![Till The End Of Time [ Inuyasha Fanfiction ]](https://asset.asean.biz.id/till-the-end-of-time---inuyasha-fanfiction--.webp)
Sesshoumaru mengangkat kepalanya menatap langit dil uar jendela kamar tidurnya dan Rin. Indra penciuman youkainya yang tajam bisa mencium jelas bau musim semi yang ada diudara—musim semi sudah di depan mata.
Duduk diatas futon dengan Rin yang terbaring lemah dan bernapas tidak beraturan di pelukan, Sesshoumaru yang tidak bergerak kemudian menurunkan pandangannya. Wajahnya datar tanpa ekspresi menatap wanita manusia yang matanya terbuka lebar penuh air mata, tapi kosong. Telinganya juga tidak bisa menangkap sedikitpun suara dari mulut yang terus terbuka, walau dia juga tahu apa yang sedang digumamkan.
Menggerakkan tangan kanan, dia membelai lembut serta menghapus keringat yang membasahi Rin. Bagaikan es, tangannya bisa merasakan jelas dinginnya badan mungil yang menggigil tersebut.
Berapa hari telah berlalu? Berapa minggu? Sesshoumaru tidak menghitungnya lagi-dia sudah lupa. Yang dia ingat hanya sang kematian yang tidak berkesudahan dengan setianya mencari Rin setiap hari. Kadang satu hari sekali, dua kali dan bahkan kadang tiga kali sehari.
Rasa sakit yang luar biasa saat kematian datang, Sesshoumaru telah merasakannya satu kali, karena itu, dia sungguh tidak mengerti bagaimana Rin masih bisa tersenyum padanya setiap kali dia menang dan sadar dari apa yang dialaminya. Kekuatan tersembunyi dalam tubuh mungil itu, Rin adalah makhluk terkuat yang pernah dilihat Sesshoumaru.
Rin yang mengalami segalanya dan masih bisa tersenyum, Sesshoumaru tidak tahu apa yang akan dipikirkan wanita manusia itu jika dia mengetahui dirinya telah menemukan rahasianya ini.
Sampai hari ini, setiap kali sang kematian datang, Rin selalu meminta Sesshoumaru keluar meninggalkan dirinya sendiri, dan inuyoukai itu selalu melakukannya. Hanya saja, wanita manusia itu tidak pernah tahu, beberapa saat setelah keluar, dia akan masuk kembali. Dia akan duduk diam, memeluknya hingga kematian pergi.
Melihat orang yang kau cintai menderita setiap hari. Tapi, seperti hari-hari yang telah berlalu, kau tidak dapat melakukan apa-apa dan hanya dapat; melihat. Apa yang akan kau rasakan? Apa yang akan kau pikirkan? Keajaiban yang kau harapkan tidak kunjung datang, dan segala keputus asaan kian membesar hingga rasanya memakanmu hidup-hidup. Hidup seperti itu—apakah adalah hidup lagi?
Jika kau benar-benar mencintainya, maka lepakanlah dia...
Menutup mata, Sesshoumaru membungkukkan badan dan mencium lembut kening Rin. Dia tahu, semuanya bersumber padanya—keputusan ada di tangannya, dan meski tidak mau, pada akhirnya, takdir akan tetap memaksa dia membuat keputusan terbaik yang ada.
....xOxOx....
"Di mana si kecil itu?" tanya Inuyasha sambil melihat kiri-kanan Rin dan tidak menemukan Shura yang biasa selalu berada di samping ibunya tidak terlepas.
"Shura bersama Sesshoumaru-sama." jawab Rin yang terbaring di atas futon lemah. Tapi seulas senyum mengembang di wajahnya. "Dia pasti akan senang kalau tahu pamannya menanyakan keberadaannya."
"Ahh," tepis Inuyasha seketika dan membuang muka. "Dia akan lebih senang jika tidak melihatku, Rin. Aku dan dia tidak akrab."
"Padahal dalam lubuk hati terdalam, kau sesungguhnya sayang sekali pada keponakanmu satu-satunya itu." Tawa Kagome melihat reaksi Inuyasha yang cuek.
"Shiro ingin akrab dengan Shura," potong Shiro yang duduk di kaki Kagome tiba-tiba sambil tersenyum menatap Rin. "Shiro ingin mengajak Shura main bola bersama Mamoru."
"Kau saja yang main dengannya, Mamoru tidak mau." Sela Mamoru yang duduk di kaki Miroku ketus.
"Benar-benar putra Miroku," tukas Shippo penuh kekaguman melihat Mamoru. "Sampai detik ini, dia masih belum dapat menerima bahwa anak Rin-chan seorang laki-laki."
