Till The End Of Time [ Inuyasha Fanfiction ]

Till The End Of Time [ Inuyasha Fanfiction ]
Chapter 45


__ADS_3

Sesshoumaru meneruskan membaca gulungan-gulungan di atas mejanya. Telinganya menangkap jelas suara tawa serta alat musik pesta yang diadakan di taman Paviliun Timur istana Tanah Barat, namun yang paling penting, meski dalam aneka ragam suara tersebut dirinya masih bisa mendengar jelas suara tawa dentingan lonceng yang disukainya; Rin.


Permintaan dari seluruh penghuni Istana Tanah Barat padanya untuk mengadakan pesta ulang tahun Rin sebenarnya mengejutkan sekaligus tidak bagi Sesshoumaru. Dirinya tidak menyangka mereka semua dengan sendirinya bersedia berlutut dan memohon demi merayakan pesta ulang tahun gadis manusia itu. Namun, jika menilai betapa mereka semua memuja dan menyayangi Rin, yang mereka lakukan sebenarnya bukanlah sesuatu yang tidak masuk akal.


Aura serta bau yang sangat dikenalnya tiba-tiba bergerak dengan cepat mendekati ruang kerjanya, namun, Sesshoumaru tetap saja tidak bergeming sedikitpun. Dirinya hanya bisa berpikir, apalagi yang diinginkan Inukimi, inuyoukai yang melahirkannya sekarang.


"Sesshoumaru!" teriak Inukimi keras sambil membuka pintu shoji ruang kerja Sesshoumaru.


"Apa lagi yang kau inginkan sekarang, Ibunda?" meski bertanya, Sesshoumaru tidak menolehkan wajahnya sedikitpun pada Inukimi. Dia bisa merasakan jelas ada sesuatu yang menganggu dan membuat Ibundanya kesal, namun, dia mengabaikannya.


Berjalan mendekati Sesshoumaru, kedua telapak tangannya langsung memukul meja kerja putranya hingga patah menjadi dua. Gulungan-gulungan yang ada jatuh berserakan ke atas lantai, kecuali gulungan yang masih ada di tangan Sesshoumaru. "Apa yang kau berikan sebagai hadiah pada Rin-kecil?!"


Sesshoumaru mengangkat wajah menatap Inukimi yang kedua mata emasnya kini telah berubah menjadi merah darah, tanda dia sedang menahan emosi. Dan meski, wajah Sesshoumaru terlihat tenang seakan tidak peduli, dia juga sedang menahan emosi. Andaikan saja Inukimi bukanlah wanita yang melahirkannya, dia pasti sudah membunuhnya. Dirinya tidak pernah habis berpikir, bagaimana mungkin wanita yang emosinya selalu meledak-ledak dan suka seenaknya ini merupakan ibu kandungnya.


"Apa yang kau berikan pada Putriku sebagai hadiah ulang tahun, Sesshoumaru!?" tanya Inukimi lagi.


"Kenapa kau peduli, Ibunda?" jawab Sesshoumaru dengan sebuah pertanyaan yang membuat Inukimi tertegun.


Kemarahan segera menghilang dari wajah Inukimi, begitu juga mata merah darahnya yang kembali menjadi emas. Mengandahkan wajah ke atas dia menutup mata dan menarik napas. "Putra Taisho dan Miko aneh menghadiahkan Rin-kecil kipas Izayoi. Si monyet keparat menghadiakannya Shamisen ilusi. Biksu mesum dan Taijiya bodoh tasbih buatan sendiri. Kiri dan Kira; pedang pendek dari taring mereka, lalu, para pelayan dan prajurit; pesta. Rin-kecil terlihat jelas sekali sangat menyukainya, dia bahkan meneteskan air mata kebahagiaan, karena itu..."


Sesshoumaru tetap diam tidak mengatakan apa-apa. Namun sepertinya, dia sudah mulai bisa menebak apa maksud Inukimi sekarang. Berabad-abad menjadi anak Inukimi, setidaknya telah membuatnya bisa menebak sedikit pikiran Ibundanya.


