![Till The End Of Time [ Inuyasha Fanfiction ]](https://asset.asean.biz.id/till-the-end-of-time---inuyasha-fanfiction--.webp)
Sinar matahari siang musim semi bersinar hangat di langit dan angin berhembus lembut menerbangkan rambut Rin. Di atas dahan pohon, burung-burung berkicau merdu, bunga-bunga indah bermerkar di samping jalan, di mana kaki gadis itu melangkah. Namun, tidak sedikitpun hime dari barat itu menikmatinya. Menunduk kepala ke bawah, dia hanya berjalan terus mengikuti jalan yang ada.
Inukimi yang ada di samping Rin menatapnya dalam diam. Gadis manusia itu sudah seperti ini sejak mereka meninggalkan istana tanah barat; membisu dengan raut muka datar.
Rin tidak menolak sedikitpun saat Inukimi mengajaknya mengunjungi desa manusia di mana Inuyasha dan yang lainnya berada. Mengangguk kepala, dia segera mengikuti mantan penguasa tanah barat tanpa pertanyaan.
Menghela napas pelan, Inukimi hanya dapat berharap, Rin akan kembali seperti biasanya. Meninggalkan istana tanah barat atau lebih tepatnya meninggalkan Sesshoumaru adalah hal paling benar sekarang. Gadis manusia ini hanya akan terus terluka dan kehilangan senyum jika putra bodohnya itu tidak bisa menerima kenyataan yang ada.
Memikirkan Sesshoumaru, Inukimi hanya dapat mengeleng kepala pelan. Apa perasaan putranya itu pada Rin?-sebagai ibu, dia tahu. Saat pertama kali dia melihat Rin bersama Sesshoumaru, dia bisa melihat bahwa gadis manusia itu spesial di mata anaknya. Dan dari hari ke hari, gadis itu semakin spesial dan spesial. Lalu, tidak tahu kapan sejak kapan, cinta hadir diantara mereka.
Sesshoumaru mencintai Rin, Inukimi bisa melihatnya dengan jelas. Namun, dia juga bisa melihat Sesshoumaru tidak berani mencintainya. Putra bodohnya itu terus menghindar dan menjauhi gadis manusia yang dicintainya.
Youkai adalah makhluk paling superior di dunia. Tidak ada gunanya berperasaan. Perasaan hanya membuatmu lemah. Perasaan hanya akan membuatmu musnah. Youkai adalah makhluk yang dapat hidup sendiri.
Ajaran itu, prinsip hidup itu, merupakan apa yang ditanamkan pada Sesshoumaru sejak lahir oleh Inukimi sendiri, berserta Inu no Taisho dan semua yang ada di barat. Sebab, sejak putranya lahir, dia adalah pewaris barat yang dinantikan.
Inukimi sendiri juga lahir di dalan keluarga penguasa youkai barat seperti halnya Taisho yang merupakan saudara sepupunya. Mereka bedua tumbuh besar dalam dunia dimana yang kuat hidup dan lemah mati menjadi pegangan. Karena itu mereka tahu, betapa penting Sesshoumaru harus kuat. Prinsip itu adalah prinsip hidup para youkai.
Sesshoumaru yang berarti sang penghancur kehidupan. Nama yang Inukimi dan Taisho pilih adalah harapan agar putra mereka bisa kuat, bisa menaklukkan semua musuhnya; menghancurkan kehidupan yang akan mengincar hidupnya.
Dan sesuai harapan mereka, Sesshoumaru tumbuh besar dengan kuat, menjadi kebanggaan barat; pewaris barat paling sempurna yang ada. Tanpa kelemahan, tanpa perasaan yang tidak diperlukan—Sesshoumaru memegang erat prinsip hidup tersebut.
Baik Inukimi maupun Taisho puas dengan itu. Prinsip itu benar, dan selamanya, barat akan berjaya. Hingga akhirnya, putri manusia itu hadir dalam dunia Inu no Taisho; Izayoi.
Dihadapan Izayoi, Taisho membuang prinsip itu. Tidak peduli dengan konsekuensi yang ada, sahabatnya itu mencintai seorang manusia dengan segenap hati, dan berubah..
