Till The End Of Time [ Inuyasha Fanfiction ]

Till The End Of Time [ Inuyasha Fanfiction ]
Chapter 174


__ADS_3

Miroku menatap tidak percaya youkai yang tiba-tiba muncul membantu mereka. Namun dari bendera biru selrta lambang yang ada, biksu itu tahu identitas para youkai tersebut "Tanah selatan?"


"Kei-san?" panggil Sango bingung saat melihat seorang youkai beruang yang muncul membantunya. Dia ingat jelas youkai beruang tersebut, karena hanami sepuluh tahun yang lalu di dalam istana tanah selatan.


"Lama tidak bertemu, taijiya." Tawa Kei melihat Sango yang masih mengingat dirinya walau sepuluh tahun telah berlalu. "Saat ini semua selesai, ayo kita bermain kartu karuta lagi."


Sango tertegun mendengar ucapan Kei. Namun sejenak kemudian, dia tertawa terbahak-bahak. Mengangguk kepala, dia bersiap melempar boomerang raksasanya. "Iya, mari kita bermain lagi."


Di sisi lain, Arata, sang pemimpin taijiya dan para ketua aliansi lainnya menatap tidak percaya dengan apa yang terjadi. Melihat youkai tanah selatan yang muncul membantu, mereka merasa ini semua seperti mimpi. Tidak bergerak, mereka berdiam diri bagaikan patung.


"Arata-san! Semuanya!! Jangan berdiam diri saja!! Pertempuran ini belum berakhir!!" suara teriakan Kohaku menyadarkan Arata dan juga yang lainnya.


Seketika juga, Arata dan yang lainnya kembali bertarung dengan segenap kekuatan mereka. Namun, rasa tidak percaya masih memenuhi hati mereka semua. Bagaimana bisa ada youkai yang tiba-tiba muncul membantu mereka?—youkai adalah pembunuh, youkai  adalah musuh manusia, bukan?


....xOxOx....


Shura dan Shiro berlari. Tidak jauh di hadapan mereka, mereka bisa melihat puncak gunung hare dengan sangat jelas. Dari semua yang ada, berkat Akihiko, Tsubasa dan yang lainnya yang membuka jalan, hanya mereka berdua yang berhasil keluar dari medan pertempuran untuk sekarang ini. Beristirahat sejenak dan menunggu yang lainnya mungkin merupakan sebuah pilihan yang bagus, tapi baik Shura dan Shiro tahu mereka tidak bisa seperti itu. Tempat ini adalah tempat musuh, mereka tidak boleh membuang waktu sedikitpun.


"Kita sudah hampir sampai!!" teriak Shiro gembira. Setelah perjuangan dan pertarungan tanpa henti, akhirnya mereka berdua akan mencapai puncak gunung hare.


Tidak seperti Shiro yang gembira, wajah Shura tetap tenang dan datar. Inuyoukai kecil itu tahu, mencapai puncak gunung hare tidak berarti tujuan mereka tercapai, malah mungkin sebaliknya. Dia bisa merasakan aura youki yang luar biasa dari puncak gunung, dan itu adalah—Shui.


Apakah Shura memiliki kepercaya dirian mengalahkan Shui?—sejujurnya; tidak ada. Perbedaan kekuatan mereka terlalu jauh, tapi, itu tidak berarti dia akan berhenti mencoba melawannya.


"Shura, putra kesayanganku.."


Suara yang tidak asing terdengar, baik Shura maupun Shiro berhenti dan mengarahkan pandangan pada sumber suara yang berasal tidak jauh di depan mereka. Seketika, wajah Shiro menjadi sangat aneg, antara jijik dan juga kesal, sedangkan untuk Shura, dia tetap tenang seakan yang di depannya adalah orang yang tidak dikenalnya.


Yang kini ada di depan Shura dan Shiro adalah Akiko, hime dari tanah timur. Berdiri dengan senyum di wajah, dia menatap lembut Shura. "Ibunda rindu sekali padamu."


"Sampai kapan kau mau bermimpi bahwa Shura adalah anakmu?" tanya Shiro kemudian. Dia menatap tidak suka pada Akiko yang menurutnya sungguh sangat tidak tahu malu.


