Till The End Of Time [ Inuyasha Fanfiction ]

Till The End Of Time [ Inuyasha Fanfiction ]
Chapter 145


__ADS_3

"Kau sudah mendengarnya? Sesshoumaru, sang penguasa tanah barat mencari fushi no kusuri untuk kisaki manusianya."


"Fushi no kusuri? Obat keabadian?"


"Iya. Dia menjanjikan apapun bagi yang dapat membawakan fushi no kusuri untuknya."


"Apapun?"


"Apa saja?"


"Kekuasaan, kehormatan dan kekuatan—dia menjanjikan itu semua."


"Tidak peduli youkai, hanyou ataupun manusia—siapa yang bisa membawakannya fushi no kusuri akan mendapatkan segalanya."


"Fushi no kusuri—temukan!"


"Temukan fushi no kusuri dan kita akan dapat memiliki apapun yang kita inginkan!!"


"Tapi kenapa?"


"Kenapa?"


"Iya, kenapa? Kenapa Sesshoumaru dari barat tiba-tiba mencari fushi no kusuri?"


"Kisaki tanah barat sedang sekarat."


"Kisaki manusia tanah barat sedang dalam keadaan berbahaya."


"Keajaiban di tanah barat tidak akan dapat bertahan."


"Kisaki tanah barat sekarat? Kenapa?"


"Kenapa?"


"Ada apa?"


"Tidak tahu."


"Tidak ada yang tahu."


"Tidak ada seorangpun yang tahu."


"Sakitkah dia? Atau apa? Apa penyababnya?"


"Apa penyebabnya?"


"Apa yang terjadi?"


"Dia wanita manusia yang melawan hukum alam—wanita manusia yang melahirkan youkai sejati di dunia ini."


"Manusia tidak seharusnya melahirkan youkai sejati."


"Badan lemah manusia tidak akan dapat melahirkan youkai sejati."


"Manusia yang melahirkan youkai sejati adalah sesuatu yang tidak mungkin. Mungkinkah ini adalah konsekuensinya?"


"Ya! Pasti itu penyebabnya, manusia tidak mungkin melahirkan youkai sejati. Hukum alam yang dia langgar—ini adalah hukumannya!!


"Hukuman."


"Hukuman bagi manusia yang melawan hukum alam—sekarat dan kematian."


"Kematian."


"Mati"


"Mati."


"Melahirkan youkai sejati—anaknya adalah penyebabnya."


"Karena melahirkan anaknyalah kisaki tanah barat sekarat."


"Pewaris tanah baratlah penyebabnya."


"Manusia yang melahirkan youkai—akan mati."


"Tidak akan ada yang bisa menyelamatkannya."


"Fushi no kusuri tidak ada."


"Anaknya akan menjadi pembunuh ibunya."


"Temukan fushi no kusuri dan kau akan mendapatkan segala yang kau inginkan."


"Kematian."


"Pewaris tanah barat akan menjadi pembunuh kisaki tanah barat."


"Kisaki tanah barat akan mati."


.


.

__ADS_1


.


Sunyi dan senyap. Dengan perlahan, salju turun dari langit siang musim dingin. Tanpa suara, salju menutupi dan melukis semua yang ada dalam taman paviliun timur istana tanah barat dengan satu warna, yakni; putih.


Berdiri sendirian, Inuyasha menatap punggung dari kakak seayahnya, Sesshoumaru dalam diam. Tegap dan kokoh, penuh kehormatan dan juga wibawa seperti biasa—sosok punggung yang benar-benar pantas menjadi pemimpin dari puluhan ribu youkai di dunia.


Tidak bergerak sedikitpun bagaikan patung, Sesshoumaru duduk berlutut dengan wajahnya yang tenang tanpa ekspresi. Sepasang mata emasnya sang penguasa tanah barat hanya terarah pada pintu shoji yang tertutup di depan.


Perlahan, mata Inuyasha kemudian bergerak dan jatuh pada sosok kecil inuyoukai yang tertidur di samping Sesshoumaru dalam balutan mokomoko—Shura.


Shura yang masih sangat kecil, tertidur dengan tangan yang mengenggam erat ujung lengan kimono ayahnya. Wajahnya damai dan tenang, dia tertidur dengan nyenyaknya tanpa tahu apa-apa.


