Till The End Of Time [ Inuyasha Fanfiction ]

Till The End Of Time [ Inuyasha Fanfiction ]
Chapter 38


__ADS_3

"Kau tunggu di depan, dan jangan berani melangkah kaki masuk," perintah Inukimi pada Inuyasha dengan seulas senyum di wajahnya saat mereka tiba di depan rumah hanyou tersebut. "Kau hanya akan menjadi penganggu nanti."


Inuyasha berdiri mematung dengan mata terbelalak saat mendengar perintah Inukimi. Tidak mempedulikannya, mantan Penguasa Tanah Barat itu menolehkan kepala menatap putra kandungnya, Sesshoumaru dan tersenyum menyeringai. "Kau juga."


Sesshoumaru tidak mengatakan apa pun, dia tetap diam membisu dengan wajah tanpa ekspresi. Inuyoukai yang melahirkannya itu benar-benar memiliki pikiran yang unik dan suka seenaknya. Inukimi pasti tahu kalau sesungguhnya, dia tidak mau berada di sini. Dirinya tidak pernah tertarik ataupun peduli sedikitpun dengan kondisi istri dan anak adik tirinya, terlebih lagi, bau darah, para manusia dan hanyou yang sungguh menganggu indera penciumannya. Satu-satunya hal yang membuat dia berada di tempatnya berada sekarang sebenarnya hanyalah satu; yakni Rin yang tangannya terus digengam Inukimi dengan erat. Dia tidak bisa meninggalkan gadis itu bersama ibundanya tanpa pegawasan, sebab, bisa-bisa saja inuyoukai itu membawanya pergi dan tidak mau mengembalikannya lagi.


Melihat Sesshoumaru yang tetap tenang, senyum Inukimi semakin melebar. Dia tahu putra satu-satunya itu terganggu dengan sikapnya sekarang walau tidak menunjukkannya, dan itu membuatnya semakin gembira. Dirinya selama ini tidak pernah menemukan kelemahan ataupun sesuatu yang dapat mengusik putranya. Tidak peduli apa dia lakukan, Sesshoumaru selalu saja dingin dan cuek. Tapi, kini dia sudah tahu, sesuatu yang dapat membuat inuyoukai berharga diri tinggi itu terusik, kesal maupun marah, yakni; memisahkan Rin darinya.


"Ibunda," panggil Rin pelan. Mata coklat besarnya berbinar menatap Inukimi. Dia tidak dapat menyembunyikan kebahagian karena bertemu dengan inuyoukai yang sangat disayanginya. Terlebih lagi dia tahu, inuyoukai di depannya itu pasti dapat menyelamatkan Kagome dan bayinya. "Ijinkan Rin membantu, ya? Rin ingin membantu Ibunda. Ibunda tidak perlu takut, Rin dulu sering membantu Nenek Kaede melakukan proses melahirkan, jadi Rin tidak akan menjadi penganggu."


Inukimi tertawa mendengar permintaan Rin. Sikap putri angkatnya itu hanya membuat rencananya untuk mengusik Sesshoumaru semakin lancar. Sesuatu yang sangat disukai dan diharapkannya. "Iya. Ibunda memang memerlukan bantuanmu, Rin kecil."


Sesshoumaru benar-benar tidak menyukai sikap Ibundanya yang dengan begitu mudah menyetujuhi permintaan Rin. Mengijinkan Rin berada dalam? Mengijinkan Rin membantu kelahiran seorang hanyou? Mengijinkan tangan putih bersih itu dikotori darah kelahiran?


"Bisakah kalian tidak membuang waktu lagi?" ujar Inuyasha tiba-tiba. Kepanikan serta ketakutan di wajahnya tidak berkurang sedikit pun, dan sejujurnya, ada kekesalan dalam hati, sebab Inukimi terihat sangat santai seakan tidak mempedulikan nyawa Kagome dan anaknya yang berada dalam bahaya. "Terserah apa yang ingin kalian bicarakan! Tapi, lakukan itu setelah Kagome dan anak kami selamat!"


Menoleh wajah menatap Inuyasha, sebuah kerutan kecil muncul di wajah cantik Inukimi. "Mudah panik, cepat takut dan penuh kekhawatiran. Ternyata kau mewarisi sikap Si Manis Izayoi itu, Putra Taisho."


Mata Inuyasha terbelalak, tidak menyangka dia akan mendengar nama almahum ibunya dari mulut istri pertama ayahnya. Namun, Inukimi tidak peduli, dengan cuek dan santai, dia kembali menoleh wajah menatap Rin. Senyum kembali merekah di wajahnya. "Ayo, Rin kecil, kita sambut kelahiran inuhanyou dalam kandungan ibunya itu."


