Till The End Of Time [ Inuyasha Fanfiction ]

Till The End Of Time [ Inuyasha Fanfiction ]
Chapter 92


__ADS_3

Dalam gunung hare, di samping danau yang terkenal karena keindahan dan kejernihannya, Sesshoumaru duduk di bawah sebatang pohon sakura. Kedua mata emasnya menatap lembut pada seorang wanita manusia yang tertawa lebar menangkap ikan penuh semangat.


Dengan rambut hitam panjang yang diikat menjadi ekor kuda, lengan kimono serta bawahan kimononya yang dilipat ke atas—mau tidak mau, sosok itu mengingatkan kembali penguasa tanah barat akan masa kecil sang istri.


"Sesshoumaru-sama!!" panggil Rin tiba-tiba sambil tertawa. Tangannya terangkat ke atas dengan seekor ikan yang berhasil ditangkap. "Lihat!! Rin berhasil menangkap ikan!!"


Berapa tahun telah berlalu, meski badannya yang kecil telah tumbuh besar menjadi badan seorang wanita, sikap dan kepolosan istrinya tetaplah tidak pernah berubah—seperti seorang anak kecil.


Tapi, itulah yang dicintai Sesshoumaru. Meski hidup dalam dunia yang kotor dan hina, dia tetap sama, seperti hari pertama mereka bertemu; murni.


Melangkah keluar dari danau, dengan senyum yang masih ada di wajah, Rin kemudian mendekati Sesshoumaru. "Ternyata kemampuan Rin menangkap ikan tidak menurun."


Sesshoumaru tidak mengatakan apa-apa, dia hanya menatap kisaki tanah barat itu melepaskan ikan yang berhasil ditangkap pada sebuah guci berisi air tidak jauh dari tempatnya duduk.


Menurunkan lengan dan bawahan kimononya yang dilipat ke atas, Rin kemudian menutup mata dan melepaskan ikatan rambutnya. Seulas senyum memenuhi wajah saat dia merasakan angin akhir musim semi membelai wajahnya.


Setiap gerak gerik dan juga untuk setiap senyum di wajah cantik Rin, Sesshoumaru menatapnya lekat. Melihatnya yang begitu berbeda darinya, begitu cemerlang di bawah limpahan cahaya matahari, inuyoukai penguasa tanah barat merasa hatinya sangat hangat.


Untuk pertama kali, Sesshoumaru merasa-dirinya adalah seorang youkai yang sangat beruntung memiliki Rin. Wanita di depannya adalah musim semi abadi di dunia ini, dan berdiri di depannya, di bawah sinar matahari—dia bahkan lebih cemerlang dibandingkan matahari itu sendiri.


"Rin." Panggil Sesshoumaru pelan dan datar. Mengulurkan tangan kanannya pada Rin, wajahnya tetap datar tanpa ekspresi. Tapi tidak untuk pandangan mata emasnya yang semakin lembut.


Uluran tangan Sesshoumaru membuat Rin tertegun. Namun, sedetik kemudian dia kembali tersenyum. Dengan wajah yang bersemu merah, dia melangkah dan menerima uluran tangan tersebut.


Kehangatan dari tangan yang bersentuhan membuat Sesshoumaru menarik sang wanita hingga jatuh ke dalam pelukannya. Melingkar kedua tangan di pinggang ramping tersebut, dia menutup mata dan memeluk erat kisakinya.


Wajah Rin semakin memerah, namun, meski begitu, dia kemudian menutup mata. Menempelkan kepalanya pada Sesshoumaru, dia membalas pelukan yang ada dengan sama eratnya.


Pelukan yang hangat, pelukan yang menjanjikan keamanan. Sejak dulu sampai sekarang dan ke depannya, Rin tahu, pelukan Sesshoumaru selamanya akan menjadi tempat favoritnya.


Perlahan, tangan kanan Sesshoumaru terangkat membelai rambut hitan panjang Rin. Tidak ada yang mengatakan sepatah katapun lagi, diam membisu mereka berdua menikmati kebersamaan yang ada.


