![Till The End Of Time [ Inuyasha Fanfiction ]](https://asset.asean.biz.id/till-the-end-of-time---inuyasha-fanfiction--.webp)
Malam sudah mulai larut dan pesta hanami masih terus berlanjut. Di atas panggung, pertunjukkan demi pertunjukkan silih berganti, dan di sekeling, para youkai yang sudah mabuk mulai membuat keributan, namun tidak dapat dipungkiri juga tawa dan senyum di wajah semua yanflg ada.
"Apa kau mengantuk, Rin?" tanya Akihiko pada gadis manusia di sampingnya. "Jika kau mengantuk, kau boleh kembali ke kamarmu untuk beristirahat."
Rin menggeleng kepala dan tersenyum membalas pertanyaan Akihiko. "Tidak, Rin masih belum mengantuk, Akihiko-sama."
"Hanami ini berlanjut tiga hari tiga malam, Rin. Kau masih bisa menikmatinya, jangan memaksa diri." senyum Akihiko lagi menatap Rin lembut.
Rin mengangguk kepala dan tertawa. "Rin tahu, Akihiko-sama. Rin akan kembali ke kamar jika sudah tidak sanggup."
Senyum Akihiko semakin lebar dan pandangannya semakin lembut melihat tawa Rin. Dari hari ke hari, dia benar-benar semakin menginginkan gadis manusia di depannya ini.
"Akihiko-sama, Rin-sama." Panggil suara berat seorang laki-laki tiba-tiba dari depan Rin dan Akihiko.
Menoleh pandangan ke sumber suara, Rin dan Akihiko melihat seorang youkai berambut putih berdiri dengan wajah tersenyum, kedua pipinya sedikit memerah, menandakan bahwa dia sedikit mabuk.
"Kei." Balas Akihiko pelan. Kedua mata biru langitnya menatap youkai di depannya santai. Tidak ada lagi ekspresi lembut di wajah itu, yang ada hanyalah ekspresi biasa penguasa tanah selatan yang santai dan tidak peduli apa-apa.
Kei adalah ketua klan youkai beruang putih di tanah selatan. Dia adalah youkai yang sangat kuat dan juga sangat dihormati. Namun yang paling penting, dia juga merupakan salah satu youkai kepercayaan Akihiko, penguasa tanah selatan.
Kei membungkuk memberi hormat. "Terima kasih sudah mengundang hamba ke pesta hanami ini, Akihiko-sama."
Akihiko tidak mengatakan apa-apa, dia hanya mengangguk kepala dalam diam seakan tidak peduli.
Bangkit, Kei kemudian menatap Rin. Tersenyum lebar, dia kembali membungkukkan kepala pada gadis manusia itu. "Rin-sama, akhirnya hamba bisa bertatap muka secara langsung dengan anda. Ijinkan hamba berterima kasih sekali lagi atas apa yang anda lakukan."
Ucapan Kei dengan segera membuat Rin kebingungan. Mata coklatnya bersinar panik melihat youkai terhormat yang menundukkan kepala padanya. "K-kei-sama, jangan memberikan hormat seperti ini pada Rin."
Berusaha berdiri, Rin ingin membantu youkai di depannya untuk bangkit, namun Akihiko menghentikannya, "Tidak apa-apa, Rin." senyumnya.
Kebingungan di wajah Rin semakin jelas. Dia tahu jelas siapa dan apa posisi Kei di tanah selatan, namun, mereka tidak pernah bertemu, apa yang membuat youkai ini berterima kasih padanya seperti ini?
Berdiri tegak lagi, Kei bisa melihat jelas kebingungan di wajah Rin. Tertawa keras, dia kemudian melambaikan tangan ke belakang meminta seseorang mendekatinya.
Dari belakang Kei, seorang youkai laki-laki berjalan mendekat. Youkai itu masih sangat muda, usia penampilan manusianya hanya sekitar tiga belas tahun, dan dia memiliki wajah serta penampilan yang mirip sekali dengan Kei.
"Putraku, Ren." Tawa Kei keras sambil menepuk punggung putranya keras.
Ren segera menunduk kepala memberikan hormat dan salam. "Akihiko-sama, Rin-sama."