Rin tertawa kecil sambil mengangguk-angguk kepala. Menatap Inuyasha, dia tersenyum lebar. "Tenanglah, Inuyasha-sama. Kagome-sama dan bayi kalian pasti akan baik-baik saja."


Senyum Rin membuat Inuyasha kembali tertegun. Lagi-lagi senyum itu, senyum indah yang bisa membuat kepanikan dan ketakutan dalam hatinya menghilang. Seakan ada sesuatu dalam senyum itu, sesuatu yang tidak dapat dijelaskan. Bertanya-tanya dalam hati, hanyou itu hanya dapat berpikir, itukah alasannya? Senyum itukah yang membuat Sesshoumaru mengijinkan gadis manusia itu berada di sisinya selama ini? Senyum yang membuat inuyoukai berkebangaan tinggi dan pembenci manusia itu selalu menjaga dan melindunginya? Jika benar begitu, maka Sesshoumaru benar-benar sangat serakah! Inuyoukai itu ternyata selalu menjaga dan menyembunyikan harta berharga milik ras manusia disisinya selama ini.


Rin kemudian menoleh wajah menatap Sesshoumaru yang masih saja diam membisu dengan wajah tanpa ekspresi. Menatap mata emas itu, dia tahu, inuyoukai itu tidak begitu setuju dengan keputusannya untuk membantu proses melahirkan yang akan dilakukan. Namun, meski begitu, inuyoukai itu juga tidak akan menghentikannya. Tidak pernah mengikat, namun selalu menjaga dan melindungi, ada setiap saat dia memerlukannya, itu adalah sifat Sesshoumaru—sikap yang sangat disukai Rin. Melepaskan tangannya yang digenggam Inukimi, Rin berjalan mendekati Sesshoumaru. Tangan kecilnya dengan pelan mengangkat tangan cakar inuyoukai Penguasa Tanah Barat itu menyentuh pipi kanannya. "Tidak apa-apa, Sesshoumaru-sama. Rin akan segera kembali ke sisi anda saat semuanya sudah selesai..."


Sikap dan tindak tanduk Rin yang diluar dugaan, Inuyasha dan Inukimi benar-benar sangat terkejut. Namun, yang paling mengejutkan, mungkin adalah sikap Sesshoumaru. Inuyoukai itu memang hanya menatap gadis manusia itu, namun, tidak sedikitpun dia menepis atau terlihat keberatan dengan apa yang dilakukan Rin.


"Lakukanlah apa yang kau mau, Rin..."


"Akhhhh!" teriak Kagome kesakitan. Badannya terus kejang-kejang menahan rasa sakit yang melanda dirinya.


"Apa yang harus kita lakukan, Kaede-san, Jinenji-san?" tanya Sango panik. Wajahnya telah berubah menjadi pucat pasi.


Kaede dan Jinenji tidak menjawab, kepala mereka berusaha keras memikirkan cara untuk menyelamatkan miko masa depan itu serta hanyou dalam rahimnya. Mereka tidak tahu harus berbuat apa. Proses melahirkan ini sungguh berbeda dari proses melahirkan manusia maupun hanyou pada umumnya, tidak ada air ketuban, yang ada hanya darah. Dan juga, tidak terlihat kepala, kaki ataupun anggota tubuh bayi dalam kandungan yang keluar.


"Nenek Kaede! Jinenji-sama! Sango-sama!" teriak Rin tiba-tiba sambil membuka pintu kamar.


Semua yang ada di dalam kamar tersebut langsung menoleh kepala menatap pintu kamar yang terbuka. Mata mereka terbelalak saat melihat sosok Inukimi yang berdiri di belakang Rin. Mereka tidak tahu harus berkata apa, dan juga, mereka tidak merasakan sedikitpun keberadaan Inuyoukai mantan Penguasa Tanah Barat hingga sekarang.


Rin yang tidak mempedulikan sedikit pun perasaan terkejut mereka segera melangkah kaki masuk. Senyum lebar merekah di wajah cantiknya. "Nenek Kaede, Jinenji-sama, Sango-sama dan Kagome-sama, Ibunda akan membantu kelahiran bayi Inuyasha-sama dan Kagome-sama."


Perasaan terkejut memenuhi hati mereka semua, seakan tidak percaya dengan apa yang mereka dengar. Menatap Inukimi, mereka semua terdiam seribu bahasa.


"Percayalah, semuanya akan berakhir dengan lancar dan baik." senyum Rin lagi sambil menatap semua yang ada, memberikan keyakinan serta semangat.


