Till The End Of Time [ Inuyasha Fanfiction ]

Till The End Of Time [ Inuyasha Fanfiction ]
Chapter 108


__ADS_3

"Kenapa kau ada di sini, sialan?" tanya Inuyasha sekali lagi. Kedua mata emasnya menatap lekat pada Akihiko yang berdiri di depan pintu kamar Sesshoumaru dan Rin.


Akihiko tidak menjawab pertanyaan Inuyasha. Melangkah pelan, penguasa tanah selatan itu berjalan masuk dengan tenang.


"Akihiko-sama, kenapa anda ada di sini?" tanya Rin. Seulas senyum memenuhi wajahnya, walau dalam hati dia cukup bingung dengan kemunculan youkai serigala ini yang tiba-tiba.


Akihiko tetap tidak menjawab, mata biru langitnya hanya menatap Rin, dan meski wajahnya tenang, ada kekhawatiran yang muncul dalam hatinya. Betapa pucat dan lemah wanita yang biasanya selalu penuh semangat itu sekarang, dan perut besarnya—bukankah kehamilannya baru menginjak dua bulan? Lalu, dia juga bisa mendengar jelas, dua suara detakan jantung dari badan yang sama—apa yang sebenarnya terjadi?


Pandangan Akihoko kemudian naik dan terarah pada Sesshoumaru yang ada di belakang Rin. Inuyoukai itu membalas tatapannya dengan wajah tenang tanpa ekspresi. Ada kemarahan dirasakan penguasa tanah selatan saat melihat tangan yang memeluk erat wanita yang seharusnya miliknya.


Berjalan mendekati Rin dan Sesshoumaru, Akihiko kemudian duduk tepat di depan mereka berdua.


"Akihiko-sama?" panggil Rin lagi, dia bisa melihat keanehan dari youkai serigala di depannya.


"Apakah kau bahagia, Rin?" tanya Akihiko tiba-tiba. Suaranya datar tanpa emosi.


Rin tertegun dengan pertanyaan tiba-tiba Akihiko, tapi sejenak kemudian seulas senyum memenuhi wajah cantiknya. Menatap perutnya dia mengelusnya pelan. "Iya, Rin bahagia."


"Walaupun ayah dari anakmu itu tidak menginginkannya?" tanya Akihiko lagi.


"Eh??" seru Rin, Inuyasha dan Kagome bersamaan.


"Kau bahagia meski anakmu adalah anak yang tidak dikehendaki?" lanjut Akihiko lagi. Mata biru langitnya menatap tajam pada Sesshoumaru yang masih berwajah datar menatapnya.


"Hei!!!" teriak Inuyasha kesal, dia kembali menghunuskan pedang tessaiga pada Akihiko. "Kau gila, ya??!"


Kagome yang mendengar ucapan Akihiko terdiam membisu tidak tahu harus berkata apa. Kemarin Akiko dari timur, sekarang Akihiko dari selatan. Apakah besok akan datang Takeru dari utara dan lusa Shui dari netral?—rumor apa yang sebenarnya beredar di dunia youkai seputar kehamilan Rin??


Tersadar dari perasaan tertegun dalam hati, Rin kemudian tertawa kecil penuh kegugupan. "Anda salah, Akihiko-sama. Sesshoumaru-sama menginginkan anak kami."


"Kau tidak perlu berbohong padaku, Rin." Balas Akihiko datar, dia kembali menolehkan pandangannya pada Rin. Seulas senyum kecil memenuhi wajah tampannya. "Jika dia tidak menginginkannya, aku akan membantumu merawatnya."


"Eh??" seru Rin dan Kagome bersamaan lagi, tidak mengerti kenapa pembicaraan semakin aneh.


Inuyasha tidak bisa berkata apa-apa, tapi kemarahan dalam hatinya benar-benar memuncak, begitu juga dengan ketidak percayaan. Kemarin dia melihat Akiko yang ingin merebut suami orang, dan sekarang—dia melihat Akihiko yang ingin merebut istri dan anak orang?—ada apa dengan dunia ini?