"Dialah alasanku berterima kasih pada anda, Rin-sama," senyum Kei. Matanya menatap penuh terima kasih Rin. "Terima kasih telah menghidupkan kembali putra bodohku ini pada perang selatan barat."
Ucapan Kei membuat mata Rin terbelalak, dia menatap Kei tidak percaya.
"Putra bodohku ini adalah satu-satunya peninggalan istriku. Aku tidak akan memiliki muka bertemu dengannya jika di benar-benar mati saat itu." Tawanya kemudian dan kembali memukul punggung Ren beberapa kali.
Ren yang dipukul oleh ayahnya hanya dapat tetap menundukkan kepala menahan sakit. Wajahnya memerah karena diperlakukan seperti itu di depan penguasa dan penyelamat hidupnya. Apalagi dia juga bisa merasa, semua pandangan youkai di dalam taman kini telah terarah padanya.
Mengigit bibir bawah dan mengumpulkan segenap keberanian, Ren kemudian berlutut dan berterima kasih pada Rin. "Terima kasih karena telah menghidupkan hamba, Rin-sama."
Rin mengerti sekarang alasan berterima kasih kedua ayah anak di depannya. Tidak bisa dihentikannya, seulas senyum menghiasi wajah cantiknya.
Perlahan, tidak mempedulikan Akihiko yang kembali berusaha menghentikannya, dia berdiri. Melangkah mendekati Ren, dia membungkuk badan dan membantu youkai itu berdiri.
Tersenyum semakin lebar, kedua mata coklat Rin berbinar bahagia. Kegembiraan dan kebahagiaan terpancar menyilaukan di wajah cantiknya."Tidak perlu berterima kasih. Rin senang anda hidup-terima kasih sudah hidup, "
Meido seki yang bersinar dan hidup youkai yang dibangkitkan, meski salah di mata manusia, tapi, tidak di mata youkai. Ada kebahagiaan dan keutuhan sebuah keluarga di dalamnya—itu sudah cukup bagi Rin. Bukti bahwa apa yang dilakukannya saat itu memiliki arti.
Senyum indah Rin membuat Ren terpana, begitu juga dengan Kei dan semua youkai yang dari tadi melihat apa yang terjadi. Lalu, bersamaan juga, ada kehangatan aneh memenuhi hati mereka.
Di dunia yang begitu kotor dan hina, dalam bangsa manusia yang begitu egois dan pengecut, gadis manusia ini berdiri dengan segala perbedaannya. Bagaikan matahari hangat musim semi, dia menyinari semua yang ada. Dalam mata coklatnya, semua sama, manusia maupun youkai, kuat maupun lemah—arti keberadaan yang sama.
Para youkai selatan mulai mengerti sekarang, kenapa barat begitu mencintai dan memuja gadis manusia ini. Siapa yang tidak akan mencintainya yang seperti ini?
Tidak tahu siapa yang memulainya, perlahan, para youkai selatan yang ada dalam pesta hanami bangkit dan berjalan mendekati Rin. Tersenyum dan tertawa, mereka semua berlutut memberi hormat pada gadis manusia itu.
"Terima kasih, Hime-sama."
"Terima kasih, Rin-sama."
"Terima kasih."
Ucapan terima kasih bergema memenuhi taman. Dalam kegelapan malam, tanpa paksaan dan dari lubuk hati terdalam, sekali lagi para youkai berterima kasih pada gadis manusia itu
Akihiko duduk tidak bergeming, kedua mata biru langitnya menatap punggung Rin penuh kekaguman. Youkai selatan adalah makhluk dengan kebanggaan tinggi, dan mereka tidak akan memberikan hormat seperti ini pada sembarangan orang, hanya pada penguasa dan tuan mereka saja, mereka akan melakukan itu. Namun, kini, mereka melakukannya untuk Rin.
Senyum memgembang di wajah Akihiko. Ya! Melihat pemandangan ini, dia tahu keputusannya tidak salah, walau dia seorang manusia biasa, tidak ada seorang youkai selatanpun yang akan menolaknya. Rin adalah orangnya. Satu-satunya yang pantas duduk dan berdiri sejajar dengannya, Kiseki dari selatan—Kisakinya.