Inukimi yang melihat reaksi semua yang ada di sana seperti biasa, tidak mempedulikannya. Melangkah kaki masuk, dia menatap Kagome yang terbaring tanpa daya di atas futon. "Hanyou," ujarnya pelan. "Anakmu tidak akan lahir seperti bayi manusia pada umumnya, miko aneh."


"Eh?" seru semua yang ada terkejut. Mata mereka semua menatap bingung inuyoukai mantan Penguasa Tanah Barat tersebut.


"Bayi Inuhanyou jauh lebih besar dari pada anak manusia pada umumnya. Jalan lahir seorang manusia tidak akan mungkin mampu dilalui sang bayi."


"Apa?!"


"Dan juga, rahim ibu seorang inuyoukai maupun inuhanyou tidak memiliki air ketuban seperti biasanya. Yang ada adalah darah. Bagi klan kami, bukanlah air ketuban, tapi darah kelahiran." lanjut Inukimi lagi sambil menatap wajah pucat semua yang ada. Namun, sejenak kemudian dia menutup mata dan membuang muka. "Buat apa aku menjelaskan ini semua pada kalian, ya? Ternyata aku memang sudah mulai tua dan pikun."


"K-kalau begitu, b-bagaimana caranya untuk menyelamatkan Kagome dan bayinya?" tanya Sango terbata-bata. Dia tidak tahu harus melakukan apa lagi.


Pertanyaan Sango berhasil membuat mata emas Inukimi kembali terbuka. Mengangkat jari telunjuknya yang memiliki cakar tajam dan runcing, sebuah senyum menyeringai melintas di atas wajah cantiknya. "Dengan ini."


Inuyasha berjalan kesana-kemari. Wajahnya pucat penuh kekhawatiran. Dia tidak dapat menenangkan dirinya tidak peduli bagaimana dia menyakinkan dirinya bahwa semuanya akan berjalan dengan baik dan istri-anaknya akan selamat.


Sesshoumaru yang berdiri menyandarkan badan pada sebatang pohon di samping rumah Inuyasha tidak mengatkan apa-apa seperti biasanya. Kedua matanya tertutup dengan wajah tanpa eksresi. Berbeda dengan Inuyasha yang kebingungan dan panik, sesungguhnya, dia tahu apa yang terjadi di dalam rumah tersebut. Indra pendengaran dan kemampuannya membaca aura telah membuat dirinya mengetahui jelas apa yang akan dilakukan Inukimi.


Sedangkan Miroku, Kohaku, Myoga, Jaken serta putra-putri Miroku, hanya dapat duduk diam tidak jauh dari kedua inu bersaudara, menatap mereka dalam diam.


"Aya, Maya," panggil Miroku tiba-tiba. "Kau lihat sikap Inuyasha sekarang. Ketahuilah, itu jugalah sikap ayah pada hari kalian lahir."


"Eh?" seru Aya, Maya terkejut. Namun, belum sempat mereka mengatakan apa-apa, Mamoru telah memotong pembicaraan penuh semangat. "Ayah! Bagaimana dengan Mamoru!? Apa Ayah tidak ceperti itu pada hari Mamoru lahir?"


Pertanyaan tiba-tiba putranya, membuat Miroku menatap Mamoru. Menerawang memikirkan jawaban, dia memiringkan kepala. "Tidak..," jelas Miroku pelan. "Ayah tidak seperti itu pada hari kelahiranmu, Mamoru. Pada hari kelahiranmu, Ayah dan Inuyasha sedang dalam membasmi youkai. Saat pulang, kau sudah lahir."


"Apa?" teriak Mamoru. Ekspresi wajahnya yang penuh semangat langsung menghilang, digantikan tertegun dan penuh ketidak percayaan.


Miroku yang merasa bersalah melihat ekspresi wajah anak laki-laki satu-satunya, hanya dapat tertawa gugup dan segera memeluk badan kecil tersebut. "Tidak apa-apa, Mamoru. Walau Ayah tidak seperti itu pada hari kelahiranmu, rasa sayang padamu, sama seperti rasa sayang Ayah pada kedua kakakmu. Jadi jangan sedih," hibur Miroku. "Ketakutan dan kebingungan itu, kau akan merasakannya saat istrimu melahirkan anak pertamamu kelak. Semua laki-laki yang menjadi seorang suami akan merasakan itu" Mata hitamnya kemudian terarah pada Kohaku yang menatapnya. "Kau juga, Kohaku. Kelak saat wanita yang menjadi istrimu melahirkan anak pertamamu, kau juga pasti akan sepeti itu."


"Eh?" seru Kohaku terkejut dengan kata-kata Miroku yang ditujukan padanya.


"Benar sekali," tambah Myoga sambil mengangguk kepala. "Kuingat dulu saat Inukimi-sama melahirkan Sesshoumaru-sama. Inu no Taisho juga seperti itu."


