Till The End Of Time [ Inuyasha Fanfiction ]

Till The End Of Time [ Inuyasha Fanfiction ]
Chapter 154


__ADS_3

Menatap langit musim dingin di atas, Bokuseno meminum teh yang ada di tangannya. Duduk di beranda kamar yang disediakan untuknya, dia tidak mengatakan apa-apa meski Inukimi dan Kenji juga berada di samping.


"Kau hidup paling lama, tapi kau tidak memiliki petunjuk sedikitpun, Bokuseno?" tanya Kenji yang dari tadi diam tiba-tiba.


Bokuseno diam membisu tidak menjawab pertanyaan Kenji. Dia hanya kembali meminum teh di tangannya dengan tenang. Lalu, saat selesai, dia menurunkan pandangannya dari atas langit pada hamparan salju di depan. "Semua makhluk hidup memiliki waktu dan takdir yang berbeda."


Kenji yang mendengar ucapan Bokuseno terdiam. Dia mengerti maksud ucapan itu, yakni; tidak ada cara. Tapi, dia tidak bisa menerimanya. Menghela napas pelan, dia kemudian menoleh menatap Inukimi yang dari tadi juga diam membisu.


Wajah Inukimi sangat tenang seakan tidak terjadi apa-apa. Kedua mata emasnya yang cemerlang menatap hamparan salju di depan. "Musim dingin akan segera berakhir.." ujarnya kemudian dengan pelan.


Musim dingin akan segera memasuki penghujungnya. Tidak lama lagi, musim semi akan segera tiba. Tapi, Inukimi tidak tahu lagi, apakah jika saat musim semi itu tiba, istana tanah barat masih akan merasakan musim semi seperti sebelumnya?


"Tidak ada seorangpun yang bisa melawan takdirnya, Inukimi-sama," lanjut Bokuseno pelan. Perlahan, dia menoleh pandangannya pada mantan penguasa tanah barat yang menatap langit. "Semua yang hidup akan mati pada saatnya. Anda mengetahui itu dengan baik, bukan?"


Inukimi menurunkan pandangannya dan membalas tatapan Bokuseno. Seulas senyum sendu memenuhi wajahnya. "Ya, aku tahu. Hanya saja aku tidak menyangka akan secepat ini.."


Bokuseno tidak membalas apa-apa melihat senyum sendu di wajah inuyoukai yang selalu tenang dan aneh tersebut, begitu juga dengan Kenji. Youkai monyet itu tahu jelas apa maksud pembicaraan barusan.


"Berat, tapi itulah kenyataan," ujar Bokuseno kemudian. "Lahir dan mati—siklus kehidupan yang tidak terhindarkan oleh semua makhluk yang hidup."


Inukimi tertawa kecil mendengar ucapan Bokuseno tersebut. Namun, tawanya penuh kesedihan, begitu juga dengan sepasang mata emasnya. "Keajaiban telah terjadi dua kali. Keajaiban menakjudkan yang terus menciptakan keajaiban baru. Namun sayangnya, keajaiban tidak akan terjadi lagi untuk ketiga kalinya..."


....xOxOx....


Rin duduk sendiri di atas futon menatap keluar melalui jendela yang terbuka. Perlahan pandangan matanya tertuju pada Shura yang tertidur dengan tangan kanan mengenggam erat rambut hitamnya. Senyum kecil memenuhi wajah lemahnya yang pucat melihat senyum penuh kepuasan di wajah kecil putranya tercinta.


Rin tidak tahu apa yang terjadi saat Inuyasha membawa Shura bermain dengan Shiro, Mamoru dan yang lainnya. Tapi melihat putranya yang menggeram penuh kemarahan pada Inuyasha serta wajah penuh cakaran di wajah inuhanyou tersebut saat kembali ke kamar, sebagai ibu dia merasa sepertinya pertemuan itu tidak berjalan lancar.


Shura juga kembali menjadi semakin lengket pada Rin begitu kembali dari sana. Dia tidak mau meninggalkan ibunya sedikitpun dan terus mengenggam rambut hitam itu erat.