Langit biru dan matahari yang hangat, angin yang berhembus lembut, bau musim semi yang tercium, serta keheningan dan ketenangan yang ada—jika bisa melalui setiap hari seperti ini, maka, betapa menyenangkannya hidup.


Suara detakan jantung kemudian ditangkap telinga Rin. Seulas senyum kemudian merekah di wajahnya. Detakan jantung mereka yang sama begitu indah dan harmonis baginya.


"Sesshoumaru-sama," panggil Rin pelan, dia membuka mata dan menenggadahkan kepala menatap Sesshoumaru. "Bolehkah Rin bertanya pada anda?"


Sesshoumaru membuka mata dan menurunkan pandangannya pada Rin. Perlahan, dia mengangguk kepala.


"Sesshoumaru-sama, kenapa dulu anda menghidupkan Rin?"


Pertanyaan itu dilontarkan dengan pelan. Namun, Sesshoumaru bisa melihat jelas sepasang mata coklat jernih yang bersinar lembut menatapnya penuh harapan menantikan jawaban.


"Rin bukanlah siapa-siapa. Rin bisu dan kekurangan gizi-tidak berguna. Kenapa anda bersedia menghidupkan Rin?"


Sesshoumaru perlahan melepaskan tangan kanannya yang membelai rambut Rin.


Kenapa dia menghidupkan Rin dulu?-Sesshoumaru sebenarnya tidak tahu. Tapi, jika ditanya, apa yang terlintas dalam pikirannya saat melihat badan kecil tidak bernyawa itu, maka jawabannya adalah—


"Senyum tawamu."


"Eh?" seru Rin bingung.


"Senyum tawamu adalah apa yang Sesshoumaru ini pikirkan saat menghidupkanmu."


Mata Rin terbelalak menatap Sesshoumaru, tidak percaya dengan jawaban di luar dugaan yang didapatkannya.


"Sesshoumaru ini menyukai senyum tawa Rin, karena itu.." lanjut Sesshoumaru lagi, tangan kanannya menangkap pelan pipi Rin, sedangkan mata emasnya menatap lurus sang wanita. "Tersenyum dan tertawalah selalu.."


Perasaan hangat yang tidak terbendung memenuhi Rin. Begitu hangat hingga dia merasa sangat sesak—sesak karena kebahagiaan.


Menutup mata, mengangkat kedua ujung bibirnya, dengan pipi yang merona merah bagaikan kelopak mawar, kisaki tanah barat kembali tersenyum—senyum terbaiknya.


"Iya, Rin akan selalu tersenyum dan tertawa.."


Senyum di depannya, Sesshoumaru tertegun, sebab, inilah senyum saat itu. Senyum yang ditunjukkan Rin padanya dulu. Senyum yang dia inginkan selalu ada di wajah itu setiap kali dia menatapnya-senyum yang sangat dicintainya.


Melepaskan tangannya yang ada di pipi Rin, Sesshoumaru kembali memeluk erat wanita manusia itu dan menutup sepasang mata emasnya.


Mencintai.


Hanya dengan sentuhan tangannya yang mungil, di dalam pelukan dan ciumannya yang hangat, serta untuk setiap senyum dan tawa Rin—dari hari ke hari, Sesshoumaru hanya merasa, cinta dalam hatinya yang semakin besar dan kuat.


Tidak dapat dihentikan maupun dikontrol lagi, perasaan itu terus tumbuh. Demi Rin, Sesshoumaru bersedia melakukan apapun. Bahkan, jika wanita ini menginginkan hidupnya—dia bisa memberikannya; dia terlalu mencintai wanita ini.


Seorang wanita manusia yang lemah dan rapuh bagaikan kaca. Tapi, tidak tahu sejak kapan, dia telah menjadi yang paling penting dalam hidupnya—menjadi kelemahan satu-satunya dari Sesshoumaru, sang penguasa tanah barat.


Senyum di wajah Rin berubah menjadi tawa kebahagiaan. Lalu, mungkin karena pertanyaannya barusan, mau tidak mau, dia teringat kembali masa lalunya yang begitu berbeda dengan sekarang.