Rin kebingungan, dia tidak tahu harus melakukan apa untuk menjelaskan kesalahpahaman yang ada. Namun, belum sempat dia melakukan sesuatu, Sesshoumaru yang ada di belakang mengangkat tangan kanan menutup kedua matanya, sedangkan tangan kirinya melancarkan serangan hikari no muchi menyerang Akihiko.


Akihiko dengan cepat meloncat ke belakang menghindar cambuk cahaya berwarna kuning kehijauan yang berasal dari ujung jari Sesshoumaru. Tapi, dengan cepat pula cambuk itu mengejar.


Kagome yang melihat kekacauan segera bertindak cepat. Dia memerintah anak-anak untuk kembali ke kamar. Setelah apa yang dikatakan Akihiko, Sesshoumaru tidak mungkin akan berdiam diri begitu saja. Jika masih berdiam diri—kakak iparnya benar telah menjadi seorang suami dan ayah yang gagal.


"Bagus!! Bunuh saja sialan itu, Sesshoumaru!!" teriak Inuyasha. Dia tidak menghentikan Sesshoumaru, malahan dia menyemangati kakak seayahnya itu menyerang.


Sedikit terdesak karena tempat yang sempit, Akihiko kemudian meloncat keluar dari kamar. Mencabut kazakiri no kiba dari sarungnya, dengan lugas, Akihiko kemudian memotong cambuk itu. Berdiri diam, kedua matanya menatap Sesshoumaru dengan seringai kemarahan.


Sesshoumaru juga tidak membuang waktu. Memindahkan Rin dengan hati-hati, inuyoukai itu berlari keluar kamar. "Jaga Rin, Inuyasha." perintahnya pada Inuyasha.


"Serahkan saja padaku!" balas Inuyasha. Dia tidak menolak ataupun mengabaikan perintah Sesshoumaru untuk pertama kalinya, bahkan dia tersenyum lebar menyangupinya.


"Inuyasha!! Kau seharusnya menghentikan mereka!!" teriak Kagome panik bercampur kesal. Jika kedua daiyoukai itu terus bertarung, maka, istana ini bisa hancur.


Inuyasha tidak peduli, malahan, dia berpura-pura seakan tidak mendengar ucapan Kagome. Membalikkan badan, dia berjalan mendekati Rin yang kelihatannya masih bingung dan terkejut dengan apa yang terjadi. "Kau tidak apa-apa, Rin?" tanyanya pelan.


"I-inuyasha-sama," panggil Rin terbata-bata. Kedua mata coklatnya menatap lurus ke arah Sesshoumaru dan Akihiko yang bertarung depan. "Rin mohon! hentikan Sesshoumaru-sama dan Akihiko-sama!"


"Biarkan saja, Rin kecil." Suara Inukimi tiba-tiba terdengar dari belakang Inuyasha. Tidak tahu sejak kapan, mantan penguasa tanah barat itu telah berada dalam kamar. Dia menatap Sesshoumaru dan Akihiko yang bertarung dengan tatapan tajam dan wajah serius.


Beraninya serigala itu datang ke istana tanah barat dengan seenaknya?—lalu, yang paling penting; beraninya dia berpikir merebut menantu dan cucunya! Inukimi sungguh ingin meloncat ikut menyerang Akihiko sekarang.


Rin semakin kebingungan dengan sistuasi yang ada. Menatap keluar, dia bisa melihat para penghuni istana sudah menyadari keributan yang ada. Para prajurit youkai istana tanah barat mulai berdatangan dengan senjata di tangan.


Kagome hanya dapat menatap pasrah apa yang terjadi, jika Inuyasha dan Inukimi tidak bersedia membantu menghentikan pertarungan di depan, siapa lagi yang bisa?


Dalam pertarungan mereka sekarang, baik Sesshoumaru maupun Akihiko sama sekali tidak memberikan celah atau kesempatan pada lawannya. Serangan-serangan mematikan dilancarkan mereka untuk mengincar nyawa lawan.


"Jika kau tidak bisa menjaga Rin," ujar Akihiko menatap tajam Sesshoumaru dalam serangan yang dilancarkannya. "Tidak bisa melindunginya, maka—biarkan aku yang melakukannya, anjing!!"