"Shura, putraku dari barat," panggil Rin pelan bagaikan berbisik. Kedua matanya menatap lembut senyum mungil Shura dengan mata penuh kasih sayang. "Kau harus belajar mandiri dan tidak selalu mencari ibunda, nak. I-ibunda tidak bisa selalu menemanimu selamanya...."


Tidak ada balasan, dan Shura masih tertidur pulas. Berada di samping ibunya, bagi inuyoukai kecil itu selalu merupakan tempat ternyaman baginya untuk tidur. Bau yang menenangkan dan dicintainya sejak dia lahir.


"Tapi ketahuilah, cinta ibunda padamu adalah untuk selamanya...."


Cinta yang tulus dan besar tanpa bandingan. Betapa dia mencintai putranya, Rin sungguh berharap Shura akan tahu kelak. Cinta yang tidak akan pernah berubah walau apapun yang terjadi, cinta yang juga akan abadi meski dirinya telah tiada.


"Ibunda akan selalu mencintaimu, Shura," lanjut Rin. Setetes air mata mengalir turun, tapi senyum di wajahnya tetap ada. "Selamanya dan selalu..."


Rin tahu, dia tidak akan dapat melihat putranya tercinta dewasa. Tapi, tidak apa-apa, dengan sisa waktu yang ada, dia berharap bisa membuat hidup putranya aman dan damai—selalu bahagia dan tidak pernah sendirian meski tanpa dirinya.


"Rin-chan," suara pelan Kagome terdengar dan membuat Rin segera menoleh wajahnya pada sumber suara. "Kenapa kau duduk seperti itu?"


Berjalan cepat melalui pintu shoji kamar yang terbuka, Kagome segera mutupnya dan mendekati Rin. Kedua tangannya dengan cepat membantu dan juga menggunakan badannya menahan posisi duduk wanita manusia tersebut.


"Lebih baik kau berbaring, Rin-chan," ujar Kagome pelan. Senyum kecil mengembang di wajahnya. Dia mengabaikan sisa air mata di wajah wanita manusia itu, karena dia tahu, inilah yang terbaik. Sebab, Rin pasti tidak ingin siapapun menyadari dirinya menangis—Rin yang kuat dan juga; bodoh. "Kau masih butuh istirahat yang cukup."


Rin tertawa pelan mendengar ucapan Kagome. "Rin sudah tidur terlalu lama Kagome-sama."


"Ya, tidak apa-apa," balas Kagome sambil tertawa kecil. "Kurasa kau harusnya mencontohi Shura yang bisa tidur setiap hari jika berada di samping ibunya."


Rin kembali tertawa mendengar balasan Kagome. Perlahan, matanya kembali pada Shura yang tidak terganggu sedikitpun dalam mimpinya. Bahkan, dia bisa melihat senyum di wajah putranya yang semakin lebar mendengar suara tawa sang ibu.


"Rin tidak tahu lagi, Shura itu sebenarnya mirip siapa," mata coklat Rin yang menatap Shura semakin lembut penuh kasih sayang dan cinta. "Sikap Shura ini tidak mirip Sesshoumaru-sama ataupun Rin."


"Ah," sela Kagome cepat. "Dia mirip Kakak, Rin-chan. Sikap dan sifatnya itu semua benar-benar ciplakkan Kakak. Hanya padamu saja dia seperti ini—dasar anak manja."


Sekali lagi, Rin tertawa pelan mendengar ucapan Kagome. Jika sikap dan sifat putranya benar-benar mirip Sesshoumaru, maka betapa tenang dirinya. Putranya akan tumbuh kuat dan kokoh seperti ayahnya, tidak akan ada apapun yang akan menumbangkannya di masa depan. Tidak apa-apa jika dia tidak bisa melihat, setidaknya dia tahu putranya akan aman untuk selamanya.


"Nee, Kagome-sama," panggil Rin kemudian dan menoleh kepala pelan menatap Kagome. "Apakah anda telah mengambil 'itu' dari Sesshoumaru-sama?"


