Till The End Of Time [ Inuyasha Fanfiction ]

Till The End Of Time [ Inuyasha Fanfiction ]
Chapter 176


__ADS_3

Berlari, Akihiko menuju puncak gunung hare. Dia bisa merasa jelas aura beberapa youkai di puncak gunung dan juga, dia tahu ada pertarungan yang terjadi. Para youkai tanah utara dan timur yang dilawannya barusan masih belum musnah semuanya, tapi, setidaknya dia sudah bisa menyerahkannya pada Tsubasa dan Koga untuk memimpin pasukan tanah selatan melawan mereka sekarang.


Akihiko tidak tahu apa yang terjadi di atas puncak gunung hare sekarang, dan meskipun dia telah menyuruh Inuyasha dan Kagome menyusul Shura, dia tetap tidak bisa tenang. Bukan karena penguasa tanah selatan itu tidak mempercayai kemampuan Inuyasha, hanya saja, dia tidak ingin apapun terjadi pada Shura—tidak di puncak gunung hare tempat peristirahatan terakhir Rin.


Apakah anda mau membantu menjaga dan melindungi Shura kelak, Akihiko-sama?


Pertanyaan Rin terlintas dalam kepala Akihiko, dan penguasa tanah selatan tersebut mempercepat larinya. Ya. Dia mau membantu menjaga dan melindung—dia berharap, dia benar-benar dapat melindungi putra dari wanita manusia yang dicintainya.


Hanya saja, apa yang kemudian dilihat Akihiko saat mencapai puncak gunung hare adalah sesuatu yang tidak pernah disangkanya. Dengan mata kepalanya sendiri, dia melihat sembilan pengawal Shui yang menyerang Shura dari segala arah.


"Kecil!!"


"Shura!!"


Akihiko bisa mendengar jelas teriakan Inuyasha dan Shiro. Matanya menatap sosok Shura yang mengangkat kedua tangan menjadi tameng, dan dia tahu, dalam keadaan ini, dia sama seperti kedua inuhanyou tersebut—tidak bisa berbuat apa-apa.


Namun, saat serangan pengawal Shui akan mengenai Shura, Akihiko melihat inuyoukai kecil itu tiba-tiba menurunkan tangan dan menutup mata, dan saat dia membuka mata lagi, sosok kecil itu berteriak keras.


"Ahhhhhhh!!!!"


Dalam hidupnya, Akihiko pernah melihat Rin menggunakan kekuatan Meido seki, pusaka tanah barat, dan hari ini, sekali lagi dia melihat kekuatan tersebut. "Meido-seki..."


Inuyasha, Kagome dan Shiro yang melihat apa yang terjadi juga sama terkejutnya seperti Akihiko, begitu juga dengan Inukimi dan youkai tanah barat lainnya yang tersegel, termasuk—Shui.


Elemen-elemen yang ada bergabung dan membentuk sebuah kekai melindungi Shura dari serangan pengawal Shui. Meloncat ke belakang, kesembilan pengawal tersebut tidak bergerak, mereka menatap inuyoukai kecil itu dengan ekpresi wajah datar tanpa emosi.


Shura tidak menatap balik pengawal Shui, bahkan sesungguhnya, pewaris tanah barat tersebut memperhatikan sekelilingnya. Mengangkat kepala, pandangan matanya jatuh pada kekai yang tercipta dari kekuatan dalam dirinya yang bangkit—inikah kekuatannya? Kekuatannya bangkit—apakah dengan begini dia akan menjadi kuat? Dengan begini, apakah artinya dia akan dapat menyelamatkan ayahandanya?—ya, dia pasti bisa!


Menurunkan pandangan matanya, Shura menfokuskan dirinya. Kekuatan ini adalah kekuatannya, meski dia tidak tahu jelas apa sesungguhnya kekuatan ini, dia akan berusaha menggunakannya dengan baik. Tidak hanya untuk bertahan, dia harus menyerang.


Kau tidak membutuhkan pedang, Shura. Karena kau sendiri bisa menciptakan pedang.


Ucapan ibu kandungnya terlintas dalam kepala Shura, dan sekali lagi, pewaris tanah barat tersebut mempercayai ucapan tersebut. Dia tidak memerlukan pedang, karena dia bisa menciptakan pedang.