Saat itu, dunianya begitu berat dan menakutkan. Sendirian, dia melewati hari demi hari tanpa tujuan. Lalu, saat dia menemukan Sesshoumaru yang terluka dalam hutan, dia merasa youkai itu sangat cantik—begitu berbeda dengannya.


Memikirkan kembali, Rin berusaha mengingat apa alasan dia mendekati Sesshoumaru saat itu? Karena rasa terpesona? Atau karena penasaran?


Tidak.


Rin ingat, alasan dia mendekati Sesshoumaru saat itu bukanlah karena perasaan terpesona ataupun penasaran. Alasan sebenarnya dia mendekati inuyoukai saat itu adalah karena—dia tidak ingin hidup lagi.


Dunia dan hidupnya saat itu adalah neraka. Gelap tanpa cahaya, penuh mimpi buruk yang tiada akhirnya. Karena itulah dia mendekati Sesshoumaru—dalam hati kecilnya, dia berharap inuyoukai itu akan mengakhiri hidupnya yang menyedihkan.


Lalu..


Dari mana kau dapatkan memar di wajahmu?


Sesshoumaru bertanya padanya dengan pertanyaan yang sangat sederhana. Pertanyaan yang tiada artinya bagi orang, namun pertanyaan itulah yang menjadi pelita kecil pertama yang menyala dalam dunianya yang gelap.


Lalu, pelita kecil itu kemudian membesar dan menyala, hingga menerangkan seluruh dunianya. Tidak berat dan menakutkan lagi, tidak ada lagi mimpi buruk, dunianya berubah, dan dia tidak mengharapkan kematian lagi—dia mengharapkan kehidupan sejak saat itu.


Ternyata, sebelum dihidupkan dengan pedang tensaiga, Sesshoumaru terlebih dahulu telah menyelamatkan hidupnya.


"Sesshoumaru-sama," panggil Rin pelan. Menjauhkan wajahnya, dengan senyum yang tetap ada di wajah, dia menatap inuyoukai tersebut. "Anda tahu?—apa yang Rin pikirkan saat mendekati anda tujuh tahun yang lalu?"


Sesshoumaru tidak menjawab pertanyaan Rin, dia menatap diam wanita dalam pelukannya.


"Karena Rin tidak ingin hidup lagi—Rin berharap Sesshoumaru-sama mau mengkahiri hidup Rin yang menyedihkan.."

__ADS_1


Sesshoumaru tetap tidak mengatakan apa-apa mendengar ucapan Rin. Ucapan wanita manusia dalam pelukannya, cukup mengejutkan, namun sekaligus juga tidak. Mungkin jauh dalam hati, dia tahu, sosoknya kecil yang dulu mendekatinya tanpa takut adalah karena kematianlah yang diinginkannya.


"Tapi," lanjut Rin lagi dengan pelan. Senyum di wajahnya melebar, mata coklatnya jernihnya berbinar cemerlang dalam limpahan cahaya matahari. "Anda merubahnya Sesshoumaru-sama. Anda bertanya pada Rin, melihat Rin-anda memberikan Rin sebuah alasan baru untuk hidup."


Menggerakkan tangan menyentuh kedua pipi Sesshoumaru. Rin tertawa dengan air mata yang tidak tahu kapan telah menetes turun di wajahnya. "Terima kasih, Sesshoumaru-sama. Terima kasih telah menyelamatkan hidup Rin, terima kasih telah menghidupkan Rin, terima kasih telah memberikan Rin sebuah alasan untuk hidup..."


Terima kasih.


Itu adalah ungkapan dalam hati Rin untuk inuyoukai yang dicintainya, kata terima kasih yang tidak pernah diucapkannya dulu—terima kasih untuk segala yang telah diberikannya.


Menarik Rin sekali lagi, Sesshoumaru memeluk istrinya. Namun, kali ini, pelukannya sangat erat, menutup mata, dia menenggelamkan wajahnya pada celah leher wanita manusia itu.


