Till The End Of Time [ Inuyasha Fanfiction ]

Till The End Of Time [ Inuyasha Fanfiction ]
Chapter 139


__ADS_3

"Rin!!"


"Rin-sama!!"


"Rin-chan!!"


Suara dari luar yang terus memanggil namanya terdengar, tapi Rin tidak membalasnya. Dalam suara yang berteriak keras memanggilnya, dia masih bisa mendengar suara tangis Shura yang keras—putranya yang berharga.


Masih duduk di atas futonnya menatap pintu yang tertutup. Rin kemudian menengadah kepala ke atas. Langit-langit yang sangat familiar baginya, cahaya matahari siang musim dingin yang masuk melalui ventilasi udara—kamar yang selalu hangat meski salju menumpuk di luar.


Perlahan, tangis Shura serta suara yang memanggil namanya keras terasa menjauh di telinga Rin—menjauh hingga tidak terdengar lagi. Pandangan matanya juga mulai menggelap hingga dia tidak bisa melihat apa-apa lagi.


Lalu, rasa dingin menyerang Rin, begitu juga dengan rasa—takut.


Perasaan ini, melebihi siapapun, Rin paling tahu, karena dia telah mengalaminya dua kali. Pertama kali di taring serigala dan kedua kalinya di dalam pintu portal neraka yang dibuka Inukimi. Perasaan ini adalah—kematian yang datang menjemput.


Mempertahankan matanya yang walau tidak dapat melihat tetap terbuka, Rin mengigit erat bibir bawahnya. Rasa dingin yang ada mulai merambat, dari ujung kaki hingga ke kepala. Makin lama makin mendingin hingga terasa menusuk tulang.


Akan tetapi, dingin tidak seharusnya membakar, tapi rasa dingin yang dirasakannya sekarang seakan mendidih, menyerang dan membakarnya dari dalam tubuhnya sendiri—sebuah rasa dingin yang tidak bisa terjelaskan.


Sakit.


Sakit mulai dirasakan Rin. Seluruh organ tubuhnya seakan mendidih, terbakar dari dalam oleh rasa dingin.


Tidak bisa menahan posisi duduknya lagi, badan mungil Rin tumbang, jatuh ke atas futon. Keringat dingin membasahi wajah dan badannya, gemetaran di badannya semakin hebat, namun, dia tetap berusaha menahan matanya tetap terbuka.


Meringkuk badan hingga seperti bola, rasa sakit tidak menghilang, namun terus bertambah. Ribuan jarum bagaikan menusuk seluruh tubuhnya sekarang, tulangnya terasa mau remuk dihantam sesuatu, dan jantungnya bagaikan diremas kuat oleh sebuah tangan kasat mata.


Napas Rin menjadi tidak normal. Panjang dan pendek, kuat dan lemah. Dia membuka mulut, namun pasokan udara yang masuk ke paru-parunya begitu tipis, seakan tidak ada.


Air mata mengalir turun dari mata Rin yang terbuka lebar—sakit.


Sakit.


Sakit.


Sangat-sangat sakit—luar biasa sakit. Rin tidak bisa merasakan apapun lagi selain rasa sakit yang tidak berujung ini. Dingin dan panas yang satu, mendidih dan membakar dari dalam tidak terhentikan.


Rin tidak tahu apa-apa lagi, rasa sakit yang ada membuat dia tidak bisa memikirkan apapun. Kelopak matanya terasa sangat berat, akan tetapi—dia tidak menutupnya sama sekali.


Apa yang akan terjadi jika dia menutup matanya?—Rin tidak bisa mengingatnya, tapi...


Kepingan demi kepingan kejadian muncul di dalam pandangan mata Rin yang tidak bisa melihat apa-apa lagi. Muncul dengan rapi tertata bagaikan sebuah cerita. Tanpa warna dan juga tanpa suara menyertai rasa sakit tidak terjelaskan.


Seorang bayi kecil tertawa dalam gendongan seorang wanita. Di sampingnya seorang pria tampan menangis bahagia, dan di belakang pria tersebut, empat anak laki-laki menatap sang bayi dengan mata coklat besar penuh kekaguman.


Siapa?


Berdiri tegak, gadis kecil yang baru belajar berjalan melangkah pelan. Di depannya empat anak laki-laki tertawa dan bertepuk tangan penuh kegembiraan. Lalu, saat gadis itu menoleh ke belakang, dia bisa melihat seorang wanita cantik dan seorang pria tampan tersenyum penuh kebahagiaan.


