Till The End Of Time [ Inuyasha Fanfiction ]

Till The End Of Time [ Inuyasha Fanfiction ]
Chapter 61


__ADS_3

Dalam gelapnya malam musim dingin hutan di samping desa manusia, Tsubasa berdiri diam. Kedua matanya menatap sosok Akihiko sang penguasa tanah selatan di depannya. Youkai serigala itu mengandah kepala menatap langit tanpa bintang di atasnya.


"Apakah ada yang ingin kau sampaikan padaku, Tsubasa?" suara Akihiko yang datar tiba-tiba memecahkan keheningan.


Tsubasa langsung berlutut dengan wajah tertunduk ke bawah. "Hambalah yang membiarkan Yukimura dari timur berada dalam istana tanah selatan."


Suara Tsubasa tetap tenang dan datar tanpa emosi. Dia tahu, dirinya telah melakukan sesuatu yang tabu, membiarkan Yukimura berada di istana tanah selatan walau dia sudah tahu youkai itu mengincar nyawa hime dari barat. Karena itu, dia bersedia menerima segala konsekuensinya.


"Oh??" guman Akihiko pelan. Dia tidak menurunkan kepalanya, seakan pengakuan Tsubasa bukanlah suatu masalah. "Ternyata kamu penghianat itu?"


Tsubasa merasakan tekanan yang luar biasa. Dia tahu, Akihiko sudah mengetahui keterlibatannya dengan timur. Meninggalkan desa manusia dan memasuki hutan ini, tidak lain adalah untuk mendengar pengakuannya.


"Reaksimu terlihat aneh sesaat kau melihat Yukimura, kupikir apa hubungan kalian." tawa Akihiko pelan.


"Hamba akan menerima hukuman dari anda." Tsubasa tidak mengangkat wajahnya, dia tetap tertunduk ke bawah.


Akihiko tertawa, perlahan dia berjalan mendekati Tsubasa. Berjongkok ke bawah, tangan kanannya tiba-tiba mencekik leher selir kesayangannya itu kuat. "Apa kau tahu konsekuensi perbuatanmu."


Tsubasa menatap lurus Akihiko. Wajahnya memucat, pasokan udara ke paru-parunya terhenti, tapi dia tidak memberontak sedikitpun. Terbata-bata, dia menjawab. "M-mati.."


Mata Tsubasa menatap Akihiko, rasa sakit menyelimuti hatinya. Kenapa dia membantu Yukimura, dia harus mengakui, dia cemburu pada gadis manusia itu. Ratusan tahun berlalu, dari seekor burung hingga menjadi youkai, dia selalu mencintai youkai ini, tapi—cintanya hanyalah sebuah cinta sepihak.


Seekor burung kenari kecil berwarna putih terbaring di atas tanah, sayap dan badannya terluka parah karena serangan seekor burung elang yang mengincarnya. Bulu-bulu putihnya telah memerah karena darah. Luka yang dideritanya telah membuat dia tidak bisa bergerak, sedangkan burung elang yang memangsanya terbang semakin mendekat.


Kenari putih itu hanya bisa menatap lurus saat kedua cakar burung elang mengarah padanya. Namun, tiba-tiba, sebilah pedang melesat dan menusuk badan elang tersebut.


Badan besar elang itu jatuh ke atas tanah tepat di depan kenari kecil yang tidak bisa bergerak, tanpa nyawa.


"Ooh? Kau masih hidup?" suara pelan seorang anak laki-laki terdengar.


Dari depan kenari kecil itu, seorang youkai kecil berjalan mendekat. Berambut putih pendek dengan sepasang mata biru langit yang jernih. Dua pasang garis biru tua di pipi menghiasi wajahnya yang tampan, dan seulas senyum cuek di bibir yang tipis.


Sekali lihat saja, kenari kecil putih itu tahu, youkai kecil di depannya adalah youkai yang kuat. Meski dia hanyalah burung biasa, dia bisa merasakan jelas bahaya dari youkai itu.