"Luar biasa.." Puji Miroku tidak percaya. Ini adalah kedua kalinya dia melihat para youkai kuat dan berkebangaan tinggi bersedia berlutut memberi hormat dan mengucapkan terima kasih pada seorang gadis manusia.
"Rin-chan, benar-benar-luar biasa." tambah Sango. Kedua matanya tidak teralih dari sosok Rin yang kini mulai panik karena para youkai yang berlutut di depannya.
Inuyasha tidak mengatakan apa-apa, namun, kedua mata emasnya juga tidak teralih dari sosok Rin seperti Sango.
"Dia dicintai.." ujar Kagome pelan. Seorang gadis manusia di tengah youkai, sangat aneh namun nyata—Rin selalu diterima oleh bangsa youkai yang membenci manusia.
__ADS_1
Inukimi tidak mengatakan apa-apa, dia tersenyum. Kedua mata emasnya tidak dapat menyembunyikan kebanggaan dalam hati. Rin, putri manusianya, kebanggaannya, siapa lagi yang pantas menjadi kisaki barat dan bersanding dengan putranya selain dia?
....xOxOx....
Sesshoumaru diam membisu menatap pemandangan dalam taman sakura. Dia bisa melihat jelas youkai selatan yang berlutut memberi hormat dan berterima kasih pada Rin. Sama seperti saat itu, di desa manusia di mana Inuyasha tinggal, gadis itu sekali lagi menunjukkan keistimewaannya.
Berdiri di tengah youkai, Rin begitu bersinar. Senyum dan tawanya—Sesshoumaru sadar, itu semua sekarang tidak lagi miliknya seorang. Saat gadis itu kecil, dia bisa memonopoli itu semua, tapi sekarang tidak lagi. Bagaikan burung yang telah dewasa dan mengepakkan sayap, tidak tahu sejak kapan, gadis itu telah terbang dari sangkar yang diciptakannya.
Rin adalah matahari, sejak dulu Sesshoumaru sudah mengetahuinya. Hangat dan bersinar—karena itulah semua yang ada cepat atau lambat akan menyadari keberadaannya. Siapa yang dapat menyembunyikan matahari?-—awan hitam maupun langit malam tidak akan dapat selamanya melakukan itu.
Hanya di depanku. Kau hanya boleh menari dan bernyanyi di depanku seorang.
Keegoisannya tahun lalu, perintahnya pada Rin saat hari ulang tahunnya tergiang dalam kepala, begitu juga dengan wajah gadis itu yang penuh air mata tapi tersenyum bahagia.
I-iya. Rin mengerti. Rin tidak akan menari dan bernyanyi lagi. Hanya di depan Sesshoumaru-sama seorang saja Rin akan bernyanyi dan menari, hanya untuk Sesshoumaru-sama seorang saja...
Menutup mata, Sesshoumaru hanya dapat tertawa dalam hatinya. Dalam pesta hanami ini, dengan sifat Rin, penguasa tanah barat sadar, betapa dia ingin berpartisipasi dalam keramaian. Namun gadis itu tidak akan melalukannya, karena perintah darinya dulu.
Pertama kali Sesshoumaru sadar, ternyata dirinya sangatlah egois dan serahkah-dia ternyata selalu ingin menyembunyikan matahari ini. Dia hanya ingin matahari ini bersinar untuknya seorang.
"Sesshoumaru-sama, anda tidak berniat bergabung dengan keramaian?" suara seorang wanita tiba-tiba terdengar jelas dari belakang Sesshoumaru.
Sesshoumaru tidak memberikan reaksi sedikitpun pada wanita itu, begitu juga dengan Kira dan Kiri yang ada di sampingnya. Mereka bertiga sudah merasakan dengan jelas keberadaan wanita itu yang mendekat mereka sejak tadi.
Mendekati Sesshoumaru, wanita itu tersenyum dan menunduk memberikan hormat, "Hamba, Tsubasa dari selatan memberikan salam."
Tetap tidak reaksi dari ketiga inuyoukai itu pada salam Tsubasa, seakan selir kesayangan penguasa tanah selatan itu memang tidak ada di sana.
Dengan senyum yang tidak berubah, Tsubasa kemudian mengalih pandangan pada taman sakura, menatap sosok gadis manusia yang menjadi pusat taman. "Rin-sama, beliau sungguh memesonakan. Tidak akan ada yang dapat mengalahkan pesonanya di dunia ini."
