![Till The End Of Time [ Inuyasha Fanfiction ]](https://asset.asean.biz.id/till-the-end-of-time---inuyasha-fanfiction--.webp)
Duduk menatap prajurit yang berlutut di depannya, bangsawan Mio tidak dapat menyembunyikan perasaan terkejut dalam hatinya. "Dua desa youkai musnah lagi?"
"Iya, Mio-sama," jawab prajurit itu penuh rasa hormat. "Desa youkai yang hancur adalah desa youkai kelinci biru dan burung air."
Bangsawan Mio terdiam mendengar jawaban yang ada. Kepalanya memikirkan apa yang terjadi. Perlahan, dia menolehkan kepala pada bangsawan Hino, Sato dan Yumi yang ada di samping. "Bagaimana menurut kalian?" tanyanya pelan.
Bangsawan Hino, Sato dan Yumi tidak menjawab, mereka juga berusaha keras memikirkan apa yang terjadi. Terhitung, sudah ada empat desa youkai yang hancur dan meninggalkan bendera keluarga mereka. Semua orang percaya, bahwa pasukan gabungan merekalah yang memusnahkan desa-desa youkai itu. Namun, melebihi siapapun, keempat bangsawan tinggi itu tahu, bukan pasukan mereka yang menghancurkannya—pasukan mereka masih belum bergerak.
"Menurutku," ujar bangsawan Yumi pelan. Kedua mata hitamnya menatap bangsawan lain yang ada di sampingnya. "Ada yang aneh."
Ada yang aneh—baik bangsawan Mio, Hino dan Sato juga merasakannya. Tapi, tidak peduli bagaimana mereka memikirkan keanehan yang ada, mereka tidak menemukan jawaban.
Bangsawan Hino kemudian menatap prajurit yang masih berlutut di hadapan mereka. "Bagaimana tanggapan masyarakan dengan kejadian ini?"
"Tanggapan masyarakat sangat baik," jawab prajurit itu cepat. "Masyarakat percaya kali ini kita akan menang dari perang dan memusnahkan youkai barat. Bahkan, akhir-akhir ini banyak masyarakat yang mendaftar dan ingin bergabung dengan pasukan kita."
"Benarkah itu?" tanya bangsawan Mio terkejut. Namun, tidak dipungkiri ada kebahagiaan dalam suaranya.
"Benar, Mio-sama. Masyarkat yang ingin bergabung dengan pasukan kita sehari bisa mencapai seratus orang." balas prajurit itu. "Dan mereka berasal dari seluruh penjuru negeri."
Penjelasan prajurit itu membuat para bangsawan tinggi merasa sangat senang. Namun, bersamaan keserakahan dalam hati mereka juga semakin besar. Jika pasukan mereka terus bertambah besar, lalu dengan bantuan taijiya, miko, pendeta, biksu—jangankan menaklukkan youkai tanah barat, mungkin mereka juga bisa menaklukkan youkai tanah utara, timur dan selatan. Mereka mungkin bisa memusnahkan semua youkai dari tanah jepang ini.
"Aku memang tidak tahu siapa pelakunya," ujar bangsawan Hino sambil tertawa kemudian. "Tapi, sekarang keadaan semakin menguntungkan kita, kan?"
"Benar sekali," setuju bangsawan Sato mengangguk kepala. "Kita tidak boleh melewati kesempatan ini."
"Aku setuju," sambung bangsawan Yumi tersenyum. "Semakin banyak yang ingin bergabung dengan pasukan kita, semakin kuat pasukan kita."
Bangsawan Mio yang mendengar ucapan ketiga bangsawan lainnya, juga ikut tersenyum. Menatap prajurit yang masih berlutut di depannya, kedua matanya bersinar penuh kegembiraan. "Sebarkan rumor diseluruh jepang, pasukan gabungan kita yang kuatlah yang menghancurkan desa para youkai, dan kita membuka rekrutan prajurit dari seluruh jepang untuk membebaskan tanah ini dari para youkai."
....xOxOx....
Asano duduk diam dalam ruang kerjanya. Kepalanya memikirkan laporan yang didapatkannya mengenai desa youkai klan kelinci biru dan burung air yang hancur. Kedua klan youkai yang hancur memang merupakan klan lemah dan terkecil di tanah timur. Tapi, bisa musnah hingga tidak tersisa seorangpun, itu sangatlah aneh.
Menatap Akiko yang duduk di depannya, Asano bertanya pelan. "Bagaimana menurutmu, Akiko?"
"Ada yang aneh, ayahanda." Jawab Akiko mengeluarkan pendapatnya.
