Till The End Of Time [ Inuyasha Fanfiction ]

Till The End Of Time [ Inuyasha Fanfiction ]
Chapter 144


__ADS_3

Sakit.


Sesak.


Dingin.


Semua itu menyerangnya bersamaan. Membuka matanya penuh kesulitan, Rin menemukan dirinya berada dalam kegelapan tidak berujung. Menutup mata lagi, dia meringkuk sendirian dengan badannya yang menggigil kedinginan.


"Rinku sayang..."


Suara pelan memanggil namanya. Suara aneh yang sangat familiar bagi Rin, hanya saja kali ini, dia bisa merasa betapa sedih suara itu.


Perlahan, Rin membuka mata lagi. Dia bisa melihat, tepat di atasnya sekarang, sebuah bola cahaya bersinar terang. Seulas senyum segera memenuhi wajah Rin. "M-meido seki-sama.."


Meido seki tidak menjawab salam Rin. Terbang ke bawah, dia memancarkan cahaya yang semakin kuat dan cemerlang, berusaha menghilangkan rasa dingin yang melanda wanita manusia yang berharga baginya.


Rin menggeleng kepala dan tertawa kecil, walau badannya yang menggigil kedinginan tetap saja tidak berubah. "T-tidak apa-apa... R-rin tidak apa-apa..."


Meido seki tetap diam membisu menatap Rin. Cahaya dan kehangatan yang ingin dia berikan pada wanita manusia itu tidak akan tersampaikan lagi. Jiwa yang mulai terkoyak—dia tidak bisa melakukan apapun lagi kecuali menemaninya.


Tertawa lagi dengan suaranya yang bergetar, Rin kemudian tersenyum. "J-jangan bersedih untuk Rin. R-rin tidak ingin s-siapapun bersedih untuk R-rin lagi..."


"Anakku yang bodoh..." suara Meido seki tetap pelan, penuh dengan kesedihan yang tidak terucap. "Jiwamu sudah mulai terkoyak. Kau tidak akan pernah mendapatkan ketenangan di bawah alam sadarmu lagi..."


Rin tetap tersenyum. "T-tidak apa-apa, R-rin bisa menghadapinya.."


Kenyataan yang ada, jiwa yang mulai terkoyak, perlahan dan tidak lama lagi, Rin tahu, rasa dingin ini akan selalu menemaninya. Saat dia sadar maupun tidak sadar, di bawah alam sadarnya maupun alam sadarnya. Tapi...


'Rin.'


'Ahh.. Ba...'


Senyum Sesshoumaru dan tawa Shura—Rin hanya dapat tersenyum dan menutup mata. Di alam sadar maupun alam bawah sadar, tetap hanya mereka berdualah penompangnya.


"Hidup; pertemuan—kematian; perpisahan," ujar Meido seki lagi. "Itu tidak akan pernah terhindar dalam kehidupan."


Hidup dan kematian—pertemuan dan perpisahan. Rin tahu itu, tapi sekali lagi..


'Rin.'


'Ahh.. Ba...'


Senyum Sesshoumaru dan tawa Shura kembali terlintas. Tangan besar dan hangat yang mengenggam tangannya, tangan kecil yang berharga baginya. Rin sangat tahu, hidup adalah pertemuan yang penuh kebahagiaan, dan kematian itu adalah perpisahan yang menyakitkan. Pertemuan itu indah, dan perpisahan itu—menakutkan.


Karena itulah; tidak apa-apa.


Tidak apa-apa. Kata-kata itu akan selalu menjadi mantra untuk Rin—ah, tidak. Dia sendirilah yang menjadikan kata itu mantra. Bukankah dirinya sudah menang melawan kematian berkali-kali? Karena itu, dia sangat yakin, tidak peduli berapa kali kematian datang, dirinya tidak akan kalah—dia akan selalu menjadi sang pemenang.


Senyum di wajah Rin hanya membuat kesedihan meido seki semakin bertambah. Jiwa murni yang terus bertahan walau dia tahu konsekuensinya—jiwa yang sungguh; bodoh.


"Kenapa kau bersedia menderita seperti ini? Sejauh apa kau bersedia menderita?”


Pertanyaan Meido Seki kemudian membuat Run tertegun. Namun, sejenak kemudian, dia kembali tersenyum—senyumnya yang lebar dalam penderitaan tidak terucapkan. "Anda tahu jawabannya, Meido seki-sama..."