Perlahan, mata Inuyasha bergerak lagi. Dari sosok Shura yang tertidur, mata emasnya naik dan kemudian tertuju pada pintu shoji yang masih tertutup rapat.


Pintu shoji yang tertutup, Sesshoumaru yang duduk tenang tanpa ekspresi menatap pintu tersb, serta Shura yang tertidur di samping ayahnya—betapa pemandangan itu kini menjadi keseharian dalam istana tanah barat.


Dua minggu telah berlalu semenjak pintu shoji itu tertutup untuk pertama kalinya, dan dalam dua minggu ini juga, pintu itu tidak pernah berhenti untuk tertutup setiap harinya. Kadang pada pagi, kadang pada sore dan kadang malam. Kadang satu jam, kadang setengah jam, namun terkadang—setengah hari. Tanpa dapat dipredeksi, pintu itu akan tertutup dan memaksa semua orang menunggu diluar. Lalu, dengan sesukanya juga, pintu akan terbuka dan mengijinkan siapapun masuk.


Apa yang terjadi dibalik pintu shoji yang tertutup?—tidak ada yang tahu pasti. Tapi, apa efek yang ada saat pintu itu terbuka nantinya, semua orang tahu, yakni; Rin yang—sekarat.


Sekarat.


Dalam dua minggu ini, bagaimana kondisi Rin, Inuyasha tidak ingin membayangkan ataupun melihatnya lagi. Bagaimana dirinya bisa bertahan melihat wanita manusia itu masih saja tersenyum dan mengucapkan 'Tidak apa-apa'? Bagaimana mereka bisa bertahan dan mempercayai kebohongan itu?


Inuyasha ingat bagaimana wajah Kagome setiap kali dia pulang ke kamar begitu selesai memeriksa Rin. Dia juga ingat bagaimana ekspresi putus asa Kaeda dan Junenji setiap hari saat mereka tidak menemukan petunjuk akan apa yang menyebabkan kondisi Rin, bahkan dia juga ingat wajah tanpa ekspresi Inukimi yang biasanya selalu tertawa dan penuh semangat. Tidak hanya mereka, tapi Kiri, Kira, Miroku, Sango, Kohaku, anak-anak, serta semua penghuni istana tanah barat—Inuyasha ingat bagaimana ketidak berdayaan, kesedihan dan ketakutan mulai memenuhi hati semua yang ada.


Awal ini semua terjadi, semua yang ada percaya, mereka pasti akan menemukan jalan. Namun, perlahan tapi pasti, mereka semua kini sadar, yakni—tidak gampang.


Tidak gampang.


Tidak peduli manusia, hanyou maupun youkai, saat kau harus bertahan dan tetap kuat saat kau melihat secara langsung orang yang kau sayangi terus menderita di depan mata, melihatnya melemah dari hari ke hari tanpa dapat dihentikan—kau akan hancur perlahan; keputusasaan.


Istana tanah barat yang selalu hangat penuh senyum dan tawa kini telah berubah. Bagaikan ada awan gelap dan badai yang menutupi matahari, tidak ada seorangpun lagi yang dapat merasakan kehangatan dan indahnya matahari lagi.


Namun, di saat semua orang berubah, hanya Sesshoumaru seorang yang tidak berubah. Dengan wajah datar tanpa ekspresi, ketenangannya, emosi yang terkontrol dengan baik—Inuyasha dan semua yang melihat tidak tahu lagi apa yang dirasakan ataupun dipikirkan inuyoukai tersebut.


Sesshoumaru selalu berada disamping Rin, bersama dengan putra mereka, Shura. Dengan kedua tangannya sendiri, dia menyuapi, memandikan dan mengurus keperluan kisaki manusianya—menemani dan memeluknya erat setiap saat. Namun, setiap harinya juga, saat kisakinya meminta, inuyoukai itu tanpa mengatakan sepatah katapun akan membawa putra mereka keluar. Duduk berlutut dengan Shura di samping, dia akan menunggu hingga pintu shoji yang tertutup dapat terbuka kembali.


Sesshoumaru kuat, Inuyasha selalu tahu itu, tapi melihatnya sekarang, dia baru benar-benar menyadari betapa kuat kakanya itu sesungguhnya. Jika dia berada di posisi Sesshoumaru sekarang, apakah dia sanggup?—apakah kau bisa tetap berdiri tegap saat kau melihat orang yang paling kau cintai sekarat?