Alasan Rin mendekatinya tujuh tahun lalu, Sesshoumaru tidak peduli. Baginya itu adalah masa lalu, dan jauh dalam hati, dia selalu bersyukur Rin kecil mendekatinya dan memulaikan kisah di antara mereka.


Lalu, untuk setiap kata terima kasih dari mulut mungil itu. Rin membuat dirinya menjadi sangat egois. Untuk wanita yang telah diselamatkan dan dihidupkannya, dia menginginkan sesuatu sebagai balasannya, dia menginginkan—"Hiduplah untuk Sesshoumaru ini, Rin.."


Rin yang ada dalam pelukan Sesshoumaru mengangguk kepala. Membalas pelukan inuyoukai itu, dia tersenyum dalam isak tangisnya. "I-iya, Rin akan hidup untuk Sesshoumaru-sama.."


....xOxOx....


Seorang youkai rakun dan seorang youkai tupai berjalan pelan memasuki gunung hare. Dengan cahaya bulan di langit malam sebagai penerang, di tangan mereka, mereka membawa sebuah keranjang berisi buah-buahan, berbagai jamur yang tumbuh di gunung hare serta kayu kering.


"Menurutmu, apakah buah-buahan dan jamur ini cukup?" tanya youkai tupai pada youkai rakun yang berjalan di depannya pelan. Kedua mata hitamnya penuh dengan ketakutan. "Bagaimana kalau Sesshoumaru-sama mengatakan tidak cukup?"


Pertanyaan tersebut membuat langkah kaki youkai rakun terhenti. Menatap ke belakang, dia menjawab dengan ekspresi muka yang tidak dapat dijelaskan. "Mungkin kita akan mati.."


Youkai rakun dan youkai tupai ini adalah youkai yang selama ini hidup dalam gunung hare. Hari ini, dengan menggunakan trik dan juga kekuatan mereka, mereka sengaja membuat keributan dan menciptakan hujan lebat untuk menganggu penduduk kota Tenko yang telah berani sembarangan menebang pohon dalam gunung.


Tapi, mereka berdua tidak menyangka, baru saja bersorak gembira untuk keberhasilan mereka, tiba-tiba saja Sesshoumaru, daiyoukai penguasa tanah barat muncul di depan mereka.


Apa yang terjadi selanjutnya, kedua youkai itu tidak mau mengingatnya lagi, dan meski masih dapat mempertahankan nyawa, mereka tahu, kejadian itu selamanya akan menjadi mimpi buruk yang akan menghantui sisa hidup mereka.


Siapa yang menyangka Sesshoumaru, sang penguasa tanah barat dan kisakinya akan menginjakkan kaki dalam gunung hare ini?—jika mereka tahu, mereka akan segera angkat kaki dari gunung ini secepat yang mereka bisa.


Lalu, sekarang ini, meski sudah berhasil mololoskan diri dari cengkeraman maut, mereka harus kembali lagi menghadapi penguasa tanah barat yang merupakan maut itu sendiri karena dia memerintah mereka mencari makanan dan kayu kering untuk kisakinya yang merupakan seorang manusia.


"Kudengar Kisaki tanah barat adalah seorang wanita manusia yang sangat baik, apakah menurutmu beliau akan melepaskan kita?" tanya youkai tupai lagi dengan wajah pucat.


Youkai rakun tidak menjawab. Mengingat rumor dan berita yang ada, dia hanya berharap kisaki tanah barat benar sebaik dan semurah hati yang didengarnya.


"Kuharap begitu," ujar youkai rakun kemudian dan menghela napas. "Ayo, kita sudah terlambat."


Menguatkan hati dan menggunakan segenap keberanian dalam diri mereka, kedua youkai itu kembali melanjutkan perjalanan mereka. Lalu, saat mencapai danau yang ada dalam gunung hare, mata mereka menangkap dua sosok terpenting dari tanah barat yang besar.


Di bawah pohon sakura yang menjatuhkan kelopaknya, seorang inuyoukai duduk dengan menyandarkan badannya pada batang pohon. Di bawah sinar bulan, dengan mata tertutup, wajahnya yang sangat rupawan terlihat sangat tenang dan damai.


