![Till The End Of Time [ Inuyasha Fanfiction ]](https://asset.asean.biz.id/till-the-end-of-time---inuyasha-fanfiction--.webp)
"Apakah kau sudah dengar berita tentang youkai?" tanya seorang pria paruh baya pada temannya. Mereka duduk di kedai tea di salah satu kota manusia yang penuh keramaian, beristirahat dan mencari kehangatan dalam musim dingin yang bersalju.
"Maksudmu perang youkai barat dan selatan ya?" tanya balik temannya.
"Iya. Hasilnya seri," balas pria itu lagi sambil menggeleng kepala. "Aku dengar perang itu juga tidak memakan korban. Perang yang aneh."
"Sebenarnya ada korban," menyeduh teh di tangannya, teman pria paruh baya itu menghela napas. "Tapi, mereka dihidupi lagi oleh hime dari barat."
"Hime dari barat?? Bagaimana bisa? Bukannya dia seorang manusia biasa??" pria paruh baya itu terkejut mendengar ucapan temannya.
"Aku juga tidak tahu bagaimana caranya, tapi gadis itulah penyebab tidak adanya korban dalam perang itu," meletakkan gelas teh ditangannya ke atas meja, teman pria paruh baya itu mendengus tidak suka. "Padahal akan sangat baik kalau semua youkai itu mati. Gadis manusia itu jelas sekali telah menghianati jati diri sebagai seorang manusia. Tidak hanya menjadi peliharaan youkai, dia bahkan berpihak pada mereka."
Pria paruh baya itu mengangguk kepala setuju dengan apa yang dikatakan temannya. "Mungkin bersama youkai dan menjadi hime dari barat, dia bisa hidup dalam kemewahan."
"Sudah pasti!" sela seorang wanita tiba-tiba, dia meletakan sepiring kue dango di atas meja kedua pria yang dari tadi membahas perang youkai. Wajahnya memperlihatkan ekspresi tidak suka dan menghina. "Dia pasti hidup penuh kemewahan bagaikan seorang putri. Bahkan aku pernah mendengar berita bahwa dia mencintai youkai yang memeliharanya. Gadis yang hina sekali."
Pria paruh baya itu kembali mengangguk kepala. "Karena cinta pada seorang youkai, gadis manusia itu menghidup ribuan youkai, gadis manusia yang hina sekali.."
....xOxOx....
Jauh dari pemukiman manusia, dalam hutan dengan pohon besar ratusan tahun, sebuah istana besar berdiri dengan kokoh. Hamparan salju yang menumpuk membuat istana besar yang di dominasi warna merah itu begitu mencolok di mata.
Dalam musim dingin yang putih, di mata manusia biasa, istana itu adalah istana yang sangat indah; bagaikan istana dalam lukisan.
Tapi, bagi manusia yang memiliki kekuatan spritual, maka, istana itu merupakan mimpi buruk, sebab aura youkai yang mengerikan terasa begitu kuat. Istana itu adalah istana youkai, lebih tepatnya; istana youkai penguasa tanah barat.
Istana itu tidak sunyi, beberapa youkai yang ada beraktivitas di dalamnya. Penjaga yang menjaga pintu serta keamanan istana, para pelayan yang membersihkan istana, tukang masak yang memasak di dapur—puluhan youkai beraktivitas dengan tenang dan damai di dalamnya.
Lalu, dalam salah satu ruangan istana itu, seorang inuyoukai berambut perak pendek dan bermata emas berlutut di depan tuannya penuh hormat. Sekali lihat, semua orang akan tahu, dia adalah youkai yang sangat kuat, salah satu dari si kembar dari barat yang terkenal; Kira.
"Selatan menyetujui perdamaian yang diajukan utara dan timur. Penguasa utara dan timur sendiri tidak bergerak dan memusatkan kekuatan mereka untuk mengendalikan pemberontakan di wilayah mereka sendiri." Lapor Kira datar. Dirinya tidak bergerak sedikitpun, menunggu perintah lebih lanjut dari daiyoukai di depannya.
Daiyoukai di depannya adalah inuyoukai terkuat yang ada. Berambut perak panjang dengan bulan sabit di dahi serta dua garis di pipi. Sepasang mata emas yang dingin dan wajah tampan tanpa ekspresi, lalu, dari youki mengerikan yang terpancar, semua makhluk yang melihatnya akan segera tahu, dia adalah youkai yang mengerikan dan harus dihindari.