Siapa mereka?


Seorang gadis kecil duduk di pangkuan seorang pria sambil membuka mulut, dan disamping mereka, seorang wanita cantik menyuapkan nasi padanya. Lalu, dari depannya, empat orang anak laki-laki juga menyodorkan sumpit mereka yang menjepit berbagai jenis lauk pauk berbeda pada sang gadis penuh senyum.


Siapa pria, wanita dan empat anak laki-laki itu?


Duduk di atas bahu seorang anak laki-laki, seorang gadis kecil tertawa lepas. Di samping mereka, tiga orang anak laki-laki terus menatap khawatir gadis kecil tersebut. Tangan mereka terbuka lebar di setiap langkah yang ada, berantisipasi menagkap gadis kecil tersebut jika jatuh. Menoleh ke belakang, gadis kecil itu melihat seorang pria dan wanita yang tertawa lebar.


Kenapa mereka terasa tidak asing?


Berdiri mematung, seorang gadis kecil menatap sosok seorang pria dan wanita yang berada dalam lautan darah tidak bergerak sama sekali lagi. Dari belakangnya, empat orang anak laki-laki berlari memeluk sang gadis yang menangis kencang.


Menarik tangan gadis kecil tersebut, keempat anak laki-laki itu kemudian menyembunyikannya dalam sebuah kotak tua. Mereka berempat tersenyum dan mencium kening gadis itu sebelum menutup kotak tersebut.


Dari dalam lubang yang ada pada kotak tua tersebut, gadis kecil itu bisa melihat keempat anak laki-laki yang kembali berlari diserang oleh beberapa pria dewasa. Pedang terangkat ke atas dan menebas kepala mereka.


Ahh, Rin ingat sekarang, mereka adalah orang tua kandung serta para kakak yang selalu mencintai dan melindunginya.


Seorang gadis kecil berdiri sendirian, sebatang kara, kelaparan dan tidak tahu harus berbuat apa. Menatap sekelilingnya yang hancur berantakan, dia menangis tanpa suara.


Kepingan demi kepingan masa lalu bahagia yang berubah menjadi mimpi buruk—Rin tahu; itu adalah cerita hidupnya.


Berlari cepat, seorang gadis kecil memeluk dua buah apel di dada. Badannya kurus dan kotor, wajahnya penuh ketakutan. Di belakangnya seorang laki-laki berlari mengejar dengan kayu di tangan.


Rasa sakit yang dirasakan sekarang, Rin tidak tahu lagi, apakah karena dingin yang membakar ini, atau karena—kepingan masa lalu menyakitkan ini.


Berlutut ke bawah, seorang gadis kecil memakan makan sisa di atas tanah yang telah basi. Dia terus menguyah dan menelannya dengan cepat, seakan takut ada yang melihat dan mengusirnya.


Masa kecil yang menyakitkan dan menakutkan, Rin sendiri tidak tahu bagaimana dia bisa berhasil melewati itu semua.


Tendangan dan pukulan mendarat di badan kecilnya. Menutup mata tanpa suara, seorang gadis kecil meringkuk bagaikan sebuah bola dengan beberapa orang dewasa yang terus memukulnya.


Tidak ada yang menolongnya, semua orang menjauhi dan membencinya—Rin tahu; itulah dirinya.


Meringkuk bagaikan bola, dinginnya udara malam menusuk badan kecil itu. Menangis tanpa suara, seorang gadis kecil menutup mata untuk tidur dengan perut kelaparan.


Ahh, Rin tidak ingin melihat lagi. Kelopak matanya yang terbuka ingin ditutupnya. Sudah cukup, kan? Penderitaan itu, mimpi buruk itu, neraka itu—jangan memaksanya melihat dan mengingatnya lagi!!


Bolehkah dia menutup kelopak matanya sekarang? Akankah kepingan masa lalu menyakitkan itu menghilang jika dia melakukan itu?


Berdiri di dalam hutan, bersembunyi dari balik pohon dan semak-semak. Seorang gadis kecil menatap lekat pada seorang youkai yang terluka parah.


Menyadari keberadaan gadis kecil tersebut, youkai itu menoleh menatapnya penuh kemarahan. Mata merah darah, taring panjang dan tajam. Tapi, gadis kecil itu tidak ketakutan, dia hanya terkejut.