Dari laporan yang ada, Asano tahu, dalam desa yang telah hancur, selain bendera bangsawan manusia, kini ditemukan juga beberapa mayat prajurit manusia yang mati. Senjata, cara membunuh—semua mengarah bahwa pelakunya adalah manusia. Lalu, penguasa tanah timur juga mendapatkan informasi para manusia yang mengaku merekalah pelakunya.
"Aku tidak percaya pelakunya manusia, ayahanda," lanjut Akiko lagi menatap lurus Asano. "Selemah-lemahnya klan kelinci biru dan burung air, mereka tidak mungkin akan hancur tanpa sisa seperti ini."
Asano tidak mengatakan apa-apa, tapi dia setuju dengan ucapan Akiko. Yang menghancurkan kedua klan itu tidak mungkin manusia.
"Selain dua klan di bawah kita, aku dengar ada dua klan dari wilayah netral yang juga hancur di tangan manusia," lanjut Akiko pelan mengingat informasi yang di dapatkannya. "Dan tidak ada seorangpun yang hidup."
"Apakah Shui tidak bergerak?" tanya Asano. Shui adalah pemimpin klan youkai netral, apa yang terjadi dalam wilayah netral pasti akan mempengaruhinya.
Akiko menggeleng kepala. "Shui tidak bergerak. Dia memang memerintahkan bawahannya untuk memeriksa apa yang terjadi, tapi selain itu, dia tidak melakukan apapun. Netral masih percaya pelakunya manusia."
Asano kembali terdiam. Dia tahu, Shui pasti sama dengannya sadar bahwa pelakunya tidak mungkin manusia. Tapi, jika tidak melakukan apapun, itu juga terasa aneh. Siapa Shui? Penguasa tanah timur jelas tahu kedok aslinya yang begitu berbeda dengan gelarnya sebagai sang terhormat dari netral.
Asano percaya, empat desa youkai yang hancur seperti ini pasti memiliki maksud tertentu dibaliknya. Tidak terlihat, tapi, ini pasti ulah dari seseorang youkai yang kuat dan berkuasa. Tapi, tidak hanya netral, tetapi juga timur, siapa yang berani melakukan ini?
"Akiko," panggil Asano kemudian, dia kembali menatap Akiko lurus. "Aku ingin kau pergi ke desa kelinci biru serta burung air untuk memeriksa keadaan."
Sebagai penguasa tanah timur, Asano tahu dia wajib melakukan sesuatu, sebab kedua klan yang hancur meski lemah adalah klan di bawah kekuasaannya. Sebagai penguasa dan untuk mempertahankan posisinya, dia harus terlihat melakukan sesuatu. Memutuskan Akiko memeriksa keadaan adalah hal yang terbaik, dia akan memiliki jawaban jika ada yang bertanya kenapa sebagai penguasa dia tidak melakukan apapun.
"Aku mengeti, Ayahanda." Balas Akiko dan mengangguk kepala pelan.
"Tapi," lanjut Asano lagi, matanya menajam menatap Akiko. "Sama seperti Shui, aku tidak ingin kau bergerak dan menemukan apapun. Aku ingin mengamati perkembangan kejadian ini."
Asano tahu, sama seperti Shui, dia masih tidak boleh bergerak. Dia akan mengamati dari balik layar tentang apa yang terjadi.
....xOxOx....
"Kau tahu, Shui," ujar Takeru yang duduk di depan Shui sambil tersenyum. Kedua matanya menatap lurus saudara sepupunya penuh kegembiraan. "Dua desa youkai lemah di timur hancur di tangan manusia."
"Oh, ya?" tanya Shui sambil menyeduh tehnya.
"Iya," tawa Takeru melihat reaksi Shui yang tidak peduli. "Dan sampai sekarang rubah tua itu tidak melakukan apa-apa meski mendapatkan beberapa tekanan dari youkai dalam kekuasaannya."
"Asano pasti sangat sibuk sekarang." senyum Shui menatap Takeru.
"Rubah tua itu mengatakan ada kemungkinan pelakukanya bukan manusia. Tapi, sampai sekarang, semua bukti masih menunjukkan pelakunya adalah manusia."
Shui tertawa mendengar ucapan Takeru. Menurunkan pandangannya ke bawah, kedua tangannya masih menyeduh teh. "Kalau begitu, Asano sama denganku. Penyelidikan yang kulakukan juga masih menunjukkan pelakunya adalah manusia."
Takeru mengamati tawa Shui dalam diam. Mendengus pelan, dia kemudian ikut tertawa. "Jadi, menurutmu setelah timur, apakah tujuan pasukan manusia itu adalah utara?"
