![Till The End Of Time [ Inuyasha Fanfiction ]](https://asset.asean.biz.id/till-the-end-of-time---inuyasha-fanfiction--.webp)
Dua taring.
Pusaka keluarga penguasa tanah barat yang sangat terkenal. Tidak ada yang tidak tahu akan kedua pusaka tersebut dalam dunia youkai. Taring berupa pedang dengan kekuatan yang bertolak belakang. Dua pedang yang berasal dari taring Inu No Taisho, sang inudaiyoukai penguasa tanah barat sebelumnya. Pedang yang kemudian diwariskan oleh Inu No Taisho kepada kedua putranya.
Tessaiga.
Pedang yang dengan sekali ayun dapat membunuh ratusan youkai. Pedang yang telah ditempah khusus dan tidak dapat digunakan bahkan disentuh oleh youkai. Pedang yang hanya digunakan oleh mereka yang memiliki darah manusia, dan diwariskan pada putra bungsu.
Lalu—Tensaiga.
Pedang yang sekali tebas dapat menghidupkan ratusan kehidupan. Pedang penyembuh—pedang kehidupan. Pedang yang memiliki kekuatan membangkitkan mereka yang telah mati. Pedang yang diwariskan pada putra sulung.
"Jadi, kau sekarang mengerti, kan, kecil?" tanya Inuyasha sambil menatap Shura. Kedua tangannya terlipat di dada. "Kau pikir aku masih akan dapat duduk tenang seperti ini kalau Sesshoumaru benar-benar sudah mati?"
Shura tidak menjawab pertanyaan Inuyasha. Duduk diam membisu dengan wajah tenangnya, dia hanya terus menatap Inuyasha.
"Hmnn," gumam Miroku pelan menatap Inuyasha. "Sampai sekarang aku masih belum terbiasa. Melihat Inuyasha begitu mempedulikan Sesshoumaru, rasanya sungguh tidak terbayang bahwa mereka ada kakak-adik yang saling membunuh dulunya."
"Hei!! Apa maksudmu, Miroku??" protes Inuyasha kesal mendengar ucapan Miroku. Dia menatap tajam biksu tersebut. Apa maksudnya mengungkit masa lalu yang sudah lama berlalu?
"Baik kakak maupun Inuyasha sudah dewasa, Miroku." Tawa Kagome melihat reaksi Inuyasha. Hubungan Inuyasha dan Miroku memang telah berubah sejak sepuluh tahun yang lalu, dan miko masa depan selalu merasa bersyukur untuk itu.
"Iya, mereka telah berubah." Tambah Sango setujubdengan ucapan Kagome, sedangkan untuk Kohaku, dia mengangguk kepala setuju.
"Hei, manusia! Beraninya kau berkata seperti itu mengenai Sesshiumaru-sama!!" teriak Jaken keras penuh kemarahan menatap Kagome.
"Hei!! Kau juga!! Apa maksudmu kami sudah dewasa!?? Memangnya kami ini dulunya anak kecil??" protes Inuyasha lagi, kali ini dia menatap tajam Kagome yang hanya tertawa tidak mempedulikannya maupun Jaken.
"Tapi," timpah Shippo sambil tersenyum menyeringai menatap Inuyasha. "Sifat kekanakannya tidak sembuh-sembuh."
Shura masih tidak mengatakan apa-apa mendengar pembicaraan yang ada, kedua matanya masih terarah pada Inuyasha. Dia tahu bahwa Inuyasha adalah kerabatnya melalui bau yang tercium, tapi dia cukup terkejut saat mengetahui bahwa inuhanyou itu adalah saudara seayah dari ayah kandungnya atau dengan arti lain; pamannya.
Sepuluh tahun hidupnya, Shura tidak pernah mengetahui bahwa ayahnya memiliki saudara hanyou. Tidak ada seorangpun yang memberitahunya, apakah itu karena ayahnya tidak mengakui suadara seayahnya ini? Tapi, melihat pembicaraan Inuyasha, Kagome dan Miroku, sepertinya hubungan antara kedua saudara tiri ini cukup baik walau dulunya tidak. Kenapa ayahnya merahasiakan ini juga darinya?
Lalu—Tessaiga dan Tensaiga.
Pusaka tanah barat yang terkenal ini, kenapa dia tidak mengetahuinya? terutama tensaiga, pedang kehidupan yang diwariskan pada ayah kandungnya, kenapa dia tidak pernah melihatnya? Shura benar tidak mengerti lagi mengapa ayah kandungnya merahasiakan ini semua darinya.
"Dimana pedang itu sekarang?" pertanyaan Shura membuat semua yang ada dalam ruangan menatapnya. "Dimana tensaiga berada sekarang?"
Keheningan memenuhi ruangan. Menatap Shura, tidak ada seorangpun menjawab pertanyaan tersebut. Dimana tensaiga berada sekarang? Semua yang ada tahu dimana pedang itu berada, hanya saja menjawabnya tidak mudah, terutama setelah mengetahui inuyoukai kecil ini dibesarkan tanpa mengetahui masa lalu.