Ahh, youkai itu. Rin masih mengingat dengan baik, youkai yang ditemukannya di hutan dalam neraka hidupnya—youkai yang sangat penting baginya.


Membuka mata coklat besarnya, seorang gadis kecil menatap wajah seorang youkai yang berlutut mengangkat badan kecilnya dengan sebelah tangan. Cemerlangnya warna emas tersebut, membekas seumur hidup dalam hati sang gadis.


Kepingan demi kepingan masa lalu yang terus berganti. Begitu cepat tanpa henti, Rin bisa melihatnya lagi.


Seorang gadis kecil berkimono orange yang berlari dengan senyum lebar di belakang seorang youkai berambut perak. Mata coklat memancarkan kebahagiaan tiada batas.


Berubah dan terus berubah, masih tanpa suara dan tanpa warna. Tapi, kebahagiaan yang hilang kembali datang, menggantikan kelamnya hidup seorang gadis kecil bernama; Rin.


Gadis kecil yang membuka mata dn menemukan dirinya berbaring di atas kursi santai. Di hadapannya seorang youkai berlutut menyentuh wajahnya lembut. Mata emasnya bersinar penuh kelegaan.


Kehangatan tangan yang menyentuh wajahnya saat itu—Rin mengingatnya selalu.


Tawa dan senyum.


Gadis kecil yang diculik dan youkai berambut perak yang menyelamatkannya.


Gadis kecil yang berdiri di desa manusia melihat sosok youkai berambut putih yang menghilang dari pandangan. Gadis kecil yang ditinggalkan di desa manusia untuk belajar dan hidup sebagai manusia.


Gadis kecil yang melompat dan memeluk youkai berambut putih yang segera menangkapnya dalam taman istana. Air mata kebahagiaan di wajah sang gadis yang tahu dia boleh bersamanya youkai itu lagi.


Musim demi musim yang berlalu dalam istana. Senyum dan tawa, sajak dan puisi, nyanyian dan tarian, gadis yang tumbuh besar dan dewasa, tapi dalam mata coklatnya—tetap hanya sosok youkai berambut putih tersebut yang selalu ada.


Youkai yang paling berarti baginya, penyelamat hidupnya. Cahaya dalam neraka dunianya, kebahagiaannya—Rin tahu siapa youkai itu.


Selamanya bersama.


Senyum dan tawa pelan youkai itu, mata emasnya yang lembut, sentuhan dan pelukannya yang hangat, lalu—selamanya bersama yang begitu didambakan. Bagaimana mungkin Rin melupakannya?


Kelopak matanya yang berat tidak boleh tertutup, Rin tahu. Tidak apa-apa walau sakit ini begitu menyakitkan. Sungguh, benar-benar tidak apa-apa. Jika dia harus menghadapi ini semua seorang diri-dia bisa melewatinya.


Gelapnya kegelapan yang menutup mata Rin perlahan menjadi terang, meski sakit tidak berkesudahan terus menyerang tanpa henti. Indra pendengarannya yang menghilang juga perlahan kembali, dan yang dia dengar pertama kali adalah suara seseorang yang memanggil keras namanya.


"Rin!!!!!"


....xOxOx....


Mengangkat bakusaiga di tangannya, Sesshoumaru tidak mempedulikan siapapun yang ada di depannya. Mengumpulkan youkinya, dia menyerang kekai yang mengelilingi kamar tidurnya dan Rin.


Inuyasha, Kiri, Kagome dan yang lainnya segera bergerak menghindar, begitu juga dengan Kaeda yang memeluk Shura. Mata mereka terbelalak menatap keadaan Sesshoumaru yang terlihat sangat menakutkan.

__ADS_1


Suara ledakan keras terdengar bersamaan dengan serangan bakusaiga yang mengenai kekai tersebut. Namun, kekai itu tetap berdiri kokoh tanpa bergeming sedikitpun.


"Rin!!!"


Menyerang terus dengan membabi buta, Sesshoumaru melancarkan serangan bakusaiga untuk menghancurkan kekai yang ada. Dia harus menghancurkan kekai itu, Rin berada di dalamnya dan—menderita.


Tanda yang menghubungkan mereka memberitahu Sesshoumaru, betapa menderita dan sakitnya wanita manusia yang begitu berarti baginya sekarang. Karena itu, dia harus berada di sampingnya dan menyelamatkannya.


"Rin!!!"