Sesahoumaru tidak membalas ucapan Akihiko. Kedua matanya yang berwarna emas mulai menjadi merah kehitaman, sedangkan bibirnya terangkat keatas memperlihatkan taringnya yang semakin memanjang menadakan inuyoukai itu sedang luar biasa marah.


Pertarungan yang ada mulai menghancurkan beberapa sudut taman, dan Rin yang melihatnya tidak dapat berdiam diri lagi. Berdiri, tidak mempedulikan Inuyasha, Kagome dan Inukimi, dia berjalan cepat ke arah kedua daiyoukai tersebut. "Sesshoumaru-sama! Akihiko-sama!! Hentikan—Ahhh!"


Suara teriakan Rin memanggil nama mereka yang berubah menjadi teriakan kesakitan seketika membuat semua Sesshoumaru dan Akihiko berhenti menyeran dan menoleh pandangan mereka pada wanita manusia tersebut.


Mata merah Sesshoumaru dengan segera kembali menjadi emas dan terbelalak terkejut saat Rin yang kesakitan terduduk ke bawah di depan pintu kamar. Kedua tangannya memegang perutnya, dan Inuyasha, Kagome serta Inukimi yang mengelilinginya terlihat sangat khawatir.

__ADS_1


Tidak mempedulikan Akihiko sama sekali, Sesshoumaru berlari mendekati Rin. Inuyoukai itu langsung berjongkok dan menyentuh kedua pundak Rin. Matanya tidak dapat menyembunyikan ketakutan yang ada. "Rin."


"R-rin tidak apa-apa, Sesshoumaru-sama," balas Rin cepat sambil bernapas terengah. Tapi, meski begitu, ada seulas senyum lemah dan pasrah di wajahnya. "Anak kita tiba-tiba menendang kuat."


Jawaban Rin yang diluar dugaan membuat Sesshoumaru, Inuyasha, Kagome dan Inukimi terdiam.


Lalu, sejenak kemudian, Kagome tertawa. Anak dalam kandungan Rin benar-benar aktif dan juga pintar memilih waktu—mungkin dia merasakan apa yang dikhawatirkan ibunya, karena itu dia bergerak dan menghentikan ayahnya yang sudah ingin mengamuk.


"Hmm," gumam Inukimi pelan. Seulas senyum memenuhi wajahnya. Dia punya pandangan lain kenapa anak dalam kandungan Rin tiba-tiba bergerak. "Kecuali Sesshoumaru, biasanya bayi inuyoukai sangat sensitif sejak dalam kandungan. Mereka bisa merasakan aura sekeliling meski berada dalam rahim ibu. Kurasa, walau cucuku seorang inuhanyou, dia juga seperti itu. Dia merasakan aura dua daiyoukai yang bertarung, karena itu dia bergerak kuat."


"Ughh, dia baru berusia dua bulan." gumam Kagome pelan mendengar penjelasan Inukimi dan menghela napas. Baru berusia dua bulan, tapi sudah bisa seperti itu? Sepertinya anak dalam perut Rin benar akan terlahir seperti ayahnya.


"Cucuku akan terlahir menjadi inuhanyou yang sangat kuat." Tawa Inukimi penuh kebanggaan. Mata emasnya berbinar penuh kebahagiaam menatap perut Rin.


"Cih," Inuyasha berdecak pelan dan membuang muka. Dia melipat kedua tangan di dada. "Tidak ada inuhanyou yang lemah di dunia ini. Inuhanyou adalah makhluk yang paling kuat."


Rin tersenyum mendengar ucapan Inukimi dan juga Inuyasha. Perlahan, dia mengelusnya pelan. Anak yang kuat—ya! Anaknya pasti akan terlahir sebagai hanyou yang kuat.


Sesshoumaru tidak berkata apa-apa, tapi ada rasa bangga dalam hatinya mendengar ucapan Inukimi. Perlahan, dia mengangkat tangan menyentuh tangan Rin yang berada di atas perutnya. "Anak Sesshoumaru ini tidak akan lemah."


