jika selalu dapat melihatnya.


Lalu, tiba-tiba–Sesshoumaru melamarnya. Inuyoukai itu menginginkannya, menginginkan dia yang seorang manusia menjadi kisakinya–menjadi pasangan sahnya.


Betapa bahagia dan takutnya dia. Bahagia karena bisa bersama dan takut jika ini semua hanyalah mimpi. Dari hari di mana Sesshoumaru melamar dan menciumnya hingga hari ini, dimana merupakan hari pernikahan mereka–kenyataan dan mimpi yang bersatu.


Jikalau ini memang mimpi, maka, Rin ingin selalu berada dalam mimpi ini. Biarkanlah mimpi ini menjadi mimpi panjang dan indah dimana dirinya tidak akan terbangun untuk selamanya.


"Mari, Rin-chan," suara pelan Sango kemudian menyadarkan Rin dari pikirannya. "Waktunya sudah tiba."


Membuka mata coklat jernihnya, Rin bisa melihat Rei dan Rika yang tidak tahu sejak kapan telah berjalan ke arah pintu keluar dan membuka pintu shoji yang tertutup rapat dengan perlahan.


Mengulurkan tangan, Kaeda menatap Rin lembut. "Ayo, Rin-chan."


Tersenyum sekali lagi, Rin menerima uluran tangan miko tua itu. Perlahan, kakinya melangkah menuju pintu yang terbuka lebar untuknya.


Yang pertama kali dilihat Rin adalah langit biru yang cerah dan angin yang bertiup lembut. Bendera berlambang kebesaran barat berwarna merah terpasang memenuhi sekeliling paviliun tempatnya berada, bunga-bunga yang bermekaran dan orang-orang dekatnya yang terpesona melihat sang pengantin wanita.


"Rin-chan, kau cantik sekali.." Puji Maya yang mengenakan baju miko tidak percaya.


"Kau benar-benar seperti putri di dunia dongeng, Rin-chan." Tambah Aya yang ada di samping Maya. Dia juga menggunakan baju miko.


"Rin-chan!! Menikah saja denganku!!" teriak Mamoru yang berada dalam gendongan Miroku sambil menangis. Dia masih belum bisa menerima bahwa Rin yang selalu disukainya akan menikah dengan Sesshoumaru yang ditakutinya hari ini.

__ADS_1


"Mamoru, ayah tidak akan menolongmu jika suami Rin-chan datang mencarimu, nanti." Tawa Miroku melihat sikap putra kandungnya itu. Menepuk-nepuk punggung kecil itu, dia tersenyum. "Daripada Rin-chan, bagaimana kalau kelak kau menikahi putri Rin-chan saja? Dia pasti tidak kalah cantiknya dari Rin-chan."


"Putri Rin-chan?" tanya Mamoru. Tangis di wajahnya langsung berhenti. Kedua matanya menatap lekat Miroku yang tersenyum.


"Kau yakin ingin menjadi besan Sesshoumaru, Miroku?" tanya Shipo yang ada di samping Miroku tidak percaya.


Pertanyaan Shippo seketika membuat Miroku yang tadinya bercanda langsung berkeringat dingin. Apa yang barusan dikatakannya, berbesan dengan Sesshoumaru? Apakah dia ingin garis keturunan keluarganya berakhir pada generasi Mamoru?


"Baiklah, Ayah," setuju Mamoru tiba-tiba tidak mempedulikan wajah Miroku yang memucat. "Mamoru akan menikahi putri Rin-chan saja kelak. Dia pasti juga akan sangat cantik seperti Rin-chan!"


"M-mamoru, dengan ucapan ayah dulu.." Jelas Miroku panik. Kesalahan apa yang telah dia lakukan hari ini? Dia harus menghapus niat putranya yang akan menjadi akhir garis keluarganya sebelum terjadi.


Kohaku yang dari tadi berada di samping Miroku, sama sekali tidak mendengarkan sedikitpun pembicaraan ayah-anak Miroku dan Mamoru. Seluruh perhatian taijiya muda itu terpusat pada sosok pengantin wanita yang tertunduk malu dengan seulas senyum di wajah.


