Till The End Of Time [ Inuyasha Fanfiction ]

Till The End Of Time [ Inuyasha Fanfiction ]
Chapter 82


__ADS_3

Akihiko menatap Rin yang berlari memeluk Sesshoumaru penuh tawa. Dia juga melihat bagaimana kedua tangan inuyoukai itu membalas pelukan itu dengan erat.


Kedua jari jemari tangan Akihiko terkepal erat, tapi, dia juga tidak bisa melakukan apa-apa. Yang bisa dilakukannya sekarang hanyalah; melihat.


"Dia tidak akan mencintai anda, Akihiko-sama." suara Tsubasa yang tenang dan datar tiba-tiba terdengar. Dia yang duduk diam di samping Akihiko bisa membaca jelas ekspresi wajah pengunguasa tanah selatan tersebut.


Akihiko tidak membalas ucapan Tsubasa. Kedua matanya masih menatap sosok gadis manusia di atas panggung dengan seulas senyum sendu di wajah. Rin tidak akan mencintainya, dia tahu. Tapi, bisakah dirinya berhenti mencintai gadis itu?


Nyanyian dan tarian, kecantikan dan kepolosan, senyum dan tawa, kelembutan dan kebaikan, lalu kehangatan dan kebahagiaan. Semua yang mebentuk gadis itu–Akihiko tahu, dia tidak akan dapat melupakannya seumur hidupnya.


Mencintai Rin sangat mudah, dengan mengenalnya beberapa hari saja, Akihiko telah jatuh cinta, dan dari hari ke hari, cinta itu semakin besar. Namun, untuk melupakan cinta yang telah bersemi itu, dia tidak tahu bagaimana untuk melakukannya.


Tsubasa tidak mengatakan apa-apa lagi. Dia hanya bisa menatap Akihiko dengan hati yang hancur. Dia ingat jelas mata biru langit itu bersinar begitu lembut dan penuh cinta saat melihat gadis manusia itu bernyanyi dan menari–betapa daiyoukai penguasa tanah selatan mencintai gadis itu.


Tsubasa tahu, Akihiko juga sadar, gadis manusia itu tidak akan menatapnya. Selamanya, di mata coklat itu hanya ada sosok Sesshoumaru dari barat. Dia mencintainya, meski tahu gadis manusia itu tidak akan mencintainya.


Dunia ini sungguh lucu, tidak pernah dia menyangka Akihiko akan menjadi sepertinya. Cinta yang begitu diharapkan, Akihiko tidak akan memilikinya. Sama seperti dirinya sendiri, cinta yang Tsubasa harapkan juga tidak akan pernah dimilikinya–cinta yang bertepuk sebelah tangan untuk selamanya.


....xOxOx....


Malam sudah tiba, dalam kamar Rin, Kagome membantu Rin mengenakan kembali kimononya setelah selesai memeriksa kesehatan gadis manusia itu di bantu Sango.


Menatap Rin lekat, seulas senyum lebar kemudian menghiasi wajah cantik Kagome.


"Kenapa anda menatap Rin seperti ini, Kagome-sama?" tanya Rin kemudian pelan.


Senyum Kagome semakin melebar. "Aku tidak menyangka apa yang kulihat hari ini, Rin-chan."


"Maksud anda?" tanya Rin bingung.


"Melihat kau bernyanyi dan menari dengan Sesshoumaru memainkan shakuhachi." jawab Sango yang ada di sana dengan senyum yang sama lebarnya.


"Iya," sela Kagome cepat dengan mata berbinar. "Kalian berdua benar-benar bagaikan lukisan, Rin-chan. Indah sekali."


Kagome ingat jelas, dalam taman bunga sakura di atas panggung. Sosok Rin yang bernyanyi dan menari bebas dengan Sesshoumaru yang meniup shakuhachi. Manusia dan youkai, tapi, mereka begitu serasi, begitu indah–sempurna tanpa kecacatan.


Wajah Rin memerah mendengar pujian Kagome. Menunduk ke bawah, dia diam membisu, tapi seulas senyum mengembang di wajah cantiknya.


