![Till The End Of Time [ Inuyasha Fanfiction ]](https://asset.asean.biz.id/till-the-end-of-time---inuyasha-fanfiction--.webp)
Rin merasakan sesuatu yang sangat hangat menyentuh perutnya. Perlahan, dia kemudian membuka mata coklat besarnya menyosong pagi. Pandangannya yang buram kemudian menjadi fokus, dan yang pertama kali dilihatnya adalah; Sesshoumaru.
Senyum kecil menghiasi wajah Rin saat dia melihat inuyoukai itu. Berbaring di sampingnya, di atas futon, dengan pandangan terarah ke bawah, tangan kanan Sesshoumaru bergerak pelan mengelus perut ratanya.
"Sesshoumaru-sama," pangil Rin pelan. "Selamat pagi.."
Suara yang lembut membuat Sesshoumaru mengangkat kepalanya dan menatap Rin. Pandangan matanya yang lembut semakin melembut saat dia melihat seulas senyum musim semi yang dicintainya di wajah itu. "Pagi, Rin."
Dengan senyum yang masih di wajah, Rin kemudian menggerakkan kedua tangan menyentuh tangan Sesshoumaru yang ada di perutnya. "Menurut anda, kelak anak ini akan mirip siapa, Sesshoumaru-sama?"
"Sesshoumaru ini berharap mirip denganmu." Sesshoumaru kembali menolehkan pandangannya pada perut rata Rin.
Rin tertawa, dia juga ikut menurunkan pandangannya pada perut ratanya. "Rin malah berharap anak kita mirip dengan Sesshoumaru-sama."
Sesshoumaru hanya tersenyum kecil mendengar ucapan Rin. Anak kita. Kata itu sangat indah dan menyenangkan di telinganya–anak mereka bersama.
"Menurut anda," senyum Rin lagi dengan lembut. "Anak kita laki-laki atau perempuan, Sesshoumaru-sama?"
"Laki-laki ataupun perempuan, Sesshoumaru ini tidak mempermasalahkannya." Menggerakkan tangannya yang ditumpuk kedua tangan Rin, Seshoumaru kembali mengelus pelan perut rata Rin.
Senyum Rin semakin lebar mendengar jawaban Sesshoumaru. Menggerakkan kepalanya, dia kemudian menempelkan dahinya pada dahi Sesshoumaru. "Rin juga tidak mempermaslahkan anak kita laki-laki atau perempuan. Rin hanya berharap dia tumbuh dengan baik."
Sesshoumaru perlahan mengarahkan pandangan matanya pada Rin. Mata mereka beradu, dan sedetik kemudian, dia tertegun.
Rin cantik, sangat-sangat cantik. Tapi, sekarang, kata cantik tidak dapat lagi cukup untuk menggambarkannya. Wanita manusia itu sangat menyilaukan sekarang. Semenjak dia tahu, dia akan menjadi seorang ibu, kebahagiaannya, kelembutannya, kehangatannya–semua terpancar.
Segala gerakkannya, segala ucapannya, doa dan harapan–semua orang yang melihat tahu, dia akan menjadi seorang ibu yang luar biasa. Dia mencintai anak mereka dengan seluruh jiwa dan raganya.
Cinta Rin.
Sesshoumaru selalu menginginkan cinta Rin, memonopoli seluruh relung hati dan pikiran wanita itu. Selamanya, dia ingin Rin hanya melihat dan mencintainya seseorang saja, tapi–kini ada keberadaan baru yang tidak permasalahkannya jika dicintai Rin.
Anak.
Inikah rasaanya memiliki seorang anak? Kau akan mencintainya dari hari pertama kau mengetahui keberadaannya, dan kau juga tidak memerlukan alasan lain untuk mencintainya. Dia, darah dagingmu, bukti cintamu. Untuknya juga, kau akan bersedia mati–harta tak ternilai dalam hidupmu.
Memiliki seorang anak dan mencintainya tanpa syarat meski dia seorang hanyou, Sesshoumaru mau tidak mau teringat dengan Inu No Taisho dan–Inuyasha.
Inikah perasaan ayahnya saat dia mengetahui keberadaan Inuyasha dalam perut Izayoi dulu? Seperti inikah cinta ayahandanya? Dulu, dia berpikir ayahandanya bodoh karena mati untuk seorang manusia dan hanyou. Tapi sekarang, dia tahu, ayahnya tidak bodoh–dirinya dululah yang bodoh.
