Till The End Of Time [ Inuyasha Fanfiction ]

Till The End Of Time [ Inuyasha Fanfiction ]
Chapter 80


__ADS_3

Pagi sudah tiba, Sesshoumaru yang duduk di samping Rin mulai merasa khawatir karena gadis manusia itu masih belum sadar. Menoleh matanya pada Kagome yang memeriksa gadis itu, dia membuka mulutnya untuk pertama kali pada pagi ini. "Kenapa Rin belum sadar?"


Kagome menoleh menatap Sesshoumaru dan tersenyum. Pertanyaan ini mengingatkannya pada pertanyaan yang sama tahun lalu saat perang barat selatan usai. "Dia akan segera sadar kakak. Tidak perlu khawatir."


"Percayalah pada Kagome, Sesshoumaru," sela Inuyasha sambil melipat kedua tangan di dada. Kebanggaan memenuhi wajah tampannya. "Kemampuan Kagome itu tidak ada tandingannya."


Wajah Kagome bersemu merah mendengar pujian Inuyasha. Tidak biasanya suaminya itu memuji dirinya seperti itu.


"Ughhh.." suara gumam pelan Rin tiba-tiba terdengar, membuat Sesshoumaru, Inuyasha dan Kagome yang ada dalam kamar segera menatap gadis manusia itu.


Perlahan, mata Rin terbuka. Namun, terangnya pagi hari membuat dia kembali menutup mata.


"Rin-chan, kau sudah bangun?" tanya Kagome pelan sambil menatap Rin.


Suara Kagome membuat Rin membuka matanya lagi. Pandangannya yang masih belum fokus perlahan menjadi fokus, dan yang pertama kali dilihatnya adalah wajah Sesshoumaru di sisi kanan futonnya, serta Inuyasha dan Kagome di sisi kiri.


"S-sesshoumaru-sama, Inuyasha-sama, Kagome-sama?" pangil Rin pelan penuh pertanyaan. Dia tidak mengerti kenapa mereka bertiga bisa di depannya.


Berusaha bangkit dari posisi berbaringnya, Rin menatap bingung mereka bertiga. Namun, Sesshoumaru menggerakkan tangan dan memaksa gadis itu tetap berbaring di atas futon. "Jangan bergerak Rin."


Perintah Sesshoumaru membuat Rin tertegun. Tidak mengatakan apa-apa, gadis itu segera mematuhi inuyoukai itu, walau wajahnya masih penuh kebingungan.


"Bagaimana perasaanmu sekarang, Rin-chan?" tanya Kagome.


"R-rin tidak apa-apa, Kagome-sama." jawab Rin cepat sambil tersenyum.


"Kau tidak merasakan sakit atau sejenisnya, kan, Rin?" tambah Inuyasha cepat. "Katakan pada kami kalau ada yang tidak nyaman."


"Rin baik-baik saja, Inuyasha-sama." Rin kembali menggeleng kepala. Dirinya tidak merasakan kecapekan atau perasaan tidak nyaman. Menoleh pandangan pada Sesshoumaru yang diam membisu, dia melihat mata emas inuyoukai itu menatapnya khawatir.


Tidak bisa menahan kebingungan dalam hatinya lagi, Rin kemudian memutuskan untuk bertanya. "Apa yang terjadi Sesshoumaru-sama, Inuyasha-sama, Kagome-sama?"


Pertanyaan Rin membuat semua yang ada di sana tertegun. Mengernyitkan dahinya, Kagome kembali bertanya. "Kau tidak ingat apa yang terjadi, Rin-chan?"


Pertanyaan Kagome membuat Rin tertegun. Dia berusaha keras memikirkan apa yang terjadi. Rasa sakit tiba-tiba menyerang kepalanya. Mengangkat kedua tangan menekan kepalanya kuat, dia menutup mata. Dia ingat sekilas akan hanami, pembicaraannya dengan Akihiko, meido seki yang bersinar, kedua daiyoukai yang bertarung, lalu-darah merah.


Reaksi Rin seketika membuat kepanikan memenuhi Sesshoumaru, Inuyasha dan Kagome.


"Rin-chan, ada apa?" tanya Kagome cepat.


Rin tidak menjawab pertanyaan Kagome. Namun, perlahan-lahan, sakit kepala yang menyerangnya berangsur sembuh.


"Rin." panggil Sessgoumaru. Meski suaranya datar, Rin bisa mendengar kekhawatiran di dalamnya.


Membuka mata perlahan, Rin menatap Sesshoumaru, Inuyasha dan Kagome. "R-rin tidak apa-apa. Hanya saja tadi, Rin merasa sakit kepala."