"Tapi, benar-benar diluar dugaan Kakak bisa memainkan shakuhachi semahir itu. Ternyata dia memiliki jiwa seni yang tinggi." lanjut Kagome lagi. Siapa yang menyangka inuyoukai dengan wajah datar tanpa ekspresi yang hanya mengejar kekuatan ternyata memiliki keahlian tersembunyi seperti itu?


Ucapan Kagome membuat Rin memgangkat kepalanya dan tertawa lepas. "Sesshoumaru-sama tidak hanya ahli memainkan shakuhachi, Kagome-sama. Beliau juga ahli memainkan koto. Lalu, anda benar, Sesshoumaru-sama memang memiliki  jiwa seni yang tinggi, karena beliau juga sangat pandai melukis."


Penjelasan Rin membuat Kagome dan Sango terkejut. Mereka tidak bisa membayangkan seperti apa rupa Sesshoumaru memainkan koto. Lalu, melukis?–mereka juga tidak bisa membayangkannya.


"Ugh, kenapa Inuyasha berbeda sekali dengan Kakak, ya?" gumam Kagome pelan teringat Inuyasha yang tidak memiliki jiwa seni sama sekali.


"Aku mendengarnya, Kagome!!!" teriak Inuyasha yang ada di luar kamar Rin bersama Miroku, Kira dan Kiri.


Kagome tidak menpedulikan teriakan Inuyasha. Dia hanya menghela napas. "Dan Shiro juga mirip sekali dengan Inuyasha. Kurasa anak itu kelak juga tidak akan memiliki jiwa seni sedikitpun."


"Jiwa kastria lebih baik daripada jiwa seni, Kagome!!!" teriak Inuyasha lagi. Di luar kamar Rin, dia melipat kedua tangan di dada penuh kekesalan. Apa gunanya bisa memainkan alat musik maupun melukis?–bisa mengayunkan pedang yang berguna!!


"Kau salah, Inuyasha." tawa Miroku yang melihat ekspresi muka kesal Inuyasha. Dia memukul pundak inuhanyou itu semangat. "Jiwa seni diperlukan untuk menaklukkan hati para wanita."

__ADS_1


"Aku menghawatirkan masa depan Mamoru dengan ayah seperti itu." gumam Sango pelan putus asa mendengar tawa Miroku.


Rin dan Kagome yang mendengar ucapan Sango hanya dapat tertawa. Namun, tawa mereka terhenti begitu mendengar suara teriakan Inuysha di luar. "Ada perlu apa kau kemari!!?"


"Hamba datang untuk menemui, Rin-sama." balas suara lembut seorang wanita tiba-tiba.


Rin, Kagome dan Sango yang ada dalam kamar bisa mendengar jelas suara wanita itu, dan mereka juga mengenal pemilik suara itu; Tsubasa.


Membuka pintu kamar, Rin menemukan Tsubasa berdiri tidak jauh di depannya dengan Inuyasha yang menahannya. "Tsubasa-sama?"


"Apakah hamba boleh berbicara empat mata dengan anda, Rin-sama?"


....xOxOx....


Sesshoumaru menatap langit malam dalam hutan tidak jauh dari istana tanah selatan. Mata emasnya bisa melihat seekor youkai naga berkepala dua terbang turun ke arahnya–Ah-un.


Penuh kegembiraan karena melihat Sesshoumaru, Ah-un yang mendarat di depan inuyoukai itu tidak berhenti meringkik penuh kebahagiaan dan menggoyangkan ekornya.


"Akhirnya, naga ini tiba juga," ujar Inukimi yang tidak tahu kapan telah berada di belakang Sesshoumaru pelan. Seulas senyum menghiasi wajahnya. "Kau telah menyiapkan semua persiapan untuk pulang ke barat, kan, Sesshoumaru?"


Sesshoumaru tidak mengatakan apa-apa, dia bahkan tidak menoleh sedikitpun pada mantan penguasa tanah barat itu.


"Setelah pulang ke barat. Apa yang akan kau lakukan, Sesshoumaru?" tanya Inukimi lagi tidak peduli.


Sesshoumaru tetap diam membisu, tetapi, sejenak kemudian, dia menjawab. "Sesuatu yang harus Sesshoumaru ini lakukan."


"Oh?" seru Inukimi pelan. Namun, senyum di wajahnya semakin lebar. "Apa yang harus kau lakukan?"