Bersama Izayoi, Inukimi bisa melihat, Taisho tertawa gembira dan tersenyum bagaikan orang bodoh. Namun, yang paling penting, daiyoukai penguasa tanah barat itu terlihat sangat bahagia.
'Tidak apa-apa jika perasaan ini akan menjadi kelemahanku. Tidak apa-apa jika aku akan musnah. Sebab sekarang aku sadar, hidup tanpa perasaan bukanlah kehidupan.'
Itu adalah kata yang diucapkan Taisho padanya, dan Inukimi mengerti, sebab takut, marah, khawatir—cinta. Dia sudah merasakan semua itu saat Sesshoumaru ada dalam kandungannya. Saat dia menjadi seorang ibu, dia tahu apa artinya hidup.
Taisho benar, apa gunanya tanpa kelemahan? Apa pentingnya kuat? Apa artinya semua itu jika kau tidak pernah benar-benar hidup?—Perasaan adalah bukti dari kehidupan yang sessungguhnya.
Inukimi ingin Sesshoumaru benar-benar hidup. Dia ingin putranya itu mengalami segala perasaan yang ada dalam dunia ini, begitu juga dengan Taisho. Prinsip hidup yang mereka percayai selama ini adalah prinsip hidup yang salah.
Kenapa Taisho memberikan tensaiga pada Sesshoumaru, Inukimi tahu, itu karena dia ingin Sesshoumaru tahu apa itu artinya perasaan. Tensaiga adalah bukti cinta Taisho pada putranya, harapan agar putranya suatu hari nanti akan belajar apa itu mengasihi, belajar untuk mengerti arti kehidupan yang sesungguhnya.
"Ibunda," suara panggilan pelan Rin tiba-tiba terdengar menyadarkan Inukimi dari lamunannya. "Ibunda, ada apa?"
Inukimi menoleh wajah menatap Rin yang kini menatapnya penuh kekhawatiran. Tawa kecil segera meluncur keluar dari mulutnya. Sepertinya, dia benar-benar telah larut dalam lamunnya sendiri. "Tidak apa-apa, Rin kecil. Ibunda hanya memikirkan seperti apa reaksi putra Taisho kalau melihat kita."
Rin mengangguk kepala mendengar ucapan Inukimi. Mantan penguasa tanah barat itu benar, Inuyasha dan yang lainnya pasti sangat terkejut saat melihat mereka, sebab kunjungan mereka kali ini tanpa pemberitahuan. Berpikir dalam hati, dia berusaha mencari alasan tepat kenapa mereka ada di desa manusia.
Inukimi tidak mengatakan apa-apa lagi. Tersenyum menatap Rin yang ada di depannya, pandangan mata emasnya melembut. Gadis manusia yang lugu dan polos, hangat bagaikan matahari. Tidak ada yang pernah tahu, bahwa sesungguhnya, dia selalu berterima kasih dengan keberadaan gadis itu di dunia ini.
Dalam hidup panjang ini, Sesshoumaru lah yang mengubah Inukimi, mengajarkan apa itu artinya kehidupan. Sedangkan bagi Taisho; Izayoi lah yang mengajarkannya. Karena itu, bagi Sesshoumaru—Rin lah orangnya.
....xOxOx....
"Rin-chan!!!" seorang inuhanyou kecil berlari dengan kaki kecilnya melihat Rin dari kejauhan. Mata emasnya berbinar-binar karena kegembiraan menatap gadis manusia yang baru memasuki perkarangan rumahnya.
"Shiro-chan!!" Rin tertawa melihat Shiro, inuhanyou tersebut. Ikut berlari, dia langsung memeluknya erat saat mereka bertemu. "Jangan lari, nanti kau jatuh."
Shiro tertawa gembira dan membalas pelukan Rin. "Kata papa, tidak apa-apa jatuh, acal tidak nangis."
Rin kembali tertawa mendengar ucapan Shiro. Menggendongnya, dia melihat seorang inuhanyou dewasa dan seorang miko cantik berjalan ke arahnya dari dalam rumah.