"Biarkan aku memeriksamu, Rin-chan." Sela Kagome cepat. Menggerakkan tangan, dia kembali memeriksa Rin yang masih berbaring di atas futon. Namun, sekali lagi, dia tidak menemukan apapun yang salah pada gadis manusia itu.


"Ada apa sesungguhnya dengan Rin, Kagome?" tanya Inuyasha kemudian saat melihat ekspresi serius wajah Kagome.


Kagome tidak mempedulikan pertanyaan Inuyasha. Dia menatap Rin dan menghela napas. "Mungkin kau masih trauma dengan apa yang terjadi, Rin-chan. Jangan memaksa diri mengingat sesuatu yang tidak bisa kau ingat."


Rin mengangguk kepala. Menoleh menatap Sesshoumaru, perasaan bersalah memenuhi hatinya saat dia melihat mata inuyoukai itu yang masih penuh kekhawatiran. Tersenyum kecil menyakinkan, tangan Rin bergerak meremas meido seki yang ada di dadanya. "Rin tidak apa-apa Sesshou—"


"R-rin, kau bisa menyentuh benda itu?" potong Inuyasha tiba-tiba. Kedua matanya terbelalak menatap Rin dapat menyentuh miedo seki yang tidak dapat disentuh siapapun termasuk Inukimi dan Sesshoumaru.


"Eh?" kebingungan Rin menoleh wajah pada Inuyasha. Dia bisa melihat jelas wajah kebingungan inuhanyou itu, begitu juga Kagome yang ada di sampingnya.


"Rin, lepaskan meido seki." Perintah Sesshoumaru tiba-tiba. Kedua matanya bersinar tidak suka melihat meido seki yang kini digenggam Rin erat.


Perintah Sesshoumaru membuat mata Rin terbelalak. Dia kembali menoleh kepalanya dengan pandangab tidak percaya menatap inuyoukai itu.


"Lepaskan meido seki, Rin." ulang Sesshoumaru sekali lagi. Mengulurkan tangannya, dia menunggu gadis itu melepaskan dan menyerahkan meido seki padanya.


"K-kenapa?" tanya Rin terbata-bata. Dia bisa melihat jelas keseriusan di wajah Sesshoumaru.


"Rin." Panggil Sesshoumaru. Nada suaranya semakin memberat tanda dia tidak menginginkan gadis itu melawan perintahnya.


Namun, Rin tidak melepaskan meido seki. Gadis manusia itu tiba-tiba bangkit dari posisi berbaringnya. Terduduk diam, tangannya bergemetaran dan jantungnya berdetak cepat.


Melepaskan meido seki? Sessgoumaru memintanya melepaskan meido seki dan menyerahkannya. Rin tahu, dia harus menuruti perintah itu. Tapi—tidak!

__ADS_1


Rin tidak tahu apa yang terjadi, tapi jauh dalam hatinya dia tahu, dirinya tidak boleh melepaskan meido seki. Jika dia melepaskan meido seki maka—


Waktu yang berhenti sudah kembali bergerak.


Ketakutan luar biasa menyerang Rin. Wajahnya memucat dengan cepat dan badannya bergemetaran hebat. "R-rin tidak bisa Sesshoumaru-sama.."


Sikap Rin jelas membuat Sesshoumaru, Inuyasha dan Kagome khawatir. Mereka bisa merasakan sesuatu yang salah pada gadis manusia itu sekarang.


"R-rin tidak tahu.. T-tapi, Rin tidak bisa melepaskan meido seki.." ulang Rin lagi, wajah pucatnya semakin pucat. Kedua mata coklatnya yang penuh ketakutan menatap lurus Sesshoumaru.


Menatap ekspresi ketakutan Rin sekarang, Sesshoumaru segera mendekap gadis manusia itu, tidak mempedulikan Inuyasha maupun Kagome. "Rin, tenang."


Rin membalas pelukan Sesshoumaru dengan sama eratnya dan mengangguk kepala. Perlahan, gemetaran di badan mungil itu kemudian mulai terhenti. Detak jantungnya yang cepatpun kembali normal.


Inuyasha dan Kagome tidak mengatakan apa-apa melihat Sesshoumaru dan Rin. Lalu, saat inuyoukai penguasa tanah barat melepaskan pelukannya, mereka melihat gadis manusia itu sudah kembali tertidur dengan tenang.


Membaringkan Rin lagi di atas futon, Sesshoumaru menatap khawatir gadis manusia itu. Kagome sendiri tidak membuang waktu, dengan cepat, dia memeriksa Rin.