Tidak bisa mendekat karena tidak tahu harus melakukan apa, Inuyasha hanya bisa berdiri di belakang Sesshoumaru, menatap punggung kakaknya yang sangat kokoh, namun juga sekaligus sangat rapuh dalam matanya.


Salju yang terus turun dan menumpuk dalam kesunyian paviliun timur istana tanah barat. Namun, tiba-tiba saja aura membunuh yang luar biasa terasa dari belakang Inuyasha.


Terkejut, Inuyasha segera membalikkan badannya, dan sebilah pedang katana melesat dengan cepat melewati pipi kanannya ke arah Sesshoumaru.


"Sesshoumaru!!!" panggil Inuyasha terkejut. Kedua mata emasnya terbelalak menatap penuh kepanikan pada Sesshoumaru.


Namun, Sesshoumaru tidak bergerak sedikitpun dari posisinya, begitu juga dengan ekpresi wajahnya yang tenang. Dia terlihat tidak peduli dengan pedang yang melesat melewati pipi kirinya dan mengoresnya hingga berdarah.


Menoleh ke sumber aura youki yang mengerikan, Inuyasha mencabut tessaiga dan berteriak keras menatap sosok yang sangat tidak disukainya penuh kemarahan. "Apa maumu, serigala berengsek???!!"


Tidak jauh di belakang Inuyasha, Akihiko, sang penguasa tanah selatan berlari cepat. Tidak peduli dengan kemarahan Inuyasha, mata youkai serigala yang kini berwarna merah darah hanya terpusat pada Sesshoumaru.


Meloncat dan melewati Inuyasha yang ingin menyerangnya, Akihiko mendekati Sesshoumaru yang tetap tenang tidak bergerak. Kedua tangannya dengan kasar dan kuat, menarik kerah kimono penguasa tanah barat dan mengangkatnya ke atas. Kedua mata merah darahnya penuh kemarahan serta kebencian. "Apa yang kau lakukan?!! Apa yang telah kau lakukan pada Rin?!!"


Sesshoumaru tidak menjawab pertanyaan Akihiko, dengan mata emasnya yang tetap tenang dan tanpa emosi, dia hanya menatap balik youkai serigala di depannya.


"Kau seharusnya membahagiakannya!! Kau seharusnya melindungi dan menjauhkan dia dari segala yang akan menyakitinya di dunia ini!! Apa yang telah kau biarkan Rin alami?!!"


Sesshoumaru masih diam membisu, dia tidak bergerak sedikitpun meski dia bisa merasakan jelas nafsu membunuh Akihiko yang semakin memuncak.


"Kau yang seperti ini sama sekali tidak pantas untuknya!!" menggerakkan tangan kanannya, Akihiko mengepalnya erat dan meninju kuat pipi kiri Sesshoumaru. "Kau yang tidak bisa menjaganya sama sekali tidak pantas untuk Rin!!"


"Berengsek!!! Apa yang kau lakukan?!! Lepaskan Sesshoumaru!!" berlari mendekati Sesshoumaru dan Akihiko, Inuyasha yang melihat sikap penguasa tanah selatan segera mengangkat tessaiga lagi untuk menyerang.


Namun, dalam kekacauan yang ada, suara geraman pelan penuh kemarahan dari samping Sesshoumaru dan Akihiko tiba-tiba terdengar.


"Grrr....Gr...." Tidak tahu sejak kapan, Shura yang tertidur telah terbangun. Menggeram penuh kemarahan, kedua mata emasnya yang telah berubah menjadi merah darah menatap lekat Akihiko. Tangan kecilnya menarik erat ujung celana penguasa tanah selatan tanpa ada niat melepaskan.


"Kau!!!" kemarahan memenuhi hati Akihiko melihat Shura. Inuyoukai kecil ini—jika saja Rin tidak pernah melahirkannya, maka wanita manusia itu pasti tidak akan pernah berada dalam posisinya sekarang.


Kedua tangan Sesshoumaru tiba-tiba bergerak dan menangkap kedua pergelangan tangan Akihiko. Menatap youkai serigala itu, mata emasnya berubah menjadi merah darah. "Jika kau berani menyentuh putraku sedikit saja, aku akan membunuhmu."


Balik menatap Sesshoumaru, Akihiko menyeringai menantang. "Kau kira aku tidak berani?"


