Till The End Of Time [ Inuyasha Fanfiction ]

Till The End Of Time [ Inuyasha Fanfiction ]
Chapter 56


__ADS_3

Inuyasha menebas tessaiga di tangannya pada Yukimura yang meloncat menghindar. Mengikutinya, inuhanyou ikut meloncat dan terus menebaskan pedangnya yang kembali gagal mengenai lawan; youkai di depannya terlalu lincah.


"Jangan menghindar terus berengsek!!" teriak Inuyasha kesal. Mata emasnya mencari-cari retakan udara dimana dia bisa melancarkan jurus andalan tessaiga, dan saat dia menemukannya, dia tidak membuang waktu untuk melancarkannya. "Kaze no kizu!!!"


Ledakan youki yang kuat langsung melesat menuju Yukimura, tanah-tanah di bawah retak dan hancur oleh serangan yang mampu membunuh seratus youkai.


Yukimura cukup terkejut dengan serangan Inuyasha. Dia tahu jurus yang dilancarkan inuyoukai ini adalah jurus yang berbahaya. Melompat ke atas, dari belakang punggung Yukimura, sepasang sayap hitam muncul, dan dia terbang tinggi ke langit.


Inuyasha berdecak kesal melihat Yukimura, "Lawan aku berengsek!!"


Inuhanyou itu sudah sangat kesal, dia berharap bisa menemukan lawan yang bisa bertarung serius dengannya, bukan lawan yang terus menghindar.


Yukimura yang terbang di atas Inuyasha tahu, dia tidak boleh meremehkan lawannya meski dia adalah hanyou. Di barat, inuhanyou itu diakui sebagai hanyou yang terkuat. Namun, hanyou adalah hanyou, tidak bisa melawan youkai sejati. Jika saja, dia ditugaskan untuk mencuri Meido Seiki dan membunuh Hime dari barat hidup, dia akan dengan senang hati meladeni inuhayou di depannya.


"Jika kau bisa hidup dan menemukanku, aku akan melawanmu dengan senang hati." Tawa Yukimura keras, dengan pandangan mata meremehkan pada Inuyasha. Di matanya, inuyoukai itu tidak lebih dari serangga-serangga lemah, dan dia tidak mau membuang waktu lebih lama di sini.


Yukimura kemudian memutar badannya dan terbang ke arah Kenji dan Rin pergi.


"Berengsek!!" teriak Inuyasha berusaha mengejar. Tapi, salah satu dari lima youkai bawahan Yukimura tiba-tiba muncul di belakangnya sambil menghunus pedang di tangan.


"Inuyasha, menunduk!!" teriak Kagome keras sambil melepaskan anak panah dari depan Inuyasha ke arah youkai yang menyerang suaminya.


Inuyasha segera menunduk, panah suci yang dilepaskan dengan cepat meluncur ke arah target. Tapi seperti halnya Yukimura, dari belakang pungung youkai bawahannya itu, sepasang sayang hitam tumbuh. Dia terbang menghindar.


"Mereka tengu." ujar Miroku sambil melemparkan kertas sutra ditangannya. Matanya melihat jelas empat youkai lainnya juga sudah mulai kembali ke sosok asli mereka; Sosok berbadan manusia dengan sepasang sayap dipunggung.


Sango tidak berkata apa-apa, tapi di melempar hiraikotsu di tangannya ke arah musuh yang segera terbang ke atas memghindar. Taijiya itu tahu, meski cuma bawahan, sepertinya, kelima tengu yang mereka hadapi adalah youkai yang cukup kuat.


Kagome menatap kelima tengu yang terbang di atas langit dalam diam. Mengarahkan arah panahnya, dia kembali melancarkan serangannya. Mereka tidak boleh mebuang waktu di sini, sebisa mungkin, pertarungan ini harus diselesaikan secepatnya. "Inuyasha, sekarang!!"


Melihat anak panah Kagome yang dilepaskan, Inuyasha langsung tahu apa yang diinginkan istrinya. Tidak membuang waktu, dia langsung melancarkan serangannya. "Kaze no Kozu!!"