Untuk kali ini, Rin tertawa. Dia kemudian mengenggam tangan Sesshounaru itu dan tersenyum. "Iya, anak ini akan menjadi yang terkuat."


Akihiko yang melihat interaksi Sesshoumaru, Rin dan yang lainnya, tidak dapat menyembunyikan rasa marah dan juga—kecewa dalam hati. Marah karena mereka seakan tidak mempedulikan kehadirannya, lalu kecewa karena Rin yang terlihat jelas masih mencintai Sesshoumaru walau inuyoukai itu tidak menginginkan anak dalam kandungannya.


"Aku tidak tahu kau ternyata pandai bersandiwara, anjing. Kau sekarang benar terlihat menginginkan anak itu," tawa Akihiko kemudian. Kedua matanya menatap Sesshoumaru yang berdiri dan membalikkan badan menatapnya. "Sampai kapan kau mau membohongi Rin?"


"Membohongi?" gumam Rin bingung, begitu juga dengan yang lainnya.


Tidak lama setelah Rin menikah dengan Sesshoumaru, rumor mengenai tujuan dan sifat asli Rin menikah dengan Sesshoumaru beredar luas di dunia manusia. Lalu, akhir-akhir ini rumor tentang kehamilan kisaki tanah barat dan Sesshoumaru yang memaksa istrinya untuk mengugurkan anak dalam kandungan beredar luas di dunia youkai.


Akihiko tidak percaya dengan rumor mengenai Rin yang beredar di dunia manusia, sebab, dia mengenal baik sifat wanita manusia yang polos itu—dia wanita yang tidak menginginkan apa-apa dalam hidupnya; wanita yang sudah puas dengan setangkai bunga.


Tapi, untuk kehamilan Rin dan Sesshoumaru yang tidak menginginkan anak mereka, Akihiko percaya. Rin tidak menunjukkan dirinya selama dua bulan kehamilannya, tidak peduli youkai dari daerah mana yang datang mencarinya, kisaki tanah barat tidak menunjukkan diri. Semua tugasnya diambil alih oleh Inukimi, dan setelah beberapa lama, semua orang tahu; kisaki tanah barat dikurung di paviliun timur istana tanah barat dn hanya beberapa orang yang boleh memasukinya.


Lalu, setengah bulan yang lalu, dari salah satu youkai yang berkunjung ke istana tanah barat untuk beberapa urusan, dia mendengar keributan di paviliun timur istana, dan juga tanpa sengaja mendengar informasi dari penghuni istana yang mengatakan Sesshoumaru ingin mengugurkan anak dalam kandungan kisakinya.


Pertama kali Akihiko mendengar berita itu, dia tertawa dengan sangat gembiranya. Untuk pilihan Rin, betapa wanita itu menyesal sekarang; memilih Sesshoumaru, bukan dirinya. Dia pasti sangat sedih, terpukul dan menangis akan segala kesalahan yang telah dilakukannya.


Kali ini, Akihiko yakin, jika dia datang untuk Rin yang telah mengetahui sifat asli dari Sesshoumaru, wanita manusia itu pasti akan ikut dengannya ke tanah selatan. Tidak apa-apa meski anak dalam kandungannya adalah anak dari anjing yang dibencinya, dan tidak apa-apa juga, jika wanita itu memiliki tanda dari pria lain. Asal wanita manusia yang bagaikan musim semi itu akan berada di sampingnya selalu, asal senyum indah itu terarah padanya seorang saja—Akihiko merasa itu semua tidak apa-apa.


Anjing yang egois dan wanita manusia yang bodoh, Akihiko sungguh ingin melihat berapa lama lagi sandiwara ini bisa berlangsung?


"Kau tidak menginginkan hanyou menjadi penerusmu, kan?" Lanjut Akihiko lagi dengan senyum lebar di wajahnya. Namun, ekspresi wajahnya jelas sedang menghina.


Pertanyaan Akihiko membuat semua yang ada di tempat menolehkan pandangan pada Sesshoumaru, baik itu Kagome, Inukimi, Inuyasha maupun para prajurit yang ada.