Anak? Istri? Wajah Kohaku langsung berubah menjadi merah padam saat dia membayangkan sosok seorang wanita yang sedang mengendong bayinya sambil tersenyum lembut. Dia bisa membayangkan dengan jelas wajah wanita itu, wajah dari gadis yang selalu menjadi impiannya, wajah—

__ADS_1


"Gr..."


Suara geraman pelan tiba-tiba terdengar dan lantas membuat apa yang dipikirkan Kohaku menghilang. Menoleh wajah menatap sumber suara, dia menemukan sepasang mata emas Sesshoumaru yang menatap tajam dirinya. Ketakutan segera memenuhi dirinya, begitu juga dengan Miroku, putra-putrinya, serta Myoga. Mereka tidak tahu apa yang terjadi, tapi mereka semua merasa mungkin suara pembicaraan mereka telah menganggu inuyoukai itu.


"D-diam kalian semua!" teriak Jaken cepat. Dia tidak tahu apa yang membuat tuannya itu marah. Tapi, kemarahan Sesshomaru jelas bukanlah sesuatu yang diharapkannya, meski dia adalah bawahannya.


Sesshoumaru tidak menyukai pembicaraan yang didengarnya. Terlebih lagi, saat melihat wajah merah padam Kohaku waktu memikirkan kata-kata Miroku. Dia tahu, wajah siapa yang ada dalam pikiran taijiya muda itu saat memikirkkan istri masa depannya. Dan dia tidak akan membiarkannya! Berani sekali manusia rendahan sepertinya berpikir seperti itu!


"Akhhhh!" teriak Inuyasha frustasi tiba-tiba mengejutkan semua yang ada kecuali Sesshoumaru. Mengacak-acak rambut perak panjangnya, dia menoleh wajah menatap saudara tirinya. "Sesshoumaru!" panggilnya sambil berteriak. Tangan kanannya dengan cepat mengenggam gangang pedang Tessaiga di pinggang. "Cabut Bakusaigamu! Lawan aku! Hentikan tekanan ini! Aku tahu kau pasti bisa!"


"Daripada menunggu dan menghadapi tekanan sang istri yang melahirkan anak pertamanya, ternyata dia lebih memilih mempertaruhkan hidupnya dalam pertarungan nyawa sebagai taruhan," gumam Miroku pelan melihat Inuyasha dan menghela napas. "Tipikal Inuyasha..."


Sesshoumaru menatap sejenak Inuyasha. Namun, dengan cepat pula dia membuang muka dan menutup matanya. Dia tidak mau dan tak punya waktu untuk meladeni kebodohan hanyou saudarah separuh darahnya sekarang.


Melihat Sesshoumaru yang tidak bereaksi sedikitpun, Inuyasha segera berjalan mendekat. Dalam hatinya, dia sudah bertekad, tidak peduli bagaimana, dia akan membuat saudarah tirinya itu melawannya. Mungkin dengan meninju, mencakar atau mengayunkan pedang padanya, yang penting, dia akan membuat inuyoukai di depan itu membantunya menghilangkan tekanan yang dia rasakan sekarang.


"Seshou- " panggil Inuyasha lagi. Namun, belum sempat dia menyelesaikan ucapannya, suara teriakan Kagome yang luar biasa kuat terdengar dari dalam rumah mereka.


"Ahhhhhhhh!"


"Ahhhh!"


"Tahan tangan dan kakinya, jangan biarkan dia bergerak sedikit pun." Perintah Inukimi sambil menatap Sango, Kaede dan Jinenji yang menahan tangan dan kaki Kagome. Jari telunjuknya yang memiliki kuku setajam pedang kini telah bergerak untuk membedah perut besar Kagome.


Rin yang menatap apa yang dilakukan Inukimi hanya dapat berdiam diri dengan wajah pucat pasi. Dia tidak pernah melihat proses melahirkan seperti ini. Sungguh mengerikan. Namun, dia percaya pada Inukimi. Inuyoukai itu pasti dapat menyelamatkan nyawa dari Kagome dan bayinya.


"Ahhhh! Ini adalah operesi ceaser!" teriak Kagome tiba-tiba. Kesakitan luar biasa yang dirasakannya karena tidak ada obat bius membuat pikirannya tidak dapat lagi berpikir tenang. "Operasi ceaser ternyata sudah ada sejak jaman sengoku jidai di jepang ini! Ilmu kedokteran di jepang ternyata telah sangat maju pada jaman ini!"