Membuka matanya lagi, mata emas Inukimi kembali menjadi merah darah. "Berani sekali mereka! Bukan hadiah mereka! Tapi hadiahkulah yang akan menjadi hadiah terbagus, terindah dan tidak terlupakan oleh Rin-kecil! Bukan hadiah siapapun! Hadiah dariku sebagai Ibundanya!"


Sesshoumaru menurunkan pandangannya dari Inukimi kembali pada gulungan yang ada ditangan. Dia tidak mau melayaninya sekarang, sebab itu semua selamanya hanya membuang waktu.


Kesal dengan sikap Sesshoumaru, Inukimi merampas paksa gulungan yang dibaca Sesshoumaru dan melemparkannya ke dinding. "Jangan mengabaikanku, anak kurang ajar!"


Perlakuan Inukimi membuat kesabaran Sesshoumaru hampir menghilang. Mata emasnya berubah menjadi merah darah membalas tatapan Inukimi yang juga berwarna sama. "Jangan mengira karena Ibunda adalah wanita yang melahirkan Sesshoumaru ini, Ibunda bisa bersikap seenaknya!"


Inukimi tidak takut sedikitpun dengan kemarahan Sesshoumaru walau dia tahu, putranya itu serius. Pertemuan hari ini, mungkin saja akan berakhir dengan pertarungan sengit antara mereka berdua. Sesshoumaru pasti tidak akan ragu sedikitpun untuk mencabut pedangnya yang ada terletak di meja belakangnya; Bakusaiga dan juga Tessaiga.


Tessaiga.


Melihat pedang tersebut. Ekspresi kemarahan di wajah Inukimi segera menghilang. Mata merah darahnya dengan segera berubah lagi menjadi emas. Menatap pedang tersebut, kepalanya terus memikirkan sesuatu, dan seketika juga sebuah senyum lebar melintas di wajahnya.


Ekspresi dan juga mata Sesshoumaru kembali seperti semula saat melihat perubahan sikap dan ekspresi wajah inukimi. Tidak mempedulikan Sesshoumaru sedikit pun, Inukimi tiba-tiba mengadah kepala ke atas dan tertawa terbahak-bahak. "Aku tahu! Hadiahku! Aku tahu hadiah apa yang harus kuberikan pada Putriku!"


Sesshoumaru tetap diam membisu tidak peduli, hingga Inukimi kembali menatap wajahnya sambil tersenyum puas penuh kemenangan. "Hadiahkulah yang akan menjadi hadiah paling berharga dan terluar biasa Rin-kecil, Sesshoumaru."


Meski penasaran, Sesshoumaru sadar, Ibundanya adalah seorang yang memiliki pemikiran aneh serta tidak konsisten, jadi, dia tidak bersedia menebak apa yang mungkin sedang terlintas dalam pikirannya.

__ADS_1


Tidak mempedulikan Sesshoumaru sedikit pun, Inukimi membalikan badan dan berjalan keluar meninggalkan ruang kerja putranya penuh kepuasan sambil tertawa keras. "Hadiah yang tidak terlupakan! Hadiah yang pasti akan disukainya melebihi hadiah siapapun! Hadiah termewah di dunia untuk Putri kecilku!"


Sepeninggalan Inukimi, Sesshoumaru hanya bisa mengembalikan pandangannya pada meja yang patah, gulungan-gulungan yang berserakan hingga akhirrnya pada gulungan yang tadi dibacanya. Menutup mata, dia kemudian bangkit dari kursi menuju gulungan tersebut. Membungkukkan badan, dia mengangkat gulungan tersebut.


Apa yang kau berikan sebagai hadiah pada Rin kecil?!


Pertanyaan yang ditanyakan Inukimi terlintas dalam kepala Sesshoumaru dan membuatnya tertegun sejenak. Hadiah—hadiah untuk Rin.