Mengangkat kedua tangan ke atas, Shura kemudian kembali menfokuskan dirinya. Seketika, kekai elemen yang melindunginya menghilang. Kedua emasnya yang cemerlang menatap musuh tanpa keraguan—dia akan menyerang sekarang.


Di atas kepala Shura, elemen api tiba-tiba muncul, lalu disusur dengan elemen angin, air, tanah, kayu, logam serta petir. Ketujuh elemen itu tidak bergabung seperti sebelumnya. Elemen yang awalnya hanya berupa percikan kecil kemudian mulai membesar dengan cepat.


Terus membesar dan memanjang, elemen-elemen tersebut kemudian mulai membentuk sesuatu, dan semua yang ada di sana bisa melihat apa itu—pedang.


Tujuh pedang dari tujuh elemen.


"Ahhhh!" berteriak keras lagi, Shura mengarahkan tangannya ke depan. Seketika, ketujuh pedang dengan tujuh element tersebut melesat dengan kecepatan yang luar biasa ke arah para pengawal Shui.


Para pengawal Shui yang menyadari serangan segera mengangkat senjata untuk menangkisnya. Namun, ketujuh pedang tersebut bagaikan hidup. Mereka bisa bergerak dan merubah arah serangan. Tidak dapat dihentikan, ketujuh pedang tersebut dengan cepat mulai melukai musuh. Angin memotong, air meremukan, api membakar, tanah meleburkan, kayu menghancurkan, logam meratakan dan petir menghanguskan.


Kesepuluh pengawal Shui, termasuk salah satu pengawal yang sedang dihadapi Inuyasha sama sekali tidak dapat berbuat banyak menghadapi pedang elemen Shura. Mereka tidak dapat mempredeksi gerakan pedang dan juga kekuatan yang  tidak normal tersebut.


Satu demi satu, pengawal Shui jatuh dan tidak bergerak lagi. Badan mereka hancur dengan cara yang tidak dapat dijelaskan, dan Shura yang masih bediri kemudian berlutut ke bawah dengan napas tidak teratur. Pedang elemen tersebut kemudian menghilang, rasa kelelahan dan berat yang luar biasa memenuhi dirinya, tapi, seulas senyum kecil memenuhi wajahnya. Kekuatannya—dia memiliki kekuatan untuk menyelamatkan ayahnya.


Semua yang ada menatap tidak bergerak apa yang terjadi bagaimana kesepuluh pengawal Shui tidak berkutik di hadapan Shura. Tujuh pedang dari tujuh elemen yang bisa bergerak dengan sendiri tanpa dapat dihentikan—mereka tidak pernah menyangka akan hal ini.


Inukimi terus menatap Shura, sama seperti Akihiko, Inuyasha dan yang lainnya, awalnya dia mengira kekuatan yang diperlihatkan Shura adalah kekuatan meido seki, yang mana berarti meido seki yang menghilang saat meninggalnya Rin ada pada cucunya tersebut. Tapi, dia yang pernah memiliki pusaka tanah barat tersebut, sama sekali tidak bisa merasakan keberadaannya. Lalu, sedetik kemudian, dia tersadar, kekuatan yang dilihatnya bukanlah kekuatan meido seki, melainkan kekuatan Shura sendiri.


Tertawa, Inukimi tidak dapat menyembunyikan perasaan bangga yang ada dalam hatinya. Keajaibankah ini?—mungkin iya. Anak yang dikandung Rin yang penuh keajaiban tidak mungkin terlahir biasa saja—anak itu juga merupakan keajaiban. "Tanah barat yang jaya! Masa depan tanah barat akan sangat cerah!!"


Shui yang masih menatap Shura sama sekali tidak dapat menyembunyikan kemarahannya. Namun, selain marah, dia juga bisa merasakan—bahaya. Kekuatan yang dilihatnya sekarang bukanlah kekuatan sembarangan, dan itu dimiliki oleh seorang anak berusia sepuluh tahun—bagaimana kekuatan anak itu kelak? seberapa kuat anak itu saat dewasa? Untuk tanah barat yang ingin diciptakannya, youkai naga itu tahu, inuyoukai kecil itu akan menjadi bahaya paling besar. Karena itu—anak itu tidak boleh hidup.


Tidak membuang waktu sedikitpun, melihat Shura yang masih berlutut dengan napas tidak teratur, Shui melesat menyerang. Tangan kananya yang berbentuk cakar terangkat—dia mengincar kepala inuyoukai kecil tersebut.