Pertanyaan Takeru membuat tawa Shui semakin keras. Tersenyum lebar, dia mengangkat kepala dan menatap balik penguasa tanah utara yang ada di depannya. "Iya."
"Hmn," gumam Takeru sambil mengangguk kepalanya seperti berpikir keras. "Berarti yang akan musnah selanjutnya adalah desa youkai klan kadal api dari tanah utara."
"Apakah kau sedih?" tanya Shui dengan senyum yang tidak berubah di wajahnya.
Pertanyaan Shui membuat Takeru kembali tertawa terbahak-bahak. "Kenapa aku harus sedih? Sudah hukum alam klan yang lemah itu hancur."
Shui mengangguk kepala mendengar jawaban Takeru. Tidak mengatakan apa-apa lagi, dia yang telah selesai menyeduh teh, meletakkan secangkir teh di depan penguasa tanah utara.
"Pasukan manusia akan menghancurkan desa klan youkai di tanahku," senyum Takeru lagi dengan wajahnya yang penuh kegembiraan. Tangan kanannya bergerak mengambil cangkir teh yang diberikan Shui. "Aku akan duduk tenang di istanaku melihat pertunjukkan di kedepannya."
Shui tertawa kecil mendengar ucapan Takeru. Tidak mengatakan apa-apa lagi, perlahan youkai bermata putih itu kemudian menoleh wajahnya menatap daun pohon yang menguning.
"Oh, iya," seru Takeru kemudian sambil meminum teh yang ada di depannya. "Kau sudah mendengar kalau serigala itu ada di barat sekarang."
Shui kembali menoleh pandangannya pada Takeru. Tersenyum kecil dia mengangguk kepala pelan.
"Serigala itu sepertinya benar-benar tertarik dengan kisaki tanah barat," tawa Takeru keras, kedua mata hijaunya kemudian menatap Shui penasaran. "Apa yang akan kau lakukan?"
Shui mengangkat cangkir teh di depannya dan meminumnya pelan. Sejenak kemudian, saat dia meletakkan cangkir teh ke atas meja, dia tersenyum menyeringai, sedangkan mata putihnya bersinar penuh kegembiraan. "Aku akan melihat apa penawaran yang akan dia berikan."
....xOxOx....
__ADS_1
"Bagaimana keadaan Rin-chan, Kagome?" tanya Sango pelan menatap Kagome yang duduk di depannya bersama Inuyasha dalam kamar mereka.
"Tetap sama," jawab Kagome pelan sambil menghela napas. "Begitu juga dengan anak dalam kandungannya—baik aku, Inukimi-san, dan Jinenji benar-benar bingung tidak tahu apa yang harus kami lakukan."
Memasuki musim gugur ini, perubahan terjadi pada Rin. Meski tidak ada yang mengucapkannya, semua orang bisa melihat, kesehatan wanita manusia itu—memburuk. Wajah pucatnya semakin pucat, suaranya semakin pelan, bahkan kedua kakinya tidak lagi memiliki tenaga untuk berdiri lebih dari sepuluh menit.
"Kagome," panggil Miroku yang ada di samping Sango pelan. Wajahnya serius tidak seperti biasanya. "Apakah kesehatan Rin-chan dan kondisi anak dalam kandungannya ada kaitan dengan meido seki?"
Pertanyaan Miroku membuat Kagome tertegun. Namun, sejenak kemudian dia menghela napas. "Mungkin—iya."
Diam sejenak, Kagome menelan ludah dan mulai menjelaskan apa yang diketahuinya. "Inukimi-san berpendapat, alasan kenapa anak Rin-chan tidak dapat dirasakan semua orang adalah karena—kekai."
"Kekai?" tanya Kohaku yang juga ada dalam kamar bingung.
"Anak itu tidak dapat dirasakan lagi sejak hari dimana meido seki bersinar karena Rin yang ingin mempertahankannya," ujar Kagome pelan mengingat apa yang terjadi. "Meido seki mungkin bereaksi dengan keinginan kuat Rin-chan, karena itu, dia menciptakan kekai aneh untuk melindungi anak itu dari siapapun juga."
"Jadi menurut kalian, kemungkinan alasan Rin melemah adalah karena meido seki mempertahankan kekai itu?" tanya Miroku lagi. Kedua mata hitamnya menyipit mendengar penjelasn Kagome.
Kagome mengangguk kepala. "Rin-chan adalah manusia tanpa kekuatan spritual. Efek samping dari menggunakan meido seki tidak terhindari.."