"Oh, tentu," seru Kagome cepat. Dari balik kimononya, dengam segera dia mengeluarkan sebuah kotak berwarna hitam. Membukanya, dia mengarahkannya tepat di depan Rin. "Ini Rin-chan; fushi no kusuri."


Rin dia membisu menatap fushi no kusuri yang kini ada tepat di hadapannya, sesuatu yang menjadi harapan baginya dan mereka yang mencintainya beberapa saat yang lalu, walau pada akhirnya, harapan itu hancur dengan begitu sempurnanya.


Kagome tidak mengatakan apa-apa saat melihat Rin menatap fushi no kusuri dalam diam. Dia tidak tahu mengapa wanita manusia itu meminta dirinya mengambil benda itu dari Sesshoumaru—dan wajah Sesshoumaru saat memberikan fushi no kusuri padanya; miko masa depan tidak dapat menjelaskannya. Apa yang sebenarnya terjadi?


Rin terus menatap lekat fushi no kusuri, dan dia sungguh merasa—ingin tertawa. Melihat harapannya yang hancur, betapa sakit dan menyakitkan. Padahal dia berpikir, dengan keputusan yang telah dia buat serta pilihan yang dia pilih, dia tidak akan merasa ini semua lagi. Tapi, ternyata dia salah; semua ini masih dirasakannya.


Dirinya tidak berdaya. Meski dia tidak mau dan tidak menginginkannya—Rin tahu dia tidak memiliki pilihan lagi. Yang bisa dilakukannya sekarang hanya meluruskan segala yang salah dan melakukan apa yang seharusnya, demi mereka yang dicintainya, demi mereka yang masih akan hidup meski dirinya tiada.


Meido seki di jantung Rin berdetak kuat, begitu juga dengan cahaya lembut yang bersinar. Namun, sinarnya tidak kuat hingga mementalkan Kagome seperti biasanya, sinarnya itu bagaikan sabuah cangkang yang bergerak pelan dan membungkus badan mungil wanita manusia itu.


"Rin-chan!!" panggil Kagome terkejut. Namun, saat dia merasakan sedikit cahaya lembut itu, seketika juga dia terdiam. Cahaya ini berbeda, dia tidak akan melukai siapapun, miko masa depan tahu itu dengan pasti, dan terlebih lagi, dalam cahaya itu, dia bisa merasakan satu emosi yang luar biasa, yakni; kesedihan.

__ADS_1


Rin menutup mata merasakan cahaya yang membungkus dirinya. Ah, seulas senyum lembut memenuhi wajahnya, di kejauhan dia bisa melihat sebuah pemandangan yang sangat indah.


Dalam musim semi yang hangat dan menyenangkan, di bawah sebatang pohon sakura, seorang inuyoukai dan inuyoukai kecil tertawa lepas, duduk bersama seorang wanita manusia yang tersenyum. Mereka terlihat sangat bahagia, begitu harmonis dan membuat iri semua yang ada—keluarga kecil yang sederhana.


'Bersama selamanya dan selalu'


Kata yang selalu diucapkan, harapan yang begitu sederhana dan mimpi indah yang begitu memabukkan. Namun, mimpi adalah mimpi. Saat kau bangun, kau akan tahu, itu semua adalah sebuah lelucon dalam hidup.


Air mata mengalir turun dari wajah Rin, dan bersamaan dengan itu, cahaya yang ada mengangkat serta menerbangkan air mata yang ada. Terbang perlahan, air mata itu kemudian jatuh tepat di atas fushi no kusuri yang ada di depan mata.


Fushi no kusuri tiba-tiba bersinar cemerlang, membuat Kagome sangat terkejut. Lalu, saat cahaya itu redup, fushi no kusuri yang berwarna putih bagaikan mutiara kini telah beubah menjadi hitam pekat—fushi no kusuri yang telah sempurna.