Shura yang menyadari serangan Shui sangat terkejut. Dia berusaha untuk bangkit dan menghindar. Hanya saja, rasa lelah dan berat yang dirasakannya membuat badannya tidak mau mendengar perintahnya. Menfokuskan diri, dia berusaha menggunakan kekuatannya lagi. Namun, punggung dua orang tiba-tiba muncul di depannya—Inuyasha dan Akihiko.


Seketika pedang tessaiga milik Inuyasha dan kazakiri no kiba milik Akihiko menahan serangan Shui.


"Apa kau tidak malu dengan serangan pengecut seperti ini?" tersenyum menyeringai, Inuyasha menatap Shui penuh hinaan.


Akihiko tidak mengatakan apa-apa, dia berdiam diri menatap Shui dengan wajahnya yang datar, namun mata biru langitnya tersebut seakan mengatakan bahwa dia setuju dengan ucapan Inuyasha.


Shui meloncat ke belakang menatap  menjauhkan diri dari Inuyasha dan Akihiko, matanya menatap tajam mereka berdua. Kemarahan terlihat jelas di wajahnya. Menyeringai, dia merasa sangat terhina, dan bersiap untuk menyerang lagi.


"Shiro!!!" dalam ketegangan yang ada, Kagome yang keberadaannya seakan telah terlupakan tiba-tiba berteriak keras. Mengumpulkan segenap kekuatan sucinya, dia melepaskan anak panahnya.


Semua yang ada menatap Kagome, dan sedetik kemudian mata Shui terbelalak. Anak panah yang dilepaskan miko masa depan itu bukanlah mengincar dirinya, melainkan—dua botol kaca yang menyegel Inukimi dan youkai tanah barat lainnya.

__ADS_1


Shiro yang melihat arah panah Kagome segera menyadari maksud ibunya. Tidak membuang waktu, dia segera berlari menuju botol kaca yang ada di atas tanah.Mata emasnya bisa melihat retakan kecil tercipta di botol kaca saat panah suci tersebut mengenainya, dan mengumpulkan segenap tenaga yang ada, saat tiba di depan botol kaca, dia mengayunkan pedang menghantamnya.


Retakan di botol kaca semakin melebar dan kemudian hancur. Seketika juga, Inukimi, Kenji, Kiri, Kira dan para youkai tanah barat yang tersegelpun bebas. Berdiri di hadapan Shiro, mereka menatap inuhanyou yang terlihat kelelahan karena menggunakan segenap kekuatannya.


"Kerja bagus, Shiro." Kenji mengangkat tangan kanannya dan mengacak-acak rambut Shiro sambil tertawa. "Kau sudah besar."


Shiro menepis tangan Kenji dan menatapnya tajam, dia tidak suka diperlakukan seperti anak kecil, apalagi di hadapan begitu banyak orang. Lalu, apanya yang sudah besar?—memangnya dia anak kecil selama ini?


Inukimi yang terbebas tertawa melihat sikap Shiro, dia cukup menyukai cucu Taisho ini. Keberanian dan kekuatannya, dia memanglah salah satu keturunan inuyoukai tanah barat. Tersenyum, mantan penguasa tanah barat itu kemudian menatap Shui. "Panggungmu yang sudah runtuh, apakah kami boleh mrngambil alih?"


Shui tidak membalas pertanyaan Inukimi, kemarahannya melihat apa yang terjadi membuatnya menoleh pandangan


pada Kagome. Bergerak, dia mengibaskan pedang di tangannya. Serangan youki muncul dan melesat ke arah miko masa depan tersebut.


"Kagome!!!"


"Ibu!!"


Inuyasha dan Shiro berteriak panik melihat apa yang terjadi. Namun, Kenji, Kiri dan Kira segera bergerak dengn kecepatan mereka yang luar bisa ke arah miko masa depan tersebut dan menangkis serangan.


"Dari semua yang ada di sini, kau memilih seorang miko manusia? Tidakkah kau salah memilih lawan?" tersenyum, Kenji bertanya pada Shui.


"Sialan!! Beraninya kau!!" berteriak penuh kemarahan, Inuyasha berlari sambil menghunuskan tessaiga ke arah Shui.


Shui segera melompat menghindar. Namun, tiba-tiba saja, Inukimi telah berada di sampingnya dan tertawa. Mokomokonya bergerak cepat menyerang. "Keadaan sepertinya berbalik sekarang."


