Till The End Of Time [ Inuyasha Fanfiction ]

Till The End Of Time [ Inuyasha Fanfiction ]
Chapter 158


__ADS_3

Inukimi berdiri sendirian di luar pintu kamar shoji yang tertutup rapat. Sunyi dan senyap, tidak ada suara sedikitpun di paviliun timur istana tanah barat sekarang, seakan tidak ada penghuninya selama ini.


Menatap pintu kamar yang tertutup, Inukimi merasa sangat berat membuka pintu tersebut. Karena dia tahu, tidak akan ada lagi senyum dan tawa yang menyapa saat pintu itu terbuka. Tapi, dia juga tahu, mau tidak mau dia harus membuka pintu yang telah tertutup rapat selama tiga hari itu.


Menutup mata dan menarik napas sejenak, Inukimi akhirnya membuka pintu dan melangkah masuk. Tidak ada yang berubah dari kamar itu, semuanya perabotan yang ada masih rapi seperti biasanya, kecuali futon kosong yang berantakan.


Menatap futon kosong tersebut sejenak, perlahan, mata emas Inukimi bergerak ke kanan. Dia bisa melihat jelas, di ujung sudut kanan kamar, Sesshoumaru, putra kandungnya duduk dengan kepala tertunduk ke bawah, dan di tangannya, dia memeluk erat badan mungil seorang wanita manusia.


Berjalan pelan mendekat, Inukimi bisa melihat Sesshoumaru tiba-tiba mengangkat kepala dan menyeringai penuh kemarahan padanya. Wajahnya telah hampir kembali pada sosok youkainya, dengan mata merah kehitaman, begitu juga dengan aura youkai menakutkan yang terpancar tidak mengijinkanya siapapun mendekat.


"Grrrr...."


Inukimi berhenti bergerak, menatap terus Sesshoumaru, dia melihat inuyoukai itu memeluk semakin erat wanita manusia dalam pelukan dan menutupi ya dengan mokomoko—seakan ingin menyembunyikan dan takut siapapun merebutnya.


"Sesshoumaru." Panggil Inukimi pelan.


Namun, Sesshoumaru tidak menjawab, dia menatap semakin marah Inukimi. Inuyoukai itu tidak mengenal lagi siapa yang ada di depannya. Yang dia tahu hanyalah menjaga wanita dalam pelukannya tidak menghilang ataupun direbut darinya.


Reaksi Sesshoumaru membuat Inukimi merasa sakit. Hancurnya putra kandungnya sekarang, dia bisa melihatnya jelas—pemandangan di depan adalah pemandangan yang tidak ingin dilihatnya dalam hidupnya yang panjang.


"Sesshoumaru." Panggil Inukimi lagi. Tapi, reaksi Sesshoumaru tetap sama, dan mantan penguasa tanah barat tahu, Sesshoumaru yang sekarang akan menyerang siapapun yang berani mendekatinya.


"Shura," ujar Inukimi kemudian menyebut nama pewaris tanah barat dengan pelan. "Ingatlah Shura, Sesshoumaru."


Nama yang disebutkan Inukimi kali ini memberikan reaksi berbeda pada Sesshoumaru. Mendengar nama putra kandungnya, dia berhenti menyeringai, kemarahan di wajahnya perlahan menghilang.


"Shura memerlukanmu sekarang, Sesshoumaru."


Perlahan, wajah Sesshoumaru kembali ke wujud manusianya. Dengan kedua mata yang terbuka besar dan bergetar, dia menyebutkan nama putra kandungnya pelan. "Shura... Shura...."


Rin mencintaimu, Shura.


Wajah tersenyum lembut seorang wanita manusia yang mencium lembut kening bayi inuyoukai dalam pulukannya terbayang dalam pikiran Sesshoumaru.


"Shura..Shura.."


Menggumamkan nama putranya terus, Sesshoumaru tersadar. Mata merah kehitamannya kembali menjadi emas.


Putraku dari barat, ibunda mencintaimu..


Putra dari barat, pewaris tanah barat, anak yang dicintai dan dilahirkan Rin dengan mempertaruhkan segalanya, permata Rin yang paling berharga—Sesshoumaru ingat wajah putra mereka.


"Shura..."


Inukimi bernapas lega melihat Sesshoumaru yang telah kembali sadar. Di dunia ini sekarang, hanya Shura seorang sajalah benang kewarasan inuyoukai itu—satu-satunya permata berharganya yang tersisa.


Perlahan, Sesshoumaru membuka mokomokonya yang menutupi Rin. Dengan mata emasnya, dia menatap diam wajah wanita dalam pelukannya.


Tidur.


Dia tetap cantik.  Tidak ada yang berubah,wajahnya begitu tenang dan damai, dia terlihat seperti sedang tertidur—tidurnya yang tenang dan juga abadi.


Rin mencintai anda, Sesshoumaru-sama.