Sesshoumaru tidak membalas tantangan Akihiko. Namun, genggaman tangannya pada kedua pergelangan tangan penguasa tanah selatan semakin menguat.


Inuyasha yang berada sangat dekat dengan Sesshoumaru dan Akihiko segera menarik badan kecil Shura yang memprotes penuh kemarahan menjauh. Mendekapnya di dada, inuhanyou itu tidak peduli dengan taring kecil namun panjang pewaris tanah barat yang mengigit kuat tangannya.


"Kakak!! Akihiko-san!! Hentikan!!"


Suara teriakan Kagome tiba-tiba terdengar dan membuat Inuyasha segera menoleh wajahnya menatap sumber suara.


Tidak tahu sejak kapan, taman paviliun istana tanah barat yang sepi kini telah dipenuhi banyak orang. Kagome, Inukimi, Kiri, Kira, Miroku, Sango dan juga Kohaku telah berada tidak jauh dari mereka dengan wajah penuh kewaspadaan menatap Sesshoumaru dan Akihiko.


"Kau memang memiliki hoby membuat keributan di istana tanah barat, Akihiko-san." Ujar Inukimi pelan. Seulas senyum memenuhi wajahnya, namun begitu, mata emasnya yang serius berkata lain—tidak ada senyum di dalamnya.


Akihiko tersenyum menyeringai, namun kemarahan di wajahnya tidak berubah sedikitpun. "Aku tidak akan membuat keributan jika kalian semua berguna."


"Kau!!!" hardik Inuyasha kesal.


Kiri dan Kira yang ada di belakang memincingkan mata emas mereka yang telah berubah menjadi merah darah. Tangan mereka masing-masing menyentuh senjata mereka dan akan bersiap sedia menyerang setiap saat.

__ADS_1


Prankk.


Suara keras sesuatu yang pecah tiba-tiba terdengar, dan itu membuat Sesshoumaru segera tersadar. Selama dua minggu ini, dia sudah terbiasa dengan suara tersebut—suara terbukanya kekai yang mengurung Rin dalam kamar mereka.


Semua yang juga bisa mendengar suara kekai yang terbuka tertegun. Namun, tidak ada seorangpun yang berani bergerak. Wajah Kagome, Inuyasha, Miroku, Sango dan Kohaku memucat, sedangkan Inukimi, Kiri dan Kira menundukkan kepala ke bawah menyembunyikan ketidak berdayaan di wajah mereka.


Akihiko menyadari perubahan suasana yang ada bersamaan dengan suara kekai yang pecah tersebut. Namun, sebelum dia mengatakan apa-apa, Sesshoumatu telah melepaskan pergelangan tangannya yang digenggam erat.


Meloloskan dirinya dari youkai serigala yang masih mencengkram kerah kimononya. Sesshoumaru mendarat di atas lantai, mata merah darahnya segera kembali menjadi emas. Menghapus darah yang mengalir di pipi kirinya, dia kemudian membalikkan badan menatap Inuyasha.


"S-sesshoumaru, kau tidak apa-apa?" tanya Inuyasha melihat wajah tanpa ekspresi kakak seayahnya tersebut.


Sesshoumaru tidak menjawab pertanyaan Inuyasha, dengan segera dia meraih Shura yang tersenyum dan tertawa bahagia karena ayah kandungnya telah menyelamatkan dirinya dari salah satu orang yang paling tidak disukainya.


Tidak mempedulikan pandangan semua orang termasuk Akihiko, Sesshoumaru melangkah kembali ke pintu kamar shoji yang masih tertutup. Menutup mata sejenak, dia berusaha menenangkan dirinya untuk menghadapi apa yang akan dilihatnya.


Apa yang akam dilihatnya saat pintu terbuka, Sesshoumaru tahu, dan meski tidak ingin melihatnya, dia tetaplah harus melihat.


Membuka mata, Sesshoumaru menggerakkan tangan membuka pintu shoji yang tertutup rapat. "Jangan masuk ke dalam, Rin tidak ingin kalian masuk."


Perintah Sesshoumaru membuat Inuyasha dan yang lainnya tertegun. Tidak dapat bergerak, mereka hanya dapat berdiam diri melihat Sesshoumaru melangkah masuk ke dalam kamar bersama Shura dalam gendongannya.


Kemarahan memenuhi hati Akihiko mendengar ucapan Sesshoumaru. Reaksi Inuyasha dan yang lainnya membuat dia tahu ada yang tidak beres, namun apa hak inuyoukai itu memerintahnya??


