Till The End Of Time [ Inuyasha Fanfiction ]

Till The End Of Time [ Inuyasha Fanfiction ]
Chapter 67


__ADS_3

Saat Rin membuka mata, dia merasakan dirinya berada di tempat yang sangat asing baginya. Langit-langit di atasnya terasa sangat rendah, dan angin yang berhembus menerpa wajahnya terasa sangat kuat.


"Kau sudah bangun, Rin-chan?" suara Kagome membuat Rin segera bangkit dan mengucek-ngucek mata.


"Selamat pagi, Rin-sama, apakah tidur anda nyenyak?" suara lembut dan asing seorang wanita terdengar, membuat Rin bingung. Namun, kebingungan itu dengan segera berubah menjadi terkejut.


"D-di mana ini??" tanya Rin dengan mata terbelalak.


Rin tidak berada di rumah Inuyasha lagi, melainkan di dalam sebuah tandu besar yang melayang di atas langit. Tandu tersebut sangat besar hingga Inuyasha, Kagome, Miroku, Sango dan seorang youkai wanita bisa duduk di dalam bersamanya.


"Perkenalkan, nama hamba, Hanako, Rin-sama," youkai wanita itu tersenyum memperkenalkan dirinya. "Dan, kita sekarang berada dekat perbatasan barat dan selatan."


Jawaban dari Hanako dengan segera membuat Rin bingung. "P-perbatasan barat selatan?"


"Iya, perbatasan barat selatan, Rin-sama," ulang Hanako. Dengan senyum yang tetap di wajah, youkai itu menoleh keluar. "Bawa sarapan pagi Rin-sama masuk."


Dari luar tandu seorang youkai wanita tiba-tiba masuk dengan sebuah meja kecil berisi makan. Meletakkannya di depan Rin, youkai itu memberi hormat dan mengundurkan diri keluar dari dalam tandu.


Rin menatap sarapan pagi yang disediakan youkai tersebut penuh kebingungan. Apa yang terjadi? Apa dia masih bermimpi? Tapi, semuanga terasa sangat nyata. Dan yang paling penting, kenapa dia bisa berada di sini sekarang?


"K-kagome-sama, Inuyasha-sama, Miroku-sama dan Sango-sama, apa yang terjadi?" tanya Rin menatap Inuyasha dan yang lainnya.


"Ehmm," gumam Kagome pelan. Miko masa depan itu sesungguhnya juga cukup kebingungan bagaimana menjelaskan pada Rin apa yang terjadi. "Semala–"


"Kita dalam perjalanan menuju istana tanah selatan." potong Inuyasha ketus. Kedua tangannya telipat di dada, sedangkan mata emasnya terlihat tidak suka. "Dan kita berada dalam tandu yang dikirim serigala berengsek itu untuk menjemputmu."


"Eh??" seru Rin semakin bingung.


"Maksud Inuyasha itu Akihiko, sang penguasa tanah selatan, Rin-chan," jelas Miroku sambil memukul pundak Inuyasha yang berwajah kesal. "Jangan berwajah seperti itu, Inuyasha. Kau akan menakuti Hanako-san dan wanita-wanita cantik di luar."


"Jaga sikap dan mata keranjangmu, suamiku," ujar Sango. Tangan kanannya dengan cepat mencubit pipi Miroku. "Atau kau akan kulempar keluar dari tandu ini."


"Jangan seperti itu, istriku," senyum Miroku seakan ancaman Sango tidak ada artinya. "Aku kan cuma ingin mencairkan wajah ketus Inuyasha."


Inuyasha mendengus pelan dan membuang muka melihat sikap Miroku dan sango. Kagome hanya tersenyum kecil melihat pemandangan tidak asing di sampingnya.


Ya, mereka semua memang dalam perjalanan menuju istana tanah selatan sekarang. Apa yang terjadi semalam masih diingat jelas olehnya. Inukimi yang dengan mudah dan penuh senyum menerima undangan Akihiko dan membawa Rin yang sedang tertidur ke dalam tandu.