Suara lembut yang menyatakan cinta dalam ingatan, Sesshoumaru menutup mata dan mencium kening wanita dalam pelukan dengan pelan. Mata yang tidak akan pernah terbuka, senyum yang tidak akan pernah ada lagi—semua itu hanya akan ada dalam kenangannya.


Rin ingin Shura tumbuh dewasa dengan baik.Rin ingin Shura aman, sehat dan selalu bahagia.


Keinginan dan juga doa Rin, cinta tulus sepenuh hati untuk Shura, Sesshoumaru tahu, dia harus menwujudkannya. Di dunia ini sekarang, dia harus melindungi putra mereka yang paling berharga.


"Tenanglah, Rin. Sesshoumaru ini akan selalu menjaga Shura..."


....xOxOx....


Salju telah mulai mencair, matahari bersinar dengan hangat di atas langit siang. Beberapa kuncup bunga sakura mulai terlihat di dalam gunung hare yang terkenal indah, bukti bahwa musim semi yang ditunggu-tunggu telah dimulai.


Gunung hare yang terkenal indah karena bunga sakuranya pada awal musim semi ini kini penuh dengan para youkai dan hanyou dari seluruh jepang. Mereka semua berdiri diam dengan wajah mereka yang tanpa ekpresi, mata mereka semua tertuju pada sebuah rombngan dan sebuah tandu indah berwarna merah dengan lambang kebesaran tanah barat.


Tandu itu tertutup tirai putih dari kain sutra, dan dari siluet bayangan yang ada, semua orang bisa melihat, ada seorang wanita yang  berada di dalamnya.


Di depan rombongan, Sesshoumaru, sang penguasa tanah barat memimpin. Melangkah dengan tegap penuh kewibawaan, wajahnya tanpa ekspresi, tenang tanpa emosi sedikitpun di mata emasnya yang cemerlang. Lalu di tangannya, dia menggendong sang pewaris tanah barat yang tertidur tenang dalam dekapan.


Di belakang Sesshoumaru, Inukimi, Kiri, Kira, Kenji, Jaken dan Ah-un mengikuti, begitu juga dengan Inuyasha, Kagome, Miroku, Sango, Kohaku, Kaeda dan anak-anak. Mereka tidak mengatakan apa-apa, tapi kesedihan dalam mata mereka tidak tersembunyikan.


Rombongan yang ada berjalan pelan dalam gunung hare. Lalu, saat mata emas Sesshoumaru menatap sebatang pohon sakura di samping danau serta tumpukan kayu kering, langkah kakinya terhenti. Bunga sakura itu telah mekar sempurna dengan indah meski musim semi baru saja dimulai.


Rin sangat menyukai gunung hare. Tidur di bawah pohon sakura di samping danau, Rin merasa itu adalah tempat beristirahat paling menyenangkan.


Tempat beristirahat paling menyenangkan, Sesshoumaru tahu, wanita itu pasti akan senang karena dia telah kembali ke tempat ini. Tempat dia akan dapat tertidur untuk selamanya—tempat tidur abadinya.


"Sesshoumaru!!!!!" suara teriakan keras penuh kemarahan memecahkan keheningan. Dari atas Sesshoumaru, Akihiko tiba-tiba muncul dan meninju wajah inuyoukai tersebut.


Sesshoumaru tidak bergeming sedikitpun ditinju oleh Akihiko. Dia masih berdiri kokoh, namun penguasa tanah selatan tidak berhenti, youkai serigala itu kembali meninju berkali-kali dengan kedua tangannya di wajah tanpa ekspresi itu. "Apa yang telah kau lakukan??! Kenapa??!! Kenapa Rin mati!!!!??"


"Sialan, apa yang kau lakukan!!??" Inuyasha yang ada di belakang Sesshomaru segera bergerak maju, menangkap tangan Akihiko, inuhanyou itu menatap marah pada penguasa tanah selatan yang tiba-tiba muncul dan membuat keributan.


Namun, Akihiko tidak peduli, dia berusaha membebaskan diri. Menatap Sesshoumaru, pandangannya kemudian jatuh pada Shura yang telah terbagun dari tidurnya dalam gendongan Sesshoumaru. Mata emas inuyoukai kecil itu berubah menjadi merah darah menatap menyeringai pada penguasa tanah selatan yang telah melukai ayah kandungnya.


Pandangan penuh kemarahan Akihiko seketika berubah menjadi kebencian. Semuanya bermula dari inuyoukai kecil itu, jika saja Rin tidak memaksa melahirkannya, maka wanita manusia itu pasti masih hidup, masih tertawa dan tersenyum—ya, inuyoukai kecil itulah yang mencelakainya!


"Hanya untuk pewarismu, kau membiarkan Rin mati!! Kau tidak seharusnya memiliki Rin!!!"


Inuyasha semakin marah mendengar ucapan Akihiko. Bagaimana bisa ada orang yang berpikir seperti ini? Muncul tiba-tiba membuat kekacauan dan terus menyalahkan sesuka hati.