Akiko yang tidak mempedulikan Shiro membuka kedua tangannya lebar. "Kemarilah putraku, biarkan ibunda memelukmu."


Shura yang dari tadi diam membisu dengan wajah tidak berekspresi kemudian berjalan mendekati Akiko dengan pelan, dan itu membuat Shiro sangat terkejut. "Hei!!! Apa yang kau lakukan??"


Shura tidak mempedulikan teriakan Shiro yang menatapnya tidak percaya. Tiba tepat di depan Akiko, kedua mata emasnya terarah pada youkai rubah yang tersenyum sangat lebar kepadanya.


"Anakku, aku sangat menyayangimu..." Ujar Akiko lagi. Kedua matanya berbinar penuh kegembiraan.


"Omong kosong." Gumam Shura kemudian. Seketika juga, dia menggerakkan pedang yang ada ditangannya untuk menebas Akiko.


Akiko tidak mengubah ekspresi wajahnya sedikitpun dengan serangan mendadak Shura. Selendang emas yang terlilit di badannya dengan segera bergerak dan menangkis pedang yang terarah padanya. Dirinya sudah mempredeksi serangan tersebut.


Bergerak, ujung selendang Akiko menyerang Shura yang berada sangat dekat dengan cepat. Bagaikan pedang, ujung itu mengincar leher inuyoukai kecil tersebut.


Shura yang menyadari hal itu segera meloncat ke belakang. Saat mendarat, kedua mata emasnya menatap kembali Akiko yang masih tersenyum kepadanya.


Shiro yang melihat apa yang terjadi tidak bergerak dari tempatnya, tapi inuhanyou itu menarik napas lega. "Jika ingin menyerangnya seperti itu berikan aku sedikit kode, Shura," ujarnya sedikit kesal. "Kukira kau benar-benar akan membiarkan rubah itu memelukmu."


Shura sekali lagi tidak mempedulikan Shiro. Tanpa membuang waktu, dia kembali maju menghunuskan pedang pada Akiko. Dia benar-benar tidak mengerti bagaimana inuhanyou dengan kebodohan tingkat tinggi itu mempunyai seperempat darah yang sama dengannya.


Shiro juga tidak membuang waktu lagi, ikut mengangkat pedang di tangannya, dia maju membantu Shura menyerang Akiko.


"Putraku, kenapa kau jadi seperti ini?" tanya Akiko tetap tersenyum. Menggerakkan kedua ujung selendangnya, dia ikut menyerang Shura dan Shiro. "Bagaimana bisa kau menyerang ibundamu ini?"


Shura tidak menjawab pertanyaan Akiko yang terarah padanya. Menfokuskan dirinya untuk menyerang, dia semakin mempercepat kecepatan serangannya.


Berbeda dengan Shura, Shiro yang mendengar ucapan Akiko sama sekali tidak dapat menahan kemarahan dalam dirinya. "Diam kau rubah!! Siapa yang anakmu!!? Becerminlah terlebih dahulu!!"


Akiko tertawa melihat reaksi Shura dan Shiro. Melihat mereka berdua berusaha keras menyerangnya, dia benar-benar merasa sangat gembira, karena akhirnya tiba hari dimana dia bisa membalas semua penghinaan yang diterimanya selama ini.


Shura—putra dari Sesshoumaru dan juga wanita manusia yang dibencinya. Saat pertama kali Akiko memasuki istana tanah barat dan mendengar perintah bahwa dia akan menjadi ibu kandung inuyoukai kecil tersebut—kemarahan luar biasa memenuhinya. Dia tidak tahu apa tujuan Sesshoumaru melakukan itu, tapi terlihat jelas, inudaiyoukai itu tidak berniat membiarkannya melahirkan seorang anak lagi. Terlebih lagi, di dalam istana, dia bukanlah seorang kisaki melainkan seorang selir tanpa kekuatan dan kekuasaan.


Para youkai tanah barat juga sama, mereka sama sekali tidak menghormati dan mengangap rendah dirinya, karena itulah, Akiko tidak ragu berkerja sama dengan Shui untuk menghancurkan tanah barat. Betapa gembira dirinya saat melihat para pemimpin klan youkai di tanah barat yang angkuh itu tertipu dan tersegel dalam botol kaca karena meremehkan dirinya.