Seperti ikatan tidak terlihat yang terjalin diantara dirinya, Rin dan anak mereka, seperti itulah ikatan yang juga ada diantara Inu no Taisho, Izayoi dan Inuyasha–ternyata dia benar merupakan anak dari ayahnya. Sesshoumaru sadar, betapa dia mirip dengan sosok kebanggaannya itu sekarang.
....xOxOx....
Kohaku duduk dalam sebuah kedai sake. Di sekelilingnya, dia melihat orang-orang duduk mengobrol dan tertawa sambil menikmati sake. Keramaian ini terlihat seperti keramaian di toko sake lainnnya. Namun, bedanya adalah, pedang, panah, tombak–senjata yang pernah kau ketahui ataupun tidak ketahui ada di samping para pengunjung.
Kedai sake ini adalah kedai sake yang sangat terkenal di dunia manusia. Menyajikan sake yang bagus dengan harga terjangkau, dan juga sekaligus, tempat berkumpulnya para taijiya di seluruh jepang.
Di kedai ini, semua informasi yang manusia ketahui mengenai youkai berputar. Lalu, di tempat ini jugalah biasanya para taijiya mendapatkan pekerjaan mereka. Permintaan membasmi youkai dari setiap desa dan kota akan dapat kau temukan dalam kedai sake yang telah beroperasi ratusan tahun ini.
Kohaku meneguk sake di tangannya dan menghela napas. Dia baru saja menyelesaikan misinya membasmi youkai di satu desa yang berada di tanah utara. Meskipun youkai yang dilawannya tidak begitu kuat, tapi dia sangat lincah dan pintar melarikan diri. Butuh waktu sebulan lebih sampai dia benar-benar berhasil membunuhnya.
"Katanya kisaki tanah barat adalah seorang manusia yang sangat cantik..."
Telinga Kohaku menangkap salah satu kalimat yang diucapkan oleh beberapa taijiya muda yang duduk tidak jauh darinya. Seketika dia segera mendesah putus asa dan memendamkan kepala pada meja di depannya. Menutup mata, sekali lagi, dia kembali menghela napas panjang.
Kisaki tanah barat yang sangat cantik–Rin yang bagaikan matahari, dan juga; cintanya yang tidak terbalas.
Kohaku memang sudah menyerah pada hari dia melihat kebahagiaan Rin. Melihat cantiknya wanita yang dicintainya saat mengenakan shiromuku, melihat senyum manisnya untuk Sesshoumaru, sang daiyoukai penguasa tanah barat–dia tahu dia telah patah hati.
Patah hati?–sebenarnya, jauh sebelum itu, Kohaku juga sudah sadar, cintanya ini akan menjadi cinta yang bertepuk sebelah tangan. Sejak kecil, sejak pertama kali bertemu Rin, hanya ada sosok Sesshoumaru yang ada dalam mata coklat jernih itu. Hanya nama inuyoukai itulah yang selalu ada di bibirnya, di setiap pikiran dan hatinya.
Tapi, seperti yang dikatakan. Rin terlalu menyilaukan. Hangat, baik dan lugu–di dunia yang kotor ini, dia begitu berbeda; bersih tanpa noda. Karena itulah, Kohaku tidak pernah dapat menghentikan perasaan cinta yang tumbuh dalam hatinya.
__ADS_1
Melupakannya. Kohaku tahu, dia harus melupakan Rin. Wanita itu kini adalah istri dari pria lain, dan bukan sembarangan pria, pria itu adalah Sesshoumaru, sang daiyoukai penguasa tanah barat yang besar. Pria yang bisa memberikan segala yang tidak bisa dia berikan pada Rin.
Tapi...
Tidak semudah itu. Melupakan wanita yang dicintainya sejak kecil, tidaklah semudah membalikkan telapak tangan. Berapa lama waktu yang dibutuhkannya untuk melupakan cinta pertamanya itu? Sebulan? Setahun? Sepuluh tahun?–Kohaku benar tidak tahu lagi.
"Tugas membunuh kisaki tanah barat.."
Kohaku langsung mengangkat kepalanya setelah mendengar kalimat tersebut. Dengan mata terbelalak tidak percaya, dia segera bangkit dan berjalan ke arah meja sekumpulan taijiya muda yang sedang mengobrol sambil tertawa di belakangnya.
"Hei," sapa Kohaku. Ekspresi wajahnya serius. "Aku tadi mendengar ucapan kalian tugas membunuh kisaki tanah barat, keberatankah kalian menceritakannya padaku?"