Sesshoumaru tetap tidak bergeming, dia hanya terus menatap Akihiko yang kembali berteriak marah penuh kebencian.


"Jika saja Rin tidak memilihmu!! Jika saja kau memaksa dia menggugurkan anak itu—kau dan anakmulah yang membunuh Rin!!!"


Sesshoumaru menggerakkan tangan kanannya dan menutup pandangan Shura yang terarah pada Akihiko. Tapi, dia tidak menemukan kekuatan untuk membalas ucapan youkai serigala tersebut, sebab, apa yang dikatakannya sebagian benar. Rin mati adalah karena—dirinya.


Kematian Rin tidak ada sangkut pautnya dengan Shura, tapi tidak dengan dirinya. Wanita manusia yang terus bertahan melawan kematian, wanita yang selalu keluar sebagai pemenang walau jiwa dan raganya hancur—Rin seharusnya masih hidup. Tapi, disitulah Sesshoumaru ikut campur. Dengan mulutnya sendiri, dia memerintah Rin untuk pergi, memerintahnya untuk mati—dialah yang sebenarnya membunuh wanita manusia itu.


"Hei!!! Diam kau, sialan!!" teriak Inuyasha yang sudah tidak tahan. Dia mengepal tangan dan meninju kuat Akihiko hingga terjatuh ke bawah. Tidak peduli, dia melayangkan kakinya untuk menyerang penguasa tanah selatan. "Atas dasar apa kau mengucapkan itu!!!"


Akihiko menahan kaki Inuyasha dan bersiap menyerang, tapi matanya tetap terpusat pada Sesshoumaru."Kalian berdua adalah pembunuh!!!"


Kenji yang sudah tidak tahan dengan sikap Akihiko dan Inuyasha yang membuat keributan bergerak maju dari belakang Sesshoumaru. Dengan segera dia menahan youkai serigala dan inuhanyou yang akan mulai bertarung tersebut. "Hentikan kalian berdua!!! Jangan membuat keributan saat mengantar Rin-rin ke peristirahatan terakhirnya!!!!"


Ucapan Kenji membuat Akihiko maupun Inuyasha tertegun. Seketika mereka berdua berhenti, berdiri diam mereka tidak tahu harus berbuat apa dalam pandangan mata semua yang ada dalam gunung hare.


Pembunuh.


Ucapan Akihiko bergema dalam kepala Sesshoumaru. Menutup mata, dia tidak membalas ucapan youkai serigala itu. Pembunuh sebenarnya yang tidak bisa menjelaskan alasan dia membunuh, pembunuh yang berusaha membenarkan apa yang dia lakukan, pembunuh yang ingin memberikan istirahat tenang tanpa sakit dan derita pada wanita manusia yang dicintainya—tapi, pada akhir, dia tetaplah; pembunuhnya.

__ADS_1


Sesshoumaru-sama.


Bayangan senyum dan tawa Rin yang tidak kunjung menghilang dapat dilihat Sesshoumaru lagi. Wanita manusia yang memeluk bunga dan berlari riang gembira dalam taman bunga. Menari dan bernyanyi dalam germelap cahaya—musim semi abadi yang tidak pernah tergantikan.


Rin, mencintai anda, Sesshoumaru-sama.


Untuk cinta Rin yang begitu luar biasa, Sesshoumaru tahu—dia tidak pernah pantas. Mungkin Akihiko benar, tidak seharusnya dia membiarkan Rin mencintainya. Mungkin dulu sekali tidak seharusnya dia mengijinkan wanita kecil itu hidup di istana tanah barat bersamanya, atau mungkin seharusnya saat dia menghidupkannya pertama kali, dia meninggalkannya—wanita manusia itu mungkin masih akan hidup jika itu dia lakukan.


Tapi, semua telah terjadi. Yang mati tidak akan dapat hidup lagi, dan waktu yang berlalu juga tidak dapat diputar kembali. Penyesalan telah tercipta dan tidak dapat diubah. Jadi, untuk masa depan yang ada, dia hanya dapat melakukan apa yang paling diinginkan Rin sebagai; penembusan.


Sesshoumaru-sama, selamanya bersama..


Membuka mata lagi, tidak mempedulikan Akihiko, Sesshoumaru membalikkan badannya. Semua pasang mata yang ada tertuju padanya, namun tidak peduli, dia melangkah pelan menuju tandu yang berada tidak jauh di depannya.


Membuka tirai yang ada, mata emas Sesshomaru menatap wanita manusia yang berada di dalamnya. Kecantikannya tidak pudar, dia hanya seperti sedang tertidur—tidur abadinya yang tenang.


Shura yang berada dalam gendongan Sesshoumaru tertawa bahagia melihat wajah ibu kandungnya. Menggerakkan tangan, dia berusaha meraih wajah cantik tersebut. Menuruti keinginan putranya, Sesshoumaru mendekatkan tangan kecil Shura menyentuh wajah itu untuk—terakhir kalinya.