"Tensaiga ada di gunung hare, Shura-sama."Tsubasa yang diam membisu kemudian mrnjawab. Dia yang ada dalam ruangan bisa melihat kesulitan di wajah semua yang ada, dan dia mengerti itu.
"Gunung Hare?" tanya Shura bingung.
"Iya, gunung hare," lanjut Tsubasa lagi dan menatap lurus mata emas inuyoukai kecil di depannya. "Tempat peristirahatan terakhir Rin-sama, ibu kandung anda."
....xOxOx....
"Anjing itu mati?"
"Iya, Akihiko-sama." Koga yang berlutut di depan Akihiko mengangguk kepala menjawab pertanyaan sang penguasa tanah selatan.
Akihiko terdiam mendengar jawaban yang didapatkannya, sedangkan untuk Koga, kedua matanya terus menatap sang penguasa menebak apa yang ada dalam pikirannya.
"Bagaimana dengan Shura?" tanya Akihiko kemudian.
"Shura-sama tidak diketahui keberadaannya, begitu juga dengan Inuyasha dan yang lainnya," jawab Koga lagi. Dia sudah menduga Akihiko pasti akan menanyai keberadaan inuyoukai kecil tersebut, untung diri berhasil mendapatkan beberapa informasi. "Tapi, beliau selamat. Ada yang menyelamatkannya walau tidak ada yang tahu siapa itu."
Akihiko kembali terdiam. Wajahnya datar tanpa ekspresi, dan Koga tidak mengatakan sepatah katapun lagi. Kekelahan Sesshoumaru dan jatuhnya tanah barat—tidak ada seorangpun yang pernah menyangka itu. Terlebih lagi, pelakunya adalah Shui. Apa yang sesungguhnya terjadi? Kurangnya informasi membuat banyak hal menjadi penuh tanda tanya.
"Akihiko-sama," ujar Koga lagi. Sedikit ragu, dia tidak tahu harus menyampaikan informasi ini atau tidak, tapi pada akhirnya dia memutuskan untuk menyampaikannya. "Tsubasa kemungkinan besar bersama dengan Shura-sama."
Akihiko tertegun mendengar ucapan Koga. Namun, sekali lagi, dia tidak memberikan reaksi apapun. Tsubasa yang meninggalkan istana tanah selatan atau lebih tepatnya meninggalkan Akihiko telah diketahui oleh sebagian besar youkai tanah selatan, sebab youkai burung itu adalah sosok yang memiliki kekuasaan cukup tinggi di istana tanah selatan. Ketidak beradanya cukup membuat kewalahan sebagian youkai dalam istana.
"Ada yang melihatnya menuju tanah barat sesaat setelah Shura-sama meninggalkan istana tanah selatan."
....xOxOx....
"Apa kau yakin Shura akan dapat menggunakan Tensaiga, Inuyasha?" tanya Miroku pelan. Dia menatap Inuyasha duduk dalam diam di samping Sesshoumaru yang berbaring tidak bernapas.
"Tentu saja Shura-sama bisa menggunakan Tensaiga!! Kau kira siapa beliau??" protes Jaken yang juga ada disamping Sesshoumaru penuh kemarahan.
Miroku tidak mempedulikan Jaken, dia hanya menatap Inuyasha yang masih diam membisu, begitu juga dengan Kohaku yang ada di sampingnya. Bisakah Shura mencabut Tensaiga? Dapatkah dia menggunakan kekuatannya?
"Si kecil itu pasti bisa," balas Inuyasha kemudian. "Pedang adalah warisan. Dengan tidak adanya Sesshoumaru, tensaiga pasti akan memilihnya—putra satu-satunya."
Miroku tidak bertanya lagi. Dia mengerti dengan apa yang dikatakan Inuyasha, tapi, bagaimana jika ternyata Shura tidak dapat mencabut tensaiga? atau bagaimana jika Shura dapat mencabut tensaiga namun tidak dapat menggunakannya?—inuyoukai kecil itu bahkan tidak tahu keberadaan pedang sepenting itu sampai mereka memberitahunya.
"Apakah kita harus mencari altenatif lain sebagai rencana cadangan?" ujar Kohaku pelan. Dia mengerti maksud pertanyaan Miroku. Tensaiga yang dapat membangkitkan mereka yang telah mati—pedang itu jelas bukan pedang sembarangan.
"Altenatif lain?" tanya Inuyasha mengangkat kepala menatap Kohaku. "Maksudmu Meido seki? Lupakanlah, kita tidak tahu dimana Meido seki berada. Terlebih lagi, siapa yang mampu menggunakan sesuatu yang tidak jelas tersebut?"
