Till The End Of Time [ Inuyasha Fanfiction ]

Till The End Of Time [ Inuyasha Fanfiction ]
Chapter 150


__ADS_3

Rin membuka mata. Seperti biasanya, rasa sakit menyerang seluruh tubuhnya. Diiringi rasa sakit tidakberkesudahan tersebut, perlahan matanya yang tidak fokus mulai fokus. Rasa sakit ini, dia sudah terbiasa.


"Rin."


Suara tenang dan datar memanggilnya, namun, Rin juga bisa menangkap kekhawatiran di dalamnya. Suara yang tidak pernah dilupakannya


—suara Sesshoumaru.


"Sesshoumaru-sama..." Menoleh wajahnya ke samping, Rin bisa melihat Sesshoumaru duduk menatapnya khawatir dengan Shura yang tertidur di dalam gendongan.


"Rin." Panggil Sesshoumaru lagi dengan pelan. Tangan kanannya dengan cepat bergerak menyentuh wajah Rin pelan, sedikit bergetar seakan takut wanita di depannya akan menghilang setiap saat.


Rin tersenyum lembut dan memiringkan kepalanya menekan tangan yang menyentuh dirinya. Merasakan hangat telapak tangan di pipi, dia menutup mata. "Rin tidak apa-apa."


Menggerakkan badannya membungkuk ke bawah, dengan Shura yang masih ada dalam gendongannya, Sesshoumaru menutup mata dan menangkap bibir Rin. Ciumannya pelan dan lembut, namun dia mencurahkan segenap perasaannya—syukurlah mata coklat jernih itu masih terbuka; bersyukur Rinnya masih hidup.


Rin membiarkan Sesshoumaru menciumnya, dan meski lemah, dia berusaha membalas ciuman tersebut.Ciuman yang selalu hangat dan disukainya. Ciuman itu tidak pernah berubah, namun juga telah; berubah.


Melepaskan bibir mereka yang tertaut, Sesshoumaru kemudian membuka mata menatap Rin. Wajahnya tetap tanpa ekpresi, tapi kedua mata emasnya menatap lembut wanita manusia yang juga membuka mata dan tersenyum.


Rinnya yang cantik.


Meskipun sakit dan sekarat, di mata Sesshoumaru, wanita manusia itu selalu yang tercantik. Mata jernihnya yang lembut, lalu senyum musim semi abadi di wajahnya—kisakinya tercinta.


"Sesshoumaru-sama," panggil Rin pelan. Senyum di wajahnya semakin melebar. "Rin ingin memeluk Shura."


Sesshoumaru segera bergerak mendengar permintaan Rin. Menduduk dan menyandarkan badan mungil itu di dadanya, dia meletakkan Shura yang masih tertidur di kaki wanita manusia itu, lalu dengan perlahan, dia menggerakkan kedua lengan mungil yang tidak bisa bergerak itu mengendong putra mereka.


Shura yang masih tertidur tertawa bahagia, mungkin karena dia sadar kini dirinya berada dalam gendongan kedua orang tuanya—tempat paling menyenangkan dan aman baginya di dunia.


Rin ikut tertawa melihat tawa Shura. Putranya yang lucu dan berharga—harta tidak ternilai di dunia. Menundukkan kepala, dia kemudian mencium kening inuyoukai kecil itu pelan.


Menjauhkan bibirnya, Rin hanya dapat terus melihat Shura penuh kasih sayang. Seperti apa putranya kelak? Sekuat dan sehebat apa dia nantinya? Apakah sikapnya masih akan tetap seperti saat dia kecil? Apakah dia akan dapat menjadi seorang penguasa yang luar biasa seperti ayah kandungnya?


Pertanyaan demi pertanyaan memenuhi pikiran Rin hanya dengan menatap Shura. Namun, dalam setiap pertanyaan yang ada, dia juga segera menemukan jawabannya. Shura akan tumbuh besar dengan sangat rupawan. Dia akan menjadi kuat dan hebat tanpa tandingan, sifatnya mungkin akan tetap sama, tapi dia tidak akan dijauhi karena dia juga memiliki hati yang hangat, dan yang terpenting—dia akan menjadi seorang penguasa yang lebih luar biasa daripada ayah kandungnya.


"Shura..."


Memanggil nama Shura pelan, Rin bisa melihat kedua mata Shura terbuka perlahan. Senyum indah memenuhi wajah tampan inuyoukai kecil itu saat dia melihat ibu kandungnya juga sedang tersenyum padanya.


Tangan kanan Sesshoumaru yang menahan tangan Rin kemudian bergerak. Dengan pelan dan lembut, dia mengelus rambut perak putranya.


Shura segera menutup matanya kembali dan tertawa. Tangan besar ayahnya memberikan dia kehangatan dan kebahagiaan yang luar biasa—keamanan serta perlindungan abadi yang tidak terhancurkan.


Di setiap elusan tangan Sesshoumaru di kepala Shura, Rin yang melihatnya tersenyum semakin lebar. Dia bisa melihat betapa putra mereka penting bagi penguasa tanah barat—Sesshoumaru akan akan selalu ada untuk Shura.


"Shura, kami mencintaimu..."


Suara pelan yang memanggil namanya dan membisikkan kata cinta, Shura kembali tertawa dengan bahagia. Kedua mata emasnya yang jernih memancarkan kegembiraan, penuh dengan cinta tak terucap kepada kedua orang tuanya.


Menghentikan belaian tangan kanannya pada kepala Shura. Dengan perlahan, tangan kanan itu kembali bergerak menopang tangan Rin—memeluk badan mungil itu serta putra mereka dengan kuat dan juga lembut. Betapa mereka berdua berarti baginya, Sesshoumaru tahu.