Tawa Shura semakin keras, dan itu membuat Kagome serta Sango yang berada di samping tandu tidak dapat menahan air mata mereka. Kepolosan seorang bayi kecil, dia sama sekali tidak tahu apa yang terjadi; dia tidak tahu bahwa ibu kandung yang begitu dicintainya telah tiada.


Sesshoumaru tersenyum kecil mendengar suara tawa Shura. Menatap wajah cantik itu terus, dia tidak mengatakan apa-apa. Tapi, dia tahu, wanita manusia itu pasti akan gembira mendengar suara tawa anak mereka. Putra mereka akan selalu tertawa dan bahagia dalam hidupnya, begitu juga dengan dirinya—keinginannya, hadiah ulang tahun terakhirnya yang akan dikabulkan Sesshoumaru.


Hadiah ulang tahun yang Rin inginkan tahun ini adalah kebahagiaan Sesshoumaru-sama...


Sesshoumaru akan bahagia, begitu juga dengan Shura. Mereka akan terus melangkah ke depan menyosong hari esok dalam kebahagiaan meski tidak ada lagi musim semi abadi di samping.


Mulai hari ini dan kedepannya, sampai selamanya, tidak peduli apapun yang akan terjadi, Rin ingin Sesshoumaru-sama selalu bahagia....


"Kami akan bahagia, karena itu, tidurlah..." ujar Sesshoumaru pelan.


Tidak akan ada nyanyian dan tarian lagi, pelukan dan ciuman serta senyum dan tawa, begitu juga dengan air mata dan derita, sakit dan keputusasaan—untuk semua yang ada; ini pilihan terbaik yang dipilih, bukan?


Menarik badan Shura ke dalam pelukannya lagi, Sesshoumaru kemudian menoleh ke belakang menatap Inukimi yang tidak tahu sejak kapan ada di sampingnya. Tidak peduli dengan protes putranya, dia menyerahkan badan kecil itu pada mantan penguasa tanah barat. Lalu, dalam pendangan semua yang ada, dengan pelan dan hati-hati, Sesshoumaru mengendong badan mungil wanita manusia tersebut seakan takut dia akan terbangun dari tidur damainya.


Semua youkai dan hanyou yang ada dalam gunung hare berlutut melihat wanita dalam gendongan Sesshoumaru. Ada yang berwajah sedih dan ada juga yang berwajah datar, namun suasana kesedihan terasa jelas. Tidak bersuara, mereka semua menatap sosok paling dicintai di tanah barat, mereka datang memberikan penghormatan terakhir mereka.


Akihiko tidak dapat bergerak melihat wanita manusia dalam gendongan Sesshoumaru. Melihatnya langsung, dia tidak ingin mempercayainya, tapi kenyataan ada di depan mata; wanita yang bagaikan matahari dalam dunianya telah tiada.


Melangkah dan melangkah, Sesshoumaru berjalan melewati Akihiko dan Inuyasha yang diam mematung serta semua yang ada menuju pohon sakura yang bermekar dengan indah. Lalu, saat tiba di bawah pohon, dia membaringkan wanita dalam gendongannya ke atas tumpukan kayu kering yang ada.


Menatap lagi wajah wanita manusia tersebut, Sesshoumaru mengangkat tangan untuk membelai lembut pipi wajah cantik tersebut. Pertemuan mereka yang tidak disengaja, kebersamaan yang bahagia serta cinta yang hangat—semua itu adalah tidak terlupakan.


Lebih tinggi dari langit, lebih dalam dari laut, lebih besar dari dunia, lebih dari hidup Rin sendiri. Lebih dari segala-galanya, sebesar itulah cinta Rin untuk Sesshomaru-sama.


Sesshoumaru menutup mata erat dan menarik tangannya.


Selamanya bersama. Hadiah yang Rin inginkan adalah Rin ingin selalu bersama dengan Sesshoumaru-sama selamanya.


Mimpi telah usai, Sesshoumaru tahu, dia sudah harus bangun. Tapi, kenapa begitu berat? Kenapa suara itu terus menghantui? Kenapa dia masih bisa mendengarnya meski wanita yang dicintainta telah tiada?


Membuka mata, Sesshoumaru kemudian mepangkah mundur beberapa langkah. Mata emasnya tidak kunjung terlepas dari wajah wanita di depan.


Mengangkat tangan kanan, Sesshoumaru kemudian membuka telapak tanganya. Sebuah api berwarna merah kebiruan menyala di atasnya.


Karena itu, bersediakah Sesshoumaru-sama menemani Rin merajut mimpi ini?


Mulut mungil itu yang mengucapkan, tapi, pemilik mulut itu jugalah yang tidak menepatinya. Kenapa bertanya jika kau tidak bisa menepatinya? Tapi, Sesshoumaru tahu, dia tidak akan pernah mendapatkan jawabannya untuk selamanya.