Apa yang terjadi di balik kekai ini? Sesshoumaru tidak tahu. Tapi dia tidak akan membiarkan siapapun menghentikannya.


Melepaskan bakusiga di tangannya, wajah Sesshoumaru mulai berubah. Matanya menjadi merah darah bagaikan hitam, taring dan ujung bibirnya memanjang, asap merah muncul mengelilinginya—inuyoukai itu ingin kembali ke sosok aslinya.


Inuyasha dan yang lainnya menatap terkejut dan tidak tahu harus melakukan apa, begitu juga dengan Inukimi, Kenji dan Kira baru mencapai di tempat kejadian. Sikap Sesshoumaru sekarang, mereka semua tahu, telah terjadi sesuatu pada Rin.


Namun, sebelum Sesshoumaru benar-benar kembali pada sosok aslinya, dari dalam kamar yang terlindungi kekai, suara pelan wanita terdengar memanggil nama sang penguasa tanah barat.


"S-Sesshoumaru-sama..."


....xOxOx....


"S-Sesshoumaru-sama..."


Mengumpulakan segenap tenaga dan kesadarannya, menahan rasa sakit yang makin lama makin menyakitkan, Rin memanggil pelan nama Sesshoumaru.


"Biarkan Sesshoumaru ini masuk!! Buka kekai ini, Rin!!" teriak Sesshoumaru keras. Suaranya penuh kemarahan namun juga-ketakutan.


"Oaaaa!! Oaaaaa!!! Oaaa!!"


Suara tangisan keras Shura terdengar beriringan dengan suara teriakan Sesshoumaru yang tidak berhenti.


Ahh, Rin hanya bisa tersenyum kecil di dalam kesakitan yang ada—bagaimana mungkin dia membuka kekai ini? Membiarkan inuyoukai itu dan putra kesayangan mereka masuk dan memperlihatkan kondisinya yang seperti ini?—dia tidak bisa melakukan itu.


Jangan melihatnya yang berada dalam kondisi seperti ini. Kondisi yang begitu lemah, sekarat dan juga—menyedihkan. Di hadapan dua orang paling dia cintai dalam keberadaannya, dia ingin mereka hanya melihat sosoknya yang tertawa dan tersenyum.


"T-tidak apa-apa...Rin tidak apa-apa," ujar Rin lemah. "Tunggulah Rin diluar... Rin mohon..."


....xOxOx....


"Rin mohon..."


Permohonan yang terucap pelan. Namun bisa Sesshoumaru dengar dengan jelas. Berhenti melakukan trasformasi ke bentuk aslinya, dia menatap pintu shoji yang tertutup rapat.


"Rin!!"


Seketika, rasa sakit yang Sesshoumaru tahu tapi tidak dia rasakan semakin menguat. Menguat dan menguat hingga inuyoukai itu luar biasa ketakutan. Bagaimana bisa manusia menahan sakit seperti ini? Bagaimana mungkin badan Rin yang lemah Rin menghadapi rasa sakit ini?


"Rin!! Buka kekai ini!!! Sesshoumaru ini memerintahkanmu, buka kekai ini!!!"


Mengepal kuat kedua telapak tangannya, Sesshoumaru memukul kekai yang ada sekuat tenaga, berharap dapat menghancurkannya.


"Buka!!!!"


Tapi, tidak peduli bagaimana Sesshoumaru berteriak dan memukul, kekai itu tetap bediri kokoh tidak bergeming sedikitpun, mengurung dan memisahkan wanita manusia di dalamnya dari dunia luar.


Darah mengalir menuruni kedua telapak tangan Sesshoumaru yang terkepal kuat. Tidak mempedulikannya atau mungkin lebih tepat tidak menyadarinya, inuyoukai itu masih terus memukul dan memukul kekai di depannya.


"Buka Rin!!!! Buka kekai sialan ini!!"


Rasa sakit yang luar biasa namun bukan dirasakannya tiba-tiba menyerang, membuat Sesshoumaru tidak dapat bernapas normal lagi. Kehilangan keseimbangannya, dia berlutut ke bawah, dan membuat semua yang ada di belakangnya terkejut.


"Kakak!!


"Sesshoumaru!!"


"Sesshoumaru-sama!!"


Akan tetapi Sesshoumaru tidak bergerak, meski Inuyasha dan yang lainnya kini telah berjalan mendekatinya. Kedua mata merahnya yang telah kembali menjadi emas hanya terarah pada pintu shoji yang tertutup putus asa.