"Tidak apa-apa, nanti kita bermain bersama Shura saja, Shiro," Aya yang ada di samping Miroku dan Mamoru tertawa. "Kita tidak perlu mengajak Mamoru."
"Benar sekali!!" setuju Maya cepat sambil tertawa juga. "Kau kira kau siapa, Mamoru? Kami bisa bermain bersama tanpa kamu."
Wajah ketus Mamoru langsung berubah. Marah dan kemudian menangis. "Ayah!! Kak Aya dan Kak Maya jahat!!!"
"Sudah-sudah," hibur Miroku pelan sambil menupuk punggung putranya pelan. Dia sudah sangat terbiasa dengan ini semua. "Kalian bermain bersama saja nanti."
Sango yang ada di samping Miroku
menatap tajam kedua putri kembarnya yang dia tahu lagi-lagi menggoda adik mereka.
"Pria sejati tidak mudah nangis." Hibur Kohaku melihat keponakannya. Dia yang juga sudah sangat terbiasa dengan sikap keponakannya ini tidak merasa aneh lagi melihat ini semua.
"Kalian semua berada di sini rupanya." Suara Inukimi tiba-tiba terdengar bersamaan dengan pintu shoji kamar yang terbuka.
Menatap pintu yang terbuka, semua yang ada dalam kamar bisa melihat Kiri dan Kira yang menjaga pintu memberikan hormat pada Inukimi yang berjalan masuk dengan Kenji yang mengikutinya di belakang.
"Hari ini, kamar ini ramai sekali," tawa Kenji gembira sambil mengusap jenggotnya. "Kenapa kalian tidak memangilku sekalian?"
"Kenapa harus memanggilmu??" balas Inuyasha sambil membuang muka. "Kau hanya akan membuat keributan kalau ada."
Tertawa semakin keras, Kenji langsung berjalan dan duduk di samping Inuyasha. Mengangkat tangan kanan, dia menepuk keras punggung inuhanyou tersebut. "Makin ramai makin bagus, dan juga, hormati aku yang lebih tua, Inuyasha."
"Sakit!! Sialan kau!!!" teriak Inuyasha marah menatap tajam Kenji yang menurutnya tidak tahu malu.
Inukimi tidak puduli keributan yang ada, dia mendekati Rin dan duduk di sampingnya. Tersenyum lembut, matanya menatap sayang menantu manusianya. "Rin kecil, bagaimana dirimu hari ini?"
Rin tersenyum dan kemudian berubah menjadi tawa pelan. "Rin baik-baik saja, Ibunda. Rin merasa jauh sangat baik hari ini."
Ucapan Rin di balas dengan senyum yang tidak kunjung menghilang di wajah Inukimi. Namun, semua yang ada dalam ruangan terdiam dan menatap wanita manusia yang terbaring di atas futon tersebut.
Baik-baik saja.
Kalimat bagaikan mantra yang tidak pernah berhenti diucapkan Rin pada orang sekelilingnya. Tapi, tidak ada seorangpun yang pernah percaya. Musim semi sudah di depan mata, musim dingin akan segera berlalu, dan keadaan Rin hanyalah semakin; memperhatinkan.
Rin sudah terlalu kurus. Napasnya panjang dan pendek, wajahnya pucat pasi dan setiap harinya dia hanya dapat terbaring lemah tidak bergerak sedikitpun. Siapapun yang melihat akan tahu betapa sekarat wanita yang selalu tersenyum tersebut. Hidup tapi bagaikan tidak hidup.
"Buka pintunya, aku mau mengantar obat untuk Rin!!" Suara teriakan keras Jaken tiba-tiba terdengar kali ini bersamaan dengan suara pelan Kaeda. "Jaga suaramu, Jaken. Jangan menganggu Rin yang beristirahat."
Pintu kamar shoji kembali terbuka, dan kali ini, Jaken berjalan masuk dengan Kaeda. Di tangan youkai katak tersebut, mapan berisi jarum suntik dengan cairan hitam ada di tangan.
"Jaken-sama, Nenek Kaeda." Panggil Rin pelan dan tersenyum gembira melihat siapa yang masuk.
Kaeda ikut tersenyum, tapi tidak untuk Jaken. Dia menatap tajam Rin. "Rin, musim semi sudah di depan mata, kau sebagai kisaki tanah barat punya banyak tugas. Jadi cepat sehat dan jalankan tugasmu dengan baik."