Serangan mematikan youki yang kuat langsung terarah pada tengu-tengu di atas langit. Serangan panah suci Kagome yang dikombinasi dengan Kaze no kizu membuat lawan terkejut. Mereka berusaha menghindar, namun tidak semua berhasil, tiga tengu musnah dalam seketika.


Miroku dan Sango tidak membuang kesempatan yang ada. Melihat kepanikan dua tengu yang tersisa, Miroku langsung melempar kertas sutranya, dan istrinya juga langsung melempar boomerang raksasa ditangan. "Hiraikotsu!!"


Kertas sutra yang dilempar Miroku berhasil menhentikan gerakan salah satu tengu. Lalu, serangan hiraikotsu Sango dengan telak menghempas badan tengu tersebut hingga jatuh ke bawah tidak bergerak lagi.


Satu-satunya tengu yang tersisa merasakan kemarahan luar biasa melihat teman-temannya dikalahkan semudah itu, dia menoleh wajah penuh kemarahan pada manusia-manusia di bawah, bersiap menyerang.


Tapi, seketika juga matanya terbelalak. Tidak tahu kapan, Inuyasha telah meloncat ke atas hingga tepat berada di depannya. Tangan inuyoukai itu mengayunkam tessaiga di tangan ke arahnya.


"Kalian ini lemah sekali!!" teriak Inuyasha mengejek saat sabetan pedangnya mengenai telak tengu tersebut.


Kagome melihat Inuyasha mengalahkan musuh terakhir mereka dan menghela napas. Walau sudah memiliki anak, sikap suaminya tetap saja tidak berubah; kekanakan.


Miroku dan Sango tidak mengatakan apa-apa, tapi dalam hati, mereka juga sependapat dengan Kagome.


Inuyasha yang mendarat di atas tanah dengan enteng meletakkan pedang besar tessaiga di bahu kirinya sambil menyengir. Wajah gembira karena berhasil mengalahkan lawan segera menatap istri dan teman-temannya.


Ekspresi dan gaya Inuyasha mau tidak mau membuat Kagome, Miroku dan Sango tertegun. Lalu, sejenak kemudian mereka tertawa kecil. Beberapa tahun telah berlalu, ternyata mereka masih belum berubah, seperti dulu, saling bantu-membantu melawan youkai; kekompakkan mereka tidak akan pernah berubah selamanya.


"Ayo!" tawa Inuyasha gembira. "Kita berburu tengu terakhir yang meremehkan kita!!"


....xOxOx....


"Apa katamu Shippo?!" teriak Kohaku terkejut mendengar penjelasan Shipo.


Kohaku dan Shippo kini sedang berlari secepat yang mereka bisa menuju gunung houshi di mana perang barat dan selatan akan berlangsung.

__ADS_1


"Makanya, kita harus menyelamatkan Shiro dan yang lainnya sebelum terlambat." Balas youkai rubah kecil itu.


Wajah Kohaku memucat. Bagaimana taijiya muda itu tidak terkejut saat dia mendengar alasan utara menculik Shiro, Aya, Maya dan Mamoru?


'Utara ingin membunuh Shiro serta yang lainnya di medan perang. Dan mereka akan merekayasa cerita supaya Inuyasha, Kagome, Miroku dan Sango percaya bahwa Sesshoumarulah yang mengorbankan mereka di sana. Mereka ingin membuat Inuyasha dan yang lainnya berselisih dengan Sesshoumaru."


Rencana yang sebenarnya cukup ambigu tetapi juga masuk akal menilai hubungan Inuyasha dan Sesshoumaru yang tidak pernah baik. Kohaku yakin, inuhanyou itu pasti akan melawan Sesshoumaru sampai mati jika putra satu-satunya kehilangan nyawa dalam perang barat-selatan.


"Bagai mana kau bisa tau rencana ini Shippo?" tanya Kohaku kemudian. Sebenarnya dia cukup bingung juga bagaimana youkai rubah ini bisa tiba-tiba muncul di istana tanah barat dan tahu semua rencana utara.


"Keh," cibir Shippo. "Itu karena aku ada di utara!"