Cahaya yang membungkus Rin juga perlahan menghilang, begitu juga dengan meido seki yang kembali tenang seperti biasanya. Membuka mata, dengan senyum hangat di wajah, kisaki tanah barat menoleh wajah kembali menatap Kagome yang tertegun dan terdiam seribu bahasa. "Kagome-sama," panggil Rin pelan. "Fushi no kusuri yang telah sempurna—untuk anda..."


Mata Kagome terbelalak tidak percaya mendengar ucapan di luar dugaan Rin, membuatnya tidak tahu harus berbuat apa.


"Fushi no kusuri tidak berguna untuk Rin, tapi, dia berguna untuk anda, Kagome-sama..." lanjut Rin pelan dengan senyum di wajahnya yang tidak kunjung menghilang. "Hiduplah bersama Inuyasha-sama dan Shiro untuk waktu yang sangat-sangat lama..."


"Rin-chan..."


"Anda mengatakan keluarga anda ada di masa depan, bukan?" tanya Rin dan tertawa kecil. "Anda bisa bertemu dan berkumpul dengan mereka lagi kelak, Kagome-sama."


"Rin-chan.." panggil Kagome lagi, tapi Rin hanya kembali tersenyum seakan tidak mendengarnya.


"Fushi no kusuri diciptakan Ayahanda untuk Izayoi-sama. Kurasa daripada Rin, anda yang merupakan istri dari putra Izayoi-samalah yang lebih pantas memilikinya."


"Hentikan! Rin-chan!!" teriak Kagome dan memeluk erat tubuh mungil tersebut dari belakang. Dia tidak mau mendengar ucapan Rin itu lagi, sebab dia tidak bisa membayangkan dengan perasaan apa wanita itu mengatakannya.


"Hiduplah dengan bahagia bersama yang lainnya menggantikan Rin..." terucap lirih dan pelan, Rin menutup pelan mata coklatnya yang kini kembali meneteskan air mata.


Kagome menggeleng kepala dan memeluk semakin erat Rin. "Jangan mengatakan sesuatu yang aneh. Kau akan hidup! Kau akan hidup bersama Kakak dan Shura—kalian akan bahagia!!!"


Air mata mengalir turun melalui mata Kagome. Dia merasa takut dan juga binggung pada saat bersamaan. Kemana perginya Rin yang selalu optimis dan tersenyum? Kemana perginya Rin yang selalu berjuang untuk hidup dan ingin bahagia bersama keluarga kecilnya?—sangat menyakitkan saat kau melihat orang yang kau sayangi mengatakan dia akan menghilang ke depannya saat kau masih dapat menyentuhnya.


Masih dipeluk Kagome, Rin membuka matanya yang masih terus menjatuhkan air mata dan tersenyum. "Kematian pertama, Rin dihidupkan Sesshoumaru-sama. Kematian kedua, Rin dihidupkan Ibunda, karena itu, kematian ketiga adalah kematian Rin yang sesungguhnya. Rin tidak bisa mencurangi kematian lagi."


'Rin'


'Ahh..Ah..'


Dirinya tidak boleh bermimpi lagi. Mimpi indahnya benar-benar telah usai, kini dia harus menghadapi kenyataan—tapi...


"Tapi, Rin ingin tinggal. Rin tahu itu egois, Rin tidak mau menginggalkan Sesshoumaru-sama dan Shura.."


Memberikan fushi no kusuri yang sempurna pada Kagome, Rin tahu, itu adalah benar. Tapi, jauh dalam hati, dia–iri. Kenapa bukan dia? Kenapa dia bisa menyempurnakan fushi no kusuri tapi tidak dapat menggunakannya? Menyerahkan harapan hidupnya pada orang lain, dia sangat sedih, sangat marah, sangat-sangat tidak rela. Karena dia adalah manusia biasa. Perasaan yang begitu tidak terkendalikan, tapi harus ditahannya habis-habisan karena dia tahu itu salah. Perasaan yang akhirnya berubah menjadi perasaan; bersalah.


Itulah isi hatinya yang terdalam. Meski dia telah membuat pilihan dan tahu apa yang terbaik. Sampai akhir, dia tidak bisa meninggalkan keegoisannya yang memulai semua ini. Wajah sedih di mata semua yang dicintainya, kekhawatiran mereka saat menatapnya serta ketidak berdayaan mereka.