Meido seki tidak dapat berkata apa-apa mendengar ucapan Rin. Ya, wanita manusia itu benar—dia tahu jawabannya. Namun, dia berharap jawaban yang dia miliki; salah. Dia berharap wanita manusia itu akan menghentikan semua kebodohannya ini dan menutup matanya. Tidak apa-apa meski jiwanya akan menghilang, setidaknya dia tidak perlu menderita lagi seperti ini.

__ADS_1


"Aku membenci mereka sekarang," ujar Meido seki kemudian. Suaranya  pelan namun tanpa kebohongan. "Aku sangat membenci pria yang kau cintai dan juga putra kalian yang berharga sekarang.."


"Meido seki-sama..." Rin hanya bisa kembali tertegun dengan pengakuan Meido seki yang diluar dugaan.


"Jika mereka berdua tidak pernah ada," lanjut Meido seki lagi. "Kau tidak akan menjadi seperti ini, anakku tercinta.."


Rin yang tertegun dengan ucapan Meido seki sedetik kemudian kembali tertawa. "J-jangan membenci mereka.. I-ini semua tidak ada hubungannya dengan mereka... Ini adalah pilihan Rin sendiri..."


Meido seki tidak mengatakan apa-apa lagi. Apa yang ingin dia katakan telah dia katakan, ke depannya seperti apa, dia hanya dapat—melihat.


Bersinar semakin terang, Meido seki terbang ke atas. Cahayanya menyilaukan mata, membuat mata Rin yang terbuka tertutup. "Kembalilah kepada mereka berdua, Rinku sayang.."


Gelap.


Gelap.


Rin ingin membuka mata, tapi dia merasa kelopak matanya sangat berat, begitu juga dengan seluruh tulang dan badannya yang terasa sangat nyeri dan sakit. Karena itu, tanpa bergerak, dia membiarkan dirinya terus berbaring di atas tempat tidur dengan mata tertutup.


"Kau tahu, Shura." Suara tenang dan datar seorang pria terdengar dari samping Rin, membuat dirinya mati-matian berusaha membuka kelopak matanya yang tertutup. Kenapa? —karena dia sadar, ada Sesshoumaru dan Shura disampingnya sekarang.


Namun, Rin tetap tidak bisa membuka matanya. Dia tidak memiliki tenaga yang cukup untuk melakukannya, karena itu, dia hanya dapat terus berbaring dan mengumpulkan segenap tenaga untuk membuka kelopak matanya.


"Apa yang Kakekmu ajarkan pada Ayahanda pertama kali dalam hidupnya?" suara Sesshoumaru kembali terdengar. Tetap datar tanpa emosi seperti biasanya.


"Yang kakekmu ajarkan pada ayahanda pertama kali dalam hidup ini adalah—memegang pedang." Suara Sesshoumaru tetap pelan, dan ada tawa kecil terdengar dari suaranya. "Kita inuyoukai pewaris tanah barat harus selalu kuat. Kita terlahir dipucak dunia. Kita adalah petarung yang tidak akan pernah kalah."


Mencoba dan memaksa kelopak matanya yang tertutup terbuka, Rin kemudian merasakan kelegaan saat kegelapan mulai menghilang. Menfokuskan pandanganya ke samping, dia menemukan Sesshoumaru duduk menatap Shura yang berada dalam gendongannya.


"Tapi," lanjut Sesshoumaru lagi, Rin bisa melihat seulas senyum di wajah tampan inuyoukai tersebut. "Yang ingin ayahanda ajarkan padamu pertama kali dalam hidupmu bukanlah memegang pedang, melainkan—memeluk ibundamu."


Rin hanya dapat tertegun mendengar ucapan Sesshoumaru. Tidak dapat bergerak dan berbicara, dia diam membisu menatap ayah anak di sampingnya.


Shura yang menatap balik tatapan lurus Sesshoumaru kemudian tertawa. Tidak tahu mengerti atau tidak, pewaris tanah barat itu tertawa dengan sangat bahagia.


Senyum Sesshoumaru semakin kentara saat melihat tawa Shura yang begitu identik dengan tawa Rin. Menepuk pelan kepala Shura, dia kemudian membalikkan badan putranya menghadap Rin. Mengunakan kedua tangannya memegang tangan kecil Shura, dia membukanya lebar dengan pelan


"Sangat mudah, buka tanganmu seperti ini," ujar Sessgoumaru pelan. Menatap Rin, dia kemudian membuka dan membimbing kedua tangan kecil putranya ke leher wanita manusia yang lagi-lagi—menangis. "Lingkarkanlah kedua lenganmu di leher ibundamu, dan benamkanlah wajahmu pada celah lehernya."