Youkai itu membungkuk badan dan mengangkat kenari kecil itu dengan tangan kanannya. Mata birunya mengamati saksama makhluk tidak berdaya itu. "Kau cukup kuat ternyata, padahal kukira kau sudah mati saat elang itu mencengkram dan melukaimu. Tidak kusangka kau akan mematuk matanya saat dia akan memakanmu."


Burung kenari itu tidak bergerak, dia hanya menatap lurus youkai kecil yang terus berbicara.


"Aku menyukai makhluk yang kuat." tawa youkai kecil itu. Suaranya bergema memenuhi hutan yang sepi tempat mereka berada.


Mengeluarkan sebuah botol kecil dari balik kimononya dengan tangan kiri. Youkai kecil itu kemudian membuka dan menuangkan suatu cairan pada luka burung kenari.


Seketika, luka pada burung kenari itu sembuh tidak berbekas. Burung itu segera bangkit dan mengepak sayapnya beberapa kali seakan tidak mempercayai lukanya sembuh


"Jadilah yang terkuat dari segala burung yang ada." Tawa youkai kecil itu. Mengerakkan tangan, dia melempar ke atas burung kenari kecil yang segera terbang menjauh.


Membalikkan badan, sosok youkai kecil itu kemudian berjalan maju seakan tidak terjadi apa-apa.


Terbang tinggi, Kanari itu berputar di tempat, matanya menatap lurus youkai kecil itu hingga menghilang dari pandangan.


Burung kenari putih yang lemah itu tidak pernah melupakan youkai kecil yang menyelamatkan hidupnya. Sejak saat itu, dia selalu memikirkannya—berpikir untuk selalu berada disampingnya. Dan perlahan, dia berubah menjadi seorang youkai.


Melatih dan melatih dirinya, kenari putih itu semakin kuat dan kuat, hingga akhirnya saat dia sudah menjadi youkai burung terkuat di tanah selatan, dia muncul di hadapan youkai kecil yang menyelamatkan hidupnya—youkai kecil yang telah dewasa dan kemudian menjadi Penguasa tanah selatan; Akihiko.


Tsubasa menutup matanya. Berapa ratus tahun telah berlalu sejak pertemuan pertama mereka?—Tsubasa sendiri tidak pernah menghitungnya. Tapi kenyataan tidak pernah berubah, dia menjadi youkai karena Akihiko. Karena merasa berterima kasih, karena hutang budi, yang kemudian menjadi; cinta.


Youkai adalah makhluk yang tidak mengenal cinta, itulah kata semua orang. Tapi, Tsubasa tahu, dia berbeda dengan youkai pada umumnya, dia adalah youkai yang ada karena cinta; cintanya pada Akihikolah yang membuat dia menjadi youkai. Akihiko adalah segalanya bagi dia. Tidak apa jika penguasa tanah selatan itu tidak membalas cintanya, sebab dia tahu, youkai serigala itu adalah youkai yang dingin dan kejam.


Karena itu, bagaimana bisa dia menerima kemunculan seorang gadis manusia yang tiba-tiba saja dengan mudah merebut perhatiaan youkai itu? Membuat mata biru itu bersinar dengan hangat karena seulas senyuman.


Tsubasa tidak pernah berniat menghianati kepercayaan Akihiko kepadanya, tapi secara tidak langsung. Kecemburuan dalam hatinya telah membuat dia melakukannya. Tapi, penghianat tetaplah penghianat. Dia akan lebih bersyukur jika dia mati, dia tidak berani membayangkan apa jadinya dia jika Akihiko membuangnya.


Akihiko kemudian melepaskan tangan yang mencekik leher Tsubasa. Diam dan sikap berserah diri selirnya, membuat dia tertawa sinis. "Aku ingin membunuhmu, tapi ini akan menyia-nyiakan pengorbanan Rin yang telah menghidupkanmu."


