Till The End Of Time [ Inuyasha Fanfiction ]

Till The End Of Time [ Inuyasha Fanfiction ]
Chapter 103


__ADS_3

Kekai itu berputar. Dinding elemen angin, air, api, tanah, kayu, logam serta petir bergabung dan berputar dengan Rin di tengahnya. Badannya melayang di udara, dan dia meringkuk badan yang gemetar itu sambil memeluk perutnya.


Sesshoumaru, Inuyasha dan yang lainnya bisa melihat. Ini adalah kekai yang sama dengan kekai yang mereka lihat di istana tanah selatan–meido seki.


Ketakutan dan kepanikan memenuhi hati mereka. Bagaimana bisa meido seki kembali menunjukkan kekuatannya? Rin kah yang menggunakannya? –demi melindungi anak dalam kandungannya. Jika itu benar, maka badan lemah Rin tidak akan mampu menahan beban berat yang ada.


"Rin!!"


"Rin-chan, hentikan!!"


Suara yang berteriak memanggil namanya sama sekali tidak didengar Rin. Dalam kekai itu, dia yang masih ketakutan, menutup mata dan terus memeluk perutnya. "Rin akan melindungimu, Rin akan melindungimu–Rin akan menjadi kuat dan melindungimu.."


Suara keributan yang ada membuat para penghuni istana tanah barat menyadari ada yang tidak beres. Beberapa prajurit istana berlari mendekati sumber keributan, termasuk Kiri, Kira dan juga Jaken.


"Apa ini??" teriak Jaken terkejut. Dia bisa melihat jelas Rin yang meringkuk badannya dalam kekai.


Kiri dan Kira tidak bergerak. Mereka mengenal kekai ini, sebab mereka pernah melihatnya di istana tanah selatan. Namun, mereka tidak mengerti kenapa kekai itu aktif lagi.


"Sesshoumaru!!" suara Inukimi yang memanggil namanya keras, segera membuat penguasa tanah barat menoleh wajah menatap ibu kandungnya.


Mata emas Sesshoumaru kemudian menangkap sebilah pedang yang dilempar Inukimi. Dulu di istana tanah selatan, hanya dia seorang saja yang bisa mendekat Rin yang berada dalam kekai, dan itu dikarenakan dia memiliki dari pedang yang ditiupi kekuatan meido seki–tensaiga. Dengan pedang itu dia dapat mendekati Rin sekarang.


Menangkap pedang tensaiga, Sesshoumaru bergerak maju ke arah Rin. Namun, sedetik kemudian, dia meloncat ke belakang kembali, sebab elemen api yang berubah menjadi sebuah cambuk, dengan cepat melesat ke arah penguasa tanah barat menyerangnya.


Terkejut, Inuyasha dan yang lainnya tidak mengerti. Kenapa meido seki menyerang Sesshoumaru meskipun pedang tensaiga sudah berada dalam tangan inuyoukai itu?


Sesshoumaru yang mendarat ke belakang, kembali mengangkat wajahnya pada sosok Rin. Dia sendiri juga bingung dengan apa yang terjadi, kenapa meido seki menolaknya?


Namun, melihat Rin lagi, Sesshoumaru sadar akan sesuatu. Kekai ini mirip tapi berbeda dengan kekai di istana tanah selatan. Kekai ini lebih tenang, dia tidak menyerang dengan membabi buta dan menghancurkan sekitarnya. Kekai ini  hanya menyerang saat ada yang mendekat. Lalu, yang paling penting–Rin masih sadar.


Rin masih sadar meskipun terlihat sangat kacau dan tidak menyadari sekelilingnya–wanita manusia itu tidak kehilangan kesadaran seperti saat di istana tanah selatan.


"Rin." Sesshoumaru memanggil nama Rin dengan sangat keras. Suaranya tenang, tapi penuh dengan tekanan dan juga perintah. "Sesshoumaru ini memerintahkan; hentikan ini semua!"


Suara Sesshoumaru selalu memiliki kekuatan dalam diri Rin. Dalam kekacauan seperti apapun, suara inuyoukai itu akan selalu dapat didengar dengan jelas olehnya–begitu juga dengan kali ini.