Shura tertawa semakin keras. Merasakan kehangatan Rin, dia menutup mata dan membenamkan wajahnya pada celah leher ibu kandungnya.


Melepaskan tangan Shura dan membiarkan putra mereka memeluk Rin, tangan kanan Sesshoumaru bergerak pelan membelai rambut Shura. Seulas senyum kecil memenuhi wajahnya. "Kerja bagus Shura. Jangan lupakan ini..."


Rin hanya dapat menangis dan menangis. Dia tidak ingin menangis lagi, tapi melihat Sesshoumaru sekarang dan merasakan kehangtan badan Shura, dia tidak dapat menghentikan air mata yang ada.


Membungkuk ke bawah, Sesshoumaru memeluk Rin dan juga Shura dengan pelan. Mencium lembut air mata yang ada, dia berbisik pelan. "Tidak apa-apa, Rin. Semua tidak akan apa-apa, kita tidak akan pernah terpisahkan—selamanya bersama..."


Mengumpulkan segenap tenaga yang ada, Rin mengangguk kepala. Ya. Tidak akan pernah terpisahkan—selamanya bersama. Tahukah semua yang ada, betapa dua kata itu berarti bagi mereka?


"Bertahanlah," ujar Sesshoumaru lagi dan mempererat pelukannya. "Sesshoumaru ini pasti akan menemukan cara menyelamatkanmu.."


Mengangguk kepala lagi. Rin menutup mata dan tersenyum. Dia percaya dengan ucapan Sesshoumaru. Inuyoukai itu tidak pernah berbohong padanya, dia selalu menepati ucapannya, karena itu—mereka pasti akan dapat bersama untuk selamanya.


Kenapa kau bersedia menderita seperti ini? Sejauh apa kau bersedia menderita?


Pertanyaan Meido seki melintas dalam pikiran Rin. Kenapa dia bersedia menderita? Sejauh apa dia bersedia menderita?—jika melihat dirinya sekarang bersama Sesshoumaru dan Shura, kau akan mengerti, bukan?

__ADS_1


....xOxOx....


Duduk diam membisu dengan kedua tangan terlipat di dada, Inuyasha menatap langit musim dingin di depannya. Berada di teras depan kamar tidur penguasa tanah barat, dia bisa mendengar jelas ucapan Sesshoumaru pada Rin yang ada di dalam, dan dia—termenung.


"Kagome," panggil Inuyasha kemudian tanpa menatap Kagome yang juga duduk di sampingnya. "Rin sudah sadar."


"Eh? Benarkah?" tanya Kagome terkejut, walau sejenak kemudian dia segera tersadar, sebab keberadaannya sekarang di luar kamar memang tidak lain adalah untuk memeriksa kesehatan kisaki tanah saat sadar.


"Terima kasih sudah memberitahuku, Inu—" ujar Kagome cepat sambil berdiri. Namun, tangan kanan Inuyasha dengan cepat menarik tangan kiri miko masa depan itu untuk kembali duduk.


"Jangan masuk." Perintah Inuyasha singkat.


"Inuyasha!" panggil Kagome lagi penuh kekesalan. Dia tidak mengerti kenapa Inuyasha tiba-tiba bersikap seperti ini, tidak tahukah dia memeriksa keadaan Rin adalah hal yang sangat penting? "Kau ta—"


Namun sekali lagi, ucapan Kagome terhenti karena kedua tangan Inuyasha tiba-tiba memeluk badannya erat. Mendekapkan wajahnya di dada bidang di depan, miko masa depan itu bisa mendengar jelas detak jantung inuhanyou itu yang teratur.


Sadar dengan ketidak normalnya Inuyasha, kekesalan di wajah Kagome menghilang. Mengangkat tangan membalas pelukan suaminya, dia bertanya pelan. "Ada apa, Inuyasha?"


"Menurutmu," ujar Inuyasha pelan dan meletakkan dagunya tepat di atas kepala Kagome. Kedua mata emasnya kembali terarah ke atas langit. "Fushi no kusuri itu ada berapa?"


"Eh??" pertanyaan Inuyasha membuat Kagome sangat kebingungan, dia tidak mengerti arah pembicaraan mereka sekarang.