Para taijiya muda yang sedang mengobrol seru itu segera menoleh wajah mereka menatap Kohaku. Melihat seriusnya wajah Kohaku, tawa di wajah mereka langsung berhenti.
"Kau tidak tahu?" tanya balik seorang taijiya berambut coklat. "Kau tidak mendengar tugas yang sekarang menjadi perdebatan di kalangan kita?"
"Bisa jelaskan padaku?" tanya Kohaku lagi. Wajahnya semakin serius. Mata hitamnya bersinar menakutkan meminta penjelasan saat ini juga.
Tatapan mata Kohaku jelas membuat semua taijiya merasa tertekan. Mereka tidak tahu jelas siapa taijiya di depan mereka sekarang, tapi sekali lihat mereka juga tahu, dia taijiya yang kuat.
"Akhir-akhir ini beredar rumor yang mengatakan bahwa kisaki tanah barat, walau seorang manusia, tapi ingin menguasai jepang. Dengan kekuatan youkai penguasa tanah barat, dia akan menaklukkan seluruh jepang dan menjadikan manusia budak mainan youkai."
Mata Kohaku terbelalak. Dia mengenggam erat jari jemari dan menahan kemarahan luar biasa yang dlam hatinya. Rumor apa ini??
"Karena itu, beberapa bangsawan berpengaruh di jepang memutuskan untuk menyewa jasa taijiya, pendeta, miko, pembunuh atau siapapun saja untuk membunuh kisaki tanah barat sebelum dia menjalankan ambisinya.."
....xOxOx....
Di bawah langit sore hari musim panas, saat matahari sudah tidak begitu terik, Aya, Maya, Mamoru dan Shiro sibuk menyirami bunga-bunga yang tumbuh indah dalam paviliun timur istana tanah barat.
"Semua bunga sudah disiram air, Rin-chan!!" suara Aya yang tertawa bahagia terdengar memenuhi taman di depan kamar Sesshoumaru dan Rin.
"Ada yang bisa kami bantu lagi, Rin-chan?" tanya Maya. Dia yang berdiri di samping saudari kembarnya itu tersenyum menatap Rin.
"Katakan pada Mamoru ini, jika membutuhkan bantuan ibu mertua," sela Mamoru yang juga berada di samping Aya. "Menanam bibit, memberikan pupuk pada bunga, apapun juga–menantumu ini akan membantu!!"
"Shiro juga akan membantu!!!" tambah Shiro sambil berteriak penuh semangat.
Miroku segera berjalan ke arah Mamoru. Menggendong putranya, wajahnya yang serius menatap wajah bocah nakal itu. "Dengar Mamoru," ujarnya tegas. "Yang ada dalam perut Rin-chan itu anak laki-laki. Jadi, Rin-chan bukan ibu mertuamu, dan kau bukan menantunya."
"T-tapi, ayah," protes Mamoru dengan wajahnya yang menahan tangis. "Bukankah kau yang mengatakan bahwa putri Rin-chan akan menjadi istri Mamoru kelak?? Tidak apa-apa kalau kali ini bukan laki-laki, dia akan menjadi adik iparku. Mamoru akan menunggu–anak kedua Rin-chan pasti perempuan"
Miroku benar-benar kehilangan kata mendengar ucapan Mamoru. Apa yang harus dilakukannya? Adik ipar? Menunggu anak kedua?–jika dia tidak bisa merubah niat Mamoru ini sekarang, bukankah dia benar-benar telah mencelakai putra kandungnya??
Menoleh wajah menatap Rin yang berada dalam berandan, Miroku berujar keras dan pasrah. "Rin-chan!!! Seumur hidupmu, demi generasi ke depan dari keluargaku, jangan pernah lahirkan seorang putri!!"
"Apa-apaan kau Miroku??" Sango berjalan mendekati Miroku penuh kekesalan dan memukul kepalanya keras. "Keadaan ini kan kau yang memulainya?
Miroku tahu kata Sango benar. Tapi, dia tidak pernah menyangka bahwa semuanya akan menjadi seperti ini. Jika saja waktu dapat diputar kembali, maka pada hari pernikahan Rin dan Sesshoumaru, dia tidak akan bercanda seperti itu–penyesalannya sungguh datang belakangan.
Selama berada di istana ini, ke depannya, dia benar-benar harus menjaga mulut Mamoru. Jangan sampai Sesshoumaru yang berpikiran sempit itu mendengar keinginan gila putranya ini. Menjadi besan Sesshoumaru?–orang waras mana yang berani?