Inuyasha dengan segera menatap tajam Jaken begitu juga dengan yang lainnya. Walau mengerti maksud dari ucapan youkai katak itu, mereka tetap saja tidak menyukai kata-kata yang terdengar kasar tersebut.
Jaken yang menyadari pandangan tajam semua yang ada segera diam membisu. Ketakutan memenuhi hatinya saat dia menyadari kesalahan yang telah dia lakukan di depan. Menunduk ke bawah, dia tidak berani lagi mengatakan apa-apa.
Rin yang terbiasa dengan Jaken tersenyum, dia tahu jelas youkai katak itu berkata seperti itu karena mengkhawatirkannya—penjaganya sejak kecil itu memang tidak pernah berubah.
"Iya, Jaken-sama," tawa Rin kemudian dengan pelan. "Rin mengerti."
Tawa Rin kali ini kembali membuat semua yang ada menatap wanita manusia itu. Melihat tawa bahagianya yang lemah, mereka hanya dapat menghela napas melihat sikapnya yang selalu mentoleransi Jaken.
Kaeda yang ada di samping Jaken kemudian mengambil obat yang ada. Berjalan mendekati Rin, dia tersenyum. "Baiklah Rin, waktunya suntik."
Kagome segera memindahkan Shiro yang duduk di kakinya kepada Inuyasha. Bangkit dia mendekati Kaeda dan mengambil tabung obat tersebut. Rin yang tidak bisa makan maupun minum, mereka hanya dapat menyuntikkan obat yang ada ke dalam badan kurus lemah itu dengan harapan dia akan segera sembuh.
Infus dan kini jarum suntik, Kagome sudah tidak peduli lagi dengan masa lalu maupun masa depan, sebab dia bersumpah pada dirinya sendiri akan melakukan apapun demi menyelamatkan hidup Rin.
Rin tetap tersenyum dan tidak mengatakan apa-apa. Kamar yang tadinya penuh suara kini hening membisu karena tidak ingin menganggu konsentrasi Kagome yang akan menyuntik dirinya.
Menatap sekelilingnya, menatap setiap wajah mereka yang dia sayangi dalam kamar ini, Rin kemudian menutup mata. Ah, sudah berapa lama mereka tidak berkumpul seperti ini? sudah berapa lama dia tidak mendengar suara mereka? Sudah berapa lama dia tidak merasakan kehangatan ini? Dia berharap Sesshoumaru dan Shura akan segera kembali ke kamar, sebab dengan begitu, lengkap sudah kebahagiaannya di hari ini. Berkumpul bersama keluarga adalah hal paling membahagiakan di dunia.
....xOxOx....
"Cantik, bukan?" suara Sesshoumaru terdengar pelan. Dalam ruang kerjanya dia duduk dengan Shura yang berada dalam gendongannya menatap lukisan di atas meja. "Dia akan selalu dan selamanya tercantik di dunia."
Shura tidak membalas apapun, tapi dia tertawa dengan kedua mata berbinar bahagia yang juga terarah pada lukisan yang ada di atas meja.
__ADS_1
Lukisan itu adalah seorang wanita manusia yang duduk tersenyum dia bawah pohon sakura memeluk bunga. Rambut sehitam langit tanpa bintang, kulit seputih salju, hidung yang mancung, bibir munggil serta pipi sewarna mawar merah, mata coklat besar yang jernih dan bersinar penuh keluguuan—kisaki tanah barat tercinta; Rin.
"Rin akan selalu mencintaimu, Shura." ujar Sesshoumaru lagi, mata emasnya tidak beranjak dari lukisan Rin sedikitpun. Lembut dan penuh pujaan. "Mencintaimu melebihi apapun."
"Bababaa.." Bergumam tidak jelas, kedua tangan Shura terangkat ingin menyentuh sang wanita dalam lukisan.
Menuruti keinginan Shura, Sesshoumaru mendekatkan dan membiarkan tangan kecil putranya menyentuh wajah tersenyum Rin yang ada. Telinganya bisa mendengar jelas tawa bahagia sang anak yang semakin keras saat berhasil menyentuh apa yang diinginkan.
"Karena itu," lanjut Sesshoumaru lagi, mata emasnya mengikuti setiap gerakan pelan putranya yang seakan sedang membelai wajah cantik sang wanita dalam lukisan. "Kau boleh membenciku, putraku."
Di masa depan yang akan datang, Sesshoumaru akan menerimanya jika Shura membencinya. Dia tidak akan marah jika putranya yang berharga tidak mengakuinya, bahkan jika kelak Shura ingin membunuhnya, dia tidak akan melawan, karena, sang penguasa tanah barat sadar, dia pantas menerima itu semua.