Inukimi yang melihat Kagome berteriak tidak karuan dan mati-mtian menahan rasa sakit berhenti sejenak membelah perut wanita masa depan tersebut. Kedua alisnya langsung bertaut. "Tidak peduli manusia maupun youkai, ternyata memang hanya wanitalah yang mengalami rasa sakit melahirkan. Laki-laki hanya akan duduk santai di depan menunggu," menutup mata sejenak, dia mengingat kembali saat-saat dia melahirkan Sesshoumaru, putra satu-satunya. "Sunguh tidak adil.."


Ucapan Inukimi berhasil membuat Kagome berhenti berteriak. Matanya menatap lurus inuyoukai di depan, tidak dipedulikan keringat yang terus mengalir turun dari dahi. "Benar sekali!" teriaknya tiba-tiba. "Rasa sakit ini! Hanya wanita yang tahu! Para laki-laki memang selalu seenaknya saja! Mereka tidak akan mungkin dapat mengerti perasaan sakit ini! Dan mereka tidak akan mungkin bisa menahannya! Mereka semua lemah! Pengecut! Bodoh! Surga di bawah telapak kaki ibu! Inilah penyebabnya!"


Inukimi mengangguk-angguk kepala menyetujuhi apa yang dikatakan Kagome, sedangkan yang lainnya menatap bingung Kagome, sebab disaat-saat seperti ini, dia masih saja sempat-sempat mengumpat seperti itu, walau jauh dalam hati Sango juga sangat setuju, sebab dia juga mengerti rasa sakit melahirkan. Kaede yang tidak pernah melahirkan anak hanya dapat menggeleng kepala. Untuk Jinenji yang merupakan satu-satunya laki-laki yang berada dalam ruangan, dia hanya dapat menundukkan kepala ke bawah dan berharap dirinya tidak mendengar apa yang dilontarkan Kagome. Lalu untuk Rin yang tidak mengerti apa-apa, dia hanya dapat berusaha mencerna apa yang didengarnya.


"Kalau kau masih punya tenaga untuk berteriak seperti ini," lanjut Inukimi lagi sambil menatap lucu Kagome dan tertawa. "Kurasa proses kelahiran inuhanyou anakmu ini akan berakhir dengan lancar, miko aneh."


"Iya!" balas Kagome lagi. "Namun! Aku tidak sudi menghadapi ini semua sendirian! Inuyasha juga harus merasakannya! Karena itu...."


"Osuwari!"


"Osuwari!"


"Osuwari!"


"Osuwari!"


"Memang salah aku mempercayakan Kagome pada ibumu!" teriak Inuyasha penuh kepanikan menatap Sesshoumaru yang tetap saja tidak bergerak sedikitpun dari tempatnya. "Jika terjadi seuatu pada Kagome dan anak kami, aku akan membunuh kalian berdua!"


Sesshoumaru tetap saja tidak bergerak. Dia sudah tahu Inuyasha itu bodoh, tapi, dia tidak menyangka sampai pada taraf seperti ini. Membunuhnya serta ibundanya jika istri-anaknya tidak selamat? Membunuh kedua inuyoukai terkuat di dunia? Sesshoumaru ingin melihat bagaimana hanyou lemah itu melakukannya. Dan sejujurnya, kapan Inuyasha mempercayakan nyawa istri-anaknya padanya? Dalam kondisi seperti ini, memangnya dia masih punya pilihan?


Tidak mempedulikan Sesshoumaru lagi, Inuyasha langsung membalikkan badan. Kedua kakinya langsung berlari cepat menuju rumahnya. Dia tidak peduli lagi akan perintah Inukimi yang menyuruhnya menunggu. Persetan dengan itu semua! Dia ingin berada di samping Kagome sekarang!


Namun, baru tiga langkah Inuyasha melangkah, suara teriakan Kagome yang sangat kuat dan terus menerus terdengar memecahkan keheningan.


"Osuwari!"


"Osuwari!"


"Osuwari!"


"Osuwari!"


"Akhhhhh!" tekanan gravitasi yang luar biasa kuat langsung menekan tubuh Inuyasha hingga jatuh terpuruk ke atas tanah. Dia tidak bia berdiri, sebab tekanan gravitasi yang dirasakan itu terus-menerus menhujani dirinya bersamaan dengan kata 'osuwari' yang diteriakkan Kagome.


"Osuwari!"


"Osuwari!"


"Osuwari!"


"Osuwari!"


Inuyasha tidak bisa bergerak sedikit pun lagi, mengangkat tangannya yang terus gemetar, dia berusaha merangkak, walau semuanya kembali sia-sia karena kata 'osuwari' yang kembali terdengar.


Sambil mengendong Mamoru, Miroku berjalan mendekati Inuyasha yang jatuh terpuruk tanpa daya di atas tanah. Tertawa kecil, dia menepuk-nepuk pundak temannya itu. "Jika Kagome punya tenaga untuk berteriak seperti ini," ujarnya pelan. "Maka, percayalah kelahiran anak pertamamu akan berjalan dengan sangat lancar."


