![Till The End Of Time [ Inuyasha Fanfiction ]](https://asset.asean.biz.id/till-the-end-of-time---inuyasha-fanfiction--.webp)
"Kakak!!!"
"Sesshoumaru-sama!!!"
Suara Inuyasha, Kiri, Kira dan youkai tanah barat yang memanggil namanya terdengar jelas di telinga Sesshoumaru, begitu juga dengan rasa sakit yang kini dirasakannya. Menurunkan pandangannya, dia bisa melihat sebatang anak panah youki berwarna putih menancap tembus jantung dan badannya dari belakang.
Sesshoumaru-sama.
Wajah Rin yang tersenyum terbayang dalam pikiran Sesshoumaru. Namun sedetik kemudian, tawa itu berubah menjadi tangisan penuh kesedihan, ketakutan dan keputusasaan.
Rasa sakit yang luar biasa menyerang hatinya. Sesshoumaru tidak tahu mana yang kini lebih sakit sekarang, panah yang menembus jantung atau air mata di wajah Rin yang meremukkan hatinya.
Mencabut bakusaiga yang menusuk leher Akihiko. Sesshoumaru memuntahkan darah dari mulutnya, dan berlutut ke bawah. Sakit yang luar biasa sakit menyerang inuyoukai tersebut—rasa sakit yang dia tidak tahu lagi sakit karena apa. Seluruh badannya terasa sakit tidak tertahankan.
Sekali lagi, dia berpikir; apakah dia akan mati? Apakah dia, Sesshoumaru, sang penguasa tanah barat akan mati karena panah yang menembus jantungnya?
Sesshoumaru-sama.
Bayangan Rin yang sedang tersenyum kembali melintas pikiran Sesshoumaru. Bedanya, kali ini wanita manusia itu tersenyum sangat indah dan bahagia sambil memeluk seorang bayi mungil dalam dekapannya.
Sesshoumaru tidak tahu apa yang terjadi, tapi hatinya yang sakit seakan berdenyut saat bayangan itu melintas dalam pikirannya. Lalu—ada kehangatan yang muncul. Penguasa tanah barat tidak tahu apa yang terjadi, sakit dan kehangatan bersamaan yang dirasakannya sekarang tidak terjelaskan.
Sesshoumaru-sama, lihat—Shura..
Menutup mata, suara lembut itu terdengar lagi, begitu juga dengan bayangan Rin yang mendekap bayi dalam pelukan di dada.
Bayi itu—Sesshoumaru tahu; Shura. Bayi kecil yang merupakan bukti cinta mereka. Bayi di mana dia akan mengwariskan semua yang dimilikinya, gelar, pedang dan tanah barat—pewaris tanah barat yang besar.
Shura, dia masib belum menyentuhnya, belum pernah memeluknya. Bahkan, dia masih belum pernah melihat wajah putra mereka, karena itu—bagaimana bisa Sesshoumaru meninggalkan anaknya?
Sesshoumaru tidak ingin Shura tumbuh besar seperti Inuyasha yang tidak pernah melihat ayah kandungnya. Dia ingin selalu bersama dan melihat pertumbuhan putranya yang berharga dari bayi hingga menjadi penguasa menggantikannya—bersama Rin.
Jika neraka adalah sesuatu yang harus dia lewati untuk bersama dengan Rin dan Shura, Sesshoumaru bersedia melewatinya. Jika kematian adalah apa yang akan memisahkan dia dengan istri dan anaknya—dia akan melampaui kematian itu sendiri.
Keluarga.
Apa yang paling penting bagi sang penguasa tanah barat adalah keluarga; Rin dan Shura. Karena itu, untuk mereka berdua yang menunggu kepulangannya—Sesshoumaru akan segera selalu pulang.
Mebuka mata, Sesshoumaru menggerakkan tangan kanan dan menarik keluar anak panah yang menembus badan serta jantungnya. Darah mengalir keluar tidak terhentikan dari lubang lukanya membasahi tanah salju di bawah.
Menutup mata lagi, Sesshoumaru segera menggunakan tangan kanannya kembali untuk menekan lubang di dada. Mengumpulkan youkinya, dia berkonsentrasi untuk mempercepat kemampuan regenerasinya.
"Kakak!!" Inuyasha yang berlari mendekati Sesshoumaru segera berlutut memeriksa kondisi saudara seayahnya tersebut. Ketakutan terlihat jelas di wajahnya saat melihat inuyoukai itu tidak menjawab dan terus menekan lubang di dada.
Begitu juga dengan Kiri dan Kira, kedua inyoukai bersaudara itu segera berlutut memeriksa keadaan penguasa mereka.
"Akihiko-sama!!" Tsubasa dan Koga yang juga tiba di samping Akihiko segera berlutut memeriksa keadaan penguasa tanah selatan. Suara mereka sama seperti suara Inuyasha yang penuh ketakutan.
Menarik duduk badan penguasa tanah selatan, Tsubasa segera memeriksa kondisi Akihiko dengan saksama. Air mata mengalir menuruni pipi youkai burung tersebut dan perasaan syukur memenuhi hatinya saat melihat kondisi penguasa tanah selatan yang meski cukup parah tapi tidak akan merebut nyawanya.