Rin tertawa melihat interaksi keluarga Miroku di luar. Melihat Miroku yang menggendong Mamoru dan Sango di sampingnya, perlahan, dia kembali menggerakkan tangannya ke atas perutnya. Seperti itu juga kah mereka kelak?–keluarga yang hangat dan bahagia.
"Menurutmu, keponakanku ini laki-laki atau perempuan, Rin-chan?" tanya Kagome yang duduk disamping Rin. Senyum lembut mengembang di wajahnya melihat gerak-gerik Rin yang keibuan. Sungguh, waktu bergerak dengan cepat. Gadis kecil yang dulu berlari telanjang kaki dalam hutan, kini telah menjelma menjadi seorang ibu.
Rin segera menoleh wajah pada Kagome, senyum lembut di wajahnya berubah menjadi tawa bahagia. "Rin tidak tahu. Tapi, bagi Rin dan Sesshoumaru-sama, laki-laki atau perempuan tidak masalah–asal dia sehat dan tumbuh dengan baik, itu sudah cukup."
Kagome tertawa mendengar jawaban Rin. Sepertinya, semua orang tua di dunia akan menjawab seperti ini, bukankah ini juga jawabannya dan Inuyasha saat ditanya orang lain pada masa kehamilannya dulu.
"Kagome-sama," panggil Rin pelan. Kedua mata coklatnya menatap lembut Kagome. "Kagome-sama dan Inuyasha-sama tidak berniat menambah anak lagi?"
Beda dengan Miroku dan Sango yang memiliki tiga orang anak, sampai sekarang, meskipun telah menikah beberapa tahun, Inuyasha dan Kagome hanya memiliki seorang putra, yaitu; Shiro.
__ADS_1
Pertanyaan Rin membuat Kagome tertegun. Senyum di wajahnya menghilang. Namun, sejenak kemudian dia menghela napas dan kembali tersenyum kecil. Sinar matanya yang lembut kini dipenuhi sedikit bayang hitam kesedihan.
"Rin-chan," panggil Kagome pelan. Dia kemudian menoleh pandangannya pada Shiro yang sedang tertawa riang dengan Aya dan Maya. "Aku tidak bisa mengandung anak lagi."
"Eh?" terkejut, Rin terdiam tidak tahu harus berkata apa.
Kagome kembali mengarahkan wajahnya pada Rin. Senyum kecil tetap mengembang di wajahnya. "Kau ingat dengan kelahiran Shiro, kan? Sejujurnya, meskipun kami ibu-anak selamat, rahimku telah rusak. Jadi, aku dan Inuyasha tidak mungkin memiliki anak lagi..."
Saat dia melahirkan Shiro, Inukimi yang membantunya melahirkan telah mengatakan padanya, dia tidak akan mungkin memiliki anak lagi. Rahimnya yang rusak, tidak akan mungkin dapat mengandung seorang inuhanyou lagi, dan jikapun dia mengandung, maka, ibu-anak tidak akan memiliki kemungkinan untuk selamat.
Menghela napas, Kagome kemudian mengenggam tangan Rin. "Aku tidak ingin memberitahumu pada masa penuh kebahagiaan ini, Rin-chan. Tapi, kurasa memberitahumu sekarang juga bukanlah sesuatu yang buruk."
Rin tetap diam membisu, kedua matanya menatap lekat Kagome yang tersenyum di depannya.
"Dalam hubungan seorang wanita manusia dengan youkai ataupun hanyou, kita hanya ditakdirkan memiliki seorang anak."
Mata Rin terbelalak mendengar jawaban Kagome. Dia tidak dapat menyembunyikan perasaan terkejutnya, ini adalah pertama kalinya dia mendengar informasi ini.
"Tapi, Rin-chan," sambung Kagome lagi. Dia menepuk-nepuk pelan tangan Rin yang ada dalam genggamannya. "Seorang anak juga sudah cukup. Hidup kita, keluarga kecil kita–itu sudah lebih cukup dari apapun. Ini takdir kita.."
"Kagome-sama..." tepukkan pelan ditangannya, membuat Rin merasa manis sekaligus pahit. Takdir mereka sebagai seorang istri dari youkai maupun hanyou.
Mengangguk kepala pelan. Rin kemudian tersenyum kecil. "Terima kasih, Kagome-sama. Rin mengerti.."