Shura yang tidak mengerti ucapan Sesshoumaru terus tertawa. Sebagaimana seorang bayi, dia telah puas saat keinginannya terpenuhi, yakni; menyentuh wajah ibunya dalam lukisan.
"Maaf, Shura."
Kata maaf terucap dan Sesshoumaru menutup matanya pelan. Maaf kepada putranya, maaf karena dia tidak berguna, maaf karena dia tidak bisa melindungi harta paling berharga bagi mereka berdua—maaf untuk keputusan yang telah dipilihnya.
"Maafkan ayahandamu ini...."
....xOxOx....
"Jika putramu sepertimu, dan Shura seperti Sesshoumaru, bagaimana mereka jadinya mereka berdua di masa depan?" tanya Kenji sambil menatap Inuyasha.
"Apa lagi? Tentu saja rakyat jelata dan bangsawan penguasa," teriak Jaken penuh kepercaya dirian menjawab pertanyaan Kenji. "Inuhanyou itu rakyatnya dan Shura-sama sang bangsawan penguasa."
"Hmn, aku berharap mereka bisa damai dan menjalin hubungan baik tidak seperti kedua ayah mereka dulu." Sela Miroku sambil memikirkan masa lalu.
"Ah, mereka pasti akan seperti anjing yang saling mengigit," ujar Shippo tertawa lebar. "Aku hanya penasaran siapa yang akan menang."
"Shura-sama yang akan menang." Jawab Kiri dan Kira bersamaan dengan wajah tenang mereka.
"Iya, tentu saja cucuku yang akan menang," tawa Inukimi penuh kebanggaan. "Mana mungkin dia kalah dari cucu si berengsek Taisho itu."
Kagome, Sango, Kohaku dan Kaeda menggeleng kepala, dalam hati mereka berpikir apakah Inukimi lupa Shura juga merupakan cucu Inu no taisho.
"Tentu putraku yang akan menang!!!" teriak Inuyasha kesal. "Shiro itu lebih besar usianya, dia akan memiliki pengalaman lebih banyak dan kuat!!"
"Ah, apa artinya jarak usia beberapa tahun bagi hanyou dan youkai?" gumam Miroku pelan sambil menggaruk kepala.
"Iya!! Shiro yang lebih kuat!!" tawa Shiro. Dia tidak mengerti keseluruhan perdebatan para orang dewasa, tapi mendengar namanya disebut-sebut, dia ikut bersuara.
"Tidak!! Mamoru yang paling kuat!!!" teriak Mamoru tiba-tiba tidak mau kalah, walau mulutnya langsung ditutup Miroku cepat. Menatap putra kandungnya, dia tersenyum aneh. "Mamoru, ingat," ujarnya pelan. "Jangan pernah mencoba melawan kedua saudara sepupu yang akan mirip ayah mereka itu kelak. Kita manusia cukup melihat dari samping saja pertarungan konyol mereka kelak."
"Hei!! Aku mendengar ucapanmu Miroku!!!" teriak Inuyasha penuh kekesalan mendengar ucapan Miroku.
Rin yang mendengar pembicaraan di depannya hanya dapat tertawa dan menggeleng kepala. Dia tidak bersuara sedikitpun, tapi dalam hati dia memiliki pandangannya sendiri. Kelak, tentu saja Shura yang akan lebih kuat—putranya yang akan melebihi ayah kandungnya akanlah menjadi yang terkuat di dunia.
Perlahan, Rin kemudian menatap sejenak ke arah jendela kamar yang terbuka. Dia bisa melihat langit sore yang telah mulai menggelap. Waktu yang berlalu sangat cepat, dia tidak menyangka bahwa hari yang menyenangkan ini akan segera berlalu.
"Rin-chan, ada apa?" tanya Kagome melihat Rin yang menatap keluar jendela.
Rin kembali menatap Kagome dan menggeleng kepala pelan. Seulas senyum memenuhi wajahnya. "Tidak apa-apa."
Menoleh kembali menatap semua yang masih berada dalam kamar, senyum Rin semakin lebar. Hari ini kamar ini sangat hidup, selalu penuh dengan canda, tawa walau kadang teriakan. Inuyasha dan Kenji tidak habis-habisnya membuat kegaduhan, begitu juga dengan Inukimi dan yang lainnya. Kebersamaan ini mengingatkan kembali pada dirinya apa itu kebahagiaan dalam hidup. Ah, dia sungguh tidak ingin hari ini berlalu dengan cepat.
