![Till The End Of Time [ Inuyasha Fanfiction ]](https://asset.asean.biz.id/till-the-end-of-time---inuyasha-fanfiction--.webp)
Pandangan penuh ketakutan yang ditujukan Rin padanya, membuat Sesshoumaru tertegun. Dalam masa pengenalannya dengan gadis manusia itu, mata coklat besar tersebut tidak pernah menatapnya penuh ketakutan. Bahkan saat pertemuan pertama mereka mereka, saat dirinya menggeram penuh kemarahan pada gadis itu, gadis itu hanya terkejut, bukan takut. Mata itu selalu menatapnya dengan kepolosan, pujaan dan juga kegembiraan—penuh kehangatan. Ada perasaan marah dan tidak suka yang tiba-tiba muncul dalam hatinya, dia tidak ingin mata itu menatapnya seperti sekarang ini.
Inukimi yang berada tidak jauh dari Sesshoumaru tiba-tiba meloncat mendekati Rin, kedua tangannya memeluk erat gadis itu, sedangkan mokomokonya bergerak menyelubungi tubuh kecil itu, menutupnya dari pandangan. Kedua ujung bibirnya terangkat, memperlihatkan sebuah seringai menakutkan. Namun, sikapnya itu tidak membuat Sesshoumaru takut, malahan, dia semakin marah.
Rin yang tidak tahu apa-apa hanya dapat mengangkat tangan untuk membebaskan diri dari mokomoko yang menyelubungi dirinya. Dia sangat kebingungan, saat bangun dari tidurnya, dia menemukan dirinya sendirian dalam kamar Inukimi. Lalu, saat dia melangkah kaki keluar dari kamar, dia mendengar suara yang sangat ribut dari depan istana, dan apa yang diihatnya kemudian bukanlah sesuatu yang disangka akan dilihatnya—pertarungan dari Sesshoumaru dan Inukimi tidak pernah terlintas sedikit pun dalam pkirannya.
"Pergi dan jangan berani kau merebut Rin kecil dariku." Perintah Inukimi dengan nada berat.
Kemarahan dalam hati Sesshoumaru semakin memuncak walau wajahnya tetap tanpa ekspresi. Ada sedikit kebingungan dalam hatinya, walau dia segera menepisnya jauh-jauh. Dirinya sudah hidup berabad-abad, dan dia tidak pernah merasakan perasaan seperti ini sebelumnya. Perasaan yang tidak menyenangkan, perasaan marah yang sungguh berbeda dengan perasaan marah saat Ayahandanya menyerahkan Tensaiga untuk Inuyasha, maupun perasaan marah saat Naraku berusaha menipunya.
Menatap sosok Rin yang diselubungi mokomoko ibundanya, dia menggeram penuh kemarahan, berniat utuk melancarkan serangan pemugkas Bakusaiga. Namun, dia tidak melakukan itu, sebab dia tahu Rin dalam pelukan Inukimi juga akan menerima serangan tersebut jika dia melancarkanya.
Rin memang merupakan seorang manusia, spesies makhluk hidup yang dibencinya. Tapi, semua orang pasti juga sudah tahu, gadis itu adalah satu-satunya yang special di antara semua manusia di dunia ini. Rin ada dalam pengwasannya, Sesshoumaru, sang pewaris tanah barat. Terlebih lagi, Gadis kecil itu adalah sebuah nyawa yang dihidupkannya, dilindungi dan dijaganya. Rin adalah bawahannya—milikya. Miliknya seorang. Dia tidak mungkin akan membiarkan siapa pun mengkalim sesuatu miliknya dengan seenaknya.
"Mereka bukan, Ibu-anak. Aku yakin sekali akan itu." ujar Miroku penuh keyakinan. Dirinya benar-benar tidak dapat menerima apa yang dilihatnya sekarang, pertarungan ibu-anak yang tidak segan-segan.