Di sampingnya, seorang wanita manusia yang sangat cantik tertidur berbantal kaki sang inuyoukai. Rambut sehitam langit malam tanpa bintang, kulit seputih salju, wajah mungil dengan alis yang rapi, bulu mata panjang nan lentik, serta hidung mancung, pipi merona bagaikan kelopak mawar dan bibir kecil—kisaki tanah barat benar-benar secantik yang dirumorkan.


Di balut bulu-bulu tebal untuk mengusir dinginnya malam, dengan tangan kanannya yang mengenggam erat tangan sang penguasa tanah barat, kisaki tanah barat itu tertidur dengan begitu damainya.


Indah bagaikan lukisan.


Itulah kalimat yang pertama kali terlintas dalam pikiran kedua youkai itu saat melihat pemandangan di depan. Tapi, pemadangan itu dengan segera berubah saat sepasang mata sang penguasa tanah barat yang tertutup tiba-tiba terbuka.


Kedua youkai gunung hare tersebut langsung bersujud menyembah dengan badan yang bergetar hebat. "Sesshoumaru-sama.."


"Nyalakan api unggun dan pergi dari sini." perintah Sesshoumaru datar. Pandangan matanya tidak teralih sedikitpun dari kisakinya yang sedang tertidur.


Kedua youkai gunung hare dengan cepat bangkit dan menggunakan kayu kering yang dibawa mereka membuat api unggun. Hati mereka bersorak gembira karena nyawa mereka masih dapat dipertahankan.


Berusaha menyalakan api unggun, sambil mencuri lihat, youkai tupai menatap kembali sepasang penguasa tanah barat di depannya. Meski takut, dia masih tidak bisa melupakan pemandangan bagaikan lukisan yang tadi dilihatnya, dan seketika, dia tertegun.


Sesshoumaru, daiyoukai sang penguasa tanah barat adalah youkai bangsawan murni yang sangat terkenal akan kekuatan, kekuasaan dan juga; kekejamannya. Youkai itu adalah pembenci manusia dan hanyou, inuyoukai yang akan membunuh siapapun tanpa pandang bulu jika tidak disukai


Namun, inuyoukai yang sama juga, kini menatap sosok seorang wanita manusia dengan sepasang mata emas yang bersinar penuh kehangatan dan pujaan. Setiap gerakan tangannya yang membelai rambut sang wanita begitu hati-hati penuh kelembutan, seakan menyentuh harta berharga yang tidak ternilai.


"Api unggunnya sudah menyala." suara youkai rakun tiba-tiba menyadarkan youkai tupai dari apa yang dilihatnya.


Menoleh wajah pada temannya, youkai tupai melihat youkai rakun tiba-tiba menggunakan tangan kanan untuk menekan kepalanya hingga tertunduk ke bawah tanah. "Kami menpermisikan diri, Sesshounaru-sama."


Youkai tupai tidak memiliki kesempatan untuk memprotes sedikitpun, sebab youkai rakun dengan cepat telah menariknya meninggalkan tempat.


"Jangan melihat lagi , dan lupakan apa yang kau lihat," perintah youkai rakun dengan suaranya yang datar, walau tidak dapat dipungkiri mengandung ketakutan. "Kita mungkin akan mati kalau beliau merasa kita melihat sesuatu yang tidak seharusnya."


Youkai tupai menelan ludah mendengar peringatan temannya. Ketakutan seketika memenuhi hatinya, tapi meski begitu, dia benar-benar tidak dapat melupakan apa yang dilihatnya.


Rumor mengatakan, sang penguasa tanah barat mengangkat seorang wanita manusia menjadi kisaki tanah barat karena wanita itu memiliki kekuatan yang luar biasa. Namun, mengingat apa yang tadi dilihatnya, mengingat mata emas dan gerakannya yang lembut, youkai tupai merasa, rumor itu tidak benar—penguasa tanah barat terlihat jelas sangat mencintai kisakinya.


