Till The End Of Time [ Inuyasha Fanfiction ]

Till The End Of Time [ Inuyasha Fanfiction ]
Chapter 153


__ADS_3

Dalam hutan malam dingin di tanah barat, Akihiko menatap Koga dan para bawahannya dari tanah selatan di depan. Ekspresi wajahnya tenang seakan tidak ada terjadi apa-apa.


"Apa kalian sudah menemukan cara untuk memanjangkan hidup Rin?" suara Akihiko terdengar tenang dan pelan memecahkan keheningan malam.


Tidak ada yang menjawab pertanyaan Akihiko, mereka semua berlutut dan menundukkan kepala ke bawah. Tuan mereka memang terlihat tenang, tapi mereka semua tahu jika sebenarnya kemarahan sedang memenuhi hati, sebab, sampai sekarang mereka tidak menemukan cara apapun untuk memanjangkan hidup kisaki tanah barat.


"Dasar tidak berguna." Ujar Akihiko pelan. Suaranya yang tenang namun dingin dengan segera membawa ketakutan pada Koga dan youkai tanah selatan yang ada.


Koga sungguh ingin menangis dan memprotes sekarang, namun dia tidak berani. Cara memanjangkan hidup seorang manusia, mereka telah mencoba mencarinya, dari daging ikan duyung, buah keabadian atau apapun. Hanya saja, semuanya tidak berguna—mereka gagal menemukan caranya.


"Cari," lanjut Akihiko kemudian, pandangan matanya menajam tidak dapat menyembunyikan kemarahan dalam hati lagi. "Jangan muncul di depanku jika kalian tidak menemukannya."


"Hamba mengerti." Secara serentak, Koga dan semua youkai tanah selatan membalas ucapan Akihiko. Sedetik kemudian, mereka semua menghilang dari hadapan sang penguasa tanah selatan menjalankan tugas yang di dapatkan.


Tsubasa yang berdiri di belakang Akihiko tidak mengatakan apa-apa. Seperti biasa, youkai burung itu menatap apa yang terjadi di depan dengan wajah tenangnya.


"Tsubasa," panggil Akihiko kemudian tanpa menoleh ke belakang. "Jaga Rin. Kabarin aku jika terjadi sesuatu padanya."


"Hamba mengerti." Balas Tsubasa tenang sambil mengangguk kepala.


Mendengar jawaban Tsubasa, Akihiko tidak mengatakan apa-apa lagi. Mengangkat kepala menatap langit malam di atas, dia kemudian meloncat dan terbang menjauh meninggalkan selirnya.


Tsubasa terus menatap sosok Akihiko hingga akhirnya menghilang dari pandangan. Seulas senyum menuhi wajahnya melihat kebodohan sang penguasa tanah selatan.


Mencari cara memanjangkan hidup sang kisaki tanah barat?—apa yang membuat youkai serigala itu berpikir dia bisa menemukannya? Tanah barat yang begitu besar serta mencangkup luas saja sudah mati-matian mencari cara memanjangkan hidup kisaki mereka jauh sebelumnya, bahkan Sesshoumaru, sang penguasa tanah barat sendiri berani mempertaruhkan segalanya untuk itu. Tapi, semuanya sia-sia, kan?


Tersenyum semakin lebar, Tsubasa merasa akan lebih baik ini semua secepatnya berlalu. Akan lebih baik jika kisaki tanah barat cepat mati dan menghilang dari dunia ini. Sebab dengan begitu—Akihiko mungkin akan kembali menjadi Akihiko yang dikenalnya.


'Cinta anda, Rin mengerti.'


Ucapan dan pelukan hangat Rin terlintas dalam ingatan Tsubasa, membuat senyum di wajahnya menghilang. Namun, sejenak kemudian dia kembali tersenyum dan tertawa. Kenapa dirinya terus teringat dengan ucapan wanita manusia itu? Padahal dia sudah tahu, wanita manusia yang begitu dicintai orang yang dicintainya tidak akan mengerti. Sakitnya cinta bertepuk sebelah tangan, pedih dan hancurnya saat dia yang kau cintai tidak penah memperhatikanmu—wanita manusia itu tidak akan mengerti sedikitpun.


....xOxOx....


Asano tidak dapat mengatakan apapun menatap Akiko yang tertawa di depannya sekarang. Wajahnya datar tanpa ekspresi, dia tidak tahu harus marah atau ikut tertawa seperti putrinya yang baru saja pulang dari tanah barat.


"Wanita hina itu akan mati, Ayahanda," ujar Akiko gembira di sela tawanya yang tidak berkesudahan. "Meski dia memiliki dan mampu menyempurnakan fushi no kusuri, dia tidak akan hidup!! Ini adalah berita terbaik dalam tahun ini!!!"


