Till The End Of Time [ Inuyasha Fanfiction ]

Till The End Of Time [ Inuyasha Fanfiction ]
Chapter 12


__ADS_3

Satu tahun setengah kemudian...


.


.


.


.


.


Pada akhir musim gugur dalam hutan lebat yang berbahaya seorang gadis kecil berusia sekitar tujuh tahun dengan kimono berwarna merah berlari tanpa arah. Rambut perak panjangnya terbang dimainkan angin yang bertiup dengan kencang, mata emasnya menatap langit sore yang semakin gelap karena awan hitam pekat, sedangkan telinga runcingnya berusaha menangkap suara yang mungkin akan memanggil namanya.


Gadis kecil itu tidak tahu di mana dia berada dan sudah berapa lama dia telah berlari sekarang, sebab pikirannya tidak bisa memikirkan apa-apa kecuali menemukan kakak dan teman sepejalanannya. Dia mengutuk dirinya sendiri, dia tidak seharusnya meninggalkan tempat beristirahat mereka tadi pagi, dia seharusnya tetap berada di tempat mereka bermalam kemarin hingga ada yang datang. Dia seharusnya tetap tenang saat dia membuka mata dan menemukan dia sendirian. tidak seharusnya dia panik dan ketakutan berlari mencari kakak ataupun teman sepejalanannya.


Parahnya, saat mencari kakaknya, hujan deras tiba-tiba turun dan menghapus bau sang kakak yang diikutinya. Dirinya juga tidak dapat kembali lagi ke tempat mereka bermalam karena baunya juga telah ikut terhapus oleh hujan. Dengan kata lain, dia telah tersesat dalam hutan yang tidak dikenalnya.


"Kak Shiro! Kak Mamoru! Kak Maya! Kak Aya!" teriaknya keras. Namun, tidak ada sahutan. Angin keras bertiup semakin keras, dan dia tahu, tidak lama lagi hujan akan turun lagi.


"Kakak! Kak Shiro! Kau dimana?! Kakak!" teriaknya semakin keras. Air mata yang berusaha keras ditahannya kini telah mengalir turun membasahi pipinya yang selalu merona kemerahan. Dia tersesat, dia tidak tahu harus berbuat apa sekarang.


Gadis kecil itu berusaha keras untuk tetap tenang dan mencari kakaknya walau awan hitam yang membuat langit semakin cepat gelap serta angin keras yang bertiup membuatnya semakin ketakutan. Namun, tiba-tiba saja, mata emasnya menatap sosok sesorang tidak jauh di depannya. Air matanya langsung berhenti dan senyum lebar langsung merekah di wajahnya. Dia tahu itu, sosok seorang pemuda dengan rambut perak sepertinya yang diikat ekor kuda, tidak salah lagi itu Kakaknya, Shiro.


"Kak Shiro!" teriaknya cepat dan berlari mengejar sosok di depannya. Dia langsung membuka kedua tangannya dan memeluk sosok itu saat berhasil menyusulnya, membenamkan wajahnya pada punggung itu. Hidungnya langsung menangkap keanehan dari bau kakaknya sekarang, bau kakaknya selama ini adalah bau hutan pinus musim panas, sedangkan bau yang diciumnya sekarang adalah bau mint segar seperti musim dingin bercampur bau bulan. Namun, kelegaan karena berhasil menemukan kakaknya membuatnya mengesampingkan hal itu. Dan juga, bau aneh yang diciumnya sekarang sebenarnya sangatlah menyegarkan.


"Kak Shiro, Syukurah. Sakura takut sekali. Sakura pikir Sakura tidak akan menemukan kakak lagi." Ujar gadis kecil itu lagi sambil mempererat pelukannya.


"Aku bukan Kakakmu." Ujar suara asing seseorang tiba-tiba.


Mendengar suara itu, badan Sakura memebeku, dengan pelan dia mengangkat wajahnya menatap sosok yang dipeluknya. Kedua mata emasnya langsung terbelalak, sebab yang di depannya sekarang memang bukanah Kakaknya. Anak laki-laki itu memang memiliki mata dan rambut yang sama dengan Kakaknya, namun pemuda ini tidak memiliki telinga anjing, telinganya adalah telinga runcing yang sama dengannya dan juga, dia ini lebih kecil dari Kakaknya, usianya mungkin sekitar sepuluh atau sebelas tahun. Sekilas dilihat, anak laki-laki ini agak mirip dengan kakaknya, namun dia mengakui, sosok di depannya sekarang lebih tampan dari kakaknya, ditambahkan lagi aura aneh yang mengelilinginya serta haori biru dan hakama hitam yang dikenakannya, dia terlihat seperti seorang bangsawan besar.