Kohaku terdiam mendengar pertanyaan Inuyasha, dan dia tidak dapat menjawabnya. Selain tensaiga, satu-satunya yang bisa membangkitkan mereka yang telah mati adalah—Meido seki. Hanya saja tidak seperti Tensaiga yang diketahui keberadaannya, meido seki telah menghilang sepuluh tahun yang lalu bersamaan dengan dikremasinya Rin.
"Kalian mengangap remeh Shura-sama, ya? Jika Meido seki ada disini sekarang, beliau juga pasti dapat menggunakannya!!" protes Jaken lagi penuh kemarahan walau sekali lagi, dia tidak dipedulilan oleh Inuyasha, Miroku maupun Kohaku yang berada dalam satu ruangan dengannya.
"Hei, Jaken," panggil Inuyasha kemudian tidak peduli dengan Jaken yang masih penuh kemarahan. Mengangkat kepalanya menatap youkai katak tersebut, dia bertanya pelan. "Menurutmu, kenapa Sesshoumaru tidak memberitahu si kecil? Mengapa dia merahasiakan semua ini?"
Kemarahan seketika menghilang dari wajah Jaken. Tertegun, dia menatap Inuyasha dalam diam.
"Lalu, menurutmu, apa maksud ucapan terakhir Sesshoumaru sebelumnya pada Si kecil, 'Lupakanlah'?" Inuyasha tidak mengerti tidak peduli bagaimana dia berpikir, kenapa Sesshoumaru melakukan itu semua? Apa maksud ucapannya itu? Jaken adalah youkai yang dapat dikatakan terdekat dan selalu berada di samping Sesshoumaru, Inuyasha sungguh berharap dia memiliki jawabannya.
Jaken menghela napas mendengar pertanyaan Inuyasha. Diam sejenak, dia menoleh pandangannya menatap Sesshoumaru, "Aku juga tidak tahu..." kesedihan terpancar jelas dari matanya. "Yang aku tahu, Sesshoumaru-sama sama sekali tidak dapat melangkah maju dari kematian Rin..."
Bohong jika Jaken tidak tahu, dia mungkin memang tidak dapat membaca Sesshoumaru seperti Rin yang hanya cukup menatap bola mata emas itu telah mengetahui segalanya. Tapi, waktu yang telah dia habiskan bersama Sesshoumaru selama ratusan tahun?—dia tahu. Dalam waktu yang terus berjalan dan bergerak maju, sepuluh tahun lamanya telah berlalu dan kematian Rin telah dapat diterima mereka yang mengenalnya, sebab waktu menyembuhkan. Tapi, tidak untuk Sesshoumaru, sebab dia tahu, sampai sekarangpun sesungguhnya Sesshoumaru tidak dapat menerima kematian Rin.
"Meski terlihat tidak apa-apa dan seakan telah menerimanya, Sesshoumaru-sama sama sekali tidak dapat menerima kematian Rin..." Jaken ingat jelas, wajah Sesshoumaru yang berdiri menatap lukisan Rin dalam diam tiap malam. Tangan yang terangkat dan menyentuh wajah dalam lukisan dengan lembut seakan sedang menyentuh permata paling berharga di dunia—Sesshoumaru terperangkap selamanya.
__ADS_1
Inuyasha, Miroku dan Kohaku terdiam. Tidak dapat melangkah maju, tidak dapat menerima—mereka tidak dapat mengatakan sepatah katapun. Wajah Rin terbayang dalam kepala mereka, senyum indahnya, kebahagiaannya, pengorbanannya dan juga—cintanya yang tulus. Jika dicintai sedemikian rupa, siapakah yang sanggup menerima kehilangan? Jika tidak dapat menerima, siapa yang sanggup melangkah maju?
"Haaa..," menghela napas panjang, Miroku mengangkat tangan kanannya menyusuri rambutnya. Pembicaraan ini sangat berat, dia tidak ingin melanjutkannya lagi, sebab dilanjutkan juga tidak akan menemukan penyelesaian. Bangkit berdiri, dia tersenyum kecil. "Baiklah, aku akan berkoordinasi dengan Koharu-san. Kita harus menyusun rencana jika ingin pergi ke gunung hare."
Baik Inuyasha dan Jaken mengangkat kepala menatap Miroku, tapi mereka hanya diam membisu. Kohaku juga bangkit berdiri, dia tersenyum kecil. "Aku ikut Kak Miroku, aku akan membantu."
Miroku membalas senyum adik iparnya, Kohaku dan mengangguk kepala. Tidak mengatakan lebih banyak lagi, mereka berdua meninggalkan ruangan yang hanya tersisa Inuyasha dan Jaken.
Jaken yang ditinggal bersama Inuyasha sama sekali tidak mempedulikan inuhanyou tersebut, kedua matanya menatap Sesshoumaru. Namun sejenak kemudian dia berdiri, "Jaga Sesshoumaru-sama, aku ingin memeriksa keadaan Shura-sama."
Inuyasha mengangkat kepala dan menatap Jaken tajam mendengar perintahnya. Dalam keadaan biasa, dia pasti sudah marah dan berdebat dengan youkai katak itu, memangnya dia pikir dia siapa?—beraninya memerintahnya. Tapi, untuk sekarang, dia tidak berniat melakukan itu.