Asano tetap tidak mengatakan apa-apa. Menutup mata, dia menghela napas pelan. Akiko yang seperti ini, dia tidak ingin melihatnya. Dia mengirim putrinya ke tanah barat dengan senjata di tangan—senjata yang berupa informasi yang bisa membuat putrinya menjadi kisaki tanah barat. Tapi, bagaimana bisa Akiko pulang dengan keadaan seperti ini?—tertawa gembira hanya karena seorang wanita manusia akan mati.


Membuka mata, Asano kemudian kembali menatap Akiko. "Kembalilah ke kamarmu, Akiko."


Akiko berhenti tertawa dan tersenyum mendengar perintah Asano. Tidak mengatakan apa-apa, dengan wajah yang masih terus tersenyum, dia berdiri dan berjalan meninggalkan Asano sendirian dalam ruang kerjanya.


Asano menatap Akiko hingga akhirnya menghilang dari pandangan. Menutup mata, dia hanya dapat kembali membuat perhitungan serta langkah yang harus diambil tanah timur ke depannya. Semenjak perang lima wilayah selesai, tanah timur terus melemah, karena itu dia tahu, Akiko harus menjadi kisaki tanah barat untuk membalik keadaan. Akan tetapi, akhir yang dia dapatkan ternyata tidak sesuai harapannya.


Fushi No Kusuri ada pada Bokuseno, Asano sudah tahu sejak awal, dan dia juga tahu akan janji youkai pohon itu pada Inu No Taisho. Karena itu, dia tidak pernah menyangka fushi no kusuri akan muncul di dunia seperti ini.


Menghela napas, Asano membuka matanya dan menatap keluar jendela. Keadaan kembali tidak menguntungkan tanah timur. Kini Tanah barat tidak tersentuh, Tanah selatan di bawah Akihiko yang begitu terobsebsi dengan kisaki tanah barat juga tidak mungkin, Tanah netral bergantung pada tanah barat, dan terakhir—tanah utara yang diam membisu tanpa melakukan apapun.


Semenjak usainya perang, tanah utara menutup diri. Bahkan, saat seluruh dunia mencari fushi no kusuri karena ucapan Sesshoumaru, youkai ular penguasa tanah utara itu tidak melakukan apapun untuk mendapatkan keuntungan. Karena itu, apa yang sedang direncanakan tanah utara? Asano kenal baik betapa liciknya Takeru, dia tidak mungkin berdiam diri.


Menghela napas sekali lagi, Asano kemudian kembali menghela napas. Ini bukan saatnya dia memikirkan tanah utara, dia lebih baik memikirkan cara lain untuk mendekatkan diri kepada Sesshoumaru. Meski tidak mau mengakui, tapi kenyataan bahwa inudaiyoukai itu adalah poros dunia youkai adalah benar, dan Akiko dengan begitu suksesnya telah menganggu poros dari poros dunia youkai tersebut, yakni; wanita manusia yang menjadi kisaki tanah barat.


....xOxOx....


Rin membuka matanya yang tertutup dengan pelan. Rasa dingin dan sakit menyerang bersamaan tidak tertahankan membuat dia menutup mata kembali, namun, wajahnya tidak memperlihatkan reaksi sedikitpun. Dia sudah terbiasa, dan dia bersyukur karena dia masih kuat menghadapinya.


"Kau sudah bangun, Rin-chan?" suara Kagome terdengar dari samping Rin. Pelan dan juga ceria seperti biasanya.


Membuka mata lagi, Rin tersenyum kecil menatap Kagome yang ada di sampingnya. "Iya, Kagome-sama.."


Kagome ikut tersenyum melihat senyum Rin. Walau bisa mendengar jelas suara wanita manusia yang begitu pelan dan lemah, dia tidak mengatakan apa-apa. Dengan hati-hati dan pelan, dia membantu kisaki tanah barat untuk duduk. Menggunakan badannya menahan badan mungil tersebut, dia meyodorkan mangkok di tangan, "Kau bangun di saat yang tepat, Rin-chan," ujar Kagome sambil tertawa. "Saatnya minum obat!"


Rin tertawa pelan dan mengangguk kepala. Dibantu Kagome, dengan perlahan, dia meminum ramuan hitam pekat dalam mangkuk yang ada di tangan miko masa depan tersebut. Rasa pahit dirasakan lidahnya, dan untuk kesekian kalinya lagi, dia mengabaikannya.