"Selamat sore, Inuyasha-sama, Kagome-sama," sapa Rin pelan melihat mereka.
"Rin-chan? Inukimi-san? Kenapa kalian ada di sini?" tanya Kagome, miko cantik itu kebingungan.
Inuyasha, inuhanyou itu tidak mengatakan apa-apa. Saat tiba di depan Rin, Shiro dan Inukimi, dia menolehkan kepala menatap kiri-kanan penuh kewaspadaan.
"Ada apa, Inuyasha-sama?" tanya Rin kebingungan melihat reaksi Inuyasha yang aneh.
__ADS_1
Inuyasha menatap Rin, "Di mana Sesshoumaru?? Kenapa aku tidak mencium bau ataupun merasakan aura keberadaannya?"
"Eh?" Rin tertegun mendengar pertanyaan Inuyasha yang diluar dugaan.
"Putra berengsekku masih di istana tanah barat, Putra Taisho." Jelas Inukimi menatap Inuyasha dengan wajah datar.
"Eh?? Dia membiarkan Rin meninggalkan istana tanah barat tanpa dirinya??" tanya Inuyasha lagi terkejut. Kedua mata emasnya terbelalak tidak percaya menatap Inukimi.
Rin tidak menjawab pertanyaan itu, dia mengigit bibir bawahnya dan menunduk kepala ke bawah.
"Kau tidak melihatku ada di sini, ya, Putra Taisho?" tanya Inukimi kembali, sebuah kerutan memenuhi dahinya.
"Bukan! Bukan itu maksudku!" kepanikan memenuhi Inuyasha melihat ekpresi Inukimi. Walau inuyoukai di depannya adalah ibu kandung dari Sesshoumaru, Inuyasha cukup menghormatinya, sebab dia adalah youkai yang membantu kelahiran putranya, Shiro. "Aku hanya tidak menyangka, si berengsek itu benar-benar akan menginjinkan Rin datang mengunjungi desa kami tanpa dirinya."
Bagaimana protektifnya Sesshoumaru kepada Rin, Inuyasha jelas tahu. Apalagi sejak perang barat selatan usai, pelindungan yang diberikan pada gadis itu hanyalah bertambah ketat. Di mana gadis itu berada, Sesshoumaru pasti ada di sekitarnya, baik menunjukkan diri atau tidak. Penguasa tanah barat itu seakan tidak mempercayakan gadis manusia itu pada siapapun kecuali dirinya. Karena itu bagaimana Rin bisa di sini tanpa dirinya?—ataukah Inukimi menculik Rin lagi seperti dulu?
"Rin-chan? Inukimi-san?" panggil suara seorang wanita dari belakang Rin dan yang lainnya tiba-tiba.
Menoleh ke belakang, Rin melihat seorang biksu dan taijiya wanita berdiri tidak jauh menatap mereka. "Miroku-sama, Sango-sama." Sapanya pelan.
"Kenapa kau di sini, Rin-chan? Aya, Maya dan Mamoru akan senang sekali kalau melihatmu." Senyum Sango, taijiya wanita tersebut sambil berjalan mendekati Rin dan yang lainnya.
Miroku, biksu yang ada di samping Sango menoleh kepala ke kiri-kanan, dan kemudian menatap Rin dn juga Inukimi. "Kalian berdua saja yang datang, Rin-chan, Inukimi-san? Sesshoumaru tidak datang?"
Rin tertegun mendengar pertanyaan Miroku. Kenapa semua orang bertanya akan keberadaan Sesshoumaru saat melihatnya? Karena mereka berdua memang selalu bersama selama ini?
Rasa sakit yang luar bisa memenuhi hati Rin seketika. Sesshoumaru tidak akan bersamanya lagi, selamanya mereka tidak akan bisa bersama. Tatapan mata penuh kemarahan dan dinginnya suara inuyoukai itu saat dia mengatakan ingin mengunjungi selatan terlintas dalam pikiran gadis manusia itu—semua sudah berubah.