"Lepaskan aku." Perintah anak laki-laki itu tanpa mengubah ekspresi wajahnya sediki pun tiba-tiba.


Sakura langsung melepaskan tangannya begitu mendengar perintah itu. Wajahnya langsung memerah, dia merasa malu dengan kesalahan yang telah dia lakukan. Namun, anak laki-laki itu tidak peduli, dia langsung berjalan meninggalkan Sakura sendirian tanpa mengucapkan sepatah kata pun.


Melihat itu, ketakutan kembali memenuhi hati Sakura. Dia tidak suka sendirian, dia benci dan takut sendirian, apalagi alam cuaca seperti ini. Dia berpikir untuk mengikuti anak laki-laki yang ada di depannya sekarang, walau jauh dalam hati dia masih ragu, sebab dia takut anak laki-laki itu akan keberatan dan tenganggu olehnya. Namun, suara petir yang bertabrak di atas langit berhasil menghilangkan keraguannya. Tanpa membuang waktu dia langsung menggerakkan kakinya mengejar sosok berambut perak di depannya.


"Tunggu! Tunggu! Jangan tinggalkan aku sendirian!"


....xOxOx....

__ADS_1


"Sakura!" teriak seorang pemuda berusia sekitar empat belas tahun berkimono merah. Rambut perak panjangnya yang diikat ekor kuda bergerak kesana-sini karena larinya. Mata emasnya menatap sekelilingnya penuh kepanikkan, sedangkan telinga anjingnya berusaha keras menangkap balasan dari orang yang dicarinya. Dia sama sekali tidak mempedulikan, angin keras yang bertiup, awan hitam pekat di atas langit serta suara tabrakan petir yang memekakkan telinga.


"Shiro, jangan berlari seperti itu." Ujar seorang pemuda berusia sekitar enam belas tahun berambut hitam pendek dengan mata coklat tiba-tiba. Kedua tangannya terlipat di atas dada kimono hitamnya musim gugurnya yang tebal, berusaha mengusir kedinginan yang dirasakannya.


"Mamoru, kau!" balas Shiro, pemuda berambut perak itu sambil menaikkan intonasi suaranya. Dia langsung mencengkram bagian dada kimono pemuda tersebut dengan tangan kirinya. "Kau pikir gara-gara siapa ini semua bisa terjadi, Mamoru?!"


Mamoru hanya tersenyum melihat ekspresi penuh kemarahan Shiro. Tidak ada ketakutan sedikit pun dalam dirinya melihat kemarahan hanyou di depannya. "Tenanglah, Sakura-chan pasti tidak apa-apa."


"Kau!" teriak Shiro lagi penuh kemarahan. Kemarahan dalam hatinya sudah hampir mencapai puncak, dia menggepalkan tangan kanannya yang memiliki kuku tajam, bersiap untuk mengangkat dan meninju pemuda yang ada di depannya sekarang.


"Shiro, hentikan." Ujar suara seorang wanita tiba-tiba.


Shiro segera mengangkat kepalanya ke atas. Mata emasnya menangkap sosok seekor youkai kucing berwarna putih besar terbang turun ke bawah. Dua orang gadis berusia tujuh belas tahun berwajah identik duduk di punggung youkai itu. Pakaian yang mereka kenakan juga sama, yakni; pakaian perang hitam khas seorang youkai taijiya, yang membedakan hanyalah salah satu rambutnya terikat ke atas sedangkan yang satu lagi terurai.


Youkai kucing itu mendarat di dekat Shiro dan Mamoru, dan kedua gadis itu langsung meloncat turun mendekati mereka.


"Mamoru, kau seharusnya merasa bersalah dengan apa yang telah kau lakukan." Ujar gadis yang rambutnya diikat sambil menatap tajam Mamoru, begitu juga dengan gadis yang rambutnya terurai.


"Aku tahu, Kak Aya, Kak Maya." Balas Mamoru sambil tersenyum menatap mata kedua gadis tersebut.


Aya, gadis yang rambutnya terikat hanya bisa menghela napas melihat sikap santai dari Mamoru, adik laki-laki satu-satunya. Sedangkan saudara kembarnya , Maya, hanya bisa menepuk pundak Aya memberikan dukungan, sebab memang inilah sikap dari adik mereka. Tidak peduli apa yang mereka katakana, sikapnya itu tidak akan pernah berubah.