"Mereka itu youkai, Miroku," jelas Sango sambil menatap Miroku pelan. "Mereka berbeda dengan kita. Apalagi Inuyoukai yang memang terkenal sangat posesif dengan apa yang mereka klaim sebagai miliknya. Hubungan darah, persaudaraan, anak atau orang tua, mereka tidak begitu mempedulikannya."
"Sesuatu yang tidak penting," potong Inuyasha tiba-tiba. Matanya tidak mempedulikan Kagome serta teman-temannya yang menatap dirinya, kedua mata emasnya masih menatap sosok Sesshoumaru, "Itulah youkai, terutama youkai seperti Sesshoumaru."
Kagome hanya diam menatap suaminya. Melihatnya, ada perasaan sedih yang muncul dalam hatinya. Di dunia ini, hanya Sesshoumaru seorang sajalah yang memiliki hubungan darah dengan Inuyasha. Namun, hubungan mereka tidak pernah baik, selalu bertarungan dan saling membenci. Di mata Sesshoumaru, Inuyasha bukanlah adiknya, keberadaannya adalah sesuatu yang tidak berguna, tidak penting. Namun, apakah di mata Inuyasha keberadaan Sesshoumaru juga seperti itu? Mungkinkah dalam hati Inuyasha yang terdalam, dia sebenarnya juga memiliki keinginan untuk akrab dengan Sesshoumaru? Menjalin hubungan selayaknya seorang saudara.
"Ini bukan saatnya membahas ini semua," kata Kaede tiba-tiba. "Rin ada diantara kedua ibu-anak inuyoukai itu. Jika kita tidak melakukan sesuatu, nyawanya akan berada dalam bahaya."
Ucapan Kaede langsung membuat Inuyasha, Kagome dan yang lainnya sadar. Apa yang dikatakannya memang benar, tapi, bagaimana cara mereka menghentikan kedua inuyoukai itu? Salah sedikit saja, hidup mereka akan melayang. Untuk menghentikan mereka, hanya seseorang yang sangat kuat dengan daya tahan hidup luar biasa yang dapat melakukan itu, dan diantara mereka sekarang, hanya ada satu orang. Perlahan-lahan, mata semua yang ada di sana menoleh mata menatap Inuyasha yang segera meloncat ke belakang. Meski mereka tidak mengatakan apa-apa, dia tahu apa yang ada dalam pikiran istri dan teman-temannya.
"Tidak! Aku tidak mau!" protes Inuyasha penuh kemarahan.
"Ayolah, Inuyasha," senyum Kagome. "Jangan seperti itu. Tugas ini memang tugasmu."
"Tidak! Ini bukan tugasku!" teriak Inuyasha sambil melipat tangannya di dada dan membuang mukanya.
"Kau takut pada Sesshoumaru-sama, ya, Inuyasha-san?" tanya Kohaku tiba-tiba. Dia tahu Inuyasha serius tidak mau menghentikan pertarungan kedua inuyoukai di depan. Namun, dirinya tidak bisa membiarkan itu, nyawa Rin akan berada dalam bahaya, dia harus melakukan sesuatu agar Inuyasha bersedia menghentikan pertarungan tersebut.
Seakan mengerti maksud Kohaku, Miroku segera menyambung. "Ya, Kohaku. Inuyasha pasti takut, sebab bagaimana pun juga, Inuyasha memang lebih lemah dari pada Sesshoumaru-san. Benarkan, Sango?" tanyanya sambil menatap istrinya.
Sango segera mengangguk kepala sambil menutup mata. Dia tahu apa yang sedang direncanakan suami serta adiknya, dan demi Rin, dia memutuskan untuk mengikuti rencana mereka.
"Apa katamu!" teriak Inuyasha penuh kemarahan. "Aku tidak takut pada si berengsek itu! Dan aku juga tidak lebih lemah darinya!"
__ADS_1
"Kalau begitu, tunjukkan! Tunjukkan pada kami kalau kau tidak lebih lemah dari Sesshoumaru-san." potong Miroku cepat.