"Rin-chan, Rin-chan ada apa?" suara Shiro yang ada dalam gendongannya membuat Rin segera menatap inuhanyou itu. "Kenapa wajah Rin-chan pucat cekali?" Rin-chan cakit?"
"R-rin tidak apa-apa.," terbata-bata Rin menjawab pertanyaan Shiro. Memaksa seulas senyum, dia menurunkan inuhanyou tersebut. "Rin tidak sakit."
"Ada apa denganmu, Rin-chan?" tanya Kagome khawatir. Dia bisa melihat jelas ekpresi tidak wajar di wajah gadis yang selalu tersenyum itu, begitu juga dengan Inuyasha, Miroku dan Sango.
"Tidak memaksa diri untuk kuat dan tersenyum, Rin kecil," suara pelan Inukimi memotong ucapan Rin tiba-tiba dan membuat gadis itu menoleh kepala menatap mantan penguasa tanah barat tersebut. "Sesshoumaru tidak ada disini, menangislah kalau kau mau."
Mata Rin terbelalak mendengar ucapan Inukimi. Namun, sejenak kemudian, air mata yang telah ditahannya mati-matian jatuh tidak tertahankan—dia menangis lagi.
....xOxOx....
Berdiri sendirian dalam taman bunga paviliun timur istana barat, Sesshoumaru menatap tunas bunga yang mulai tumbuh. Malam sudah tiba, namun langit hitam dengan bulan yang tidak penuh tidak membuat inuyoukai itu kesulitan melihat sekelilingnya dengan jelas.
Tunas bunga yang telah tumbuh, Sesshoumaru bisa membayangkan betapa gembiranya Rin saat melihatnya. Gadis itu akan tertawa dan menunjukkannya penuh semangat. Hanya saja, gadis itu tidak di sampingnya lagi sekarang. Inukimi telah membawanya pergi ke desa manusia, dan—dia tidak bisa menghentikannya.
Wajah terkejut dan pucat Rin terbayang dalam ingatan Sesshoumaru, berserta juga wajah gadis itu yang menangis. Dalam sehari saja, dirinya telah melukai dan terus melukai gadis itu.
Sesshoumaru tidak bisa mengontrol dirinya. Sesaat dia melihat Rin tersenyum lagi karena secarik surat dari Akihiko, pandangannya menggelap. Dia tidak ingin gadis itu tersenyum untuk Akihiko. Memikirkan senyum itu akan tertuju pada orang lain selain dirinya, dia merasa sangat marah—senyum itu adalah miliknya seorang.
Menutup mata, Sesshoumaru berusaha mengontrol kembali emosi dalam dirinya—kemarahan yang tiba-tiba muncul. Inuyoukai penguasa tanah barat itu tidak mengerti lagi, kenapa begitu sulit baginya mengontrol dirinya sekarang? Dirinya akan terpancing dengan mudah hanya dengan memikirkan Rin. Perasaan yang tidak pernah dibayangkannya ada, kini dirasakan terus menerus. Bingung, marah, hampa, ketidakberdayaan, bersalah—itu semua dirasakan, begitu juga; kebahagiaan.
Rin memberikannya kebahagiaan, jauh dalam hati Sesshoumaru, dia mengakuinya. Saat gadis itu tersenyum dan tertawa padanya, pada setiap suara lembut itu memanggil namanya, pada setiap pelukan yang ada-pada setiap kata 'selamanya bersama' yang selalu terucapkan.
Setiap kata itu terucap, Sesshoumaru selalu berpikir itu kata yang bodoh—dua kata yang tidak mungkin dan menyakitkan bagi mereka berdua. Namun, jauh dalam hatinya yang terdalam, Sesshoumaru mati-matian menepis sebuah perasaan yang ada; kebahagiaan yang tersembunyi.
Selamanya bersama berarti gadis manusia itu ingin selalu di sampingnya, ada untuknya, tidak terpisahkan—dua kata itu adalah salah satu bukti Rin mencintainya.
Rin mencintai dirinya sebagaimana dia mencintai gadis itu. Meski perbedaan membentang luas di antara mereka, perasaan mereka yang sama adalah kenyataan.