Shui menangkis serangan Inukimi dan memutar badan menghindar. Namun, sekali lagi serangan tiba-tiba muncul menyerangnya. Dia memang tidak melihat siapa penyerangnya, tapi, Shui juga tahu, serangan barusan berasal dari para youkai tanah barat yang terbebas.


Menghindar sekali lagi, Shui kemudian meloncat dan terbang ke atas udara. Menatap ke bawah, dia bisa melihat jelas semua yang bersiap sedia menyerangnya. Wajah mereka terlihat tidak sabar ingin mencabik-cabik dirinya.


"Hahahaha," tertawa keras terbahak-bahak, Shui yang terbang di atas udara tidak terlihat takut atau gentar sedikitpun. Malahan, dia terlihat sangat bahagia. "Baiklah, baiklah. Kurasa lebih baik kalau kalian mati bersama."


Terus tertawa, badan Shui kemudian berubah. Punggungnya membesar dan kemudian meledak. Bongkahan-bongkahan daging besar muncul dari punggung tersebut. Bergerak, bongkahan daging itu semakin membesar dan memanjang seakan ingin menutupi langit sore.


Shura dan semua yang ada di bawah berwaspada menatap Shui. Mereka tidak tahu apa yang direncanakan  youkai naga tersebut sekarang, tapi mereka memiliki perasaan tidak enak dalam hati.


Bongkahan daging merah tersebut kemudian membelah menjadi ribuan tentakel meraih setiap manusia yang berada dalam kurungan besi di atas gunung.


"Tidak!!"


"Tolong!!"


Teriakan ketakutan dan meminta tolong para manusia terdengar. Tapi, teriakan mereka kemudian segera terhenti. Penuh kegilaan dan kekuatan yang tidak masuk akal, para manusia itu kemudian menarik hancur kurungan yang ada dan berlari ke arah Shura dan yang lainnya.


"Apaan lagi ini??" teriak Shiro terkejut melihat apa yang terjadi.


Para manusia yang berlari ke arah mereka mulai menyerang. Bola mata mereka semua memutih tidak fokus, urat-urat nadi kebiruan timbul di sekujur wajah serta tubuh, dan mulut mereka yang terbuka memperlihatkan taring yang tajam—mereka sama sekali tidak terlihat seperti manusia lagi.


Pertarungan kembali terjadi, baik Inukimi, Kenji, Kiri, Kira dan para youkai tanah barat dengan segera mengangkat senjata melawan. Tapi, para manusia tersebut tidak terlihat takut, bahkan saat tangan, kaki atau bahkan kepala mereka terputus, mereka tetap menyerang.


"Sialan!!" berteriak penuh kemarahan, Shiro mengangkat pedang melawan para manusia. Jumlah mereka kembali tidak sebanding, padahal dirinya baru saja merasa senang melihat jumlah mereka yang akhirnya bisa menang dari Shui.


Kenji, Kiri dan Kira yang melawan para manusia tidak menjauh dari Kagome. Ketiga youkai itu bertarung sambil melindungi miko masa depan yang tidak dapat berbuat banyak karena kekuatan sucinya tidak berefek pada manusia tersebut.


Inukimi yang juga melawan para manusia tidak dapat berbuat banyak. Ketidak seimbangnya jumlah mereka membuatnya tidak dapat bergerak bebas. Ribuan manusia dengan kekuatan yang seperti youkai dan tanpa emosi jelas bukanlah hal yang bisa dianggap remeh.


Di sisi lain, Inuyasha berusaha mencapai tempat di mana Shura berada. Inuhanyou itu bisa dengan tenang menyerahkan Kagome pada Kenji, Kiri serta Kira karena dia tahu betapa kuatnya mereka, sedangkan untuk Shiro, putranya berada di tempat yang cukup aman karena bersama dengan para youkai pemimpin klan di tanah barat. Hanya Shura seorang yang hanya memiliki Akihiko sebagai satu-satunya pelindung.


"Kau bisa bertarung, Shura?" tanya Akihiko pada Shura, tapi matanya hanya menatap musuh yang semakin mendekat ke arah mereka.


"Bisa." Balas Shura singkat dan berdiri. Napasnya masih tidak beraturan, namun, dia berusaha mengendalikannya. Memasang kuda-kuda, dia siap bertarung lagi dengan tangan kosong.