Tidak peduli apa yang dikatakan Inuyasha dan yang lainnya, inuyoukai mantan penguasa tanah barat itu tetap tidak peduli. Hingga akhirnya, mau tidak mau mereka terpaksa ikut dalam perjalanan ini.


Apa yang direncanakan selatan hingga mengundang Rin seperti ini, Inuyasha dan yang lainnya tidak mengerti. Tapi, mereka tidak bisa membiarkan gadis manusia itu ke selatan begitu saja, meski Inukimi bersamanya. Bagaimana kalau selatan ingin menyandera Rin lagi? Bagaimana jika selatan berniat buruk dan melukai Rin?


Untungnya, Hanako dan youkai lainnya dari selatan tidak keberatan sedikitpun dengan Inuyasha dan yang lainnya untuk bergabung dengan rombongan mereka.


Menitipkan Shiro, Aya, Maya dan Mamoru pada Kaeda, Inuyasha dan yang lainnya hanya dapat diam menerima pandangan sedih bercampur kesal anak-anak karena ditinggalkan. Sebab, mereka tidak berani mengambil resiko yang mungkin bisa membahayakan buah hati mereka.


"D-di mana Ibunda?" tanya Rin lagi, sadar bahwa dia tidak melihat keberadaan mantan penguasa tanah barat tersebut.


"Inukimi-san pergi meninggalkan pesan untuk Sesshoumaru bahwa kalian akan menuju istana tanah selatan semalam," jelas Sango kemudian dan melepaskan tangan yang sedari tadi mencubit pipi Miroku. Tersenyum, taijiya itu berusaha menenangkan Rin yang masih kebingungan. "Dia akan bergabung dengan kita secepatnya."


Jawaban Sango tidak membuat Rin tenang seperti yang diharapkannya.  Malahan, wajah gadis manusia itu memucat. "T-tidak!!" teriaknya tiba-tiba.


Teriakan serta wajah pucat Rin seketika membuat Inuyasha, Kagome, Miroku, Sango dan juga Hanako terkejut.


"R-rin tidak bisa ke tanah selatan!!" ujar Rin lagi cepat penuh kepanikan. "Sesshoumaru-sama tidak mengijinkan Rin ke tanah selatan!!"


Suara dingin dan ekspresi penuh kemarahan Sesshoumaru terpampang jelas dalam pikiran Rin, membuatnya takut. Bagaimana kalau inuyoukai itu semakin marah padanya? Bagaimana kalau inuyoukai itu mengusirnya karena dia telah melanggar perintahnya?–dia tidak mau!


Inuyasha memang tidak menyukai ide Inukimi yang mengijinkan Rin mengunjungi Selatan dengan begitu mudahnya. Namun, mendengar dari mulut gadis di depannya ketidak ingin mengunjungi selatan karena Sesshoumaru, dia juga merasa tidak suka. Apa yang sudah dilakukan inuyoukai berengsek itu pada Rin yang sudah bagaikan keluarganya, dia tidak bisa membiarkannya begitu saja.

__ADS_1


"Rin, tenanglah, tidak apa-apa." ujar Kagome pelan. Bersama dengan Sango mendekati Rin, mereka berusaha menenangkan gadis manusia yang terlihat semakin ketakutan dan panik.


Dengan tangannya yang gemetaran, Rin segera memangkap tangan Kagome dan mengengamnya erat. Matanya mati-matian menahan air mata yang kembali menumpuk. "Kagome-sama, Rin ingin pulang. R-rin mohon, jangan bawa Rin ke selatan."


Sikap dan ekspresi Rin membuat semua yang ada sangat terkejut. Ekspresi wajah ini adalah ekspresi wajah yang tidak pernah dilihat mereka selama ini. Gadis manusia itu tidak pernah menangis atau ketakutan hingga seperti ini meski nyawanya diujung tanduk, kenapa dia seperti ini sekarang?


"Rin, tenang," ujar Sango, tanganya dengan pelan mengelus punggung gadis manusia itu. "Tenanglah."