Melangkah, Akihiko segera membuka pintu kamar shoji yang tertutup dan melangkah masuk. Namun, baru beberapa langkah diambilnya, dia tertegun dengan apa yang dilihatnya.


Di atas futon besar dalam kamar, Rin berbaring lemah. Wajahnya pucat tanpa darah, keringat membasahi seluruh wajah serta badannya yang kurus dan bergemetaran. Napasnya terengah-engah dengan mata coklat yang terbuka, namun terlihat jelas tidak fokus—Rin bukanlah lagi Rin yang selalu tertawa dan tersenyum dalam ingatan Akihiko.


"R-rin..." panggil Akihiko terbata-bata tidak dapat menyembunyikan perasaan terkejutnya.


Rin tidak mendengar suara Akihiko sedikitpun, berbaring tidak berdaya, dia hanya terus berusaha menarik napasnya yang tidak teratur.


Sesshoumaru berjalan mendekati Rin, duduk di atas futon, dia meletakkan Shura dengan perlahan di atas badan kisakinya. Menggerakkan kedua tangannya, dia mengangkat dan memeluk lembut badan mungil wanita manusia serta putra mereka. "Rin," panggilnya pelan. "Sesshoumaru ini dan Shura ada di sini."


Shura yang berada di atas badan Rin menatap ibu kandungnya dengan kedua matanya yang penuh kebingungan dan kepanikan. "Aaaa...Aaaa..."


Suara pelan Sesshoumaru dan Shura membuat Rin menyadari di mana dirinya berada sekarang. Perlahan, dia kembali bisa merasakan kehangatan dari kedua inuyoukai paling berarti dalam keberadaannya. Kegelapan yang menutup pandangannya menghilang, dan seketika dia bisa melihat jelas lagi wajah penguasa tanah barat yang dicintainya. "S-sesshoumaru-sama...."


"Kami sudah menemukanmu, Rin." Ujar Sesshoumaru pelan saat melihat mata coklat yang telah kembali fokus dan mengenali dirinya.


"Y-ya, anda telah menemukan Rin.." senyum Rin lemah. Perlahan, dia menurunkan pandangan pada Shura yanh berada di atas badannya. "Shura telah menemukan ibunda.."


Shura tidak tahu apa yang terjadi, namun melihat senyum ibunya, kebingungan dan kepanikan di wajahnya segera berubah menjadi senyum dan tawa.


"Istirahatlah Rin," perintah Sesshoumaru pelan. Suaranya tetap datar tanpa emosi seperti biasanya. Menunduk ke bawah, dia mencium lembut kening Rin. "Kau sudah berjuang. Kami akan berada di sampingmu sampai kau bangun."


Rin mengangguk kepala dengan pelan dan menutup mata. Perlahan, napasnya yang terengah-engah kembali normal, begitu juga dengan badannya yang bergemetaran. Sedetik kemudian, dia segera jatuh tertidur dengan tenang.


Akihiko tetap tidak bisa bergerak di tempatnya. Melihat kondisi Rin, dia benar-benar tidak tahu harus mengatakan apa. Dari informasi yang di dapatkannya, dia memang tahu wanita manusia itu sakit dan sekarat, tapi, mendengar dan melihatnya secara langsung jelaslah sangat berbeda.


"A-apa yang terjadi?" tanya Akihiko kemudian setelah berhasil menemukan suaranya yang menghilang. "Apa yang terjadi pada Rin, Sesshoumaru?"


Sesshoumaru tidak menjawab pertanyaan Akihiko. Kedua mata emasnya terus terarah pada Rin yang tertidur damai dalam pelukannya.


Apa yang terjadi?


Pertanyaan yang telah Sesshoumaru tanyakan pada dirinya ribuan kali. Tapi, tidak peduli bagaimana dirinya bertanya, dia tetap saja tidak menemukan jawabannya. Apa yang terjadi pada Rin?-siapa yang bisa menjawab untuknya?


"Sesshoumaru-sama!!!!" suara teriakan Jaken yang keras tiba-tiba terdengar dari belakang Akihiko.


Melalui pintu shoji kamar yang terbuka lebar, Jaken berlari masuk penuh kepanikan. Dia terkejut saat melihat Akihiko berada dalam kamar, namun, membuang perasaan terkejut itu, dia segera menghadap Sesshoumaru. Sekarang bukan saatnya dia terkejut—ada hal lebih penting yang harus dilaporkannya.