Jaken yang ditatap Inuyasha seperti itu sedikit ketakutan. Tidak membuang waktu, dengan segera, youkai katak itu berlari keluar dari ruangan.
Ruangan yang sunyi membuat Inuyasha kembali menoleh pandangan pada Sesshoumaru. Menatap wajah damai inuyoukai tersebut, dia merasa frustasi dan juga—sedih.
"Bukankah sudah kukatakan, jika kau membutuhkan bantuan kau bisa mencariku di desa manusia, dan aku pasti akan segera datang untukmu.."
Tidak ada jawaban dan Inuyasha juga tahu itu.
"Jika kau tidak bisa melangkah dan tidak bisa melupakan—jika kau kesulitan dan menderita, seharusnya kau memberitahuku, Ahh—tidak," lanjut Inuyasha terus dan menutup mata. Dia tertawa kecil namun penuh kepedihan. Perasaan bersalah memenuhi hatinya. "Seharusnya aku tahu, bahwa kau tidak mungkin bisa melakukan itu.."
Jika dia ada di posisi Sesshoumaru dan Kagome di posisi Rin, Inuyasha yakin, dia pasti akan berakhir sama dengan Sesshoumaru. Dalam hidup yang panjang, kau menemukan cahaya gemerlap yang membawakan kehangatan, namun, tiba-tiba cahaya itu menghilang dan kau terlempar ke dalam kegelapan yang dingin—siapa yang bisa menghadapinya?
Kematian Rin sangat menyakitkan bagi Inuyasha. Karena baginya wanita manusia itu adalah keluarganya yang berharga, dia ingat jelas betap dia berhutang padanya. Karena itu, dia tidak bisa tinggal di istana tanah barat yang penuh kenangan. Tapi, untuk Sesshoumaru, kematian Rin mungkin sama dengan hancurnya dunianya, dan di tempat penuh kenangan pula, inuyoukai itu berusaha menata dunianya yang hancur. Inuyasha seharusnya sadar, Sesshoumaru tidak akan mengatakannya karena sifatnya yang keras kepala. Dia seharusnya sadar bahwa pada saat itu, walau terlihat baik-baik saja, inuyoukai itu membutuhkan dirinya.
"Maaf karena aku tidak ada disaat kau paling membutuhkanku, kakak..."
....xOxOx....
"Sakura, bagaimana kalau kita kembali ke kamar kita saja?" tanya Shiro pelan. Berbaring di atas futon dia menatap Sakura yang juga berbaring di sebelah kanannya. "Kamar ini terlalu sempit karena terlalu banyak orang."
"Tidak," balas Sakura sambil menggeleng kepala. Menoleh ke sebelah kanan, dia tersenyum menatap Shura yang juga sedang berbaring membalas tatapannya. "Sakura mau tidur dengan Kak Shura."
"Kamar ini tidak sempit walau kita semua berada disini," ujar Mamoru tiba-tiba. Dia yang berbaring di sebelah kiri Shiro tertawa. "Bukankah biasa kau mengatakan lebih ramai lebih baik?"
"Aku tidak ingat Shiro pernah mengatakan itu?" sela Aya yang ada disamping Mamoru.
"Iya," tambah Maya pelan. Dia yang berada di samping saudari kembarnya kemudian tertawa. "Tapi, aku setuju dengan kata itu kali ini."
Shura diam membisu tidak mengatakan sepatah katapun. Kejadian lagi, tidak tahu bagaimana para hanyou dan manusia ini lagi-lagi berkumpul dan memutuskan tidur di kamarnya. Dia ingin mengusir mereka, tapi pandangannya kemudian jatuh pada Sakura yang tersenyum lebar.
"Kak Shura, Sakura akan menemai kakak tidur," senyum manis Sakura semakin lebar dan perlahan tangannya bergerak memeluk tangan Shura. "Boleh, kan?"
Sentuhan yang hangat, Shura tidak menjawab, dia hanya terus menatap hanyou kecil yang tidak dapat dimegertinya. Sekali lagi, tidak tahu mengapa, dia tidak membenci sentuhan tersebut, malahan sebaliknya.
"Sakura, lepaskan!!" teriak Shiro panik melihat Sakura memeluk lengan Shura. Namun, tiba-tiba saja, suara Kagome terdengar dari luar. "Shiro, Sakura, kalian di dalam, ya?"
"Ibu!!" panggil Sakura bahagia. Melepaskan pelukan tangannya, dia segera berdiri dan membuka pintu kamar mempersilakan Kagome masuk.
Shiro tidak mengatakan apa-apa, dia tersenyum puas melihat Sakura yang telah melepaskan Shura. Terlebih lagi, Kagome pasti akan menyuruh mereka kembali ke kamar masing-masing. Namun tidak untuk Shura. Inuyoukai kecil itu merasa tidak suka, walau dia tidak memperlihatkannya di wajah. Ekspresi mukanya tetap datar tanpa emosi.