Kagome tetap tersenyum melihat Rin yang meminum obat, tapi dia tidak tahu sampai kapan dia bisa menahan senyumnya. Dia telah memeriksa nadi wanita manusia itu barusan, dan tidak ada perkembangan, yang ada malahan semakin tidak jelas. Tidak ada lagi yang tahu apa yang terjadi pada Rin sekarang, keadaannya yang terus melemah dari hari ke hari dengan hebat seakan memang sudah saatnya badan mungil itu akan berhenti berfungsi. Waktu tidurnya semakin panjang dan waktu bangunya menjadi singkat, dia bahkan kadang bisa menghabiskan seharian untuk tidur. Lalu—serangan.


Tidak pernah berhenti seperti biasanya. Setiap hari serangan yang tidak diketahui siapapun menyerang Rin dan membuat dia mengurung diri sendirian dalam kamar. Serangan yang hanya akan meninggalkan efek yang luar biasa pada Rin dan juga orang yang melihatnya. Melihat orang yang berarti bagimu melemah dan menderita tiap hari di depan mata tanpa dapat melakukan apapun—itu sangat menyakitkan.


Kagome menurunkan mangkuk di tangannya begitu melihat Rin telah mengosongkannya. Dengan senyum dipaksakan di wajah, dia kembali membantu wanita manusia itu berbaring di atas futon. "Jika ada bagian yang tidak enak atau apapun, sampaikan padaku ya, Rin-chan."


Rin mengangguk kepala pelan. "Rin mengerti, Kagome-sama.." senyumnya seperti biasa. "Rin baik-baik saja.."


Kagome hanya dapat terus mempertahankan senyum di wajahnya walau dia tahu jelas akan kebohongan Rin. Dirinya adalah orang yang bertangung jawab penuh akan kesehatan Rin, karena itu, bagaimana kondisinya yang sesungguhnya, dialah yang paling tahu. Tapi dia tidak berdaya, kini semua yang ada hanya dapat ikut bersandiwara mempertahankan kebohongan yang ada.


Menoleh pandangannya ke kiri-kanan, Rin untuk pertama kalinya sadar akan keberadaan Shura yang tidak ada disampingnya. "Kagome-sama, Shura di mana?"


"Ah, Inuyasha membawanya untuk bermain dengan Shiro dan yang lainnya," jawab Kagome cepat. "Aku tidak tahu keributan apa yang akan terjadi nantinya."


Rin tertawa mendengar jawaban Kagome. "Baguslah kalau begitu, Shura memang harus mengakrabkan diri dengan paman dan kakak-kakaknya."


Kagome tidak membalas ucapan Rin lagi, dia hanya tersenyum ambigu. Miko masa depan ragu wanita manusia di depannya akan mengatakan begitu jika tadi dia melihat bagaimana sikap Shura saat Inuyasha memisahkannya dari ibunya. Inuyoukai itu menggeram penuh kemarahan dengan wujudnya yang hampir kembali ke sosok aslinya. Mata merah darah, taring, cakar—dia benar tidak dapat membayangkan apa yang terjadi dengan Shura, Inuyasha, Shiro dan yang lainnya.


"Sesshoumaru-sama masih belum kembali?" tanya Rin lagi dengan pelan.


"Kakak masih di ruang kerjanya," jawab Kagome lagi dan tersenyum. "Kurasa dia akan segera kembali ke kamar ini tidak lama lagi."


Baik Rin maupun Kagome tahu jelas tanpa perlu dijelaskan, apa yang sedang dilakukan Sesshoumaru dalam ruang kerjanya yang tertutup. Inuyoukai itu berusaha keras mencari cara untuk memanjangkan hidup Rin. Pagi, siang dan malam, saat dirinya tidak berada di samping Rin yang sedang tertidur, dia menggunakan semua waktunya untuk mencari kemungkinan.


Rin sekali lagi mengangguk kepala dan tidak bertanya akan apapun lagi. Perlahan, dia kemudian menolehkan kepalanya menatap keluar melalui pintu kamar shoji yang dibiarkan terbuka.

__ADS_1


Rin bisa melihat Kiri dan Kira yang menjaga pintu, kedua inuyoukai bersaudara tersebut berdiri menjaga pintu kamar dengan wajah mereka yang tenang tanpa ekspresi. Lalu, pandangan Rin kemudian jatuh pada punggung seorang youkai wanita yang berdiri di tengah taman.


Rambut merahnya terlihat sangat kontras dengan warna salju putih yang turun dan menumpuk di bawah. Berdiri dengan tegap penuh keanggungan dalam balutan kimono berwarna biru, youkai wanita itu sangat cantik dan menarik perhatian siapapun yang melihatnya—Tsubasa, selir kesayangan penguasa tanah selatan.