Selamanya. Tidak peduli napasku telah berhenti, tidak peduli ragaku telah tiada, selama jiwaku masih ada—tidak. Bahkan jikapun jiwaku telah tiada, cintaiku pada anda tidak akan pernah berubah. Aku akan selalu mencintai anda, hingga akhir waktu.


Sesshoumaru tidak memerlukan cinta seperti itu, yang dia perlukan adalah wanita manusia itu selalu berada disampingnya, tersenyum dan tertawa untuknya. Apa artinya cinta jika tidak bisa bersama? Apa artinya sampai akhir waktu jika mereka terpisah?


Daun bunga sakura berguguran di bawa angin, Sesshoumaru menutup mata lagi. Pergilah, menghilanglah, suara yang terus berbisik dalam kepalanya—jangan menghantuinya lagi.


Rin mencintai anda, Sesshoumaru-sama...


....xOxOx....


Tsubasa menatap api merah biru yang berkobar-kobar dalam diam dalam kejauhan. Wajahnya tidak memperlihatkan ekspresi sedikitpun, begitu juga dengan mata merahnya.


Melangkah pelan melewati para youkai dan hanyou yang berlutut memberi hormat terakhir mereka, Tsubasa melangkah maju. Kedua matanya kemudian jatuh pada punggung Akihiko yang ada di depannya. Punggung yang tegap dan kokoh tidak berubah, tapi, apa yang dipikirkan sosok itu sekarang? Sedih? Hancur? Sakit atau apa?


Angin bertiup pelan, mata Tsubasa kembali teralih pada api yang menyala tidak tahu harus berbuat apa kecuali melihat. Seperti angin yang berhembus dan berlalu itu, dengan begitu saja, wanita itu menghilang dari dunia ini dengan begitu sempurnanya.


"Kau senang dia telah tiada bukan, Tsubasa?" suara Akihiko tiba-tiba terdengar membuat mata Tsubasa kembali pada sosok punggung tuannya.


"Kau selalu mengharapkannya tiada bukan? sekarang, dia telah tiada dengan sempurnanya—harapanmu telah terwujud." Lanjut Akihiko lagi dan tertawa pelan.


Tsubasa tidak membalas ucapan Akihiko, dia hanya diam membisu menatap penguasa tanah selatan yang tiba-tiba saja terlihat rapuh untuk pertama kalinya.


"Tapi, mungkin ini memang yang paling baik," ujar Akihiko lagi masih dalam tawa pelannya. "Dia tidak pernah menjadi milikku dan dia juga tidak pernah menungguku."


Kenapa tidak menunggunya? Kenapa tidak bertahan, padahal dia telah mengatakan akan menberikannya hadiah ulang tahun yang paling diharapkan—usia panjang dalam kebahagiaan. Akihiko tidak mengerti, kenapa perpisahan mereka seperti ini? Jika saja dia tahu, senyum pada hari itu adalah senyum terakhir yang akan dilihatnya, maka dia tidak akan pernah meninggalkan wanita itu; dia akan merebut dan mengamankan wanita itu dari Sesshoumaru yang hanya bisa berdiam diri tanpa melakukan apapun.


Terima kasih telah hadir dalam dunia Rin. Apapun yang terjadi kelak di kedepannya, Rin sungguh berharap anda tetap menjadi anda—Rin berharap anda selalu sehat dan bahagia..


Akihiko menutup matanya, ucapan itu teringat dalam pikiran, membuat hatinya merasa sangat sakit. Apakah dia sudah tahu, pertemuan itu adalah pertemuan terakhir mereka? Karena itu wanita berkata seperti itu?


Membuka mata, Akihiko kemudian mengeluarkan sebuah pita merah yang selalu ada dibalik kimononya. Pita merah biasa yang sangat berarti baginya—pita merah pemberian wanita itu.


"Aku akan tetap menjadi aku..." seulas senyum sendu memenuhi wajah Akihiko. Matanya menatap lekat pita merah tersebut. "Aku akan selalu sehat dan bahagia, jadi, tenanglah...."


Melepaskan pita tersebut, Akihiko membiarkannya jatuh ke bawah tanah. Pita yang tidak akan disimpannya lagi,


Karena itu—pita Rin ini untuk anda. Rin berharap—kelak, jika keadaan menjadi kacau. Jika api perang akan berkobar lagi, anda akan mengingat janji kita hari itu saat melihat pita ini. Jangan pernah melupakan janji anda pada Rin lagi, Akihiko-sama. Rin tidak mengharapkan perperangan—Rin mengharapkan kita semua bisa melewati tiap hari penuh kedamaian, tawa dan senyum—kebahagiaan.


Janji antara mereka—Akihiko tidak dapat menepatinya. Bagaimana dia bisa memaafkan Sesshoumaru? Bagaimana dia bisa memaafkan tanah barat? Saat wanita itu tiada, semuanya juga tiada—sebab sejak awal hingga akhir, semua hanya berpusat pada sosok mungil lambang musim semi abadi tersebut.