Perlahan, Rin mengangkat wajahnya. Dengan ketakutan, kesedihan, kebingungan dan air mata yang terlihat jelas, dia menatap Sesshoumaru. "Apakah anda tidak menginginkan anak kita lagi, Sesshoumaru-sama?"


Pertanyaan yang sangat menyakitkan, Sesshoumaru tidak dapat menjawab. Jika ada yang bertanya, apakah dia menginginkan anak itu, maka–dia menginginkannya. Sungguh-sungguh sangat menginginkannya. Anak itu adalah bukti cintanya, hartanya yang berharga–tapi, dia tidak bisa memilikinya.


"Sesshoumaru ini tidak bisa kehilangan Rin."


Jawaban Sesshoumaru membuat Rin tertegun. Sedetik kemudian, dia menutup mata. Mata Sesshoumaru telah menjelaskan semuanya. Mata emas yang tidak dapat menyembunyikan emosi darinya.


Apakah Sesshoumaru menginginkan anak mereka?–Rin tahu sekarang, inuyoukai itu menginginkan anak mereka. Tapi–inuyoukai itu tidak ingin kehilangan dirinya.


Takdir memaksa inuyoukai itu memilih, antara anaknya atau seorang wanita manusia bernama Rin–dan inuyoukai itu memilih wanita bernama Rin meski harus menghancurkan hatinya.


Pilihan Sesshoumaru, Rin mengerti sekarang. Perasaan bersalah memenuhi hatinya, ketakutan inuyoukai itu, keputusasaannya–dia tidak melihatnya karena ketakutan. Jika dia berada dalam posisi itu, jika dia dipaksa memilih, antara anak mereka dan Sesshoumaru–apa pilihannya?–betapa menyakitkan itu.


Membuka mata lagi, Rin kemudian menatap perutnya. Mengelusnya pelan, dengan mata berlinang air mata, dia tersenyum. "Ayahandamu menginginkanmu, jadi tenanglah. Kau dicintai.."


Di dunia yang seperti ini, dunia yang lucu dan tidak pernah adil, Rin sadar, dia tidak boleh larut. Dia harus melawan, dia harus berjuang. Takdir yang begitu menyedihkan, dia akan mengubahnya. Dia kuat–bukankah dia sekarang adalah seorang ibu?


Mengangkat wajahnya lagi pada Sesshoumaru, Rin kemudian tertawa pelan. "Sesshoumaru-sama," panggilnya pelan.


Pilihan yang ada, keputusan yang ada, Rin tahu, dia tidak akan membiarkan Sesshoumaru yang memilih. Anak mereka, hidupnya–masa depan yang ada, itu semua ada dalam tangannya. Dia tidak akan mati, dia akan hidup, dia akan melahirkan anak mereka dengan selamat–Sesshoumaru tidak akan kehilangan dirinya dan anak mereka bersamaan.


"Dalam hidup Rin, yang membuat keputusan adalah Sesshoumaru-sama. Tapi, tidak untuk kali ini. Kali ini, yang membuat keputusan adalah Rin."


Mata Sesshoumaru terbelalak mendengar apa yang dikatakan Rin.


"Dia akan lahir. Anak kita akan lahir dan selamat, begitu juga dengan Rin." lanjut Rin lagi. Air matanya berhenti, dia tersenyum, dan mata coklatnya bersinar penuh tekad dan keyakinan. "Pilihan yang ada–Rin memilih anak kita dan Rin sendiri bersamaan."


Bukan anak mereka, bukan juga seorang wanita manusia bernama Rin. Pilihan itu salah. Sejak awal pilihan itu memang tidak ada, yang ada hanyalah satu; anak dan Rin bersamaan–Rin akan membuktikannya.


'Kau ibu yang luar biasa, Rinku tercinta..'


Suara yang lembut yang tidak lagi asing kembali terdengar dalam kepala Rin. Bersamaan dengan itu, kekai yang mengelilinginya terbuka. Perlahan, dia terbang turun ke arah Sesshoumaru yang dengan segera menangkapnya.