"Tsubasa-sama..." Panggil Rin pelan.


Suara Rin memang sangat lemah dan juga pelan, tapi bagi youkai yang memiliki indra pendengaran sangat tajam, mereka dapat mendengarnya dengan jelas. Perlahan, Tsubasa membalikkan badannya dan menatap kisaki tanah barat yang berbaring di atas futon.


Rin tersenyum melihat Tsubasa yang kini menatapnya. "Tsubasa-sama, salju sudah mulai turun lagi," ujarnya pelan. "Masuk dan berteduhlah dalam kamar bersama Rin."


Tsubasa tidak mengatakan apa-apa mendengar undangan Rin. Dia berada di depan kamar ini hanyalah karena menjalankan perintah Akihiko untuk menjaga wanita manusia itu, dia tidak bermaksud mendekati atau mendekatkan diri sedikitpun padanya.


'Cinta anda, Rin mengerti.'


Ucapan Rin yang selalu tergiang bagaikan mantra dalam kepala Tsubasa terlintas. Membuat youkai burung itu tertegun sejenak. Kata-kata yang sederhana dan tidak terlupakan—kata penuh kebohongan dan kepalsuan.


Namun, sejenak kemudian, Tsubasa tersenyum. Melihat wajah wanita manusia yang tersenyum lembut padanya, dia tersadar, dia bisa memutuskan mantra yang terus terulang dalam kepalanya sekarang. Jika dia menyampaikan semua yang ada dalam pikirannya, dia pasti akan terbebas dari ucapan yang menghantuinya, karena wanita manusia itu tidak pernah mengerti cintanya.


Melangkah kaki dengan senyum di wajah, Tsubasa mendekati pintu kamar Rin. Kiri dan Kira segera bersiaga melihat itu, sebab mereka membiarkan youkai burung berada dalam taman bukan karena mereka percaya.


"Kiri-sama, Kira-sama," panggil Rin menghentikan kedua inuyoukai bersaudaa tersebut. "Tidak apa-apa."


Kiri dan Kira sempat ragu dengan ucapan Rin. Namun, melihat senyum lemah di wajah itu, mereka berdua mengurungkan niat mereka menghentikan Tsubasa yang kini telah memasuki kamar. Kedua inuyoukai itu hanya berdiam diri dan mengawasi setiap gerak gerik youkai burung tersebut penuh siaga.


"Kagome-sama," panggil Rin pelan dan menatap Kagome. "Bersediakah anda membantu Rin duduk?"


Kagome segera mengangguk dan tersenyum. Menggerakkan tangan dan badannya, dia membantu Rin yang lemah kembali duduk.


Setelah berhasil duduk dengan baik, mata coklat Rin yang jernih menatap lembut Tsubasa yang diam membisu. Senyum di wajahnya merekah. "Rin ingin mengucapkan terima kasih, Tsubasa-sama," ujarnya pelan. "Terima kasih telah menghentikan Akiko-sama kemarin."


Tsubasa tidak membalas ucapan terima kasih Rin. Kedua mata merahnya hanya terus menatap sosok wanita manusia di depannya dengan wajahnya yang tenang tanpa ekspresi.


"Lalu," lanjut Rin lagi dengan senyum yang masih tidak kunjung menghilang dari wajahnya. "Meski Rin tidak bisa menjamu anda seperti anda menjamu Rin saat berada di istana tanah selatan karena kondisi Rin, Rin berharap anda menyukai istana tanah barat."


Tsubasa tetap tidak membalas, dia masih menatap lurus Rin dengan kedua matanya yang tidak tertebak apa emosinya.


"Rin senang anda berada di sini, Tsubasa-sama."


Ucapan terakhir Rin kemudian membuat Tsubasa tersenyum. Namun, senyumnya jelas bukanlah senyum bersahabat melainkan senyuman mencemooh, begitu juga dengan pandangan matanya. "Rin-sama, bisakah anda berhenti bersikap arogan seperti itu di depan hamba?"


Apa yang dikatakan Tsubasa seketika membuat semua yang ada tertegun. Kemarahan segera memenuhi hati Kiri dan Kira, menyerigai marah mereka langsung melangkah menuju youkai burung tersebut. Mereka tidak akan pernah membiarkan siapapun menghina kisaki mereka tercinta. Namun, Rin dengan cepat menghentikan mereka. "Kiri-sama, Kira-sama, hentikan.."


Kiri dan Kira segera berhenti, tapi mereka terlihat tidak senang. Kedua mata emas mereka berubah menjadi merah darah terarah pada Tsubasa yang tetap duduk tenang.