Keberadaan Rin dalam hatinya, Sesshoumaru harus mengakui untuk pertama kali; gadis itu tidak tergantikan. Kejadian hari ini telah mengajarinya, inuyoukai itu selalu berpikir untuk melepaskan Rin, dan dia merasa dia bisa melakukannya. Tapi, dengan secarik kertas dari Akihiko, dia bertanya pada dirinya sendiri; bisakah dia membiarkan orang lain menggantikan posisinya di hati gadis manusia itu?—Sesshoumaru tahu, dia tidak bisa.
Membayangkan senyum dan tawa itu jadi milik orang lain, membayangkan kehangatan dan cinta itu tertuju pada orang lain—Sesshoumaru tidak bisa membayangkan orang lain di samping Rin selain dirinya.
"Sesshoumaru-sama." Suara Kira tiba-tiba terdengar menyadarkan Sesshoumaru yang tengelam dalam pikirannya.
Membuka mata, Sesshoumaru menatap Kira yang berlutut di depannya penuh hormat. Ekpresi wajahnya tetap datar seperti biasa, tidak memperlihatkan sedikitpun apa yang ada dalam hati.
__ADS_1
"Hamba mendeteksi pergerakan dari selatan." Lanjut Kira.
....xOxOx....
"Rin-chan sudah tertidur." Ujar Kagome pelan sambil menyelimuti Rin yang tertidur dengan kepala di pangkuan Inukimi. Tangannya mengelus lembut kepala gadis itu. "Kuharap dia bisa segera kembali bersemangat seperti biasanya."
"Kuharap juga begitu." tambah Sango pelan dan menghela napas. Wajahnya tidak dapat menyembunyikan ekpresi khawatir yang ada.
Sekian lama mengenal Rin, tidak pernah Kagome dan Sango melihat gadis itu menangis sesedih ini. Wajah yang selalu tersenyum menghilang digantikan isak tangis.
"Apa yang sebenarnya dipikirkan Kakak? Kenapa dia bisa memperlakukan Rin-chan seperti ini?" wajah Kagome tidak bisa menyembunyikan perasaan bingung dalam hati.
Sango tidak mengatakan apa-apa, tapi dia juga setuju dengan apa yang dikatakan Kagome. Inukimi sudah menceritakan kepada mereka apa yang terjadi, dan itu sangat mengejutkan serta sulit dipahami.
Betapa pentingnya Rin bagi Sesshoumaru, mereka semua bisa melihatnya. Sejak kecil, gadis manusia ini adalah satu-satunya makhluk hidup yang dilindunginya. Perang barat selatan yang baru usai tidak lama menjadi telah membukti, betapa berharganya Rin bagi penguasa tanah barat itu pada mereka. Jadi, bagaimana bisa inuyoukai itu menjauhi dan tidak mempedulikannya?
"Putra berengsekku itu semakin tua semakin tidak berguna saja," ujar Inukimi tiba-tiba sambil menyeringai marah. "Jika saja aku masih memiliki meido seki, aku mungkin akan membunuh lalu menghidupkannya agar dia sadar apa yang telah dilakukannya."
Kagome dan Sango hanya bisa tersenyum kecil mendengar ucapan Inukimi. Mereka tidak tahu ucapan inuyoukai itu benar atau hanya karena marah sesaat.
"Biar aku yang melakukannya saja, Inukimi-san." Suara Inuyasha tiba-tiba terdengar dari balik luar jendela di mana mereka berada.
"Kau yakin bisa mengalahkan Sesshoumaru, Inuyasha?" tanya suara Miroku.
Baik Inuyasha dan Miroku tidak ikut masuk ke dalam kamar di mana Rin berada, sebab Kagome mengusir mereka keluar. Melihat air mata Rin hanya karena nama Sesshoumaru yang diucapkan Inukimi, miko masa depan itu tahu, cerita mereka adalah cerita yang sensitif bagi gadis manusia itu. Rin akan lebih nyaman tanpa keberadaan laki-laki.