Akihiko tidak memberikan reaksi sedikitpun dengan sikap Koga dan Tsubasa, kedua mata biru langitnya masih terarah pada Shui yang berada di atas langit malam.
Pertarungan yang berkecamuk terhenti. Semua yang ada tidak dapat bergerak sedikitpun menatap kemunculan Shui yang diluar dugaan dan melukai Sesshoumaru.
Kemarahan luar biasa memenuhi hati Inuyasha melihat Sesshoumaru yang masih memutup mata dan berusaha mengendalikan lukanya. Berdiri, inuhanyou itu menatap penuh kebencian pada Shui. "Berengsek!! Beraninya kau menggunakan cara pengecut seperti ini!!"
Shui tertawa mendengar ucapan Inuyasha. Tidak ada perubahan sedikitpun pada ekspresi kebahagiaan di wajahnya. "Ini medan perang, Inuyasha. Semua cara diijinkan."
"Berengsek kau!!" teriak Inuyasha lagi. Kemarahan dalam hatinya semakin memuncak mendengar tawa Shui.
Sama halnya dengan Inuyasha, Kiri dan Kira serta seluruh pasukan tanah barat juga tidak bisa menerima ucapan Shui yang tidak mencerminkan sikap kastria sedikitpun. Tatapan kebencian mereka semua terarah kepada pemimpin tanah netral tersebut.
Namun, ditengah ketegangan dan keheningan yang ada, suara tawa Takeru tiba-tiba terdengar memecahkan suasana. "Hahaha! Shui benar!!" ujarnya sambil tersenyum lebar. "Perang adalah perang!! Jika kau mati karena tidak bisa menjaga punggungmu, itu bukanlah salah orang lain selain dirimu sendiri!!"
Apa yang dikatakan Takeru membuat para prajurit gabungan tersadar. Mereka semua merasa apa yang dikatakan penguasa tanah utara itu benar, ini adalah medan perang, tempat dimana kelengahan akan dibayar dengan nyawa—Shui sama sekali tidak salah.
Asano yang diam membisu dari tadi juga ikut mengeluarkan suaranya. Menatap Sesshoumaru yang tidak bergerak, matanya menatap penuh kegembiraan pada inuyoukai tersebut. "Apa yang kalian tunggu lagi!! Pemimpin musuh telah jatuh!! Serang!! Perang ini belum berakhir!!"
Teriakkan Asano menyadarkan para prajurit gabungan. Menatap Sesshoumaru yang masih tidak bergerak, mereka mulai bergerak dan mengangkat senjata di tangan.
Perang belum berakhir. Sampai pasukan tanah barat hancur dan pemimpinnya benar-benar mati, mereka tidak boleh berhenti—kemenangan sudah di depan mata, tinggal sedikit lagi.
Bergerak, para youkai pasukan gabungan kembali maju menyerang. Namun, belum sempat mereka melancarkan serangan sesuatu tiba-tiba menghentikan mereka.
Dari atas langit di mana Shui terbang dengan senyum lebar di wajah, sebatang tongkat raksasa berwarna emas melesat ke bawah dengan kecepatan luar biasa.
Terkejut, Shui segera menghindar, kedua mata putihnya terbelalak menatap serangan mendadak yang terarah padanya.
Tongkat itu jatuh dan menghantam tanah salju penuh darah di bawah. Getaran hebat bagaikan gempa tercipta, begitu juga dengan hembusan angin. Menancap di atas tanah, mata semua youkai yang ada di bawah terarah pada tongkat tersebut. Gerakan mereka semua terhenti.
"Aku telah hadir!!!!" suara tawa keras memecahkan keheningan terdengar.
Mengarahkan pandangan mereka, mata semua youkai yang ada menatap sumber suara. Di ujung tongkat raksasa tersebut yang terarah ke langit, seorang youkai monyet berjongkok sambil menggaruk kepalanya. Seulas senyum menyeringai memenuhi wajahnya terarah pada Shui.
"Kenji, saru shogun dari barat telah hadir."
....xOxOx....
Miroku, Kohaku dan Jaken yang terpisah jauh dari medan perang tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi, tapi mereka bisa melihat Sesshoumaru yang terluka dan arah perang yang tidak akan menguntungkan tanah barat lagi.
"Miroku! Kohaku!! Jaken!!" suara yang memanggil nama Miroku dan Kohaku terdengar secara tiba-tiba.
Menoleh ke sumber suara, mata Miroku, Kohaku dan Jaken menemukan Myoga yang tidak tahu sejak kapan telah berada di pundak Miroku dan meloncat-loncat.
"Myoga-san? Kenapa kau ada di sini?" tanya Miroku bingung melihat kemunculan Myoga yang tiba-tiba.
"Aku datang mengikuti Kenji-sama," jawan Myoga. Duduk di atas pundak Miroku, dia melipat tangannya di dada. "Dan, dia menyuruhku menunggu di sini."
"Kenji-san?" kebingungan memenuhi hati Miroku, Kohaku dan Jaken mendengar nama youkai monyet yang disebutkan Myoga.