"Kau boleh egois!! Kau boleh egois karena ingin bersama mereka selalu Rin-chan!!" Sela Kagome kuat. Menatap lekat mata Rin yang balas menatapnya, miko masa depan berusaha keras meyakinkan wanita mungil itu masa depan yang ada. "Kita semua akan bahagia bersama selamanya!!"


Semua yang ada bisa diberikan padanya. Rin tahu, bahkan jika dia menginginkan bintang dan bulan, Sesshoumaru dan yang lainnya mungkin dapat memberikannya. Namun hanya ini satu, hanya bersama selamanya yang tidak dapat diberikan untuknya. Jangan memberikannya harapan palsu lagi. Jangan mengatakan semua yang tidak mungkin itu mungkin lagi. Dia sudah belajar menerima kenyataan menyakitkan itu walau tidak mau, dia sudah menyiapkan dirinya untuk menghadapi masa depan seperti itu. Karena itu—jangan membuat sakit ini semakin sakit lagi.


"Ahh-ba-ba!!" suara pelan terdengar di sampingnya, dan saat Rin menoleh ke samping dia melihat Shura yang tidak tahu sejak kapan terbangun kini telah merangkak ke kakinya.


Kedua mata emas Shura menatapnya lekat. Penuh kekhawatiran. Terlihat jelas inuyoukai kecil itu menyadari kesedihan serta air mata ibu kandung yang merupakan dunia kecilnya. "Ahhh-baa-ba..."


Dunia yang kejam, takdir yang menyakitkan. Hidup itu tidak akan pernah seperti yang kau harapkan. Mungkin ada saat hidupmu berjalan seperti yang kau inginkan, namun, sekali kedipan mata, semuanya bisa berubah—tidak ada yang abadi dalam hidup ini.


Mati dan dihidupkan kembali, bertemu Sesshoumaru dan mencintainya, dicintai Sesshoumaru dan memiliki Shura. Keajaban demi keajaiban dalam hidupnya, begitu indah dan menakjudkan jika diceritakan, kisah hidup seorang wanita manusia bernama; Rin. Tapi setiap kisah memiliki akhir, dan inilah akhir kisahnya—kematian; perpisahan.


Menutup mata karena tidak sanggup menatap wajah khawatir Shura lagi, Rin berteriak myngeluarkan segala kesakitan dalam hatinya. Tangisannya, air matanya, kesedihannya dan keputusasaannya. "Ahhh...Ahh..."


Maafkan Rin yang akan mengagetkanmu, Shura. Maafkan ibunda yang tidak berguna ini, maafkan ibunda yang tidak bisa menghiburmu lagi, maafkan ibunda yang akan meninggalkanmu—maafkan ibunda yang tidak bisa memilih hidup bersamamu.


"Aahhhh!!! Ahhhhh!!! Ahhhhhhhhhh!!!" semakin keras dan keras, dengan air mata tidak berkesudahan, Rin menangis untuk kedua kalinya di depan Shura meminta maaf. "Maaf!! Maaf!! Maaf!! Maafkan Rin!! Maafkan Rin!!!!"


Shura yang mendengar jeritan tangisan Rin ikut menangis keras. Kedua tangannya mengepal erat kimono Ibunya, kedua mata penuh ketakutannya tidak teralih dari air mata yang mengalir turun di wajah wanita yang dicintainya. "Aahhh!! Ahhhh!!"


Kagome yang melihat tangis Rin dan Shura tidak tahu harus berbuat apa, memeluk terus semakin erat badan lemah wanita mungil itu, dia hanya dapat berusaha keras menenangkan. "Rin-chan, tenanglah. Kau menakutkan Shura, dia menangis saat kau juga menangis Rin-chan!"