Rin tidak mengatakan apa-apa. Merasakan pelukan hangat Sesshoumaru, dia tahu-inuyoukai itu juga mencintai putra mereka. Seperti apa cinta Sesshoumaru untuk Shura?—dia tidak pernah meragukannya.


Cinta.


Ya. Shura dilahirkan untuk dicintai. Putranya dari barat, inuyoukai kecil yang dia kandung dan lahirkan dengan penuh perjuangan. Akan ada banyak orang yang berada di sampingnya kelak, dia tidak akan pernah sendirian. Di setiap jalan dan langkah yang akan diambilnya, akan selalu ada orang yang menemaninya. Putranya akan tumbuh besar dengan baik walau tanpa—dirinya.


Tanpa dirinya.


Jiwa yang tidak seharusnya ada tapi tetap ada. Hidup yang seharusnya tiada tapi masih bertahan, dan kemenangan berturut-turutnya melawan sang kematian—Rin sadar sekarang, karena itulah kesalahan terus tercipta.


Setetes demi setetes, air mata jatuh turun dari mata Rin. Jatuh ke bawah tidak terhentikan menghujani wajah Shura yang tertawa bahagia. "Maaf... Maafkan Rin yang tidak berguna, Shura.."


Shura berhenti tertawa melihat air mata Rin. Menatap wajah ibu kandungnya yang begitu dia cintai, dia bisa melihat kesedihan dan penyesalan luar biasa di wajah cantik yang selalu tersenyum tersebut.


"Maafkan Rin, maafkan Rin, maafkan Rin..."


Terus menangis, Rin terus meminta maaf. Maaf karena dirinya tidak berguna, maaf karena dia tidak bisa selalu berada di sampingnya, maaf karena dia tidak bisa membesarkannya—maaf karena dia tidak bisa memilih hidup bersamanya.


Shura yang melihat tangis keputusasaan Rin juga ikut menangis. Dia tidak tahu kenapa ibunya menangis, tapi ketakutan menghampirinya. Dalam matanya, dia hanya ingin melihat senyum dan tawa di wajah lembut itu, bukan air mata dan kesedihan.


Tangis dan ucapan maaf Rin membuat pelukan Sesshoumaru semakin erat. Dia bisa merasakan keputusasaan Rin, dan ketakutan memenuhi hatinya. Maaf yang diucapkan bibir mungil itu-apakah dia lebih memilih mati daripada hidup?


"Rin, tenanglah," ujar Sesshoumaru. Terus memeluk Rin dan Shura yang menangis bersamaan, dia berusaha menenangkan mereka berdua. "Jangan menangis. Sesshoumaru ini dan Shura tidak ingin kau menangis."


Menelan ludah dan menutup mata, Rin mnggeleng kepala. "S-semuanya semakin salah, Sesshoumaru-sama. Rin akan meralat pilihan Rin. Mungkin semua akan lebih baik jika Rin menghilang-."


"Rin!" suara keras Sesshoumaru memotong ucapan Rin.


Namun, Rin tidak berhenti. Membuka mata, dengan air mata yang terus mengalir, dia menatap Sesshoumaru dengan wajah penuh keputusasaan dan kesedihan. "R-rin tidak tahu lagi, Sesshoumaru-sama. Mana yang benar dan mana yang salah? Hidup atau mati?—Rin tidak tahu lagi..."


Hidup.


Rin selalu ingin hidup bersama dengan Sesshoumaru dan Shura. Tapi, bagaimana bisa dia masih memilih hidup saat dia tahu demi dirinya, Sesshoumaru akan kehilangan segala yang dimilikinya sekarang?—posisinya sebagai penguasa, tanah barat yang besar dan jaya. Lalu untuk Shura, bagaimana bisa dia membiarkan putranya kehilangan semua warisannya karena dirinya? Rin mencintai Sesshoumaru dan Shura dengan segenap jiwa dan raganya, dia ingin memberikan segala sesuatu yang ada di dunia untuk kedua inuyoukai itu, bukan merebutnya.


Egois.


Rin tahu, dia benar-benar egois. Egois karena ingin mempertahankan kebahagiaannya, egois karena ingin hidup, ingin menjadi satu-satunya wanita dalam hidup Sesshoumaru, padahal dia tahu_itu mustahil.


Lalu, dia—takut.


Bagaimana jika di masa depan, saat dia hidup dan Sesshoumaru yang benar-benar telah membuang segalanya sadar bahwa keputusannya meninggalkan tanah barat untuk memilihnya adalah salah? Bagaimana jika inuyoukai itu kemudian membencinya? Bagaimana jika putranya saat besar mengetahui warisannya yang hilang karena ibunya yang seorang manusia?-apa artinya dia hidup jika mereka berdua membencinya kelak?


Sesshoumaru tertegun melihat dan mendengar ucapan Rin. Kondisi fisik dan mental Rin, dia tahu, meski selalu terlihat kuat dan tersenyum, jauh dalam hati, dia sesungguhnya sangat rapuh dan terus menangis. Dia hanya terus berusaha kuat dan tersenyum agar mereka yang disekeliling tidak bersedih—Rin yang selalu bodoh.


Reaksi Rin sekarang, Sesshoumaru sudah menduganya. Saat dia memutuskan untuk turun dari posisinya sebagai penguasa dan meninggalkan tanah barat, dia sudah tahu—wanita itu tidak akan pernah setuju. Karena itu, dia berpikir untuk memberitahunya saat semua telah usai. Tapi, Akiko mengacaukan segalanya. Sesshoumaru sungguh ingin membunuh rubah itu karena telah menciptakan keadaan seperti ini—air mata dan juga keputusasaan di wajah Rin.