Inuyasha dan Miroku yang diusir hanya dapat menitipkan anak-anak mereka pada Kaeda. Lalu, duduk di atas tanah dan mencuri dengar melalui jendela dari luar rumah.
"Kau itu sebenarnya ada di pihak siapa, Miroku??" tanya Inuyasha kesal. Mata emasnya menatap tajam sahabatnya yang kini tertawa pelan.
"Aku hanya mengingatkanmu, Inuyasha. Aku tidak mau Kagome menjanda dan Shiro kehi—" ucapan Miroku terhenti saat dia tiba-tiba saja merasakan aura youkai dari kejauhan.
Inuyasha juga merasakan aura youkai tersebut, begitu juga dengan Kagome, Sango dan Inukimi yang ada dalam rumah. Berdiri tegak, inuhanyou dan biksu tersebut menatap sumber aura.
Di atas langit desa manusia, mata Inuyasha dan Miroku menatap sejumlah youkai terbang turun ke arah mereka dengan sebuah tandu besar dan mewah di belakang. Semua youkai tersebut adalah youkai wanita yang berparas cantik dan anggun. Tersenyum ramah, mereka memberikan kesan bersahabat.
Inuyasha dan Miroku tidak mengatakan apa-apa saat rombongan youkai itu turun dan menginjakkan kaki di depan mereka. Namun, mereka juga tidak menurunkan kewaspadaan dalam hati.
Seorang youkai wanita berambut dan mata biru melangkah maju ke depan. Tersenyum lembut dia membungkuk badan memberi hormat. "Selamat malam, Inuyasha-sama, Miroku-sama."
"Siapa kalian, nona-nona cantik?" tanya Miroku sambil tersenyum. Matanya menatap youkai-youkai di depan, mengangumi kecantikan yang ada, tanpa menghilangkan kewaspadaan.
Youkai wanita itu bangkit dan tertawa pelan. Sikapnya tetap sopan dan penuh keanggungan. "Hamba adalah Hanako dari selatan. Hamba ada disini untuk menjemput Rin-sama, hime dari barat atas perintah Akihiko, penguasa tanah selatan."
Jawaban Hanako dengan segera membuat Inuyasha dan Miroku terkejut. Seketika juga inuhanyou itu mencabut pedan tessaiga di pinggangnya, demikian juga Miroku yang mengeluarkan kertas mantranya.
"Jangan bermimpi!! Apalagi yang serigala berengsek itu rencanakan??" teriak Inuyasha penuh kemarahan. "Selatan ingin ber—"
"Pelankan suaramu, Putra Taisho. Rin sedang tidur." suara Inukimi tiba-tiba terdengar memotong ucapan Inuyasha.
Menoleh ke samping, mata emas Inuyasha menemukan Kagome, Inukimi dan Sango yang berjalan pelan keluar dari rumah ke arah mereka.
"Selamat malam Inukimi-sama, Kagome-sama, Sango-sama, hamba Hanako memberikan salam." Senyum Hanako sambil memberikan hormat pada inuyoukai dan manusia yang mendekati mereka.
Kagome dan Sango hanya bisa menatap bingung rombongan youkai di depan. Mereka benar-benar tidak biasa dengan sikap hormat yang diberikan. Namun, Inukimi tidak, dia membalas senyum itu. "Menjemput?"
"Akihiko-sama tidak ingin perjalanan Rin-sama ke selatan mengalami kesulitan," Jelas Hanako lagi dengan senyum yang masih ada di wajah. "Kami ada untuk melindunginya."
"Melindungi apaan!??" teriak Inuyasha lagi penuh kemarahan. "Kalian kira kami bodoh!! Selatan ingin menipu kami, ya?? Ka-"
"Baiklah." suara pelan Inukimi tiba-tiba kembali memotong suara Inuyasha. Senyum di wajahnya semakin melebar. "Serigala kecil itu benar-benar sangat perhatian."
"Eh????!!!" Inuyasha, Kagome, Miroku hanya bisa menatap Inukimi tidak percaya.
....xOxOx....
__ADS_1