Lalu, dalam kebingungan dan ketakutannya, Kagome mendengar suara pintu shoji yang terbuka. Matanya bisa melihat jelas Sesshoumaru yang berjalan masuk dengan wajah datar tidak berekspresi serta Inuyasha yang berdiri mematung dengan mata terbelalak menatap dirinya dan Rin.


Mendekati Rin yang masih berteriak menangis penuh kesakitan. Sesshoumaru segera meraih Shura dan membiarkan inuyoukai kecil itu tenang dan memeluk badan ibu kandungnya erat. Tidak membuang waktu, dia juga segera memeluk badan mungil itu dengan hati-hati karena keberadaan putra mereka yang ada di tengah.


"Kau boleh egois. Sesshoumaru ini mengijinkanmu egois." Bisik Sesshoumaru pelan.

__ADS_1


Kehangatan badan Sesshoumaru dan Shura, serta bisikan pelan yang ada, membuat Rin membuka mata. Namun, sedetik kemudian, dia kembali menutupnya. Keegoisannya—ya, sampai akhir, Sesshoumaru dan yang lainnya akan mengijinkan. Hanya saja; dirinya tidak bisa.


Saat kau menderita, ada tiga pilihan, satu; menangis, dua; tertawa dan ketiga; menangis dan tertawa bersamaan. Namun pilihan ketiga adalah hanya akan kau lakukan saat kau merasakan penderitaan tidak tertahankan lagi. Menangis karena sedih, dan tertawa karena ironis—Rin tidak bisa menghentikan dirinya lagi.


"Hahaha," tertawa dalam air mata yang tidak berhenti, Rin hanya bisa terus tertawa dalam tangisnya yang menyakitkan. "Hahahahahahah!!"


Mana yang benar dan mana yang salah? Mana yang seharusnya dan mana yang tidak seharusnya? Mental Rin hancur—dia tidak cukup kuat menghadapi ini semua. Dia ingin menyalahkan, tetapi dia tidak tahu harus menyalahkan apa. Dia ingin berontak dan melawan, tapi dia tidak berdaya. Apa yang paling menyiksa di dunia ini baginya, Rin tahu sekarang; saat kau mati-matian ingin melakukan sesuatu tetapi tidak bisa.


Menggerakkan tangan kanannya menghapus air mata dan menenangkan Rin, Sesshoumaru menatap wajah wanita yang dicintainya. "Lihat Sesshoumaru ini, Rin."


Menatap Sesshoumaru, Rin kemudian diam membisu tidak mengatakan apapun dengan wajahnya yang penuh kesedihan.


Semua ucapan Rin dan Kagome, Sesshoumaru mendengarnya semua. Dia sudah berdiri di depan pintu shoji bersama Inuyasha saat miko masa depan itu memasukinya. Namun, dia tidak memiliki keberanian untuk masuk, karena apa yang paling ditakutinya telah menjadi kenyataan, yakni; Rin yang lebih memilih mati daripada—hidup.


Bagaimana Sesshoumaru mengijinkannya? Betapa penting Rin baginya, wanita itu adalah dunianya—Sesshoumaru tidak bisa kehilangannya.


"Shura membutuhkanmu, Sesshoumaru ini membutuhkanmu," lanjut Sesshoumaru tenang dengan mata emasnya yang penuh kejujuran. "Karena itu—berjanjilah pada kami berdua bahwa kau tidak akan meninggalkan kami."


Berjanjilah tidak akan pernah meninggalkannya, berjanjilah untuk selalu berada di sampingnya. Tersenyum dan tertawa untuknya, menyanyi dan menari untuknya, memeluk dan menciumnya, di setiap musim yang berganti dan waktu yang akan berjalan—berjanjilah untuk selamanya bersama dengan dirinya.


Rin tertegun dengan ucapan Sesshoumaru. Sejenak dia tersenyum, namun dia tidak mengatakan apa-apa—dia tidak berani berjanji lagi. Janji dibuat untuk ditepati. Karena itu, bagaimana mungkin dia menjanjikan sesuatu yang tidak akan dapat ditepatinya?