Daiyoukai itu adalah putra dari Inu No Taisho dan Inukimi yang terkenal, penguasa tanah barat, Sesshoumaru dari barat.
Duduk di depan meja kerjanya dalam diam, Sesshoumaru tidak bergerak sedikitpun mendengar laporan Kira. Pemberontakan di wilayah utara dan timur sudah bisa dipredeksinya, Takeru yang mengorbankan Sen serta Asano yang membinasakan klan Yukimura jelas harus menerima konsekuensi kehilangan kepercayaan dan dendam dari beberapa klan youkai di wilayah mereka. Hanya saja, Akihiko yang menerima usul perdamaian jelas sedikit diluar dugaan. Youkai serigala yang haus darah dan menyukai perang membiarkan utara dan timur yang berusaha mencari celah dalam perang barat selatan?—Sesshoumaru merasa ada yang aneh.
Namun, Sesshoumaru tidak memikitkan lebih jauh. Dia tidak mempedulikan wilayah utara, timur maupun selatan. Selama mereka tidak melakukan apa-apa terhadap barat, dia tidak akan bergerak.
"Awasi gerakan selatan, utara dan timur." Perintah Sesshoumaru kemudian. Wajahnya tetap tenang tanpa ekspresi seperti biasanya.
"Hamba mengerti." Kira tidak mengatakan apa-apa lagi. Bangkit berdiri, dia kemudian memberikan hormat dan meninggalkan ruang kerja penguasa tanah barat.
Ruang kerja yang sepi menjadi hening tanpa suara sepeninggalan Kira. Tetap tidak bergeming, Sesshoumaru kemudian menutup matanya sejenak. Seminggu telah berlalu semenjak drinya kembali ke istana tanah barat. Semua perkerjaan dan tugasnya sebagai penguasa tanah barat yang menumpuk telah terselesaikan, dia kini bisa kembali beraktivitas kembali seperti biasanya.
Biasanya.
Sesshoumaru merasa kata itu sangat janggal sekarang. Pertama kali dalam hidupnya yang panjang dia tidak tahu bagaimana dia harus melewati hari seperti biasanya. Dalam kesehariannya beberapa tahun belakangan di istana tanah barat, dari musim semi mulai hingga musim dingin berakhir, sosok seorang gadis manusia selalu ada di sampingnya. Tertawa, tersenyum, menyanyikan lagu, menari dan memanggil namanya—Rin.
Bagaimana dirinya akan melewati hari seperti biasanya jika dia telah memutuskan untuk membunuh perasaan yang ada dalam hatinya? Bagaimana dia harus bersikap di depan gadis manusia itu?—Sesshoumaru tahu, dia harus menghindar dan menjaga jarak dengan Rin sekarang.
Tapi, tanpa suara bagaikan dentingan lonceng itu, tanpa mencium bau harum yang menenangkan, tanpa kehangatan yang diberikan dan terutama; tanpa senyum musim semi abadi—dia merasakan kehampaan.
Seminggu berlalu sejak dia mengunci diri dalam ruang kerjanya tanpa bertatapan muka dengan gadis manusia itu, penguasa tanah barat harus mengakui bahwa seminggu ini adalah seminggu terlama yang pernah dirasakannya.
Membuka mata emasnya yang tertutup, Sesshoumaru menatap keluar jendela kamarnya yang terbuka. Dia bisa melihat salju kembali turun dan menumpuk di atas tanah. Mau tidak mau, dia berpikir, berusaha mencari dalam ingatannya, seperti apa musim dingin yang selama ini dilaluinya bersama Rin di istana tanah barat?
Di taman paviliun timur istana tanah barat, Rin akan membuat boneka salju. Lalu, bersama dengan dirinya, mereka berdua akan duduk di teras menatap musim dingin. Kadang diiringi suara nyanyian, membuat dan membaca sajak puisi, dan gadis itu akan tertawa untuknya-Rin akan ada di sampingnya.
Menutup mata lagi, Sesshoumaru tidak tahu harus berbuat apa. Menghindar dan menjaga jarak yang dilakukannya seperti tidak ada arti. Tidak peduli apa yang dipikirkannya, Rin akan selalu hadir dalam pikirannya. Haruskah dia mengakui bahwa, tidak ada seharipun dia tidak memikirkan gadis itu walau tugasnya sebagai seorang penguasa menumpuk?