"Sesshoumaru ini mohon, buka kekai ini, Rin..."


"Oaaa!! Oaaaaaa!!!!"


....xOxOx....


"Sesshoumaru ini mohon, buka kekai ini, Rin..."


"Oaaa!! Oaaaaaa!!"


Permohonan Sesshoumaru yang lemah dan tangisan Shura. Air mata yang mengalir turun dari mata Rin hanya bertambah deras. Rasa sakit luar biasa yang ada, sungguh, dia tidak tahu lagi adalah karena dingin ini atau hatinya yang hancur berkeping-keping.


Maafkan Rin karena Rin tidak bisa membuka kekai ini, Sesshoumaru-sama. Maafkan Rin karena tidak bisa memelukmu sekarang, Shura.


Maaf.


Maaf.


Maafkan aku, maafkan Rin...


Kegelapan kembali datang, membungkus pandangannya dengan warna hitam pekat, suara dua orang yang paling berharga baginya menghilang ditelan keheningan.


Sakit yang menyerang berubah. Rin bisa merasa sekarang, baik raga maupun jiwanya bagaikan tercabik-cabik. Terbakar, seluruh organnya dalamnya mendidih. Remuk, seluruh tulangnya terhantam. Tertusuk dan terkikis, seluruh kulitnya bagaikan terkelupas dan terkoyak—segala rasa sakit yang ada datang secara bersamaan.


Rasa sakit yang menggila dan terus menggila—menggila hingga dia tidak bisa mengetahui kapan ini dimulai dan kapan akan berakhir. Rasa sakit yang memaksa matanya yang terbuka untuk—tertutup.


Lalu, sekali lagi, Rin dipaksa melihat kepingan demi kepingan masa lalunya. Hanya saja, kali ini, kepingan masa lalu ini berwarna dan bersuara.


Membuka lebar kedua tangannya, senyum di wajah Rin kecil menjadi semakin lebar dan lebar. "Lebih tinggi dari langit, lebih dalam dari laut, lebih besar dari dunia, lebih dari hidup Rin sendiri. Lebih dari segala-galanya, sebesar itulah cinta Rin untuk Sesshomaru-sama."


Pengakuan cintanya semasa kecil yang lugu, Rin melihatnya lagi.


"Selamanya bersama. Hadiah yang Rin inginkan adalah Rin ingin selalu bersama dengan Sesshoumaru-sama selamanya." ujar Rin sambil tersenyum.


Melepaskan tangannya yang dipegang Rin, dengan cepat Sesshoumaru memeluk erat gadis manusia tersebut. Tangan kiri memeluk pinggang rampingnya, sedangkan tangan kanan memendamkan wajah sang gadis di dadanya.


"Hadiah ulang tahunmu, Sesshoumaru ini akan mengabulkannya."


Hari ulang tahun yang sama, hadiah ulang tahun yang paling diinginkan dirinya—selamanya bersama.


Berputar dan berputar bagaikan sebuah pementasan sandiwara di mana dia adalah satu-satunya penonton, Rin melihat kembali semuanya.


Dirinya yang diculik, Sesshoumaru yang melawan tanah selatan, perang yang usai, kembali ke istana tanah barat, Sesshoumaru yang menjauh darinya, dirinya yang patah hati, dirinya di tanah selatan-selamanya bersama yang tidak mungkin.


Itu semua terjadi dalam ruang waktu yang panjang, namun Rin bisa melihat itu semua dalam ruang waktu yang singkat. Bagaikan sebuah pementasan sandiwara yang dipercepat namun sangat akurat.


"Meski anda menikah, meski anda memiliki anak—bolehkah Rin selalu di sekitar anda? Bolehkan Rin selalu melihat Sesshoumaru-sama?" tanya Rin.


Mengertakan rahangnya kuat, Sesshoumaru melepaskan kedua jari-jemarinya yang ada di pipi Rin. Melingkarkan tangannya pada pinggang ramping wanita manusia itu, dia memeluknya dengan seeratnya. "Jangan mempertanyakan sesuatu yang bodoh."


Bodoh. Rin tahu dia selalu bodoh. Jika sudah menyangkut Sesshoumaru, dia akan selalu menjadi bodoh—si bodoh yang bahagia.