Kecuali Inuyasha, pertanyaan yang dilontarkan Akihiko adalah sebuah pertanyaan yang tidak mereka ketahui jawabannya. Apakah Sesshoumaru akan menjadikan ankanya yang merupakan seorang inuhanyou pewarisnya? Menjadikan seorang hanyou menjadi pemimpin ribuan youkai.


Suasana yang tadinya penuh keributan menjadi hening. Tidak ada seorangpun yang berani bersuara.


Namun, tidak lama kemudian, telinga semua orang mendengar suara tawa, dan suara tawa yang sangat keras itu dengan segera membuat siapapun yang ada di sana kecuali Rin merinding karena ketakutan, sebab yang tertawa sekarang adalah—Sesshoumaru.


Sesshoumaru tertawa, untuk pertama kalinya dia tertawa keras. Sungguh, dia merasa lucu sekali sekarang. Pertanyaan tentang pewaris tanah barat sepertinya kini menjadi topik yang paling ingin diketahui mereka yang bukan berasal dari barat. Siapa pewaris tanah barat? Itu tidak ada kaitannya dengan Akiko maupun Akihiko, tapi kenapa mereka semua terus ingin ikut campur?


Seesshoumaru kemudian berhenti tertawa. Berdiri tegak dengan mata emasnya yang membalas tatapan Akihiko, dia tersenyum. Membuka mulut, suaranya yang berat dan keras memenuhi seluruh paviliun.


"Aku, Sesshoumaru, putra dari Inu No Taisho, penguasa tanah barat, hari ini mengumumkan pewaris pewarisku yang sah dan hanya satu. Tidak peduli youkai, hanyou bahkan meskipun dia seorang manusia, pada anak dari Rin Kisaki tanah barat, aku akan mewariskan tanah, istana, pedang dan segala yang kumiliki padanya—dialah satu-satunya pewaris tanah barat yang besar dan jaya."


Apa yang diucapkan Sesshoumaru membuat semua yang ada terkejut. Mata mereka terbelalak tidak percaya dengan apa yang mereka dengar, tidak peduli youkai, hanyou, bahkan meskipun—manusia? Sesshoumaru, sang penguasa tanah barat telah mengumumkan pewarisnya.


Ucapan Sesshoumaru sangat mengejutkan Rin yang ada di belakangnya. Namun, sejenak kemudian, rasa hangat memenuhi seluruh relung hatinya.


Pewaris tanah barat.


Tanah barat yang besar dan makmur. Sesungguhnya sejak dia mengetahui kehidupan baru dalam dirinya, Rin tidak pernah memikirkan itu. Dia tidak pernah memikirkan sekalipun anaknya kelak akan mewarisi semua milik Sesshoumaru. Dia memang mengharapkan anaknya akan seperti ayahnya yang begitu luar biasa, tapi dari itu semua, yang paling diharapkannya sebenarnya adalah anaknya bisa hidup, tumbuh sehat dan—bahagia.


Seorang ibu akan selalu mengharapkan anaknya sukses, tetapi, sukses atau tidak suksesnya seorang anak sebenarnya tidaklah begitu penting bagi sang ibu. Sebab, yang paling penting baginya adalah—kebahagiaan sang anak.


Ya! Rin tidak pernah memikirkan warisan Sesshoumaru untuk anaknya. Namun, mendengar ucapan inuyoukai itu sekarang, dia sangat bahagia. Kenapa? Karena Sesshoumaru mengatakan tidak peduli youkai, hanyou bahkan meskipun manusia—inuyoukai itu benar-benar menginginkan anak mereka; mencintai anak mereka. Itu sudah lebih cukup dari apa yamg dia harapkan dari Sesshoumaru untuk anak dalam kandungannya.


Berdiri, Rin kemudian melangkah mendekati Sesshoumaru. Kedua tangannya dengan segera mengenggam tangan kanan inuyoukai itu dan membuat penguasa tanah barat itu menoleh menatapnya. Lalu, dia tersenyum—senyum terbaiknya.