Membuka mata, menatap sekali lagi api yang masih menyala, Akihiko kemudian membalikkan badan dan meloncat terbang menjauh dari gunung hare. Kebencian memenuhi mata biru langitnya. Ya! Dia tidak akan pernah memaafkan tanah barat untuk selamanya. Sesshoumaru, tanah barat dan juga anak itu—mereka yang merebut hidup Rin, dia tidak akan pernah memaafkannya.


Tsubasa menatap sosok Akihiko yang terbang menjauh dan menghilang dari pandangan. Melangkah maju, dia memungut pita merah di atas tanah tersebut. Perlahan pandangannya kembali jatuh pada api yang ada, wajahnya tetap datar tanpa ekspresi.


Kau senang dia telah tiada bukan, Tsubasa? Kau selalu mengharapkannya tiada bukan? sekarang, dia telah tiada dengan sempurnanya—harapanmu telah terwujud.


Pertanyaan Akihiko barusan terlintas dalam pikiran Tsubasa dan dia; tersenyum sendu. Dia tidak menjawab sang penguasa tanah selatan adalah karena pertanyaan itu sungguh lucu dan jawaban yang dia miliki juga sangatlah ironis.


Hiduplah dengan bebas.


Wanita itu, wanita yang lebih cantik daripada musim semi, lebih hangat dari matahari, wanita yang dicintai pria yang bagaikan dunianya. Tsubasa pernah berpikir dan berharap, alangkah bagusnya jika wanita itu tidak pernah ada, tapi saat wanita itu telah menghilang, dia baru tahu, dia tidak mengharapkannya.


Kenyataan yang lucu sekali bukan? Tsubasa berpikir dia membenci musim semi itu, tapi pada akhirnya dia ternyata tidak dapat membencinya. Jika saja pertemuan mereka bertiga tidak seperti ini, jika saja Akihiko tidak pernah mencintai wanita itu, atau jika saja dia tidak pernah mencintai Akihiko, mungkin wanita itu akan menjadi seorang yang sangat berarti baginya; menjadi teman—seorang sahabat.


Menutup mata lagi, senyum hangat yang begitu indah itu melintas di pikiran Tsubasa. Satu-satunya keberadaan yang benar-benar melihatnya. Mengajarnya dan memeluknya, mau mengerti dan akan ada untuknya; Tsubasa tahu, dia tidak akan menemukan keberadaan seperti itu lagi untuk selamanya.

__ADS_1


Hiduplah dengan bahagia...


....xOxOx....


Api yang menyala telah padam, Sesshoumaru menatap lekat tumpukan kayu yang kini telah lenyap digantikan abu. Angin yang bertiup pelan dengan cepat menerbangkang abu yang ada, terbang dan menghilang dalam musim semi yang telah tiba.


Tidak bersuara dan bergerak, Sesshoumaru mengangkat kepala menatap langit biru di atas dan menutup mata. Telah berakhir, kini semuanya benar-benar telah berakhir dan dia akan kembali ke jalannya yang sebenarnya.


"Cari Rin, Sesshoumaru." Suara pelan Inuyasha tiba-tiba terdengar memecah keheningan dari belakang Sesshoumaru.


Sesshoumaru tidak menoleh ke belakang, dia tahu bahwa Inuyasha dan yang lainnya kini berada di belakang menatapnya penuh kekhawatiran. Tapi, dia tidak perlu dikhawatirkan?—semuanya hanya kembali ke sebelum wanita manusia itu muncul dalam hidupnya.


"Rin akan berenkarnasi lagi. Jadi, carilah dia—kalian bisa bersama lagi, Sesshoumaru." Lanjut Inuyasha lagi. Dia tidak tahu harus mengatakan apa lagi, dan hanya ini yang ada dalam pikirannya sekarang.


"Benar, kakak!" sambung Kagome cepat. "Rin-chan pasti akan kembali padamu lagi."


Yang lain tidak mengatakan apapun, tapi melihat punggung kokoh di depan mereka, mereka setuju. Kisah yang mereka lihat, mereka tidak ingin berakhir seperti ini—mereka berharap di masa depan akhir kisah ini adalah kebersamaan dan kebahagiaan.


Sesshoumaru membuka mata dan menatap kembali pohon sakura di depan. Ekspresi wajahnya tetap datar tanpa emosi. "Inuyasha, apakah menurutmu istrimu adalah miko di masa lalu itu?"


Pertanyaan tiba-tiba Sesshoumaru membuat Inuyasha tertegun, begitu juga dengan yang lainnya. Mereka semua tahu yabg dimaksud miko di masa lalu dalam pertanyaan penguasa tanah barat adalah Kikyo.


"Apakah mereka adalah orang yang sama?"