Apa yang terjadi setelah itu, Rin sendiri sebenarnya tidak begitu ingat, semuanya terasa sangat cepat. Diiringi teriakan 'osuwari' pengganti teriakan rasa sakit dari Kagome, mata coklat besar gadis manusia itu melihat Inukimi mengoyak perut miko tersebut. Tangan inuyoukai itu dengan cepat menyusup masuk kedalam perut Kagome dan menarik keluar sang bayi inuhanyou berkelamin laki-laki yang berlumuran darah.


"Oaaa! Oaaa!" Suara tangis inuhanyou yang untuk pertama kalinya menghirup udara segera memenuhi seluruh ruangan.


"Sudah lahir! Sudah lahir! Anakmu sudah lahir, Kagome!" teriak Sango penuh kegembiraan sambil menatap Kagome. Tangannya yang menahan lengan Kagome segera terlepas.

__ADS_1


"Pegang tangannya terus, Taijiya bodoh!" perintah Inukimi tiba-tiba penuh kemarahan menatap Sango. "Semua ini masih belum selesai!"


Terkejut, Sango kembali menahan lengan Kagome. Kedua matanya menatap penuh kebingungan inuyoukai itu, begitu juga dengan semua yang ada.


Inukimi dengan cepat memotong ari-ari sang inuhanyou yang baru lahir tersebut dan menyerahknnya pada pada Rin. "Bersihkan badannya dan bungkus dengan kain, Rin kecil. Kau bisa melakukannya, kan?"


Rin segera mengangguk kepala dan menerima sang bayi, menjalankan apa yang diperintahkan Inukimi. Sedangkan Inukimi, dia kembali menghadap Kagome. Kedua tangannya, dengan cepat menarik keluar sebatang jarum dan benang dari balik kerah kimononya. "Pegang dengan kuat." perintahnya lagi tanpa menatap Sango, Kaede dan Jineji yang menahan Kagome. Menyusupkan tangan masuk ke dalam perut Kagome lagi, Inukimi dengan cepat membersihkan plasenta pada rahim Kagome dan menjahit menjahit jaringan yang dipotongnya tadi.


Rin yang memandikan bayi inuhanyou yang baru lahir itu, hanya dapat terpana. Inuhanyou dalam pelukannya sekarang benar-benar merupakan bayi terbesar dan tertampan yang pernah dia lihat sejauh ini. Seperti Inuyasha, dia memiliki rambut berwarna perak dengan dua telinga anjing, kulit berwarna putih, dan saat kedua mata tertutup itu terbuka, yang dilihat gadis manusia itu adalah sepasang bola mata berwarna emas murni yang sangat jernih. Sebuah senyum langsung merekah di wajah Rin. "Selamat datang ke dunia ini, bayi kecil."


Selesai memandikan bayi inuhanyou yang baru lahir dan membalutnya dengan kain, Rin segera membalikkan badan menatap Kagome, Inukimi dan yang lainnya. Dia tidak dapat menyembunyikan senyumnya saat melihat mereka semua telah berhenti melakukan apa yang tadi mereka lakukan. Kagome meski lemah dan pucat, terlihat baik-baik saja.


"Jaga kebersihannya, terutama jahitannya. Aku sudah mengunakan benang dan jarum buatan youkai yang sangat bersih dan kuat. Aku tidak ingin miko aneh ini mengalami infeksi yang berujung pada kematian." perintah Inukimi pada Jinenji dan Kaede. Inuyoukai itu tahu, tugas untuk memulihkan kesehatan Kagome sekarng tergantung pada mereka berdua.


"Kagome-sama." panggil Rin sambil tersenyum dan mendekati Kagome. "Laki-laki. Anak anda seorang laki-laki! Dia mirip sekali dengan Inuyasha-sama!"


Meski sangat sulit dan terasa sakit, Kagome beusaha bangkit dari futon tempatnya berbaring. Sango yang melihatnya, segera membantunya. Menggunakan badannya, dia menyangga badan temannya tersebut dengan pelan dan hati-hati.


Tersenyum lagi, Rin segera menyerahkan bayi dalam gendongannya pada Kagome. Dia tahu, miko itu pasti ingin sekali mengendong bayinya sekarang, mengendong harta paling berharga yang dia dapatkan dengan mempertaruhkan nyawanya.


Kedua tangan Kagome bergemetaran hebat saat dia menerima bayinya dari Rin ke dalam dekapannya. Dan saat dia melihat wajah putra kandungnya untuk pertama kali, saat mata hitamnya bertemu dengan mata emas putranya, air mata jatuh menuruni pipi. Hatinya terasa sangat sesak-sesak karena kebahagiaan.