Menatap kembali sejenak gulungan ditangannya-gulungan tentang obat-obatan yang memiliki kemungkinan merupakan ramuan keabadian, Sesshoumaru kemudian bangkit dan berjalan kembali ke mejanya. Mata emasnya menatap gulungan-gulungan yang berserakan di lantai-semua gulungan mengenai kehidupan abadi yang telah dikumpulkannya selama bertahun-tahun.


Um, Rin berpikir Sesshoumaru-sama. Jika Rin mati suatu hari nanti, apakah anda akan selalu mengingat Rin?


Pertanyaan Rin saat kecil dulu dijawabnya dengan sebuah jawaban; 'Jangan menanyakan sesuatu yang tidak ada artinya.' Hanya saja, sesungguhnya, jawaban itu meluncur keluar karena dia tidak memiliki jawaban. Dirinya saat itu tidak mau memikirkan jawaban itu, sebab ada sebuah perasaan aneh yang tidak disukainya terasa jika dia melakukannya. Dan juga, betapa naifnya dia saat itu, melihat Rin saat itu, dia berpikir, Rin masih kecil, mereka masih memiliki waktu yang sangat panjang dalam keberadaan mereka; mereka masih akan bersama seperti yang selalu diucapkan gadis manusia itu.


Selamanya bersama.


Ya. Dia naif saat itu. Sesshoumaru mengakuinya sekarang. Manusia dan Youkai. Bersama Rin, dia tidak pernah merasakan sedikit pun kenyataan itu. Melihat Rin, dia bukanlah melihat seorang manusia, tapi Rin. Begitu juga bagi Rin, mata coklat yang melihatnya selalu melihatnya sebagai Sesshoumaru bukan seorang youkai Penguasa Tanah Barat yang berkuasa. Baginya, Rin adalah Rin dan bagi Rin Sesshoumaru adalah Sesshoumaru, bukanlah youkai dan manusia. Karena itulah, dia lupa terhadap kenyataan antara mereka yang tidak akan pernah berubah, yakni; Rin yang akan menua, sakit dan kemudian mati. Selamanya bersama antara mereka adalah sebuah hal yang mustahil.


Bisakah dia menerimanya? Menutup matanya, Sesshoumaru untuk pertama kalinya memikirkan, dan dia kembali merasakan perasaan yang tidak enak tersebut, perasaan yang harus diakuinya; takut. Akan seperti apa dunianya tanpa keberadaan Rin? Tanpa senyum lembut, tanpa suara tawa, tanpa kehangatan, tanpa gadis yang mengklaim akan selalu mencintainya.


Lebih tinggi dari langit, lebih dalam dari laut, lebih besar dari pada dunia, lebih dari hidup Rin sendiri. Lebih dari segala-galanya, sebesar itulah cinta Rin untuk Sesshoumaru-sama.


Pengakuan cinta Rin kecil dulu terlintas dalam pikiran Sesshoumaru, membuat seluruh hatinya terasa sangat hangat. Cinta. Mencintainya. Untuk dirinya yang merupakan seorang youkai yang selalu ditakuti, Sesshoumaru tidak pernah mengerti. Kenapa Rin bersedia mencintainya? Dan yang paling penting, cinta yang merupakan sesuatu yang tidak penting, Kenapa dia tidak keberatan dicintai? Kenpa dia selalu mempunyai keinginan agar gadis itu selalu berada di sisinya, tertawa dan tersenyum untuknya; hanya mencintai dirinya seorang saja.


Tenggelam dalam pikirannya, hidung Sesshoumaru menangkap bau musim semi yang mendekat ke arah ruang kerjanya. Suara langkah kaki yang pelan terdengar, dan tanpa diberitahu pun, dia tahu siapa itu.


"Sesshoumaru-sama, boleh Rin masuk." Suara lembut bagaikan denting lonceng terdengar.