Shiro tertegun mendengar ucapan Kagome. Apa dia tidak salah dengar? Bagaimana bisa ibunya masih bisa membiarkan Sakura berada di dekat Shura?—tidak sadarkah beliau bahwa jika ini dibiarkan terus, cepat atau lambat, Sakura akan direbut dari mereka?
"Tenang, Bibi," tawa Mamoru lepas. Menatap Shiro yang masih tertegun dia tersenyum. Dia tidak akan mungkin mengijinkan Sakura melangkah keluar dari kamar ini, siapa suruh inuhanyou itu menghempaskannya ke atas lantai tadi?—"Kami semua sangat akrab."
Aya dan Maya tidak berkata apa-apa, tapi mereka berdua tersenyum dan mengangguk kepala membalas ucapan miko masa depan tersebut.
"Ibu! Ibu!" panggil Sakura dan menarik Kagome masuk ke dalam. Senyum di wajahnya semakin lebar, begitu juga dengan mata emasnya. "Karena ibu sudah kemari, bagaimana kalau ibu mendongeng untuk kami semua sebelum kami tidur."
Kagome tertawa melihat ekspresi menggemaskan putri kecilnya. "Baiklah."
"Hore!!" tertawa bahagia, Sakura segera melepaskan tangan Kagome dan berlari kembali ke atas futon tempat dia berbaring barusan. Menatap Shura, dia tersenyum manis. "Kak Shura, Ibuku akan mendongeng untuk kita."
Shura tidak membalas sepatah katapun. Dia hanya diam membisu dengan wajah datarnya.
Shiro tidak bisa berkata apapun. Melihat Kogome yang kini duduk di atas lantai tatami di depannya, dia merasa putus asa. Sepertinya hanya ayahnya seorang saja yang sepemikiran dengannya. Kelak, apapun yang terjadi, dia harus menempatkan ayah mereka di samping Sakura.
Kagome hanya tersenyum. Pandangan matanya jatuh pada Shura, dan dia benar-benar takjud melihat keponakannya tersebut, sebab, dia benar-benar persis seperti Sesshoumaru. Tidak hanya rupa, bahkan ekspresi dan sikapnya benar-benar kopian ayah kandungnya.
"Baiklah," ujar Kogome pelan dan tertawa. "Kalian mau mendengar dongen apa?"
"Hmnn, Putri Salju? Cinderella?" gumam Maya pelan memikirkan dongen aneh yang selalu diceritakan Kagome pada mereka sejak kecil.
"Atau Peterpan?" sela Aya yang juga sedang berpikir.
"Bagaimana kalau cerita horor saja," tambah Mamoru cepat penuh keceriaan. "Sepertinya itu akan lebih menyenangkan."
"Dongeng Youkai dan Putri manusia saja, Ibu," jawab Sakura penuh semangat. Dia ingin mendengar dongeng kesukaan yang tidak pernah bosan didengarnya sejak kecil. "Sakura ingin Kak Shura mengetahui dongeng itu."
Jawaban Sakura membuat semua yang ada dalam kamar terkejut. Menatap inuhanyou itu, mereka terdiam. Shura menyadari keanehan yang ada, tapi, seperti biasa, dia tidak mempedulikannya.
"Sakura, dongeng itu—" ujar Shiro pelan. Kenapa dari sekian banyak dongeng, adik perempuannya harus memilih dongeng itu? Namun, suara pelan Kagome kemudian memotongnya. "Baiklah."
Shiro, Mamoru, Aya dan Maya segera bangkit duduk dan menoleh wajah menatap Kagome. Kembali terkejut, mereka tidak bisa mengatakan sepatah katapun. Hanya Sakura seorang yang kembali bersorak gembira.
"Ibu," panggil Shiro pelan penuh keraguan di wajah tampannya. "Dongeng itu.."
Kagome tahu apa maksud ucapan Shiro, tapi dia menggeleng kepala dengan senyum yang masih ada di wajah. Perlahan, dia kemudian menatap Shura, dongeng youkai dan putri manusia yang akan diceritakannya, dia berharap inuyoukai kecil yang tidak tahu apa-apa itu akan mendengarnya. Sekali saja cukup, karena itu adalah sebuah dongeng yang indah.
Shura tidak mengerti pandangan Kagome yang terarah padanya. Memangnya ada apa dengan dongeng yang akan diceritakan tersebut sampai membuat miko di depannya menatapnya seperti ini?
"Baiklah," ujar Kagome pelan dan memulai menceritakan dongeng yang ada. "Pada jaman dahulu, ada seorang gadis manusia. Dia sebatang kara dan kehilangan keluarganya karena bandit yang menyerang desa. Sendirian, dia yang masih sangat kecil berusaha menjalani hidupnya. Tidak ada yang membantunya, karena itu, dia sering kelaparan dan kesepian."