Sesshoumaru kemudian memindah dan membaringkan Shura yang masih menangis ke atas futon di samping mereka. Mengerakkan tangan kanannya, dia menangkap wajah Rin yang penuh air mata. Mengarahkan hingga pandangan mata mereka bertemu, penguasa tanah barat berujar pelan. "Hidup."


Rin tertegun mendengar ucapan Sesshoumaru. Namun, sedetik kemudian dia kembali menggeleng kepala. Air mata masih mengalir menuruni wajahnya. "T-tidak. Tidak Sesshoumaru-sama. R-rin tidak boleh hidup."


Melepaskan tangan kanannya yang ada di pipi Rin, Sesshoumaru kemudian memeluk badan mungil itu erat. Membenamkan kepala wanita manusia itu di dada. "Hidupmu adalah hal paling berharga bagi Sesshoumaru ini, Rin."


Rin berusaha melepaskan dirinya dari pelukan Sesshoumaru. Namun, inuyoukai itu terus memeluknya, tangan kanannya kembali bergerak untuk membelai rambut hitam kisakinya. "Posisi sebagai penguasa dan kekuasaan akan tanah barat—itu semua tidak sebanding dengan senyum tawa bahagiamu bagi Sesshoumaru ini."


Ucapan Sesshoumaru membuat Rin kembali tertegun. Tapi, dia tetap tidak dapat menerimanya. Siapa dirinya?—dia hanyalah seorang wanita manusia biasa. Apa kelebihannya?—dia tidak memiliki kelebihan apapun. Karena itu, jangan mengorbankan segalanya untuk dirinya yang seperti itu—jangan menyesal dan membenci dirinya di masa depan.


"Rin tidak sepandan," ujar Rin lemah. Rin tidak tahu harus mengatakan apa lagi untuk mengurungkan niat Sesshoumaru. "Rin tidak pantas—Rin bukanlah siapa-siapa, Sesshoumaru-sama."


"Kau pantas, Rin," balas Sesshoumaru pelan. Tangannya terus bergerak membelai rambut hitam panjang Rin. "Kau adalah ibu dari putraku, kisakiku, pasangaku yang sah—istriku."


Rin menutup mata dan menggeleng kepala. "Sesshoumaru-sama, dengarka—"


"Aaaaahhhhhhhhhh!!!"

__ADS_1


Suara pelan Rin tiba-tiba terpotong oleh suara teriakan seseorang. Terkejut, baik Sesshoumaru dan Rin segera menoleh wajah menatap pemilik suara yang tidak lain adalah putra mereka; Shura.


Tidak tahu sejak kapan dan bagaimana, Shura yang berbaring di samping Sesshoumaru dan Rin kini telah berada di kaki mereka. Dengan posisi merangkak, kedua tangan kecilnya menarik ujung kimono kedua orang tuanya. Kedua mata emasnya yang penuh air mata terbuka lebar, sedangkan wajahnya menatap lekat penuh permohonan kepada orang tuanya.


"Aaa...Aaaa.." Masih menangis, tangan Shura kembali terangkat ke arah Sesshoumaru dan Rin, meminta gendongan seperti biasanya.


Hati Rin hancur melihat tangis di wajah putranya. Shura merangkak. Bayinya yang masih begitu kecil merangkak untuk pertama kalinya, dan itu adalah sesuatu yang sangat membahagiakan. Tapi kebahagiaan itu kini hancur oleh air mata—karena dirinya; betapa dirinya tidak berguna sebagai seorang ibu.


Sesshoumaru segera mengangkat badan mungil Shura dan menempatkannya di dada Rin. Secara natural, inuyoukai kecil itu membuka kedua tangannya memeluk leher ibunya seperti yang diajarkan ayahnya. Memebenamkan wajah kecilnya pada celah leher sang ibu, dia menangis tersedu-sedu.


Rin tidak bisa bergerak, dia tidak tahu harus melakukan apa sekarang. Melihat Shura yang menangis, melihat Sesshoumaru yang walau tenang tapi tidak dapat menyembunyikan kekhawatiran dalam mata emasnya, perasaan bersalah menggoroti hatinya. Sangat menyiksa. Teramat sakit dan menyakitkan—hidup tidak segampang itu. Bagi mereka sekarang dan ke depannya, akankah masih ada kebahagiaan? Apakah ada benar lagi dalam kesalahan ini?


"Rin," panggil Sesshoumaru pelan. Melihat Rin yang tidak bergerak sedikitpun dengan wajah yang begitu menyakitkan, dia merasa lagi—tidak berguna. Menggerakkan kedua tangan, dia hanya dapat kembali memeluk wanita manusia yang dia cintai. "Rin."


"Kakak, Rin." Suara Kagome yang ada diluar tiba-tiba terdengar. "Aku dan Sango akan masuk."


Pertanyaan Kagome membuat Sesshoumaru menatap pintu yang tertutup. Lalu, tanpa menunggu balasan, pintu itu kemudian terbuka. Dengan wajah tenang, miko masa depan dan taijiya berjalan masuk mendekati keluarga penguasa tanah barat di depan.


Sesshoumaru tidak mengatakan apa-apa, dia hanya menatap lurus kedua wanita yang berjalan masuk dan kemudian duduk di depannya.