"Selamanya. Tidak peduli napasku telah berhenti, tidak peduli ragaku telah tiada, selama jiwaku masih ada-tidak. Bahkan jikapun jiwaku telah tiada, cintaiku pada anda tidak akan pernah berubah. Aku akan selalu mencintai anda, hingga akhir waktu."


Berdiri sambil tersenyum dengan jawabannya, Rin menatap Sesshoumaru yang kemudian memeluknya.


Rin," panggil Sesshoumaru pelan. Kedua tangan yang memeluk Rin semakin erat. "Tinggal. Tinggallah di samping Sesshoumaru ini selama kau bisa, dan cintailah Sesshoumaru ini hingga akhir waktu."


Cintanya yang tulus, cintanya yang polos, cintanya yang bodoh—cinta seorang wanita manusia kepada Sesshoumaru yang tidak akan pernah berubah hingga akhir waktu.


"Kalau begitu, apa judul lukisan ini, Sesshoumaru-sama?" tanya Rin, dia menatap lukisan dirinya sendiri penuh kebingungan.


Membuka mata, sepasang mata emas Sesshoumaru menatap lekat mata coklat gadis manusia itu. Seulas senyum lembut memenuhi wajahnya. "Judul lukisan ini adalah—Kisaki.


"Eh??"

__ADS_1


"—Kisaki tanah barat."


Mata Rin terbelalak terkejut mendengar jawaban Sesshoumaru. Tidak dapat bergerak, dia menatap inuyoukai itu seperti orang bodoh.


"Rin," panggil Sesshoumaru sekali lagi. Tangan kanannya bergerak menyusuri pipi kiri gadis manusia itu. "Menikahlah dengan Sesshoumaru ini.."


Kebahagiaan yang tidak terjelaskan, kebahagiaan yang tidak pernah Rin sangka akan didapatkannya—menjadi istri dari youkai yang dicintainya.


Pernikahan mereka, tanda yang diberikan, penyatuan mereka—semua kepingan ingatan masa lalu yang manis terus mengalir tidak terhentikan.


Mendekatkan wajah mereka hingga dahi dan dahi bertemu, Sesshoumaru berujar pelan. "Sesshoumaru ini akan menemani Rin merajut mimpi.."


Merajut mimpi bersama. Mimpi indah dimana Rin ingin hidup di dalamnya untuk selamanya.


Pandangan lembut di sepasang mata emas Sesshoumaru, senyum kecil di wajah tampan itu, tangan yang menyentuh penuh kasih sayang perut rata Rin, serta suara berat yang berbisik pelan—Anak kita."


Mimpi yang menjadi kenyataan, keajaiban yang menjelma di dunia-Shura, putra mereka yang berharga.


Ahh, kepingan ingatan masa lalu yang begitu berharga baginya, Rin bisa melihatnya lagi. Masa kehamilannya yang menyakitkan, perjuangannya melindungi putra dalam kandungan saat tidak ada seorangpun dipihaknya.


Memeluk erat Rin, Sesshoumaru berujar pelan. "Sesshoumaru ini percaya padamu, lahirkanlah anak kita dan hidup..."


"Iya, iya, iya, iya," ulang Rin terus dalam tangisnya. Dengan tangan bergetar dia membalas pelukan Sesshoumaru. "Rin akan melahirkannya, anak kita akan hidup!! Rin akan hidup!! Kami akan hidup!!"


Hidup.


Betapa kata itu sangat berarti bagi Rin. Sederhana dan mudah diucapkan, namun, butuh perjuangan yang sangat berat menjalaninya.


Pementasan sandiwara yang dilihat Rin masih berlanjut. Manusia yang menyerang, empat wilayah yang menyerang, lalu—Shura yang lahir.


Menutup mata, Rin kemudian menarik keluar Shura dari dalam perutnya. Tidak peduli darah yang ada, tidak peduli kesakitan atau apapun lagi, dia mendekap erat putranya yang telah lahir di dunia ini.


"Ibunda akan selalu mencintaimu, Shura."


Shura.


Putra yang dia lahirkan dan dicintai segenap jiwa. Keajaiban hidupnya dan Sesshoumaru—putranya tercinta yang paling berharga.


Cinta, Shura," ujar Rin pelan dengan segenap cinta dalam hatinya. "Walau apapun yang terjadi, kami akan selalu mencintaimu..."