Tsubasa membuka mata dan menatap Akihiko dalam diam. Sikap Akihiko sekarang membuat hatinya semakin sakit. Nama gadis manusia itu lagi, sejak kapan gadis itu menjadi begitu penting bagi youkai penguasa tanah selatan ini?—dia bahkan mau membiarkan seorang penghianat hidup karenanya.


Membalikkan badan, Akihiko kemudian berjalan menjauh. "Sekali lagi kau menghianatiku, Tsubasa. Akan kupastikan kau musnah tanpa menyisahkan apapun di dunia ini."


Suara Akihiko begitu datar dan dingin, membuat Tsubasa hanya bisa menahan rasa sakit yang luar biasa. Tapi, dia tidak bisa melakukan apa-apa. Sekarang ini, dia hanya bisa bersyukur, youkai penguasa tanah selatan ini tidak membuangnya.


"Hamba mengerti."


....xOxOx....


"Apakah kau masih mau menambah nasimu, Rin-chan?" tanya Kagome. Senyum menghiasi wajahnya saat dia melihat Rin melahap sarapan paginya dengan lahap.


Rin duduk di atas futonnya, Kagome masih tidak mengijinkan gadis itu bergerak, sebab dia tahu, meski sudah sadar dan membaik, gadis itu masih cukup lemah.

__ADS_1


Rin menggeleng kepala. Meletakkan kembali mangkuk kosong di tangannya ke atas meja kecil diatas futon yang menyajikan sarapan, dia tersenyum. "Rin sudah menambah nasi Rin dua kali, Kagome-sama. Perut Rin bisa meledak kalau Rin menambah lagi."


"Cih," decak Inuyasha yang duduk di samping Kagome tiba-tiba. "Baru tiga mangkuk saja mana bisa mengenyangkam perut."


"Jangan samakan Rin-chan dengan dirimu, Inuyasha," ujar Kagome sambil memukul kepala inuyoukai itu dengan tangan kanan. Pandangannya kemudian jatuh pada sosok Shiro di pangkuannya yang menatap penuh nafsu pada sarapan Rin. "Kau juga, Shiro. Jangan tumbuh rakus seperti ayahmu."


"Sepertinya itu akan sulit, Kagome," sela Miroku yang juga ada di sana sambil menggeleng kepala. "Kemarin dia menghabiskan lima mangkuk nasi di rumahku."


"Iya, Shiro bahkan mau merebut makananku juga!!" sela Mamoru yang sedang duduk di pangkuan Miroku tiba-tiba.


"Jangan mengada-ada," Sango mencubit pipi Mamoru pelan. Matanya tertutup dan menghela napas panjang. "Bukannya kau yang berniat merebut makanan Shiro?"


"Iya! Iya! Kami melihatnya!!" teriak Aya dan Maya barengan penuh semangat.


"Kak Aya, Kak Maya, kalian kakak kandung siapa sih?? Kenapa tidak membelaku??" protes Mamoru sambil menyentuh pipinya yang sakit karena cubitan Sango.


"Itu karena kamu yang salah, Mamoru," tawa Kohaku pelan, tangannya menepuk-nepuk kepala keponakannya itu. "Sebagai laki-laki sejati, kau tidak boleh berbohong."


"Berani berbohong dengan wajah tanpa dosa," gumam Shippo sambil menatap Miroku. "Dia akan tumbuh besar sepertimu Miroku."


Miroku tertawa canggung dan menggaruk kepalanya yang tidak gatal. "Apa maksudmu, Shippo? Apakah aku seperti itu di matamu?"


Keheningan seketika memenuhi kamar Rin. Namun, sejenak kemudian, semua yang ada di dalam tertawa terbahak-bahak. Sudah lama mereka tidak merasakan suasana seperti ini, perang barat-selatan telah membuat mereka tegang dan khawatir sepanjang hari.


Rin yang ada di sana juga ikut tertawa. Suasana yang hangat dan sangat kekeluargaan membuat dia merasa nyaman.


"Putriku!!!!"