Sentuhan yang hangat, mata besar yang jernih, serta senyum yang indah. Kebahagiaan dia wajah Rin, Sesshoumaru tahu, itu bukan bahagia karena ucapannya mengenai pewaris, tapi dia bahagia karena dirinya mencintai anak mereka. Rin yang tidak pernah berubah, meski telah menjadi seorang istri dan ibu, yang diinginkannya selalu hanyalah—cintanya.


Akihiko tertegun dengan apa yang katakan Sesshoumaru. Namun, saat melihat reaksi Rin, sekali lagi, kemarahan memenuhi hatinya. Apa maksud ini semua ini? Kenapa sampai sekarang Rin masih tidak mengerti? Sesshoumaru bukanlah pilihan yang tepat.

__ADS_1


Menoleh wajahnya menatap Akihiko, Rin kemudian tersenyum kecil. "Akihiko-sama," panggilnya. Melepaskan tangan kanannya yang menyentuh tangan Sesshoumaru, dia kembali mengelus perutnya. "Anda salah. Sesshoumaru-sama menginginkan anak ini, sama seperti Rin menginginkannya."


"Rin." panggil Akihiko cepat. Dia tidak menyukai apa yang dia dengar.


"—dan Rin benar-benar bahagia."


Kata bahagia yang diucapkan Rin kali ini membuat Akihiko tertawa keras. Bahagia? Wanita manusia ini bisa mengatakan dia bahagia dalam keadaannya sekarang? Melemah seperti ini, dikurung dalam istana—apa wanita ini tahu, seperti apa dia dipandang sekarang oleh manusia sejenisnya? Berapa banyak yang menginginkan dia mati sekarang?


"Kau bahagia?" tanya Akihiko sambil tersenyum menyeringai. Mata biru langitnya bersinar penuh kemarahan. "Kau bisa bahagia karena kau tidak tahu apa yang sesungguhnya terjadi di dunia luar."


Pandangan mata Sesshoumaru menjadi tajam begitu mendengar ucapan Akihiko, begitu juga dengan, Inuyasha, Kagome dan Inukimi.


"Kau tahu bagaimana kau dipandang dalam mata manusia sejenismu sekarang?" tanya Akihiko lagi dengan senyun menyeringai yang tidak berubah.


"Diam." perintah Sesshoumaru. Kedua matanya berubah menjadi merah karena kemarahan. Dia sudah ingin maju menyerang Akihiko dan menutup mulut serigala itu, namun tangan kiri Rin yang mengenggam erat tangan kananya menghentikannya.


"—kau adalah wanita murahan. Wanita manusia yang rela menjadi mainan youkai."


Kagome menjadi sangat panik mendengar ucapan Akihiko. Menatap Rin, dia tidak bisa menyembunyikan kekhawatiran dalam hatinya. Miko masa depan itu tidak pernah menginginkan Rin yang sudah bagaikan adik baginya mengetahui kenyataan ini. Bagaimana kalau wanita hamil itu sampai terpuruk dan stress?


"Sialan kau!!" teriak Inuyasha keras. Kemarahan memenuhi hatinya saat dia mendengar Akihiko mengatakan pada Rin apa yang paling tidak diinginkan mereka diketahui wanita manusia itu. Mencabut pedang tessaiga dia berlari menyerang sang penguas tanah selatan tanpa mempedulikan apapun.


Inukimi tidak bergerak, tapi wajahnya juga jelas terlihat sangat marah. Dia tahu rumor itu, tapi melihat ada yang berani mengatakannya pada Rin tepat di depan matanya, dia benar akan membunuh serigala di depannya.


Meloncat menghindar serangan Inuyasha, Akihiko tertawa, dia merasa senang melihat reaksi semua orang yang terarah padanya sekarang. "Tidak hanya itu, manusia ingin membunuhmu dan anakmu! Kau akan bahagia dengan hidupmu sekarang ini, Rin??"


Rumor yang beredar luas, jika saja Rin adalah kisaki tanah selatan, maka itu tidak akan terjadi. Beda dengan Sesshoumaru yang tidak suka berhubungan dengan manusia, dia akan membunuh dan menutup mulut semua manusia yang ada-dia tidak akan membiarkan Rin berada di posisi itu.