Mencari mereka penuh kerendahan hati dan ingin berbicara empat mata dengan dalih hal penting mengenai tanah barat, Akiko berhasil menipu sebagian besar pemimpin klan youkai di tanah barat. Lalu, menggunakan pelayan kepercayaannya yang telah dilatih lama untuk meniru sang pemimpin youkai, tidak ada seorangpun yang menyadari apa yang telah terjadi.


Kini, tanah barat telah jatuh, dia telah membalas penghinaan yang terus diterimanya selama ini. Jika ada yang dirinya kurang puas, mungkin itu adalah dia tidak bisa merobek dan membunuh wanita manusia yang telah tiada tersebut. Karena itulah, sebagai gantinya, dia akan melakukan semua itu kepada putranya.


"Kau harusnya bersyukur bisa memanggilku ibunda selama ini!!" teriak Akiko kemudian sambil tertawa. Bersamaan juga dengan teriakannya, delapan ekornya tiba-tiba muncul dan menyerang Shura dan Shiro.

__ADS_1


Baik Shura dan Shiro yang menyadari serangan tersebut segera melompat ke belakang menghindar.


Mendarat, Shiro berteriak kesal menatap Akiko. "Rubah berekor sem—" ucapan inuhanyou itu terhenti saat dia menyadari jumlah ekor youkai rubah di depannya. "Delapan? Pertama kali aku melihat rubah berekor delapan."


Ucapan Shiro membuat kemarahan luar biasa memenuhi Akiko. Sepuluh tahun yang lalu, satu ekornya putus saat melawan Kiri dari barat, dan itu adalah penghinaan terbesar yang pernah diterimanya.


"Dasar darah hina!!" Menggerakkan kedelapan ekor, Akiko mengincar Shiro yang telah menghinanya.


Shiro segera mengangkat pedangnya untuk menahan serangan yang ada. Dari gerakan serangan Akiko, dia tahu, serangan ini adalah serangan dari segala arah dan sangat berbahaya—dirinya berharap dia tidak akan terluka parah.


Namun, tiba-tiba saja, Shiro merasakan punggung seseorang menyentuh punggungnya, dan dia tidak bisa menyembunyikan perasaan terkejutnya saat melIhat Shuralah pemilik punggung tersebut.


"Konsentrasi." Ujar Shura tanpa emosi. Mata emasnya tidak menatap Shiro sedikitpun, dia hanya memusatkan semua indra penglihatannya ke arah serangan Akiko.


Shiro yang sempat tertegun segera tersadar, seulas senyum menghiasi wajah tampannya. Menatap ke depan, dia tertawa. "Kuserahkan belakangku padamu."


Pedang di tangan dan serangan ekor Akiko bertemu. Terus bergerak dan tidak lengah sedikitpun, Shura dan Shiro terus menahan serangan bertubi-tubi yang terus dilancarkan kepada mereka.


Akiko yang melihat serangannya dapat ditahan oleh mereka berdua kemudian menarik kembali ekornya, dan kesempatan itu segera dimanfaatkan Shura. Berteriak pada Shiro, dia meloncat ke atas. "Shiro!!"


Shiro segera mengangkat kepalanya menatap Shura tidak percaya, sebab ini adalah pertama kalinya inuyoukai itu memanggil namanya. Lalu, saat mata emas mereka yang identik bertemu, dia segera menggabungkan kedua jari-jemarinya. Sungguh aneh, Shiro tidak mengerti, kenapa dia bisa tahu apa yang diinginkan Shura sekarang? Kenapa juga Shura yakin dia akan tahu apa rencananya?—apakah ini artinya hubungan mereka cukup dekat?


Shura mendarat ke bawah dengan sukses menginjak telapan tangan Shiro, dan dengan segera pula, inuhanyou itu melempar inuyoukai tersebut dengan segenap kekuatannya ke arah Akiko. "Kalahkan dia!!"