"Ada apa, Rin kecil?" suara Inukimi tiba-tiba terdengar dari luar tenda.


Mengkat kepala, mata Rin menemukan Inukimi berjalan masuk dengan wajah kebingungan.


Tidak mempedulikan Kagome dan Sango, Rin mendorong meja yang menyediakan sarapan paginya dan bangkit berdiri. Mendekati Inukimi, dia mengenggam erat tangan inuyoukai itu. "I-ibunda, Rin tidak mau ke selatan, Rin ingin pulang. Anda tahu, Sesshoumaru-sama tidak mengijinkan Rin ke selatan."


Inukimi menatap Rin. Ekspresi ketakutan dan panik di wajah putri manusianya mau tidak mau membuat dia menghela napas. Gadis manusia ini pasti teringat dengan larangan dari Sesshoumaru untuk tidak mengunjungi selatan. Meski terpisah jauh, sepertinya inuyoukai penguasa tanah barat itu tetap memenuhi seluruh pikiran gadis ini.


"Tidak apa-apa," balas Inukimi pelan, mata emasnya menatap Rin lembut. "Kita tetap akan ke selatan. Itu lebih baik untukmu sekarang Rin kecil. Aku sudah mengirimkan pesan kepada Sesshoumaru."


"Tidak!!" protes Rin cepat. Air mata mengalir turun, wajahnya semakin pucat, dan tiba-tiba, napasnya menjadi tidak beraturan. Melepaskan tangan Inukimu, gadis manusia itu terduduk ke bawah sambil mengenggam erat dada kimononya. Rasa sakit yang luar biasa menyerang jantungnya.


"Rin!" kepanikan segera memenuhi tenda tersebut.


Berlari mendekati Rin, Kagome segera memeriksa nadi gadis itu. Dia bisa merasakan jantung Rin berdetak tidak normal.


Tangan Rin tiba-tiba menarik lengan Kagome. Mata coklat besarnya menatap penuh keputusasaan pada miko masa depan itu, napasnya semakin tidak teratur. "K-kagome-sama, Rin ingin pulang.."


"Rin, tenanglah." ujar Kagome lagi, tangannya menepuk-nepuk punggung  Rin, seakan berusaha membimbing napas gadis itu. "Jangan berbicara dulu, bernapaslah dengan tenang."


Namun, Rin tidak mendengar ucapan Kagome. Dia semakin panik, begitu juga dengan napasnya yang tidak beraturan. Tangan yang mengenggam lengan miko masa depan itu bergetar hebat. "K-kagome-sama, R-Rin moho–"


Dia sudah melanggar perintah Sesshoumaru. Kemarahan sang penguasa tanah barat itu,  Rin tidak berani membayangkannya. Namun dari semua itu, yang paling penting, apa jadinya dia jika inuyoukai itu mengusirnya dan tidak mengijinkan dia tinggal di istana tanah barat lagi? Tidak bisa melihat atau merasakan keberadaannya lagi.


Inukimi yang tidak tahan lagi melihat kondisi Rin, mengangkat tangan untuk memukul belakang leher gadis itu hingga pingsan.


Kagome segera memeluk badan Rin yang kehilangan kesadaran. Memeriksa sekali lagi, dia menghela napas begitu merasa jantung Rin telah kembali berdetak normal seperti biasanya.


"Apa yang terjadi? Kenapa Rin jadi seperti ini?" suara Inuyasha tiba-tiba memecahkan keheningan yang ada. Wajah inuhanyou itu tidak dapat lagi menyembunyikan rasa terkejut dan juga khawatirnya, begitu juga dengan yang lain.


Inukimi tidak membalas ucapan Inuyasha, mata emasnya menatap Rin penuh kekhawatiran. Mengapa Rin jadi seperti ini?–mantan penguasa tanah barat itu juga tidak mengerti. Dia berpikir, jauh dari Sesshoumaru, Rin pasti akan lebih tenang, tapi semuanya seperti pedang bermata dua sekarang.