Kagome sendiri tidak tahu harus berbuat apa, dia menatap Tsubasa tidak percaya. Dia tidak dapat menebak apa yang ada dalam pikiran youkai burung di depan tersebut sekarang.


"Anda benar-benar merupakan makhluk paling arogan di dunia ini, Rin-sama," lanjut Tsubasa lagi dan tertawa kecil. "Anda tidak tahu apa-apa, tapi selalu bersikap seperti tahu segalanya. Ketahuilah, hamba tidak pernah berniat menginjakkan kaki sedikitpun di sini. Hamba berada di sini karena perintah Akihiko-sama."


Rin tetap tidak mengatakan apa-apa mendengar penjelasan Tsubasa. Dia tidak tersenyum, tapi juga tidak terkejut maupun menunjukkan ekspresi sedikitpun di wajahnya.


Kemarahan dan seringai mengerikan Tsubasa tetap saja tidak membuat Rin bergerak. Diam membisu seribu bahasa, dia terus menatap sepasang mata merah di depannya dengan tenang, dan tatapan matanya itu membuat youkai burung itu tertegun.


'Cinta anda, Rin mengerti.'


Kalimat yang bagaikan mantra itu kembali tergiang dalam kepala Tsubasa, dan dia hanya dapat tertawa lirih kemudian. "Bagaimana anda bisa mengerti?"


Rin bisa melihat jelas sekarang, dibalik sepasang mata merah yang menatapnya, ada berapa banyak luka yang ditanggung youkai burung tersebut dalam diam.


"Anda dicintai," lanjut Tsubasa lagi dan tersenyum kecil. "Anda tidak pernah sendirian. Karena itu, bagaimana anda bisa mengatakan bahwa anda mengerti cinta hamba ini?"


Rin mengerti maksud ucapan dan pertanyaan Tsubasa sepenuhnya, dan kali ini dia tertegun. Karena, youkai itu benar—dia tidak mengerti.


Cinta.


Rin mengira dia mengerti apa itu cinta saat dia pertama kali melihatnya dengan jelas di antara Inuyasha dan Kagome, lalu saat dia melihat Sesshoumaru. Sosshoumaru mengatakan cinta adalah kelemahan, namun dalam matanya, cinta adalah; kebahagiaan. Namun, semakin waktu berlalu, dia semakin sadar dan sadar, cinta itu—tidak terdefenisikan.


Pertama kali Rin melihat cinta Tsubasa untuk Akihiko, dia merasa cinta mereka sama. Mereka yang diselamatkan dan mencintai penyelamat mereka dengan segenap jiwa raga tidak peduli apapun yang terjadi. Kebahagiaan mereka adalah saat berada disamping pria yang dicintai. Tapi, ternyata itu—salah.


Tsubasa benar, dia; arogan. Dia mengatakan cinta mereka sama, tapi kenyataannya, cinta mereka berbeda. Kita tidak bisa membandingkan cinta, sebab tidak ada takaran dalam mengukur besarnya cinta. Setiap orang memiliki masa lalu, pemikiran, keinginan dan juga beban mereka sendiri—karena itu, dia tidak memiliki hak untuk mengatakan cinta mereka sama; Rin tidak memiliki hak mengatakan dia mengerti cinta Tsubasa.


"Anda benar, Tsubasa-sama," ujar Rin kemudian dengan pelan. "Maafkan kearogan Rin. Rin tidak mengerti cinta anda."


Tsubasa tertegun dengan ucapan Rin yang tiba-tiba. Namun sejenak, dia kembali tertawa. "Benar! Anda tidak mengerti sedikitpun!"


Tertawa dan terus tertawa menatap wajah datar Rin, Tsubasa menutup mata. Kalimat yang dia inginkan telah dia dapatkan, tetapi, kenapa dia tidak gembira?—yang ada malahan kekosongan dan kesakitan dalam hati yang semakin mendalam.


Rin terus menatap Tsubasa kemudian menutup mata. Dia merasa sangat sedih. Kenapa?—karena kenyataannya, itulah cinta.


Cinta tidak terdefenisikan.


Bagi youkai, cinta adalah kelemahan. Bagi, cinta yang terbalas, cinta adalah kebahagiaan. Bagi mereka yang mengharapkan cinta, cinta merupakan sebuah obsebsi dan keserahkahan. Bagi mereka yang cinta tidak tersambut, cinta adalah sebuah belenggu dan penderitaan. Lalu juga, seiring waktu yang berjalan, dalam setiap detik, cinta bisa berubah.