Betapa cantik Rin hari ini, Kohaku tidak dapat menggambarkannya. Tidak pernah berubah, gadis itu selalu saja seperti itu–cantik dan begitu bersinar di matanya.


Ada rasa sakit dirasakan Kohaku. Dulu, dia sering berpikir, seperti apa Rin saat dia menggunakan Shiromuku pada hari pernikahannya–gadis itu pasti sangat cantik. Namun, sayang sekali, dia tidak menggenakan shiromuku untuknya; Rin mengenakannya untuk pria lain.


Putri dalam dongeng, kata Aya benar. Gadis itu memanglah putri dalam dongeng yang selalu cantik, dan dia–bukanlah pangerannya.


Mereka berbeda, sejak awal hingga akhir, Kohaku tahu, gadis itu selalu berada diluar jangkauannya. Tidak peduli seberapa keras dia berusaha, dia tidak akan dapat mengapainya.


"Rin-sama," suara pelan Kiri tiba-tiba terdengar, membuat Kohaku tersadar dari lamunannya. Seulas senyum bahagia memenuhi wajah cantik inuyoukai itu."Anda cantik sekali."


Kira yang ada di samping Kiri mengangguk kepala menyetujuhi ucapan saudari kembarnya. Seulas senyum lembut juga memenuhi wajah tampannya, dan sepasang mata emasnya menatap lembut gadis manusia itu.


"Sesshoumaru beruntung sekali memiliki istri secantik ini!!" tawa Kenji keras, dia menepuk-nepuk pundak Kohaku yang memang ada di sampingnya. "Kurasa Taisho juga tertawa di alam sana karena mendapatkan menantu secantikmu, Rin-rin."


"I-iya," tawa Kohaku kemudian, seulas senyum mengbang di wajahnya. Dia tidak datang untuk mengacaukan acara, dia datang dengam tulus mendoakan kebahagiaan gadis yang dicintainya. "Kau sangat cantik Rin."


"Terima kasih, semuanya" Balas Rin sambil tertawa kecil. Kedua mata coklat jernihnya berbinar bahagia.


Orang-orang di dekatnya, Rin menatap sekeliling, dari Kaeda, keluarga Miroku dan Sango, Kohaku dan Shippo, Kiri dan Kira, Kenji dan–


"Jaken-sama, Ah-un..."


"Jaken-sama, Ah-un, kenapa kalian ada di sini? Bukankah kalian seharusnya berada dalam rombongan Sesshoumaru-sama?" tanya Rin saat kedua youkai itu tiba di depannya.


"A-aku yang merawatmu sejak kecil, jadi menurutku aku memang seharusnya berada dalam rombongan anda ini, Rin-sama, begitu juga dengan Ah-un." Jawab Jaken sedikit gugup. Dia membuang muka tidak  menatap Rin.


Jaken memang sejak awal sudah berencana mengikuti rombongan Rin. Dia pasti akan langsung ditendang Sesshoumaru jika berjalan dalam rombongan penguasa tanah barat tersebut.


Ucapan Jaken membuat mata Rin terbelalak, berlutut ke bawah, dia tiba-tiba memeluk youkai katak itu erat. Air mata kebahagiaan mengalir menuruni pipinya. "Terima kasih, Jaken-sama. Terima kasih ada bersama Rin pada hari ini."


Jaken selalu memiliki posisi yang spesial dalam hati Rin. Memang mulutnya kasar dan selalu sombong, tapi, youkai katak inilah yang selalu menemaninya dulu saat dirinya kecil mengembara bersama Sesshoumaru. Mencari makanan, bercerita dan menjaganya walau selalu gagal–Jaken adalah salah satu orang yang selalu ada untuknya.


Pelukan dan isak tangis kebahagiaan Rin membuat Jaken yang tadinya gugup menutup mata dan mau tidak mau–ikut menangis.


Hari ini, melihat gadis kecil yang selalu mengikutinya tumbuh dewasa dan menikah, Jaken dalam hati, sesungguhnya merasa sangat terharu. Gadis polos yang selalu mempercayai setiap ucapannya saat tidak ada yang percaya–jauh dalam hati, dia selalu menganggap gadis itu keluarganya.