Suara nyaring seseorang tiba-tiba terdengar. Pintu kamar Rin segera terbuka lebar membuat tawa semua yang ada terhenti. Di depan pintu kamar, Inukimi segera berlari masuk dengan wajah penuh kekhawatiran, di belakangnya, Kira dan Kiri mengikuti.


Tidak peduli semua yang ada, inuyoukai itu segera meloncat ke atas futon Rin, kedua tangannya memegang kedua pipi gadis itu, memeriksanya dengan saksama. "Hanya beberapa hari kau menjadi kurus seperti ini, kau harus makan lebih banyak Rin-kecil."


Rin tertawa mendengar ucapan Inukimi. "Rin sudah makan tiga mangkuk nasi, Ibunda."


"Bagus, ibunda ingin kau cepat sembuh dan gemuk kembali." senyum Inukimi, perlahan dia memeluk Rin pelan. Tidak mempedulikan meja kecil sarapan Rin yang menjadi penghalang.


Rin membalas pelukan Inukimi dan tersenyum lebar. " Iya, maaf karena Rin membuat Ibunda khawatir."


Pandangan Rin kemudian jatuh pada sosok Kiri dan Kira. Senyumnya semakin lebar saat dia melihat Kira yang berdiri tanpa luka sedikitpun. "Syukurlah anda tidak apa-apa, Kira-sama."


"Terima kasih anda telah membangkitkan hamba kembali, Rin-sama." ujar Kira. Dia menundukkan wajahnya ke bawah. Dirinya tidak tahu harus mengatakan apa lagi, dirinya mengira dia sudah mati, tapi gadis manusia di depannya menghidupkannya kembali.


"Terima kasih, sudah menghidupkan adik hamba, Rin-sama." Kiri juga menundukkan kepala ke bawah seperti halnya Kira.


"Kira-sama, Kiri-sama.." panggil Rin tiba-tiba dengan pelan.


Kira dan Kiri segera mengangkat wajah menatap Rin, dan sedetik kemudian mereka tertegun. Di depan mereka, gadis manusia itu tersenyum manis.


"Kira-sama mati untuk Rin. Bagaimana Rin bisa membiarkannya?" senyum di wajah Rin semakin melebar, mata hitam jernihnya menatap sosok Kira dan Kiri penuh kehangatan. "Terlebih lagi, bagi Rin, Kira-sama dan Kiri-sama adalah keluarga Rin yang berharga. Selamanya, Rin tidak mau kehilangan kalian."


Ucapan Rin membekas dalam hati Kira dan Kiri. Sebagai seorang pengawal, melindungi dan mati adalah hal yang wajar bagi mereka. Terlebih lagi untuk gadis manusia yang tumbuh besar dalam mata mereka, gadis yang diperintahkan oleh Inukimi dan Sesshoumaru untuk mereka lindungi. Tapi—keluarga.


Rin tidak pernah mengangap mereka sebagai pengawal. Senyuman, tawa, bunga, kehangatan yang diberikan—gadis itu selalu mengangap mereka keluarga. Bukan orang lain tapi keluarga yang sangat berharga.


Perasaan hangat memenuhi hati Kira dan Kiri. Perasaan asing yang aneh, tapi begitu menyenangkan. Dan hari itu, mereka berdua memutuskan bersumpah, bukan karena perintah Sesshoumaru ataupun Inukimi, demi gadis manusia di depan mereka sekarang, mereka bersedia melakukan apapun.


Mengigit jari telujuk kanan mereka hingga berdarah, Kiri dan Kira menyatukan kepalan tangan kanan mereka pada telapak tangan kiri mereka yang terbuka. Darah dari jari telunjuk mereka mengalir dan menetes ke bawah tatami. Menunduk kepala sebagai bukti hormat, kedua inuyoukai itu mengucapkan sumpah mereka. "Kami, Kiri dan Kira, dua bersaudara kembar dari barat. Mengakui Rin-sama, Hime dari barat sebagai tuan. Kami bersumpah, taring kami adalah untuk melindungi anda, hidup kami adalah untuk menwujudkan keinginan anda."