Membuka mata dan menatap Rin yang tersenyum dan tertawa bersama para youkai selatan, Sesshoumaru membuka mulutnya. "Apa yang kau inginkan?"
Tsubasa tertawa mendengar pertanyaan Sesshoumaru. "Tidak ada yang kuinginkan. Hamba hanya mengagumi keberadaan wanita yang bisa membuat daiyoukai penguasa tanah selatan menggilainya seperti orang bodoh."
Jawaban Tsubasa membuat Sesshoumaru membalikkan badan menatap youkai burung itu. Namun wajahnya tetap tenang tanpa ekspresi.
Tersenyum lebar, mata Tsubasa bersinar gembira menatap sosok penguasa tanah barat. "Akihiko-sama akan menjadikannya Kisaki selatan. Apa yang akan anda lakukan sekarang, Sesshoumaru-sama?"
....xOxOx....
Inuyasha menatap tidak percaya Kagome, Miroku, Sango dan Inukimi yang telah mabuk berat di depannya. Semakin malam, pesta yang ada semakin meriah, dan sekarang kemeriahan telah hampir berubah menjadi keributan.
Suara tawa, suara teriakan terdengar di mana-mana. Di samping taman ada beberapa youkai yang sedang beradu minum, bahkan ada yang beradu kekuatan. Pesta yang akan berlangsung tiga hari tiga malam ini baru saja di mulai tidak lama, dan inuhanyou itu tidak tahu akan seperti apa hari terakhir pesta hanami ini.
Menoleh kepalanya menatap sosok Rin yang dari tadi tidak bisa didekatinya karena para youkai selatan yang terus menerus mengelilinginya, Inuyasha mulai panik saat melihat gadis manusia itu dan Akihiko berdiri dan berjalan meninggalkan tempatnya.
"Lepaskan aku, Miroku!!" Perintah Inuyasha sambil mendorong badan biksu itu menjauh.
Menatap Kagome, Inuyasha merasa sangat bingung dan putus asa. Miko masa depan itu kini telah tertidur dengan nyaman tidak mempedulikan keadaan, dan disampingnya Sango dan Inukimi bertanding minum.
"Kagome, sadar!" panggil Inuyasha sambil memukul kedua pipi Kagome dengan pelan. Namun, istrinya itu sama sekali tidak sadar, dia hanya tertawa kecil dan tetap tidur.
Inuyasha menghela napas panjang. Untuk pertama kalinya, dia merasa Kagome dan yang lainnya sama sekali tidak dapat diharapkan. Bagaimana bisa mereka mabuk seperti ini di tempat ini? Mereka meneguk sake tanpa ragu, tidak seperti dirinya yang terus mengawasi Rin dan Akihiko, sebab, sampai sekarang, dia tetap tidak percaya dengan youkai serigala itu.
Melihat Rin dan Akihiko yang sudah meninggalkan taman, mau tidak mau, Inuyasha segera menggendong Kagome di punggungnya dan berlari mengejar. Untuk Miroku, Sango dan Inukimi, dia tidak peduli—mereka cukup kuat untuk mengalahkan sebagian besar youkai di sini, kan?
....xOxOx....
Rin tersenyum dan menghirup udara malam. Kedua mata coklatnya menatap bulan di atas langit. Kini dirinya dan juga Akihiko berada cukup dalam di taman bunga sakura istana tanah selata, walau telinganya masih dapat menangkap suara keributan yang ada—sepertinya semua orang masih larut dalam kegembiraan pesta.
Akhirnya, dia bisa bernapas lega setelah menghadapi para youkai selatan yang terus mengelilinginya, sebab, dia tidak melakukan kesalahan yang dapat mencoreng kebesaran tanah barat.
Namun, mungkin yang paling lega baginya adalah Kagome, Sango dan Inukimi yang tidak dapat mendekatinya. Dia tidak tahu harus bersikap apa di depan semua orang jika mereka bertiga masih memaksanya menjelaskan apa yang terjadi antaranya dan Sesshoumaru. Dia tidak akan memberitahu mereka, sebab itu adalah rahasia yang akan dijaganya sampai mati.