Namun, belum sempat Miroku, Kohaku dan Jaken bertanya lebih lanjut, suara ribut kembali terdengar dari medan pertempuran. Menoleh menatap ke depan lagi, mata mereka melihat sebatang tongkat raksasa berwarna emas melesat turun dengan cepat menghantam tanah dan menghentikan kembali para youkai yang bergerak.
Tongkat emas itu, baik Miroku, Kohaku dan Jaken tahu adalah senjata Kenji. Hanya saja, mereka tidak mengerti kenapa youkai monyet itu muncul dengan cara seperti ini?
"Monyet keparat?" suara Inukimi tiba-tiba terdengar dari belakang.
Terkejut, baik Miroku, Kohaku, Jaken dan Myoga menoleh kepala menatap Inukimi yang tidak tahu sejak kapan telah berada di belakang mereka.
Berdiri, tangan Inukimi memeluk sesuatu yang terus bergerak . Namun, Miroku dan yang lainnya tidak tahu apa itu karena moko-moko mantan penguasa tanah barat menutupinya dengan sempurna dari pandangan.
Wajah Inukimi datar tanpa ekspresi, tapi, siapapun yang melihatnya dapat melihat kewaspadaan penuh dari inuyoukai tersebut. Seakan dia akan menyerang tanpa ragu jika ada yang berani mendekatinya.
....xOxOx....
"Apa kau menunggu kedatanganku, Shui?" tanya Kenji dengan senyum menyerigai yang tidak berubah di wajahnya.
Menatap Kenji, senyum di wajah pemimpin tanah netral tidak kunjung menghilang. "Tidak," jawannya pelan. "—tapi, kalau kau baru datang sekarang, aku penasaran dengan apa yang ingin kau lakukan, Kenji-san."
"Tentu saja menjadi tokoh utama dalam sandiwaramu ini," tawa Kenji keras. Dia mengelus-ngelus jengot dan merapikan rambutnya, matanya berbinar bahagia menatap youkai bermata putih di depannya. "Menurutmu aku cocok sebagai pemeran utama, kan?"
Shui ikut tertawa. Mata putihnya menatap tidak takut Kenji. Kemunculan youkai monyet ini bukanlah sesuatu yang mengagetkan, sebab dia sudah mempredeksinya. "Silakan—kalau kau bisa."
__ADS_1
Tertawa semakin keras, Kenji kemudian menolehkan pandangan kepada para youkai yang kebingungan menatapnya di bawah. Berdiri di ujung tongkat raksasanya yang menancap tanah, dengan salju putih yang turun dalam malam musim dingin—youkai monyet itu merasa panggung untuknya sungguh sempurna.
Menarik napas, Kenji berteriak keras. "Dasar kalian semua tidak berguna!!"
Menggunakan youki untuk mengeraskan suaranya, teriakan Kenji terdengar hingga puluhan kilo meter. "Memalukan bangsa youkai saja!! Sia-sia saja usia kalian yang panjang!! Makin tua makin pikun, ya?"
Teriakan Kenji mungkin adalah sesuatu yang tidak pernah dibayangkan siapapun. Tertegun, terkejut dan bingung, tidak ada seorangpun youkai yang mengeluarkan suara untuk membalas teriakan youkai monyet tersebut, termasuk; Shui.
Seakan masih belum selesai melampiskan kekesalan dalam hatinya, Kenji terus berteriak. "Otak kalian itu sebenarnya kalian letak di mana?? Di pantat kalian?? Atau kalian simpan di bawah tempat tidur??—pakai otak dunggul tidak berguna kalian untuk berpikir, idiot!!"
Di saat semua orang masih tertegun tidak percaya dengan apa yang mereka dengar, Inuyasha yang berada di bawah berteriak keras memprotes. "Oi!! Monyet berengsek, apa maksud ucapanmu itu??!!"
Kenji berhenti berteriak begitu mendengar suara Inuyasha. Menoleh pandangannya pada inuhanyou itu, dia menemukan sepasang mata yang menatapnya tajam penuh kemarahan.
Tertawa, Kenji mengelus-ngelus jenggotnya. "Tenang, Inuyasha. Para idiot yang kumaksud bukan kamu—kau tidak idiot, cuma sedikit bodoh."
"Apa maksudmu berengsek??!!!" teriak Inuyasha semakin marah. Jika saja Sesshoumaru tidak apa-apa, dia pasti sudah meloncat dan membuat perhitungan dengan youkai monyet tersebut.
"Sudah, sudah," senyum Kenji sambil mengibas-ngibaskan tangannya. Menoleh kembali pada pasukan youkai yang menatapnya, senyum di wajah semakin lebar. Menunduk kepala meminta maaf, dia tertawa. "Maafkan ucapanku yang melenceng dari topik pembicaraan karena meladeni anak sahabatku."
Sikap Kenji yang aneh dan tidak dapat ditebak benar-benar membuat para youkai di bawah kebingungan. Apakah jendral tua ini sudah gila?
Mengangkat pungung, Kenji kembali berdiri tegak. Pandangan matanya yang dari tadi penuh kejahilan, kini kembali bersinar penuh keseriusan. "Para idiot yang kumaksud adalah kalian—youkai netral."
Seruan kaget memenuhi wajah para prajurit youkai di bawah. Kemarahan segera memenuhi hati para youkai netral melihat Kenji yang menghina mereka seperti itu.