Berkat Shiro, Shura dapat meluncur dengan sangat cepat ke arah Akiko, bahkan lebih cepat dari pada ekor yang ditarik kembali. Mengumpulkan youki dan membalutnya pada pedang, dia menghunuskan pedang mengincar leher youkai rubah di depan mata.


Akiko tidak bergerak dari tempatnya berdiri, serangan Shura ini adalah serangan yang tidak terduga. Namun, seulas senyum seketika memenuhi wajahnya. Tidak ada ketakutan sedikitpun akan serangan yang terarah padanya. Menggerakkan selendang emasnya, dia menahan serangan yang ada. Selendang yang bergerak bagaikan air itu dengan segera membalut pedang inuyoukai kecil tersebut.


Shura sendiri tidak mengalah, terus mengirim youki ke pedang di tangan, dia berhasil mendorong Akiko beberapa langkah ke belakang. Dia tidak boleh gagal, puncak gunung hare sudah di depan mata.


"Kau memang putra Sesshoumaru, meskipun darah rendahan mengalir ditubuhmu." Ujar Akiko kemudian. Senyum di wajahnya semakin lebar, menggerakkan lagi selendangnya, kain tersebut semakin erat membalut pedang Shura.


Shura menyadari hal tersebut, dan dia juga tahu itu bukanlah sesuatu yang bagus. Namun, belum sempat dia melakukan apapun, balutan kain yang semakin erat dan kuat berhasil mematahkan pedangnya.


"Shura!!!" teriak Shiro terkejut melihat apa yang terjadi.


"Kau sangat arogan jika bisa berpikir bisa mengalahkanku!!!" teriak Akiko sambil tertawa. Menggerakkan badannya, tangannya yang berbentuk cakar mengincar jantung Shura. Inuyoukai kecil di depannya kuat, tapi, sekuat apapun dia, dia yang baru berusia sepuluh tahun tidak akan mungkin dapat menang melawan dirinya yang telah berusia ratusan tahun.


Shura melepaskan pedang di tangannya, dan dengan segenap kekuatannya, dia melompat ke belakang. Telambat sedetik saja, dia tahu, dia akan kehilangan nyawanya. Namun, Akiko juga menyadari apa yang akan dilakukan inuyoukai kecil tersebut. Memutar badannya, dia mengangkat kakinya untuk menendang badan kecil tersebut kuat.


"Shura!!! Menghindar!!" suara teriakan Shiro terdengar kuat. Berlari cepat, dia berusaha mencapai Shura.


Shura berusaha bangkit sesegera mungkin, dan saat dia mengangkat kepalanya, dia melihat Akiko telah melesat ke arahnya dengan selendang serta kedelapan ekornya. Tanpa pedang, dia sama sekali tidak akan dapat menahan serangan tersebut.


"Kecil!!! Tangkap ini!!!" tiba-tiba saja, suara teriakan Inuyasha terdengar keras, dan belum sempat Shiro menoleh kepala menatap ayahnya, sesuatu melesat cepat melewatinya dari belakang.


Shiro yang masih menatap Shura dapat melihat apa yang dilempar ayahnya dengan segenap tenaga melewati dirinya, itu adalah sebatang pedang tua yang tidak lain adalah salah satu pusaka tanah barat—tessaiga.


Shura segera menyadari keberadaan tessaiga yang melesat ke arahnya. Tanpa membuang waktu, dia menangkap pedang tersebut sesaat sebelum serangan Akiko mengenainya.


"Shura!!!"


"Shura!!"


"Kecil!!"


Asap debu dan ledakan kuat terjadi saat serangan Akiko mengenai sasarannya. Shiro, serta Inuyasha dan Kagome yang baru tiba menatap sumber ledakan penuh kekhawatiran. Lalu, saat asap menghilang, mata mereka menantap tidak percaya apa yang terjadi di depan mata.


Berdiri tegak, Shura mengengam tessaiga dalam bentuk aslinya menahan serangan Akiko. Tanpa luka sedikitpun, inuyoukai kecil itu berhasil menghentikan selendang dan juga ekor youkai rubah tersebut.


"Bagaimana bisa?? Bagaimana bisa kau menggunakan tessaiga??!" Akiko menatap tidak percaya Shura yang berdiri menahan serangan dengan tessaiga dalam bentuk aslinya.