Ah-un yang melihat tangis Rin dan Jaken menurunkan kedua kepala dan menempelkannya pada kepala Rin. Kedua mata mereka tertutup, ringkihan kecil keluar dari mulutnya.


Rin tertawa dalam tangis kebahagiaannya. Dia kemudian melepaskan tangannya yang memeluk Jaken dan menyentuh kepala Ah-un pelan. "Terima kasih, Ah-un. Terima kasih ada untuk Rin."


Ah-un adalah salah satu penjaganya. Menemani dan membiarkan dirinya duduk di atas pungung saat dia kelelahan, serta kadang menghangatkannya dalam malam yang dingin. Bagi Rin, seperti Jaken, naga berkepala dua itu juga merupakan sosok yang tidak tergantikan. Mereka berdua adalah bagian dari kepingan kebahagiaan masa kecilnya yang penuh kebahagiaan.


Semua yang ada menatap apa yang terjadi dan tersenyum kecil. Ada rasa haru yang mereka rasakan. Dalam tanah barat yang besar dan penuh kejayaan, sosok Jaken dan Ah-un tidaklah ada artinya. Mereka adalah youkai rendahan dan lemah, tapi tidak untuk gadis manusia yang akan menjadi kisaki barat, mereka adalah sosok yang tidak tergantikan.


"Sudah, sudah," ujar Keeda kemudian. Senyum menghiasi wajahnya. "Jangan menangis lagi, Rin. Di hari kebahagiaanmu ini, kau harus selalu tersenyum."


"Benar," setuju Kenji sambil tertawa. Dia berjalan mendekati Rin dan mengulurkan tangannya. "Waktu kita juga sudah tidak banyak lagi. Jangan membiarkan Sesshoumaru dan yang lainnya menunggu terlalu lama."


Ucapan Kenji seketika kembali membuat Rin tersadar. Menerima uluran tangan Kenji dia kemudian berdiri. Menatap Kenji, mata coklat jernihnya kemudian berpindah pada Jaken dan Ah-un yang menemaninya mengembara semasa kecil. Kepada Kaeda, Sango, Miroku dan anak-anak yang menemaninya di desa manusia. Untuk Kohaku dan Shippo teman saat kecil. Kira dan Kiri yang menjaganya, serta Rei dan Rika yang selalu merawatnya. Perlahan dia tertawa bahagia–tawa terindahnya.


Rasa haru dan bahagia yang menjadi satu. Perasaan tercukupi yang meluap-luap dalam hati. Berapa tahun telah berlalu, hari demi hari, musim demi musim, dalam kehidupan baru yang didapatkannya, ternyata gadis sebatang kara yang tidak memiliki apa-apa, bisu dan kekurangan gizi, dibenci dan dijauhi semua orang, tidak tahu sejak kapan, dia telah kembali memilikinya–keluarga hangat yang selalu mencintainya.


....xOxOx....

__ADS_1


Kagome bisa mendengar suara bunyi lonceng, dan dia juga bisa melihat dari kejauhan, rombongan yang berjalan mendekati tempatnya berada dengan perlahan dari depan.


Sama halnya rombongan Sesshoumaru, rombongan itu juga dikawal di sisi kanan-kiri oleh dua puluh youkai prajurit barat yang mengenakan baju jirah dan membawa bendera kebesaran barat.


Di tengahnya, Aya dan Maya yang mengenakan baju miko tersenyum lebar dan berjalan pelan di barisan terdepan rombongan. Kedua tangan mereka membawa lonceng, dan lonceng itu berbunyi nyaring di setiap  langkah yang ada.


Di barisan kedua, dia melihat Jaken yang terus menangis dan menghapus air mata sambil memegang tali kekang Ah-un.


Sebuah tandu besar yang diangkat oleh empat inuyoukai berada di belakang kedua youkai itu. Kiri dan Kira serta dua youkai rubah wanita berjalan di sisi kanan dan kiri tandu. Lalu, dibelakang tandu, dia juga bisa melihat, Miroku, Sango, Mamoru, Kaeda, Kenji, Kohaku dan Shippo berjalan dengan wajah penuh senyum.