"Apa maksudmu, Kenji-san!!?"
"Jangan kurang ajar, Kenji!!"
Teriakan-teriakan protes dari para youkai tanah netral terdengar. Namun, Kenji tidak mempedulikannya. Wajahnya juga tidak menyembunyikan sedikitpun senyum penuh hinaan yang ada.
"Kalian memang pengecut dan takut mati—aku tahu itu," balas Kenji lagi sambil menggeleng kepala. "Tapi membiarkan diri sendiri dan klan kalian dituntun menuju kehancuran—apa lagi kalau bukan idiot?"
Ucapan Kenji sekali lagi membuat para youkai tanah netral tertegun. Semakin bingung, mereka tidak mengerti maksud dari ucapan yang mereka dengar.
"Manusia yang bisa memusnahkan desa youkai tanpa sisa di tanah netral, tanah timur, tanah utara dan tanah selatan," lanjut Kenji lagi. Kedua matanya kemudian terangkat menatap Shui yang masih tenang. "—apakah menurut kalian benar perbuatan manusia?"
Pertanyaan tiba-tiba Kenji seketika menciptakan keributan. Para youkai di bawah berbisik, saling menatap satu sama lain, tapi tidak ada seorangpun yang berani menjawab pertanyaan youkai monyet tersebut.
"Sekuat-kuatnya manusia, manusia tidak mungkin dapat memusnahkan desa youkai tanpa sisa," kembali membuka mulutnya, Kenji tidak menolehkan pandangannya sedikitpun dari Shui. "Yang menyerang desa youkai di netral, timur, utara dan selatan adalah—youkai, bukan manusia."
Tidak mempedulikan keributan di bawah akibat ucapannya, Kenji mengangkat tangan kanannya menunjuk Shui di atas. "Kalian semua telah dipermainkan! Kalian tidak lebih dari biji catur oleh dalang sesungguhnya—Shui, pemimpin tanah netral!!"
Ucapan Kenji kali ini menimbulkan keributan yang tidak dapat dibendung lagi. Pandangam tidak percaya dan keraguan semua youkai di bawah tertuju pada Shui.
"Apa maksudmu, Kenji-san!?"
"Kau berbohong!!"
"Jangan menfitnah, Shui-sama!!!"
Kenji dengan santai tidak mempedulikan protes para youkai di bawah. Menurunkan pandangannya, dia menatap Takeru dan Asano. Senyum menyeringai memenuhi wajahnya. "Aku tidak akan mengatakan apa-apa untuk timur dan utara, sebab kalian kan memang —menyukai sandiwara."
Baik Takeru maupun Asano tidak membalas ucapan Kenji. Kedua penguasa tersebut menatap lurus youkai monyet di depan seakan tidak mengerti maksudnya. Hanya saja, mereka berdua merasakan perasaan tidak enak, karena khawatir kemunculan jendral tua ini akan merusak semua rencana mereka.
Pandangan Kenji kemudian jatuh pada Akihiko. Senyum menyeringai di wajahnya menghilang digantikan ******* pelan. "Untuk selatan—Akihiko, meski aku mengerti pilihanmu," ujarnya pelan. "Kau menjadi bodoh seperti halnya Inuyasha."
"Hei!! Apa maksudmu????!!" sela Inuyasha yang sedari tadi telah dua kali disebut bodoh oleh Kenji.
Kenji sekali lagi tidak mempedulikan Inuyasha. Menatap Akihiko, dia diam membisu. Pilihan penguasa tanah selatan yang ikut berpartisipasi dalam perang ini, dia tahu. Semuanya semata hanya untuk menjaga keselamatan Rin. Hanya saja, pilihan itu—salah.
Akihiko yang masih terluka tidak membalas ucapan Kenji. Kedua mata biru langitnya menatap sosok saru shogun dalam diam.
Iya. Akihiko tidak akan menepis jika dia dikatakan bodoh sekarang, karena dia memang—bodoh. Tapi, dia tidak memiliki pilihan. Untuk Rin, dia rela menjadi orang paling bodoh di dunia.
Shui yang berada di atas kemudian tertawa keras. Menatap Kenji, tetap tidak ada perubahan sedikitpun di wajahnya meski youkai monyet itu telah mengungkap apa yang dilakukannya. "Kenji-san," panggilnya pelan sambil tersenyum lebar dan bertepuk tangan. "Cerita yang luar biasa."
Kenji membalas ucapan Shui dengan senyum. Dia sudah bisa menebak apa yang akan dikatakan youkai bermata putih itu selanjutnya.
"Tapi—" lanjut Shui lagi sambil tersenyum. "Mana buktinya?"
Kenji tertawa terbahak-bahak mendengar pertanyaan Shui yang benar-benar sesuai tebakannya. Mengangkat tangan menyusuri rambutnya, dia mati-matian menahan tawa yang ingin meluncur keluar.
Tidak mempedulikan pertanyaan Shui. Kenji kemudian meloncat turun dari tongkatnya. Mendarat di atas tanah salju, tongkat raksasanya mengecil menjadi ukuran biasa dan melesat cepat ke genggaman tangan.
Tidak peduli pandangan semua yang terarah padanya, Kenji berjalan mendekati Sesshoumaru, Inuyasha, Kiri dan Kira dengan pelan.