Membuka mata lagi, Sesshoumaru bangkit dari posisi duduknya. Dia tidak mau larut dalam pikirannya itu, tidak mau memikirkan cinta dalam hatinya. Youkai tidak seharusnya memikirkan itu semua. Dirinya tidak bisa menghindar terus, mau tidak mau penguasa tanah barat itu tahu, dia harus menghadapi Rin—membunuh perasaan yang merupakan kelemahannya.
__ADS_1
Perlahan, penguasa tanah barat itu membuka pintu ruang kerjanya dan berjalan menuju paviliun timur di mana dia tahu gadis manusia itu berada.
....xOxOx....
Dalam taman paviliun istana tanah barat yang sepi, di atas tumpukan salju yang memenuhi pandangan, gadis manusia itu berdiri menatap boneka salju buatannya penuh kepuasan.
Dua boneka salju berdiri berdampingan, satu lebih besar dan satu lebih kecil. Tidak ada yang istimewa pada boneka salju tersebut kalaupun ada, itu adalah gambar bulan sabit di dahi serta dua goresan di pipi boneka salju yang lebih besar.
Dibalut kimono tebal musim dingin berwarna merah, gadis manusia itu kemudian meniup dan mengosok-gosok tangan putih mungilnya yang mulai kedinginan mencari kehangatan.
Plok
Mata coklat gadis manusia itu kemudian jatuh pada salju yang jatuh dari langit. Mengadah kepala ke atas langit, senyum di wajahnya semakin melebar.
Mengangkat tangan, dia melompat dan menangkap salju yang turun. Tertawa bahagia saat dia merasakan dinginnya salju di tangan, gadis manusia itu menolehkan wajah ke arah teras di belakang. "Sesshoumaru-sama! Lihat! Rin berhasil menangkap sal..."
Ucapan dan tawa Rin, gadis manusia itu terhenti saat dia melihat teras yang kosong di belakangnya. Tidak seperti musim dingin biasanya, tidak ada sosok inuyoukai yang duduk di sana dengan wajah tanpa ekspresi menatapnya—tidak ada Sesshoumaru yang duduk menemaninya.
Seminggu telah berlalu semenjak mereka kembali ke istana tanah barat, dan seminggu pula Rin tidak bertemu dengan sosok inuyoukai penguasa tanah barat tersebut. Tugas yang menumpuk membuat Sesshoumaru selalu sibuk dan mengunci diri dalam ruang kerjanya.
Menghela napas, Rin kemudian menutup mata. Sejujurnya, dia merasa sedih dan kesepian karena inuyoukai itu tidak bisa menemaninya. Tapi, gadis itu juga tahu, dia tidak boleh egois. Tugas sebagai seorang penguasa tanah youkai adalah tugas yang sangat penting. Sesshoumaru yang tidak bisa menemani dirinya sudah sewajarnya.
Kembali tersenyum dan menyemangati dirinya sendiri, Rin membuka mata. Melihat sekeliling yang sudah di penuhi salju yang turun dengan pelan, dia berlari kecil berusaha menangkap setiap salju yang ada.
Nama no naka
Perlahan mulut mungil Rin terbuka, menyanyikan lagu yang selalu dinyanyikannya saat menunggu Sesshoumaru semasa kecil.
Yume no naka
Senyum menghiasi wajah Rin. Sosok wajah inuyoukai itu terbayang dalam benaknya. Dalam lubuk hati terdalam, diberusaha keras menahan kerinduan yang memenuhi hatinya.
Kaze no naka
Tidak jauh di belakang Rin, tanpa disadarinya, Sesshoumaru berdiri menatap gadis manusia itu dalam diam.
Sesshoumaru-sama doko ni iru
Suara yang menyebut namanya dengan lembut, selalu membuat hati penguasa tanah barat tersebut terasa hangat
Jakken-sama wo shita naete
Watashi wa hitori de machimashou
Menunggu.
Gadis manusia itu selalu menunggunya, Sesshoumaru tahu itu. Tapi, sampai kapan dia akan menunggu—Dalam kehidupan mereka yang merupakan seorang manusia dan seorang youkai.
Sesshoumaru-sama omodori wo
Pulang.
Sampai kapan dirinya yang merupakan seorang youkai bisa terus pulang kepada gadis manusia itu?—lima puluh tahun lagi? Enam puluh tahun?