"Kakak, bolehkah biarkan kami berdua berbicara dengan Rin-chan?" tanya Kagome pelan. Dia tersenyum kecil menatap Sesshoumaru meminta pengertian.


Sesshoumaru memincingkan matanya menatap Kagome dan Sango. Bagaimana bisa dia meninggalkan Rin dalam keadaan seperti ini?


"Tidak apa-apa, Sesshoumaru-san," senyum Sango. Dia bisa melihat ketidak setujuan inuyoukai itu dengan jelas akan permintaan Kagome. "Biarkanlah kami berbicara dengan Rin-chan. Tidak akan lama."


Ucapan Sango tetap tidak membuat Sesshoumaru setuju. Tapi, melihat senyum kedua wanita itu, dia mengurungkan niatnya. Mungkin Rin akan lebih tenang dan dapat berpikir jelas jika berbicara dengan kedua wanita yang sudah bagaikan kakak baginya.


"Sesshoumaru ini akan menunggu di luar," balas Sesshoumaru kemudian. Menatap Rin yang juga menatapnya dengan tatapan kosong tidak terjelaskan, dia kemudian mencium keningnya lembut. "Sesshoumaru ini akan segera kembai untukmu, Rin."


Rin tidak membalas ucapan Sesshoumaru. Menatap inuyoukai itu, dia kemudian menutup mata dengan air mata yang kembali jatuh.


Melepaskan Rin, Sesshoumaru berusaha memisahkan Shura yang memeluk Rin erat. Namun, kembali menangis dan berteriak keras, inuyoukai kecil itu tidak ingin terpisahkan dari ibunya.


"Tidak apa-apa, kakak," tangan Kagome segera bergerak menghentikan Sesshoumaru. "Shura tidak akan menganggu. Biarkan dia bersama ibunya saja."


Sesshoumaru kembali menatap wajah Kagome sejenak. Melihat senyum yang masih tetap ada di wajah miko masa depan tersebut, penguasa tanah barat kemudian mengangguk kepala pelan. "Sesshoumaru ini serahkan Rin dan Shura pada kalian berdua."


"Iya, Kakak."


"Iya, Sesshoumaru-san."


Balas Kagome dan Sango secara bersama.


Menatap Rin sejenak, dengan pelan, Sesshoumaru kemudian berjalan keluar. Rin juga tidak mengatakan apapun, tapi dia membuka mata dan menatap sosok inuyoukai tersebut hingga menghilang di balik pintu shoji yang tertutup.


"Rin-chan," panggil Kagome pelan. Dia segera bergerak dan membaringkan Rin serta Shura di atas futon. Senyum penuh pengertian memenuhi wajahnya. "Jangan membebankan dirimu sendiri lagi."


"Kagome benar, Rin-chan," sambung Sango, dengan pelan dia menarik selimut menyelimuti badan Rin. Mata hitamnya menatap lembut wanita yang sudah bagaikan adik perempuan baginya. "Kau sudah terlalu membebankan dirimu sendiri."


Rin tidak mengatakan apapun, dia tetap diam membisu menatap Kagome dan Sango. Sedangkan untuk Shura, merasa dirinya serta ibunya telah dibaringkan di atas futon, pelukannya sedikit melonggar. Kesempatan itu segera dimanfaatkan Kagome untuk memindahkan inuyoukai kecil itu ke samping Rin. Berbaring dengan Shura yang memeluk lehernya tidak akan nyaman.


Shura langsung menoleh kepalanya menatap Kagome menyeringai marah. Menggeleng kepala, miko masa depan yang sudah terbiasa dengan sifat pewaris tanah barat hanya dapat menghela napas.


"Rin-chan, aku pinjam tanganmu untuk putramu." Tidak menunggu balasan Rin, Kagome mengangkat tangan kanan wanita manusia itu dan meletakkannya di samping Shura.


Melihat tangan ibunya, seringai mengerikan di wajah Shura menghilang. Dengan cepat dia segera meraih dan memeluk tangan Rin erat. Menutup mata emasnya, dia kemudian mendengus pelan puas. Baginya, asal dapat menyentuh ibunya, itu sudah cukup.


"Sungguh," gumam Sango takjud melihat sikap dan sifat Shura. "Dia adalah bayi terlengket dengan ibunya yang pernah kulihat."


Kagome tidak mengatakan apa-apa, sifat Shura yang seperti ini, dia sudah tahu. Karena itu, mengabaikan inuyoukai kecil itu, dia kemudian menatap Rin. Sekarang yang paling penting bukanlah Shura tapi; Rin.


Rin tetap tidak mengatakan apa-apa, dia masih diam membisu. Tidak ada lagi senyum ataupun tawa di wajahnya, ekspresinya sekarang datar dengan sinar mata yang meredup. Namun, setelah beberapa saat, dia akhirnya membuka mulutnya, "Kagome-sama, Sango-sama, kalian berdua sudah tahu dengan keinginan Sesshoumaru-sama meninggalkan tanah barat, kan?"


Kagome dan Sango mengangguk kepala pelan. Pembicaraan Sesshoumaru dan Rin barusan, mereka berdua mendengarnya dari luar—Ah, tidak. Sebenarnya tidak hanya mereka berdua, melainkan juga Inuyasha, Miroku. Mereka berempat dari awal berada di luar kamar. Namun, mereka berada di sana bukanlah untuk mencuri dengar, melainkan karena mereka menghawatirkan keadaan wanita tersebut.


Pembicaraan Sesshoumaru dan Rin adalah pembicaraan yang bersifat cukup pribadi, dan Kagome serta Sango tahu bahwa mereka tidak seharusnya ikut campur. Tapi, mendengar arah pembicaraan yang semakin salah dan Sesshoumaru yang tidak dapat menenangkan Rin lagi, bagaimana mereka masih berdiam diri?