Inuyasha dan yang lainnya sangat terkejut dengan apa yang dilakukan Kira dan Kiri. Yang dilakukan kedua inuyoukai itu adalah sebuah sumpah darah. Sumpah tertinggi di dunia youkai, dimana mereka mengakui Rin sebagai tuan dan bersedia melakukan apapun untuknya.


Inukimi tersenyun menatap apa yang terjadi di depannya. Ada perasaan bangga dalam hatinya, putrinya memang tidak memiliki kekuatan apapun, tapi dia lebih kuat dari siapapun. Dia bisa membuat para youkai takluk dan mengakuinya sebagai tuan—bersedia melakukan apapun untuknya.


Rin juga sangat terkejut dengan apa yang dilakukan Kiri dan Kira. Dia jelas tahu apa arti dari sikap dan ucapan kedua inuyoukai di depannya. Kepanikan memenuhi hatinya. Melepaskan diri dari pelukan Inukimi, dia mengesampingkan meja kecil di depannya. Mengangkat selimut yang menyelimuti kaki, dia bermaksud menghentikan kedua youkai itu. "Kiri-sama, Kira-sama, apa yang anda lakukan?? Rin tidak ber—"


"Terima sumpah mereka, Rin kecil." potong Inukimi tiba-tiba. Dia menghentikan Rin yang berusaha bangun dari atas futon tempatnya berada.


"T-tapi Ibunda.." Rin menggeleng kepala. Dia tidak berani menerima sumpah kedua inuyoukai kembar yang sangat dihormati serta disegani di barat. Sumpah mereka berdua seharusnya hanya tertuju pada Inukimi dan Sesshoumaru, bukan untuknya yang merupakan seorang manusia biasa.


"Kau adalah putriku, Rin kecil," senyum Inukimi. Mata emasnya berbinar penuh kepuasan menatap gadis manusia di depannya. "Kau adalah tuan mereka."


Rin tetap ragu, dia semakin gusar dan itu membuat Inukimi tertawa keras. Putri manusianya yang bodoh, tidak tahukah dia apa masa depan yang dirinya sebagai Inuyoukai mantan penguasa tanah barat itu lihat saat menatapnya?—dia melihat seorang Kisaki dari tanah barat.


Perang barat-selatan yang berakhir dengan hasil yang mengejutkan, rasa hormat yang dimenangkan, lalu, meido seki yang bersinar—Rin mungkin tidak tahu, tapi sejak dulu, meido seki hanya diwariskan pada kisaki dari barat.


Inukimi tahu, semua yang ada berpikir dia menwariskan meido seki pada Rin karena keegoisan dan juga sifat tidak pedulinya, tapi kenyataannya tidaklah sepenuhnya seperti itu.


Meski seorang youkai sejati, Inukimi adalah seorang ibu. Meski tidak pernah dikatakan dan diperlihatkan, dia mengerti perasaan dari Sesshoumaru, anak kandungnya. Dia tahu putranya yang bodoh itu juga mencintai gadis manusia ini. Karena itu, dia ingin membantu dan menpersiapkan masa depan mereka. Mengapa dia mengajarkan Rin segala hal tentang dunia youkai? Mengapa dia mengajarinya akunting, politik dan cara mengatur istana?—itu semua karena dia memang sedang mempersiapkan seorang Kisaki tanah barat untuk ke generasi anaknya. Jadi, menerima sumpah tertinggi dari Kiri dan Kira adalah hal yang wajar.

__ADS_1


Tawa Inukimi dan ekspresi puas yang diperlihatkannya membuat Rin menelan ludah. Dia paling tahu dan mengerti sikap inuyoukai mantan penguasa tanah barat di depannya—dia tidak memiliki kesempatan menolak sumpah Kiri dan Kira sekarang.


Menelan ludah lagi, Rin kemudian menatap Kiri dan Kira yang masih menundukkan wajah ke bawah. Perlahan, dia bangkit dan mendekati kedua inuyoukai itu.