Menutup mata, Sesshoumaru mengepal erat jari tangannya. Lagu yang selalu dinyanyikan Rin saat menunggunya sejak kecil, lagu aneh yang untuk pertama kalinya dia sadari merupakan lagu dari ketidak mungkinnya hubungan mereka. Berapa lama gadis manusia itu bisa menunggunya? Berapa lama lagi dia bisa pulang kepada gadis itu?—Sesshoumaru tidak tahu.
"Sesshoumaru-sama?" suara pelan Rin yang memanggil namanya terdengar, membuat inuyoukai itu segera membuka mata. Dan yang kemudiam dilihatnya adalah; senyuman musim semi yang paling disukainya.
Rin yang melihat sosok Sesshoumaru berdiri tidak jauh darinya tersenyum lebar. Kedua mata coklatnya bersinar penuh kebahagiaan. Tidak membuang waktu, dia langsung berlari ke arah inuyoukai itu.
Sesshoumaru tidak bergerak, inuyoukai itu berdiri di tempatnya dalam diam. Kedua mata emasnya menatap Rin yang mendekatinya. Gadis manusia itu tidak pernah berubah, selalu tersenyum, dan dirinya—ingin selalu melihat senyum itu.
Berdiri di depan Sesshoumaru, Rin tersenyum semakin lebar. "Sesshoumaru-sama, perkerjaan anda sudah selesai semua, ya? Sesshoumaru-sama sudah tidak sibuk, kan? Sesshoumaru-sama tidak kerepotan dengan perkerjaan yang menumpuk, kan?"
__ADS_1
Sesshoumaru tidak menjawab pertanyaan Rin yang tidak ada hentinya. Kedua mata emasnya masih menatap gadis itu. Dinginnya musim dingin membuat kedua pipi yang selalu bersemu merah semakin merah, kedua mata coklat besarnya yang jernih berbinar bahagia, lalu senyum lebar di wajah—cantik.
Rin itu cantik, Sesshoumaru mengakui itu. Semakin hari semakin cantik, hingga tanpa disadari sejak kapan, penguasa tanah barat tersebut tidak dapat mengalihkan pandangannya saat melihat gadis manusia itu.
"Sesshoumaru-sama," panggil Rin pelan. Gadis manusia itu merasa kebingungan karena inuyoukai di depannya tidak memberikan reaksi sedikitpun. Biasanya, Sesshoumaru akan mengangguk atau menjawab singkat jawabannya saat di bertanya seperti ini. Namun yang paling penting, dia bisa melihat jelas kedua mata emas yang menatapnya sekarang memancarkan emosi yang tidak bisa dimengertinya.
Perlahan, tangan mungil Rin betgerak menyusuri pipi Sesshoumaru. "Sesshoumaru-sama, ada apa?" tannyanya pelan.
Tangan mungil yang menyentuh pipinya cukup dingin, Sesshoumaru tahu, gadis ini pasti sudah menghabiskan waktu yang cukup lama di taman ini. Tetapi, tidak tahu bagaimana, tangan itu tetap dapat mengantarkan kehangatan yang tidak bisa dijelaskan kepadanya.
Tidak bisa dihentikannya, tangan kiri Sesshoumaru bergerak menangkap jari jemari di pipinya lembut. Dia tetap tidak tidak menjawab pertanyaan Rin. Kedua mata emasnya tetap menatap lekat wajah gadis itu, lalu perlahan, dia menutup mata.
Hangat.
Sejak kapan dia menyukai kehangatan yang diberikan gadis manusia di depannya? -Sesshoumaru bertanya dalam hati. Lalu yang paling penting, kenapa dia tidak bisa menepis tangan mungil itu sekarang? Kenapa dia ingin larut dalam kehangatan ini?—padahal dia tahu, mereka tidak bisa bersama; padahal dia sudah memutuskan untuk menjaga jarak dengannya.
Rin menatap Sesshoumaru dalam diam. Walau tetap tenang, datar tanpa ekspresi, dia bisa merasakan ada sesuatu yang mengganggu inuyoukai di depannya. Tugasnya sebagai seorang penguasa tanah barat kah?
"Sesshoumaru-sama," panggil Rin lagi dengan pelan.
Sesshoumaru membuka mata emasnya dan kembali menangkap senyum musim semi di depan. Tetap mengenggam erat tangan mungil itu, tidak ada niat sedikitpun dia ingin melepaskannya.