....xOxOx....


"Itu pesan Inukimi-sama kepada anda, Sesshoumaru-sama. " ujar seorang youkai laki-laki. Dalam ruang kerja penguasa tanah barat,  dengan kepala tertunduk ke bawah, dia berlutut penuh hormat di depan Sesshoumaru dengan Kira dan Kiri di samping.


Sesshoumaru tidak mengatakan apa-apa mendengar pesan yang diucapkan youkai di depannya. Duduk di meja kerjanya, wajah tampan daiyoukai itu tetap tenang tanpa ekspresi dengan kedua mata tertutup rapat.


Youkai yang menyampaikan pesan tetap tidak bergeming, tetapi dia bisa merasakan bahwa udara di sekeliling menjadi sangat berat. Aura berat penuh tekanan terasa sangat kuat dan membuat badannya bergemetaran. Dirinya hanyalah seorang youkai biasa yang tinggal dekat desa manusia di mana Inuyasha tinggal. Dan, dia tidak pernah menyangka bahwa ada hari di mana Inukimi muncul dan memaksanya menyampaikan pesan pada Sesshoumaru.


"Keluar." perintah Sesshoumaru kemudian. Suaranya tetap datar seperti biasa.


Youkai tersebut segera memberi hotmat dan mengundurkan diri keluar dari ruang kerja penguasa tanah barat.


Keheningan kembali memenuhi ruang kerja penguasa tanah barat.  Baik Kira maupun Kiri tidak mengatakan apa-apa, walau ekspresi wajah mereka berdua tidak bisa dikatakan baik. Kedua jari-jemari mereka terkepal kuat menahan kemarahan.


Rin pergi ke tanah Selatan? Lebih tepatnya menuju istana tanah selatan?–Kira dan Kiri tidak mengerti apa yang dipikirkan Inukimi. Apa rencana Akihiko mengundang Rin,  mereka tahu, begitu juga dengan mantan penguasa tanah barat itu sendiri; youkai serigala itu menginginkan gadis manusia itu. Jadi,  kenapa Inukimi dengan suka rela membawa gadis itu ke sana?


Inukimi adalah tuan sebelumnya dari Kira dan Kiri, mereka menghormatinya. Namun, sumpah darah yang telah mereka berikan pada Rin telah membuat gadis manusia itu adalah tuan mereka sekarang setelah Sesshoumaru. 


Tidak ada yang pernah tahu selain Inukimi dan Sesshoumaru, kenyataan bahwa Kira maupun Kira sesungguhnya tidak pernah memberikan sumpah darah mereka pada Inukimi. Sumpah si kembar dari barat adalah kepada penguasa tanah barat, dan setelah Sesshoumaru menjadi penguasa, sumpah itu sudah tidak berlaku bagi Inukimi–daiyoukai itu bukan tuan mereka lagi.

__ADS_1


Karena itu, jika diminta memilih antara Rin dan Inukimi, Kira dan Kiri akan memilih Rin. Mereka tidak akan bisa membiarkan mantan penguasa tanah barat itu bersikap sesukanya dan mencelakai gadis manusia itu.


Sesshoumaru masih menutup mata.  Namun, dalam hati,  dia merasakan kemarahan yang luar biasa. Dan kemarahan itu tertuju pada ibu kandungnya yang dengan seenaknya membawa Rin ke tanah selatan. 


Jangan membuat pilihan yang akan membuatmu menyesal seumur hidup,  Sesshoumaru.


Ucapan Inukimi terlintas dalam pikiran Sesshoumaru, dan itu membuat amarah dalam hatinya menghilang. 


Sesshoumaru tahu, Rin bisa meninggalkan istana tanah barat dan sekarang menuju tanah selatan–dialah penyebabnya. Lalu, dia juga tahu–dia telah salah. 


Pilihan.


Pilihan yang dikatakan Inukimi, Sesshoumaru mulai ragu–apakah dia memiliki pilihan? Dia memaksa dirinya memilih, namun, semuanya sama; dirinya akan tetap kembali ke titik yang sama.