Duduk di depan mereka, Rin menggunakan telapak tangan kiri menyentuh kepala Kira, sedangkan telapak tangan kanan menyenruh kepala kiri. Menutup mata, dia mengumpulkan segenap keberanian menerima sumpah kedua inuyoukai bersaudara tersebut. "Aku, Rin sang anak manusia, menerima sumpah Kiri dan Kira, inuyoukai bersaudara dari barat."


Inuyasha dan yang lainnya terdiam seribu bahasa melihat ritual sumpah youkai di depan mereka. Youkai sejati dengan kekuatan yang ditakuti mengakui seorang gadis manusia tanpa kekuatan spritual sebagai tuan?—mereka tidak akan percaya jika tidak melihatnya dengan kepala mata sendiri.


"Lalu, yang Rin inginkan adalah kemakmuran barat, yang Rin inginkan adalah barat yang lebih baik."


Kiri dan Kira tersenyum mendengar ucapan Rin. Semua tidak akan pernah berubah meski tuan mereka bertambah satu. Keluarga penguasa tanah barat, semuanya hanya untuk barat yang selalu berjaya.


"Hamba mengerti." jawab Kiri dan Kira bersamaan penuh hormat.


Rin menurunkan tangannya, dan masih canggung, dia segera membantu Kiri dan Kira untuk berdiri.


Plok-plok-plok


Suara tepuk tangan tiba-tiba terdengar memecahkan keheningan. Menatap sumber suara, semua yang ada melihat Akihiko berdiri di depan pintu kamar Rin yang terbuka dengan seulas senyum di wajah.


"Kau memang tidak bisa di tebak, Rin." Berjalan masuk, mata Akihiko menatap lekat Rin yang telah membuka matanya.


Kiri dan Kira segera berdiri di depan Rin. Senyum di wajah mereka segera menghilang, digantikan dingin tanpa ekspresi. Namun, mata mereka mengamati setiap gerak gerik penguasa tanah selatan tersebut, begitu juga dengan Inuyasha dan yang lainnya.


"Akihiko-sama." Rin menyapa Akihiko pelan, dan itu membuat senyum di wajah penguasa tanah selatan itu makin melebar.


"Kau tidak apa-apa, kan, Rin?" mendekati Rin, Akihiko tidak mempedulikan Kiri dan Kira yang menatapnya tajam serta Inuyasha dan yang lainnya yang mulai waspada. Hanya Inukimi yang terlihat tidak peduli dengan kemunculan Penguasa tanah selatan.


Rin mengangguk kepala. "Rin baik-baik saja, Akihiko-sama," seulas senyum seketika mengembang di wajahnya. "Anda datang di saat yamg tepat Akihiko-sama, Rin baru saja berniat mencari anda."


Ucapan Rin jelas membuat semua yang ada menatap gadis manusia itu terkejut. Apa yang diperlukan gadis manusia itu hingga berniat mencari youkai di depannya itu?


"Oh?" gumam Akihiko pelan, tapi kegembiraan tergambar jelas di wajah tampannya.


"Kau tidak perlu mencarinya, Rin!!" teriak Inuyasha tiba-tiba. Ekspresi tidak suka terlihat jelas di wajahnya. "Kau harus menjauhinya! Seperti Koga, serigala dari selatan itu tidak ada baiknya!!!"


Ucapan Inuyasha jelas merupakan penghinaan, tetapi Akihiko tidak marah sedikitpun, sebab dia bisa melihat Rin menatap bingung hanyou itu.


"Akihiko-sama bukan youkai jahat, Inuyasha-sama," senyum Rin polos. "Saat Rin berada di istana tanah selatan, beliau tidak pernah melakukan apapun yang mencelakai Rin."