Inuyasha tidak berkata apa-apa, dia tertegun dan mengutuk dirinya sendiri dalam hati. Apa yang barusan dikatakannya, kenapa dia begitu bodoh hingga terdampar dalam sistuasi seperti ini?
Melihat Inuyasha yang tidak bergerak, Kagome menghela napas. "Semuanya, sepertinya kita harus mencari orang lain. Inuyasha tidak akan mampu melakukan itu, dia memang lebih lemah dari kakak."
"Aku tidak lebih lemah dari si berengsek itu!" teriak Inuyasha lagi penuh kemarahan. Dia tidak dapat lagi menahan dirinya dengan kata-kata dari istri dan teman-temannya yang berpendapat dia lebih lemah dari Sesshoumaru. Mencabut Tensaiga dari sarungnya dan berlari ke depan. "Akan aku tunjukkan pada kalian semua!"
Kagome, Miroku, Sango dan Kohaku hanya saling menatap saat Inuyasha berlari menjauh. Sebuah senyum langsung mengembang di wajah Kagome. Mengacungkan jempol pada teman-temannya, dia tertawa. "Mission acomplite."
Inuyasha yang berlari mendekati Sesshoumaru dan Inukimi hanya dapat kembali berpikir, tidak tahu mengapa, dirinya merasa sudah dijebak oleh istri dan teman-temannya melakukan tugas ini. Namun, dia tidak dapat menarik kembali kata-katanya barusan, harga dirinya tidak mengijinkan. Mencibir penuh kekesalan, dia kemudian meloncat ke tengah-tengah Sesshoumaru dan Inukimi, berdiri tegap dengan Tensaiga dalam wujud asli di tangannya. "Hentikan ini semua!"
Kemunculan Inuyasha tidak membuat kemarahan Sessoumaru menghilang, "Minggir, hanyou." perintahnya dengan geraman rendah.
Inukimi yang melihat Inuyasha, walau tidak pernah bertemu sebelumnya, segera menyadari siapa yang ada di depannya. Tensiga di tangan, baju dari kulit tikus api, rambut perak, mata emas serta sepasang tellinga anjing—yang di depannya tidak diragukan adalah anak dari Taisho. Di lain waktu, dirinya mungkin akan bersedia berbicara dan bermain dengannya. Namun, untuk sekarang ini, dia tidak mau. Kemunculannya pasti juga bukan sesuatu yang baik. Mengikuti Sesshoumaru dari desa manusia hingga ke istananya, hanyou itu pasti memiliki satu tujan saja, yaitu; membawa Rin kembali ke desa manusia.
Menggerakkan mokomokonya, Inukimi segera melancarkan serangannya pada Sesshoumaru dan Inuyasha. Kedua bersaudara Inu itu segera meloncat menghindar, namun, mokomoko tersebut tidak membiarkannya. Dengan cepat juga, mokomoko tersebut kembali bergerak mengejar, menyerang.
"Apa-apaan ini!" teriak Inuyasha, tangannya menggerakkan Tensaiga, berusaha menebas mokomoko yang menyerangnya. Namun, mokomoko itu bergerak, menyelubungi pedang tersebut, membuatnya tidak dapat menggerakkannya. Di lain pihak, Sesshoumaru, yang menghindar serangan ibu kandungnya kembali menggeram penuh kemarahan lagi. Serangan-serangan mokomoko itu membuatnya tidak dapat mendekat dan merebut Rin kembali. Dia tidak dapat menyerang selama Rin masih berada dalam balik mokomoko tersebut.
Inuyasha yang sudah mulai terpojok dan kehilangan kesabarannya tiba-tiba berteriak penuh kemarahan. Mengangkat pedang ditangan, dirinya mengumpulkan kekuatan. Mata emasnya berusaha mencari-cari retakan udara dimana dia harus memotong untuk melancarkan serangan andalan Tensaiga. Namun, sebelum dia melancarkannya, Sesshoumaru tiba-tiba menggunakan Bakusaiga menyerangnya , hanyou itu meloncat ke belakang. "Apa-apaan kau berengsek?" tanyanya.