Putranya sangat tampan, bayi tertampan yang pernah dilihatnya. Berkulit putih, berambut perak lembut, bermata emas murni dan memiliki wajah yang mirip sekali dengan Inuyasha. Tertawa sambil berlinang air mata, Kagome menundukkan wajahnya dan mencium lembut kening bayinya. Penderitaan, ketakutan, kesakitan yang dirasakannya semenjak mengandung hingga melahirkan seakan menghilang. Jika memang itulah yang harus dialaminya untuk dapat mengendong bayinya, mengendong keajaiban ini, maka, semuanya sudah sepantasnya. Sudah sepantasnya!


Semua yang ada tersenyum melihat Kagome. Betapa indah dan damainya pemandangan di depan mata itu. Cinta dan kasih sayang seorang ibu.


"Rin, akan memanggil Inuyasha-sama masuk, ya?" ujar Rin tiba-tiba sambil berdiri. Tidak membuang waktu, dia langsung berdiri dan berlari membuka pintu shoji kamar. Namun, sebelum dia melangkah kaki keluar, dia menemukan Inuyasha yang sedang merangkak pelan untuk masuk ke dalam, dengan Miroku, Kohaku, Jaken, Myoga, Aya, Maya dan Mamoru.


Mengangkat wajahnya, Inuyasha menatap Kagome penuh kekesalan dan kemarahan. "K-Kagome, apa maksudmu terus menosu-" kata-kata Inuyasha langsung terhenti saat dia melihat Kagome yang ada di depannya. Jantungnya bagaikan berhenti berdetak sesaat. Meski pucat, lemah dan berantakan, dengan seulas senyum bahagia berlinang air mata serta bayi kecil dalam dekapannya, Kagome bagaikan bersinar, dia terlihat sangat cantik, luar biasa cantik hingga dia tidak dapat menemukan kata untuk melukiskannya.


"Inuyasha..." panggil Kagome disela isak tangsi kebahagiannya. "Putra kita.. Putra kita sudah lahir.."


Tekanan gravitasi yang menimpa badan Inuyasha semenjak tadi seakan tiba-tiba menghilang. Tidak! Bukan menghilang! Inuyasha tahu, walau tekanan gravitasi yang harus dihadapinya sekarang seribu kali lipat lebih berat, itu semua tidak akan mungkin dapat menahan dirinya untuk berlari menuju Kagome dan putranya!


Berlari sekuat yang dia bisa, tanpa mempedulikan semua yang ada, Inuyasha langsung mendekati Kagome. Berlutut di samping Kagome, kedua matanya menatap tidak percaya istri-anaknya. "K-Kagome, k-kau, a-anak kita, k-kalian tidak apa-apa?"


Kagome hanya tersenyum mendengar pertanyaan Inuyasha. Menurunkan gendongnnya, dia memperlihatkan wajah putra mereka untuk pertama kalinya pada suaminya.


Melihat wajah putranya, melihat mata emas identik denganya menatap lurus dirinya, Inuyasha kehilangan suara dengan mulut terbuka. Dia tidak dapat menggambarkan lagi perasaannya. Terkejut, bingung, terpesona, terpana dan bahagia, semua perasaan itu bercampur aduk menjadi satu. Lalu, mungkin memang karena sudah mengenali siapa inuhanyou di depannya, bayi inuhanyou itu langsung tertawa kecil mengejutkan kedua orang tuanya bersamaan.


"Hahahaha.." Inuyasha tertawa kecil. Pandangannya yang menatap lurus tanpa henti bayinya tiba-tiba menjadi buram. Dia bisa merasakan air hangat kini telah jatuh membasahi pipinya. Tidak apa-apa, mungkin dia akan dicap cengeng sekarang, tapi itu semua benar-benar tidak apa-apa sekarang. Mengangkat kedua tangannya, dia segera memeluk erat, namun pelan istri dan anaknya-keluarganya. "Terima kasih, terima kasih, terima kasih, Kagome. T-terima kasih karena telah memberikan sebuah keluarga padaku!"


Betapa bahagianya Inuyasha sekarang, dia sendiri benar-benar tidak dapat mengambarkannya lagi. Tidak ada kata yang mungkin mampu menjelaskannya.


Keluarga.


Akhirnya dia memiliki keluarga yang sempurna. Dirinya yang sejak kecil tidak pernah memiliki keluarga utuh, kini telah memilikinya. Dan untuk Kagome dan putranya, dia bersumpah, akan selalu disamping mereka, mencintai, menjaga, melindungi, menjauhkan mereka dari segala bahaya yang mungkin akan menghampiri. Dia tahu dia pasti bisa melakukan itu semua, sebab itulah tugasnya; tugasnya sebagai seorang suami dan ayah mulai sekarang.