Dengan kedua tangan terbuka, Rin tertawa memeluk erat badan Sesshoumaru,  membenamkan wajahnya pada celah leher inuyoukai itu. "Rin dan anak kita tidak akan meninggalkan Sesshoumaru-sama," gumamnya pelan. "Bukankah Rin sudah berjanji? Percayalah pada Rin.."


Sesshoumaru tidak mengatakan apa-apa, dia membalas pelukan Rin tidak mempedulikan semua yang menatap mereka.

__ADS_1


Badan hangat Rin, harumnya musim semi, suara tawa dentingan lonceng, Sesshoumaru tidak tahu harus melakukan apa ke depannya. Perasaannya yang kacau, semua yang bercampur jadi satu. Dia tidak bisa bertindak sembarangan, bagaimana jika keadaan ini terjadi lagi? Bagaimana jika suaranya tidak bisa mengapai wanita manusia ini lagi?–hanya satu yang pasti sekarang; anak mereka tidak akan dapat digugurkan.


....xOxOx....


"Kudengar, klan tikus putih dan klan kupu-kupu salju hancur karen serangan manusia," ujar Takeru sambil menyeduh teh pelan. Kedua mata hijaunya kemudian mematap Shui. "Bagaimana menurutmu?"


Shui tidak menjawab pertanyaan Takeru. Dia tersenyum dan memakan kue dango yang ada di atas meja depan mereka.


"Tidak apa-apa jika tidak mau menjawab," tawa Takeru kemudian. Senyum lebar memenuhi wajahnya. "Menurutmu, setelah dua klan lemah itu, klan mana yang akan menjadi target berikutnya?"


Shui tetap tidak menjawab, tapi senyum di wajah cantiknya semakin melebar.


"Netral memiliki banyak klan lemah. Kau akan sibuk tidak lama lagi," meletakkan teh di tangan ke atas meja di depannya, Takeru kemudian membaringkan badan ke atas tatami. "Aku tidak akan membantumu."


Shui tertawa mendengar ucapan Takeru. Dia menatap saudara sepupunya itu dengan mata putihnya dan menggeleng kepala. "Aku tidak membutuhkan bantuanmu, dan klan lemah tidak hanya ada di netral saja."


"Ya, kau benar," setuju Takeru. Dia masih berbaring di atas tatami. Kedua mata hijaunya menatap langit-langit dari rumah Shui yang berada di wilayah netral. "Kau sepertinya benar-benar dapat membaca situasi ini dengan baik."


Shui kembali tersenyum, tapi dia tidak mengatakan apa-apa lagi. Perlahan, sang terhormat dari netral itu menoleh pandangannya keluar jendela.


Dia masih menunggu. Shui tahu, belum saatnya, tapi, dia juga tahu, waktu yang ditunggu-tunggunya– sesuatu yang diincarnya tidak lama lagi akan tiba.


....xOxOx...


"Kohaku???" panggil Sango terkejut melihat adik laki-lakinya berjalan memasuki kamarnya bersama Kirara. "Kenapa kau ada di sini?"


"Seharusnya, aku yang bertanya kenapa kalian semua ada di sini, kakak?" tanya Kohaku kembali penuh kebingungan. Matanya menatap Inuyasha, Kagome, Miroku dan anak-anak yang sedang tertidur tenang.


"Panjang kalau mau diceritakan." Jawab Miroku pelan dengan seulas senyum kecil di wajahnya.


Kohaku bisa melihat, meski tersenyum, ekspresi wajah Miroku sama sekali tidak bagus, begitu juga dengan Inuyasha, Kagome dan Sango. Dia yakin, telah terjadi sesuatu.


"Kau datang kemari untuk menyelamati Rin-chan dan Sesshoumaru, Kohaku?" tanya Miroku kemudian. "Apakah beritanya sudah tersebar ke seluruh jepang?"


Pertanyaan Miroku membuat Kohaku kebingungan. "Menyelamati?"