Inuyasha tidak dapat menjawab pertanyaan Sesshoumaru sebab jawabannya adalah; tidak sama. Kikyo adalah Kikyo, dan Kagome adalah Kagome. Meski memiliki jiwa yang sama, mereka adalah orang yang berbeda, kepribadian dan cara pandang.


"Dia tidak akan kembali lagi, dia tidak akan pernah berenkarnasi lagi..."


Konsekuensinya adalah jiwanya akan musnah, dan dia tidak akan pernah dapat masuk ke lingkaran reinkarnasi lagi.


Ucapan Meido seki padanya, Sesshoumaru ingat dengan baik, serta sosok yang terbaring lemah dalam kegelapan tanpa ujung. Badan mungil yang terus bergetar hebat serta garis-garis hitam yang bergerak bagaikan ular memenuhi badan dan wajah. Lalu, yang paling tidak terlupakan, kaki dan tangan yang ada kini telah berubah menjadi batu dan terus terkikis menjadi debu menghilang.


Jika suatu hari nanti Rin benar-benar telah tiada. Bakarlah raga Rin. Biarkan abu Rin hilang dibawa angin. Sebab Rin tidak ingin raga tanpa jiwa Rin digunakan sebagai senjata untuk melawan Sesshoumaru-sama bagi siapa pun juga...


Sesshoumaru kembali menutup mata. Wanita bodoh, wanita paling bodoh yang pernah ada di dunia ini. Akhir yang dipilihnya sesuai dengan yang diinginkannya; menghilang dengan sempurna dari hidup seorang inuyoukai bernama Sesshoumaru.


Ucapan terakhir Sesshoumaru membuat bingung Inuyasha dan yang lainnya, tapi mereka tidak juga menemuka tenaga untuk bertanya lebih lanjut lagi.


Membuka mata lagi, tidak peduli pandangan yang terarah padanya, dia berjalan ke bawah pohon sakura. Tangan kanannya bergerak pelan dan mencabut pedang tensaiga dari sarungnya. Menatap pedang di tangannya, mata emasnya datar tanpa ekspresi. "Tensaiga..."


Menancapkan kuat pedang itu pada bekas pembakaran yang ada, Sesshoumaru melepaskan gangang pedang di tangannya. "Pedang yang gagal menyelamatkanmu, Sesshoumaru ini tidak memerlukannya lagi."


Tensaiga.


Pusaka tanah barat, warisan dari ayah kandungnya. Pedang kehidupan, pedang yang dengan sekali ayunan dapat menghidupkan ratusan kehidupan. Pedang yang mempertemukannya dengan wanita manusia itu. Tapi, pada saat yang paling dibutuhkan, tensaiga gagal—apa artinya pedang kehidupan jika tidak dapat menyelamatkan hidup jiwa yang paling berharga baginya?


Seorang gadis kecil yang tertawa seindah musim semi menyerahkan tensaiga padanya. Mata coklat besarnya berbinar bahagia dengan pipi bersemu merah. "Sesshoumaru-sama."


Dalam hidupnya, ada beberapa kali dia tidak berniat mengambil tensaiga lagi saat terlepas dari tangannya, tapi setiap kali itu terjadi, sepasang tangan kecil serta senyum musim semi akan menyerahkan pedang itu kembali padanya. Hanya saja kini, Sesshoumaru tahu, tidak akan ada lagi—pemilik tangan mungil dan senyum itu tidak akan pernah mengembalikan pedang itu padanya lagi.


Angin bertiup pelan, membawa kelopak bunga sakura yang gugur, Sesshoumaru membalikkan badannya dan berjalan menjauh. Suara yang berbisik pelan di telingannya, senyum dan tawa yang tidak kunjung menghilang dari ingatan—Inuyoukai itu tahu; musim semi tidak akan pernah datang lagi dalam hidupnya.


Rin mencintai anda, Sesshoumaru-sama...


.


.


.


.


.


.


"Aku pulang. Aku sudah pulang, Ibunda.."


Suara Shura yang berujar pelan, Sesshoumaru mendengarnya jelas bersamaan dengan segala kenangan yang ada. Membuka mata, dia tidak bergerak. Berdiri diam membisu, dia hanya menatap lekat lukisan wanita manusia yang sedang tersenyum di depannya.


Shura yang ada di samping Sesshoumaru dengan pelan kemudian menoleh wajahnya menatap ayah kandungnya. "Dia," ujarnya pelan tapi tanpa keraguan dalam suara datarnya. "—dia adalah ibu kandungku, bukan ayahanda?"


Sesshoumaru tidak membalas pertanyaan Shura, kedua mata emas tanpa emosinya tetap saja terarah pada lukisan yang ada. Inuyasha dan yang lainnya di belakang juga tidak bersuara sedikitpun, mereka menatap lekat sosok ayah-anak di depan mereka.


"Bukan!!!" teriak Akiko tiba-tiba memecahkan keheningan yang ada. "Wanita manusia itu bukan ibu kandungmu!!! Shura, anakku!! Akulah ibundamu!!"