"Kau!!! Berengsek!!" teriak Inuyasha kesal melihat Kenji. Dia menggerakkan tangannya untuk meninju youkai monyet tersebut, walau dengan cepat berhasil dihindari.
"Jangan membuat keributan, Inuyasha," ujar Kenji. Seperti biasa, dia tidak mempedulikan Inuyasha. "Aku belum selesai."
Inuyasha berhenti dan menutup erat mulutnya mendengar ucapan Kenji. Tapi, dalam hati, dia berjanji akan membuat perhitungan dengan monyet itu setelah semua ini selesai.
Membalikkan badan, Kenji kemudian kembali mengangkat kepala menatap Shui. Senyum sangat lebar kembali memenuhi wajahnya. "Kau mau bukti?? Akan kutunjukkan!!!"
Ucapan Kenji membuat keributan yang ada kembali terdiam. Mata semua yang ada kembali terarah pada saru shogun yang kini berdiri penuh kepercaya dirian.
Shui tidak bergerak. Namun, senyum di wajahnya menghilang. Kenji tidak mungkin memiliki bukti akan apa yang dilakukannya, kan?—sebab dia sudah melenyapkan semua bukti yang mengarah padanya.
Menggerakkan tangannya, Kenji mengeluarkan sebuah botol kecil dari balik kimononya. Membuka dan menuangnya, seketika, sosok tiga youkai kecil muncul di hadapan ribuan pasang mata yang ada.
Mata Shui terbelalak saat melihat ketiga youkai kecil yang kini mengangkat kepala menatapnya tanpa takut. Dia kenal dengan ketiga youkai kecil tersebut, tapi—bagaimana bisa mereka masih hidup?
Inuyasha tidak mengenal dua dari youkai kecil tersebut. Tapi, ada satu youkai yang dia kenal dengan sangat baik. "Shippo?"
"Inuyasha!!!" balas Shippo gembira. Melambaikan tangannya, mata hijaunya berbinar menatap anggota keluarga yang sangat dia rindukan.
"Yuki? Sora?" Dari kerumunan para prajurit di depan, suara seorang youkai terdengar, dan dia tidak lain adalah Koharu, youkai tupai dari tanah netral. Matanya terbelalak tidak percaya menatap dua youkai tikus putih yang dikiranya telah mati.
"Paman Koharu!!" panggil Yuki dan Sora gembira. Air mata mengalir turun menuruni pipi, setelah sekian lama, mereka akhirnya bertemu lagi dengan orang yang mengenal mereka sejak kecil.
Berlari mendekati Yuki dan Sora, Koharu segera memeluk kedua youkai kecil tersebut. Air mata juga mengalir menuruni pipinya. Perasaan gembira memenuhi hati, sebab mereka adalah cucu dari sahabat baiknya, sang pemimpin klan tikus putih, dan juga—dengan kepala mata sendiri, dia melihat kedua bocah itu tumbuh besar.
Yuki dan Sora membalas pelukan Koharu dengan sama eratnya. Mereka tidak menahan sedikitpun tangis bahagia mereka yang pecah.
Shippo tersenyum bahagia melihat Yuki dan Sora. Rasa bangga memenuhi hatinya, sebab, dia telah berhasil menjalanankan tugasnya—melindungi Yuki dan Sora hingga berkumpul kembali dengan orang yang mengenal serta menyayangi mereka.
Tidak peduli pandangan bingung semua orang, Shippo tanpa rasa takut mengangkat kepala lagi menatap Shui. "Kau penasaran kenapa kami masih hidup??"
Shui menatap tajam Shippo. Tidak ada senyum lagi di wajah cantiknya.
Tertawa, Shippo mengeluarkan tiga helai daun dari balik kimononya. Melemparkannya, ketiga daun tersebut berubah menjadi sosok dirinya, Yuki dan Sora.
Tertawa keras, Shippo berjalan mendekati kopiannya, Yuki dan Sora yang juga ikut tertawa menatap Shui. "Yang kau bunuh dan jatuh ke jurang adalah—mereka!!"
Malam itu, dalam hutan tanah selatan pada musim gugur, Shippo yang melarikan diri bersama Yuki, Sora dan Kenji dari kejaran Shui dan pengawalnya, membuat ide dadakan ini.
Mengunakan kopian dan bersembunyi dalam botol, serta didukung akting kelas tinggi Kenji yang marah dan putus asa karena tidak bisa menyelamatkan siapapun—mereka berhasil menipu Shui.
Shippo yang tersenyum tidak bisa membayangkan betapa marahnya Shui sekarang, sebab dia yang ada dibalik layar dan mempermainkan dunia ternyata ditipu dan dipermainkan olehnya—seorang youkai kecil yang tidak terkenal sama sekali.
__ADS_1
Kenji mendekati Shippo dan menepuk-nepuk kepala youkai rubah kecil itu. Tersenyum lebar, dia ikut menatap Shui. "Bagaimana Shui? Aktingku malam itu hebat, kan?—makanya aku bilang, aku cocok sebagai tokoh utama dalam sandiwaramu."