"Rin-chan sedang mengandung anak Sesshoumaru-san," jelas Sango menatap Kohaku kebingungan. "Kau bukan datang ke sini karena mendengar berita ini?"


"Apa??? Rin sedang mengandung??" teriak Kohaku terkejut. Kedua matanya terbelalak tidak percaya, dia sama sekali belum mendengar informasi ini.


"A-aku tidak tahu Rin sedang mengandung, " jawab Kohaku sedikit terbata-bata, berusaha mengendalikan perasaan terkejutnya. Rin akan menjadi seorang ibu–wanita itu semakin jauh dan jauh saja. Tapi, taijiya muda itu tahu, bukan saatnya dia berpikir seperti itu. Menatap semua yang ada di menarik napas. "Aku datang karena ingin menyampaikan informasi ada manusia yang ingin menyerang barat."


"Eh??"


"Apa??"


"Hah?"


"Mereka cari mati, ya?"


Teriak Inuyasha, Kagome, Miroku dan Sango terkejut tidak mempedulikan anak-anak yang sedang tertidur, untung saja mereka tidak terbangun.


"Bisa kau jelaskan pada kami, Kohaku? Ada apa di dunia manusia sekarang?" tanya Kagome panik.


"Di luar sekarang beredar gosip bahwa Rin, sang kisaki tanah barat sebagai seorang wanita manusia serakah yang ingin menguasai seluruh jepang dan menjadikan manusia budak youkai."


"Eh? Rumor apa ini??" tanya Inuyasha dan yang lainnya bersamaan kebingungan.


Kohaku menghela napas dan tetap melanjutkan penjelasannya. Reaksi mereka sudah dapat dipredeksinya. "Sekarang, ada beberapa bangsawan tinggi yang mengabungkan kekuatan mereka dan para taijiya, miko dan pendeta untuk menaklukkan barat dan membunuh kisaki tanah barat.


Penjelasan Kohaku membuat Inuyasha, Kagome, Miroku dan Sango terdiam. Mereka tidak tahu harus mengatakan apa sekarang.


Miroku kemudian menggaruk kepalanya yang tidak gatal dan tertawa. "Apa para bangsawan itu ingin membinasakan ras manusia dari dunia ini?"


Ucapan Miroku terdengarp seperti bercanda, tetapi tidak untuk Inuyasha, Kagome dan Sango yang mendengar. Apa yang dikatakan biksu itu benar, jika  manusia benar-benar berani datang ke barat dan menghunuskan pedang untuk membunuh Rin–dengan kondisi Sesshoumaru sekarang ini, manusia benar-benar akan segera punah. Apa yang ada dalam pikiran bangsawan-bangsawan itu? Apa mereka pikir kekuatan gabungan mereka bisa menaklukkan barat?


"Kita harus menghentikan ini sebelum terlambat." Sango menghela napas. Keadaan yang sudah kacau semakin kacau saja, dia benar-benar bingung dan capek dengan ini semua sekarang.


"Iya, kau benar, Sango." setuju Kagome sambit memijit kepalanya yang terasa sakit. "Kita harus menghentikan ini semua. Dalam kondisi sekarang ini, jika kakak tahu, dia akan sangat murkah."


"Aku masih tergabung dalam aliansi para pendeta dan miko, aku akan pergi dan berbicara dengan mereka," ujar Miroku dan menghela napas. Dia kemudian menatap Sango. "Sango, aku butuh kau ke desa mencari Kaeda-san. Dia juga dapat membantu."


Sango mengangguk kepala. Perlahan, Miroku kembali menatap Kohaku. "Kohaku, untuk para taijiya, kau bisa mengurusnya, kan?

__ADS_1


"Serahkan padaku." Balas Kohaku cepat.


"Dan–apa yang harus aku lakukan?" sela Inuyasha yang dari tadi diam membisu dan membuat mata semua orang dalam ruangan segera menoleh menatapnya.


"Kagome tidak mungkin meninggalkan istana tanah barat karena kondisi Rin-chan," jawab Miroku sambil tersenyum. "Jadi, yang harus kau lakukan adalah menemaninya sambil menjaga anak-anak."