Rin tertawa kecil. Menarik tangan Sesshoumaru yang mengenggam tangannya, dia membimbing inuyoukai itu berjalan ke depan. "Rin membuat boneka salju, Sesshoumaru-sama. Anda harus melihatnya."
Sesshoumaru membiarkan gadis manusia itu membimbingnya berjalan ke depan dalam diam. Jari jemari mereka yang tertaut, kehangatan yang terjalin. Bolehkah ini semua terus berlanjut?
"Lihat, Sesshoumaru-sama!" tunjuk Rin gembira. Senyum di wajahnya semakin lebar. "Boneka salju buatan Rin!"
Sesshoumaru menatap dua boneka salju di depannya. Tidak ada yang istimewa dari boneka salju itu, tapi dia bisa melihat jelas gambar bulan sabit di dahi serta dua pasang garis di pipi boneka salju yang lebih besar.
Menoleh wajahnya menatap Sesshoumaru yang kini berada di sampingnya, Rin menjelaskan dengan pelan. "Yang besar adalah anda Sesshoumaru-sama, dan yang kecil adalah Rin sendiri.."
Sesshoumaru menatap Rin begitu mendengar penjelasan gadis itu. Mata mereka beradu. Mata coklat jernih di depannya menatapnya begitu lembut. Pipi yang merona, senyum malu-malu di wajah—dia tertegun.
"Selamanya bersama..."
Tawa lembut memenuhi indra pendengaran Sesshoumaru. Bersama selamanya kata itu terukir jelas dalam hati penguasa tanah barat itu. Dan rasa sakit yang tidak tertahankan menyerang hatinya secara tiba-tiba.
Tidak dapat dihentikannya, Sesshoumaru melepaskan tangan munggil dalam gengammannya. Menyusuri pinggang kecil gadis manusia di depan, kedua tangannya memeluk erat badan mungil itu. Membenamkan wajahnya dalam pundak sang gadis.
Tawa itu, senyum itu, suara dan kehangatan yang diberikan. Gadis yang selalu menunggu dan mencintainya—selamanya bersama.
Gadis manusia yang polos, tidak pernah berubah meski tahun demi tahun berlalu. Sesshoumaru tahu, Rin tidak pernah mengerti arti dari dua kata sederhana itu.
Selamanya bersama.
Rin tidak mengerti dan seharusnya, dia yang mengerti, menjelaskan pada gadis manusia itu; selamanya bersama adalah sebuah kemustahilan di dalam mereka.
Kemustahilan ini adalah kesempatan yang ada baginya untuk menggariskan jarak dalam hubungan mereka, membuat jurang yang akan memisahkan mereka.
Tapi—dia tidak bisa.
Sesshoumaru tidak bisa melakukan itu semua. Pikirannya yang rasional memerintahkan dia melepaskan gadis manusia dalam pelukannya, namun hatinya menginginkan gadis itu.
Ratusan tahun dalam hidupnya yang panjang, perasaan yang menyiksa ini tidak dapat dibedungnya. Pertama kali Sesshoumaru merasa dirinya sangat lemah.
Rin yang dipeluk erat oleh Sesshoumaru tidak memgetahui pergemulan dalam diri inuyoukai itu. Tapi, dia tahu, ada sesuatu yang salah. Ada rasa khawatir dalam dirinya sebab, tidak pernah pemguasa tanah barat itu seperti ini selama dia mengenalnya. Inuyoukai itu selalu tenang dan penuh pengendalian diri.
Perlahan, Rin mengangkat kedua tangan membalas pelukan Sesshoumaru. Menyandarkan wajahnya pada pundak inuyoukai itu, dia berbisik pelan. "Tidak apa-apa, Sesshoumaru-sama. Rin akan selalu ada untuk anda..."
Sesshoumaru tidak membalas ucapan Rin. Dia semakin mengeratkan pelukannya. Dia ingin melupakan semuanya, youkai dan manusia, dirinya yang tidak berani mencintai dan keinginan untuk memiliki, ketakutan akan kehilangan—selamanya bersama yang tidak mungkin.
Jika waktu bisa dihentikan, Sesshoumaru ingin menghentikan detik ini, sebab dalam pelukan ini, dia bisa berpikir, dia memiliki gadis ini, bisa bersamanya.
__ADS_1
Gadis manusia yang dicintainya, Sesshoumaru tahu, dia tidak bisa memilikinya. Karena itu, hari ini saja, cukup hari ini saja, dia berpikir mereka bisa bersama selamanya.
....xOxOx....