Bagi Tsubasa dulu, saat bersama Akihiko, dia sudah merasa cukup dan puas—dia telah bahagia. Tapi, sekarang tidak lagi, kebahagiaan telah menghilang digantikan belenggu dan penderitaan. Hidupnya sekarang penuh kesakitan karena cinta tidak terbalas.


Membuka mata, Rin kemudian memajukan wajahnya untuk menempelkan dahinya di dahi Tsubasa. Tsubasa yang terkejut segera membuka mata. Mata mereka bertemu dan belum sempat dia melakukan apa-apa, Rin telah membuka mulutnya. "Jika cinta itu begitu menyakitkan maka, lepaskanlah.."


Ucapan Rin seketika membuat Tsubasa tertegun. Tidak dapat bergerak dan bersuara, dia menatap lekat tidak percaya wanita manusia yang balik menatapnya.


"Jika penderitaan dan kesedihanlah yang tersisa, jangan melanjutkannya lagi. Lepaskanlah cinta anda..." lanjut Rin lagi dengan pelan. "Hiduplah dengan bebas, hiduplah dengan bahagia..."


Seumur hidupnya yang begitu panjang, tidak pernah ada yang mengatakan padanya untuk hidup dengan bebas, hidup dengan bahagia, karena itu ucapan Rin menguncang dunia Tsubasa dengan luar biasa.

__ADS_1


"Cinta itu penting," lanjut Rin lagi dan menutup mata. Kesakitan luar biasa memenuhi hatinya, hingga dia seakan tidak menemukan kekuatan untuk melanjutkan ucapannya. "T-tapi, ada yang lebih penting..."


Cinta.


Untuk cinta yang telah berubah, untuk kebahagiaan yang telah menghilang dan digantikan penderitaan. Saat cinta dan kebahagiaan bukanlah lagi sebuah kesatuan tapi dua hal yang berbeda, apa pilihan terbaik yang ada? apa yang harus dipertahankan?


Melihat Tsubasa yang tersiksa karena cintanya, Rin juga sadar kenyataan akan dunianya sekarang. Kenyataan yang dia lihat setiap hari, tapi dia berpura buta dan tidak pernah melihatnya.


Cintanya pada Sesshoumaru telah berubah. Semenjak meido seki berdetak untuknya, Rin seharusnya sadar, cintanya untuk Sesshoumaru bukanlah kebahagiaan lagi. Saat dia menatap sepasang mata emas yang begitu dicintainya itu, dia melihat ketakutan, ketidak berdayaan dan—penderitaan.


Karena cinta begitu menyilaukan, karena kebersamaan begitu menakjudkan, saat mencintai Sesshoumaru, Rin ingin memberikan kebahagiaan. Tapi, kini tidak lagi, mencintai Sesshoumaru, dia hanya memberikan kesedihan.


Akhir yang ada dalam kisah mereka, Rin tahu melebihi siapapun, tapi dia ingin mengubahnya, bahkan walau harus mengorbankan jiwa dan raganya. Tapi, semuanya tetap sama, waktu akan bergerak menuju penutup yang tidak diinginkan.


Rin adalah seorang wanita yang arogan, karena dia berpikir dia bisa melewati kematian setiap saat. Rin adalah seorang wanita yang egois, karena dia ingin mendapatkan sesuatu yang tidak seharusnya dia miliki, dan Rin adalah seorang wanita yang hanya memikirkan diri sendiri, karena dia ingin bersama mereka yang dia cintai meski dia bisa melihat betapa menderita mereka sekarang—Rin membenci dirinya.


Sejak kapan semuanya berubah? Sejak kapan dirinya menjadi seperti ini? Rin tidak tahu lagi. Dia ingin bahagia, sangat-sangat ingin bahagia, saking ingin bahagianya, dia tidak mempedulikan penderitaan orang sekelilingi rasakan saat melihatnya. Ketakutan mereka, kekhawatiran mereka, keputusasaan mereka—penderitaan mereka.


Cinta dan kebahagiaan. Mana yang lebih penting?—sangat menyakitkan. Tapi, Rin tahu, yang lebih penting adalah; kebahagiaan. Bagaimana bisa dia membiarkan orang yang begitu dicintainya menderita? Bagaimana dia membiarkan mereka yang mencintainya bersedih karena dirinya? Bagaimana dia bisa tega melakukan itu semua?


Membuka mata, Rin tersenyum, senyum yang sangat indah namun sekaligus menyakitkan. "Kebahagiaan lebih penting..."