"Apa???" teriak Inuyasha tidak percaya dengan tugas yang di dapatkannya. Dia segera menarik kerah jubah Miroku dan mengoyang-goyangkan badannya. "Aku bukan pengasuh!! Aku akan ikut denganmu!!"


Miroku hanya tertawa dengan sikap Inuyasha. Tapi dia tidak mengubaha keputusannya. Bagaimana mungkin dia membawa seorang hanyou ke aliasi para pendeta dan miko?


"Miroku-san, tadi kau mengatakan kondisi Rin," suara Kohaku kembali terdengar. Mata hitamnya menatap kembali semua yang ada dalam kamar, ada kekhawatiran di wajahnya. "Ada apa dengan Rin?"


....xOxOx....


"Kohaku-kun?" panggil Rin terkejut saat melihat Kohaku memasuki kamarnya dan Sesshoumaru. Sejenak kemudian, seulas senyum segera memenuhi wajahnya yang pucat. "Kapan Kohaku tiba?"


"A-aku baru saja tiba, Rin." balas Kohaku terbata-bata dan memaksakan seulas senyum. Rasa terkejut memenuhi seluruh relung hatinya melihat kondisi Rin sekarang. Wanita itu sangat pucat dengan kelelahan yang terlihat jelas.


Pandangan Kohaku kemudian jatuh pada sosok Sesshoumaru yang duduk di belakang sang kisaki tanah barat. Dengan punggung mungil yang tersandar pada dadanya, serta kedua tangan yang memeluk erat perut Rin yang membesar–inuyoukai itu diam membisu menatapnya.


"Sesshoumaru-sama." Kohaku membungkuk memberikan salam hormat pada penguasa tanah barat.


Kohaku tidak berani menatap mata inuyoukai itu sekarang. Mata itu tenang, tapi juga penuh dengan emosi yang tidak biasa. Terlebih lagi, aura yang dipancarkannya–penguasa tanah barat itu sangat mengerikan sekarang.


"Duduklah Kohaku-kun." Tawa Rin pelan. Dia tidak mempedulikan sedikitpun Sesshoumaru yang ada di belakangnya.


Kohaku mengangguk kepala dan kemudian duduk menatap sang penguasa tanah barat dan kisakinya. Matanya kemudian jatuh pada perut Rin yanh sudah membesar. Memaksakan seulas senyum, taijiya muda itu berusaha mencairkan suasana. "Perutmu sudah besar Rin, sudah berapa bulan?"


Rin tertawa mendengar pertanyaan Kohaku. Mengangkat tangan dan menunjukkan angka dua dia tersenyum. "Dua bulan."


"Eh?" Kohaku tertegun mendengar jawaban Rin. "Dua bulan?"


Rin mengangguk kepala dengan senyum lebar yang ada di wajah. "Iya, dua bulan."


Kohaku tidak tahu harus mengatakan apa mendengar jawaban Rin. Dia tahu kehamilan hanyou berbeda, tapi perut wanita di depannya sekarang, kandungannya–tidak normal. Kehamilan hanyou memang beda dari kehamilan manusia. Umumnya, pada kehamilan seorang manusia, perut sang ibu akan membesar saat memasuki usia kandungan empat bulan, berbeda dengan kehamilan hanyou, yang hanya membutuhkan waktu tiga bulan. Tapi untuk Rin–dua bulan?


Sesshoumaru tidak mengatakan apa-apa. Dia diam membisu, namun dia tahu apa yang ada dalam pikiran Kohaku.


Kehamilan Rin tidak normal. Semua yang melihatnya bisa mengetahuinya. Seminggu telah berlalu semenjak hari di mana Rin menggunakan kekuatan meido seki, dan dalam seminggu itu juga perutnya membesar dengan kecepatan yang tidak biasa. Namun, yang paling mengejutkan dan membingungkan adalah–baik Jinenji, Kagome maupun Inukimi yang memeriksa tidak dapat menemukan keberadaan anak dalam kandungan itu lagi.