Sesshoumaru tidak bisa menahan diri lagi. Tidak peduli perang barat-selatan pecah lagi, kali ini, dia benar-benar akan mencabut jantung youkai serigala itu. Melepaskan tangannya yang digenggam Rin, dia berlari maju.


Namun, sebelum serangan Sesshoumaru mengenai Akihiko yang menghindar serangan Inuyasha, suara tenang Rin tiba-tiba terdengar.


"Rin sudah tahu."


Suara Rin yang tenang membuat semua orang terkejut. Tidak terkecuali, baik Sesshoumaru, Inuyasha dan juga Akihiko, mereka berhenti menyerang dan menoleh wajah menatap wanita manusia itu. Badan mungilnya berdiri tegak, dengan seulas senyum kecil memenuhi wajah cantik yang pucat.


"Rin sudah lama tahu," tawa Rin lepas. Tidak ada kesedihan ataupun rasa terkejut di rasakannya begitu mendengar ucapan Akihiko. "Walau, ya—kalau manusia yang mau membunuh Rin dan anak Rin, baru kali ini Rin dengar."


"K-kau tahu?" tanya Akihiko terkejut tidak percaya dengan reaksi Rin.


"Siapa yang memberitahumu?" tanya Sesshoumaru. Mata emasnya menatap Rin tenang, tapi ada kemarahan memenuhi hatinya, siapa? Siapa yang berani memberitahu itu pada Rin? Dia sudah memastikan tidak ada seorangpun dalam istana tanah barat yang berani mengatakan itu pada kisakinya—jadi, siapa yang berani mengatakan itu padanya?


Rin menggeleng kepala dengan tawa yang tidak berubah. "Tidak ada yang memberitahu Rin. Rin mendengarnya sendiri di dekat gunung hare saat honey moon kita, Sesshoumaru-sama."


Jawaban Rin membuat semua yang ada sekali lagi terkejut. Mata mereka terbelalak tidak percaya. Honey moon di gunung hare? Sudah selama ini kah Rin mengetahuinya?—dia bahkan mengetahuinya terlebih dahulu dibandingkan semua orang. Lalu, mendengarnya sendiri?


"Rin tidak apa-apa, Sesshoumaru-sama," senyum Rin kemudian. Mata coklatnya menatap Sesshoumaru lembut. "Rin tidak mempermaslahkan jika Rin dicap sebagai wanita murahan, wanita hina, wanita rendah mainan, penghianat manusia; pendosa. Asal bisa bersama anda—" perlahan menurunkan pandangan pada perut besarnya, Rin membelainya lembut. "Dan juga anak kita—Rin bersedia menanggungnya."


Cintanya, Rin tahu, manusia tidak akan mengerti. Pilihannya, manusia akan mengatakannya salah. Tapi, tidak apa-apa. Kejam dan gelapnya dunia, dia sudah tahu sejak kecil. Keegoisan, ketamakan, ketidak pedulian dan kesombongan para manusia—Rin sudah melihatnya sejak dulu-dulu sekali. Kenyataan yang ada, manusia tidak akan percaya, mereka hanya akan percaya dengan apa yang menurut mereka benar. Jadi, untuk dunia yang seperti itu, untuk para manusia yang seperti itu, kenapa dia harus peduli? Manusia tidak pernah memahaminya, jadi benar—tidak apa-apa.


Dalam jawaban yang didengar, besarnya cinta Rin, tulusnya cinta wanita itu, Sesshoumaru bisa merasakannya jelas. Ada rasa bahagia, namun juga—sedih dan penyesalan. Dalam diam, dalam senyum tawanya, sebenarnya telah berapa banyak wanita mungil itu menyembunyikan segala yang diketahuinya? Penolakan mereka yang sebangsa dengannya sejak kecil hingga sekarang, segala yang dilaluinya dengan senyum tawa—itu bukanlah sesuatu yang seharusnya Rin lalui.