Tidak hanya untuk Tsubasa, tapi untuk dirinya dan semua yang ada. Untuk mereka yang hidup, jangan mengorbankan kebahagiaan untuk cinta. Cinta memang luar biasa, tapi saat cinta dibandingkan dengan kebahagiaan, walau menyakitkan—kebahagiaanlah yang paling penting.


Saat kau memiliki cinta tapi tidak bahagia, apa artinya sebuah kehidupan? Kau tidak akan tahu bagaimana untuk melangkah. Kau akan teperangkap dalam ketidakpastian dan penderitaan. Namun saat kau bahagia meski kehilangan cinta, kau akan dapat melangkah maju terus, kau akan dapat tertawa, bebas dan menemukan arti kehidupan.


Rin tidak boleh egois lagi, karena cintanya, dia telah menerangkap mereka yang menyayanginya. Dia memaksa mereka memilih cinta dan mengabaikan kebahagiaan—dia memberikan mereka kesedihan serta penderitaan.


"Berbahagialah dalam hidup anda, Tsubasa-sama.."


Hangat.


Dari dahi mereka yang tertaut, Tsubasa merasakan kehangatan. Ucapan Rin yang pelan dengan wajah penuh kesedihan, namun dengan jujur mengharapkan kebahagiaan dirinya—Tsubasa tidak tahu harus mengatakan apa. Tidak ada yang pernah mempedulikannya, tidak ada yang pernah memeritahunya dia memiliki pilihan—tidak ada yang pernah menyuruhnya memilih kebebasan dan kebahagiaan dalam hidupnya.


Air mata mengalir turun tiba-tiba, tanpa dihentikan Tsubasa. Tidak tahu karena sedih atau apa, perasaannya berkecamuk. Kenapa? Dia telah mencemooh wanita manusia di depannya, dan dia juga telah mendapatkan apa yang diinginkannya, tapi kenapa? Kenapa wanita manusia ini sekali lagi menghantam dirinya dengan perkataan baru yang dia tahu akan menghantuinya seumur hidup?


Lepaskan dan berbahagialah.


Apa dia bisa? Apakah mampu? Melepaskan cintanya yang telah begitu dalam dan besar, membebaskan dirinya dari siksaan yang membelengunya setiap detik dan berbahagia—apakah memiliki keberanian melangkah dan meninggal Akihiko?


Rin tidak mengucapkan apa-apa lagi, melihat air mata Tsubasa, dia hanya berharap youkai burung itu akan mengerti. Tidak akan mudah, akan sangat menyiksa dan menderita, tapi setelah itu semua berlalu akan ada kebahagiaan. Bukankah selalu ada pelangi setelah badai melanda?—itulah hidup.


Menjauhkan dahinya, Rin hanya tersenyum sekali lagi menatap Tsubasa. "Terima kasih, Tsubasa-sama. Terima kasih telah menunjukkan pada Rin kenyataan dan kebenaran..."


Ucapan Rin membuat Tsubasa bingung. Air matanya terhenti dan menatap wanita di depannya. Sedetik kemudian dia tertegun, karena air mata kini memenuhi wajah lemah yang tersenyum tersebut.


"Rin-sama..." panggil Tsubasa pelan. Namun, dari belakang, tiba-tiba seseorang menarik kerah kimono belakangnya dan melempar dia keluar dari kamar di mana dia berada.


Terkejut, Tsubasa dengan segera mendarat di atas salju dan mengangkat wajah menatap siapa yang melemparnya. Berambut perak panjang, tanpa melihat wajahnyapun, youkai burung itu tahu; Sesshoumaru.


Kagome sangat terkejut dengan kemunculan Sesshoumaru yang tiba-tiba, begitu juga dengan Kiri dan Kira. Mereka tidak mengerti kenapa inuyoukai itu tiba-tiba muncul di depan Rin dan menghempas Tsubasa, namun ekspresinya yang tidak biasa membuat mereka tidak berani bertanya apa-apa. Wajah tenang itu terlihat sangat gusar.


Sesshoumaru segera memeluk Rin erat. Menatap Kagome tajam, dia berujar pelan dan rendah. "Keluar."


Kagome benar tidak tahu apa yang terjadi, tapi tanpa mengatakan apa-apa, dia langsung berdiri dan berjalan keluar. Keadaan Sesshoumaru aneh, dan juga Rin—dari pembicaraannya dengan Tsubasa, dia tidak merasakan keanehan, wanita manusia itu hanya sedang menghibur youkai burung itu, kan?


Kiri dan Kira yang ada di depan menutup pintu kamar begitu Kagome keluar. Tanpa diperintah, mereka berdua tahu, sang penguasa tanah barat hanya ingin berdua bersama kisakinya sekarang.