Sesshoumaru tidak menjawab, dia menggeram penuh kemarahan. Idiot! Tidak tahukah hanyou itu apa yang barusan ingin dilakukannya? Menyerang Ibundanya dengan Tensaiga saat Rin berada dalam dekapannya, apakah hanyou itu ingin membunuh Rin?
Mati?
'Gadis kecil ini tidak akan dapat kau hidupkan kembali lagi untuk ketiga kalinya.'
Kemarahan Sesshoumru tiba-tiba memuncak. Kata-kata itu mengingatkan dirinya pada perasaan yang sangat tidak menyenangkan dan tidak disukainya. Perasaan tidak berdaya dan takut saat dulu Rin mati untuk kedua kali di hadapannya. Dia tidak mau merasakan perasaan itu lagi, karena itu, jika ada seseorang yang berniat membuatnya merasakan itu, dia akan memusnahkannya. Tidak membuang waktu, Sesshoumaru segera melangkah kakinya, mengayunkan Bakusaiga untuk menyerang Inuyasha.
"Hei! Apa-apaan kau, berengsek?!| teriak Inuyasha penuh kebingungan bercampur kemarahan. Tangannya dengan cepat menggerakkan Tensaiga untuk menahan serangan Bakusaiga. Dilain pihak, Inukimi yang memang tidak mempedulikan kedua kakak-adik di depan itu kembali melancarkan mokomokonya untuk meyerang.
"Sepertinya," ujar Kagome pelan sambil tertawa gugup. "Meminta Inuyasha menghentikan pertarungan di depan bukanlah sebuah pilihan yang tepat."
Miroku, Sango, Kohaku dan Kaede tidak mengatakan apa-apa. Tapi, mereka setuju dengan ucapan gadis masa depan itu. Pertarungan di depan mereka bukan berhenti, malahan makin memanas. Kini bukan dua orang lagi yang bertarung, melainkan tiga orang, di mana ketiga orang itu merupakan orang terkuat yang pernah mereka temui. Kebingungan dengan cepat melanda mereka semua, setelah Inuyasha terseret dalam pertarungan, mereka tidak tahu siapa lagi yang dapat menghentikan inuyoukai dan juga hanyou di depan.
"Hentikan..." suara pelan seseorang tiba-tiba terdengar.
Kagome, Miroku, Sango, Kohaku dan Kaede memang tidak dapat mendengarnya, namun, Sesshoumaru, Inuyasha dan Inukimi yang memiliki indra pendengaran tajam, jelas dapat mendengarnya dengan baik suara itu—suara Rin. Indra penciuman mereka kemudian mencium bau asin di udara. Terkejut, Inukimi segera membuka mokomokonya yang menutupi seluruh badan Rin. mata semua yang ada di sana tertegun, termasuk Sesshoumaru saat melihat Rin yang mengangkat tangan menutup telinganya sambil menangis.
__ADS_1
"Hentikan! Hentikan! Rin mohon, hentikan!" teriaknya keras.
"Rin kecil, kenapa kau menangis?" tanya Inukimi, tangannya segera menghapus air mata yang ada, "Jangan menangis, Putriku. Ibunda akan berhenti. Ibunda tidak akan bertarung dengan anak-anak anjing itu lagi."