Mengangkat kepala menatap Sesshoumaru, Rin tersenyum dengan senyum khasnya yang menawan. "Ikatan abadi. Selamanya, ikatan kita bertiga tidak akan pernah terputuskan..."


Sandiwara yang mencapai akhir, ditutup dengan kebahagiaan keluarga kecil yang sempurna—Rin sebagai penonton satu-satunya hanya dapat menangis.


Ikatan mereka, mimpi yang terajut indah penuh kebahagiaan ini—bagaimana Rin bisa membiarkannya berakhir? Bagaimana dia bisa membiarkan ikatan itu terputus dan menghentikan benang yang terus merajut mimpi indah tersebut?


Tidak ada lagi kepingan ingatan masa lalu, semua kembali gelap tanpa suara. Sakit yang luar biasa, raga dan jiwa yang tercabik-cabik tanpa henti dan belas kasihan—kematian yang datang menjemput.


Mati.


Rin tahu, dia tidak seharusnya berada di dunia ini lagi. Dengan tensaiga dan meido seki yang menghentikan waktunya yang berjalan selama bertahun-tahun ini, dia telah bersembunyi dengan baik dari sang kematian. Tapi kini, sang kematian kembali menemukannya. Waktu hidupnya yang dihentikan kembali bergerak dan mencapai—akhir.


Rin.


Wajah tersenyum Sesshoumaru terbayang dalam pikiran Rin.


Aaaa...Aaa..


Wajah tertawa Shura juga ikut terbayang dalam pikiran Rin.


Rin ingin bertanya pada sang kematian itu sendiri, bagaimana bisa dia meninggalkan Sesshoumaru-sama dan Shura?—bagaimana bisa dia menghilang saat kebahagiaan itu baru mereka rasakan?


Jangan mencarinya, pergilah. Biarkan dia bersama selalu dengan Sesshoumaru dan Shura. Rin memohon pada sang kematian—biarkanlah dirinya hidup bersama mereka yang dia cintai!!


Akan tetapi, kematian tidak mempedulikan permohonannya. Kematian itu tidak menaruh belas kasihan, waktu yang telah tiba tidak akan terelakkan—sang kematian tidak akan pernah mundur selangkahpun dengan keputusannya.


Haruskah dia menutup matanya? Menuruti kemauan sang kematian yang datang menjemputnya.


Rin.


Wajah Sesshoumaru kembali terbayang. Namun kali ini tidak ada senyum. Wajahnya tetap datar, dan mata emasnya penuh keputus asaan dan—kesedihan tidak berakhir.


Aaa..aaaa...


Tangis Shura yang pecah dengan keras. Wajah kecilnya yang memerah, air mata yang mengalir turun—ketakutan karena sang ibu yang tidak ada disamping.


Tidak...


Tidak! Tidak! Tidak!! Rin tidak akan meninggalkan mereka! Dia tidak akan menutup matanya. Untuk Sesshoumaru dan Shura, untuk mereka berdua—dia akan hidup dan melawan sang kematian.


Kematian boleh datang menjemputnya, tapi dia tidak akan pergi. Dia akan tinggal di dunia ini, selalu bersama dengan Sesshoumaru dan Shura—selamanya bersama.


Dalam rasa sakit luar biasa yang melanda tanpa henti, di setiap detik yang terasa bagaikan jam, Rin memusatkan segala kekuatan dan kesadarannya pada satu hal yang paling penting baginya, pada—wajah Sesshoumaru dan Shura dalam ingatannya.


Mereka yang menunggunya. Mereka yang dicintainya, janji yang ada, mimpi indah yang terajut, ikatan yang ada—selamanya bersama.


Dalam kegelapan, dalam kesakitan, dalam kematian—Sesshoumaru dan Shuralah satu-satunya benang harapan Rin. Benang merah tipis yang terikat di jari kelingkingnya, berujung pada jari kelingking Sesshoumaru, melewati pergelangan tangan Shura berkali-kali—benang harapan yang berubah menjadi kekuatan.


Dengan mata yang terbuka tapi tidak bisa melihat, di atas futon dalam kamar tidurnya, badan Rin yang meringkuk bagaikan bola bergemetaran menahan sakit. Dengan keringat yang membasahi seluruh tubuh serta wajah putih pucat tanpa darah, mulutnya terbuka dan terus bergumam pelan. "S-sesshoumaru-sama... Shura... Sesshoumaru-sama... S-shura... Sesshoumaru-sama... Shura... Sesshoumaru-sama.. Shura..."