Pertanyaan Kenji membuat Rin tertegun. Dia memang memiliki jawaban dalam hati, tapi dia tidak mungkin mengatakannya—itu tidak akan sopan untuk Inuyasha, Kagome maupun Shiro yang ada dalam kamar, kan?
"Baik Shura maupun Shiro akan kuat," tawa Rin pelan menjawab pertanyaan Kenji. "Mereka akan—"
Ucapan Rin tidak terselesaikan, senyum yang ada seketika membeku. Ah, datang lagi, dia bisa merasakan dengan jelas sesuatu yang sangat ditakutinya datang lagi—sang kematian.
Perubahan ekspresi wajah Rin seketika menyadarkan keanehan yang ada. Kagome dengan cepat bergerak mendekati wanita manusia itu, begitu juga dengan Inukimi.
Memeriksa nadi Rin dalam diam, baik Kagome maupun Inukimi tidak mengatakan sepatah katapun akan keadaan wanita manusia tersebut pada mereka yang menatap penuh kekhawatiran.
Kematian yang datang kali ini sangat cepat dan luar biasa. Kesakitan luar biasa menyarang tanpa aba-aba. Napas Rin yang pelan menjadi tidak karuan, badannya bergetar hebat tidak terhentikan, begitu juga dengan keringat dingin yang membasahi wajahnya.
Berusaha mempertahankan kesadaran dan juga mengucapkan sesuatu. Kepanikan memenuhi mata Rin saat dia tidak menemukan suaranya sama sekali. Bagaimana ini bisa terjadi? Dia harus mengeluarkan suara dan meminta semua yang ada dalam kamar keluar—dia tidak mau memperlihatkan sosoknya yang menyedihkan pada siapapun yang disayanginya.
"Rin-chan, tarik napas dengan pelan!" ujar Kagome pelan berusaha membimbing napas Rin yang tidak karuan. Dia bisa melihat jelas kepanikan dalam mata coklat tersebut. "Jangan panik!"
Namun, Rin tidak bisa melakukan apa yang diinginkan Kagome. Berusaha menggerakkan mulutnya mengucapkan 'keluar', dia sungguh berharap miko masa depan itu akan mengerti dan menangkap maksudnya.
Semua yang ada dalam kamar mulai panik, terutama anak-anak yang melihat perubahan keadaan Rin yang begitu mengkhawatirkan. Tidak berani mendekat, mereka menatap lurus wanita manusia itu. Lalu, dalam kepanikan yang ada, tiba-tiba pintu shoji kamar terbuka.
Menoleh ke arah pintu, semua bisa melihat Sesshoumaru berjalan masuk dengan Shura dalam gendongannya. Wajah inuyoukai itu tenang dan datar tanpa ekspresi, seakan tidak terjadi apa-apa di depannya.
Mendekati Rin tidak mempedulikan pandangan semua yang ada, dia duduk di samping Kagome dan Inukimi yang menatapnya penuh kebingungan.
"Kakak.."
"Sesshoumaru..."
Panggil Kagome dan Inukimi bersamaan melihat sikap tenang Sesshoumaru yang terasa sangat aneh.
Sesshoumaru tidak menjawab panggilan mereka. Mata emasnya hanya terarah pada wajah Rin yang kini tepat berada di depannya. Dia bisa melihat wajah tersenyum wanita yang dicintainya dalam penderitaan dan kesakitan terarah padanya.
Ada kelegaan sedikit memenuhi hati Rin melihat Sesshoumaru sekarang, karena dia tahu, hanya menatapnya, inuyoukai itu pasti akan mengerti bahwa dirinya menginginkan semua yang ada dalam kamar ini keluar. Namun, sang penguasa tanah barat tersebut malah melakukan sesuatu yang ada diluar dugaan.
Membuka kedua tangan Shura yang tertawa bahagia karena melihat ibu kandungnya. Dia membimbing inuyoukai kecil itu memeluk leher Rin seperti yang dia ajarkan selama ini.
"Shura akan tumbuh besar dengan baik," ujar Sesshoumaru pelan tidak mempedulikan pandangan bingung Rin. "Putra kita akan kuat melebihi Sesshoumaru ini, dia akan menjadi youkai terkuat di dunia—puncak dari segala puncak yang tidak tertandingi. Tidak akan ada seorangpun yang akan dapat melukainya, dia akan hidup sesuai keinginannya, aman, selamat dan; bahagia..."
Rin hanya dapat terus menatap Sesshoumaru. Tindakan dan ucapan inuyoukai itu sekarang tidak dapat dimegertinya sama sekali.