Mata Sakura berbinar gembira mendengar dongeng ibunya. Shiro, Mamoru, Aya dan Maya masih diam membisu dengan ekspresi aneh di wajah mereka, sedangkan untuk Shura, seperti biasa, dia tidak peduli.
"Lalu, pada suatu hari, dia berjalan masuk ke dalam hutan, dan didalam hutan, dia melihat, seorang youkai yang terluka di bawah pohon."
Shura tidak pernah mendengar dongeng aneh yang diceritakan Kagome, dan dia tidak mengerti bagaimana dongeng ini bisa menjadi dongeng kesukaan Sakura.
__ADS_1
"Youkai itu terluka parah karena pertarungannya dengan—ehmm, saudaranya," lanjut Kagome sedikit kesulitan. Namun, dia tetap melanjutkan ceritanya. "Youkai itu berada di dalam hutan untuk menyembuhkan diri. Karena itulah gadis kecil tersebut bisa mendekati dan melihatnya dengan jelas. Berambut perak panjang dan bermata emas—youkai itu adalah seorang youkai yang sangat tampan, kuat, dan juga sangat membenci manusia."
Mata Sakura berbinar semakin gembira mendengar cerita Kagome. Pertemuan kedua tokoh utama dongeng ini adalah salah satu bagian cerita yang paling disukainya.
"Youkai itu sadar akan keberadaan gadis kecil itu. Tapi, dia tidak mempedulikannya. Sedangkan untuk gadis kecil itu, tanpa takut, tiap hari dia datang menemui sang youkai membawakan makanan walaupun tidak pernah dimakan," lanjut Kagome terus dan tertawa pelan. Perlahan, dia kemudian menatap Shura. "Lalu, pada hari youkai itu telah sembuh dan akan meninggalkan hutan, gadis kecil itu tidak datang lagi. Kenapa?—karena gadis kecil itu telah mati ditangan youkai lain yang menyerang desa."
Sakura terlihat sangat terkejut dan takut seakan dirinya pertama kali mendengar cerita dongeng tersebut, sedangkan untuk Shiro dan yang lainnya, mereka terus mencuri menatap Shura. Shura jelas semakin menyadari keanehan yang ada, tapi, sekali lagi, dia tidak peduli.
"Youkai itu menemukan gadis kecil itu. Saat melihatnya sudah tidak bernyawa, youkai yang membenci manusia itu tidak tahu mengapa untuk pertama kalinya mencabut pedang warisan ayahnya untuk—" mengambil jeda sebentar, Kagome kemudian tersenyum lembut dengan pandangan yang tidak beranjak sedikitpun dari Shura. "Menghidupkan gadis kecil tersebut..."
Shura segera bangkit dari posisi berbaringnya begitu mendengar cerita Kagome. Kedua mata emasnya terbelalak menatap miko masa depan tersebut tidak percaya.
Sampai disini cerita dongengnya, setelah mengetahui keberadaan Tensaiga, Kagome tahu, Shura pasti telah sadar akan kebenaran dongeng yang diceritakannya.
"Saat gadis kecil itu hidup kembali, dia mengikuti youkai itu, dan anehnya, meski terkenal sangat membenci manusia, youkai itu mengijinkannya, bahkan sampai melindungi gadis kecil itu dari segala marabahaya yang ada."
Shura terus menatap Kagome, mendengar ceritanya dengan saksama seakan tidak ingin kekurangan sedikitpun dongeng tersebut.
"Youkai dan manusia, mereka adalah makhluk yang berbeda, karena itu youkai itu memberikan gadis manusia itu pilihan, dunia mana yang akan dia tinggal? Dunia manusia atau dunia youkai—dan gadis kecil itu memilih; youkai itu. Bagi gadis kecil itu, dunianya adalah youkai itu, bersama youkai itulah dia ingin tinggal."
Kagome tertawa kecil dan menutup mata. Pilihan gadis kecil yang begitu mengejutkan sekligus tidak, dalam mata sang gadis kecil selamanya hanya ada sang youkai.
"Youkai itu menerima pilihan gadis kecil itu, dan sejak saat itu, youkai itu memutuskan untuk kembali ke kerajaannya dan menjadi Raja. Ah, aku belum memberitahu, ya? Youkai itu adalah pangeran dari sebuah kerajaan youkai," tertawa lebar, Kagome membuka matanya yang berbinar indah.
"Sakura tahu, ibu," balas Sakura gembira. Dia ikut bangkit dan duduk seperti Shura. "Youkai itu adalah pangeran dari sebuah kerajaan youkai yang sangat kuat."
Kagome mengangguk kepala menatap putri kecilnya. Perlahan, dia kembali mengarahkan pandangannya pada Shura yang tidak bergerak sedikitpun. "Youkai itu membawa sang gadis kecil ke istananya. Sang gadis menjadi seorang hime dan hidup bersama youkai itu. Musim demi musim berganti, dari musim semi hingga musim dingin, tahun ke tahun. Sang putri manusia pun tumbuh besar menjadi seorang gadis cantik yang memukaukan semua yang melihatnya..."