Meski Sesshoumaru dan Rin adalah suami-istri, terkadang ada sesuatu yang lebih baik jika Rin mebahasnya bersama orang yang dipercayanya, seperti; sekarang.


Lalu juga untuk Rin yang ada di depan mereka sekarang, berapa usianya?—dia baru berusia sekitar enam belas tahun. Namun, apa yang telah dialaminya pada usianya yang masih begitu muda?—sesuatu yang tidak berani dibayangkan, dan dia telah bertahan terlalu lama, menyembunyikan segalanya dalam topeng senyum dan tawa yang selalu dikenakannya di depan semua orang. Kondisi Rin tidak baik-baik saja. Bukan hanya fisiknya yang kini melemah, melainkan mentalnya juga.


Rin tidak stabil, dia tidak akan dapat berpikir jernih. Dia benar tidak tahu lagi mana yang benar dan mana yang salah. Tapi, siapa yang masih dapat mempertahankan kestabilan mentalnya dalam keadaan seperti itu?—sudah merupakan sebuah keajaiban wanita manusia itu masih dapat bertahan seakan tidak ada apa-apa.


"Kagome-sama, Sango-sama," panggil Rin lagi panik. Air mata kembali mengalir turun dari matanya. "Bantu Rin menghentikan Sesshoumaru-sama. Rin mohon, bantu Rin menghentikan niat beliau."


"Rin-chan," sela Sango pelan. Dia menatap lembut wajah Rin yang penuh kepanikan. Menggerakkan tangan kanannya, dia menghapus air mata di wajah wanita tersebut. "Apakah kau memikirkan perasaan Sesshoumaru-san?"


Pertanyaan Sango yang tiba-tiba membuat Rin tertegun.


"Benar, Rin-chan," sambung Kagome. "Apakah kau pernah berpikir akan apa yang sesungguhnya dipikirkan Kakak saat membuat keputusan itu? Apa yang dia inginkan sesungguhnya?"


Rin tidak menjawab. Dia diam membisu menatap Kagome dan Sango. Perasaan Sesshoumaru, apa yang dipikirkan serta apa keinginan inuyoukai itu-dia tidak tahu.


Saat mendengar Sesshoumaru akan membuang tanah barat untuknya dari Akiko, Rin hanya tahu-itu salah. Dirinya tidak pantas hingga inuyoukai itu harus membuang segalanya. Karena itu, saat sadar setelah menghadapi sang kematianpun, dirinya hanya berpikir harus menghentikan kesalahan itu sebelum terjadi.


"Rin-chan," panggil Kagome lagi dengan pelan. Tangan kanannya bergerak membelai kepala Rin pelan. "Jika kondisi kalian terbalik. Kakaklah yang berada di posisimu dan dirimulah yang berada di posisi kakak-apa yang akan kau lakukan? Apakah kau juga akan membuat pilihan yang kakak pilih sekarang?"


Pertanyaan Kagome kembali membuat Rin tertegun. Jika dia berada dalam posisi Sesshoumaru, apa yang akan dia lakukan?-tidak. Bagaimana bisa berpikir seperti itu? Pilihannya dan pilihan Sesshoumaru-memintanya berpikir seperti itu; bukankah artinya meminta dia membandingkan dirinya dengan Sesshoumaru?


"T-tidak," balas Rin kemudian terbata-bata. Matanya menatap Kagome, kepanikan kembali memenuhi wajahnya seakan dia telah melakukan kesalahan besar. "Ini berbeda, Kagome-sama. Rin dan Sesshoumaru-sama berbeda!"


"Apa beda kalian, Rin-chan?" tanya Kagome kembali dengan tenang.


"R-rin ada karena Sesshoumaru-sama. Rin adalah manusia yang dihidupkan beliau. Rin hanya salah satu orang beruntung yang dipilih beliau untuk menjadi kisaki tanah barat dan menerima tanda beliau," jawab Rin lagi dengan suaranya yang bergetar. Kepanikan di wajahnya hanya semakin menguat. "Rin yang seperti itu tidak boleh berpikir akan apa yang Rin lakukan jika berada di posisi beliau-Rin tidak sebanding dengan beliau!!"


Kagome dan Sango yang melihat reaksi Rin tertegun. Tidak sebanding?—bagaimana mungkin wanita manusia ini masih bisa berpikir seperti ini setelah semua yang terjadi?


"Rin-chan," panggil Sango pelan. Dia menarik kembali tangannya yang ada di pipi Rin dan duduk dengan angun. Matanya terarah lurus penuh ketenangan pada wanita manusia di depan. "Menurutmu, apa artinya dirimu bagi Sesshoumaru-san?"


"R-rin adalah, R-rin adalah.." Air mata mengalir turun lagi tanpa terhentikan dari wajah Rin. Dia tidak dapat menemukan jawabannya.


Rin.


Wajah Sesshoumaru yang tersenyum kecil memanggil namanya, sepasang mata emas yang menatapnya lembut, sentuhan dan pelukannya yang hangat—siapa dirinya bagi inuyoukai itu sesungguhnya? Dia adalah kisaki tanah barat, pasangan sah dari Sesshoumaru, ibu dari Shura, sang pewaris tanah barat. Tapi, selain itu—siapa dirinya bagi inuyoukai itu hingga dia bersedia membuang segalanya?