"Dan, Sesshoumaru ini akan selalu menjadi Sesshoumaru. Tidak akan pernah berubah. Tenang dan kuat tidak bergeming tidak peduli apa yang terjadi. Karena itu—" lanjut Sesshoumaru pelan dengan mata emas tanpa ekspresi yang tidak lepas dari wajah Rin. "—Sesshoumaru ini dan Shura tidak membutuhkanmu lagi..."
Mata semua yang ada terbelalak tidak percaya dengan apa yang dikatakan Sesshoumaru. Apa maksud inuyoukai itu?—tidak membutuhkan Rin lagi?
Rin tidak bergerak, kedua matanya menatap lekat Sesshoumaru. Mencari maksud sebenarnya dari sepasang mata yang kini menatapnya datar tanpa bergeming.
"Pergilah... Jangan tinggal lagi..."
Jangan menderita lagi.
Kata yang tidak terucapkan, tapi Rin bisa mendengarnya jelas. Air mata mengalir turun dari pipinya. Ah, ternyata inuyoukai itu tahu semuanya. Padahal dia menyembunyikan semuanya, tapi Sesshoumaru tetap saja tahu apa yang telah dilaluinya selama ini—rahasianya.
__ADS_1
Menatap air mata Rin, Sesshoumaru kemudian menarik kembali Shura yang memeluk leher ibunya. Membiarkan wanita manusia yang terus menangis itu menatap putra mereka sejenak, dia kemudian menyerahkannya pada Inukimi.
Inukimi segera mengendong Shura yang meronta tidak suka karena terpisah dari Rin. Tapi, dia tidak mengatakan apa-apa, kebingungan dan ketidak mengertian memenuhi wajahnya melihat apa saja yang terjadi dan dikatakan Sesshoumaru, begitu juga dengan yang lainnya.
Menggerakkan tangan, Sesshounaru kemudian menghapus air mata Rin. "Rin, ini adalah perintah, bertanyalah pada Sesshoumaru ini, 'Berapa lama Sesshoumaru ini akan mencintaimu'?"
Rin terus menangis, rasa sakit semakin kuat, dan dia tidak tahu apakah karena sang kematian atau apa. Tapi, dia masih bisa mendengar perintah Sesshoumaru. Karena itu, menggerakkan mulutnya pelan, bertanya dalam suaranya yang tidak bisa ditemukan.
'Berapa lama anda sanggup mencintai Rin, Sesshoumaru-sama?'
Tidak bersuara, tapi Sesshoumaru tersenyum. Dia bisa mendengar jelas pertanyaan yang ada, pertanyaan sama yang dulu dia tanyakan pada wanita manusia itu.
"Selamanya. Tidak peduli napasmu telah berhenti, tidak peduli ragamu telah tiada, selama jiwamu masih ada—tidak. Bahkan jikapun jiwamu telah tiada, cintaiku padamu tidak akan pernah berubah. Sesshoumaru ini akan selalu mencintaimu, Rin. Hingga akhir waktu..."
Mata Rin terbelalak mendengar jawaban Sesshoumaru dan tidak mempedulikan apapun lagi, inuyoukai itu menundukkan badan, memeluk dan menangkap bibir mungil itu dalam sebuah ciuman—mencurahkan segenap perasaannya.
Mencintaimu, sangat mencintaimu, terlalu mencintaimu; teramat sangat mencintaimu. Dalam waktu yang terus bergerak maju, dalam setiap musim yang sirih berganti hingga akhir waktu. Selamanya dan selalu, hanya—kamu.
Tersampaikan dalam ciuman yang ada, segenap perasaan Sesshoumaru tersampaikan. Inuyoukai yang tidak pernah mengungkapkan cintanya dalam kata, hari ini mengungkapkannya di hadapan semua orang,
Dalam tangis air mata, Rin hanya dapat menutup mata dan membalas ciuman yang ada. Sesshoumaru akan melepaskannya dan membiarkannya pergi—itu adalah yang dia harapkan, bukan? Untuk kebahagiaan mereka di masa depan; untuk masa depan yang lebih baik. Tapi, saat itu terjadi, kenapa begitu menyakitkan? Kenapa?
Cinta Sesshoumaru untuk wanita manusia bernama Rin dan cinta Rin untuk Sesshoumaru—dua perasaan sama yang namun tidak dapat bersama untuk selamanya. Mereka berdua tahu, kelamnya dunia dan kejamnya kehidupan mempermainkan mereka. Mimpi indah yang terajut dengan bahagia, mimpi di mana mereka tidak ingin terbangun selamanya, dan kini—mereka tidak dapat bermimpi lagi. Mimpi telah usai, benang rajut telah terputus, saatnya menghadapi kenyataan; perpisahan abadi yang sesungguhnya.