"Rin," panggil Sesshoumaru lagi melihat senyum penuh kesedihan di wajah Rin. "Berjanjilah, berjanjipah pada Sesshoumaru ini—berjanjilah pada Sesshoumaru ini bahwa kau tidak akan meninggalkannya!!!"


Suara Sesshoumaru meninggi, penuh kemarahan dan ketidak percayaan. Semua bercampur aduk, bagaimana bisa Rin memilih mati? Tidak! dia tidak akan mengijinkannya!! Rin akan selalu bersama dengannya!!


Mata emas berubah menjadi merah kehitaman, jari jemari yang menyentuh wajah Rin memanjang dan meruncing, begitu juga dengan wajahnya yang hampir kembali pada sosok aslinya. "Kau tidak akan pernah meninggalkan Sesshoumaru ini, Rin. Kau ingat sumpah Sesshoumaru ini dulu? Sesshoumaru ini akan menghancurkan dunia jika kau menghilang—itu masih berlaku."


Mata Rin yang menatap Sesshoumaru tetap tidak berubah, dan seperti biasa, tidak ada ketakutan. Sebab, apapun wujudnya, bagi Rin, Sesshoumaru adalah Sesshoumaru.


"Ini adalah perintah..."


Menutup mata yang masih saja mengalirkan air menuruni pipi. Rin bertanya, bagaimana bisa dia mengubah inuyoukai ini menjadi seperti ini? Betapa dia merasa bersalah karenanya. Kesalahan yang semakin larut dan berkelanjutan. Sosok yang dicintainya melebihi segalanya—sungguh, Rin bertanya sekali lagi; kenapa dunia begitu kejam terhadapnya? Tidak hanya menghancurkan jiwa dan raganya, kehidupan juga menyiksa seluruh perasaannya. Menghancurkannya dan menghempaskannya menjadi ribuan kepingan kecil tidak tertata lagi.


Menumpuk segala rasa bersalah, menahan segala sakit, Rin membuka mata dan tersenyum. "Iya, Sesshoumaru-sama. Rin tidak akan kemana-mana. Rin akan tinggal, selama anda memerintahkan.."


Rin tidak bisa tinggal, namun dia juga tidak bisa pergi. Hidup tapi ingin mati, mati tapi tidak bisa—mana yang benar? mana yang salah? semuanya menjadi kabur hingga tidak terlihat. Ah, kapan ini akan berakhir? Kapan semua kesalahan akan kembali menjadi benar?


Sesshoumaru kembali tenang melihat dan mendengar ucapan Rin. Seketika, dia kembali ke sosok biasanya, mata merah kehitamannya kembali menjadi emas. Seulas senyum kecil mengembang di pipinya. Membenamkan wajah Rin pada dadanya, dia menutup mata dan menghirup bau yang dicintainya. "Ya, bagus. Kau harus selalu menjalankan perintah Sosshoumaru ini."


Kagome yang melihat apa yang terjadi tidak bergerak. Dia tidak tahu harus takut, tertegun atau apa. Namun, seketika juga mata Sesshoumaru yang tertutup tiba-tiba terbuka dan terarah tajam padanya.


"Keluar.." Perintah Sesshoumaru. Suaranya pelan dan sangat rendah, penuh penekanan dan juga tidak normal.


Kagome segera berdiri dan berlari keluar. Melewati Inuyasha yang kebingungan, dia berlari sekuat tenaganya menyusuri koridor kosong paviliun timur istana tanah barat tanpa tujuan.


"Kagome! Berhenti!!" teriak Inuyasha yang berlari mengejar Kagome. Namun, sebelum dia berhasil meraih Istrinya itu, miko masa depan itu tiba-tiba berhenti.


Inuyasha juga ikut berhenti melihat Kagome. Berdiri tidak jauh di belakangnya, inuhanyou itu tidak tahu harus berbuat apa. "K-kagome..."


Kagome tidak menjawab. Tanpa berkata apa-apa, dia kemudian berjongkok dan menangis keras. Menggenggam erat fushi no kusuri di dadanya, dia menutup mata dan menangis tanpa henti.