"Rin-chan, tidak apa-apa. Dia hanya tertidur." Ujar Kagome kemudian dan menghela napas. Matanya teralih pada meido seki di dada Rin. "Tapi, sepertinya kita tidak bisa memisahkan meido seki dengannya sekarang."


"Cih, apa-apaan meido seki ini!?" berdecak tidak suka, Inuyasha ikut menatap tidak suka meido seki yang tidak bergerak sama sekali.


Sesshoumaru tidak mengatakan apa-apa, tetapi, kedua matanya yang menatap Rin turun menatap meido seki. Kemarahan memenuhi hatinya, namun kemarahan itu diikuti juga ketidak berdayaan. Apa yang sebenarnya terjadi pada Rin dia tidak tahu, tapi dia yakin, penyebabnya adalah meido seki. Ketakutan di wajah Rin barusan adalah karena pusaka youkai itu, dan dirinya tidak bisa melakukan apa-apa.


....xOxOx....


Inukimi duduk di atas atap istana tanah selatan. Kedua mata emasnya menatap langit biru di atas. Wajahnya datar dan tanpa ekspresi, tapi pikirannya penuh dengan pertanyaan akan apa yang dilihatnya semalam.


Merasakan aura seseorang yang tidak pernah asing baginya, Inukimi kemudian membuka mulutnya tanpa menolehkan kepala. "Ada apa, Sesshoumaru?"


Yang kini berada di belakang Inukimi tidak lain adalah Sesshoumaru. Penguasa tanah barat itu berdiri di belakang ibu kandungnya tersebut dengan wajah yang sama datarnya.


"Sesshoumaru ini ingin mengetahui semua tentang meido seki." Jawab Sesshoumaru kemudian. Dia tidak bergerak sedikitpun di tempatnya berada.


Jawaban Sesshoumaru membuat Inukimi terdiam. Tidak menurunkan kepalanya yang menatap langit biru, mantan penguasa tanah barat kemudian menutup mata. "Tidak ada yang bisa kuberitahu lagi mengenai meido seki padamu, Sesshoumaru."


Inukimi sudah mendengar cerita tentang apa yang terjadi pada Rin dan  meido seki saat di sadar tadi pagi. Namun, dia tidak tahu harus berbuat apa, semuanya kini bergerak diluar dugaannya.


Pertanyaan Sesshoumaru membuat Inukimi terdiam. Dia jelas tahu apa maksud putranya itu. Meido seki sangat berbahaya bagi Rin sekarang bukan karena akan melemahkan gadis itu jika menggunakannya, melainkan; jika kenyataan Rin bisa menggunakan meido seki tersebar ke seluruh jepang.


Kekuatan meido seki yang dapat menghidupkan mereka yang mati dan mengontrol semua elemen–itu adalah kekuatan yang tidak ada tandingannya. Dia bisa menghancurkan dan juga menciptakan. Betapa semua youkai maupun manusia tamak akan menginginkan kekuatan itu–betapa hidup gadis itu akan berada dalam bahaya.


Melihat Inukimi yang tidak menjawab, Sesshoumaru kemudian membalikkan badan dan berjalan menjauh. Inukimi tidak memiliki jawaban yang dia inginkan, satu-satunya cara mendapatkan jawaban mungkin hanyalah tinggal catatan peninggalan keluarganya di istana tanah barat.


Namun, baru dua langkah diambil Sesshoumaru, Inukimi kembali memanggilnya. "Sesshoumaru."


Sesshoumaru berhenti berjalan begitu mendengar panggilan Inukimi. Tetapi, dia tidak membalas maupun membalikkan badan menatap inuyoukai yang melahirkannya itu.


"Jangan menunggu lagi, berikan Rin tandamu secepatanya, dia adalah kisakimu."


....xOxOx....


Dalam kamar Rin, Akihiko berlutut dan membungkukkan badannya ke bawah. Kepalanya tertunduk tidak berani menatap Rin yang duduk di atas futon. "Maafkan aku, Rin."


Rin yang sudah sadar sama sekali tidak dapat menyembunyikan perasaan terkejutnya melihat Akihiko yang meminta maaf seperti itu padanya. "A-akihi–"


Ucapan Rin tidak terselesaikan karena Inuyasha yang juga ada dalam kamar itu bersama Kagome tiba-tiba berdiri. Melangkah mendekati Akihiko, inuhanyou itu segera mencengkeram kerah baju dan mengangkat penguasa tanah selatan itu ke atas. Tangannya terkepal kuat dan meninju wajah tampan di depan. "Kau kira satu kata maaf sudah cukup!!?" teriaknya penuh kemarahan.