"Kenapa kau ada di utara?" tanya Kohaku lagi semakin binggung.


Shippo terdiam. Dia tidak mungkin menjawab dia ada di utara karena dia tidak ingin terlibat dalam perang barat-selatan, kan? Dia tidak mungkin mengatakan bahwa dia seorang pengecut kan?


"A-aku menyusup ke istana utara," ujar Shippo sebisa mungkin dengan ekspresi wajah sedikit memaksa. "Kau tahu dengan jurus trasformasiku, aku berubah menjadi salah satu youkai Di utara, dan disana aku mendapat semua informasi ini."


Ekspresi Shippo membuat Kohaku bertanya-tanya kenapa youkai rubah itu terlihat gugup? Tapi, dia tidak peduli banyak. Sebab sekarang, prioritas utama mereka adalah menyelamatkan Shiro dan yang lainnya, dan setelah menyelamatkan anak-anak, dia harus memberitahu Sesshoumaru; utara memiliki niat tersendiri dalam perang barat-selatan ini.


....xOxOx....


Langit gelap dengan awan tebal menutupi langit. Para penduduk desa yang terletak di bawah gunung hoshi melarikan diri saat melihat ratusan youkai yang terbang menuju puncak gunung tersebut.


Suara genderang perang yamg disertai tawa, tangisan dan teriakan para youkai membuat bulu kunduk para penduduk berdiri.


Sejauh mata memandang, mata para penduduk tidak dapat menyembunyikan ketakutan. Walau tidak memiliki kekuatan spritual, mereka tahu, betapa mengerikan dan berbahaya para youkai itu.


Para penduduk sudah mendengar beritanya; youkai dari barat akan berperang dengan youkai dari selatan.


Perang adalah sesuatu yang menakutkan bagi penduduk desa, terlebih lagi ini adalah perang youkai. Karena itu, semua penduduk tidak ragu meninggalkan tempat tinggal mereka tanpa membawa barang berharga meski ini adalah musim dingin.


"Cepat!! Tidak perlu membawa barang-barang lagi!! Kita harus cepat lari!!" teriak seorang pria paruh baya, penduduk desa di bawah gunung houshi pada istrinya.


Keluarga kecil itu berlari ke jalan utama desa, dan di sana mereka melihat semua penduduk yang juga berlari menuju pintu keluar desa. Kondisi mereka sama, mereka hanya melarikan diri tanpa membawa apa-apa kecuali diri sendiri dan anggota keluarga.


Tidak ada seorangpun penduduk desa yang pernah berpikir bahwa gunung houshi akan menjadi medan perang youkai barat dan selatan.


Menatap ke arah puncak gunung houshi yang tertutup salju pada musim dingin, pria itu hanya bisa berdoa semoga keluarga kecilnya selamat.


Dan di puncak gunung houshi tempat semua youkai barat dan selatan berdiri berhadapan, sang penguasa mereka berdiri di barisan paling depan; Sesshoumaru dari barat dan Akihiko dari selatan.


Akihiko berdiri diam menatap pasukan musuh di depannya, dan disampingnya Tsubasa berdiri dengan senyum menyeringai di wajah. Berapa jumlah total pasukan youkai barat sekarang dia tidak tahu pasti, tapi jumlahnya kurang lebih seimbang dengan pasukannya yang berjumlah sepuluh ribu lebih.


Mata biru langit Akihiko kemudian jatuh pada sosok Sesshoumaru yang menatapnya. Dulu, sebagai pewaris selatan dan barat, mereka pernah bertemu beberapa kali saat masih kecil, dan kini, setelah dewasa, inuyoukai itu tidak pernah berubah—wajah tanpa ekpresi yang selalu tenang dalam kondisi apapun. Dan kalaupun ada yang berbeda adalah sepasang mata itu; mata yang berwarna merah darah bukan emas.


'Rin berterima kasih padanya karena berkat dialah Rin bisa bersama Sesshoumaru-sama.'