Perlahan, mata Kagome kembali tertuju pada tandu besar yang ada. Tandu itu sangat besar dan juga tinggi. Dengan kayu jati yang dicat merah tanpa atap, keempat sisinya hanya tertutupi kain sutra berwarna putih berlambang barat yang sangat mencolok karena berwarna merah.


Angin bertiup lembut, menerbangkan kain sutra itu, membuat siapapun yang ada dapat melihat siluet seorang gadis berkimono putih yang duduk dengan anggun di dalam tandu. Tidak terlihat jelas, namun cukup membuat semua orang penasaran.


Perlahan, kedua mata Kagome terarah pada Sesshoumaru yang berada di depannya dan tersenyum. Dia tidak bisa melihat ekspresi wajah kakak suaminya itu, karena dia hanya bisa melihat punggungnya, karena itu dia berpikir, apa yang ada dalam pikiran  inuyoukai tersebut sekarang?


Sesshoumaru tidak bergerak, di setiap langkah rombongan yang mendekatinya, hanya tandu putih itu yang ada dalam mata emasnya. Dari dalam tandu yang tertutup kain putih, dia bisa melihat jelas, siluet gadis manusia yang ada di dalam.


Gadis kecil yang tersenyum dengan wajah penuh luka padanya tanpa takut, gadis kecil yang dihidupinya, gadis kecil yang mengikuti dan dilindunginya–gadis kecil yang dibesarkannya. Sesshoumaru tidak pernah menyangka, bahwa gadis yang diselamatkannya itulah yang ternyata akan menjadi satu-satunya yang dicintainya.


Perasaan hangat memenuhi hati–kebahagiaan. Perasaan yang sangat menyenangkan, lebih dari puas dari pada saat dia mengalahkan musuhnya, lebih membanggakan daripada saat dia memakmurkan barat, lebih dari segala yang dirasakannya. Kebahagiaan yang tidak pernah disangkanya ada–kebahagiaan yang diajarkan dan diberikan oleh gadis manusia itu padanya.


Mencintai dan dicintai, dua perasaan yang sama bersatu. Hidup yang penuh dengan perasaan itu, betapa bahagianya. Tidak akan adalagi kegelapan. Dunia akan selalu terang penuh cahaya indah, seperti musim semi yang penuh dengan jutaan warna indah, senyum dan tawa, hangat dan menyenangkan.


Karena itu, dunia boleh mentertawakannya, para youkai boleh membicarakannya–kisah tentang seorang daiyoukai yang mencintai seorang gadis manusia. Dari semua yang ada, dia memilih seorang manusia yang lemah. Tapi, dia tidak akan pernah menyesal walau apapun yang terjadi, sebab keputusannya ini adalah keputusan paling benar yang pernah dibuatnya.


Aya dan Maya kemudian berhenti dan memisahkan diri untuk membuka jalan bagi Sesshoumaru saat tiba tidak jauh di depan inuyoukai itu, begitu juga dengan Jaken dan Ah-un.


Melangkah maju dengan pelan, langkah kaki Sesshoumaru tegap dan tegas. Wajahnya tetap datar tidak berekspresi, tapi sepasang matanya berbinar dan bersinar indah dalam timpahan cahaya matahari.


Para perajurit yang mengangkat tandu dengan pelan menurunkan tandu itu. Rei dan Rika yang ada di samping dengan segera maju dan membuka tirai kain yang menutupi gadis dalam tandu.


Tirai yang terbuka perlahan, langit biru yang cerah, angin yang berhembus lembut dan membawa kelopak bunga sakura yang jatuh ke bawah. Sesshoumaru melihat gadis manusia yang duduk anggun mengenakan shiromuku menengadah kepala menatapnya.


Kulit putih seperti salju dengan muka yang mungil. Alis yang tumbuh rapi dengan hidung yang mancung serta bulu mata panjang lentik membingkai bola mata coklat yang jernih penuh kehangatan. Pipi yang bersemu merah seperti mawar, dan seulas senyum–senyum musim semi abadi yang dicintainya.


Jantung Sesshoumaru berdetak kencang, mata emasnya terbelalak.  Gadis manusia dalam balutan shiromuku merebut perhatiannya. Di hadapan begitu banyak orang, dia tidak bisa melihat apa-apa kecuali gadis itu.