Keajaiban, terjadilah untuk terakhir kalinya. Jika ini memang perpisahan mereka, biarkanlah dia memeluk satu-satunya pria yang dia cintai melebihi segalanya. Biarkan dia memeluk Sesshoumaru untuk terakhir kalinya, biarkan dia memberitahu inuyoukai itu tahu, arti keberadaannya bagi wanita manusia bernama Rin.
Lalu—mungkin karena dunia mengasihaninya, mungkin karena kehidupan tersentuh dengan kisahnya, keajaiban benar terjadi. Rin untuk pertama dan terakhir kalinya setelah sekian lama bisa menggerakkan tangannya. Perlahan namun pasti, dia melingkarkan tangannya memeluk Sesshoumaru erat.
Aku mencintaimu. Aku juga sangat-sangat mencintaimu. Melebihi segalanya, melebihi kehidupan dan kematian, satu-satunya; hanya kamu seorang-hingga akhir waktu.
Air matanya yang terus mengalir tanpa henti. Dalam kehangatan yang memeluknya, Rin bisa melihat lagi, sosok inuyoukai yang terbaring lemah dengan badan penuh luka dalam hutan. Melihatnya yang kemudian berubah menjadi sosok paling gemerlap di dunia—Sesshoumaru yang dicintainya.
Pertemuan yang memulai segalanya, kehangatan yang penuh senyum dan tawa, cinta yang bersemi dan kebersamaan penuh kebahagiaan. Tidak ingin terpisah dan selamanya bersama. Tapi untuk masa depan yang ada, perpisahan tetap menanti—karena inilah kehidupan.
Rin tersenyum dalam ciuman mereka, awal dari kehidupan baru Rin adalah Sesshoumaru, karena itu, akhir hidupnya juga adalah Sesshoumaru. Yang pertama kali dia lihat saat membuka mata di kehidupan kedua adalah Sesshoumaru, jadi yang terakhir dilihatnya di akhir kehidupan juga adalah; Sesshoumaru.
Aku mencintaimu...
Tangan Rin yang memeluk Sesshoumaru jatuh ke bawah, inuyoukai itu juga bisa merasakan dengan perlahan detak jantung wanita manusia yang semakin memelan hingga akhirnya berhenti untuk selamanya.
"Oaaaaaa!!! Oaaaa!!!" Shura yang berada dalam gendongan Inukimi menangis keras. Dia tidak bisa merasakan detak jantung serta bau kehidupan dari ibu kandungnya lagi. Ketakutan dan kepanikan memenuhi wajah inuyoukai kecil itu, meronta-ronta, dia berusaha mengapai ibunya.
Kagome yang ada di samping Sesshoumaru tidak bisa bergerak melihat apa yang terjadi, begitu juga dengan semua yang ada dalam kamar. Tidak bisa memberikan reaksi sedikitpun, mereka masih tidak dapat mencerna apa yang terjadi dengan begitu cepat di depan mata.
Melepaskan ciuman dan pelukannya perlahan, kedua mata emas Sesshoumaru menatap wajah Rin. Seperti tertidur, wanita manusia itu masih begitu menesona bagi dirinya.
"K-kakak..." panggil Kagome terbata-bata. Kedua matanya menatap penuh ketakutan Rin yang tidak bernapas lagi.
"Bawa Shura keluar." Perintah Sesshoumaru pelan tanpa menoleh wajahnya sedikitpun dari Rin.
Tetap tidak ada seorangpun yang berjalan keluar, mereka semua mematung tidak bergerak di tempat hingga suara penuh kemarahan Sesshoumaru menyadarkan mereka. "Keluar kalian semua!!!!!!"
Teriakan Sesshoumaru mau tidak mau akhirnya membuat semua yang ada keluar. Penuh keraguan tidak tahu harus mengatakan atau berbuat apa, mereka hanya dapat menuruti perintah itu.
Suara tangis keras Shura terus terdengar dari balik pintu shoji kamar, tapi, Sesshoumaru tidak mempedulikannya. Menatap Rin lagi, dia menggerakkan tangan kanannya menghapus sisa air mata di wajah itu lembut.
"Rin," panggil Sesshoumaru pelan dan tersenyum. Menyentuh badan tanpa kehidupan itu, dia tersenyum. "Kau tahu, Sesshoumaru ini sebenarnya berbohong...."
Setetes air jatuh dari atas membasahi pipi Rin, dengan pelan Sesshoumaru menghapusnya. Namun, semakin lama, tetesan air yang jatuh semakin banyak—air mata. Inuyoukai itumenangis untuk pertama kali dalam hidupnya.