Shui tidak membalas ucapan Kenji. Mata putihnya menatap penuh kebencian pada youkai monyet serta rubah kecil di bawahnya.
Yuki yang kemudian telah berhasil mengendalikan emosinya melepaskan dirinya dari pelukan Koharu. Kedua mata merahnya menatap lurus mata youkai tupai yang kebingungan.
"Paman Koharu," panggil Yuki sambil menghapus air mata. Menguatkan perasaannya, matanya bersinar penuh tekad. Hari ini adalah hari yang ditunggu-tunggunya, jadi dia tidak boleh takut. "—yang menyerang desa dan membunuh semua orang bukan manusia, tapi—youkai."
Terkejut, mata semua orang yang memang telah tertuju pada Shippo, Yuki dan Sora terbelalak dengan pengakuan youkai kecil itu.
"Dan—," lanjut Yuki lagi. Mengangkat kepalanya ke atas, mata merahnya menatap penuh kebencian orang yang telah menghancurkan desa dan membunuh anggota keluarganya. "Youkai-youkai itu adalah bawahan dari pemimpin tanah netral, Shui."
Penjelasan Yuki bagaikan sebuah bom, badan para youkai tanah netral bergetar tidak percaya, sedangkan untuk youkai tanah timur, utara dan selatan—mereka ikut menatap Shui menunggu penjelasan.
"B-bohong!!" suara Hima, sang youkai bunga yang telah lama mengikuti Shui tiba-tiba memecahkan keheningan. Kedua matanya menatap Yuki tidak percaya dengan apa yang dikatakan youkai tikus putih itu. Shui yang dihormati tanah netral tidak mungkin merupakan dalang dari hancurnya desa-desa youkai di jepang.
Yuki tidak menujukkan kegetiran sedikitpun meski Hima mengatakan dia berbohong. Untuk pertama kalinya, dia bersyukur dia dilahirkan sebagai youkai tikus putih—sebab sebagai youkai tikus putih juga dia bisa menyeret Shui yang telah menghancurkan segala yang dimilikinya kepada keadilan.
Melangkah maju mendekati Kenji dan Shippo, Yuki menatap kedua penyalamatnya dan Sora. Tersenyum, dia mengangguk pelan pada Shippo yang menatapnya khawatir. "Aku tidak apa-apa, Shippo-kun."
Menoleh kembali ke depan, Yuki menarik napas beberapa kali. Kemudian, menggunakan tangan kanannya, tanpa takut, dia mencongkel keluar mata kanannya sendiri.
Tidak peduli dengan darah yang mengalir turun maupun rasa sakit yang ada, Yuki kemudian meniup bola matanya yang kini berada di telapak tangan.
Bola mata merah di telapak tangan Yuki bersinar, dan perlahan, berkelap-kelip, udara yang tertiup melalui mata merah tersebut menjadi padat. Semakin lama semakin besar, hingga akhirnya menjadi sebuah—cermin besar.
Youkai tikus putih dari tanah netral bukanlah youkai yang kuat. Mereka bukanlah youkai petarung dengan kekuatan penghancur yang luar biasa. Namun, mereka memiliki satu kelebihan yang tidak dimiliki youkai lain—yakni mata mereka; Shinjitsu no akai me.
Youkai tikus putih adalah perekam hidup. Mata merah mereka bisa merekam segala sesuatu yang dilihat dan mepertunjukkannya jika mereka mau dengan salah satu bola mata sebagai bayaran.
Itulah alasannya kenapa Yuki dan Sora terus mengikuti para youkai yang menyamar menjadi manusia dan menghancurkan desa. Karena mereka ingin mencari dan memperlihatkannya pada dunia kenyataan sebenarnya—dalang sebenarnya.
Potongan-potongan adegan memenuhi cermin besar tersebut. Desa yang hancur, youkai yang mati, youkai yang menyamar menjadi manusia.
Mata semua yang ada terpaku menatap apa yang tertayang di cermin. Silih berganti, dari desa klan tikus putih, desa klan kupu-kupu putih, desa klan kelinci biru, desa klan burung air, desa klan kadal api dan desa laba-laba emas. Suara teriakan, api yang membakar—kehancuran dan kematian.
Lalu, adegan berubah lagi. Para youkai yang menyamar menjadi manusia berlutut memberikan salam pada Shui, Shui dan pengawalnya yang membunuh mereka—semuanya terpampang dengan jelas.
Mata para youkai yang menatap cermin, perlahan, kembali menatap Shui yang tidak bergerak sedikitpun di atas langit malam. Mereka tidak tahu harus berbuat apa, tapi kebenaran dan kenyataan telah menjawab— yang menghancurkan desa youkai di jepang memanglah pemimpin tanah netral; Shui.
Rekaman selesai diputar. Cermin besar yang diciptakan Yuki kemudian pecah dan hancur tidak berbekas. Sedikit terhuyung ke belakang, Sora segera berlari mendekat dan membantu kakaknya berdiri.
"Kita sudah berhasil, Sora." ujar Yuki pelan pada Sora. Senyum merekah di wajah Yuki. Meski harus mengorbankan mata kanannya, dia tidak merasa menyesal atau sedih.
Sora mengangguk kepala sambil menangis. Seulas senyum juga ikut memenuhi wajahnya. "Iya—kita sudah berhasil, Kakak."