"Kuserahkan bagian kanan padamu." Berlari, Akihiko menghunuskan pedang dan mengantarkan serangan youkinya menebas kepala para manusia yang mendekat. Dia bergerak maju menyerang,tapi masih tetap menjaga jarak yang cukup dekat dengan Shura.


Shura sendiri berusaha bertarung sebisa yang dia mungkin. Pewaria tanah barat tersebut tidak tidak berani sembarangan menggunakan kekuatannya sekarang, sebab dia tidak berani mengambil resiko kehilangan kesadaran karena kelelahan. Kekuatan yang dia miliki memang sangat besar, tapi dirinya yang sekarang sama sekali tidak dapat menggunakannya.


Shui yang terbang di atas langit melihat jelas apa yang terjadi, dan dia kemudian menfokuskan pandangannya pada Shura dan Akihiko. Perlahan, sebongkah daging kembali muncul dari penunggungnya, membesar, bongkahan daging itu mulai membentuk rupa seseorang atau lebih tepatnya seorang youkai yang tidak lain adalah; Takeru.


Memisahkan diri dari Shui, Takeru meloncat turun ke bawah dan menyerang Akihiko dengan brutal tanpa henti.


Akihiko yang menyadari keberadaan Takeru berhasil menahan semua serangan yang ada, akan tetapi, dia terdorong cukup jauh  dari Shura. Menatap penguasa tanah utara tersebut, Akihiko bisa melihat mata kosong tanpa ekspresi di wajah tersebut, dan itu membuatnya merasa sangat ironis.


Saat Shui mati di tangan Sesshoumaru sepuluh tahun yang lalu, Takeru membawa jasad youkai naga itu kembali ke tanah utara, dan sepertinya tujuannya saat itu tidak lain adalah untuk menelan kekuatan youkai naga tersebut. Hanya saja, pemimpin tanah utara itu tidak menyangka, bukannya mendapatkan kekuatan, justru dialah yang ditelan.

__ADS_1


"Kalian benar-benar hanya tahu merepotkan orang lain." Ujar Akihiko kemudian dan mulai balas menyerang Takeru yang ada di hadapannya.


Kondisi menjauhnya Akihiko dari Shura dapat dilihat jelas oleh Shui, dan memanfaatkan kesempatan yang ada, dia melesat ke bawah ke arah inuyoukai kecil itu dengan kecepatan tinggi.


Shura yang menyadari serangan Shui segera bersiap sedia bertahan. Namun tiba-tiba saja, youkai naga tersebut membuka sebuah pintu dimensi dan memasukinya. Lalu, tepat dibelakang inuyoukai kecil tersebut sebuah pintu dimensi kembali terbuka.


"Shura!!"


"Kecil!!"


"Shura-sama!!"


Suara teriakan Inuyasha dan yang lainnya terdengar oleh Shura. Menyadari keberadaan pintu dimensi di belakangnya, dengan sekuat tenaga dalam keadaan kritis, pewaris tanah barat memutar badan menghindar.


Dari dalam pintu dimensi tersebut, Shui kembali muncul dengan pedang di tangan menyerang Shura, dan tidak membiarkan inuyoukai kecil itu menghindar, dia terus mengejarnya sambil melancarkan serangan.


Inuyasha dan yang lainya bernapas lega melihat Shura yang berhasil lolos dari serangan Shui. Tapi, mereka juga bisa melihat inuyoukai kecil itu cukup terdesak—dia sama sekali tidak dapat melawan dan hanya dapat bertahan. Akan tetapi, merekabsama sekai tidak dapat berbuat banyak karena ribuan para manusia yang terus menyerang tanpa takut dan tidak bisa mati.


"Bajingan!!" teriak Inuyasha frustasi bercampur takut. Dia tidak dapat mencapai Shura, begitu juga dengan Akihiko yang melawan Takeru, serta Inukimi, Kenji, Kiri, Kira, Shiro dan para youkai pemimpin klan tanah barat  yang menghadapi para manusia. "Shura!!!"


Shura bisa mendengar teriakan Inuyasha, tapi dia tidak mempedulikannya. Menfokuskan diri pasa Shui, dia terus berusaha bertahan dari serangan yang terarah padanya meski luka dan darah merah mulai memenuhi dirinya.


"Aku suka matamu, Shura," ujar Shui tersenyum melihat Shura. "Mata emasmu mirip sekali dengan mata kakak—mata seorang penguasa."