Sesshoumaru tetap tidak menolehkan pandangannya meski kedua youki gunung hare telah menghilang dari pandangan. Mata emasnya masih terarah pada Rin dan mengelus rambutnya. Melihat wanita itu tertidur damai, dia tidak pernah merasa bosan.


"Sesshoumaru-sama.." dalam mimpinya, Rin bergumam pelan. Seulas senyum indah merekah di wajah cantiknya.


Seulas senyum kecil ikut terlukis di wajah Sesshoumaru. Pandangan mata emasnya semakin melembut. Mendengar namanya yang meluncur keluar dari mulut mungil itu, Sesshoumaru merasa gembira.


Mimpilah—mimpikan dirinya. Penuhi dirinya dalam setiap mimpi yang ada. Baik saat bangun maupun saat tidur, dalam kenyataan maupun mimpi, pikirkanlah dirinya seorang saja bukan orang lain.


Menundukkan kepala, perlahan, Sesshoumaru mencium lembut kening Rin. "Cintailah Sesshoumaru ini seorang saja, Rin.."


Sentuhan bibir yang hangat di dahi dan suara yang berujar pelan bagaikan berbisik, Rin perlahan membuka mata coklat jernihnya. Senyum di wajah semakin melebar saat dia melihat wajah dari inuyoukai yang dicintainya.


"Sesshoumaru-sama..." panggil Rin pelan. Tangan kirinya terangkat menyentuh pipi sang suami.


"Kau masih ngantuk, Rin?" tanya Sesshoumaru pelan. Suaranya datar tanpa emosi, tapi Rin bisa merasakan kehangatan.


Rin tertawa dan menggeleng kepala. "Tidak. Rin merasa lapar sekarang."


"Makanlah," balas Sesshoumaru dan menjauhkan wajah mereka. Perlahan, dia membantu wanita itu duduk. "Sesshoumaru ini sudah menyiapkan makanan untukmu."


Menatap sekeliling yang telah gelap, mata Rin kemudian menemukan api unggun yang dinyalakan, serta dua keranjang yang berisi buah-buahan, jamur dan juga kayu kering. Kebingungan memenuhi hatinya, apakah Sesshoumaru yang menyiapkan ini dan menyalakan api unggun saat dia tidur?


Sesshoumaru tidak menjelaskan pada Rin tentang asal muasal keranjang dan juga siapa yang menyalakan api unggun. Mengambil sebutir apel dari dalam keranjang, dia meletakkannya dalam tangan kisakinya.


Rin juga tidak bertanya. Tersenyum lebar, dia menerima apel itu dan mulai membuka mulut mengigitnya.


Melihat Rin yang memakan apel di tangannya, Sesshoumaru kemudian menarik badan wanita manusia itu. Menempatkan badan mungil itu duduk di atas kakinya, moko-mokonya bergerak kembali menyelimuti kisakinya.

__ADS_1


Rin tertegun dengan apa yang dilakukan Sesshoumaru, tapi sejenak, dia kembali tersenyum dengan wajah memerah. Sebab, posisi duduknya yang berhadapan langsung dengan sang penguasa tanah barat sekarang ini, dapat membuatnya melihat wajah tampan inuyoukai itu dengan sangat jelas.


Sesshoumaru yang menyadari pandangan mata Rin segera membalas tatapan tersebut. Dia tidak mengatakan apa-apa, tapi pandangannya membuat wajah Rin semakin memerah.


Kegugupan memenuhi hati Rin secara tiba-tiba. Berusaha mengalihkan kegugupannya, dia kemudian menyodorkan apel yang dimakannya pada Sesshoumaru. "S-sesshoumaru-sama, anda lapar? Anda mau makan?"


Sesshoumaru tidak menjawab pertanyaan Rin, dia masih menatap wanita manusia itu dalam diam. Melihat wajah merah itu, dia tahu, kisakinya merasa malu dan gugup akan kedekatan mereka. Rasa geli memenuhi hatinya. Setelah semua yang terjadi antara mereka, istrinya tetap saja tidak kehilangan kepolosannya.