"Aku sangat senang karena kau sangat menyukai pesta hanami ini, Rin." ujar Akihiko yang ada di belakang Rin pelan tiba-tiba.
Rin membalikkan badan dan mengangguk kepala. "Rin sangat menyukainya, dan sesuai janji, besok Rin akan memainkan Shamisen."
"Aku akan menantikannya, dan aku juga mengharapkan kau bersedia bernyanyi dan menari." tawa Akihiko gembira. Mata biru langitnya menatap lekat gadis manusia di depannya. "Kudengar saat pesta ulang tahun anjing itu tahun lalu, kau bernyanyi dan menari untuknya. Semua youkai yang hadir sampai hari ini masih membicarakannya."
Rin diam membisu mendengar ucapan Akihiko. Senyum di wajahnya menghilang, menundukkan kepala ke bawah, dia merasa bersalah. "Maaf, Rin tidak bisa.."
Hanya di depanku. Kau hanya boleh menari dan bernyanyi di depanku seorang.
Ucapan Sesshoumaru tahu lalu melintas dalam pikiran Rin, membuat wajahnya memerah karena malu. Dia teringat kembali dengan hari itu-salah satu hari terindah dalam hidupnya. Namun yang paling penting, dia ingat janjinya itu, dan dia tidak berniat melanggarnya.
Akihiko bisa melihat wajah memerah Rin dengan jelas. Dia memang tidak tahu alasan kenapa gadis manusia ini menolak untuk bernyanyi serta menari, dan dia juga tidak mau tahu. Penguasa tanah selatan tidak berniat memaksanya, jika Rin tidak mau, maka dia tidak akan mempermasalahkannya.
"Tidak apa-apa, Rin," balas Akihiko kemudian, melangkah mendekati Rin dia tersenyum gembira. "Lakukan yang kau suka."
Mengangkat kepala, Rin segera membalas ucapan Akihiko dengan seulas senyum manisnya. "Terima kasih, Akihiko-sama."
Akihiko terpana menatap lekat Rin. Angin malam berhembus, memainkan rambut hitam panjangnya, membawakan baunya yang unik. Dengan bunga sakura di belakangnya, bulan dan bintang di atasnya, gadis manusia yang tersenyum di depannya begitu cantik bagaikan ilusi.
Kehangatan dan kebaikannya, kepolosan dan keberaniannya, lalu, senyum dan tawanya—Akihiko mengakui, dia telah jatuh cinta. Mencintai gadis manusia di depannya dengan sangat dalam.
__ADS_1
Menarik napas, Akihiko bisa merasakan jantungnya berdetak cepat. Di dunia ini, hanya gadis manusia ini seorang saja yang dapat membuatnya seperti ini.
Pertama kali dalam hidupnya, Akihiko menginginkan sesuatu dengan sangat luar biasa. Dia bersedia melakukan apapun jika bisa memilikinya, dan dia akan membuktikannya, kepada mereka yang kini bersembunyi di balik pohon tidak jauh dari tempatnya dan Rin berada.
"Rin," panggil Akihiko lagi. Senyum di wajahnya menghilang, digantikan ekspresi serius. Namun, kedua mata biru langitnya masih bersinar dengan lembut menatap gadis manusia di depan. "Tinggalkanlah barat."
Ucapan Akihiko membuat senyum Rin menghilang digantikan kebingungan.
"Tinggalkanlah anjing itu untuk selamanya dan jadilah milikku, aku akan mengangkatmu menjadi Kiseki selatan. Aku akan memberikanmu cinta yang tidak pernah diberikan anjing itu padamu..."
Ucapan Akihiko membuat Rin sangat terkejut. Kedua mata coklatnya terbelalak tidak percaya dengan apa yang didengarnya.
Perlahan, kakinya melangkah mundur selangkah tanpa disadarinya. Namun, Akihiko ikut melangkah maju, menjaga jarak antara mereka.
Menundukkan kepala ke bawah, Rin berusaha mencerna dan memikirkan kata Akihiko. Menenangkan hatinya, dia kemudian mengangkat kepala menatap penguasa tanah selatan yang menatapnya lurus.
Cinta yang tidak pernah diberikannya, tinggalkanlah barat—tinggalkan Sesshoumaru? Bagaimana Rin bisa melakukannya?