"Akiko dari tanah timur datang menghadap anda," lapor Jaken cepat. Suaranya penuh kepanikan namun juga tidak dapat menyembunyikan harapan yang ada. "Dia mengatakan dia memiliki petunjuk akan keberadaan fushi no kusuri!!"


....xOxOx....


Kenji duduk diam menatap Bokuseno yang ada di depannya. Wajah saru shogun tersebut datar tanpa ekspresi, namun tidak untuk Myoga yang ada di samping. Meloncat-loncat, wajah youkai kutu itu penuh kepanikan.


"Kenji-sama!!" teriak Myoga keras. Dia tida"Apakah rumor yang beredar di dunia manusia dan youkai benar?! Rin-chan-maksudku Kisaki-sama sedang sekarat??!"


Kenji tidak menjawab pertanyaan Myoga. Masih dengan wajahnya yang tanpa ekspresi dia menatap Bokuseno. "Apa kau benar-benar tidak memiliki petunjuk akan keberadaan fushi no kusuri, Bokuseno?"


"Hmnn," membalas tatapan Kenji, Bokuseno bergumam pelan. "Apa yang membuat anda berpikir aku memilki jawaban pertanyaan anda, Kenji-sama?"


"Insting." Jawab Kenji singkat.


Bokuseno terdiam dan menutup matanya. Ratusan tahun telah berlalu sejak dia mengenal youkai monyet di depannya, Kenji tetaplah Kenji yang dikenalnya. Instingnya yang luar biasa memang merupakan faktor terbesar yang membuat dia bisa duduk diposisinya yang tinggi selama ratusan tahun.


"Jika kau memang memiliki petunjuknya walau sedikit saja, katakanlah," lanjut Kenji lagi. Matanya menatap tajam Bokuseno. "—kau tidak tahu betapa seriusnya keadaan sekarang ini."


Membuka mata, Bokuseno menghela napas. "Fushi no kusuri... obat keabadian—bagimana kalau itu pada akhirnya adalah sebuah lelucon?"


"Lelucon atau bukan, itu bukan kau ataupun aku yang memutuskannya." Balas Kenji datar. Wajahnya tetap datarnya tanpa ekspresi. "Kau hanya perlu memberitahuku apa kau tahu dimana anjing itu menyembunyikannya."


Bokuseno kembali terdiam mendengar ucapan Kenji. Fushi no kusuri yang kini dicari semua orang, fushi no kusuri yang diciptakan Inu No Taisho untuk Izayoi namun pada akhirnya tidak sempurna—fushi no kusuri yang dicari Sesshoumaru untuk kisaki manusianya. Lelucon atau bukan, youkai pohon berusia ribuan ini tahu, fushi no kusuri pada akhirnya tetap adalah; lelucon.


"Kau memiliki petunjuk keberadaannya, bukan?" tanya Kenji lagi tanpa mengubah intonasi suaranya yang datar.


Menghela napas panjang, Bokuseno kemudian kembali menutup mata. Jika saja dia bisa, dia ingin menyembunyika fushi no kusuri dari dunia ini dari Sesshoumaru dan kisaki manusianya selamanya. Lelucon atau bukan, dalam keadaan sekarang ini, dia hanya berharap semoga kenyataan sesungguhnya dari fushi no kusuri yang tidak sempurna tidak menjadi jurang keputusasaan yang baru bagi mereka.


Membuka mata, Bokuseno kemudian membalas tatapan Kenji. "Ya—aku tahu dimana fushi no kusuri berada."


Myoga yang berada di samping Kenji dan Bokuseno tidak dapat menyembunyikan rasa terkejutnya mendengar jawaban dari youkai pohon tersebut. Kemarahan segera memenuhi hatinya. "Bokuseno!! Kenapa kau berbohong padaku bahwa kau tidak memiliki petunjuk!! Teman apaan kau ini??!"

__ADS_1


Kenji tidak menghiraukan sedikitpun kemarahan Myoga, begitu juga dengan Bokuseno. Lalu, sedetik kemudian, ujung bibir saru shougun terangkat membentuk seulas senyum lebar. "Bagus. Kau ikut aku ke istana tanah barat sekarang, Bokuseno."


....xOxOx....


__ADS_2