Semua yang ada dalam kamar terdiam mendengar penjelasan Kagome. Mereka semua larut dalam pikiran masing-masing akan informasi yang baru mereka dapatkan.
"Jika yang kau katakan kemungkinan benar," ujar Inuyasha yang dari tadi diam membisu tiba-tiba. "Bisakah kalian melakukan sesuatu untuk menghancurkan atau menghilangkan kekai itu?—Rin tidak perlu mempertahankan kekai itu lagi, sebab, tidak ada yang berniat mencelakai anaknya lagi."
Ucapan Inuyasha dengan seketika membuat semua yang ada dalam kamar menoleh kepala menatapnya. Tidak ada yang berniat mencelakai anak dalam kandungannya? Apa inuhanyou ini sedang bercanda?
"Hei!!" teriak Inuyasha kesal dengan reaksi istri dan sahabatnya. Dia tahu apa yang ada dalam pikiran mereka. "Setidaknya tidak ada seorangpun dalam istana ini yang ingin menyakiti anaknya, kan?"
Inuyasha bukan orang bodoh, dia tahu jelas, betapa banyak orang yang ingin mencelakai anak dalam kandungan Rin. Bukankah perang manusia-youkai sudah hampir berkobar karena anak itu?—tapi, itu di luar, bukan dalam istana tanah barat ini.
"Kami sudah mencoba melakukan itu, Inuyasha," balas Kagome kemudian. Kedua matanya hitamnya penuh keputusasaan. "Tapi, Rin-chan sendiri mengatakan bahwa dia tidak bisa melakukan itu."
"Kenapa??" tanya Inuyasha bingung.
"Rin tidak bisa mengendalikan meido seki, dan juga dia mengatakan bahwa dia mempercayai meido seki. Meido seki melakukan sesuatu yang terbaik, dan tidak akan pernah mencelakinya maupun anaknya."
"Hah??" seru semua yang ada bingung mendengar jawaban Kagome. Mata mereka semua terarah pada miko masa depan tersebut.
"—Rin mempercayai keputusan meido seki."
Meido seki itu hidup, semua orang tahu. Namun, apa sebenarnya meido seki itu, berbahaya atau tidak, sampai sekarang tidak ada yang tahu, hanya saja, keadaan Rin sejak awal kehamilan hingga sekarang selalu membuat semua orang mau tidak mau berpikir meido seki bukanlah sesuatu yang dapat dipercayai sepenuhnya.
"Ugh," gerutu Inuyasha putus asa dan menggaruk kepalanya. "Kenapa Rin selalu mempercayai mereka yang tidak seharusnya dipercayai?—Lihatlah, dia bahkan mempercayai serigala berengsek itu!!"
Terdiam, semua yang ada dalam kamar tahu, serigala berengsek yang diucapkan Inuyasha tidak lain adalah; Akihiko sang penguasa tanah selatan yang sampai sekarang masih berada dalam istana tanah barat.
Keberadaan Akihiko di istana tanah barat sebenarnya sangatlah membingungkan, dan tidak ada seorangpun dalam istana yang menyambut kedatangannya kecuali, Rin. Terlebih lagi saat seisi istana tahu tujuan youkai serigala itu adalah merebut kisaki mereka.
Kemarahan dan ketidak sukaan seisi istana terlihat jelas. Namun, mereka juga tidak bisa melakukan apa-apa, sebab Sesshoumaru yang merupakan penguasa tanah barat serta suami dari Rin sendiri juga tidak melakukan apa-apa.
"Aku tidak mengerti kenapa Sesshoumaru tidak mengusirnya!" lanjut Inuyasha kesal sambil melipat kedua tangannya di dada. "Kalau aku adalah Sesshoumaru, aku tidak akan berdiam diri dan membiarkannya berada di sekitar Rin."
Kagome, Miroku, Sango dan Kohaku tidak tahu harus mengatakan apa dengan ucapan Inuyasha. Tapi, jauh dalam hati, mereka tidak setuju dengan apa yang dikatakan inuhanyou. Sebagai manusia, mereka sesungguhnya bersyukur jika Sesshoumaru bisa mentoleransi kahadiran Akihiko sekarang. Mereka jelas tidak mau kedua daiyoukai itu saling membunuh dan mengobarkan api perang barat-selatan lagi. Jangan menambah masalah lagi, di mana masalah sudah sangat banyak.
"Semuanya," panggil Kohaku pelan. "Aku akan ke kota manusia. Aku akan mencari informasi dan mengamati perkembangan keadaan."