"Hn"


Membuka pintu, Rin berjalan memasuki ruangan kerja Sesshoumaru, senyum lebar memenuhi wajahnya. "Sesshouma—" panggilan Rin segera terhenti, terkejut saat dia melihat meja kerja serta gulungan yang berserakan.


Menyadari apa yang membuat Rin terkejut, Sesshoumaru membalik wajah menatap Rin. "Ibunda."


Perasaan terkejut Rin langsung menghilang dan diganti senyum lagi. Sudah bukan hal aneh lagi, jika Inukimi menghancurkan sesuatu tanpa alasan jelas jika memasuki ruangan Sesshoumaru, bahkan sesungguhnya, terdapat sebuah anggaran lain dalam akunting istana tanah barat buatan Rin, yakni; biaya beban kerusakan Ibunda tercinta.


"Sesshoumaru-sama," melangkah mendekati Sesshoumaru, Rin segera membungkukkan badannya. "Terima kasih, terima kasih karena telah mengijinkan pesta ulang tahun Rin diadakan." Mengangkat badan menatap wajah inuyoukai di depannya, senyum lebar yang sangat memesona memenuhi wajahnya. "Rin senag sekali, sangat senang, senang sekali!"


Senyum itu lagi. Sesshoumaru hanya bisa tertegun. Senyum yang selalu diingat dan disukainya. Apakah gadis di depannya tidak pernah sadar? Betapa senyum itu selalu membuat dirinya merasakan sesuatu yang tidak pernah dirasakannya selama ini.


Mengangkat tangan dengan tiba-tiba, Rin meloncat memeluk erat dan memendamkan wajah pada dada Sesshoumaru. Air mata mengalir menuruni wajahnya, membasahi kimono inuyoukai tersebut. "R-rin bahagia.. B-bahagia, bahagia..."

__ADS_1


Tertawa di suatu saat, namun menangis di detik berikutnya. Bahagia walau menangis, menangis namun tersenyum. Seperti seorang anak kecil, Sesshoumaru tahu, Rin tidak pernah berubah, dan dia tidak ingin gadis itu berubah.


Mengangkat wajahnya menatap Sesshoumaru lagi yang menatapnya, tanpa diketahui dari mana, untuk pertama kali, Rin mendapatkan sebuah keberanian dan dorongan kuat. Menggerakkan tangannya untuk menarik badan Sesshoumaru ke bawah, Rin menjinjit kakinya. Menutup mata, dia mendaratkan pelan bibir munggilnya pada pipi inuyoukai Penguasa Tanah Barat.


Sentuhan bibir yang lembut. Membuat Sesshoumaru tertegun. Hatinya kembali berdetak cepat hingga terasa sesak. Perasaan apa ini? Dia tidak tahu, tapi dia tahu, dia tidak membencinya.


Menjauhkan bibirnya dari pipi Sesshoumaru, wajah Rin memerah luar biasa, namun, senyum lebar di wajahnya hanya terus melebar dan melebar. Perasaan malu dan grogi terpancar di wajahnya, namun kebahagiaan tiada tara juga terlukis. "Selamanya dan tidak akan pernah berubah, lebih tinggi dari langit, lebih dalam dari laut, lebih besar dari pada dunia, lebih dari hidup Rin sendiri. Lebih dari segala-galanya, sebesar itulah cinta Rin untuk Sesshoumaru-sama."


Tidak menunggu balasan atau melihat reaksi Sesshoumaru lagi, Rin segera membalikkan badan dan berlari keluar. Gadis itu tahu, apa yang dilakukannya sekarang mungkin salah serta tidak sopan, tapi, dia telah melakukannya dan tidak dapat ditarik kembali. Kegembiraan dan sukacita yang tidak dapat dibendung—ini mengingatkannya pada kebahagiaan antara Inuyasaha dan Kagome, cinta mereka yang dilihatnya dulu. Ya! Cinta! Rin tahu, inilah cintanya pada inuyoukai Penguasaa Tanah Barat itu.