"Bagaimana? Apakah kalian berhasil menemukan sedikit petunjuk akan kebaradaan Sakura, Kak Aya, Kak Maya?" tanya Shiro cepat. Dia segera melepaskan cengkraman tangannya dan menatap kedua gadis tersebut penuh harap.


Sinar penuh harap dimata Shiro langsung meredup mendengar jawaban Maya. Dia terdiam seribu bahasa dan menundukkan kepalanya ke bawah.


"Santailah Shiro. Tenanglah, kita pasti bisa menemukan Sakura-chan." Ujar Mamoru tiba-tiba sambil menepuk pundak Shiro, memberikan dukungan batin.


Shiro yang benar-benar sudah tidak tahan dengan sikap mamoru langsung membalikkan badannya dan mencengkram kerah kimono pemuda itu dengan kedua tangannya. "Bagaimana aku bisa tenang, sialan! Dia adikku satu-satunya! Aku tidak seharusnya mempercayakan dia padamu saat aku, kak Aya dan Kak Maya mencari makanan!"


"Kau masih kecil, Shiro. Karena itu kau tidak mengerti," Balas Mamoru sambil menatap mata penuh kemarahan Shiro tanpa rasa takut sedikitpun. "Seorang pria sejati sepertiku tidak mungkin melepaskan kesempatan untuk mengintip kolam air panas alami pada musim gugur dalam gunung seperti ini. Gadis cantik dengan kulit seputih salju, rambut sehita-Aw!"


"Diam kau, genit!" ujar Aya dan Maya bersamaan sambil mengangkat tangan memukul kepala Mamoru.


"Kakak! Jangan memukulku terus! Apa salahku?" protes Mamoru.


Aya hanya bisa kembali menghela napas mendengar protes Mamoru, sedangkan Maya juga hanya dapat menggeleng kepala melihat sikap adik satu-satunya mereka. Mereka benar-benar tidak tahu harus berbuat apa, dalam hati mereka berdua, mereka berharap sekali Ibu mereka ada di sini, sebab hanya beliau seorang saja yang dapat menghadapi Mamoru yang mirip sekali dengan ayah mereka.


"Lalu..." Ujar Shiro pelan tiba-tiba sambil menundukkan kepala ke bawah lagi. Kedua tangannya yang mencengkram kerah kimono Mamoru sama tidak dilepaskannya, namun terlihat jelas, cengkramannya tidak lagi sekuat tadi. "Apakah kau melihat gadis cantik yang kau maksud?" tanyanya.


"Oh, itu ya?" balas Mamoru ceria, namun tiba-tiba, senyum di wajahnya menghilang. " Tidak. Tidak ada gadis cantik, yang ada hanyalah monyet..."

__ADS_1


"Hanya untuk mengintip monyet mandi kau biarkan adikku menghilang!" teriak Shiro keras penuh kemarahan tiba-tiba. Dia langsung mengangkat tubuh Mamoru dari atas tanah tempatnya berpijak dan mengguncang-guncangnya. Kemarahannya benar-benar telah meledak, ingin sekali rasanya dia membunuh pemuda di depannya sekarang.


"Shiro! Tenang! Hentikan!" teriak Aya dan Maya sambil berusaha memisahkan hanyou dan adik mereka.


"Ibu akan menghukumku, dan Ayah pasti akan membunuhku!" teriak Shiro terus sambil menguncangkan badan Mamoru, dia tidak mempedulikan Aya dan Maya yang berusaha memisahkan mereka. "Dan akan aku pastikan kau mati duluan sebelum aku mati jika sampai terjadi sesuatu pada Sakura!"


Mamoru hanya bisa tertawa gugup melihat kemarahan Shiro. "Ah, dasar penderita Sister-complex akut..."


....xOxOx....


Sakura duduk gemetar sambil menatap keluar gua kecil tempatnya berlindung dari hujan lebat yang telah turun. Badan kecilnya bergemetaran karena ketakutan. Dia sangat takut, benar-benar sangat takut. Biasanya pada hari dengan cuaca seperti ini, dia pasti berada dalam pelukkan Ayah, Ibu ataupun Kakaknya, berada di tempat aman yang dapat menenangkannya.


Suara petir yang bertabrakkan dengan kuat di atas langit tiba-tiba terdengar, Sakura kontan segera berdiri dan berlari ke arah anak laki-laki berambut perak yang diikutinya tadi dan duduk di sampingnya. Tangan kecilnya yang gemetaran segera terangkat menyentuh lengan anak laki-laki itu.