Kebersamaan mereka dengan laki-laki yang mereka cintai. Pilihan mereka, kebersamaan seorang manusia dengan youkai atau hanyou, dari awal mereka sudah tahu, merupakan sesuatu yang melanggar hukum alam. Karena itu, ini adalah resiko mereka, atau mungkin–inilah hukuman alam untuk mereka. Mereka tidak ditakdirkan memiliki keluarga yang besar. Mereka hanya akan dapat memiliki seorang anak sebagai bukti cinta mereka.
Tapi, tidak apa-apa, takdir ini juga bukanlah takdir yang kejam. Melawan hukum alam ini, cinta mereka masih menang, kan?–bukti cinta mereka masih ada di dunia ini; mereka masih memiliki seorang anak.
"Rin sudah puas dengan seorang anak saja, Kagome-sama," senyum Rin kemudian, dia balik mengenggam tangan Kagome. Kedua mata coklatnya kembali menatap lembut Kagome. "Kebahagian Kagome-sama, Inuyasha-sama dan Shiro, Rin bisa melihatnya jelas. Takdir kita bukanlah takdir yang kejam–kita masih memiliki anak, bukan?"
Ucapan Rin seketika membuat Kagome tertawa. Mengangguk kepala, dia tersenyum. "Iya. Kita masih memiliki keluarga yang lengkap, Rin-chan."
Apa yang dikatakan Rin benar. Takdir sebagai istri seorang youkai ataupun hanyou, bukanlah takdir yang kejam–bukankah mereka masih memiliki anak?
Tawa Kagome membuat Rin ikut tertawa. Melepaskan tangan Kagome, dia kemudian kembali menyentuh perut ratanya. Takdir menjadi istri seorang youkai, segala resiko dan konsekuensi di depan, untuk nyawa baru yang tumbuh dalam perutnya, Rin tahu, dia cukup kuat menghadapinya.
"Rin-chan!!" suara Aya yang memanggil namanya ditangkap Rin. Menoleh kepala pada gadis kecil itu, dia melihat dua putri kembar Miroku dan Sango melambaikan tangan padanya. "Bunga apa ini??"
Mata Rin menangkap Aya dan Maya menunjukkan tangan mereka pada bunga lotus berthelotti yang tumbuh dalam taman. Dia tersenyum, bunga yang memiliki kelopak menyerupai paruh burung beo itu memanglah salah satu bunga yang cukup langka.
Berdiri, Rin kemudian melangkah keluar dari beranda kamar menuju arah Aya dan Maya. Senyum di wajahnya melebar, sepertinya dia harus menjelaskan pada mereka semua bunga langka yang menjadi kebanggannya.
Melangkah dan melangkah, kaki Rin terus melangkah. Namun, tiba-tiba saja, rasa sakit yang luar biasa menyerang jantungnya. Hatinya seperti di remas kuat dan rasa dingin yang menusuk tulang dirasakannya. Dunia seakan berputar, dia kehilangan keseimbangan serta kekuatan di kakinya. Lalu–semua gelap.
"Rin!!!!!!"
"Rin-chan!!!!!"
....xOxOx....
Sesshoumaru sedang membaca salah satu gulungan dokumen yang ada di atas meja kerjanya. Wajahnya seperti biasa, tidak berekspresi.
Hanya ditemani Kira yang berdiri di sampingnya, dalam ruang kerjanya, sang penguasa tanah barat kemudian mengambil kuas yang ada di atas meja. Dengan gerakan yang lugas dan elegan, dia menuliskan sesuatu di atas gulungan dokumen yang tadi di bacanya.
Tulisannya yang rapi dan elegan menghiasi gulungan dokument itu. Namun, belum selesai dia menulisnya, jantungnya yang tadinya berdetak normal tiba-tiba berubah, menjadi detakan tidak beraturan.
Menjatuhkan kuas yang ada di tangannya. Sesshoumaru meremas dadanya. Rasa sakit yang tidak dapat dijelaskan tiba-tiba memenuhi hatinya. Sangat sakit, tapi rasa sakit ini juga sekaligus tidak sakit, seakan rasa sakit ini bukan miliknya, melainkan sakit dari orang lain.
'Sesshoumaru-sama.'
Wajah tersenyum dari wanita manusia yang paling berharga baginya memenuhi pikiran. Sedetik kemudian, Sesshoumaru sadar, rasa sakit ini–telah terjadi sesuatu pada Rin.
Menggerakkan kakinya secepat mungkin, tidak peduli dengan ekspresi terkejut Kira yang ada di samping, dia berlari keluar dari ruang kerjanya.
__ADS_1
....xOxOx....