Betapa cantik gadis manusia itu hari ini. Dia mengenakan pakaian serba putih, namun, dalam mata emasnya, gadis itu memancarkan segala warna. Begitu indah dan murni tanpa kecacatan, sempurna sesempurna yang bisa dalam dunia–pengantin wanitanya; pengantin Seshoumaru sang penguasa tanah barat.


"Rin..." Panggil Sesshoumaru pelan. Perlahan, Sesshoumaru mengulurkan tangan kanannya pada Rin.


Tangan yang terulur dengan mata emas yang menatapnya lekat namun lembut. Rin menatap Sesshoumaru. Dalam balutan kimono dan haori hitam seorang pengatin pria, betapa tampan inuyoukai yang selalu dicintainya.


Penyelamat dalam kelam hidupnya. Dia yang memberikannya kehidupan, memberikan dia kehangatan, memberikan dia keluarga– memberikan dia segala yang dimilikinya. Lalu, dalam segala yang diberikan padanya, inuyoukai itu tidak pernah mengharapkan apapun darinya, dan Rin juga sadar, dia tidak memiliki apapun yang dapat diberikannya, kecuali satu, yakni; cintanya.


Dicintai seseorang itu sangat menyenangkan, dicintai seseorang itu sangat membahagiakan. Karena itulah, untuk cintanya yang besar dan dalam, untuk cinta yang tidak akan pernah berubah walau apapun yang terjadi, dia akan mencintai inuyoukai ini melebihi segenap raga dan jiwanya tidak mempedulikan waktu–dia memberikan cinta abadi seperti itu padanya.


Menggerakkan tangan kirinya perlahan, Rin menerima uluran tangan Sesshoumaru. Dengan bola mata jernihnya yang berbinar penuh kebahagiaan, senyum di wajahnya semakin melebar.


Rasa hangat dirasakan mereka saat kulit mereka saling bersentuhan. Betapa benar sentuhan ini, dan mungkin memang sejak awal, tangan mereka harus seperti ini, saling tertaut dan tidak terlepaskan–selamanya.


Bangkit berdiri, tanpa mengatakan apa-apa, Rin membiarkan Sesshoumaru menuntunnya keluar dari tandu. Bersamaan tanpa melepaskan tangan yang tertaut, mereka berdua melangkah maju dengan pelan menyosong masa depan bersama.


Rei dengan segera maju dan berdiri dibelakang Rin dan membuka sebuah payung besar, menghindari pengantin wanita dari sinar matahari.


Aya dan Maya kembali ke posisi awal mereka, melangkah maju dan suara lonceng di tangan mereka kembali terdengar memecahkan keheningan yang ada.


Jaken dan Ah-un tidak bergerak, mereka menatap sosok daiyoukai penguasa tanah barat dan pengantin wanitanya dalam diam. Tapi, air mata tidak berhenti mengalir dari mata Jaken. Melihat senyum di wajah Rin serta lembutnya mata Sesshoumaru, dia ikut berbahagia.


Kedua rombongan yang berhenti kembali berjalan dengan perlahan. Dengan Aya dan Maya di barisan terdepan yang membuka jalan, kedua pengantin di tengah barisan serta keluarga kedua pihak dibelakang–rombongan yang telah lengkap melangkah menuju tempat pemberkatan.


Semua yang ada di belakang menatap punggung Sesshoumaru dan Rin, lalu, pandangan mereka kemudian jatuh pada tangan mereka yang tertaut.


Hitam dan putih, youkai dan manusia, kuat dan lemah, gelap dan cahaya, tapi–mereka begitu serasi. Tidak ada paksaan tanpa kecacatan, berpadu dan melebur menjadi satu–mereka benar-benar diciptakan untuk bersama.


Siapa yang pernah menyangka Sesshoumaru pada akhirnya benar-benar menikahi Rin? Siapa yang menyangka mereka akan bersama? Apa yang akan terjadi kelak? Masa depan itu tidak ada yang tahu, karena itu, semua yang ada berdoa dengam tulus dalam hati; kebahagiaan untuk kedua pengantin itu abadi selamanya.

__ADS_1


....xOxOx....


__ADS_2