Ucapan serta senyum Rin terlintas dalam pikiran Akihiko, dan seketika kemarahan luar biasa memenuhi hatinya. Mata biru langitnya berubah jadi merah. Setiap kali dia mengingat senyum terindah gadis manusia itu bukan ditujukan padanya, dia tidak bisa menkontrol dirinya. Dia ingin membunuh siapapun pemilik senyum itu ditujukan; Sesshoumaru.


Sesshoumaru berusaha tenang dan mengontrol dirinya saat melihat Akihiko. Dia tidak melihat, mencium bau ataupun merasakan keberadaan Rin dalam medan perang ini, dan dia tahu, kemungkinan besar gadis manusia itu masih ditahan di istana tanah selatan.


Apakah gadis itu baik-baik saja? Apakah gadis itu ketakutan dan menangis seperti saat dia diculik musuhnya semasa kecil? Apakah gadis itu memanggil namanya saat dalam bahaya seperti dulu?


Mereka terpisah selama enam hari. Enam hari terpanjang bagi Sesshoumaru yang telah hidup ratusan tahun. Pertama kali dia menyadari betapa hampa hidupnya tanpa musim semi abadi itu.


Sesshoumaru-sama.


Senyum Rin terbayang dalam benak Sesshoumaru, membuat inuyoukai itu merasakan perasaan aneh dalam hatinya.

__ADS_1


Youkai adalah makhluk paling superior di dunia. Tidak ada gunanya berperasaan. Perasaan hanya akan membuatmu lemah. Perasaan hanya akan membuatmu musnah. Youkai adalah makhluk yang bisa hidup sendirian.


Kata-kata itu terlintas dalam pikiran Sesshoumaru, membuat perasaan baru yang ganjil menguasai tubuhnya—perasaan yang dia tidak tahu apa itu.


Lemah dan musnah.


Sesshoumaru percaya cinta bagi youkai adalah sebuah kelemahan. Bukankah cinta ayahnya, Inu no Taisho pada putri manusia Izayoi telah membuktikannya?


Seumur hidupnya Sesshoumaru selalu menghormati ayahnya, satu-satunya yang tidak disukai dari ayahnya adalah kebodohan karena mencintai seorang manusia, kebodohan karena membiarkan cinta menjadi kelemahannya. Lalu, kini dia mengikuti jejak ayahnya; mencintai seorang manusia.


Dirinya yang mengejar kekuatan sejak dulu, apakah sanggup membiarkan gadis manusia itu menjadi kelemahannya?—tidak. Dia tidak menginjinkannya, jadi apakah dia mengijinkan gadis itu menghilang dari hidupnya?


Untuk pertama kali dalam hidupnya, Sesshoumaru tidak tahu harus berbuat apa, dan semakin dia memikirkan kemungkinan gadis manusia itu menghilang, perasaan ganjil itu semakin membesar, perasaan; takut.


Tapi, Sesshoumaru untuk sekarang, di saat ini, dia tidak mau larut dalam perasaan-perasaan itu; perasaan manusiawi. Dia bukan manusia. Dia adalah youkai, seorang sang penguasa dalam medan perang. Prioritas utamanya sekarang adalah memenangkan perang.


Apa yang akan dilakukannya setelah itu? Apa yang akan terjadi pada dirinya dan Rin setelah perang selesai?-Dan yang terpenting, bagaimana hubungan mereka nantinya? Sesshoumaru akan memikirkannya setelah perang ini usai, setelah gadis musim semi itu kembali padanya.


Kepada youkai selatan yang berani menculik gadis itu dari istananya, dia benar-benar akan memusnahkan mereka semua dalam perang ini.


Mencabut bakusaiga di pinggannya, Sesshoumaru mengarahkannya pada Akihiko. "Bunuh."


....xOxOx....


Dalam badai salju yang tiba-tiba turun, Kenji tidak menurunkan kecepatan larinya sedikitpun. Di punggungnya, Rin memejamkan mata sambil memeluk erat leher youkai monyet itu. Suhu dingin yang menyerang tubuhnya, membuat gafis manusia itu mengigil.


"Bertahanlah, Rin-rin," ujar Kenji menguatkan gadis manusia di punggungnya. "Kita akan sampai di gunung houshi tidak lama lagi."