Akihiko tidak menghindari tinju Inuyasha, dia juga tidak berniat melepaskan diri. Diam membisu, dia membiarkan tinju itu memgenai wajahnya.


"Inuyasha-sama! Hentikan!!" teriak Rin. Berdiri, dia segera berlari dan menangkap tangan Inuyasha yang bergerak menyerang Akihiko. "Rin tidak apa-apa, hentikan Inuyasha-sama!"


Namun, Inuyasha tidak berhenti, tidak mempedulikan Rin yang menangkap tangannya, dia terus meninju Akihiko hingga suara Kagome menghentikannya. "Osuwari."


Tekanan gravitasi yang menekan Inuyasha ke bawah membuat cengkeramannya pada kerah baju Akihiko terlepas. Terkapar di atas lantai tatami sendirian, inuyoukai itu berteriak kesal. "Kagome!!!!"


Kagome yang masih duduk di samping futon Rin sejak tadi tidak peduli sama sekali. Dia menutup mata bagaikan orang tuli.


Rin segera mendekati Akihiko, kedua tangannya terangkat menyentuh wajah penguasa tanah selatan itu. Mata coklatnya bersinar penuh kekhawatiran. "A-akihiko-sama, anda tidak apa-apa?" tanyanya.


Pertanyaan dengan mata penuh kekhawatiran serta jari jemari yang menyentuh wajahnya– itu membuat perasaan bersalah dalam hati Akihiko bertambah besar. Apa yang telah dia lakukan?

__ADS_1


Menangkap jari jemari Rin, Akihiko kembali menundukkan kepala ke bawah. Dia tidak memiliki muka untuk menatap wajah cantik itu. "Maafkan aku, Rin.."


Permintaan maaf Akihiko membuat Rin tertegun. Dirinya sudah mendengar apa yang sesungguhnya terjadi semalam, dan sejujurnya, dia cukup terkejut dan bingung. Namun, sekarang, melihat daiyoukai penguasa tanah selatan yang meminta maaf seperti ini, dia tidak menemukan kekuatan untuk marah ataupun membencinya.


Tersenyum, Rin kemudian tertawa kecil. "Tidak apa-apa, Akihiko-sama. Rin sama sekali tidak apa-apa, dan apa yang ingin dilakukan Akihiko-sama juga tidak terjadi. Jadi, tidak apa-apa."


Ucapan dan tawa Rin membuat Akihiko mengangkat kepala menatap gadis manusia itu tertegun. Gadis manusia ini dibesarkan youkai. Dia jelas tahu apa artinya jika dirinya memiliki tanda seorang youkai di badannya. Apa yang dilakukannya semalam adalah sesuatu yang sangat rendah dan tidak termaafkan, tapi, gadis ini dengan begitu mudah memaafkannya.


"Kau memaafkanku, Rin? Kau tidak membenciku?" tanya Akihiko pelan sambil menelan ludah.


Rin menggeleng kepala dan kembali tersenyum. "Anda teman Rin yang berharga, Akihiko-sama. Rin tidak mungkin membenci anda."


Jawaban Rin membuat Akihiko terdiam. Dia tidak tahu harus mengatakan apa lagi. Tidak tahu gadis ini bodoh, polos atau naif. Tetapi, dia benar-benar sangat berbeda–hatinya yang pemaaf dan hangat.


"T-tapi," lanjut Rin kemudian sedikit terbata-bata. Mata coklatnya menatap Akihiko ragu-ragu. "Jika Akihiko-sama masih merasa bersalah, Akihiko-sama bisa menembusnya dengan berjanji pada Rin tidak akan menyerang barat apapun yang terjadi."


Pertarungan antara Sesshoumaru dan Akihiko yang tidak dapat diingatnya dengan jelas masih ada dalam pikiran Rin. Dia tidak ingin hubungan barat dan selatan memburuk hanya karena hal ini.


Ucapan Rin ini mau tidak mau membuat Akihiko tertawa keras. Rin tidak pernah berubah, sejak awal mengenal gadis ini hingga sekarang, yang diharapkan gadis ini tidak pernah berubah, yakni; kedamaian.


Menurunkan tangan Rin yang ada di wajahnya ke bawah, Akihiko tersenyum lembut. "Iya, aku berjanji Rin."


Janji Akihiko disambut Rin dengan tawa gembira, dan untuk kesekian kalinya, penguasa tanah selatan hanya dapat berpikir; alangkah bagusnya jika gadis ini adalah miliknya. Memiliki gadis ini selamanya, dia tidak akan membutuhkan yang lain lagi.