Pertanyaan Inukimi kali ini membuat Sesshoumaru membalikkan badan menghadap inuyoukai yang melahirkannya. "Membuat semuanya jelas, Ibunda."


Sesshoumaru tidak membalas ucapan Inukimi langsung. Dia menatap mantan penguasa tanah barat itu sejenak dan kemudian mengangkat kepala ke atas. "Sesshoumaru ini ingin memberikan segala yang seharusnya Rin dapatkan."


"Oh??" seru Inukimi lagi walau sesungguhnya, dia tidak mengerti ucapan anaknya itu.


"Rin itu manusia. Meskipun tumbuh besar di dunia youkai, Rin adalah manusia. Karena itu, Sesshoumaru ini ingin melakukannya sesuai tradisi manusia."


Penjelasan Sesshoumaru membuat mata Inukimi terbelalak. Dia seakan tidak percaya dengan apa yang didengarnya.


Menurunkan kepalanya, Sesshoumaru kembali menatap Inukimi. "Sesshoumaru ini ingin Rin bahagia sebagaimana mestinya."


....xOxOx....


"Apa yang ingin anda bicarakan dengan Rin, Tsubasa-sama?" tanya Rin sambil tersenyum. Kedua matanya menatap ramah Tsubasa yang duduk di depan.


Dalam kamar ini sekarang, cuma ada  mereka berdua; Rin dan Tsubasa. Gadis manusia itu dengan ramah menerima permintaan selir kesayangan penguasa tanah selatan yang ingin berbicara berdua saja tanpa mempedulikan protes Inuyasha, Kira, Kiri dan yang lainnya.


Tsubasa menatap balik Rin dalam diam. Dia tidak tahu gadis manusia ini polos atau bodoh, tapi, hime dari barat ini benar-benar tanpa kewaspadaan.


"Rin-sama," panggil Tsubasa kemudian. Wajahnya datar tanpa emosi, begitu juga dengan suaranya. "Hamba ingin anda memikirkan kembali keputusan anda menolak posisi Kisaki selatan."


Rin terdiam mendengar ucapan Tsubasa. Kedua matanya terbelalak karena terkejut. Namun, sejenak kemudian dia menatap bingung youkai burung di depanya. "Kenapa?"


"Karena anda akan lebih bahagia di selatan. Menjadi Kisaki selatan, Akihiko-sama akan memberikan anda segalanya. Hamba juga akan membantu anda; anda akan menjadi wanita paling dihormati di jepang."

__ADS_1


Rin tidak membalas ucapan Tsubasa lagi. Diam membisu dia menatap Tsubasa yang terus berbicara.


"Apa yang bisa diberikan barat, selatan akan memberikannya. Jangan menolak tawaran Akihiko-sama, jadilah Kisaki dari selatan. Akihiko-sama mencintai anda!"


"Bagaimana dengan cinta anda?" tanya Rin tiba-tiba. Mata coklat jernihnya tidak teralih dari wajah Tsubasa.


Pertanyaan Rin membuat Tsubasa tertegun. Terdiam dia tidak tahu harus mengatakan apa.


"Anda mencintai Akihiko-sama, bukan, Tsubasa-sama?" tanya Rin lagi. "Rin bisa melihatnya dari cara anda menatap Akihiko-sama."


"Akihiko-sama mencintai anda." Balas Tsubasa cepat.


"Tapi, Rin mencintai Sesshoumaru-sama!" teriak Rin tiba-tiba. Kedua matanya bersinar serius tanpa keraguan.


Tsubasa terdiam melihat ekspresi wajah Rin. Kedua mata jernih yang menatapnya serius membuatnya terpaku.


"Apakah anda dapat berhenti mencintai Akihiko-sama jika ada yang mencintai anda, Tsubasa-sama?"


"H-hamba.." jawab Tsubasa terbata-bata. Tetapi dia tidak dapat menemukan kekuatan menjawabnya.


Wajah tersenyum sendu Akihiko yang menatap lembut gadis manusia itu terbayang dalam pikiran Tsubasa–membuat hatinya terasa sangat sakit.