Kenji dan Shippo ikut tersenyum melihat senyum Yuki dan Sora. Kedua youkai kecil itu, terutama Yuki sudah cukup berkorban, dan—pengorbanan itu tidak akan sia-sia.
Mengangkat kepala menatap Shui, Kenji tersenyum menyeringai. Suaranya kembali terdengar memecahkan keheningan. "Apa kau masih mau mengelak, Shui?"
"Shui-sama, apa maksudnya ini?"
"Kenapa Shui-sama?"
Suara teriakan para youkai tanah netral kembali terdengar. Mereka bertanya meminta penjelasan pada pemimpin yang mereka hormati selama ini. Mereka semua tahu rekaman mata merah klan tikus putih tidak pernah berbohong—dalang semua ini memang Shui.
"Cih!" cibir Inuyasha kesal. Dia menatap tidak suka Kenji tidak mempedulikan kekacauan yang kembali terjadi. "Jika kau memiliki informasi seperti ini, kenapa tidak kau tunjukkan saja dari awal!? Kami kan tidak perlu berperang. Tidak ada yang akan mati kecuali si berengsek bermata putih itu, dan juga—Sesshoumaru tidak akan terluka."
Ucapan Inuyasha seketika membuat Kenji dan Shippo menatap inuhanyou itu tidak percaya. Mata mereka berdua menatapnya seakan memeriksa apakah yang ada di depan mereka itu benar-benar merupakan Inuyasha yang mereka kenal.
"Apa??" tanya Inuyasha lagi penuh kejengkelan ditatap seperti itu oleh Shippo dan Kenji.
"Apa kau benar adalah Inuyasha?" tanya Shippo pelan sambil meloncat dan menarik pipi inuhanyou tersebut. "Kau membela Sesshoumaru? Sejak kapan hubungan kalian jadi seakrab ini?"
"Toga di alam sana pasti menangis sekarang, sebab kalian kakak-adik kini telah akur," tambah Kenji sambil menghapus air mata yang tidak tahu kapan telah mengalir. "Akhirnya anjing itu benar-benar bisa menutup mata dengan tenang."
Kekesalan bercampur malu memenuhi wajah Inuyasha. Memgangkat tangan, dia menjitak kepala Shippo dan Kenji. "Diam kalian!!!"
Shippo mengerutu kesakitan sambil mengusap kepalanya, begitu juga dengan Kenji. Namun, sejenak kemudian, youkai monyet itu tersenyum. "Tenanglah, Inuyasha," mata hijaunya kemudian menoleh pada Sesshoumaru yang masih berlutut berkonsentrasi menyembuhkan lukanya. "Satu-dua lubang di jantung tidak akan sanggup membunuh Sesshoumaru. Untuk membunuhnya, kau harus mencabut dan menghancurkan jantungnya."
Inuyasha tidak membalas ucapan Kenji lagi. Diam membisu dia melipat tangan di dada dan membuang muka. "Aku tidak menghawatirkannya."
Kenji hanya kembali tertawa melihat reaksi Inuyasha yang tidak jujur. "Lalu," lanjutnya lagi. "Tidak akan ada seorangpun youkai dari tanah barat yang akan mati malam ini."
Ucapan Kenji membuat Inuyasha kembali menatap youkai monyet tersebut bingung. "Apa maksudmu?"
Kenji menoleh pandangan pada Kiri dan Kira. "Setelah keributan ini selesai, cari semua badan youkai tanah barat yang gugur—Sesshoumaru akan menggunakan tensaiga untuk menghidupkan mereka kembali."
Ucapan Kenji terucap pelan, tapi baik Takeru maupun Asano segera menoleh pandangan padanya.
Kenji menyadari pandangan kedua penguasa tersebut. Tersenyum menyeringai, dia menatap balik tatapan yang terarah padanya. "Utara dan Timur kehilangan banyak youkai kuat, tapi—barat tidak akan kehilangan seorangpun. Tanah barat yang kuat dan besar tidak akan pernah berubah."
Baik Takeru dan Asano diam membisu dan mengepal erat tangan mereka. Kemunculan Kenji benar-benar telah merusak segalanya, kini keadaan telah menjadi kacau tidak terkendalikan. Perang ini mereka telah kehilangan banyak youkai dan tidak akan mendapatkan keuntungan sedikitpun.
Akihiko tidak mengatakan apapun. Diam mebisu, dia mengakui kelicikan dari Kenji, sang saru shogun yang terkenal dari tanah barat. Yang diincarnya setelah menunggu sekian lama untuk mengungkap kebenaran yang ada, ternyata adalah ini—memukul telak tanah timur, utara, netral dan juga; selatan.
Akihiko seakan ingin tertawa melihat youkai tua tersebut. Sungguh licik, dalam perang besar ini, sekali lagi, tanah barat akan keluar sebagai pemenang tanpa kerugian sedikitpun. Dengan pedang tensaiga yang bisa menghidupkan mereka yang mati—sungguh pedang itu sangat berbahaya.