Kagome melihat senyum dan tawa Rin bersama Akihiko mau tidak mau ikut tersenyum. Dia bersyukur bahwa hubungan barat dan selatan tidak berubah meski apa yang telah terjadi. Selama gadis manusia itu ada, perang tidak akan pernah pecah lagi.


....xOxOx....


Kira dan Kiri membungkuk memberi hormat saat melihat Sesshoumaru berjalan mendekati pintu kamar Rin. Perlahan, mereka berdua membuka pintu kamar dan menpersilakan tuan mereka masuk.


Yang pertama kali di lihat Sesshoumaru saat pertama kali menginjakkan kakinya ke dalam adalah sosok Rin yang sedang makan dengan lahap bersama Inuyasha, Kagome, Miroku serta Sango.


Rin langsung meletakkan sumpit di tangannya dan berhenti makan begitu melihat Sesshoumaru. Tersenyum lebar, dia memanggil nama inuyoukai itu. "Sesshoumaru-sama."


Sesshoumaru tidak membalas sapaan Rin. Mendekati gadis manusia itu, dia kemudian berlutut tepat di depannya. "Kau sudah tidak apa-apa, Rin?"


Rin segera menggeleng kepala dengan senyum lebar di wajah. "Rin sudah tidak apa-apa, Sesshoumaru-sama. Rin sudah sehat."


Rin benar-benar telah sehat sepenuhnya, seakan dirinya memang tidak pernah muntah darah dan pingsan sebelumnya. Kagome yang memerikasanya juga merasa cukup aneh, namun, dia benar-benar tidak menemukan hal yang salah pada kesehatan gadis manusia itu.


Sesshoumaru mengangguk kepala pelan mendengar jawaban Rin. Dirinya memang meninggalkan gadis manusia ini untuk mencari Inukimi tidak lama setelah Kagome yang memeriksanya mengatakan dia sehat setelah sadar kedua kalinya.


"Rin, habiskan makananmu," ujar Sesshoumaru kemudian yang dibalas anggukan kepala Rin cepat. "Kita pulang ke barat setelah kau selesai makan."


"Eh!???"


"Apa!!??"


Ucapan Sesshoumaru disambut seruan dan teriakan terkejut Rin, Kagome, Miroku dan Sango. Namun tidak untuk Inuyasha. Inuhanyou itu berdiri dan tertawa penuh kebahagiaan. "Bagus!! Aku setuju dengan rencanamu itu, Sesshoumaru!!"


Inuyasha sangat gembira mendengar rencana Sesshoumaru. Dari awal dia memang tidak berniat datang ke selatan, dan melihat sikap Akihiko terhadap Rin, dia semakin menyesali kedatangan mereka.


"Matahari akan terbenam di timur hari ini. Untuk pertama kali, Inuyasha setuju dengan Sesshoumaru tanpa melalui perdebatan." gumam Miroku tidak percaya.


"T-tapi, Sesshoumaru-sama, hanami masih belum selesai." Jelas Rin terbata-bata, dia tidak tahu mengapa Sesshoumaru tiba-tiba ingin pulang ke barat. Akan sangat tidak sopan jika mereka pulang sekarang, kan?


"Rin." panggil Sesshoumaru datar. "Kita pulang."


Rin tidak mengatakan apa-apa lagi. Meski wajahnya terlihat jelas tidak ingin kembali ke barat secepat itu, dia kemudian mengangguk kepala.


Melihat Rin mengangguk kepala, Sesshoumaru merasakan kelegaan. Namun, suara Kagome tiba-tiba terdengar menyela. "Kakak, aku tidak mengijinkan Rin pulang ke barat hari ini juga."


Ucapan Kagome membuat semua yang ada dalam kamar menoleh wajah padanya. Namun, miko masa depan itu tidak peduli. "Rin memang sudah sehat. Tapi, dia tetap butuh istirahat."


"Apa maksudmu Kagome??" teriak Inuyasha kesal.


Mata Sesshoumaru bersinar tajam menatap Kagome. Apa lagi yang direncanakan miko ini? Dari semua orang yang ada, miko aneh ini adalah salah satu orang yang tidak dapat ditebaknya.


"Lusa. Rin baru bisa pulang ke barat lusa." lanjut Kagome lagi sambil tersenyum tidak mempedulikan protes Inuyasha maupun tatapan tajam Sesshoumaru.


....xOxOx....

__ADS_1


__ADS_2