Menatap Akihiko, Rin menggeleng kepala."Di dunia ini, Rin hanya ingin berada di samping Sesshoumaru-sama seorang saja, tidak ada yang lain lagi."
"Rin!" melangkah maju, Akihiko mengenggam erat kedua tangan Rin. "Pikirkan baik-baik. Kebahagiaan dan masa depanmu, anjing itu tidak akan dapat memberikan itu padamu!"
Rin hanya terus menatap Akihiko dalam diam. Dia bisa melihat kepanikan dalam mata biru langit di depannya, dan mau tidak mau dia bertanya, "Akihiko-sama, kenapa anda mencintai Rin?"
Pertanyaan Rin membuat Akihiko tertegun. Namun sejenak kemudian, dia tersenyum. "Karena kau bagaikan matahari, Rin. Kau berbeda dari semua wanita di dunia ini. Kau sangat hangat dan baik, kau juga sangat berani dan bijaksana, dan kau—cantik. Di mataku, kau adalah wanita paling sempurna yang ada di dunia."
Rin tersenyum mendengar jawaban Akihiko, kedua mata coklatnya bersinar lembut menatap Akihiko. "Akihiko-sama, anda ingat dengan gadis kecil yang memanggil Rin penghianat di kota manusia?"
Akihiko tidak mengerti arah pertanyaan Rin. Namun, dia segera menjawabnya. "Aku ingat."
Tetap tersenyum, Rin tertawa kecil. "Apakah anda dapat mencintainya seperti anda mencintai Rin, Akihiko-sama?"
Pertanyaan kedua Rin membuat Akihiko tertegun sekaligus bingung.
"Anda tidak akan dapat mencintainya, bukan? Bahkan, manusiapun tidak akan mencintainya." Lanjut lagi sambil tersenyum kecil.
Akihiko semakin bingung dengan pertanyaan berturut-turut Rin yang tidak dimengertinya.
"Anda tahu, Akihiko-sama," menatap lurus Akihiko, Rin bisa melihat jelas pantulan dirinya sekarang di bola mata biru langit penguasa tanah selatan. "Itulah Rin yang sebenarnya."
Siapa dia sebenarnya? Rin adalah seorang gadis yatim piatu.
Keluarganya mati di depan matanya sendiri dalam tangan bandit, dan dia yang ketakutan bersembunyi tanpa suara—karena itulah dia hidup; dia seorang pengecut.
Dia tidak baik, sebab, dia terus mencuri dari para penduduk desa di mana dia hidup untuk bertahan hidup—dia seorang pencuri.
Dia tidak bijaksana, sebab, dia tidak dapat melakukan apapun untuk mengubah hidupnya—dia bodoh.
Dia tidak hangat, sebab dia tidak disukai para penduduk desa. Dia dijauhi dan dibenci mereka—dia tidak diinginkan.
Lalu, dia tidak pernah—cantik. Sosok aslinya jauh dari kata cantik. Dia adalah seorang gadis kecil yang kotor dan kekurangan gizi. Bisu dan penuh luka di badan.
Tidak ada yang akan mencintainya, tidak akan ada yang mempedulikannya. Dia tidak seperti matahari yang bersinar di langit biru, bukan juga bulan yang bersinar di langit malam—dia bukanlah apa-apa.
"Rin adalah gadis manusia yang kotor dan tidak berguna, bisu dan tidak diinginkan semua orang. Apakah anda bisa mencintai Rin yang seperti itu, Akihiko-sama?" tanya Rin lagi sambil tersenyum. Dia melepaskan tangan Akihiko dan melangkah maju. Mengangkat kepala menatap langit, dia tertawa. "Rin yang sebenarnya, anda tidak akan mencintainya—melihatpun tidak."
Menutup mata, Rin tersenyum lembut. Wajah inuyoukai itu terlintas dengan jelas di pikirannya. "Tapi, Sesshoumaru-sama tidak sama. Meski Rin bisu, kotor, penuh luka dan jelek, Sesshoumaru-sama melihat Rin."