"Rin-chan." Kagome menatap Rin sendu, melihat Rin yang begitu menderita, panik, kebingungan—dirinya benar merasa sedih. "Apa kau tidak bisa melihatnya?—arti dirimu yang sesungguhnya bagi kakak?"


Rin yang polos memang terlalu polos. Dia selalu lugu seperti anak kecil yang berlari bebas di dalam padang bunga—Ah, tidak. Mungkin bukan itu, mungkin lebih tepatnya karena—cintanya yang terlalu besar untuk Sesshoumaru.


Rin tidak pernah bertanya sedikitpun pada Sesshoumaru, kenapa dari semua wanita yang ada di dunia ini, inuyoukai itu memilihnya sebagai pasangan sahnya? Memilih seorang gadis manusia sebagai kisakinya serta ibu dari putranya? Saat Sesshoumaru memberikan itu semua padanya, dia menerimanya dengan penuh kebahagiaan tanpa berpikir—karena Rin mencintai Sesshoumaru.


Rin mencintai Sesshoumaru. Terlalu mencintainya hingga dia tidak bisa melihat hal lain lagi selain cintanya itu. Baginya, apapun keinginan inuyoukai itu, dia akan melakukannya. Dia sudah bahagia asal dapat berada di sampingnya. Cinta Rin yang terlalu luar biasa telah menutupi dirinya dari apa yang sesungguhnya ada, yakni—cinta Sesshoumaru untuk seorang wanita manusia bernama; Rin.


"Rin, seperti apa kakak bagimu, seperti itu jugalah artinya dirimu bagi kakak—kau terlalu berharga baginya."

__ADS_1


Rin tertegun tidak bergerak mendengar ucapan Kagome. Kedua matanya terbelalak menatap tidak percaya miko masa depan itu.


"—Kakak mencintaimu, Rin."


Cinta Sesshoumaru.


Cinta dari Sesshoumaru, inudaiyoukai penguasa tanah barat untuk kisaki manusianya—siapa yang tidak tahu? Dari semua wanita yang ada di dunia ini, dia hanya memilihnya seorang saja. Memberikan posisi wanita paling terhormat di dunia padanya, serta seorang putra. Demi wanita itu, dia berperang melawan manusia serta melawan dunia youkai. Demi wanita itu, dia memutar balikkan dunia untuk mencari obat keabadian, dan kini—dia juga bersedia membuang kerajaannya untuk wanita tersebut.


Sesshoumaru tidak pernah mengucapkannya. Tapi, siapapun yang melihat bisa mengetahuinya. Dari saat mata emasnya menatap wanita manusia itu, dari setiap sentuhan dan sikapnya, dari setiap tindakan dan pengorbanannya. Siapapun dapat melihatnya jelas—cinta luar biasa yang dimiliki indaiyoukai yang ditakuti semua makhluk hidup untuk Rin.


Ironisnya, Rinlah satu-satunya yang tidak tahu. Wanita manusia yang lugu dan polos dengan cinta yang juga seluar biasa cinta inuyoukai itu tidak pernah menyadarinya sama sekali. Orang mengatakan cinta itu buta, mungkin itu juga berlaku untuk Rin, dia dibutakan cintanya sendiri hingga tidak menyadari cinta Sesshoumaru.


Rin tidak bergerak. Apa yang dikatakan Kagome membuat dirinya tidak tahu harus bersikap apa?


Cinta.


Apakah Sesshoumaru juga mencintainya? Mencintainya sebesar dirinya mencintai inuyoukai itu? Cinta yang begitu besar tidak terucapkan-cinta yang melebihi hidup dan keberadaannya sendiri.


"Rin-chan," senyum Kagome. Dia bisa melihat ketidakpercayaan di mata coklat yang terbuka lebar itu sekarang. "Seperti halnya kau yang bahagia bersama Kakak, begitu juga dengan kakak—dia hanya bisa bahagia bersamamu."


Menatap Kagome, Rin tidak mengatakan apa-apa. Wanita manusia itu kembali terdiam membisu seribu bahasa.


"Apa yang diputuskan Kakak bukanlah kesalahan. Dia memilih itu karena dari awal dia sudah tahu, kebahagiaan masa depan yang dia inginkan, yaitu; bersamamu selalu dengan Shura."


Bersamamu selalu dengan Shura—selamanya bersama.


Air mata mengalir turun lagi dari wajah Rin. Benarkah?—itu jugakah yang paling diinginkan Sesshoumaru? Bersama dengan dirinya yang merupakan seorang manusia lemah dan tidak berguna? Bersama selalu dalam keluarga kecil mereka yang hangat dan bahagia?


"Jika kau mencintai seseorang, dan seseorang itu juga mencintaimu, maka, janganlah menyerah." lanjut Kagome lagi. Menutup mata, dia tersenyum. Dia ingat perpisahannya dengan Inuyasha setelah shinko no tama menghilang. Dia ingat penderitaan akan perpisahan serta keberanian akan keputusannya untuk hidup di masa lalu. "Masa depan tidak ada yang tahu. Kebahagiaan ataupun penderitaan di masa depan—tidak ada yang dapat mempredeksinya dengan akurat. Bisa saja kau bahagia, bisa juga menderita. Tapi, selama kau hidup dan berjuang, kau masih memiliki kekuatan dan kesempatan untuk mengubah masa depan seperti yang kau inginkan."