Rin mulai menyesal dengan kebodohan yang dilakukannya. Dalam tujuh tahun lebih kebersamaan mereka, dirinya tidak pernah melihat inuyoukai itu memakan sesuatu, terlebih lagi sekarang, bagaimana mungkin dia menyodorkan apel yang telah dimakannya itu pada Sesshoumaru?


Namun, tiba-tiba saja, Sesshoumaru bergerak. Menutup kedua mata emasnya, dia membuka mulutnya dan mengigit apel dalam tangan Rin.


Mata Rin terbelalak tidak percaya. Sesshoumaru mengigit apel yang di tangannya? Sesshoumaru memakan apel? Sungguhkah??


Menjauhkan wajahnya lagi, Sesshoumaru mengunyah dan menelan apel dalam mulutnya. Dia tidak bisa menahan lagi, senyum menyeringai kecil memenuhi wajah tampannya saat dia melihat ekpresi wajah Rin. Dengan sepasang mata coklat yang terbelalak dengan mulut yang terbuka besar—wanita di depannya benar sangat lucu dan menggemaskan, membuat dia ingin mengodanya terus.


Rin kemudian segera menurunkan kepalanya begitu sadar dari perasaan terkejutnya. Wajahnya kembali memerah, dan kali ini, dia tidak berani lagi mengangkat kepala menatap Sesshoumaru. Diam membisu, dia kembali memakan apel di tangannya.


Sesshoumaru juga tidak mengatakan apa-apa lagi. Menatap Rin, dia mengangkat tangan kanannya mengelus pelan dan lembut rambut hitam kisakinya. Sepertinya, dia kini akan memiliki kebiasaan mengelur rambut hitam sehalus sutra ini mulai sekarang.


Meski masih merasa malu, pada setiap elusan tangan Sesshoumaru di rambut hitamnya, perlahan, Rin merasa sangat damai. Menghabiskn apel di tangannya, memberanikan diri, dia kemudian mengangkat kepalanya dan berujar pelan. "Sesshoumaru-sama, Rin ingin minum air."


Sesshoumaru mengangguk kepala dan membuka moko-mokonya yang menyelimuti badan Rin. Tidak membuang waktu dan kesempatan yang ada, kisaki tanah barat itu kemudian bangkit berdiri dan berjalan ke arah danau hare.


Menggunakan tangannya sebagai wadah, Rin meminum air danau dalam diam. Seketika juga, dia menyadari bayangan wajahnya yang masih memerah terpantul di danau berkat cahaya bulan.


Mengigit bibirnya, dia segera menampung air danau dengan telapak tangannya dan mencuci muka. Dia merasakan wajahnya sekarang sungguh sangat memalukan, apa yang akan dipikirkan Sesshoumaru melihat ekspresi konyolnya ini?


Sesshoumaru menatap punggung Rin, senyum di wajahnya tidak kunjung menghilang. Betapa luar biasa wanita di depannya, dia bisa membuatnya tersenyum seperti ini dengan sangat mudahnya.


Mengangkat wajahnya lagi, dengan mata tertutup, Rin kemudian menghela napas. Dia harus mengontrol emosi dan wajahnya. Membuka mata, sesuatu tiba-tiba melintas tepat di depannya.


Kedua mata coklat besarnya kembali terbelalak, senyum sangat lebar memenuhi wajahnya. Berdiri, dia menoleh kepalanya pada Sesshoumaru. "Sesshoumaru-sama, lihat! Kunang kunang!"


Di atas danau hare, tidak tahu sejak kapan, berpuluh-puluh kunang kunang terbang. Cahaya kuning, hijau, merah terang dan orange mereka yang berkelap-kelip sungguh membuat danau hare yang indah semakin indah.


Tertawa bahagia, Rin mengangkat bawahan kimononya dan berjalan memasuki danau hare yang tidak dalam. Dinginnya air danau pada malam hari tidak menganggunya, pandangannya terfokus pada kunang-kunang yang terbang di sekeliling.


Membalikkan badan, Rin kemudian kembali menatap Sesshoumaru sambil tertawa "Sesshoumaru-sama, lihat!! Indah sekali!"