Rin mengangguk kepala. Dia kedinginan, tetapi dia tidak peduli. Kepalanya masih kacau dengan apa yang harus dilakukannya.


"Jangan berpikir terlalu banyak, Rin-rin," ujar Kenji lagi, dia tahu gadis manusia itu sedang bingung. "Kau cukup menyakinkan Sesshoumaru dan Akihiko untuk berhenti."


Rin diam membisu dan sejujurnya dia benar-benar tidak mengerti kenapa Kenji berpikir dia bisa menghentikan perang. Bagaimana mungkin dua daiyoukai itu akan berhenti jika dia meminta. "B-bagaimana Rin melakukannya?" tanyanya kemudian terbata-bata.


Pertanyaan Rin membuat Kenji tertegun. Dia menoleh kepala ke samping manatap gadis manusia yang balas menatapnya dengan mata penuh keraguan. Kenapa dia yakin gadis manusia ini bisa memghentikan perang? Apakah semua akan terkejut kalau dia menjawab; intuisi.


Sejak pertama kali melihat gadis manusia itu di barat, di samping Sesshoumaru, Kenji selalu merasa gadis itu berbeda. Dia manusia, tapi hidup di dunia dan membaur dengan youkai. Tidak ada rasa takut dan dia menerima youkai sebagaimana youkai itu sebenarnya, sisi baik maupun sisi gelap mereka. Dia adalah satu-satunya manusia yang bisa dengan mudah menyentuh hati para youkai. Karena itu, dia percaya, gadis ini bisa menghentikan perang.


"Cukup dengan menjadi dirimu sendiri, Rin-rin." jawab Kenji kemudian sambil tersenyum.


"T-tapi-ahhhh!!" teriak Rin terkejut, sebab, tiba-tiba saja, Kenji yang menggendong dirinya di belakang punggung meloncat ke samping sambil membalik badan ke belakang.


Mata manusia Rin bisa melihat jelas pedang youki berwarna hitam terbang mengincar ke arah mereka.


Kenji melepaskan tangan kananya yang mengendong Rin. Sebuah tongkat berwarna emas panjang muncul tiba-tiba. Dengan cepat, dia menggunakan tongkat itu untuk menahan serangan.


"Meski sudah tua, daya tangkap anda masih saja tajam, Kenji-sama" tawa seorang pria tiba-tiba.


Mata Kenji menatap lekat sosok youkai yang muncul dari belakangnya saat dia mendarat di atas tanah, "Yukimura..." gumamnya kesal.


Yukimura menggerakkan pandangananya pada Rin dan tersenyum. "Hime-sama, kenapa anda melarikan diri dari hamba ini."


Rin diam membisu melihat Yukimura di depannya. Senyum dan pandangan mata youkai di depannya membuat Rin sadar bahwa youkai di depannya adalah youkai kejam yang harus dihindarinya


"Rin-rin," ujar Kenji merebut perhatian Rin. Dia menurunkan gadis yang ada di punggungnya. "Tempat kita berada tidak jauh dari gunung houshi, kau bisa ke sana sendiri, kan?"


Pertanyaan Kenji membuat Rin tahu bahwa youkai monyet itu akan tetap tinggal di tempat mereka sekarang untuk melawan Yukimura. Dia sebenarnya masih bingung dengan apa yang harus dilakukannya, tapi dirinya tinggal di sini juga bukan keputusan yang baik. Kenji, Inuyasha, Kagonme, Miroku dan Sango telah menempuh bahaya untuk membawanya keluar dari istana tanah selatan serta percaya dia bisa menghentikan perang—dia tidak boleh mengecewakan harapan mereka, kan?


"Rin bisa, Kenji-sama," Rin mengangguk kepala. Matanya memancarkan sinar ketetapan hati, dan suaranya meski kecil terdengar begitu tegas. "Rin akan berusaha sebisa mungkin."

__ADS_1


Kenji tersenyum mendengar ucapan Rin. Mengayun tongkat di tangan, dia berlari ke arah Yukimura. "Sekarang, pergi Rin-rin!!"


....xOxOx....


__ADS_2