"Benar, Rin-chan," tambah Sango. Dia kembali tersenyum pada Rin. Dia teringat akan adik kandungnya yang tertawa bersama mereka-adik yang seharusnya telah tiada tapi masih ada dan hidup bahagia. Kohaku yang menjadi salah satu kebahagiaan terbesar hidupnya dan keluarganya. "Kebahagiaan tidak akan pernah menghilang sepenuhnya dari dunia jika kita masih hidup. Apapun juga masa depan, kau bisa menghadapinya bersama dengan mereka yang kau cintai dan mencintaimu. Masih ada kami, ada Shura dan juga—Sesshoumaru-san."


Hidup atau mati.


Tidak peduli betapa menakutkan masa depan yang kau bayangkan, tidak peduli apa yang ada sekarang—jangan pernah memilih mati. Kematian akan membunuh semuanya; kemungkinan, kesempatan, harapan dan juga kebahagiaan. Tapi hidup—kau masih memiliki segalanya. Kemungkinan tidak terbatas, kesempatan tidak terhitung, harapan yang tidak akan padam serta kebahagiaan di masa depan. Hidup tidak gampang, namun—hidup itu indah dan berharga.


Rin tidak dapat berkata apa-apa lagi. Dia hanya dapat mengangguk kepala dan menutup mata dalam tangisnya yang kembali pecah. Untuk segala pilihan yang ada, untuk kebersamaan yang diharapkan dan cinta yang ada—bolehkan jika dirinya masih memilih hidup bersama mereka? Untuk kebahagiaan di masa depan.


"Aaa...Aaa..." Suara pelan Shura kembali terdengar, dan Rin bisa merasakan sesuatu yang kecil, lembut, basah dan hangat di pipinya.


Membuka mata, Rin melihat Shura yang tidak tahu kapan telah merangkak ke sampingnya dan menjilati air mata yang jatuh. Mata emasnya inuyoukai kecil itu terbuka lebar, tapi penuh kekhawatiran pada ibunya.


"Aa..Aa.." Tangan kecil Shura terangkat menyentuh wajahnya, dan Rin tertawa. Hangat dan begitu berharga—putranya yang tidak tergantikan.


"Maafkan Rin karena telah membuatmu khawatir. Maafkan ibunda karena sempat berpikir meninggalkanmu sendirian..." Ujar Rin pelan. Menyentuhkan keningnya pada Shura, dia menutup mata. "Ibunda tidak akan pernah meninggalkamu, Shura..."


Rin akan memilih hidup lagi. Untuk setiap kemungkinan dan kesempatan, untuk harapan dan kebahagiaan. Semua tidak akan mudah, tapi selama ada Sesshoumaru dan Shura—semua akan sepandan untuk dipertahankan.


Membuka mata, Rin kemudian menatap Kagome dan Sango. Tersenyum, dia bersyukur dengan keberadaan dua wanita di depan yang selalu ada baginya bagaikan seorang kakak. "Terima kasih, Kagome-sama, Sango-sama."


Kagome dan Sango tersenyum lebar melihat dan mendengar ucapan terima kasih Rin. Perasaan lega memenuhi hati mereka melihat wanita manusia itu sudah kembali menjadi dirinya.


"Baiklah," berdiri, Kagome tertawa. "Aku akan memanggil kakak masuk."


Namun, baru selesai Kagome menyelesaikan ucapannya, pintu kamar shoji yang tertutup telag terbuka, dan Sesshoumaru berjalan masuk ke arah Rin dan Shura. Kedua mata emasnya menatap lurus kisakinya.


Kagome dan Sango segera menyingkir dan membiarkan Sesshoumaru duduk di samping Rin. Mereka tidak mengatakan apa-apa, dan diam membisu melihat sepasang suami istri di depan.


"Sesshoumaru-sama..." panggil Rin pelan membalas tatapan mata Sesshoumaru.


Menggerakkan tangan kanannya, Sesshoumaru menyentuh pipi Rin dengan pelan dan hati-hati. Wajahnya datar tanpa ekspresi, tapi kedua mata emasnya bersinar lembut menyampaikan sejuta perasaan. "Bagi Sesshoumaru ini—tidak ada yang lebih penting dari dirimu, Rin."


Sentuhan yang hangat, ucapan yang jujur tanpa kebohongan. Hati Rin terasa sesak. Segala perasaan bercampur; gembira, bahagia, senang, terharu, tidak percaya dan juga—terharu.


Mengangguk kepala, air mata yang berhenti kembali mengalir, tapi kali ini Rin tertawa—tawa musim semi abadinya yang indah. "Iya. Rin mengerti sekarang, Sesshoumaru-sama."


Tawa Rin membuat semua beban yang ada bagaikan menghilang dari pundak Sesshoumaru. Tersenyum kecil, dia menggerakkan tangannya untuk menghapus air mata yang ada. "Rin.."


Namun, Shura yang ada di samping tiba-tiba bergerak. Membuka mulutnya, dia mengigit tangan Sesshoumaru kuat. Kedua mata emasnya menatap penuh kemarahan pada ayah kandung yang dia tahu lagi-lagi membuat ibunya menangis.


Baik Sesshoumaru, Rin, Kagome serta Sango tertegun dengan apa yang dilakukan Shura.


Lalu, meski Sesshoumaru menarik tangannya, Shura tetap saja tidak melepaskan gigitannya. Gigitannya malah semakin menguat, kedua taringnya yang kecil dan menancap di tangan sang ayahnya.


"Uhh-Hahahahahaha!" suara tawa Inuyasha yang keras tiba-tiba terdengar dari belakang. "Hahahahaha! Bagus! Bagus sekali, kecil!! Mungkin kaulah satu-satunya yang bisa menyerang Sesshoumaru seperti itu!!"