"Ha...." Sakura menghela napas mendengar cerita Kagome. Dia selalu membayangkan secantik apa putri manusia dalam dongeng tersebut. "Putri manusia itu pasti sangat-sangat cantik.."
Kagome kembali tertawa mendendar ucapan Sakura dan mengangguk kepala sekali lagi dengan pelan. "Sang youkai dan Putri manusia selalu bersama, karena itulah cinta kemudian tumbuh diantara mereka. Cinta mereka sangat besar dan indah, karena itu setelah melewati banyak perbedaan dan masalah, tanpa mempedulikan apapun, sang youkai membuatkan kimono terindah di dunia untuk melamar sang putri manusia dan menikahinya.."
Shura tidak bergerak sedikitpun mendengar cerita Kagome. Cerita yang sangat asing namun membuat hatinya berdetak sangat cepat.
"Hari pernikahan mereka adalah dimusim semi saat bunga bermekaran. Sang putri manusia sungguh sangat-sangat cantik dalam balutan shiromuku—pengantin tercantik di dunia," senyum Kagome semakin melebar dan matanya menerawang memikirkan ucapannya sendiri. "Dan hari itu juga, sang youkai memberikan tanda dan menjadikan sang putri manusia kisaki dalam kerajaannya..."
Berhenti sejenak, Kagome menarik napas dan kembali bercerita dalam senyumnya. "Mereka menikah pada musim semi, dan pada musim panas, keajaiban datang menghampiri sang putri manusia dan sang youkai," menatap Shura lagi, mata miko masa depan itu melembut luar biasa. "Sang putri manusia mengandung anak dari sang youkai..."
Tertegun, Shura mematung. Kedua matanya terbuka lebar menatap Kagome.
"Mereka sangat bahagia," menutup mata, Kagome kembali melanjutkan ceritanya. "Dan meski sang putri manusia cukup kesulitan saat mengandung anak mereka, mereka berdua benar-benar sangat-sangat-sangat mencintai anak tersebut..."
Shura seakan tidak bisa bernapas mendengar cerita Kagome. Dia tidak tahu harus berbuat, dia ingin bertanya namun tidak menemukan suaranya.
"Lalu, masalah datang. Dunia manusia dan dunia youkai menolak keberadaan anak yang dikandung putri manusia. Anak tersebut adalah pewaris kerajaan youkai, walaupun kelak dia akan terlahir sebagai hanyou. Manusia dan youkai mengatakan keseimbangan dunia akan hancur karena anak itu, karena itu, anak itu tidak boleh dilahirkan."
Mata Shura terus terarah pada Kagome, dia tidak peduli lagi dengan pandangan, Shiro, Mamoru, Aya dan Maya yang menatapnya dari tadi.
"Tapi, sang youkai dan putri manusia tidak peduli, karena bagi mereka, anak itu adalah keajaiban mereka; harta paling berharga yang ada."
Hati Shura terasa hangat mendengar ucapan Kagome. Namun sekaligus sangat sedih. Benarkah itu?
"Manusia berkumpul dan menyerang pada musim gugur, dan saat itu, sang youkai maju sendiri menghadapi mereka. Dia maju untuk melindungi istri serta anak mereka dan—menang.." Suara pelan Kagome tetap tenang saat bercerita begitu juga dengan senyum di wajahnya. "Para manusia dengan mudah dapat dikalahkan sang youkai, tapi tidak dengan dunia youkai. Ribuan youkai berkumpul dan akan menyerang. Kemungkinan menang tidaklah besar, dan mereka memaksa putri manusia turun dari tahtanya serta juga anak mereka tidak boleh menjadi pewaris kerajaan."
"Dasar penjahat!!!" Potong Sakura kesal, dia sama sekali tidak menyadari keanehan di wajah Shura dan yang lainnya saat mendengar cerita Kagome.
"Sang youkai tidak peduli, dia tetap pendiriannya bahwa anak merekalah pewaris satu-satunya, dan untuk sang putri yang terjebak dalam sistuasi tersebut tidak dapat berbuat apa-apa kecuali;berdoa," sosok wanita yang sedang berdoa sambil mengelus perut besarnya penuh kasih sayang melintas dalam pikiran Kagome, dan dia hanya dapat menutup mata. "Berdoa setiap hari untuk anak mereka, sang putri manusia berdoa agar terlahir sebagai—youkai sejati."
Membuka matanya lagi, Kagome kembali menatap Shura sekian kalinya. "Karena sang putri manusia tahu, dengan begitu anak mereka akan aman dan selamat."
Hati Shura terasa sangat sakit. Dia tidak tahu apa-apa, tidak pernah dia mendengar cerita ini selama sepuluh tahun hidupnya. Karena itu, bolehkah dia mendengarnya sekarang?