Kohaku telah tiba di istana tanah barat seminggu yang lalu, dan dalam seminggu ini, baik dirinya maupun Kagome, Miroku dan Sango terus memikirkan cara untuk menghentikan perang. Namun, bagaimana mereka memeras pikiran mereka, mereka tetap tidak menemukan jawaban. Taijiya muda itu sudah mulai frustasi, dan daripada berdiam diri, dia merasa akan lebih berguna jika dia mengumpulkan informasi di kota manusia.
"Keh," cibir Inuyasha dan menatap Kohaku. "Tidak perlu membuang waktu dan tenaga, Kohaku. Biarkan saja para manusia bodoh itu datang."
Ucapan Inuyasha membuat Kohaku, Kagome, Miroku dan Sango menoleh wajah mereka menatap inuhanyou.
"Sesshoumaru akan menyelesaikan masalah ini. Biarkan para manusia itu mendapatkan pelajaran. Kita cukup menjadi penonton."
Ucapan Inuyasha membuat Kagome, Miroku, Sango dan Kohaku tertegun. Jawaban inuhanyou itu membuat mereka tahu, jika perang manusia-youkai pecah, dia tidak akan berpihak pada manusia. Namun, mereka juga tidak bisa menyalahkan keputusan itu. Manusia yang menolak keberadaan Rin dan anak dalam kandungannya yang seorang hanyou. Sebagai seorang hanyou juga, bagaimana bisa dia berpihak pada manusia?
Lalu, untuk mereka, meski kesalahan memang terletak pada para manusia, sebagai manusia, baik Kagome, Miroku, Sango dan Kohaku—mereka juga tidak bisa membiarkan perang seperti ini terjadi, kan?
....xOxOx....
Melangkah pelan, kaki jenjang inuyoukai penguasa tanah barat bergerak maju menuju deretan pohon maple yang ada berada di ujung taman paviliun timur istana tanah barat yang luas. Mata emasnya yang datar tanpa emosi dapat melihat daun-daun pohon yang sudah berubah menjadi kuning, begitu juga dengan udara yang mulai mendingin.
Nama no naka
Kaze no naka
Yume no naka
Dalam taman pohon maple yang sunyi, suara pelan dan indah bagaikan dentingan lonceng terdengar memenuhi taman.
Sesshoumaru-sama doko ni iru
Jakken-sama wo shita naete
Sepasang mata emas inuyoukai itu melembut saat pandangannya kemudian jatuh pada sosok seorang wanita yang duduk di atas matras sambil menyandarkan badannya pada batang pohon maple.
Dengan kedua mata yang tertutup, wanita itu mengangkat kepala menghadap langit musim gugur di atas. Cahaya matahari sore menyinari wajahnya. Rambut panjang hitam tanpa bintangnya, bulu mata yang panjang, hidung yang mancung, kulit yang putih bagaikan salju, serta seulas senyum indah—meski terlihat sangat pucat, wanita itu tetap saja selalu; menawan.
Duduk sendirian dalam taman, meski badannya yang mungil ditutupi selimut yang tebal untuk mengusir hawa dingin, mata emas inuyoukai itu tetap bisa melihat, perut besar wanita manusia itu, serta jari jemari yang terus mengelusnya penuh kasih sayang.
Watashi wa hitori de machimashou
Shura wa hitori de machimashou
Wareware wa hitori de machimashou
Setiap lirik yang dinyanyikan wanita itu membuat hati inuyoukai penguasa tanah barat itu terasa sangat hangat. Wanita yang selalu menunggunya, serta anak mereka yang juga sedang menunggunya—mereka yang paling berharga dalam keberadaannya.
Sesshoumaru-sama omodori wo
Perlahan, kedua mata wanita manusia yang tertutup itu terbuka. Memperlihatkan sepasang mata berwarna coklat yang sangat jernih. Senyum indah di wajahnya semakin melebar saat dia melihat inuyoukai yang berjalan ke arahnya.
"Sesshoumaru-sama.."
__ADS_1
Sesshoumaru, inuyoukai itu berjalan mendekati wanita itu. Berjongkok ke bawah, dia mengangkat tangan kanan menyentuh pipinya lembut.
"Rin," panggil Sesshoumaru pelan. Kerutan kecil muncul di dahinya saat dia merasakan betapa dinginnya pipi wanita manusia itu. "Kenapa kau ada di sini?"
"Rin ingin melihat pohon maple dalam musim gugur, Sesshoumaru-sama. Rin tidak ingin mengurung diri dalam kamar terus." Rin tertawa menjawab pertanyaan Sesshoumaru. "Dan, tenang Sesshoumaru-sama, Kiri-sama yang mengendong Rin kemari. Rin tidak berjalan kemari sendirian."