Inuyasha, Kagome dan Shiro juga sama terkejutnya dengan Akiko. Tessaiga adalah pusaka tanah barat yang berbeda dengan pedang lainnya, sebab pedang itu adalah pedang yang tidak dapat digunakan oleh youkai sejati. Pedang itu hanya dapat digenggam oleh manusia ataupun hanyou.


"Inuyasha, bagaimana kau tahu, Shura bisa menggunakan tessaiga?" tanya Kagome yang ada di atas punggung Inuyasha pelan. Matanya tidak terarah pada suaminya sedikitpun dan hanya terarah pada hal mustahil di depan mata. Dia tahu jelas bahwa tessaiga tidak dapat digunakan youkai sejati, bahkan Sesshoumaru saja tidak dapat menggunakannya.


Inuyasha tidak menjawab pertanyaan Kagome. Sejujurnya dia juga tidak mengerti, alasan dia melemparkan tessaiga bukan karena dia tahu Shura bisa menggunakannya, melainkan karena tidak ada hal lain yang bisa dia lakukan lagi saat itu. Posisinya barusan tidak memungkinkan dia melancarkan jurusnya menyerang Akiko karena akan melukai Shura, dan keadaan juga sangat mendesak, terlambat sedikit saja, mereka akan kehilangan inuyoukai kecil itu selamanya.


Akiko menatap penuh kemarahan pada Shura. Melompat ke atas udara, dia kembali melancarkan selendang dan ekornya menyerang. Kemarahan luar biasa memenuhi hatinya. Inuyoukai kecil itu seharusnya telah mati tadi, tapi bagaimana bisa dia meloloskan diri, dan yang paling penting, bagaimana bisa dia menggunakan pedang yang seharusnya tidak dapat digunakan tersebut. "Kenapa kau bisa menggunakan tessaiga??!!"


Shura terus menahan serangan bertubi-tubi Akiko dengan tessaiga di tangannya. Menatap pedang tersebut, dia juga tidak mengerti kenapa dia yang merupakan youkai sejati bisa menggunakan pusaka tanah barat tersebut.

__ADS_1


Aku mencintaimu, Shura...


Suara lembut dan bisikkan penuh cinta terlintas dalam pikiran Shura, begitu juga dengan bayangan seorang wanita manusia yang menatapnya penuh kasih sayang. Seulas senyum kecil memenuhi wajahnya. Ya, bagaimana mungkin dia tidak bisa menggunakan tessaiga?


Sambil menahan serangan bertubi-tubi yang ada, Shura kemudian menatap Akiko dan berujar keras. "Tentu saja aku bisa menggunakan tessaiga!! Karena aku adalah putranya, karena aku adalah—"


Wanita manusia yang melahirkannya, ikatan abadi yang terikat diantara mereka dan cinta tak berujung yang diberikan. Bagaimana bisa Shura melupakan siapa dirinya sebenarnya? Bagaimana bisa dia lupa, darah siapa yang mengalir dalam nadinya?


Penuh kepercaya dirian dan kebanggaan, dengan mata emas yang bersinar cermelang tanpa keraguan, Shura bergerak maju menyerang sambil berteriak keras. "—seorang hanyou!!!"


Rupa bisa menipu, tapi, darah tidak akan pernah bisa. Meski terlahir sebagai youkai sejati, Shura tau jelas darah apa yang mengalir dalam nadinya. Karena itulah, dia bukanlah youkai, melainkan; hanyou.


Inuyasha tidak bergerak dari tempatnya melihat Shura. Menatap terus keponakannya itu, perlahan, dia kemudian tertawa keras tidak mempedulikan kebingungan Kagome maupun Shiro yang melihatnya.


Dulu-dulu sekali, Inuyasha berkeinginan menjadi youkai sejati. Dia tidak ingin menjadi hanyou yang selalu dipandang rendah dan diremehkan, karena itulah dia mengincar shikon no tama. Siapa yang ingin dilahirkan sebagai hanyou? Tapi, disinilah kini dia melihat, seorang youkai sejati berdarah paling murni yang dipuja semua orang berkata bahwa dia adalah seorang hanyou dengan penuh kebanggaan.