Dalam dunia ini, hanya Sesshoumarulah satu-satunya yang mengulurkan tangan padanya walau telah melihat sosoknya yang begitu menyedihkan. Inuyoukai itu tidak memiliki alasan untuk menghidupkan, menjaga dan melindunginya. Tidak memiliki kewajiban untuk membesarkan dan memberikan segala yang kini dimilikinya—tidak untuk kimono indah, buku, lukisan, alat musik, kalung permata dan tempat tinggal. Tapi dia memberikannya. Lalu, yang paling penting—senyum dan tawa.
Segala yang kini menjadi dirinya, senyum dan tawa, keberanian dan kehangatan, kelembutan dan kebijaksanaan, serta kecantikan—itu ada karena Sesshoumaru. Segala yang kini menjadi dirinya, Rin yang bahagia dan diterima banyak orang—itu ada karena Sesshoumaru.
Dia bisa tumbuh besar seperti ini adalah karena Sesshoumaru. Jika Sesshoumaru tidak pernah ada, maka begitu juga dengan Rin. Rin adalah keberadaan yang ada di dunia ini karena Sesshoumaru.
"Sesshoumaru-sama memberikan segala yang Rin miliki sekarang, keberanian, kebaikan, kelembutan, kebijaksanaan dan juga senyum tawa. Tanpa Sesshoumaru-sama, Rin bukanlah apa-apa," membuka mata, Rin kembali menatap Akihiko dengan senyum yang sangat indah di wajah. "Jadi, selamanya, Rin tidak akan bisa meninggalkan Sesshoumaru-sama."
Akihiko menatap tidak percaya kalimat demi kalimat yang diucapkan Rin. Kedua jari jemarinya terkepal erat menahan perasaan berkecamuk dalam hatinya. Gadis manusia di depannya kini menolaknya?—menolak cinta yang ditawarkannya?
Akihiko tidak dapat menerimanya, dan dia juga tidak mengerti; kenapa Rin bisa berpikir seperti itu? Antara dirinya dan Sesshoumaru, mungkinkah gadis manusia di depannya mungkin sedang bingung dengan apa yang ditawarkannya barusan?—karena itulah dia menolaknya seperti ini sekarang. Ya! Rin pasti sedang bingung dengan apa yang terjadi, jika diberikan waktu, dia pasti akan sadar dengan pilihan terbaik yang ada.
Menarik napas dan berusaha mengendalikan perasaannya yang berkecamuk, Akihiko merenggangkan jari jemarinya dan kembali tersenyum lembut. "Kau tidak perlu langsung memberikanku jawaban, Rin. Hal sepenting ini, kau boleh memikirkannya terlebih dulu."
"Eh?" seru Rin terkejut dengan reaksi Akihiko yang diluar dugaan.
"Ayo, aku antar kamu ke kamarmu. Kau harus beristirahat sekarang." tambah Akihiko lagi. Melangkah maju, tidak mempedulikan Rin yang kebingungan, dia mengenggam tangan gadis itu dan membimbingnya berjalan keluar dari taman tempat mereka berada
Akihiko tidak mengatakan apapun lagi, dia tetap tersenyum lembut pada gadis itu. Namun, saat gadis itu tidak menatapnya, sepasang mata biru langitnya menatap tajam penuh kemarahan pada pohon-pohon sakura tidak jauh dari tempatnya berada.
Di balik pohon sakura yang diamati Akihiko, Inuyasha duduk di atas tanah dengan Kagome yang tertidur nyenyak dalam dekapannya. Mata emasnya kemudian terarah pada sosok tiga inuyoukai di sampingnya; Kira, Kiri dan juga Sesshoumaru.
Inuyasha tidak mengatakan apa-apa, dia hanya menatap Sesshoumaru yang berdiri tenang dengan mata tertutup. Bahkan, saat si kembar dari barat meninggalkan mereka untuk mengikuti Rin dan Akihiko sebagai pengawal dalam bayangan, hanyou itu tetap diam membisu.
Keheningan memenuhi mereka, hanya suara napas Kagome yang masih tertidur terdengar sekarang. Di tempat ini sekarang, boleh dikatakan, hanya mereka dua bersaudara saja yang ada.
Dalam kegelapan malam, Inuyasha kemudian mengeluarkan suara memecahkan keheningan setelah sekian lama. "Kau sudah mendengar semua ucapan Rin, kan, Sesshoumaru?—Apa yang akan kau lakukan sekarang?"
__ADS_1
....xOxOx....