Sesshoumaru tidak mengatakan apa-apa mendengar ucapan Rin. Tanpa dijelaskan, sebenarnya inuyoukai itu sudah tahu, dan walau terlihat sendirian dalam taman maple ini, Kiri dan Kira sebenarnya sedang bersembunyi dengan menghilangkan aura keberadaan untuk mengawasi kisaki mereka yang ingin menikmati musim gugur sendirian.
Keinginan Rin yang ingin berada di luar kamarnya, Sesshoumaru sebenarnya sangat mengerti. Sejak kehamilannya tidak bisa dipredeksi, wanita manusia ini selalu berada dalam kamar tanpa pernah menginjakkan kaki keluar. Untuk wanita manusia yang sejak kecil berada dalam alam bebas penuh semangat, terkurung dalam kamar pastilah sangat tidak nyaman. Tapi, penguasa tanah barat itu juga tidak berani mengambil resiko yang dapat membahayakan kedua orang paling penting baginya.
"Rin tidak apa-apa, Sesshoumaru-sama," jari jemari Rin bergerak menyentuh tangan Sesshoumaru yang ada di pipinya. Tersenyum lembut, dia menutup matanya. "Rin merasa damai dan sangat senang sekarang."
Senyum lembut di wajah Rin membuat Sesshoumaru mengehela napas pelan. Perlahan, dengan hati-hati, dia kemudian bergarak dan mengangkat badan mungil itu.
Duduk di tempat di mana Rin duduk tadi, Sesshoumaru menempatkan punggung wanita itu tepat di depannya. Kedua tangannya pelahan melingkar perut besar yang ada, begitu juga dengan moko-mokonya yang bergerak menyelimuti wanita manusia itu.
Rin tertawa kecil dengan sikap Sesshoumaru. Menyandarkan punggungnya pada dada Sesshoumaru, dia menutup mata dan membiarkan kehangatan dan bau dari pria yang sangat dicintainya menyelimuti dirinya.
"Sesshoumaru-sama," panggil Rin pelan. Kedua tangannya kembali bergerak menyentuh tangan Sesshoumaru yang ada di perutnya. Rasa ngantuk yang luar biasa tiba-tiba memenuhi diri kisaki tanah barat itu. Menutup mata, suaranya semakin pelan. "Rin dan Shura tidak apa-apa, jangan khawatir..."
Sesshoumaru mempererat pelukannya dengan hati-hati mendengar suara Rin yang pelan. Menatap kedua mata wanita yang dicintainya tertutup serta napasnya yang damai, penguasa tanah barat tahu, kisakinya telah tertidur. Menutup mata, dia kemudian mencium keningnya lembut.
Jangan khawatir.
Sejak dulu hingga sekarang, Rin selalu mengatakan sesuatu yang bodoh, begitu juga dengan sekarang. Jangan khawatir, Sesshoumaru ingin sekali bertanya pada wanita yang tertidur damai dalam pelukannya; bagaimana dirinya tidak khawatir?
Kehamilan Rin yang tidak dapat dipredeksi, tidak ada yang tahu apa yang terjadi dengan anak dalam kandungannya sampai sekarang, begitu juga dengan ke depannya. Tidak peduli apa yang mereka lakukan, baik Inukimi, Kagome dan Jinenji tetap tidak dapat merasakan keberadaan anak dalam kandungan wanita manusia itu.
Namun, yang mungkin paling menghawatirkan semua orang adalah kenyataan bahwa; Rin yang semakin melemah. Memasuki musim gugur, secara perlahan, semua orang bisa melihat jelas waktu tidur Rin yang semakin memanjang, wajahnya yang semakin pucat, suaranya yang semakin melemah, hingga kakinya yang tidak lagi memiliki tenaga untuk berdiri lama. Ramuan, obat, segala cara telah dilakukan, namun, kesehatan Rin tetap saja sama; terus melemah dari hari ke hari.
Siapa yang paling takut dengan keadaan itu? Kenyataannya sesungguhnya, Sesshoumarulah yang paling takut. Tiap hari, sebisa mungkin jika tidak ada keperluan mendesak, dia tidak akan meninggalkan Rin. Dia menyelesaikan semua tugasnya di kamar mereka menemani wanita manusia itu, dan setiap malam, dia akan melaluinya dengan memeluk wanita itu, menatap wajahnya hingga pagi tiba.