Penjelasan Rin membuat hanyou dan manusia yang ada di sana tidak tahu harus berkata apa. Gadis manusia ini sepertinya memang memiliki kelainan dalam memahami arti kata "Baik". Sejak dulu dia selalu mengatakan Sesshoumaru baik, dan sekarang, dia mengatakan Akihiko baik?? Tidak tahukah dia, bahwa Akihiko itu adalah youkai sejati penguasa tanah yang terkenal akan kekejamannya?? Apakah dulu jika dia dibiarkan bersama Naraku selama seminggu, dia juga akan mengatakan Naraku itu baik??


Rin yang tidak mengerti dengan perdebatan batin Inuyasha dan yang lainnya kembali menatap Akihiko, dia tersenyum manis. "Ada yang ingin Rin sampaikan pada anda, Akihiko-sama."


"Apa yang ingin kau sampaikan, Rin?" tanya Akihiko pelan. Gadis di depannya tidak berubah sedikitpun, tidak ada rasa takut dan selalu menatapnya penuh senyum, membuat kehangatan memenuhi hatinya.


"Rin mendengar bahwa anda ingin berperang dengan barat," jelas Rin. Melangkah maju melewati Kiri dan Kira, perlahan, senyum di wajahnya menghilang, diganti dengan ekspresi penuh tekad yang menatap lurus Akihiko. "Rin ingin anda mengurungkan niat itu, Akihiko-sama. Jangan pernah berperang lagi dengan barat."


Apa yang dikatakan Rin selalu mengejutkan siapapun yang mendengarnya, tidak terkecuali sekarang, semua menatap tertegun gadis manusia itu.


"Rin tidak ingin ada yang menderita dan kehilangan lagi, Akihiko-sama. Rin ingin selamanya kita bisa hidup dan bahagia bersama mereka yang kita sayangi."


Keinginan Rin mungkin adalah keinginan yang diinginkan banyak orang. Tetapi, tidak ada seorangpun yang berani mengatakan dengan begitu jelas pada daiyoukai di depannya yang mencetuskan perang.


Akihiko tertegun dengan apa yang di dengarnya, kedua mata biru langitnya menatap lurus sepasang mata coklat jernih yang tidak bergeming. Tidak ada senyum, yang ada adalah ketetapan hati, dan penguasa tanah selatan bisa merasa betapa cepat jantungnya berdetak-betapa cantiknya gadis manusia ini. Dia tidak dapat dipredeksi dan selalu penuh kejutan.


Inukimi menatap penuh kebanggaan pada Rin. Kedua mata emasnya berbinar, dia benar-benar tidak salah memilih.


Akihiko tiba-tiba tertawa terbahak-bahak. Senyum tidak menghilang dari wajahnya meski dia sudah berhenti tertawa. Mata biru langitnya berbinar dengan cemerlang. "Baiklah Rin, jika itu keinginanmu."


Jawaban Akihiko mengejutkan semua yang ada. Segampang inikah Rin bisa mengubah pikiran youkai penguasa tanah selatan yang menyebabkan perang besar antara barat dan selatan?


"Benarkah??" tanya Rin cepat. Senyum lebar kembali menghiasi wajahnya.


"Benar," tawa Akihiko. Melangkah maju dia berdiri tepat di depan Rin, tidak mempedulikan Kiri dan Kira yang menyeringai memperihatkan taring mereka. "Tapi ada syaratnya."


"Syarat??" gumam Rin bingung. Tapi sejenak senyum kembali melintas wajahnya. "Apa syarat anda Akihiko-sama?? Selama Rin mampu, Rin pasti menyanggupinya!!"


"Rin-chan!!"


"Rin-sama!!"


Protes Inuyasha dan yang lainnya, tidak terkecuali Kiri dan Kira. Akihiko adalah youkai yang berbahaya dan tidak bisa ditebak, syarat yang diajukan pasti tidak pernah baik.


Akihiko tidak mempedulikan protes mereka. Membungkuk badan hingga matanya sejajar dengan mata Rin, dia tersenyum. "Aku ingin kau kembali ke istana tanah selatan di musim semi tahun depan."


....xOxOx....

__ADS_1


__ADS_2