Menutup mata, Akihiko tidak berpikir banyak. Dia tidak merasakan kemarahan atau kekesalan, sebab youkai serigala itu tahu, pasukan tanah selatan tidak mengalami kerugian yang berarti seperti timur dan utara. Selatan bergabung dengan medan perang paling akhir, dan kekuatan pasukan mereka juga seimbang dengan kekuatan pasukan tanah barat—tanah selatan tidak sepenuhnya masuk dalam perangkap Kenji.
"Cih," cibir Inuyasha tidak peduli. Matanya menatap Kenji lurus."Kau yakin Sesshoumaru mau menghidupkan mereka?"
"Ah," seru Kenji sambil mengusap jengotnya. "Jika Rin-rin membuka mulut, Sesshoumaru tidak mungkin menolaknya."
Jawaban Kenji membuat Inuyasha tertegun. Namun sejenak, dia mengangguk kepala. Yang dikatakan youkai monyet itu benar, jika Rin membuka mulut, Sesshoumaru pasti akan langsung menyangupinya—kakaknya tidak akan pernah dapat menolak permintaan wanita manusia itu.
Tertawa sekali lagi, Kenji kemudian mengangkat kepala menatap Shui. Tatapan mengahina dan merendahkan mata hijaunya terarah pada youkai bermata putih tersebut. "Hak memiliki tanah barat yang kau katakan pada pertemuan terakhir kita," ujarnya pelan sambil mendengus lucu. "Kurasa kau bahkan tidak memiliki hak memimpin tanah netral lagi—kau tidak memiliki hak apapun Shui."
Apa yang dikatakan Kenji membuat Shui yang berada dalam posisi terpojok tertawa keras. Hancur sudah ekspresi ramah dan tenang yang biasanya memenuhi wajahnya. Kedua mata putihnya kini bersinar penuh kegilaan. Menatap youkai monyet tersebut, dia tersenyum. "Seharusnya aku membunuhmu hari itu, Kenji-san. Ahh—aku terlalu meremehkanmu."
Ekspresi dan ucapan Shui membuat semua yang ada kembali terdiam. Shui yang ada di depan mereka bukanlah lagi Shui yang mereka kenal. Ternyata keramahannya hanyalah sebuah topeng untuk mengendalikan mereka.
"Hak," ujar Shui lagi. Senyum di wajahnya semakin melebar. "Jika aku tidak memiliki hak, maka kau pikir Sesshoumaru dan anak hanyounya yang akan mati hari ini juga tidak akan memiliki hak tersebut."
Ucapan Shui seketika membuat semua yang ada kembali tertegun.
"Perang ini memang dimulai dariku. Tapi—jangan lupa. Pewaris hanyoulah yang menjadi pokok permasalahannya," lanjut Shui lagi. Menatap sekeliling, dia berteriak keras. "Penghancur keseimbangan dunia. Apa kalian bersedia membiarkan seorang hanyou menjadi pemimpin youkai???"
Shui tahu, dia tidak akan dapat mengelak lagi keterlibatannya pada desa youkai yang hancur. Tapi, dia tidak peduli. Jika cara halus tidak membuatnya mendapatkan tanah barat, maka pilihannya adalah kekerasan. Sesshoumaru dan anak hanyounya yang belum lahir akan mati hari ini, tidak peduli apa yang terjadi. Para youkai di bawah tidak akan memiliki alasan untuk menghentikan itu. Lalu, saat mereka mati, maka dengan kekuatannya sendiri, meski harus mebantai sisa youkai tanah barat—dia akan duduk di tahta yang kosong sebagai penguasa baru.
Pertanyaan Shui memiliki dampat yang sangat kuat pada para youkai. Keraguan muncul di mata mereka semua. Meski penyebab awal perang ini berasal dari Shui, tapi tujuan utama mereka sesungguhnya adalah untuk menghentikan hanyou menjadi penguasa—untuk menjaga keseimbangan.
Asano bisa melihat perubahan keadaan yang ada. Tidak membuang waktu, dia membuka mulut untuk memanfaatkan keadaan. Timur sudah mengalami kerugian yang cukup besar, dan dia tidak bisa membiarkannya. Karena itu, apapun yang terjadi, Shui tidak boleh mati. Youkai bermata putih itu harus menjadi penguasa, dengan kata lain; Sesshoumaru dan anaknya harus mati.
"Shui benar!!" teriak Asano keras. Matanya menatap sekelilingnya. "Meski Shui adalah pendosa, apa yang diucapkannya benar. Jangan lupa tujuan utama kita, yakni; menjaga keseimbangan dunia ini. Jangan membiarkan seorang hanyou merusak segalanya!!"
"Oh, ya?—begitu?" suara pelan Inukimi tiba-tiba terdengar menyela ucapan Asano.
Terkejut, semua yang ada menoleh menatap sosok Inukimi yang kini berada tidak jauh dari tempat Sesshoumaru dan yang lainnya berada.
Berdiri tegak penuh keanggunan, tangan Inukimi memeluk sesuatu yang terus bergerak namun tertutup moko-mokonya. Di sampingnya, Miroku dan Kohaku berdiri mengawalnya penuh kewaspadaan. Sedetik kemudian, senyum sangat lebar memenuhi wajah cantik mantan penguasa tanah barat.
__ADS_1
"Bisa kau ulangi perkataanmu barusan sekali lagi?"
....xOxOx....