"Lalu, musim dingin tiba. Sang youkai maju ke medan perang dengan pasukannya melawan para youkai yang mengincar nyawa sang putri manusia dan anak mereka. Sedangkan untuk sang putri manusia yang menunggu dalam istana, dia kemudian—melahirkan." sekali lagi, Kagome menarik napas dan melanjutkan ceritanya. Senyum merekah indah di wajahnya untuk kesekian kalinya. "Proses melahirkannya tidak mudah. Sangat sulit dan saat anak dalam perutnya lahir—putranya lahir sebagai youkai sejati, sesuai doa sang ibu..."
Shura tidak tahu harus bereaksi seperti apa lagi mendengar cerita yang ada. Doa?—doa sang ibu? Inikah penyebabnya? Karena ingin dia aman dan selamat?
"Keajaiban terjadi hari itu. Persatuan antara youkai dan manusia melahirkan youkai sejati. Sesuatu yang mustahi menjadi nyata," tambah Kagome terus dengan senyum yang semakin melebar dan lebar. "Perang yang ada menjadi tidak berarti."
Keajaiban. Benarkah demikian? Pikiran Shura berkecamuk, dia tidak tahu harus memberikan tanggapan apa lagi untuk cerita yang didengarnya.
"Dunia youkai kehilangan alasan untuk menyerang, dan perangpun berhenti sepenuhnya setelah sang youkai mengalahkan sang pemimpin pasukan youkai yang menyerang," tertawa Kagome melanjutkan akhir dari ceritanya. "Keluarga merekapun akhirnya dapat berkumpul kembali, sang youkai, sang putri dan putra mereka pun hidup bahagia— selamanya bersama..."
"Yeaaahhh!" teriak Sakura bahagia dan bertepuk tangan mendengar dongeng yang telah selesai. Penuh semangat dia menatap Shura. "Baguskan Kak Shura?? Cerita ini adalah cerita kesukaan Sakura. Sakura sangat suka dengan Sang putri dan sang youkai yang mencintai anak mereka!"
Shura tidak menjawab pertanyaan Sakura, dia diam membisu dengan ekspresi wajah yang tidak terjelaskan dan kemudian menutup mata emasnya.
"Kak Shura?" panggil Sakura bingung melihat inuyoukai kecil tersebut yang tidak seperti biasanya.
Shiro, Mamoru, Aya dan Maya tetap diam membisu. Mereka tidak mengeluarkan suara sedikitpun semenjak Kagome memulai ceritanya sampai akhir. Pandangan mereka terarah pada Shura, dan mereka semua tidak bisa menyembunyikan kekhawatiran dalam hati, takut dengan reaksi inuyoukai kecil tersebut.
Kagome tetap tenang seperti saat dia memulai cerita. Dongeng yang selalu dia ceritakan untuk Sakura dan sekarang dicetitakan kepada Shura cukup seperti ini, berakhir bahagia dengan penutup—selamanya bersama.
Shura berusaha keras mengendalikan dirinya. Cerita yang dia dengar menguncang dunianya. Seperti itukah? Akhir yang bahagia—selamanya bersama. Membuka mata, inuyoukai itu kembali menatap Kagome, mati-matian, dia berusaha mencari suaranya yang seakan hilang.
Kagome tahu dan dia menunggu. Mendengar ceritanya, Shura pasti memiliki banyak pertanyaan, dan dia bersedia menjawab jika inuyoukai kecil itu bertanya, sebab hanya inilah yang dapat dilakukannya sekarang.
"H-hei," terbata-bata, Shura mulai membuka mulutnya. Wajahnya datar tanpa ekspresi, tapi mata emasnya bersinar penuh harapan mendapatkan jawaban meski juga ketakutan. "A-apakah sang putri bahagia? Apakah dia bahagia selama sisa hidupnya?"
Mata Kagome terbelalak mendengar pertanyaan Shura. Dari sekian banyak pertanyaan, dia tidak mengira pertanyaan inilah yang diajukan inuyoukai kecil itu.
Apakah sang putri bahagia selama sisa hidupnya?
Bahagiakah sang putri?—air mata yang ada, teriakan kesakitan yang ada, senyum yang dipaksakan—kenangan menyakitkan memenuhi kepala Kagome. Tapi, senyum lembut seorang wanita kemudian mengambil alih. Bayangan sang wanita yang tertawa bersama putranya dalam pelukan sang suami—itu adalah pemandangan yang sangat indah. Karena itu; bahagiakah?
"Dia bahagia," jawab Kagome dan kembali tersenyum lembut. "Dia bahagia selama sisa hidupnya..."
Ya. Dia bahagia meski sangat menderita di akhir perjalan hidupnya. Bisa bersama pria yang dicintainya dan putra mereka, tahu putra mereka akan tumbuh besar dengan aman dan selamat, dia bahagia—Rin bahagia.
Air mata mengalir turun dari mata Kagome tanpa dapat dibendungnya lagi. "Sang putri bahagia..."
__ADS_1
....xOxOx....