Kagome tertawa kecil diisak tangsinya. Merasakan kehangatan pelukan Inuyasha, dia tahu, kebahagiannya telah lengkap. Menutup mata, pikirannya terbang jauh memikirkan ibu, kakek dan adiknya di masa depan. Meski mereka tidak bisa merayakan kelahiran putranya bersamaan, dia tahu, keluarganya itu pasti juga akan tertawa dan tersenyum bahagia saat mengetahui kelahiran cicit, cucu atau keponakan mereka.


Tidak ada yang mengatakan sepatah katapun, Rin, Inukimi, Sango serta yang lainnya hanya menatap kejadian haru di depan mereka dengan senyum di wajah. Jika saja mereka bisa, mereka ingin sekali mengabadikan gambar di depan itu dalam lukisan sekarang. Lukisan yang mereka tahu pasti akan sangat indah.


Melepaskan pelukan Inuyasha setelah beberapa detik, Kagome tersenyum lembut dan menyerahkan putra mereka pada suaminya. "Inuyasha, gendonglah."


Kembali berwajah ternga-nga, Inuyasha dengan tangan gemetar dan hati-hati segera mengendong putranya untuk pertama kali. Dia tidak dapat berkata apa-apa, saat berat badan anaknya dirasakan kedua lengannya. Mata emasnya berbinar-binar menatap putra kandungnya. Ada kebanggaan tersendiri saat dia melihat betapa miripnya putranya dengan dirinya.


"Inuyasha-sama," panggil Rin yang tiba-tiba saja sudah berada di samping Inuyasha dengan senyum di wajah. "Siapa nama bayi anda?"


Pertanyaan tiba-tiba Rin langsung merebut perhatian Inuyasha dan Kagome. Mereka tertegun, sebab sesungguhnya, sampai sekarang, karena kondisi Kagome sebelum melahirkan, tidak ada seorangpun yang pernah memikirkan nama sang bayi.


"Namanya..." gumam Kagome palan penuh kebingungan. Namun, Inuyasha yang sedang mengendong sang bayi tiba-tiba menarik napas dan tersenyum pada Rin. "Kau yang berikan, Rin."


Mata Rin terbelalak mendengar ucapan Inuyasha, begitu juga dengan semua yang ada.


"Kaulah yang mengajariku bahwa kepanikan, kesombongan, keangkuhan, ketakutan serta harga diri hanya akan membuatku kehilangan Kagome dan putra kami. " Jelas Inuyasha sambil tersenyum.


"R-rin tidak melakukan apa-apa, Inuyasha-sama." potong Rin cepat.


Inuyasha menggeleng kepala. "Tidak. Kaulah yang memberikanku kekuatan untuk menjalani ini semua, Rin. Kerena itu, kaulah yang paling pantas memberikan nama untuk putra kami."


"T-tapi-"


"Meski aku tidak mengingat jelas," potong Kagome sambil tersenyum. "Aku tahu, kaulah yang menenangkan Inuyasha, memohon dan terus menyakinkan semua yang ada kelahiran putra kami akan berjalan dengan lancar. Inuyasha benar. Kaulah yang paling pantas memberikan nama padanya."


Rin tertegun mendengar ucapan Kagome. Dia tidak merasa telah melakukan apa-apa, yang dia lakukan hanyalah menoton. Yang melakukan proses melahirkan ini adalah Inukimi, bukan dirinya. "T-tapi.."


"Tidak ada tapi-tapi lagi," potong Inuyasha lagi dan menyerahkan putranya pada Rin. "Kau yang memberikannya nama."


Menerima bayi inuyoukai itu penuh kebingungan, Rin segera menatap semua yang ada, terutama Inukimi. Namun, saat dia melihat semua yang ada tersenyum dan mengangguk kepala padanya. Sebuah senyum indah segera merekah di wajah cantiknya. Menunduk kepala menatap sang bayi, dia tertawa kecil. Tidak apa-apa, kan? Tidak apa-apa, kan, jika dirinya mengambil kehormatan ini dan menamai keponakan dari tuannya ini?


"Shiro." ujar Rin lembut. "Namanya adalah Shiro. Shiro yang berarti putih. Karena dia lahir berkulit putih dan rambut perak seakan putih. Rin berharap, Rin berdoa, Shiro akan tumbuh besar dengan hati yang sama dengan namanya, hati yang selalu putih dan tidak ternoda. Shiro yang selalu putih dan bersih."

__ADS_1


__ADS_2