Apa yang diucapkan Inukimi langsung membuat semua yang ada di sana kembali terkejut. Putriku? Ibunda? Lalu, anak-anak anjing itu? Maksudnya Sesshoumaru dan Inuyasha? Apa yang sebenarnya terjadi? Kecuali Sesshoumaru, pertanyaan-pertanyaan itu terus berputar dalam kepala. Pertanyaan itu tidak terbesit sedikit pun dalam kepalanya sekarang, sebab air mata yang terus mengalir menuruni pipi gadis kecil di depannya telah merebut perhatiannya. Kapan dia terakhir dia melihat air mata itu? Selama masa mengembara bersamanya, Rin tidak pernah menangis di depannya, selalu mandiri dan kuat diusianya yang masih kecil tidak peduli betapa beratnya hidup. Dia pertama kali melihat air mata di wajah itu adalah pada saat dia meninggalkannya di desa manusia. Dan, betapa bencinya dirinya saat mendengar suara tangis, mencium asin air mata serta melihatnya mengalir turun.
"Rin tidak mau ada yang terluka! Rin tidak mau Inuyasha-sama, Ibunda dan Sesshoumaru-sama terluka." kata Rin lagi, mata coklatnya menatap lurus wajah Inukimi.
Mengangkat tangan, Inukimi langsung memeluk Rin. "Iya, tidak apa-apa. Tenanglah, Rin kecil, tidak akan ada yang terluka."
Sesshoumaru hanya dapat menatap apa yang terjadi di depannya dengan wajah tanpa ekspresi, walau dalam hatinya yang terdalam, dia sesungguhnya cukup terkejut dengan ucapan dan sikap ibundanya. Sebagai anak satu-satunya, dia tahu dengan baik sikap Inukimi yang sebenarnya. Pasti ada sebuah rencana yang tersembunyi dibalik sikapnya sekarang. "Apa maksud semua ini, Ibunda?" tanyanya dingin.
Inukimi tetap tidak mempedulikan Sesshoumaru, inuyoukai itu terus berusaha menenangkan Rin yang sedang menangis dengan mengelus rambut gadis manusia itu dengan lembut dalam pelukannya.
Inuyasaha, Kagome serta yang lainnya berdiri mematung melihat sikap Inukimi. Sikap inuyoukai itu sekarang begitu lembut penuh kasih sayang. Sikap itu tidak diragukan lagi adalah kasih sayang seorang ibu pada anaknya. Tapi, kenapa Inukimi menunjukkan sikap itu pada Rin? Bukan kepada Sesshoumaru yang dilahirkannya?
"J-janji?" tanya Rin sambil mejauhkan wajahnya dari ada Inukimi dan menatapnya.
Menghapus air mata Rin, Inukimi tersenyum lembut. "Iya. Ibunda janji. Tidak akan ada yang terluka."
Janji Inukimi membuat kesedihan di wajah Rin segera menghilang. "Terima kasih, terima kasih, Ibunda." tawanya gembira dan kembali memeluk inuyoukai tersebut.
Apa yang terjadi di depan benar-benar merupakan sesuatu yang tidak dapat dimengerti Sesshoumaru. Sikap ibundanya jelas sangat berbeda dengan apa yang ada dalam pikirannya. Dia tahu, ibunya tidak berbohong dengan janjinya barusan, lalu yang terpenting, dia juga tahu, ibundannya juga tidak akan melukai Rin, malahan jika boleh dikatakan, kini Ibundannya akan meloncat menyerang tanpa pandang bulu jika ada yang berniat melukai gadis itu. Apa yang sebenarnya terjadi pada ibundanya serta Rin? Itu adalah pertanyaan yang tidak dapat dijawabnya sekarang.
Tapi, bagi Sesshoumaru itu tidak penting, sebab dia tetap tidak dapat mempercayai ibundanya. Jika mau jujur, dia tidak dapat mempercayai siapapun jika sudah menyangkut Rin. Tidak pada Jaken yang selalu ditinggalkan berdua bersama Rin dulu, tidak pada Kaede tempat dimana dia menitipkan Rin, tidak juga pada Inuyasha, istri dan teman-temannya yang dia perintahkan untuk menjaga Rin. Selama Rin tiggal di desa manusia, dirinya sessungguhnya selalu mengawasi youkai mana pun yang mendekati desa itu. Dia melindungi desa itu tanpa diketahui siapa pun. Rencana Inukimi adalah sebuah rencana yang diluar perkiraan Sesshoumaru. Ibundannya yang pernah mengidupkan kembali Rin dulu oleh dirinya mempredeksi, tidak mungkin akan menyerang, melukai ataupun menculik gadis kecil itu. Di dunia ini, dia hanya dapat mempercayai seseorang jika menyangkut Rin, yaitu; dirinya sendiri.