Sesshoumaru tidak bergerak sedikitpun, kehangatan bibir munggil yang mengecup pelan pipinya masih terasa. Membuatnya kehilangan kata dan tidak bisa berpikir apa-apa. Dipikir-pikir sudah berapa kali gadis itu menghilangkan daya fokusnya semenjak mereka bertemu.


Selamanya dan tidak akan pernah berubah, lebih tinggi dari langit, lebih dalam dari laut, lebih besar dari pada dunia, lebih dari hidup Rin sendiri. Lebih dari segala-galanya, sebesar itulah cinta Rin untuk Sesshoumaru-sama


Kata Rin barusah terlintas dalam pikiran Sesshoumaru. Gadis itu mencintainya, melebihi segalanya, mendengar kedua kali kata-kata itu, betapa dia harus mengakuinya, betapa cepat jantungnya kembali berdetak, betapa hangat, benar, gembira dan bahagia dirinya—betapa bahagia diirnya.


Rin bisa melihat betapa bahagianya Inuyasha-sama dan Kagome-sama karena cinta. Cinta bisa membuat seseorang lemah dan musnah, namun tidak tahu mengapa, Rin juga merasa cinta bisa membuat seseorang bahagia.


Mata Sesshoumaru terbelalak. Mati-matian dia menolak apa yang dipikirkannya sekarang. Perasaannya pada Rin, perasaan bahagia mereka saat bersama, kehangatan kebersamaan mereka, perasaan takut kehilangannya, keinginan agar gadis itu selalu berada di sisinya, tertawa dan tersenyum untuknya; hanya mencintai dirinya seorang saja. Perasaanya pada Rin, arti keberadaan gadis manusia itu dalam hidupnya selama ini adalah; cinta?


Tidak! Cinta adalah perasaan tidak berguna, dia tidak mungkin mencintai. Terutama mencintai seorang manusia. Dia ingat Ayahandanya, dia ingat bagaiman Ayahandanya jatuh dari puncak dan mati karena mencintai seorang manusia. Karena itu, dia tidak akan melakukan kesalahan itu, dia tidak akan mencintai, dia tidak akan mungkin mencintai Rin.


Cukup Rin seorang saja yang mencintai Sesshoumaru-sama.


Rin yang tidak pernah meminta dan mengharapkan apa-apa dari Sesshoumaru kecuali bisa berada disampingnya. Rin yang selalu memikirkan Sesshoumaru dan mengabaikan dirinya sendiri. Sepandankah itu? Bolehkah dia membiarkanya selamanya mereka akan selalau seperti ini? Membiarkan gadis itu seorang saja yang mencintai?


Sesshoumaru-sama.


wajah Rin kecil yang tersenyum padanya terbayang.


Sesshoumaru-sama.


Rin kecil yang beranjak besar berlari kecil memeluknya saat di pulang dari perjalannya.


Sesshoumaru-sama.


Rin sekarang yang tersenyum untuknya.


Wajah yang selalu tersenyum dan menatapnya, semua terputar kembali dalam kepala. Dari pertemuan mereka hingga kini. Dirinya yang selalu melihat, menjaga dan membesarkannya, gadis kecil yang kini telah menjadi gadis tercantik. Seshoumaru tahu, dia sudah kalah. Untuk pertama kalinya dalam hidupnya yang panjang, dia benar-benar kalah dengan telak. Dia bisa membohongi siapapun sekarang, termasuk Rin. Namun selamanya, dia tidak bisa membohongi dirinya sendiri. Dia telah menjadi seperti Ayahandanya, menjadi sesuatu yang tidak diterima dan tidak diinginkannya, sesuatu yang ditakutinya, dia telah jatuh hati pada seorang manusia; mencintai seorang manusia.


Rin; dia telah mencintainya.

__ADS_1


....xOxOx....


__ADS_2