Inuyoukai yang tidak kenal takut itu ketakutan setiap hari. Dia takut menutup mata, dia tidak ingin jika dia menutup dan membuka mata pada suatu pagi, dia akan menemukan wanita yang begitu dicintainya menghilang bagaikan embun. Kegelapan yang tidak berujung. Kegelisahan, ketakutan dan ketidak berdayaan—perasaan yang bercampur menjadi satu itu sungguh ingin membuat menjadi; gila.
Yang menjadi benang kewarasan Sesshoumaru sekarang hanyalah senyum-tawa di wajah itu, kehangatan badan dan sentuhan lembut itu, dan mungkin juga; tanda yang mengikat mereka berdua.
Dua jantung yang kini berubah menjadi tiga jantung, berdetak bersamaan; jantung Sesshoumaru, jantung Rin dan juga meido seki. Dia tahu, jantung wanita itu masih berdetak dengan kuat seperti jantungnya—Rinnya masih hidup.
Masih menatapan Rin, tangan kanan Sesshoumaru bergerak membelai rambut hitam wanita yang tertidur tenang itu lembut.
Siapa yang paling tidak takut sekarang?—jawabannya adalah; Rin. Wanita itu tahu keadaannya yang tiap hari makin melemah, akan tetapi, dia tetap tersenyum dan tertawa. Tidak pernah dia berhenti mengatakan dan menyakinkan pada semua orang jika dia tidak apa-apa, bahwa; semua akan baik-baik saja.
Sifat optimisnya dan keberaniannya, tidak ada yang tahu dari mana tubuh mungil itu mendapatkan itu semua. Rin yang selalu mengagumkan, selalu berbeda, menyilaukan—Sesshoumaru sungguh tidak bisa kehilangannya. Semakin kau mencintai seseorang, kau akan semakin takut kehilangannya. Dunia tanpa orang yang kau cintai—betapa menakutkannya dunia seperti itu.
Aura seorang youkai yang kuat tiba-tiba bergerak mendekati taman pohon maple, dan dua orang youkai yang memang dari tadi bersembunyi mengawasi kisaki tanah barat meloncat keluar dan mendarat tidak jauh di depan pasangan penguasa tanah barat; Kiri dan Kira.
Sesshoumaru tahu siapa yang mendekati mereka, namun, dia tidak peduli. Kedua mata emasnya masih menatap Rin yang tertidur damai dalam pelukannya.
Mata Kiri dan Kira menatap tajam sosok youkai serigala yang kemudian mucul di depan mereka. Youkai itu tidak lain adalah, Akihiko, sang penguasa tanah selatan. Kedua ujung bibir pengawal pasangan penguasa tanah barat terangkat memperlihatkan taring panjang yang ada.
Akihiko tidak mempedulikan reaksi Kiri dan Kira, dia terus berjalan mendekati mereka. Berhenti dan berdiri tidak jauh dari Kiri serta Kira, mata biru langitnya menatap lurus Sesshoumaru yang tidak mempedulikannya sedikitpun.
"Sampai kapan kau akan membiarkan Rin seperti ini, anjing?" tanya Akihiko datar, begitu juga dengan wajahnya; datar tanpa ekspresi.
Akihiko sudah tahu semua yang terjadi dengan kehamilan Rin. Selama berada di istana tanah barat, dia telah mengamati semua yang terjadi, dan dia tidak dapat menerima keputusan Sesshoumaru.
"Kau lebih memilih pewarismu daripada Rin?"
Sesshoumaru tetap tidak menjawab pertanyaan Akihiko. Diam membisu, dia tidak menatap penguasa tanah selatan itu seakan daiyoukai itu memang tidak ada di sana.
"Kau akan membiarkan Rin mati???" tanya Akihiko lagi, suaranya meninggi, begitu juga dengan mata biru langitnya yang kini bersinar penuh kemarahan.
Akihiko tidak mengerti keputusan Sesshoumaru. Tapi, jika di berada di posisi inuyoukai itu, dia tahu apa yang harus dipilih, yaitu; Rin. Tidak peduli bagaimana wanita manusia itu menolak, dia akan memastikan dan melakukan segala cara untuk mengugurkan anak dalam kandungan itu, sebab di dunia ini, tidak ada yang lebih penting selain Rin.
Pertanyaan demi pertanyaan Akihiko membuat Sesshoumaru menutup mata. Antara Rin dan Shura, antara istri dan anak, Akihiko bertanya tanpa mengetahui apa-apa. Youkai serigala itu bisa bertanya demikian, karena dia tidak berada dalam posisinya.
Siapa yang lebih penting? Tidak ada jawaban untuk pertanhaan itu, karena kedua-duanya sama pentingnya.