"Rin," panggil Sesshoumaru tiba-tiba dengan suaranya yang datar tanpa emosi dan berhasil merebut perhatian gadis kecil tersebut, "Kemari." perintahnya kemudian.
Perintah Sesshomaru membuat badan Rin yang berada dalam dekapan Inukimi bergerak sendiri. Tanpa berpikir sedikit pun, sejak dulu, dirinya memang akan selalu mengikuti perintah tuannya itu. Melihat wajah tampan tanpa emosi di depannya, senyum lebar merekah di wajah Rin. Akhirnya! Akhirnya mereka bertemu lagi, setelah berpisah beberapa bulan! Mereka ahkirnya bertemu lagi walau sistuasi dan kondisi sekarang sangat membingungkan. Melangkah kakinya, Rin segera berlari menuju Sesshoumaru. Namun, tiba-tiba saja, Inukimi menarik tangan Rin dan kembali mendekapnya.
"Rin kecil, putriku," kata Inukimi pelan. "Kau tidak boleh ke sana, bukankah kau sudah mengatakan akan selalu berada di samping Ibunda?"
Pertanyaan Inukimi membuat Rin, Sesshoumaru dan semua yang ada di sana kembali terkejut untuk kesekian kalinya. Mengangakat wajah menatap Inukimi, raut kebingungan memenuhi wajah Rin. Iya, dirinya memang pernah mengatakan itu; akan selalu bersama Inukimi yang sudah dianggapnya bagaikan ibu kandungnya sendiri. Ingin selalu bersama dengan Inukimi, bukanlah kebohongan, tapi, dia tidak menyangka keadaan akan berubah seperti ini.
"Tidak boleh!" teriak Kaede tiba-tiba mengejutkan semua yang ada. Menoleh wajah menatap miko tua itu, mereka melihatnya berjalan mendekati Rin dan berhenti tidak jauh Sesshoumaru saat melihat inuyoukai itu menatapnya dengan tajam. Menelan ludah, dia kembali mengeluaran suaranya dengan lantang. "Rin adalah manusia. Dunia manusia dan youkai sangat berbeda, dunia tempat Rin hidup seharusnya memang dunia manusia bersama kami, bukan kalian."
Pernyataan yang diungkakan Kaede langsung membuat Inukimi menggeram penuh kemarahan. Tanganya yang mendekap Rin menjadi semakin erat. Namun, miko tua itu tidak memedulikannya. Dia menyukai Rin, gadis kecil itu benar-benar sungguh polos. Kepolosannya bahkan kadang membuatnya takut, di matanya manusia dan youkai tidak ada bedanya, dia tidak tahu betapa kejam dan mengerikannya youkai itu sesungguhnya. Sekarang dia masih kecil, apa yang akan terjadi jika kelak dia sudah dewasa? Apa yang akan para youkai lakukan padanya? salah sedikit saja, dia akan menjadi mainan bagi para youkai. Manusia ditengah dunia youkai, itu adalah sebuah kesalahan.
Mengangkat tangan, Kaede mengulurkannya pada Rin, "Ayo, Rin. kita kembali ke desa. Kau bukan seseorang yang bisa tinggal di dunia youkai."
__ADS_1
Rin yang kebingungan tidak tahu harus berkata apa, menoleh kepalanya pada Inukimi dan Kaede, dia tidak tahu harus berbuat apa. Antara manusia dan Youkai, apakah kini sudah tiba saatnya dirinya untuk memilih?
....xOxOx....