Berjalan masuk bersama Miroku, Inuyasha tertawa terbahak-bahak. Dia tahu, memamg tidak seharusnya dia tertawa, tapi—dia tidak bisa menghentikan tawanya saat melihat adegan di depan. Siapa menyangka bahwa putra yang begitu dibanggakan Sesshoumaru itu ternyata adalah seorang anak durhaka? dan Sesshoumaru tidak dapat melakukan apapun untuk menghadapinya.


Menurunkan kepalanya lagi menatap Shura yang membalas tatapannya tajam, Sesshoumaru tersenyum kecil. Tidak ada kemarahan sedikitpun dalam hatinya melihat sikap putranya. Putranya hanya ingin melindungi ibunya, karena dia melihat ibunya terus menangis saat dirinya ada—putranya yang membanggakan.


Mendekati Sesshoumaru, Rin dan yang lainnya, Inuyasha kemudian tersenyum pada Rin. "Kau lihat, Rin," ujarnya pelan. "Sesshoumaru tidak akan sanggup mebesarkan Shura sendirian—dia membutuhkanmu untuk selalu di samping dan membimbingnya."


"Iya," tambah Miroku yang ada di samping Inuysha sambil tersenyum. "Anak laki-laki membutuhkan ibunya selalu di samping. Kau tau kan—aku dan Inuyasha sama sekali tidak dapat menghadapi Mamoru dan Shiro sendirian. Sesshoumaru-san pasti sama—dia tidak akan dapat menghadapi Shura yang seperti ini sendirian."


Ucapan Inuyasha dan Miroku membuat Rin menatap Sesshoumaru. Dia tidak mengatakan apa-apa, tapi mata coklatnya penuh dengan pertanyaan; benarkah itu?


Sesshoumaru yang menyadari pandangan Rin juga balas menatap. Perlahan, dia mengangguk kepala. Ucapan Inuyasha dan Miroku tidak salah, dirinya tidak akan dapat membesarkan Shura sendirian tanpa Rin—karena Rinlah poros dunia mereka berdua.


Rin tetap tidak dapat berkata apa-apa. Dia hanya dapat kembali menangis untuk kesekian kalinya. Tapi, rasa haru dan juga bahagia memenuhi seluruh relung hatinya. Seperti inikah?—sepenting inikah dirinya untuk Sesshoumaru dan putra mereka?


Shura yang mencium bau air mata Rin segera membalikkan wajahnya. Melihat air mata yang mengalir, dia segera melepaskan gigitannya dan merangkak mendekati ibunya. "Aaa...Aaa..."


Sesshoumaru segera mengangkat badan kecil Shura, dan sekali lagi seperti biasanya, kedua lengan kecil inuyoukai pewaris tanah barat terbuka lebar untuk memeluk leher ibunya.


"Rin,"panggil Sesshoumaru pelan. "Apa yang paling kau inginkan untuk Shura?"


Rin menutup matanya mendengar pertanyaan Sesshoumaru. Untuk Shura, apa yang dia inginkan? Bayangan masa kecilnya terbayang. Apa yang dilihatnya setiap hari saat menghadapi sang kematian—pementasan hidup dari seorang manusia bernama Rin.


Membuka mata, Rin menatap lurus Sesshoumaru. Air mata yang terus berjatuh, mati-matian dia mencari suaranya yang seakan menghilang. "Rin tidak ingin Shura besar tanpa seorang ibu. Rin ingin Shura memiliki ayah, memiliki ibu. Tidak pernah dicap sebagai anak tanpa ibu dan memiliki keluarga yang sempurna. Rin tidak mau Shura hidup seperti Rin dulu."


Tidak memiliki ibu, kehilangan seorang ibu, tidak memiliki keluarga—betapa hidupnya saat kecil begitu menyedihkan. Rin tahu melebihi siapapun, apa arti ibu, apa arti keluarga bagi seorang anak. Karena itu; bagaimana dia rela jika putranya yang begitu dicintainya menjadi sepertinya dulu?


Sesshoumaru tersenyum mendengar jawaban Rin. Membungkuk ke bawah, dia mengangkat dan memeluk badan mungil serta Shura yang memeluk leher ibunya dengan hati-hati. "Hiduplah untuk Shura, untuk Sesshoumaru ini-untuk kita."


Hidup.


Rin tahu—tidak pernah mudah. Terlebih lagi hidupnya yang telah mencapai akhir tapi tidak juga berakhir. Semua menjadi kabur. Benar dan salah, hidup atau mati. Keputusan yang dia buat dan pilih bisa berubah setiap saat. Kadang dia akan berjuang mati-matian untuk hidup, karena dia ingin bersama mereka yang dia cintai. Tapi terkadang, dalam hitungan detik, dia akan berpikir untuk mati, sebab dia bisa melihat penderitaan mereka yang dia cintai gara-gara dirinya.


Hidup.


Rin ingin semua bahagia, dirinya, Sesshoumaru, Shura, Inuyasha, Kagome dan semua orang yang dikenalnya-seluruh bersama selamanya. Tanpa kematian, tanpa perpisahan—rajutan benang bertema kebahagiaan dan kebersamaan yang tidak pernah dirinya ingin terhenti dan terputus.


"Iya," balas Rin dan mengangguk kepala. "Rin akan hidup—untuk kita."


Untuk kita.

__ADS_1


Rin tidak akan berjuang hidup untuk mereka yang dia cintai lagi. Kali ini dia akan kembali berjuang, untuk kebersamaan mereka—untuk Sesshoumaru, untuk Shura, untuk semuanya yang menyayanginya dan juga untuk dirinya sendiri; untuk kita.


....xOxOx....


__ADS_2