Terus dan terus, antara sadar dan tidak sadar, antara kewarasannya yang tersisa, nama yang digumamnya itulah senjata Rin menghadapi sang kematian.


....xOxOx....


Memukul dan terus memukul bagikan kesetanan. Sesshoumaru hnya terus memukul kekai yang ada dengan tangannya yang telah penuh darah.


Inuyasha dan yang lainnya di belakang tidak bisa melakukan apapun. Sesshoumaru sama sekali tidak mendengarkan mereka. Sudah berapa lama berlalu? Mereka tidak menghitungnya lagi. Langit siang telah berubah menjadi langit sore, dan mereka masih tidak dapat menemukan penyelesaian masalah.


"Sesshoumaru! Hentikan ini! Kau tidak boleh lepas kendali seperti ini!!" Inuyasha yang sudah tidak tahan dengan kondisi Sesshoumaru bergerak dan menangkap tangan kanan kakak seayahnya tersebut.


"Lepaskan aku, Inuyasha!!" mata merah darah Sesshoumaru menatap Inuyasha penuh kemarahan, taring panjangnya terlihat jelas di seringainya yang mengerikan. Wajahnya sekarang berada antara sosok manusia dan youkainya.


Namun, Inuyasha tidak takut. Dia mengeratkan tangannya yang menangkap tangan Sesshoumaru. "Tenangkan diri—"


Suara teriakan Inuyasha tidak terselesaikan, karena tiba-tiba saja, suara sesuatu yang pecah memenuhi indra pendengaran semua yang ada.


Prankkk


Menoleh pada pintu shoji yang tertutup, semua yang ada bisa melihat jelas kekai yang terbuka dan menghilang. Tidak ada yang tahu kenapa kekai yang tidak dapat dihancurkan itu tiba-tiba pecah, tapi saat itu, tidak seorangpun juga yang mempedulikannya.


Menepis tangan Inuyasha, tanpa membuang waktu, Sesshoumaru membuka pintu kamar dan berlari masuk.


Mata merahnya kembali menjadi emas, kemarahan di wajahnya berubah menjadi ketakutan saat dia melihat Rin yang meringkuk bagaikan bola di atas futon.


"Rin."


Berlutur dan memeluk badan mungil yang tidak bertenaga itu, Sesshoumaru merasakan sedikit kelegaan saat mata emasnya bertemu dengan sepasang mata coklat yang dicintainya.


Wajah Rin sangat pucat, bibirnya membiru dengan keringat yang mengalir menuruni dahinya. Namun, dia tersenyum kecil. "S-sesshoumaru-sama.."


"Jangan berbicara, Rin." Perintah Sesshoumaru, mata emasnya tidak dapat menyembunyikan sedikitpun emosi dalam dirinya.


Senyum lemah Rin semakin lebar, mengangkat tangan kanannya yang lemah dan bergemetaran hebat, dia menyentuh wajah Sesshoumaru. "R-rin menang... Rin berhasil melawan sang kematian..."


Menangkap tangan Rin yang sedingin es di wajahnya, Sesshoumaru yang tidak mengerti ucapan kisakinya. "Jangan berbicara lagi, Rin."


Mengangguk pelan, Rin kemudian menutup matanya dan jatuh tertidur dengan wajahnya tenang dan damai.


"Rin!!!" panggil Sesshoumaru terkejut.


Kagome yang ada disampimg segera bergerak memeriksa nadi Rin. Ada rasa takut dirasakan miko masa depan tersebut saat tangannya menyentuh kulit Rin yang sedingin es. Namun, sedetik kemudian kelegaan memenuhi wajahnya. "Tenang, Kakak. Rin-chan hanya tertidur karena kelelahan."


Sesshoumaru tidak mengatakan apa-apa mendengar ucapan Kagome. Mengeratkan pelukannya, telinganya kemudian menangkap suara sesuatu yang telah berubah.


Menggerakkan tangan kanannya cepat, Sesshoumaru membuka kimono Rin dan menatap meido seki merah yang menyatu dengan wanita manusia tersebut.

__ADS_1


Jantung Sesshoumaru, jantung Rin dan meido seki—tiga detakan yang selalu sama dan seirama. Tapi, kini itu telah berubah. Dua detakan masih sama, namun satu menjadi lemah dan berdetak pelan-jantung manusia Rin.


....xOxOx....


__ADS_2