Saat kamar telah tinggal mereka berdua, dengan pelan dan hati-hati, Sesshoumaru menatap wajah Rin. Tangannya bergerak menghapus air mata yang mengalir turun dari wajah istrinya lembut. "Jangan menangis, Rin. Ada apa?"


Rin menggeleng kepala pelan dengan air mata yang masih saja mengalir turun. Melihat jelas sekali kekhawatiran di mata emas yang begitu dicintainya. Ah, bagaimana bisa dia terus mengukirkan semua emosi yang seperti ini dalam mata emas itu? Kesalahan demi kesalahan yang terus dilakukannya, mungkin memang sudah waktunya untuk berakhir.


Sakit.


Sangat sakit. Tapi, tetap harus dilalui. Pilihan?—tidak; keputusan. Hidup dan mati, cinta dan kebahagiaan. Rin harus memutuskan karena kebenaran tidak dapat disembunyikan lagi.


Dia tidak akan dapat hidup secara normal lagi, dalam waktu yang melaju ke depan, dalam waktu dekat dia akan segera mati. Dia mati-matian bertahan untuk hidup karena cinta dan kebahagiaan bersama orang yang dicintainya, tapi bahagiakah dia sekarang? Bahagiakan mereka?—tidak. Tidak ada kebahagiaan lagi. Karena itu, dia tidak boleh lagi mempertahankan lagi hidup seperti ini. Tidak akan ada kebahagiaan selama dia ada. Tapi, jika dia tiada, penderitaan ini mungkin akan berhenti, dia tidak akan membuat mereka yang mencintainya menderita dan bersedih lagi. Seiring waktu berjalan, semua akan kembali normal, mereka pasti akan dapat tertawa lagi.


Sesshoumaru yang ddicintaiya. Jangan bersedih lagi untuknya, jangan menderita lagi untuknya. Kembalilah menjadi kau yang dulu, begitu kuat dan sempurna. Selalu tenang dan penuh kebanggaan diri, tidak tersentuh dan berada di puncak—kembaliah menjadi Sesshoumaru yang selalu ada dalam ingatan Rin semasa kecil.


"Sesshoumaru-sama, Rin dan Shura. Kita bertiga, keluarga. Selalu bersama untuk selamanya.." Terucap lemah dengan senyum yang penuh air mata, Rin menatap lekat Sesshoumaru dan tertawa.


Sakit.


Sangat sakit. Sungguh menyakitkan, saking menyakitkannya melebihi saat kematian datang menjemput. Keinginan mereka tersebut adalah sebuah angan-angan semu. Karena itu—maaf.


Maaf.


Maaf.


Maaf untuk selamanya bersama yang tidak mungkin. Maaf untuk mimpi indah yang akan berhenti terajut. Maaf untuk benang yang akan diputuskannya sendiri—tidak akan ada bersama selamanya diantara mereka lagi. Untuk yang lebih baik di masa depan, untuk mereka yang masih akan terus melanjutkan hidup dan menemukan kebahagiaan. Antara cinta dan kebahagiaan, Rin akan memilih kebahagiaan mereka tanpa dirinya. Lalu, antara hidup dan kematian, kini, Rin akan memilih—kematian.


Sesshoumaru bisa merasakan hatinya sangat sakit. Bagaikan diremas dan ditusuk. Tidak diberitahu dia tahu, ini adalah sakit Rin yang berada dalam pelukannya. Wanita yang menangis dan tertawa dengan pelan menatapnya. Tapi, sepasang mata indah yang terarah padanya itu sungguh menakutkannya. Mata itu tetap indah sebagaimana biasanya, namun kesedihan dan kepedihan tiada tara terpancar jelas.


"Ada apa, Rin?" tanya Sesshoumaru lagi dan memendamkan wajah Rin di dadanya. Tangan kanannya bergerak membelai pelan rambut hitam itu pelan berusaha menghentikan air mata yang ada.


Rin tidak menjawab, dia hanya kembali menggeleng kepala dan membiarkan kehangatan Sesshoumaru menyelimuti dirinya. Menutup mata, dia hanya tersenyum kecil.


Waktu.


Berikanlah dia waktu sedikit lagi. Dalam waktu yang tersisa itu, dia akan meluruskan apa yang harus diluruskan, dia harus menyelesaikan apa yang seharusnya dia selesaikan. Karena itu, berikan dia waktu sedikit lagi untuk mereka yang sangat dia cintai.

__ADS_1


"Rin mencintai anda, Sesshoumaru-sama. Sangat-sangat mencintai anda. Hanya anda seorang...."


....xOxOx....


__ADS_2