Kenapa dia bisa membuang harga diri dan datang meminta gadis manusia ini untuk menjadi kisaki selatan?–itu karena dia tahu Akihiko akan gembira. Karena youkai serigala itu akan bahagia. Untuk itu, dirinya akan belajar memuaskan diri hanya dengan berada di samping pria yang dicintainya–meski wanita itu bukanlah dirinya.


Karena itu, berhenti mencintai Akihiko? Bagaimana dia melakukannya? Tidak peduli siapapun yang mencintainya, Tsubasa tahu, selamanya dia tidak akan dapat mengalihkan pandangannya dari daiyoukai itu. Sejak dia diselamatkan saat hanya merupakan seekor burung kecil, Akihiko telah menjadi dunianya.


"Anda tidak bisa, kan, Tsubasa-sama?" tanya Rin lagi. Seulas senyum kecil menghiasi wajah cantiknya. "Rin juga seperti anda, Rin tidak bisa berhenti mencintai Sesshoumaru-sama."


Cinta Tsubasa, Rin tahu. Dia sudah mendengar tentang kisah seekor burung kecil yang berubah menjadi seorang youkai kuat demi membalas budi pada penguasa tanah selatan yang menyelamatkan hidupnya. Lalu, saat mereka bertemu, saat dia melihat mata youkai burung itu menatap penguasa tanah selatan, Rin sadar–bukan balas budi. Yang membuat burung itu menjadi youkai kuat bukanlah balas budi, tapi; cinta.


Perlahan, Rin mendekati Tsubasa. Tidak mempedulikan ekspresi terkejut youkai burung itu, dia mengangkat kedua tangan dan memeluknya erat. "Cinta anda–Rin mengerti."


Seperti halnya cinta Tsubasa pada Akihiko, seperti itu jugalah cinta Rin pada Sesshoumaru. Cinta mereka yang mengharapkan kebahagiaan bagi orang yang mereka cintai, cinta mereka yang sudah akan memuaskan diri dengan berada di samping pria yang mereka cintai–meskipun tidak bisa memiliki.


Ucapan Rin membuat Tsubasa tertegun. Pelukan yang hangat, ucapan yang penuh pengertian. Hati sakit Tsubasa terasa semakin sakit.


Cinta adalah sebuah perasaan yang tidak berguna. Cinta adalah sesuatu yang membuatmu menjadi lemah dan musnah. Cinta adalah kelemahan.


Cinta dalam dunia youkai adalah sesuatu yang tidak diperlukan. Selama hidupnya ini, tidak pernah ada yang mengerti cintanya. Namun, hari ini, dari mulut gadis manusia yang dibencinya, dia mendengar kata–mengerti.


Perlahan, dengan tangan bergetar, Tsubasa mengangkat kedua tangannya membalas pelukan hangat Rin. Tidak terhentikan, air matanya menetes turun membasahi pipi.


Kenapa dia menangis? Tsubasa tidak tahu. Rasa sakit yang mengoyak hati semakin menjadi, namun, di setiap rasa sakit yang ada, satu perasaan baru muncul dengan begitu kuatnya; perasaan lega.


Cintanya yang lucu, cintanya yang tidak berguna, cintanya bodoh dan cintanya yang tulus–gadis manusia ini mengerti sepenuhnya.


....xOxOx....


Sesshoumaru berdiri diam tanpa gerak mendengar pembicaraan Rin dan Tsubasa. Mendengar pengakuan cinta gadis manusia itu untuk kesekian kalinya, dia hanya dapat berusaha mengendalikan detak jantung dan senyum yang hampir memenuhi wajahnya.


Dicintai seperti itu, betapa hati Sesshoumaru terasa hangat. Melebihi apapun, gadis manusia itu ingin berada di sisinya dan tidak akan berhenti mencintainya.


Mata Inuyasha, Kagome, Miroku dan Sango yang menatap kamar Rin bergerak menatap Sesshoumaru. Mereka tidak mengatakan apa-apa, tapi dalam hati, mereka menebak apa perasaan inuyoukai itu setelah mendengar pengakuan cinta dari gadis manusia itu.

__ADS_1


Sesshoumaru yang diam membisu kemudian menolehkan kepalanya pada Kagome. "Miko, ikuti Sesshoumaru ini, ada yang ingin Sesshoumaru ini tanyakan."


....xOxOx....


__ADS_2