Bagaimana bisa Shura tidak ingin menjadi youkai, tapi malahan ingin menjadi seorang hanyou? Bagaimana si kecil itu mau membuang semua kebanggaan yang dimilikinya sebagai seorang youkai sejati? segala sesuatu yang didambakan semua hanyou di dunia—Inuyasha tahu, itu karena—sang ibu; Rin.


Rin menginginkan Shura selamat dan bebas, karena itulah keajaiban terjadi, manusia yang melahirkan youkai sejati. Tapi, tidak dengan Shura. Dia tidak mau menjadi youkai, dia lebih memilih menjadi hanyou, karena—ibunya adalah manusia.


Inuyasha merasa malu pada dirinya sendiri.  Tidak seperti dirinya yang menolak darah dalam nadinya, Shura menerimanya penuh kebanggan. Karena itulah, jika ini semua telah selesai, Inuyasha tahu dia harus mengunjungi makam Izayoi, ibu kandungnya dan meminta maaf. Maaf karena dia sempat menolak darahnya, maaf karena dia sempat berkeinginan menjadi youkai sejati—maaf karena dia sempat melupakan cinta yang diberikan.


Jangan khawatir, Inuyasha-sama. Anak Rin juga akan bahagia sebagaimana anda bahagia. Pilihan Rin adalah pilihan yang paling benar..


Inuyasha teringat ucapan yang pernah dikatakan Rin padanya dulu, dan pada akhirnya, dia bisa melihat, ucapan itu akan terbukti.


Rin. Putramu sangat luar biasa. Pilihanmu hari itu tidak salah, pilihanmu ternyata memang yang paling benar. Dia mencintaimu sama seperti dirimu mencintainya. Kau benar, tidak ada yang perlu dikhawatirkan. Melahirkannya—kau telah melahirkan hanyou paling luar biasa yang pernah ada.


Tertawa lagi, Inuyasha kemudian berteriak keras penuh semangat pada Shura. Kedua matanya berbinar gembira—untuk hanyou; teruntuk ibu tercinta. "Kalahkan dia, Shura!!!"


Suara teriakan Inuyasha terdengar oleh Shura. Tapi, dia tidak peduli, dalam mata emasnya, dia dapat melihat aliran udara dan youki yang ada—dia tahu, dimana dia harus memotongnya. Mengayunkan tessaiga lagi, dia melancatkan serangan yang pernah dilihatnya. "Kaze no kizu!!"


Kaze no kizu, serangan yang dapat membunuh seratus youkai dalam sekali ayunan, Shura yang memegang tessaiga untuk pertama kalinya berhasil menggunakan serangan andalan pedang tersebut dengan sempurna.


Kagome dan Shiro tidak percaya dengan apa yang dilihat mereka, sedangkan untuk Inuyasha, sekali lagi, dia tertawa terbahak-bahak. Dia memang cukup terkejut, tapi, daripada terkejut, dia lebih merasa gembira—seperti ayahnya, Shura juga bisa melancarkan kaze no kizu pada saat pertama kali mengenggam tessaiga.


Akiko tidak dapat bergerak, dia benar-benar tidak mempredeksi bahwa tidak hanya bisa menggunakan, Shura juga dapat melancarkan serangan andalan tessaiga. Dia ingin menghindar, tapi semuanya telah terlambat. Serangan kaze no kizu dengan telak mengenai dirinya.


"Ahhhhh!!" berteriak keras penuh kesakitan, badan Akiko terhempas jauh ke belakang. Tidak dapat bergerak, dia terjatuh di atas tanah tanpa gerak lagi.


Shura yang menatap Akiko tidak melakukan apapun lagi. Berdiri diam di tempatnya, dia menoleh ke arah Inuyasha yang menatapnya penuh senyum serta Kagome dan Shiro yang tertegun tidak percaya.


"B-bagaimana bisa kau melancarkan kaze no kizu??" tanya Shiro kemudian sambil berteriak kencang. Berlari mendekati Shura, dia masih menatap tidak percaya inuyoukai tersebut. Dirinya sudah berkali-kali mengenggam tessaiga dan berusaha melancarkan kaze no kizu, tapi sama sekali tidak pernah berhasil.