"Rin terlalu bagus untukmu, anjing," lanjut Akihiko lagi. Pandangan penuh kemarahannya menjadi sangat tajam. "Kau tidak pantas untuknya."
Sesshoumaru tahu apa yang dikatakan Akihiko benar, Rin terlalu bagus untuknya. Namun, di dunia ini, siapa yang pantas untuk wanita manusia demgan jiwa semurni ini?—tidak ada seorangpun yang pantas.
Membuka mata, Sesshoumaru membalas tatapan Akihiko lurus. "Kau juga tidak pantas untuknya, serigala."
Ucapan Sesshoumaru membuat Akihiko tertegun. Kemarahan dalam hatinya semakin mebesar mendengar ucapan itu. "Setidaknya aku tidak akan membiarkan dia mati sepertimu."
"Jaga ucapanmu, serigala." sela Kiri pelan. Kedua mata emasnya berubah menjadi merah darah, dan dia menggeram penuh kemarahan, begitu juga dengan Kira.
Sesshoumaru sekali lagi tidak mempedulikan ucapan Akihiko, dia hanya kembali menatap Rin yang tertidur. Menggerakkan tangan kanannya yang membelai rambut hitam ke pipi wanita yang bergitu berharga baginya, matanya emasnya melembut. "Rin tidak akan mati, begitu juga dengan putra kami—mereka akan hidup. Sesshoumaru ini mempercayai Rin."
Akihiko tertawa mendengar ucapan Sesshoumaru yamg di luar dugaan. Percaya? Hanya karena dia percaya ucapan Rin, dia berani bermain dengan nyawa wanita manusia itu?
Menatap Sesshoumaru lagi, Akihiko tersenyum menyeringai penuh penghinaan. "Jika kepercayaanmu itu terbukti salah, apa yang akan kau lakukan?"
Pertanyaan Akihiko membuat Sesshoumaru tertegun. Seketika penguasa tanah barat itu sadar, dia mempercayai perkataan Rin yang mengatakan dirinya dan anak mereka yang akan hidup, tapi, dia tidak pernah memikirkan apa yang akan dilakukannya jika itu ternyata terbukti; salah.
Untuk Rin yang terus menyakinkan dirinya semuanya akan baik-baik saja, Sesshoumaru tidak pernah memberitahu wanita itu, apa konsekuensinya jika ternyata dia tidak bisa menepati ucapannya itu.
Setiap kepercayaan ada konsekuensinya, terlebih lagi kepercayaan yang dijanjikan padanya Sesshoumaru, sang penguasa tanah barat.
Apa yang akan dia lakukan jika di kehilangan Rin dan anak mereka? Apa konsekuensi jika wanita manusia ini tidak dapat menepati ucapannya?—Ah, Sesshoumaru harus memberitahu wanita yang dicintainya ini.
Tidak ada yang lebih berharga dari pada Rin dan anak mereka di dunia ini; tidak ada yang lebih penting dari mereka berdua.
Lalu, dibandingkan dengan siapapun di dunia ini, tidak ada seorangpun yang lebih berhak untuk bahagia dibandingkan wanita manusia ini. Karena itu, jika dunia ini tidak mengijinkan wanita manusia ini untuk bahagia—dunia ini tidak diperlukan lagi.
Dunia yang tidak memiliki Rin bukanlah dunia lagi. Jika senyum dan tawa wanita itu menghilang dari dunia ini, jika dia yang merupakan keberadaan terpenting di dunia ini benar-benar menghilang, maka—dengan kedua tangannya sendiri, Sesshoumaru akan menghancurkan dunia yang seperti itu.
Ya! Tidak ada yang berhak bahagia selain Rin. Jika Rin dan anak mereka tidak bisa hidup, maka, tidak ada seorangpun di dunia ini yang pantas hidup. Rin dan anak mereka adalah poros dunia ini, konsekuensi jika Rin tidak dapat menepati janjinya adalah; kehancuran dunia.
Tidak mempedulikan Akihiko, Kiri maupun Kira, Sesshoumaru kemudian tertawa pelan. Tersenyum bahagia, kedua mata emasnya menatap Rin lembut, namun, tidak dapat dipungkiri penuh kegilaan. "Jika kepercayaan itu terbukti salah, maka Sesshoumaru ini akan menghancurkan dunia ini berserta isinya."
Konsekuensinya apabila Rin tidak dapat menepati ucapannya, Sesshoumaru tahu, dia harus memberitahu wanita manusia ini. Jika Rin dan anak mereka menghilang dari dunia ini, maka dunia dan seluruh isinya juga akan ikut menghilang bersama dengan mereka.
__ADS_1
....xOxOx....