Semua yang melihat tahu, anak itu ada di dalam rahim Rin. Namun, saat memeriksa nadi wanita manusia itu, mereka tidak bisa merasakan keberadaannya, seakan anak itu; menghilang.


Tidak ada yang tahu penyebabnya, ketakutan dan kebingungan memenuhi mereka. Namun, tidak untuk Rin. Wanita manusia itu dengan tenang terus menyakinkan mereka semua bahwa kehamilannya tidak apa-apa–anak dalam kandungannya sehat-sehat saja.


Lalu, meski kondisi kesehatan Rin juga tidak kunjung membaik, semangat dan sikap optimisnya untuk menghadapi semuanya sungguh luar biasa. Dia tidak terlihat takut sedikitpun.


Sesshoumaru adalah orang yang paling terefek dengan semua keadaan yang ada. Inuyoukai itu seperti biasa, tidak pernah meninggalkan Rin, dia akan selalu bersama dan memeluk wanita itu erat. Tapi, ketenangan dan aura yang dipancarkannya akan membuat siapapun yang melihatnya tertekan dan ketakutan.


"B-begitu ya?" tawa Kohaku kemudian. Dia tidak mengerti lagi semua ini. Sebelum masuk ke dalam kamar ini, baik Kagome, Sango dan Miroku telah menjelaskan kondisi Rin yang melemah dan mengandung, tapi, dia tidak menyangka kandungannya juga tidak normal.


Terdiam, Kohaku tidak tahu harus mengatakan apa-apa lagi. Keheningan dengan segera memenuhi kamar dan membuat suasana menjadi sangat canggung.


"Jika tidak ada urusan lagi," suara datar dan berat Sesshoumaru yang dari tadi diam tiba-tib terdengar memecahkan keheningan. "Keluar."


"Sesshoumaru-sama.." panggil Rin pelan dan mengangkat wajah ke atas menatap wajah inuyoukai itu. "Jangan seperti itu.."


Namun Kohaku segera berdiri dan tertawa gugup. "Iya, hamba mengerti," dia kemudian kembali menatap Rin. "Istirahatlah yang cukup, Rin. Aku tidak akan menganggu waktumu istirahat lagi."


Rin kembali menatap Kohaku dan menggeleng kepala. "Kohaku tidak menganggu Rin.."


"Aku masih memiliki urusan yang harus kuselesaikan dengan Kakakku dan Miroku-san, Rin, " jelas Kohaku menggaruk kepala dan tersenyum. "Aku permisi dulu."


Rin tidak dapat mengatakan apa-apa lagi mendengar penjelasan Kohaku. Dia hanya dapat tersenyum melihat taijiya muda itu memberikan hormat pada Sesshoumaru dan kemudian berjalan keluar.


Rin kemudian mengarahkan pandangannya kembali pada Sesshoumaru saat tinggal mereka berdua saja dalam kamar. Menghela napas, dia mengangkat tangan kanannya untuk menyentuh wajah tampan inuyoukai yang juga menatapnya.


"Sesshoumaru-sama..." panggil Rin pelan. Jari jemarinya bergerak menyusuri pipi Sesshoumaru lembut.


Wajah tampan tanpa ekspresi dengan aura mengerikan, inuyoukai itu masih terlihat sangat kacau. Dalam mata emas di depannya, Rin tidak dapat lagi menemukan ketenangan yang biasa ada.


"Kami tidak apa-apa.. Jangan khawatir.."


Sesshoumaru tidak membalas ucapan Rin. Mengangkat tangan kanannya, dia menangkap tangan Rin dan menciumnya lembut.

__ADS_1


Jangan khawatir? Untuk pertama kali, Sesshoumaru merasa Rin adalah wanita yang sangat egois. Wanita ini tidak mau mendengar ucapan semua yang ada, dia tetap teguh pada pendiriannya untuk mempertahankan anak dalam kandungannya. Lalu, sekarang–dia memintanya untuk tidak khawatir? Bagaimana dia bisa melakukan itu? Sungguh, Rin adalah wanita paling egois yang ada..


....xOxOx....


__ADS_2