Shura tidak menjawab pertanyaan Shiro. Seperti biasanya, dia berdiam diri dengan wajahnya yang tanpa ekspresi. Kemenangannya atas Akiko ataupun keberhasilannya menggunakan tessaiga sama sekali tidak membuatnya tersenyum ataupun gembira sedikitpun.


"Itu karena gen ayahnya beda," sela Kagome tiba-tiba. Berjalan mendekati Shura dan Shiro, dia tersenyum. Miko masa depan itu mau tidak mau teringat masa lalu dimana dia melihat Sesshoumaru melancarkan kaze no kizu. "Kau benar-benar putra kakak, Shura."


"Cih," cibir Inuyasha yang ada di sampingnya tidak suka. "Apa maksudmu, Kagome?—Shiro juga sesegera mungkin akan bisa melancarkan kaze no kizu."


Kagome tertawa mendengar ucapan Inuyasha yang dia tidak tahu sedang membela anak mereka atau dirinya sendiri, sedangkan untuk Shiro, dia diam membisu dengan perasaan sedikit tertekan karena ucapan ayahnya.


"Ayah, Ibu," panggil Shiro kemudian. Dia menatap bingung kedua orang tuanya. "Bagaimana kalian bisa berada di sini?"


"Tentu saja dengan mengalahkan ribuan youkai itu." Jawab Inuyasha cuek sambil melipat tangannya.


"Kami bisa di sini karena Akihiko-san dan Tsubasa-san membukakan jalan," potong Kagome cepat sambil memukul keras kepala Inuyasha. "Mereka tidak bisa kemari karena bagaimanapun juga musuh yang terus bermunculan sangat banyak."


Akihiko dan Tsubasa adalah sang pemimpin pasukan, Kagome tahu sekali bahwa mereka membuka jalan untuknya dan Inuyasha menyusul Shura adalah pilihan terbaik yang mereka miliki. Jumlah youkai tanah utara dan timur yang tidak sebanding dengan jumlah pasuka tanah selatan tidak memungkinkan mereka menyusul Shura. Bagaimana bisa pasukan tanah selatan tidak memiliki sang pemimpin dalam menghadapi musuh sebanyak itu?


Shura tetap tidak memberikan reaksi akan pembicaraan keluarga di depannya. Mengangkat tessaiga di tangannya, dia kemudian menyerahkannya pada Inuyasha. "Kukembalikan."


Inuyasha tertegun sejenak melihat Shura mengembalikan tessaiga, tapi dengan segera dia menerimanya. Diam sejenak, penuh kesulitan dia kemudian membuka mulutnya. "Pedangmu patah. Ap—"


"Tidak apa-apa," potong Shura. Dia tidak tahu apa yang ingin dikatakan Inuyasha, yang dia tahu sekarang hanyalah, dia tidak boleh membuang waktu mereka. "Aku bisa bertarung dengan tangan kosong."


Inuyasha terdiam mendengar ucapan Shura. Tapi menatap mata emas yang cemerlang tanpa keraguan, dia tahu, apapun yang dikatakannya tidak akan berguna. Menghela napas, inuhanyou itu kemudian mengangguk kepala. "Baiklah."


Kagome dan Shiro tidak mengatakan apa-apa mendengar pembicaraan Shura dan Inuyasha. Keputusan Shura memang cukup beresiko, tapi, mereka tidak memiliki pilihan lain.


Shura menatap sejenak pedangnya yang patah. Pedangnya adalah pedang tanpa nama yang didapatkannya sejak dulu di tanah barat. Meski sudah cukup lama menemaninya, dia tidak merasa kehilangan sedikitpun, karena dia tahu, cepat atau lambat pedang itu juga tidak akan digunakannya lagi. Seperti bakusaiga milik ayahnya dan tessaiga milik Inuyasha, dia berharap akan menemukan pedang yang benar-benar miliknya suatu saat hari nanti.

__ADS_1


Mengangkat kepalanya menatap puncak gunung hare yang berada tidak jauh di depannya, Shura kemudian melangkah kakinya. "Kita ke puncak gunung."


....xOxOx....


__ADS_2