Shura tidak membalas ucapan Shui, dia berusaha memusatkan diri mencari celah untuk menyerang balik.


"Tapi, sayangnya kau tidak bisa menjadi penguasa," lanjut Shui lagi. Nada suaranya meninggi dan dia tertawa keras. "Karena kau akan mati di sini!!!"


Pedang di tangan Shui bersinar, dan serangan pedang youki kuat melesat cepat dari jarak dekat ke arah Shura.


Shura mengigit bibir bawahnya dan berusaha melindungi diri dengan kedua tangannya. Dia ingin menggunakan kekuatannya untuk menciptakan kekai lagi, namun rasa sakit yang luar biasa di dadanya tiba-tiba menyerang—dia tidak dapat menggunakan kekuatannya.


"Shura!!"


"Kecil!!"


"Shura-sama!!"


Suara teriakan penuh kembali kekhawatiran terdengar oleh Shura saat badannya terpental ke belakang. Selain dadanya, dia kini merasakan sakit yang luar biasa di kedua lengannya. Sang pewaris tanah barat bisa melihat darah merah, dan dia juga tahu, itu adalah darahnya.


Jatuh ke atas tanah, Shura mengabaikan rasa sakit yang ada dan berusaha bangkit. Melihat luka sayatan panjang dan dalam di kedua lengannya, dia cukup bersyukur tangannya tidak putus.


"Kau tidak akan pernah bisa menjadi penguasa tanah barat, Shura!! " Suara Shui kembali terdengar. Saat Shura mengangkat kepala, dia melihat youkai naga itu telah berada tepat di depannya dengan senyum menyerigai dan mata penuh kegilaan. "Karena darahmu adalah darah hina!! Darah makhluk yang menyebabkan kakak mati!! Darah kotor! ! Darah manusia!!"


Mencengkram kerah kimono Shura, Shui mengangkat tinggi inuyoukai kecil tersebut. "Kau tidak pantas hidup!! Kau harus mati!! Mati!!"


Berteriak terus seperti orang gila penuh tawa, Shui kembali mengangkat pedang di tangannya. Ujung pedang yang tajam terarah ke kepala Shura.


"Shura!!"


"Kecil!!"


"Shura-sama!!!"


Suara teriakan penuh kekhatiran sekali lagi kembali terdengar. Apa yang terjadi di depannya kini terlihat sangat pelan, namun Shura sendiri tidak dapat melakukan apa-apa. Dia yang masih tidak dapat mengendalikan kekuatannya sama sekali tidak dapat menggunakan kekuatannya—apakah dia akan mati kali ini?


'Kekuatan ikatan.'


Apa yang diucapkan oleh ibu kandungnya di taman bunga sejuta warna kembali tergiang dalam kepala Shura. Apa yang dibisikkan beliau dengan pelan ditelinganya kembali teringat.


'Jika suatu saat, kau berada dalam bahaya dan tidak dapat melakukan apapun lagi. Maka, tutuplah matamu dan berteriaklah sekuatnya memanggil ayahandamu. Beliau pasti akan muncul menyelamatkanmu seperti selama ini beliau menyelamatkanku...'


Kekuatan ikatan—Shura tahu, itu sesuatu yang mustahil. Ayahandanya yang tidak bernyawa di desa tersembunyi tanah netral tidak mungkin muncul menyelamatkannya tidak peduli bagaimana dia memanggil beliau. Tapi, sekarang dia benar-benar tidak dapat melakukan apa-apa lagi. Karena itu, bolehkah dia mempercayainya?—mempercayai jika dia memanggil ayahandanya, beliau pasti akan muncul untuknya. 


Dua jari dan tangan kecil yang saling tertaut, tergengam tidak terlepaskan. Benang merah tidak terlihat yang terikat erat tidak terputuskan. Dari jari kelingking satu ke jari keringking lainnya, melewati dan melingkar berkali-kali pergelangan tangan kecil tidak tergantikan—untuk ikatan abadi di antara mereka.


Menutup mata, Shura menarik napas dan berteriak sekuat tenaga yang dia bisa. "Ayahanda!!!"


Lalu, dalam kegelapan karena mata yang tertutup, telinga Shura menangkap suara yang tidak pernah asing untuknya.


"Jangan bergerak, Shura."


....xOxOx....

__ADS_1


__ADS_2