Pilihan yang selalu mengarah pada titik awal bukanlah suatu pilihan. Setiap kali Sesshoumaru memutuskan untuk meninggalkan Rin, melepaskannya–jauh dalam hati; dia tidak bisa. Dia akan kembali mencari sosok gadis itu bagaikan orang bodoh.


Masa depan Rin.


Seperti apa masa depan Rin kalau dia berani menerima uluran tangan mungil itu? Sesshoumaru untuk pertama kalinya memikirkan itu


Apakah Rin masih akan tetap tersenyum?–ataukah dia akan kehilangan senyum? Apakah dia bisa melindungi senyum itu selalu?


Beritahu aku, Sesshoumaru. Apakah ada orang yang ingin kau lindungi?


Pertanyaan terakhir dari Inu No Taisho tergiang dalam kepala Sesshoumaru. Dulu, dia menjawab tidak ada, dan dia merasa selamanya juga tidak akan pernah ada. Namun,  sekarang..


Sesshoumaru-sama


Gadis manusia yang selalu tersenyum memanggil namanya, mengikuti dan menatapnya tanpa takut, lalu; mencintainya–ternyata dia, Sesshoumaru dari barat telah memiliki seseorang yang ingin dilindungi. Dia sudah ingin melindungi Rin saat gadis itu masih sangat kecil. Sejak hari itu; sejak Rin kecil tersenyum padanya dengan wajah penuh lebam dan gigi yang lepas satu.


Sudah cukup. Sesshoumaru tahu sekarang, bahwa semuanya sudah cukup. Tidak ada gunanya dia menghindari atau melepaskan Rin,  tidak ada gunanya dia berusaha melupakan atau membunuh cinta yang tumbuh dalam hatinya–semua akan sia-sia.


Masa depan.


Seperti apa masa depannya dan Rin, apa yang harus dilakukannya ke depan–Sesshoumaru tidak tahu. Tapi, dia memutuskan untuk menghadapinya. Dia tidak mau menghindar dan melukai gadis manusia itu lagi. Karena itu, yang harus dilakukannya sekarang hanyalah satu, yakni; membawa Rin kembali.


Membuka mata emasnya,  Sesshoumaru membuka mulut.  "Kira, Kiri, kita ke selatan."


....xOxOx....


Membuka mata, Rin menemukan dirinya berada dalam satu ruangan yang asing baginya.


Cahaya bulan yang bersinar masuk melalui jendela cukup membuat mata manusia Rin melihat sekeliling dengan jelas. Kamar di mana dia berada adalah sebuah kamar besar dan mewah.


Bangkit dari futon dibawahnya, Rin menoleh kepala ke kiri kanan, berusaha mencari sosok Inukimi,  Inuyasha atau siapapun yang dikenalinya. Namun, sia-sia, hanya ada dirinya seorang saja dalam kamar besar ini.


Berdiri, dengan pelan Rin kemudian melangkah pelan menuju pintu shoji yang tertutup. Membukanya, dia merasakan angin malam membelai pipinya. Lalu, mata coklatnya menangkap jelas pohon-pohon sakura yang bermekaran indah di depan kamar di mana dia berada.


Terpesona dengan indahnya bunga sakura pada malam hari, Rin tidak bergerak sedikitpun.


"Indah, kan, Rin? " suara seorang laki-laki terdengar merebut perhatian Rin yang terkesima dengan bunga sakura di depannya.


Menoleh ke arah sumber suara,  Rin menemukan sosok seorang youkai duduk dengan tenang di samping pintu shoji yang dibukanya.


Cahaya bulan menyinari youkai laki-laki itu, membuat Rin bisa melihatnya jelas. Berambut biru keperakan pendek dengan sepasang mata biru. Dua pasang garis biru di kedua pipi dan seulas senyum lembut di menghiasi wajah tampannya.


"A-akihiko-sama... "


....xOxOx....

__ADS_1


__ADS_2