Lalu, dirinya, Sesshoumaru sang penguasa tanah barat yang begitu ditakuti, ternyata tidak tahu apa-apa. Dia ingin selalu melindungi wanita yang dicintainya dari apapun, dan dia berpikir dia telah berhasil. Namun, hari ini dia baru tahu, ternyata-dia sudah gagal. Di dunia ini, ternyata dia bukanlah apa-apa.


Rin bisa melihat emosi di wajah Sesshoumaru, perlahan, tidak mempedulikan semua yang ada, dia kemudian berjalan mendekati inuyoukai itu. Mengangkat kedua tangan, dia memeluknya erat. "Rin bahagia, Sesshoumaru-sama.


Menutup mata, Sesshoumaru mengangkat tangan membalas pelukan itu. Pantaskah dia? Untuk Rin yang seperti ini, cinta yang sebesar dn setulus ini-pantaskah dia, Sesshoumaru menerimanya? Sesshoumaru tahu; dia tidak pantas. Tidak ada seorangpun yang pantas untuk cinta Rin, dan juga, dunia ini terlalu tidak pantas untuk wanita manusia ini.


Kagome tidak bergerak dari tempatnya berdiri. Melihat Rin yang berada dalam pelukan Sesshoumaru, dia merasa sangat sedih dan juga hancur. Betapa manusia jaman ini sesungguhnya bersalah pada Rin. Wanita manusia yang selalu tersenyum dan tertawa itu hanya menginginkan kebahagiaan keluarga kecilnya—salahkah keinginannya itu?


Inuyasha tidak berkata apa-apa, tapi dia membuang mukanya melihat senyum Rin; dia tidak sanggup melihatnya lebih lama. Hatinya luar biasa sakit melihat senyum itu. Tersenyum meski manusia menolak dan dunia menghakimi—itu mengingatkannya lagi pada Izayoi, ibu kandungnya.


Dengan senyum yang tidak berubah, Rin kemudian mendonggak kepala menatap langit di atas. "Seperti saat Rin kecil," ujar Rin pelan. "Anda akan selalu ada dan melindungi Rin, saat Rin memanggil nama anda. Apakah kali ini tetap sama, Sesshoumaru-sama? Anda akan selalu melindungi Rin dan anak kita, kan?"


Sesshoumaru mengeratkan pelukannya dan membenamkan wajahnya pada celah leher Rin. "Sesshoumaru ini akan selalu ada untuk kalian berdua."


Tertawa, Rin kemudian mengangguk kepala. Dunia sudah berubah, seiring waktu yang terus berjalan, perubahan terjadi di mana-mana, tapi meski begitu masih banyak yang tidak berubah. Rin sudah bukan Rin kecil yang dulu, tapi, Sesshoumaru tetap akan datang untuknya saat dia memanggil. Karena itu, untuk manusia atau siapapun yang ingin membunuhnya dan anaknya—Rin tidak akan takut.


Menurunkan pandangannya pada Akihiko yang ada di depannya. Sekali lagi, Rin tersenyum. "Terima kasih, Akihiko-sama. Terima kasih anda telah datang jauh-jauh memberitahu Rin semua ini."


Hidup di dunia seperti ini, Rin tahu, tidak pernah mudah. Hidup tidak akan pernah berjalan mulus seperti yang dia kehendaki—halangan, rintangan dan masalah selalu datang tanpa dapat dihentikan. Karena itu, dia harus kuat, harus tabah, harus—berani.


Dia akan terus berlari, jika tidak bisa berlari lagi, maka dia akan berjalanl, dan jika tidak bisa berjalan lagi, maka—dia akan merangkak. Dia akan terus berjuanglah terus selagi dia hidup, bergeraklah terus sehingga dia melewati segala rintangan, halangan dan masalah dalam hidupnya, sebab dia percaya akan hari esok yang lebih baik di masa depan.


Ya! Rin percaya pada hari esok yang lebih baik dan cerah meski sekarang sekeliling begitu gelap. Demi dirinya, demi Sesshoumaru dan demi anak merek—demi kebahagiaan.

__ADS_1


....xOxOx....


__ADS_2