"Sesshoumaru ini memerlukanmu... Jadi, jangan pergi.. Jangan tinggalkan Sesshoumaru ini. Tinggal—tinggalah selamanya bersama Sesshoumaru ini...."
Mata indah itu tidak akan terbuka lagi. Senyum dan tawa itu tidak akan dilihatnya lagi. Musim semi abadi dalam hidupnya telah menghilang—satu-satunya wanita yang dia cintai melebihi segalanya telah tiada, dan dialah yang melepaskannya.
Sesshoumaru-sama.
Wajah tersenyum Rin yang tersenyum lembut dan kemudian tertawa lepas memanggil namanya terbayang dalam benak Sesshoumaru.
Sesshoumaru-sama..
Nyanyian dan tarian indah, pelukan hangat dan ciuman penuh cinta yang diberikan, kehangatan dan kebahagiaan yang selalu ada. Dalam musim semi, musim panas, musim gugur maupun musim dingin, sosok yang selalu ada dan tidak pernah menghilang—dia tidak akan dapat melihatnya lagi.
Sesshoumaru-sama, Rin mencintai anda..
Memeluk erat lagi badan Rin, Sesshoumaru, menutup mata dan berteriak keras putus asa. "Kembali!!! Kembali!!! Jangan pergi!!! Jangan pergi!!!! Ahhhhhhhh!!!!!!!!"
Kembali, kembalilah. Jangan pergi, jangan tinggalkan dirinya sendirian di dunia ini. Tinggallah selalu di sampingnya. Tanpamu, aku tidak tahu harus apa, tanpamu, aku kehilangan arah—tanpamu, aku tidak bisa apa-apa.
Jika kau benar-benar mencintainya, maka lepaskan dia...
Dia sungguh-sungguh mencintai Rin, karena itu dia melepaskannya. Tapi, saat dia benar-benar melepaskannya, jauh dalam hati, dia tidak pernah bisa menerimanya. Melepaskan orang yang kau cintai-hancur dan sakitnya tidak terjelaskan. Salahkah keputusannya? Dia tidak bisa melihat masa depan sekarang, semua gelap. Kenapa? Kenapa ini terjadi pada mereka?
Mencintai dan dicintai. Dalam kebersamaan mereka, Rin hanya menginginkan selamanya bersama, namun, dalam kebersamaan mereka, yang dapat diberikan Sesshoumaru adalah perpisahan.
"Kembali!!!!!! Kembali pada Sesshoumaru ini!!!!! Aaaahhhhhhhh!!!!!"
Aku akan selalu mencintai anda, hingga akhir waktu...
....xOxOx....
"Aaaahhhhhhhh!!!!!"
Di depan pintu kamar shoji yang tertutup rapat, Kagome menangis terisak-isak memeluk Inuyasha yang juga sedang menangis dalam diam dengan Shiro yang ketakutan dikakinya.
Miroku membungkukkan badan dengan wajah penuh kesedihan menepuk pundak Sango yang berlutut memeluk anak-anak mereka—menangis bersama berusaha menahan suara mereka.
Inukimi tidak mengucapkan sepatah katapun, dia menatap Shura yang menangis keras dan kemudian menutup mata. Hal yang paling dia takutkan telah terjadi, dia hanya bisa berharap ke depannya semua akan baik-baik saja.
Kohaku dan Shippo menangis dalam diam tidak bergerak, begitu juga dengan Kaeda. Kenji tidak mengatakan apa-apa, dia menutup mata penuh kesedihannya dan menghela napas.
Jaken berlutut menangis keras dengan badan bergetar. Kiri dan Kira juga berlutut dalam tangis diam. Menatap pintu kamar yang tertutup, mereka mengangkat tangan dan memberikan hormat.
Teriakan keras penuh keputusasaan tidak berksudahan memenuhi seluruh istana tanah barat. Dalam sore penghujung musim dingin, suara itu membuat seluruh penghuni istana menghentikan aktivitas mereka. Mereka bisa merasakan keputusasaan yang ada. Teriakan menyayat hati tidak terjelaskan sang pemilik istana.
Sang penguasa mereka yang kuat dan tidak tertandingi, selalu tenang dan terkontrol emosinya, sore ini berteriak bagaikan telah gila. Mereka tidak memerlukan penjelasan apapun untuk mengetahui apa yang terjadi. Perlahan, berlutut menghadapan paviliun timur istana tanah barat, mereka semua mengangkat tangan memberikan hormat—Kisaki tanah barat telah tiada.
....xOxOx....
__ADS_1