Perasaan Rin saat menyerahkan fushi no kusuri padanya. Kenapa Rin tersenyum dan memberikan sesuatu yang begitu diharapkan pada dirinya? Ya! Dia juga mengharapkan hidup selamanya bersama Inuyasha dan Shiro, tapi bagaimana dia bisa bahagia jika itu harus mengorbankan Rin? Hancurnya Rin, kesedihan, ketidak berdayaan dan teriakan kesakitan yang ada—dia hanya bisa melihat dari samping tanpa dapat melakukan apapun. Membiarkan wanita manusia yang begitu lembut itu menghadapi kejamnya takdir.


Dunia yang kejam, dunia yang tidak berbelas kasihan. Wanita yang paling pantas bahagia di dunia tapi tidak dapat bahagia, wanita yang paling mengharapkan hidup dan bersama keluarga kecilnya tidak akan pernah terkabulkan—dunia ini sungguh rusak dan busuk.


Inuyasha menutup mata dan mengangkat kepalanya ke atas. Tidak dapat menahan diri, air mata ikut mengalir. Dia tidak memiliki kekuatan untuk melangkah maju menenangkan Kagome, karena dia tidak dapat melakukannya sekarang.


'Hiduplah bersama Inuyasha-sama dan Shiro untuk waktu yang sangat-sangat lama.'


Ucapan Rin yang didengarnya dari balik pintu kamar yang tertutup, Inuyasha hanya dapat mematung. Hidup panjang Kagome, bersama dengan dirinya dan Shiro—itu akan menjadi kenyataan. Tapi, bagaimana dengan hidup Rin, Sesshoumaru dan Shura? Membiarkan mereka menghadapi mengerikannya kematian dan menakutkannya perpisahan—bagaimana dia bisa melakukan itu?


Rin telah melakukan begitu banyak untuk dirinya, Inuyasha ingat itu semua. Dari kelahiran Shiro hingga menjadi jembatan hubungannya dengan Sesshoumaru, dan sekarang, wanita manusia itu juga akan memberikan hidup panjang yang begitu didambakannya pada Kagome? Betapa dia berhutang pada Rin, dan juga betapa; tidak berguna dirinya. Karena dia tidak dapat melakukan apapun untuk wanita manusia itu.


Ketidak berdayaan, ketidak mampuan, penyesalan, rasa bersalah—semua bergabung menjadi satu menyerang hati Inuyasha. Mengangkat tangan menyusuri kepalanya, inuhanyou itu hanya dapat berteriak keras memenuhi koridor paviliun istana tanah barat yang kosong. "Sialan!! Sialan!! Sialan!!!!!!"


Suara teriakan Inuyasha bergema memenuhi paviliun timur istana tanah barat, dan di dalam kamar mereka, Sesshoumaru yang memeluk Rin dengan Shura di tengah mereka dapat mendengarnya, tapi, dia tidak mempedulikan.


Menurunkan pandangannya, dia menatap Shura yang telah kembali tidur tenang memeluk ibu kandungnya. Lalu, perlahan, pandangannya naik pada wajah Rin yang kini juga telah tertidur tenang. Menutup mata, dengan lembut dia menundukkan wajah mencium bibir wanita manusia yang dicintainya.


Rin masih ada dan dia tidak akan menghilang dari hidupnya. Tidak peduli bagaimanapun, Sesshoumaru akan terus memaksa keberadaan wanita yang begitu penting baginya tetap ada dalam dunianya. Hari ini tidak akan beda dengan hari kemarin, begitu juga dengan hari besok. Mereka akan selalu bersama, tidak akan terpisahkan—dirinya, Rin dan Shura.


"Selamanya bersama...."


Lalu hari itu, tanpa disadari siapapun, dengan perlahan untuk pertama kali dan selamanya, meido seki yang melekat di dada Rin dan berdetak bagaikan jantung seirama dengan jantung Sesshoumaru berhenti berdetak. Menyisahkan jantung Rin yang berdetak dengan sangat pelan.

__ADS_1


....xOxOx....


__ADS_2