Sesshoumru tidak membalas ucapan Rin. Namun, kedua mata emasnya tidak lepas dari wanita yang berada di depannya—terpukau.


Langit malam dengan jutaan bintang di atas, dalam danau dengan kelap-kelip cahaya kunang-kunang, wanita itu berdiri dengan tawa di wajah.


Indah.


Ya! Dalam mata Sesshoumaru, pandangan di depannya sungguh sangat indah—wanita manusia itu terlalu indah untuk dunia ini.


Mata Sesshoumaru yang terarah padanya begitu lembut membuat tawa di wajah Rin berubah menjadi senyum. Lalu, menurunkan ujung kimononya, tidak peduli pakaiannya itu basah, kisaki tanah barat kemudian membungkukkan badan pada penguasa tanah barat memberikan hormat.


Mengangkat pandangan ke atas langit, kaki Rin melangkah dalam air. Bergerak dengan indah, meloncat dengan penuh kelincahan, kedua tangannya ikut terangkat—menari dengan anggun.


Anata wa tottemo kanpekina omokage


Me no mae ni nani yori mo ichiban utsukushi sugata


Shitau koto wa anata dake


Suara nyanyian yang selalu indah bagaikan dentingan lonceng memenuhi danau gunung hare yang sunyi.


Sesshoumaru tahu tarian dan lagu ini, ini adalah tarian dan lagu yang dipersembahkan Rin pada hari ulang tahunnya.


Mai ippo anata no koto wo omoidasu


Anata wa sonzai shinai jinsei o omou koto ga dekinai


Watashi no soba ni kara hanarenaide


Subete wo norikireru koto wa nai kara


Anata to ironna koto toorinukeru


Sosok yang meloncat menari dan terus bernyanyi, tidak peduli kimononya basah karena percikan air, dalam kelap kelip kunang-kunang, dengan jutaan bintang di atas langit—jantung Sesshoumaru berdetak luar biasa cepat.


Sungguh, wanita di depannya itu luar biasa memikat. Keindahan yang diperlihatkannya, penguasa tanah barat tahu, dia tidak akan pernah dapat melupakannya.


Anata wa watashi no shinzo


Anata wa watashi no chi


Anata wa watashi no jinsei


Wanita itu adalah miliknya. Selamanya, Sesshoumaru tidak akan mengijinkan siapapun merebutnya dari sisinya. Seperti lirik lagunya, Rin juga merupakan darah, jantung dan hidupnya.


Kenyataan sesungguhnya, Sesshoumaru telah mencintai kisakinya seperti orang gila.


Anata no okage de watshi wa kanzen ni natta


Itoshii hito e anata wa tottemo


Kanpeki da


Lagu dan tarian yang usai. Perlahan, dengan senyum di wajah, Rin kembali membungkukkan badan memberikan hormat pada Sesshoumaru.


Namun, tiba-tiba saja, inuyoukai itu telah berada di depannya. Melingkarkan kedua tangan di pinggang ramping itu, dia menarik badan mungilnya ke dalam sebuah pelukan.


"Rin.."


Suaranya berat yang berbisik pelan di telinga, serta pelukan yang erat, semua itu membuat Rin terkejut. Menengadahkan kepala menatap Sesshoumaru, dia bisa melihat mata emas yang menatapnya penuh pujaan dan juga keinginan.


"Sesshoumaru ini menginginkanmu.."


Wajah Rin kembali memerah mendengar ucapan Sesshoumaru. Dia bukanlah orang bodoh yang tidak mengerti maksud dari ucapan inuyoukai itu. Menunduk malu, perlahan, dia menganguk kepala.


Pelukan yang ada semakin erat, lalu mengunakan tangan kanannya, Sesshoumaru mengangkat wajah Rin dan menciumnya, mencurahkan segenap cintanya pada wanitanya—kisakinya.

__ADS_1


Di atas danau, di bawah jutaan bintang dan di kelilingi puluhan kunang-kunang, dua yang satu, satu yang dua—mereka bersatu dengan jantung mereka yang berdetak sama.


....xOxOx....


__ADS_2