Teriakan Akiko seketika membuat semua yang ada menoleh kepala menatap youkai rubah tersebut kecuali Sesshoumaru yang tidak peduli.


"Kau ini, tidak tahu malu sekali, ya?!!!" teriak Inuyasha kesal. Dia sungguh tidak mengerti kenapa ada wanita tidak tahu malu seperti Akiko di dunia ini, sejak dulu sampai sekarang, dia tidak pernah berubah.


Akiko tidak peduli dengan ucapan Inuyasha, dia menatap lekat Shura penuh harap. Dia tahu, hanya pewaris tanah barat itulah satu-satunya yang bisa membebaskan dirinya dari keadaan berbahaya sekarang ini. "Putraku, putra kesayanganku, cepat memohon pada ayahandamu untuk melepaskan ibundamu ini... ibunda sudah sangat merindukanmu..."


Shura tidak bergerak atau mengubah sedikitpun ekspresi di wajahnya mendengar permintaan Akiko. Menatap youkai rubah itu datar, tidak ada seorangpun yang bisa menebak apa yang ada dalam pikirannya.


"Kak Shura, apakah dia adalah ibu kakak?" suara pelan dan lembut Sakura tiba-tiba terdengar membuat semua yang ada menatap hanyou kecil dalam gendongan Inuyasha.


"Bukan!" jelas Inuyasha cepat meluruskan kesalapahaman yang ada. "Rubah itu bukan ibu dari si kecil Shura, Sakura."


"Eh? jadi siapa ibu kak Shura?" tanya Sakura kebingungan. Dia adalah satu-satunya yang tidak tahu apa-apa di tempat ini sekarang.


"Ibu dari si kecil itu adalah bibimu; Rin," jawab Inuyasha tidak peduli dengan sekelilingnya. Tangannya kemudian terarah dan menuju lukisan wanita manusia di depan Sesshoumaru. "Itu!! Wanita cantik dalam lukisan itulah ibu kandung dari Shura."


Ucapan Inuyasha membuat semua menatap inuhanyou itu, lalu bersamaan bergerak menatap Shura yang tetap tenang tanpa ekspresi. Mereka tidak tahu harus mengatakan atau berbuat apa. Inuyoukai kecil itu dibesarkan dengan Akiko adalah ibunya, tapi tanpa diketahui bagaimana dia menyadari siapa ibunya. Lalu, saat dia bertanya pada ayah kandungnya sekarang akan kebenaran kelahirannya, ayahnya tidak menjawab, justru pamannya yang menjawab.


Keheningan kembali memenuhi udara, lalu perlahan, Shura kembali menoleh menatap Sesshoumaru. "Ayahanda," panggilnya lagi dengan pelan dan datar. "Rin; wanita manusia dalam lukisan ini adalah—ibu kandungku, bukan?"


Shura tahu siapa Rin. Dalam mimpi yang selalu dilihatnya, dia ingat jelas senyum dan kehangatan yang ada. Setiap ciuman dan sentuhan yang membekas, bisikan kata penuh cinta yang tidak pernah berhentu—ibu kandung yang mencintainya.


Seakan tidak mendengar pertanyaan Shura, Sesshoumaru tetap diam membisu seribu bahasa. Kedua mata emasnya yang datar masih saja terarah pada senyum musim semi di depan.


"Kenapa?" tanya Shura lagi dengan pelan. Tapi, kini kebingungan dan juga kesedihan memenuhi wajahnya. "Kenapa kau diam membisu, Ayahanda?—K-kenapa kau tidak menjawabku?"


Shura memang sudah tahu sejak dulu siapa ibu kandungnya, tapi yang paling dia inginkan sekarang adalah jawaban dari ayahandanya. Kenapa tidak memberitahunya? Kenapa membohonginya? Kenapa menyembunyikannya?—Kenapa ayahandanya tidak ingin mengakui bahwa wanita manusia dalam lukisan adalah ibu kandungnya?


Suara penuh kesedihan Shura membuat Sesshoumaru kembali menutup mata. Tapi, dia tetap tidak menjawab pertanyaan sederhana tersebut.


Semua yang ada masih diam membisu menatap Sesshoumaru. Pertanyaan Shura yang penuh kesedihan, anak yang ingin meminta jawaban dari sang ayah akan kebenaran ibu kandungnya—mereka tidak bisa berbuat apa-apa. Ya, mereka juga tidak mengerti, kenapa merahasiakannya? Kenapa membesarkan Shura dalam kebohongan?


Kebisuan memenuh paviliun timur istana tanah barat. Tidak ada yang bergerak, semua yang ada seakan menunggu jawaban dari Sesshoumaru. Namun, dalam keheningan yang ada, suara Jaken tiba-tiba terdengat keras memecahkan keheningan.


"Sesshoumaru-sama!!!!!"


....xOxOx....

__ADS_1


__ADS_2