Anak laki-laki itu tidak mengatakan apa-apa, dia menolehkan wajahnya menatap Sakura dengan wajah tanpa ekspresi.


"B-boleh Sakura duduk di sini? S-sakura takut dengan petir.." Pinta Sakura pelan sambil menahan air mata yang serasa ingin jatuh menetes ke bawah.


Anak laki-lakix itu tidak menjawab, dia tetap diam membisu. Namun, suara tabrakan petir yang kembali terdengar berhasil membuat gadis kecil itu berteriak ketakutan. Tanpa mempedlikan apapun lagi, dia langsung memeluk lengan anak laki-laki itu, membenamkan wajahnya dan menangis terisak-isak.


Anak laki-laki itu tetap diam membisu tanpa mengatakan apapun. Suara petir terdengar lagi dan membuat Sakura semakin memepererat pelukan di lengan itu. Takut, dia benar-beanar sangat takut, dalam hatinya, dia berharap sekali bahwa Ayah, Ibu ataupun Kakaknya ada di sini. Namun, tiba-tiba saja dia merasakan sebuah tangan melingkar pinggang kecilnya. Terkejut dia langsung melepaskan pelukannya dan mengangkat wajah menatap tangan tersebut. Betapa terkejutnya saat dia mengetahui bahwa pemilik tangan itu tidak lain adalah anak laki-laki berambut perak di depannya itu. Dengan cepat, dia menolehkan wajah pada anak laki-laki itu, dan dia langsung mematung tidak tahu harus berbuat apa saat mata emas mereka bertemu.


Wajah anak laki-laki itu tetap tidak berekspresi, namun tangan kirinya yang memeluk pinggang Sakura langsung mengangkat badan gadis kecil itu dengan mudah dan mendudukannya di atas kaki. Sakura hanya bisa tetap diam membisu menatapnya. Namun suara petir yang sangat kuat tiba-tiba terdengar dan membuat dirinya kembali membenamkan wajah pada dada anak laki-laki itu. Kedua tangan kecilnya langsung bergerak memeluk sosok itu dengan erat.


Sakura berusaha keras menahan tanggisnya, walau usahanya itu gagal karena suara petir yang memekakkan telinga terus terdengar bagaikan tidak akan berhenti. Badan kecilnya semakin gemetaran karena ketakutan. Namun, tiba-tiba saja, sepasang tangan bergerak memeluk dan membuatnya terkejut. Gadis kecil itu tahu siapa pemilik tangan itu, tanpa membuang waktu, dia langsung mengangkat wajahnya ke atas melihat pemilik tangan itu, anak laki-laki berambut perak yang ada di depannya.


"Tidur dan jangan berisik lagi." Perintah anak laki-laki itu dengan wajah tanpa ekspresi.


Meskipun agak bingung dengan sikap anak laki-laki yang baru dikenalnya ini, Sakura segera mengangguk kepala. "I-iya..., Terima kasih... Em.."


"Shura." Potong anak laki-laki itu pelan.


"Eh?"


"Namaku."


Mendengar itu, senyum langsung mengembang di wajah cantik Sakura. "Terima kasih, Kak Shura."


Shura, anak laki-laki berambut perak itu tidak membalas ucapan terima kasih Sakura. Namun, tanpa mempedulikan apa pun, gadis kecil itu kembali membenamkan wajahnya pada dada Shura sambil tertawa kecil, memeluknya dengan erat.


Bagaikan keajaiban, ketakutan yang ada dalam hatinya tiba-tiba menghilang. Di dalam pelukan orang yang baru pertama kali ditemuinya ini, dia merasa sangat aman, nyaman dan tenang. Pelukannya terasa bagaikan pelukan dari Ibu, Ayah ataupun Kakaknya, namun sekaligus sangat berbeda. Dirinya yang kecil tidak dapat membedakan perbedaan kedua pelukan itu, yang dia tahu hanya satu, pelukan ini adalah pelukan yang sangat menyenangkan.

__ADS_1


Suara petir dan juga hawa dingin seakan menghilang, Sakura tidak merasakan apapun lagi kecuali kehangatan. Bau mint segar seperti musim dingin yang bercampur dengan bau bulan menyelimutinya, mata emasnya tiba-tiba terasa sangat berat dan dengan pelan, akhirnya diapun menutup mata membiarkan kegelapan menjemputnya, tertidur tenang dengan sebuah ucgsenyum indah di wajah cantiknya.


....xOxOx....


__ADS_2