"Aku berharap ada dua," lanjut Inuyasha lagi tanpa menolehkan pandangannya sedikitpun dari langit musim dingin. "Satu untuk Rin, dan satu lagi—untukmu."


Kagome tertegun dan terdiam tidak tahu harus mengatakan apa dengan ucapan Inuyasha.


"A-aku—" suara Inuyasha bergetar, dan pelukannya pada Kagome semakin mengerat. "Tidak ingin kehilanganmu lagi.."


Kehilangan—kematian.


Kagome adalah manusia, dan dia adalah hanyou—hubungan mereka tidak beda jauh dengan hubungan youkai dan manusia. Dalam waktu yang bergerak maju terus, cepat atau lambat, kematian akan tetap datang dan merengut wanita yang dia cintai dari dirinya.


Inuyasha dulu pernah berpikir, saat Kagome kembali dan memutuskan tinggal di dunia ini—dia bersumpah akan memberikan wanita masa depan itu semua kebahagiaan yang bisa bisa diberikannya. Dia akan menghormatinya, menghargainya—mencintanya. Mereka akan bahagia, dan dia tidak akan membiarkan ada penyesalan diantara mereka.


Inuyasha juga ingat, dulu di istana tanah selatan, dia berkata dengan lantang pada Sesshoumaru bahwa dia kuat—bahwa dia akan sanggup menghadapi dunia tanpa Kagome kelak. Dia berpikir dirinya pasti akan baik-baik saja meski suatu saat nanti Kagome menghilang darinya lagi setelah kebersamaan mereka mencapai akhirnya. Namun sekarang, melihat Sesshoumaru dan Rin—Inuyasha; takut.


Apa benar dia sanggup? Apakah dia mampu? Kehilangan Kagome dulu saat Naraku musnah, Inuyasha sudah tahu betapa miko masa depan itu berarti baginya. Lalu, sekarang, setelah mereka benar-benar bahagia, apakah dia sanggup kehilangan lagi?


Tertawa dalam hati. Inuyasha hanya dapat berpikir, betapa bodoh dan arogannya dia setahun yang lalu kepada Sesshoumaru. Karena kenyataannya—tidak akan pernah ada kata baik-baik saja lagi jika dia kehilangan Kagome dalam hidupnya lagi.


Siapa yang sanggup hidup dengan baik saat kau sudah mengecap apa itu kebahagiaan namun kehilangan? Siapa yang sanggup hidup lagi di dunia yang dingin saat kau sudah tahu hangatnya dunia?—Inuyasha tahu sekarang; dia tidak akan pernah sanggup.


Kagome tetap tidak mengatakan apa-apa. Tapi, jauh dalam hati, dia merasa sangat sakit dan juga sedih. Ucapan inuhanyou itu, ketakutannya—bohong jika dia tidak tahu.


Mencintai.


Manusia dan youkai, manusia dan hanyou—cinta mereka sedari awal memang bukanlah sebuah cinta yang mudah. Manusia yang menua dan mati dengan cepat bersama youkai atau hanyou yang menua dengan lambat dan hidup panjang—akhir kisah mereka, seperti apa?


Tidak mau memikirkan akhir kisah mereka, cukup memikirkan hidup mereka yang bahagia dan selalu bersama seperti sekarang. Kagome ingin selalu hidup seperti itu, dan mungkin juga—Rin.


Mereka larut dalam cinta yang ada. Kebersamaan yang manis, kehangatan yang menyenangkan dan kebahagiaan yang menakjudkan. Mereka telah dibutakan—ah, tidak. Mereka bukan dibutakan, tetapi sengaja membutakan; sengaja melupakan akan kenyataan menyakitkan yang tidak terhentikan; perpisahan yang menakutkan di masa depan.


Menutup mata, air mata mengalir turun membasahi pipi Kagome. Menelan ludah, dia berusaha tertawa dan mengeluarkan suaranya yang bergetar. "K-ku berharap juga, fushi no kusuri ada dua—ah, tidak. Kuberharap fushi no kusuri ada banyak..."


Fushi no kusuri.

__ADS_1


Kagome benar berharap obat itu ada banyak. Untuk Rin, untuk dirinya, untuk Sango, untuk Miroku, untuk Kaeda, untuk anak-anak—untuk mereka yang berarti dalam hidupnya. Bisakah hidup ini cukup berisi pertemuan tanpa perpisahan?


....xOxOx....


__ADS_2